BAB IV HASIL DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
IV. A. 2. c. Data Wawancara
1) Hubungan Suami (Kasus 1) dengan Istri
Suami (Kasus 1) memandang keadaan pernikahannya saat ini sedang mengalami keretakan. Menurut suami, saat ini permintaan istri untuk bercerai sudah pernah dilontarkan kepadanya. Penyebabnya menurut suami karena hal yang kecil dibesar-besarkan dimana ujung pangkal dari semua itu adalah karena masalah ekonomi. Namun suami tidak meluluskan permintaan istri tersebut. Suami tidak ingin pernikahannya kali ini hancur hanya karena ia tidak dapat bekerja dan tidak dapat menghasilkan.
“... Makanya kalo, kalo dipikir-pikir kami ini, kami lagi rumah tangga retak ini, tapi belum pecah. Belum retak, eh, udah retak. Istilahnya udah retak, tapi belum pecah. Kami sudah ada saling-saling mau minta cerai, tapi aku enggak mau ngasih. Karena hal. Ada hal sepele, dibesar-besarkan. Ada hal besar, makin diperbesar. Kenapa?. Komplitnya gara-gara satu sikon yang membuat ini semua, uang... ” (KI.S, W1/b. 402-410/hal. 9-10).
“... Hanya tujuan untuk rumah tanggaku ini, aku enggak mau rusak, hanya karena alasan ‘suami enggak kerja, suami enggak bisa menghasilkan, suami enggak bisa berbuat apa-apa. Suami hanya taunya tidur, tidur, dan tidur, minta, minta, dan minta, dan minta duit terus.’ Tapi mau kasih jalan, masih belum dapat... ” (KI.S, W1/b. 378-384/hal. 9).
Dalam pernikahannya ini, suami mengharapkan agar ia dapat berbagi dalam segala hal dengan istrinya. Suami mengharapkan agar mereka dapat berkomunikasi dengan lebih baik lagi. Namun selama ini, suami merasakan hal tersebut jarang dapat mereka lakukan. Ketika pun ada hal yang harus mereka bahas, hanya itulah yang mereka bahas dan tidak terlalu mau membahas tentang hal yang lain.
“... kami berdua suami istri kebetulan jarang komunikasi. Misalnya gini, , biasanya kan kalo yang terdekat kita komunikasi antara yang berpasangan, itu yang enak, ya kan. Abangkan suami, masak kita ada keluh kesah sama orang lain. Maunya kan sama istri. Itu yang lebih dekat. Tapi kami jarangnya. Kami kawin sampe sekarang, kami... kita ngomong gini jarang kami komunikasi. Kok pun di rumah, di kamar, kami hanya fokus satu poin, udah. Enggak bisa bahas-bahas ini. Enggak. Enggak pernah ada rembuk-rembuk gini, gimana. Jaranglah merembuk sesuatu. Adapun masalah, bisa atasi sendiri, atasi. Dan kami memang, jujur, cari solusi, tapi ke sini masuknya. Tujuan yang dibahas itu dari luar masuk ke rumah tangga itu sendiri. Tapi, masing-masing cari solusi dulu di luar. Misalnya, istriku cari entah ke mana, kalo Abang ya gitu dulu ke saudara. Abang lebih percaya sama saudara daripada orang lain. Terutama misalnya kan awak bilanglah tulang-nantulang, paling itu aja.” (KI.S, W1/b. 604-625/hal. 14).
Jika ada masalah yang dihadapi oleh masing-masing pihak, lebih sering diatasi terlebih dulu daripada harus merembukkan bersama di antara mereka.
“... Tapi, ala kadarlah, awak cakap-cakapi udah. Enggak kami mau, enggak pala kami fokuskan kali pembahasan itu. Kalo udah enggak bisa awak apakan kali, udahlah itu, ngapain kita apakan kali, gitu. Enggak pala-pala serius. Seriusnya paling berantam (tersenyum).” (KI.S, W2/b. 84-92/hal. 22-23).
Ketika masalah itu tidak dapat teratasi lagi, barulah mereka membahasnya. Awalnya, suami merasa tidak mempermasalahkan hal itu, namun lama kelamaan suami mulai meyadari hal itu tidak baik, karena mereka adalah suami-istri dan harus sama-sama berbagi tentang semua hal terlebih masalah, setiap masalah harus dihadapi bersama-sama antara suami dan istri.
Di pihak lain, suami menyadari istri jarang mau berbagi masalahnya karena istri tidak ingin merepotkan suami sehingga istri lebih memilih untuk meyelesaikannya sendiri. Padahal suami ingin membantu istri dalam meyelesaikan masalah yang dihadapi oleh istrinya.
“... Misalkan, dia punya problem, tapi, enggak mau dibilangnya. Dia ada bermasalah di luar, tapi, dibantainya sendiri. Dihadapinya sendiri kan. Kalo mungkin ini terbuka, bisa kita kasih bantu dari luar, dari rumah ini ke kerjaannya atau gimana, kan bisa. Itu kan suami-istri. Gitu. Tapi, dia lebih suka enggak merepotkan suaminya dengan masalah dia. Padahal enggak bolehlah gitu, kalo kita hidup berumahtangga ini kan. Gitu dia.” (KI.S, W3/b. 393-403/hal. 56).
Selama ini, suami merasa ia dan istrinya kurang memiliki waktu untuk berdua. Ketika istri sedang tidak bekerja pun, baik suami maupun istri malah menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing, tanpa melibatkan pasangannya dalam kegiatan tersebut. Jadi mereka kurang meluangkan waktu untuk berdua saja.
“... Walaupun kami masih hanya berdua, belum ada kesibukanlah ya istilahnya untuk mengasuh anak, tapi waktu dengan keluarga eceknya biasa ajalah. Kami kayak ginilah. Ini hari off kan kakak. Terkadang sibuk juganya dia hari ini. Jadi enggak ada juga. Bukan karena kami istilahnya belum punya anak, duduk-duduk berdua, enggak. Cerita-cerita berdua, enggak ada. Apa yang dikerjai, kerjailah. Gak ada kerja, ya udah. Mesra pun enggak. Mesra pun enggak kok.” (KI.S, W1/b. 662-672/hal. 15).
Suami menderita penyakit epilepsi di umur 13 tahun dan sampai saat ini penyakit itu masih tetap ada, bahkan dapat kambuh kapan saja. Karena itulah suami tidak dapat bekerja yang terlalu berat maupun dibebani pikiran-pikiran yang berat. Karena jika seperti itu, penyakitnya dapat kambuh. Dan suami menghabiskan waktunya di rumah, karena ia tidak dapat bekerja lagi. Maka istrilah yang bekerja memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Jadi selama ini suami yang bertugas mengurus rumah seperti menyapu, mengepel, dan membersihkan rumah.
“... Beralih kepada posisi. Istilahnya Abang memang enggak pala berat melakukan misalnya hal-hal pekerjaan wanita. Karena si istri bekerja, ya kan. Dia capek misalkan, kita di rumah aja, kita kerjai apa yang bisa dikerjai, sesanggup kita aja, nengok hal kayak Abang kan ada sakit. Abang apa adanya, enggak sampe sakit kali, Abang kerjai. Abang nikmatin di situ aja. ” (KI.S, W1/b. 707-715/hal. 16).
“... Terbaliknya sikonnya. Kita laki-lakinya, seharusnya cari duit. Wajib memang si suami. Apalagi kita Batak. Istri itu di rumah. Mau cem manapun itu susahnya lakik, cari kerja untuk anak-istri. Tapi, terbalik kondisi kita kan. Ini jangan kita buat lagi seperti itu. Timbal balik aja... ” (KI.S, W3/b. 215-221/hal. 52).
“... Abang lebih bagus, ala kadarlah yang nampak... tapi, senang istri. Walaupun nampaknya duit butuh, tapi, kalo dilihatnya sikon, ada yang dikerjakan suami, capek dia kerja itu... udah hilang. Kan gitu. Hah... kalo Abang berpikir gitu aja. Jadi, menyenangkan pasangan kita, mana yang tau kita. Kalo dipikir, kakakmu jarang betullah megang... ngurus rumah ini. Tapi, kalo dapur, masak... wajib itu. Kalo Abang masak pande aja... udahlah... ” (KI.S, W3/b. 241-251/hal. 53).
Suami juga yang mengurusi keuangan dalam rumah tangganya dan membagi-bagi semuanya untuk keperluan mereka sehari-hari di rumah.
“... Awal, memang Abang yang megang uang. Kurang lebihnya ya... sama-sama diapainlah... saling-saling ngertilah...” (KI.S, W3/b. 161-163/hal. 51)
“... Laki-lakinya Abang, tapi, Abangnyalah yang megang uang dapur. Itulah kata kasarnya kan.” (K1.S, W3/ b. 174-175/hal. 51).
Dalam kehidupan rumah tangga, hal yang dapat memicu pertengkaran antara suami dan istri adalah karena sikap istri yang terkadang kasar yang tidak dapat diterima oleh suami dan sering membuat suami kesal. Dan ketika kekesalan itu muncul, terkadang suami menyesal dengan keadaan mereka saat ini.
“... Jadi, kita mau terkadang mau ngalah. Tapi pasangan kita ini tidak. Maunya dia mau terus aja diulang-ulang masalah itu. Sampe dia puas. Hah... terpaksa harus kita yang turutin. Tapi yang membuat dongkolnya di situ. Kasarnya ini yang enggak bisa diterima. Karena inilah terkadang bisa timbul kekecewaan dalam hal-hal yang kayak gitu, menghadapi masalah ya. Dan dalam pikiran kita, ‘nyesal kalilah aku. Kenapalah aku sama ini.’ Kalo kutimbang-timbang ke hal yang lain, hal seperti itu, jadi aku ini seperti boneka, atau budaknya. Jadi, pikiran pun banyak yang jelek-jelek. Kayak gitulah.” (KI.S, W2/b. 344-358/hal. 28).
Akhir-akhir ini, ketika suami menghadapi kekasaran istri, suami lebih memilih untuk mengalah dan tidak melawannya untuk menghindari pertengkaran yang dapat saja terjadi.
“... Belakangan ini, Abang kalo untuk mengatasi itu, lebih banyak mengalah. Dulu tidak, kulawan. Kubantai ribut. Dia yang benar, dia yang mengarahkan, tapi kita dongkol dengan sikap dia ini untuk mengarahkan kita, yang ragu. Kan kita pasti tau pasangan kita kayak mana sifat-sifatnya. Dia kerass... kali. Kasar caranya. Tapi kepingin mau menasihati. Mau mengarahkan kita yang bagus, tapi caranya kasar. Jadi kita pun terimanya enggak enak. Di situ dongkolnya jadinya. Kesal. Kita bilang, ‘udahlah’ (menghempaskan tangan). Misalnya ada kesalahan yang kita mau ngakuin salah pun, jadi enggak mau. Jadi timbul egois itu. ‘Ah, ngapain kubilang aku salah. Caranya aja udah kayak gitu.’ Kalo dia mungkin halus atau gimana, dengan cara baiknyalah, mungkin kita bisa ngalah kan. Udah kita gitu ngalah kita buat, masih timbul jadi gondok kita itu sama pasangan kita ini. Karena dengan sikap yang dibuatnya itu. Kepingin dia itu bagus, tapi cara dia yang enggak bagus.” (KI.S, W2/b. 361-384/hal. 29).
2) Makna Anak menurut Suami (Kasus 1)
a) Anak adalah suatu penghiburan dalam kehidupan rumah tangga
Suami memiliki pandangan jika anak hadir dalam sebuah rumah tangga, maka akan ada suatu penghiburan bagi suami dan istri. Terlebih jika nantinya salah satu pasangan sudah tidak ada, maka anak itulah yang dapat menghibur. Suami tidak memandang anak dari mukanya apakah anak itu cantik atau jelek, tetapi jika ia memiliki anak, sesulit apa pun hidup, tetap suami merasakan kesenangan itu.
“... kalo di antara suami istri enggak ada, tapi ada anak di dalam, terhiburkan rumah tangga itu. Tapi, kalo kayak kami, macam mana. Kami dua-dua, enggak ada anak, cem mana kami terhibur?. Gimana aku bisa terhibur ya kan... ” (KI.S, W1/b. 828-833/hal. 19).
“... Mau cem manapun jeleknya, kalo udah punya anak itu enaklah. Ada penghiburan tersendiri dari itu. Kayak mana pun katanya susahnya hidup kita ini, yang kita rasakan di dunia, kayak manapun katanya ya....” (KI.S, W2/b. 607-612/hal. 34).
b) Anak merupakan penerus keturunan
Suami berpendapat dengan adanya anak, maka anak itu dapat menjadi penerus mereka di masa yang akan datang, sehingga anak itu dapat membantu serta mengurusnya di masa tuanya nanti. Dan anak tersebutlah yang nantinya akan menggantikan suami saat suami menjadi tua nanti.
“... Kita kepingin supaya adanya keturunan kita, yang meneruskan hidup kita ini nantinya, di saat kita nanti hari tua, sampe kita... sampe kita enggak ada...” (KI.S, W2/b. 424-428/hal. 30).
“... Makanya, aku harapnya, ada lah anak. Biar bisa bantu aku, ada. Kita mengharap saudara, enggak mungkin selamanya. Istri, sama-sama tua. Anak... kan tumbuh besar, menggantikan kita yang tua. Kalo kita sakit, dialah yang ngurus. Kalo kita enggak punya anak, hari tua kita siapa yang ngurus?... ” (KI.S, W2/b. 1069-1075/hal. 44).
c) Anak dapat membuat semangat dan optimis dalam hidup
Suami berpendapat kehadiran anak dapat membuatnya lebih semangat dan giat dalam bekerja karena ia tidak hanya memikirkan untuk dirinya dan istri, tetapi ia harus lebih memikirkan anak itu. Bagaimana ia dapat menghidupi anak itu dan bagaimana ia dapat mencukupi kebutuhan anak tersebut.
“... Kalo kita punya anak, belum tentu gini-gini aja kan. Yang kita malas bekerja, mungkin saja kita bergerak untuk mencari makan untuk si anak. Jadi, bukan kita lagi berpikirnya. Untuk si anak itu. Bagaimana bisa hidup dia... ” (KI.S, W2/b. 483-488/hal. 31).
Kehadiran anak juga dapat membuat suami lebih optimis dalam berpikir dan membuat suami dapat selalu mempercayai bahwa semua hal yang terjadi memiliki jalan keluarnya. Hal ini dipercayai suami karena sebelumnya ia sudah pernah merawat seorang anak dari umur 3 bulan hingga anak itu berumur 3 tahun bersama istri pertamanya. Dari pengalaman tersebut, suami percaya walaupun hidupnya serba sulit dan kekurangan, tapi dengan adanya anak, ia akan semakin optimis dalam menjalani hidupnya. Karena suami yakin, anak itu dapat menunjukkan jalan terbaik dalam mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapinya.
“... Anak itu yang buat pikiran kita jadi lain daripada enggak ada anak. Itulah yang kualami. Enggak tau sesuatu, ‘oek...oek...’, katanya, enggak ada duit. Keluar kita. Sak sakit pun dia, enggak ada di kantong kita duit, nekat. Tapi, si anak itu nanti yang nunjukkan gimana bayar itu. Itulah yang kualami itu...” (KI.S, W2/b. 1174-1182/hal. 46).
3) Dampak-dampak yang dirasakan dari ketidakhadiran anak
a) Dampak Negatif
Dampak negatif yang dirasakan suami dari ketidakhadiran anak, yaitu: 1. Merasa sunyi
Suami merasa ketidakhadiran anak ini membuatnya merasa sunyi terlebih karena di rumah hanya ada istri dan adiknya. Selain itu, ketika istri bekerja dan adiknya pergi ke kampus, rumah itu akan semakin sunyi. Dan ketidakhadiran anak ini dirasakan suami sebagai suatu keadaan yang tidak enak bagi dirinya.
“... Sunyilah terus kami berdua. Adapun anak yang udah besar kali (menunjuk ke arah kamar adik subjek yang tinggal bersama dengan mereka), enggak bisa lagi digendong-gendong.” (KI.S, W1/b. 502-505/hal. 12).
“... Tapi, kalo enggak ada anak ini... enggak enaklah. Sepi.” (KI.S, W2/b.. 178-179/hal. 25).
2. Mendapatkan pandangan negatif dari orang di sekitar
Dalam menghadapi keadaan ini, suami pernah menerima ejekan dari orang-orang di sekitar rumahnya. Suami sering disalahkan karena mereka belum juga dapat memiliki anak.
“... Kalo di sekitar-sekitar teman-teman, ya gitulah di sini. Menghina dia. Menghina kita sebagai laki-lakinya sekarang. Kan kita laki-lakinya fokusnya sekarang, bukan perempuan. Perempuan mana bisa disalahkan (melap wajah dengan tangan kanan). Bisa disalahkan kau sama suamimu nanti?. Enggak bisa. Laki-laki itu disalahkan. Istilahnya katanya gini, ‘anumu mati, cem mana kau bisa kasih anak. Ya, mungkin sering-sering dulu kau jual-jualan ke orang-orang luar sana. Kawin kau, itulah resikomu. Enggak malu kau, kawan-kawan kau ada yang udah sebayamu, ada yang udah punya anak 3, tapi kau enggak bisa apa-apa. Apalah artinya hidup kau enggak bisa punya anak, kalo kawin enggak ada anaknya.’ Itu katanya sama Abang.” (KI.S, W2/b. 684-702/hal. 36).
Suami pernah merasa tertekan dengan omongan-omongan seperti itu. Namun akhir-akhir ini, suami lebih tenag dan tidak peduli dengan omongan-omongan itu. Karena ia tetap yakin Tuhan akan memberinya jalan untuk itu
4) Gambaran Makna Hidup pada Suami (Kasus 1)
Dalam hidupnya saat ini, suami merasa dirinya tidak berguna lagi. Hal ini sebenarnya disebabkan oleh keputusasaannya dengan penyakit epilepsi yang ia derita sejak berumur 13 tahun. Suami merasa tidak ada dari dirinya yang dapat ia banggakan dan merasa ia hanya bisa berharap pada istri tanpa bisa mengerjakan sesuatu yang berguna.
“... Sekarang situasiku ... enggak bisa dimanfaatkanlah sebagai seorang manusialah awak bilang. Karena (pandangan ke bawah)... keadaanlah awak bilang ya. Keadaan... ” (KI.S, W1/b. 7-10/hal.1).
“... Kayaknya enggak ada lah yang bisa kuandalkan, apa yang bisa berguna untuk diriku sendiri. Kayaknya enggak ada lah, biasa-biasa aja. Enggak ada kayaknya. Aku banyaknya kekurangan. Penyakitku ada. Istilahnya bekerjapun susah. Penyakit yang kubawa kayaknya enggak bisa kuhilangkan dari badanku ini... ” (KI.S, W1/b. 15-22/hal.1).
“... Kayak yang udah aku bilang tadilah, sebagai manusia enggak bisa dimanfaatkan. Aku enggak bisa kerja. Hanya berharap dari istrilah.” (KI.S, W1/b. 41-44/hal. 2).
Dalam keluarganya, suami merupakan anak pertama dari 6 bersaudara.. Suami merasa dialah yang seharusnya dapat menonjolkan diri di depan saudar-saudaranya. Namun dengan keadaannya yang tidak dapat bekerja, ia merasa ia tidak dapat seperti itu di hadapan adik-adiknya. Karena itulah, terkadang ia merasa tidak berharga dalam keluarganya.
“... Tapi kupikir-pikir kenapa kok sekarang di umurku masih sekarang ini 35 tahun, makin enggak semangat lagi. Sempat aku gini, berpikirku udah putus. Putus maksudku gini, ‘Lebih bagus aku mati.’ Itulah jujurnya. Jadi
enggak ada kupikirkan sebenarnya oh... istriku, adekku, saudaraku... ” (KI.S, W1/b. 253-259/hal. 6).
“... Aku pula yang paling besar, malah aku sepertinya kan yang harus menonjolkan diri. Akulah menunjukkan, akulah berwibawa maunya kan. Tapi enggak bisa. Makanya, jangankan hal keuangan, jangan hal kerja, hal yang sepele aja sepertinya enggak ada. Jadi terkadang merasa aku seperti kalo ada hal kumpul-kumpul kami, mau rembukkan sesuatu, aku punya adik laki-laki 2 orang. Malah adikku ini yang sepertinya nampak lebih tinggi di depanku. Hah... kalo dipikir-pikir, walaupun kami sekarang berumahtangga masing-masing, aku aja yang merasa jadinya enggak ada harga aku sekarang. Aku laki-laki paling besar, tapi kok aku enggak ada apa-apanya gitulah... ” (KI.S, W1/b. 266-280/hal. 6-7).
Suami merasa kesulitan dalam menjalani hidupnya saat ini. Ia merasa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan dari orang lain. Bahkan suami membandingkan dirinya dengan orang buta yang masih dapat mencari nafkah, sedangkan dirinya yang memiliki indra yang lengkap tidak dapat melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, suami merasa puas dengan kehidupannya saat ini, karena ia memiliki istri yang bisa menerima dirinya dan saudar-saudaranya yang siap membantunya. Istrinya ikhlas menjadi tulang punggung dalam keluarga dan mengambil alih peran yang seharusnya menjadi peran suami. Begitu juga dengan hubungannya dengan saudara-saudaranya. Suami merasa selama ini merekalah yang selalu siap membantunya dalam hal keuangan. Mereka selalu mau menutupi kekurangan dalam hal keuangan dalam rumah tangga.
“Kalo Abang rasa kehidupan Abang sekarang sih, dibilang enggak puas, enggak bisa bilang. Puasnya Abang sekarang ini. Apalagi ada istri kan kerja. Ngasih makan, istilahnya dia enggak mau (batuk) minta imbalan, timbal balik. Istilahnya ikhlas ngasih awak dalam, pengangguran gini ngasih pengurusan makan. Hal-hal yang entah ada perlu misalnya Abang kan. Enaklah memang. Kekurangannya kalopun ada, siapa sih enggak ada. Istilahnya (membuang abu rokok) kekurangan, kepuasan dari manusia itu. Yang kita pikirin, mau minta lebih dari yang kita harap, enggak bisa. Tapi, dipaksakan makin susah hidup itu. Paling itulah. Kalo soal puas, kalo puas
segi suami istri, dari segi kehidupan sehari-hari yang bersaudara, adanya bantu-bantuan. Ada lah. Kondisi kayak Abang ini, perlu dikasihani. Jadi apa kekurangan Abang kan, enggak ada. Enggak ada yang perlu di... apa, dikeluhkan. Kalo kau tanya dalam hati, dalam-dalam, ah... enggak ada lah. Namanya kita punya masing-masing nyawa kan. Kita mau minta lebih, tapi, enggak ada sama kita. Kalo ada pun, dari samping kita, dari pasangan kita, ngapain kita apakan kali, kita paksakan. Yang apa aja, yang nampak aja, kita rasa cukup. Ya udahlah, paling itu aja. Udah puaslah kita rasa dapatnya dari itu.” (KI.S, W2/ b. 123-154/hal. 23-24).
Dalam menjalani hidupnya saat ini, suami menganggap dirinya sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. Suami merasa hidupnya saat ini sia-sia dan tidak ada artinya lagi hidupnya saat ini.
“... Sia-sia. Hidupku sia-sia. Kalo kurasa, hidupku udah sia-sia. Jadi yang berumahtangga ini pun aku sebenarnya bukan topeng. Bukan topeng. Bukan mencari.... istilahnya biar aku dikasihani orang, enggak. Aku mau menunjukkan, walaupun aku enggak ada kerja, tapi aku bisa untuk kawin, ada yang ngurus aku. Tapi, janganlah aku dibuat nego-nego, istilahnya jangan berharap banyak dari aku. Ada lah yang ikhlas betul menerima aku sebagai suami.... ” (KI.S, W1/b. 284-294/hal. 7).
“... Kalo dipikir itulah tadi, sampe kujawab-jawab seperti itu, enggak ada sebenarnya yang jadi tujuan hidupku.... ” (KI.S, W1/b. 310-312/hal. 7). Suami pernah mencoba untuk mengabdikan hidupnya sebagai pembantu pendeta di gereja. Hal ini dipikirkan suami karena suami merasa dia tidak boleh menjadi orang yang putus asa. Suami menyadari ia bisa hidup sampai saat ini adalah karena kuasa Tuhan. Karena itulah ia berusaha untuk mengabdikan hidupnya sebagai pembantu pendeta. Namun ketakutan akan penyakitnya itu melebihi dari keinginannya untuk Tuhan. Karena suami takut jika ia sering-sering di luar rumah, penyakitnya dapat kambuh dan tidak ada orang yang dapat menolongnya. Ketika suami baru menikah dengan istri, suami sering keluar rumah dan penyakitnya sering kambuh saat di luar. Namun ia menyimpannya sendiri dan tidak memberitahukannya pada istrinya. Setelah kejadian itu, suami bertekad ia
tidak akan keluar rumah jika tidak ada hal yang penting harus dikerjakan. Bercermin dari pengalaman tersebutlah suami sering merasa takut jika harus melangkahkan kaki keluar.
“... Mau jadi apalah aku, enggak tau. Tapi hanya kupikir ke depan aku ini hidup kenapa? Karena kuasa. Jadi kalo kubilang enggak ada tujuan hidupku... bodoh. Tapi... memang... belum... enggak tau aku mau apa aku di hidupku. Enggak tau. Udah pernah mau aku rombak, sifatnya ya ke ketuhanan. Tapi rasa takutku masih banyak. Aku ini mau jadi ya...