• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Penyebab Konflik dalam Perspektif Komunikasi

Paparan umum tentang konflik di atas membawa pada suatu pemahaman bahwa konflik merupakan bentuk interaksi sosial yang memiliki penyebab dan implikasi. Seperti kebanyakan fenomena sosial, konflik juga memiliki tahapan kritis yang menjadi penyebab sekaligus mengawali kejadian selanjutnya. Seperti kabanyakan ilmu sosial yang lain, ilmu komunikasi juga memberikan perhatian tersendiri terhadap permulaan dan terjadinya konflik. Kenyataan tersebut membuat proses terjadinya konflik dapat dipelajari dengan baik berdasarkan penyebabnya.

commit to user

Berdasarkan hal itu, bagian ini akan lebih difokuskan untuk menjelaskan bagian awal dari konflik dan menilik penyebab konflik melalui sudut pandang ilmu komunikasi.

Dari sudut pandang komunikasi, konflik merupakan hasil dari ketimpangan dan gangguan penyampaian proses komunikasi dari sumber pesan menuju penerima pesan. Linda L. Putnam, dari Universitas California di Santa Barbara, menyatakan bahwa konflik dapat muncul karena adanya kesalahpahaman, perbedaan cara dalam menanggapi suatu urusan, hingga bentuk-bentuk perbedaan tujuan yang hendak dicapai (Putnam, 2009: 211). Lebih lanjut, Putnam juga menjelaskan bahwa komunikasi membangun konflik melalui cara dan pola interaksi yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang terlibat. Keberadaan pola interaksi tersebut sebenarnya berkaitan dengan bentuk-bentuk pesan yang disampaikan oleh satu pihak untuk ditanggapi oleh pihak yang lain (Putnam, 2009: 212). Penjelasan Putnam memberikan titik terang bahwa konflik sejatinya dapat berhubungan dengan komunikasi. Perhatikan, peryataan yang menunjukkan bahwa pola interaksi dalam konflik masih berhubungan dengan bentuk-bentuk penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak yang lain. Dengan begitu, kesalahpahaman dalam menanggapi dan menafsirkan pesan dapat memunculkan konflik antara pihak-pihak yang terlibat.

Paparan Putnam tentang konflik dapat dianalogikan dengan komunikasi yang dilakukan oleh dua orang atau sekelompok orang yang saling memberikan pesan dalam bentuk-bentuk tertentu, namun penerima pesan salah menafsirkan pesan yang telah diterima. Keadaan tersebut tidak menjadi masalah serius ketika komunikasi dan kesalahan penafsiran pesan segera diperbaiki, tetapi keadaan tersebut berpotensi menjadi konflik apabila kesalahan penafsiran pesan terus berlanjut dan terakumulasi semakin besar. Pada situasi seperti itu, gangguan komunikasi tampaknya menjadi masalah serius dalam menajamkan dan

commit to user

memperparah konflik akibat kesalahpahaman dalam menerima pesan. Hal itu menujukkan bahwa konflik dan gangguan komunikasi–dalam bentuk kesalahan penafsiran pesan–tampaknya memiliki hubungan yang relatif dekat.

Dalam ilmu komunikasi, kesalahan penafsiran dan penerimaan pesan dapat dikategorikan dalam bentuk-bentuk gangguan proses komunikasi, yang menghubungkan sumber pesan ke penerima pesan. Karena, gangguan komunikasi tampaknya memiliki peranan yang relatif besar dalam memunculkan konflik, maka secara sederhana konflik dalam sudut pandang komunikasi akan lebih banyak berhubungan dengan gangguan-gangguan seperti itu. Pandangan tentang gangguan komunikasi diberikan oleh Jurgen Ruesch (1972), Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967), sebagai para pakar psikologi klinis, memandang gangguan dalam komunikasi karena munculnya kesalahan dan gangguan mental (dalam Spitzberg dan Cupach, 2009: 455). Pendapat yang diajukan Ruesch memberikan pengertian bahwa gangguan psikologis berat akan menghalangi proses komunikasi yang terjadi antarindividu yang pada akhirnya akan menghasilkan kegagalan komunikasi pada tingkat lanjut. Meskipun situasi yang diberikan Ruesch lebih banyak terfokus pada gangguan komunikasi karena gangguan mental, namun penjelasan Ruesch (1972) dan koleganya membuka gambaran besar bahwa gangguan komunikasi–dalam situasi normal–juga berkaitan dengan gangguan penyampaian pesan dan semacamnya.

Bentuk-bentuk kesalahan dalam penafsiran pesan dan gangguan komunikasi lain sebenarnya mengacu pada konsep serupa yang dikenal sebagai kesalahapahaman dan kegagalan komunikasi. Senada dengan Ruesch, Paul R. Kimmel memandang gangguan komunikasi sebagai bentuk kegagalan komunikasi atau mungkin kesalahan komunikasi (miscommunication). Bagi Kimmel, kegagalan komunikasi sebenarnya terletak pada masalah tentang bagaimana menyamakan

commit to user

persepsi dan pemikiran (mindset) pihak lain dengan pemikiran kita, sehingga kelak muncul kesulitan untuk menyamakan persepsi (Kimmel, 2006: 629). Kimmel rupanya memfokuskan pandangan tentang kegagalan dan kesalahan komunikasi karena perbedaan pemahaman dan pengertian yang ada dalam pikiran satu pihak dalam proses komunikasi.

Pendapat yang diberikan oleh Kimmel memang lebih berhubungan dengan situasi sosial budaya, namun sejatinya tidak ada perbedaan serius yang membedakan komunikasi sosial budaya dengan komunikasi secara umum, selain perbedaan sifat dan tingkatannya saja. Karena itu pendapat Kimmel tampaknya masih relevan untuk menjelaskan konflik dalam ranah apapun. Di pihak lain Lee Raffel juga mengajukan pendapat yang berbeda makna dan konteks dengan yang diajukan oleh Kimmel (2006). Raffel lebih cenderung mengatakan bahwa konflik sebenarnya dicetuskan oleh bentuk-bentuk kegagalan komunikasi untuk menyampaikan pesan tertentu sehingga membuat orang lain terancam, takut, atau terintimidasi (Raffel, 2008: 37).

Secara sederhana, pandangan Kimmel (2006) dan Raffel (2008) menuju pada pemahaman bahwa proses penyampaian pesan dalam komunikasi memang harus dilakukan dengan cara baik sehingga mampu menghindari bentuk-bentuk kegagalan dan kesalahan komunikasi yang dapat menghasilkan konflik. Pada situasi ini, ada bagian mendasar yang membedakan pendapat tentang kesalahan komunikasi sebagai pencetus konflik, yang diberikan oleh para pakar konflik di atas. Ruesch lebih banyak memandang kegagalan komunikasi sebagai hasil dari gangguan psikologis manusia, Kimmel (2006) memandang kegagalan komunikasi sebagai kesalahan persepsi dalam menanggapi pesan, sedangkan Raffel (2008) memandang kegagalan komunikasi karena isi dan maksud pesan yang memang bersifat negatif.

commit to user

Meskipun pendapat tiga pakar itu memiliki perbedaan yang sangat fundamental, namun semua pakar tersebut tampaknya sependapat bahwa kenyataan tentang kegagalan komunikasi bisa dihasilkan akibat munculnya gangguan dalam proses komunikasi antarmanusia.

Dari sudut pandang komunikasi, konflik secara definitif tidak banyak berbeda dengan penjelasan yang diberikan oleh disiplin ilmu sosiologi, yaitu proses interaksi antarmanusia yang melibatkan pertentangan karena adanya kesalahpahaman, perbedaan cara dalam menanggapi suatu urusan, hingga bentuk-bentuk perbedaan tujuan (Putnam, 2009: 211). Penjelasan yang diberikan Putnam tersebut pada dasarnya menjelaskan bahwa ilmu komunikasi–secara garis besar–

hanya memberikan satu penyebab konflik yaitu kegagalan komunikasi dalam interaksi antarmanusia. Penelitian dan penjelasan yang diberikan Kimmel (2006) dan Raffel (2008) tampaknya menguatkan gagasan kegagalan komunikasi sebagai penyebab konflik.

Namun demikian, ilmu komunikasi tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh ilmu sosial yang lain dalam aspek penjelasan tentang konflik dan penyebab konflik. Pakar konflik di Eurasia, Diarmait Mac Giolla Chríost, menjelaskan bahwa sederhananya konflik mungkin disebabkan adanya perbedaan politik yang terjadi pada beberapa kelompok, termasuk perbedaan identitas, ideologi, hingga persaingan terhadap sumberdaya, sering menjadi penyebab konflik yang rumit (Chríost, 2003: 152). Bagi Chríost dan mungkin sederet pakar yang lain menyatakan bahwa perbedaan pandangan politik hingga persaingan terhadap suatu sumberdaya tampaknya bisa menjadi penyebab konflik yang potensial dalam kebanyakan masyarakat. Dengan begitu, secara sederhana, kebanyakan konflik besar bisa disebabkan adanya perbedaan kepentingan serta persaingan terhadap sesuatu.

commit to user

Beberapa pakar ilmu sosial yang lain sebenarnya memberikan pendapat yang tidak jauh berbeda dengan yang diberikan Chríost (2003), atau setidaknya mendukung pernyataan kebanyakan ahli sosiologi tentang konflik. Larry A. Samovar, meskipun tidak secara langsung menjelaskan apa penyebab dari konflik antarbudaya, menjelaskan dalam bukunya bahwa dalam kebanyakan kebudayaan masyarakat dunia mulai dari masyarakat Timur Tengah, Japang, Latin–mengacu pada masyarakat Amerika Selatan, dan Eropa menganggap bahwa konflik antar budaya dipicu oleh penerimaan yang berbeda tentang suatu budaya yang ada di dalam masyarakat tersebut (Samovar, 2007: 349-350).

Penjelasan Samovar menujukkan bahwa adanya penerimaan dan persepsi yang berbeda tentang suatu budaya menjadi sebuah penyebab konflik yang relatif potensial. Peryataan Samovar (2007) secara langsung mendukung penjelasan Clifford Geertz, seorang ahli budaya terkemuka, yang menyatakan bahwa interperasi budaya terbagi menjadi dua macam bentuk besar, yaitu deskripsi tebal yang mendeskripsikan praktek budaya dari sudut pandang pelaku budaya sendiri. Sedangkan deskripsi tipis merupakan bentuk deskripsi yang hanya mendeskripsikan sedikit sifat dari pelaku budaya tersebut (Geertz dalam Littlejohn, 2005: 310). Sederhananya, Geertz berusaha menjelasakan bahwa perbedaan persepsi dan kesalahan penempatan sudut pandang suatu budaya terhadap budaya lain akan beresiko menimbulkan bentuk-bentuk konflik antarbudaya.

Apabila semua penyebab konflik yang telah dijelaskan pada beberapa paragraf di atas, disatukan menjadi satu penjelasan besar, maka secara garis besar ada beberapa penyebab konflik yang dijelaskan oleh disiplin ilmu sosial. Disiplin ilmu komunikasi tampaknya juga membeberkan penyebab konflik namun tidak sekomprehensif ranah sosiologi. Ilmu komunikasi pada dasarnya menjelaskkan

commit to user

bahwa konflik biasanya disebabkan oleh bentuk-bentuk kegagalan komunikasi, bentuk-bentuk salah pengertian, dan kekeliruan pemahaman. Sementara itu disiplin ilmu sosologi secara sederhana membagi penyebab konflik menjadi empat bagian besar. Soerjono Soekanto (2002: 99) rupanya menjelaskan empat penyebab konflik secara sosiologis dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, yaitu: Perbedaan antarindividu, Perbedaan kebudayaan, Perbedaan kepentingan, Perubahan sosial. Pemahaman tentang awal mula dan penyebab konflik menjadi sebuah titik tolak untuk memahami konflik secara lebih dalam.