• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. 2. b. Data Observasi

BAB IV HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN

IV. A. 2. b. Data Observasi

Tabel 5 Waktu Wawancara

No. Responden Tanggal Wawancara

Waktu Wawancara Tempat Wawancara

1. Kasus 1 (Suami)

13 Maret 2008 20.30 s/d 21.45 WIB Rumah Responden 2. Kasus 1

(Suami)

28 Maret 2008 14.30 s/d 16.15 WIB Rumah Responden 3. Kasus 1

(Suami)

10 April 2008 19.00 s/d 20.00 WIB Rumah Responden

Suami (Kasus 1) adalah pasangan dari responden pertama yang memiliki tinggi sekitar 175 cm dan berat badan sekitar 65 kg. Suami berkulit sawo matang dan berambut hitam ikal. Peneliti pertama kali menemui suami di rumahnya saat istri juga sedang berada di rumah. Peneliti langsung menemui suami dan memperkenalkan diri. Saat itu suami mengenakan kaos hitam dan celana jeans

selutut berwarna biru. Suami dan peneliti duduk di ruang tamu, sedangkan istri pergi ke dapur dan membiarkan peneliti dan suami untuk berbicara berdua. Peneliti meminta bantuan suami untuk menjadi responden penelitian peneliti. Suami dan peneliti duduk di ruang tamu. Suami menyatakan kesediaannya dan siap mempersilahkan peneliti untuk datang kapan saja, karena suami selalu berada di rumah.

Proses wawancara dengan suami dilakukan sebanyak 3 kali di rumah mereka. Sebelum membuat janji untuk wawancara pertama, peneliti bertemu dengan tidak sengaja dengan suami di kedai saudara peneliti. Saat itu suami sedang membeli rokok di kedai tersebut. Ketika peneliti bertanya kapan peneliti dapat mewawancarainya, suami meminta maaf karena dalam minggu itu ia tidak dapat diwawancarai. Suami menjelaskan bahwa saat itu ia dan istrinya sedang bermasalah, sehingga kondisinya sedang tidak enak untuk wawancara.

Wawancara pertama dilakukan di rumah responden, tepatnya di ruang tamu yang memiliki panjang sekitar 4,5 m dan lebar sekitar 4 m. Ruangan tempat wawancara ini sama dengan tempat peneliti dan istri melakukan wawancara.

Pada wawancara I, suami mengenakan kemeja biru kotak-kotak dengan kancing baju pertama tidak dikancing dan mengenakan celana pendek selutut. Suami dan peneliti duduk dengan membentuk huruf L. Saat wawancara I ini, suami lebih sering menundukkan kepala dan kontak mata dengan peneliti kurang. Dan ketika merokok, suami lebih sering melihat ke bawah sambil membuang abu rokoknya atau menggoyang-goyangkan asbak rokoknya itu. Sikap duduk suami tidak menyandar pada sofa, melainkan duduk lebih maju ke depan dan

membungkuk. Suami menjawab pertanyaan peneliti dengan detail, bahkan sering menceritakan hal-hal secara menyeluruh. Selain itu, terkadang suami juga sering menambahkan jawaban sebelumnya. Pada saat suami menceritakan keadaan dirinya dan rumah tangganya di saat sulit, intonasi suara suami lebih rendah dan lambat. Dan biasanya suami menghela napas panjang sebelum menceritakan sesuatu yang meyedihkan baginya, sambil mengusap-usap wajahnya berulang kali. Setelah hampir 5 menit peneliti dan suami bertanya jawab, teman suami datang dan meminta nomor handphone seseorang. Suami memberikannya dan temannya itu pun segera pergi. Wawancara kembali dilanjutkan sampai akhirnya wawancara I berakhir. Wawancara I ini berlangsung selama 1 jam 15 menit.

Hal-hal yang mengganggu selama wawancara I adalah ketika teman suami datang, sehingga omongan suami terputus dan suami tidak dapat mengingat lagi apa yang akan dikatakannya tadi. Karena memang suami mengakui ia lemah sekali dalam hal mengingat. Akhirnya hal yang seharusnya akan ia katakan tadi tidak dapat dikatakannya. Setelah itu, wawancara berlangsung tanpa adanya gangguan-gangguan lain dan berjalan dengan lancar.

Wawancara dilakukan di tempat yang sama, yaitu di ruang tamu. Wawancara II ini berlangsung selama 1 jam 45 menit. Suami dan peneliti duduk dengan membentuk huruf L. Saat wawancara II ini, suami dapat mempertahankan kontak mata dengan peneliti. Suami mengenakan kaos putih dan celana hitam selutut. Posisi duduk suami saat wawancara berlangsung lebih santai dibanding ketika wawancara I. Saat wawancara II ini, suami akan duduk condong ke depan saat ia akan menceritakan hal-hal seperti pernikahan pertamanya dan penyakit

yang dideritanya. Dan suami akan duduk menyandar pada sofa ketika menceritakan kegiatannya sehari-hari. Dalam menjawab setiap pertanyaan yang diberikan peneliti, suami memang terbiasa untuk bercerita panjang. Karena hal itu, suami meminta peneliti tidak bosan mendengarkan ceritanya. Karena menurut suami, dirinya tidak dapat menjawab dengan singkat dan seperlunya, suami tidak dapat menyimpulkan sesuatu dari ceritanya itu, sehingga meminta penelitilah yang menyimpulkannya sendiri. Selain itu, ketika suami menceritakan pengalaman pernikahannya yang pertama, suami mengecilkankan volume suaranya karena tidak ingin istrinya yang sedang siap-siap untuk pergi kerja mendengarnya. Saat wawancara berakhir, peneliti berbincang-bincang sebentar dengan suami dan ia mengatakan jika di siang hari, di rumahnya lumayan ramai karena teman-teman adiknya datang hampir setiap hari. Tetapi, di malam hari kira-kira jam 7 malam, hanya suami yang berada di rumah (ketika istri mendapat shift sore), tidak ada orang yang dapat menemaninya di rumah. Karena adiknya aktif di kegiatan pemuda gereja yang mengharuskannya kumpul di gereja tiap malam. Dan ketika suami sendirian di rumah, biasanya suami akan lebih stres, karena tidak ada orang yang dapat diajaknya bicara. Jika tidak ada orang yang dapat diajaknya berbicara, suami cenderung akan memikirkan kesulitan-kesulitan hidup yang ia alami yang dapat memicu penyakitnya kambuh. Sedangkan jika ada orang yang dapat diajaknya berbicara, suami akan dapat berkonsentrasi dan tidak memikirkan hal-hal yang dapat membuatnya semakin putus asa. Selain itu, ketika ada orang yang dapat diajaknya berbicara, suami akan merasa lebih ringan karena

ia dapat membagi beban pikirannya yang selama ini lebih sering ia pendam sendiri.

Saat wawancara II ini, memang lebih banyak gangguan-gangguan. Gangguan-gangguan itu ditimbulkan oleh teman-teman adiknya yang berdatangan satu per satu masuk ke rumah. Ketika wawancara berlangsung selama 15 menit, teman adiknya yang pertama datang dan ia duduk di ruang makan sambil menghidupkan MP3-nya dengan volume suara yang cukup keras, sehingga suami terpaksa agak menaikkan volume suaranya agar masih dapat terdengar di rekaman. Beberapa menit kemudian, teman adiknya itu pindah duduk di ruang TV yang bersebelahan dengan ruang tamu tempat wawancara berlangsung dan tetap tidak mengecilkan volume suara MP3-nya hingga suami memintanya untuk mengecilkan volume MP3-nya itu. Selang beberapa menit kemudian, istri pamitan kepada suami dan peneliti karena ia mau pergi kerja. Setelah istri pergi kerja, 3 teman adik suami berdatangan dan langsung duduk di ruang TV. Walaupun begitu, sepetinya konsentrasi suami tidak terpecah dan suami tetap mejawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan detail.

Hal lain yang mengganggu selama wawancara ini adalah suara kendaraan beroda dua di luar rumah yang lalu lalang terkadang membuat suami terdiam sesaat dan melanjutkannya kembali saat suara kendaraan tersebut tidak terdengar lagi.

Wawancara III berlangsung selama 45 menit yang juga dilaksanakan di ruang tamu. Untuk menghindari hal-hal yang mengganggu saat wawancara sebelumnya, peneliti memilih mengatur waktu wawancaranya di malam hari.

Ketika peneliti datang, suami sedang menonton TV dan suami meminta peneliti menunggu sebentar karena suami mau mandi dulu. Suami juga mengatakan kalau ia lupa hari itu peneliti akan datang. Peneliti menunggu selama 10 menit dan setelah suami selesai mandi dan berpakaian, suami memanggil anak kecil kira-kira berumur 10 tahun dan meminta tolong pada anak itu untuk membelikannya rokok di kedai depan. Saat itu adik suami sedang bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Suami bertanya jam berapa adiknya itu pulang dan adiknya mengatakan ia kan lama di gereja. Suami tampak kecewa dan volume suaranya menurun ketika mendengar jawaban adiknya dan meminta adiknya untuk mengusahakan agar dapat pulang lebih cepat. Lalu adiknya permisi dan pergi. Ketika anak yang dimintai tolong membeli rokok datang, suami pun meminta anak itu untuk menemaninya mengobrol sampai jam 10 malam nanti (istri pulang kira-kira jam 22.00 atau 22.30 WIB). Namun anak itu menjawab hari ini ia tidak dapat menemani suami karena ada tugas sekolah yang harus ia kerjakan. Tetapi anak itu berjanji besok akan menemani suami dari pagi. Lalu subjek meminta anak itu memanggil anak lain yang kebetulan masih mempunyai hubungan saudara dengan dirinya.

Subjek duduk di sofa dan mengatakan ia sudah siap untuk diwawancarai. Suami mengenakan kemeja biru kotak-kotak dan tidak mengancing 2 kancing kemeja atasnya. Suami meminta maaf pada peneliti karena ia membuka kancing tersebut karena ia merasa kepanasan. Suami mengenakan celana coklat pendek selutut. Posisi duduk suami dan peneliti membentuk huruf L. Suami juga meminta izin pada peneliti untuk merokok dan peneliti pun mempersilahkan suami untuk

merokok. Suami menjawab setiap pertanyaan peneliti dengan jawaban yang detail. Posisi duduk suami menyandar pada sofa dan terkadang duduk condong ke depan. Volume suara suami bervariasi, tergantung pada hal yang sedang dibicarakannya dan terdapat penekanan-penekanan ketika dengan menegaskan sesuatu. Suami dapat mempertahankan kontak mata dengan peneliti dan ada saat dimana suami meminta peneliti untuk mematikan tape recorder dan berhenti merekam apa yang akan dibicarakannya. Suami juga suka memberikan penekanan atau contoh dengan melambaikan tangannya atau memperagakan lewat tangannya. Proses wawancara berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan-gangguan.