• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

D. Upaya Menuju Resolusi Konflik

1. Pernyataan-Pernyataan dalam Upaya Resolusi

D. Upaya Menuju Resolusi Konflik

1. Pernyataan-Pernyataan dalam Upaya Resolusi

Resolusi konflik pada dasarnya merupakan bagian paling penting dari suatu proses konflik yang mengarah pada perbaikan hubungan dan titik akhir dari suatu konflik. Karena itu, resolusi konflik biasanya selalu menuju pada pemberian jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan atau perselisihan yang terjadi dalam suatu konflik. Selain itu, resolusi konflik rupanya merujuk pada suatu aksioma yang

menyatakan bahwa ―setiap masalah pasti memiliki jalan keluar‖. Kenyataan dan upaya mengakhiri konflik semacam itu yang menjadi tujuan utama dari suatu proses resolusi konflik. Ketika resolusi konflik belum bisa menyelesaikan perselisihan, bukan resolusi tersebut yang salah, tapi perselisihan itu belum menemukan resolusi yang tepat.

Perlu dipahami bahwa konflik yang terjadi antara pemerintah kota dengan warga bantaran memang bukanlah konflik sosial secara murni, namun konflik sosial berbasis ekonomi, sehingga sebagian besar penyelesaian mungkin bertalian dengan aspek ekonomi pula. Namun demikian komunikasi menjadi sesuatu yang penting dalam upaya mencapai resolusi konflik untuk mencari jalan tengah yang menguntungkan semua pihak yang berselisih. Dengan demikian dapat dipahami bahwa komunikasi tetap menjadi sesuatu yang penting dalam konflik berbasis ekonomi dan upaya resolusinya, meskipun hal itu bukan yang utama.

commit to user

Dalam kasus konflik tentang dana bantuan banjir antara warga bantaran dan pemerintah kota, resolusi konflik untuk masalah tersebut memang belum tersedia dengan tepat, namun upaya penyelesaian konflik dan perjalanan menuju resolusi konflik telah dimulai, bahkan sejak konflik tersebut mulai terjadi. Hal ini menarik perhatian, karena pada dasarnya pihak warga bantaran–yang menggulirkan konflik–

telah berupaya serius untuk melakukan penyelesaian konflik dan resolusi konflik dengan beragam cara, walaupun semua cara tersebut belum sesuai dengan harapan. Sementara pemerintah kota juga telah berusaha untuk menghindari terjadinya konflik, namun usaha tersebut juga belum maksimal. Pada resolusi konflik, komunikasi memegang fungsi penting untuk memberikan dorongan dan usaha mengakhiri konflik secara lebih positif.

Warga bantaran sebenarnya sudah menyadari tentang pentingnya resolusi konflik dan pencegahan perselisihan sebelum mereka memutuskan untuk menggulirkan masalah ini. Hal itu membuat warga bantaran lebih mendahulukan komunikasi dan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah dana bantuan banjir. Namun mereka juga sadar, jika perselisihan telah digulirkan, maka mereka juga sebenarnya telah berupaya untuk mengakhiri permasalahan ini secepatnya. Maryono, sebagai warga bantaran, menjelaskan bahwa

Sebenarnya banyak, kami sudah berupaya ke sana-sini [pen: proses komunikasi ke berbagai instansi terkait] dengan harapan ada suatu titik temu, tetapi kenyataannya memang susah. Mungkin juga hal ini berkaitan dengan nominal, atau anggaran, yang pada intinya pemerintah itu belum siap menurunkan anggaran untuk masalah ini. (Wawancara pada 12 Februari 2010)

Di samping pernyataan tersebut, Maryono juga menyatakan

Sebenarnya sudah banyak upaya yang dilakukan warga, sudah banyak pendekatan yang dilakukan warga kepada komisi-komisi yang terkait dengan hal ini, termasuk pada wakil walikota dan walikota. Tetapi kenyataanya belum ada penyelesaian, intinya masing-masing berusaha

commit to user

mempertahankan apa yang sudah mereka miliki. Karena warga merasa tidak ada penyelesaian secara baik-baik untuk menangani masalah ini, maka kami mengajukan masalah ini ke pengadilan. (Wawancara pada 12 Februari 2010)

Kedua pernyataan tersebut menujukkan bahwa warga bantaran, yang menggerakkan konflik, telah berupaya maksimal untuk dapat menghindari konflik dan menyelesaikan konflik sebelum konflik tersebut dimulai. Hal ini memang jelas menunjukkan bahwa warga bantaran sebenarnya tidak menginginkan perselisihan, namun lebih mengandalkan aspek penghindaran dan penyelesaian secara baik-baik.

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh warga bantaran yang lain, sekaligus aktivis di SKoBB, Nunuk Ismiyati. Secara tegas ia memberikan keterangan Sebelum demonstrasi warga sebenarnya sudah melakukan beragam pendekatan pada pihak-pihak yang terkait, tetapi kami merasa di ping-pong [pen: diulur-ulur dan dipersulit]. Pertama, yang mengupayakan bantuan tersebut hanya tujuh orang, tetapi tidak membuahkan hasil. (Wawancara pada 17 Februari 2010)

Selain pernyataan tersebut, ia juga menyatakan bahwa setelah semua upaya untuk meminta bantuan secara legal telah menamui jalan buntu, warga sepakat untuk melakukan aksi terbuka, sebagai tindak lanjut dari aksi pendekatan pertama

Pada awalnya kami sempat demonstrasi ke balaikota, namun pada saat itu kami tidak ditemui oleh walikota, padahal sudah masyarakat tahu bahwa walikota ada di kantor. Tetapi kami justru ditemui oleh sekretarisnya. Lalu kami lanjutkan demonstrasi ke dewan, tetapi dewan baru tahu bahwa ada kesepakatan tentang dana bantuan. Padahal seharusnya dewan-kan juga bertugas untuk controlling, jadi seharusnya dewan tahu ada kesepakatan itu.

Situasi yang dijelaskan dalam pernyataan tersebut menujukkan bahwa warga secara sistematis telah berupaya menyelesaikan masalah ini sebelum memutuskan untuk menggerakkan konflik. Perhatikan fakta yang ada, pada mulanya warga telah

commit to user

menempun cara kekeluargaan dengan cara menemui pihak-pihak dan dinas terkait, sebelum akhirnya menggunakan cara demonstrasi untuk menekan pihak lain.

Kondisi tersebut menjadi sinyalemen bahwa jika warga tidak mendapatkan hasil positif dari upaya pertama yaitu mengkomunikasikan secara kekeluargaan ke lembaga tertentu, tentang masalah dana banjir ini, maka dapat dipastikan aksi selanjutnya akan bersifat lebih keras dengan harapan dapat menekan pemerintah secara langsung. Karena itu aksi demonstrasi dan konflik yang digulirkan oleh warga bantaran tidak serta-merta berlangsung tanpa pendahuluan, namun aksi tersebut telah diawali dengan upaya komunikasi dan aksi untuk menghindari konflik. Semua aksi komunikasi yang dilakukan warga, di luar aksi demonstrasi, tampaknya bisa menjadi cikal-bakal resolusi konflik yang akan terjadi.

Keterangan yang menyatakan bahwa warga telah melakukan semua cara positif dan beradab, sebelum memutuskan untuk memulai konflik dengan pemerintah kota, diberikan oleh Heri Hendro Harjuno, sebagai pengacara di pihak warga bantaran. Ia menerangkan bahwa

Sebenarnya langkah-langkah yang ditempuh masyarakat sudah cukup maksimal dan tidak anarkis, sehingga sudah pantas diacungi jempol. Pernah mereka menuntut ke DPRD untuk mengatasi masalah ini, lalu sudah mencoba audiensi di Lodji Gandrung [pen: rumah dinas walikota Surakarta] juga pernah. Lalu akhirnya mencapai proses hukum. Ini sebenarnya contoh teladan yang diberikan masyarakat bantaran, mereka tidak melakukan pembakaran dan sebagainya, apalagi adanya kekhawatiran akan munculnya chaos [pen: demonstrasi anarkis yang menimbulkan kekacauan]. (Wawancara pada 15 Maret 2010)

Pernyataan praktisi hukum, seperti Heri Hendro Harjuno, menunjukkan adanya indikasi bahwa ketika semua upaya kekeluargaan untuk menyelesaikan masalah atau upaya penghindaran konflik telah gagal, maka seuatu kewajaran bila warga melanjutkan dengan aksi demonstrasi. Menariknya, Heri Hendro Harjuno

commit to user

menyatakan bangga pada warga bantaran, karena melakukan demonstrasi tanpa menggunakan aksi kekerasan dan aksi anarkime.

Sebagai pengamat netral dan seorang jurnalis, Abdul Alim secara tidak langsung membenarkan keterangan Heri Hendro Harjuno bahwa setelah warga menemui jalan buntu untuk menyelesaikan masalah, maka jalan selanjutnya ialah menggulirkan konflik dan menggunakan jalan hukum sebagai upaya penekanan dan penyelesaian. Alim menyatakan bahwa

Sebenarnya warga bantaran sudah lama tahu tentang program bantuan tersebut, selain itu masyarakat juga sudah lama bertemu dengan walikota untuk menyampaikan keluhan mereka. Namun selama ini belum ada titik temu yang pas untuk menyelesaikan permasalahan mereka. (Wawancara pada 21 Maret 2010)

Lebih lanjut ia menyatakan

Sebab warga bantaran sudah menempuh jalur musyawarah berulang kali; sudah menggandeng LSM; mereka juga sudah melakukan dan datang ke balaikota; selain itu mereka juga sudah melakukan demonstrasi berulang kali, namun belum ada hasil. Jadi jalan apalagi yang sebaiknya ditempuh jika bukan jalur hukum. (Wawancara pada 21 Maret 2010)

Sebagai seorang pengamat netral dan seorang jurnalis, Alim memberikan suatu pernyataan yang secara garis besar mirip dengan pernyataan seorang praktisi hukum. Hal itu memberikan petunjuk bahwa biasanya ranah hukum memberikan suatu bentuk nyata yang dapat digunakan sebagai mediator dan ranah untuk menyelesaikan konflik. Dengan begitu proses resolusi konflik sebenarnya dapat berjalan.

Pernyataan Heri Hendro Harjuno dan Abdul Alim tentang penggunaan ranah hukum dalam perselisihan tentang dana banjir tersebut mengandung pemahaman ganda. Pertama, ranah hukum yang ditempuh warga pada dasarnya hanya melanjutkan proses terjadinya konflik dengan peningkatan eskalasi konflik, karena ranah hukum rupanya mendukung eskalasi konflik tersebut. Bentuk-bentuk

commit to user

penyanggahan putusan pengadilan seperti ‗banding‘ dan ‗kasasi‘ di tingkat yang lebih tinggi tampaknya mendukung peningkatan eskalasi konflik. Kedua, ranah hukum bisa menjadi mediator atau adjudikator yang tepat apabila dua pihak yang berseteru saling menerima pendapat dan mendengarkan semua masukan dan nasehat atau menerima semua keputusan yang diberikan oleh pengadilan.

Sejauh ini, Heri Hendro Harjuno sendiri mengakui bahwa sebelum pengadilan memutuskan untuk menyidangkan permasalahan tentang dana banjir ini yang terjadi antara warga bantaran dan pemerintah kota, pengadilan telah melakukan upaya mediasi namun belum berhasil mencari jalan keluar yang tepat. Heri Hendro Harjuno mengatakan

Memang arahnya demikian, dan hal itu sudah pernah kita coba waktu tingkat pengadilan paling bawah, yaitu PN [pengadilan negeri], tapi

mentok. Upaya damai juga sudah kita ajak, tapi gugatan kami bersifat materiil dan non-meteriil, tapi okelah ganti rugi yang diberikan pemerintah kota hanya bersifat meteriil saja bukan imateriil. Jadi untuk mediator yang bisa menjembatani tampaknya saya agak skeptis ada yang bisa.

Keterangan Heri Hendro Harjuno di atas sebenarnya menguatkan indikasi bahwa ada dualitas fungsi dari pengadilan, yaitu sebagai pendamai antara dua pihak yang berseteru atau sebagai ranah perseteruan yang baru. Hal itu juga menjadi fakta bahwa pengadilan telah mengutamakan pengambilan jalur pendamaian sebelum memutuskan untuk mulai memperkarakan tuntutan warga.

Meskipun pengadilan belum bisa mengusahakan jalan perdamaian bagi dua pihak yang saling berseteru, seperti yang dikatakan Heri Hendro Harjuno, namun hal itu sudah menjadi langkah positif bagi warga bantaran dan pemerintah kota bahwa upaya menuju resolusi konflik masih terbuka. Selain itu, kanyataan tersebut menjadi bukti kuat bahwa warga bantaran dan pemerintah kota sebenarnya masih

commit to user

menginginkan jalan damai dan lebih mengutamakan proses resolusi ketimbang harus menggulirkan konflik secara berkepanjangan.

Apabila praktisi hukum yang berada di belakang warga bantaran telah menjelaskan bahwa warga telah berupaya melakukan mediasi melalui lembaga pengadilan, namun mengalami kegagalan. Pemerintah kota sebenarnya juga berupaya serius untuk mengusahakan pertemuan dan pembicaraan jalan keluar dengan cara damai, walaupun hal itu masih menemui jalan buntu. Ketua DPRD, Sukasno SH, sebagai salah satu tokoh penting dalam perselisihan ini, mengatakan bahwa

Kalau yang selama ini ada yang sudah mau [pen: direlokasi] itu harus diselesaikan dulu, sebab masalah ini kan tidak satu tahun harus selesai. Jadi ini semua tidak semudah membalik telapak tangan, jadi meskipun mereka tinggal di hunian liar sekalipun, mereka juga tetap masyarakat kita [pen: warga Surakarta], jadi mereka tidak mau, lalu digusur, kan tidak seperti itu, ada tindakan-tindakan persuasif. Jadi sampai sekarang, masih dalam tahapan seperti itu. (Wawancara pada 11 Mei 2010)

Berdasarkan pendapat yang diberikan ketua DPRD Surakarta tersebut sebenarnya menjelaskan bahwa pemerintah kota sudah melakukan, atau setidaknya, masih melakukan upaya serius untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara yang damai dan persuasif. Sukasno SH juga menjelaskan

Kalau menurut saya, tetap harus ada komunikasi dengan kelompok yang

‗pokoknya tidak mau ini tadi‘, kalau ada komunikasi pada akhirnya komunikasi akan menjadi intens, pertama kita mungkin hanya bertegur sapa saja, tapi lama-kelamaan kita pasti akan sampai pada cerita, wedangan bagaimana, kondisi keluarga bagaimana, dan itu harus terjalin terus jangan sampai pisah. Sehingga dengan komunikasi yang lancar itu,

maka seperti peribahasa ‗sekeras apapun batu, kalau terkena tetesan air, lama kelamaan pasti akan berlubang juga‘, dengan komunikasi yang baik,

lalu terus-menerus pasti akan tercapai kesepakatan meskipun lama, kecuali kalau kita bertindak represif, tapi karena kita bertindak persuasif ya pasti akan lama. (Wawancara pada 11 Mei 2010)

commit to user

Pendapat yang diberikan oleh Sukasno SH, menampakkan bahwa pemerintah kota sebaiknya tetap pada jalur yang sama dengan sekarang, yaitu jalur persuasif namun berkelanjutan. Dengan demikian, ada kemungkinan pemerintah kota bisa meluluhkan hati warga bantaran yang keras.

Penjelasan tentang upaya resolusi konflik untuk menyelesaikan perselisihan antara warga bantaran dengan pemerintah kota memang baru sebatas wacana yang melibatkan semua pihak yang punya kepentingan masing-masing. Semua pihak yang terlibat dalam perselisihan tersebut dapat dipastikan menginginkan suatu jalan keluar yang baik sekaligus memenangkan semua pihak. Pemerintah kota memiliki kepentingan yang besar untuk membebaskan wilayah bantaran dari pemukiman. Sementara warga bantaran justru sebaliknya, namun warga sendiri hanya mau menerima jatah bantuan mereka tanpa mau pindah. Jika kembali pada pendapat yang diberikan Sukasno SH, maka pemerintah kota dan warga bantaran harus mau berkomunikasi secara layak dan intensif hingga tercapainya kesepakatan, tentang pembayaran dana banjir sekaligus kesadaran untuk relokasi.

Proses resolusi bukanlah proses yang mudah namun juga bukan proses yang sulit, yang diperlukan untuk resolusi hanyalah kesadaran semua pihak yang berseteru untuk mau memikirkan jalan keluar secara bersama-sama. Perubahan ranah konflik menuju jalur hukum sebenarnya cukup berpotensi memberikan resolusi konflik yang dapat diterima semua pihak, akan tetapi penggunaan jalur hukum juga bisa semakin mengingkatkan eskalasi konflik. Meskipun proses mediasi yang dilakukan pengadilan sempat gagal, namun hal itu tidak seharusnya menghentikan upaya menuju resolusi konflik.

commit to user

Lembaga pengadilan, seperti yang telah dikatakan oleh Heri Hendro Harjuno, sebenarnya lembaga yang bisa berperan sebagai mediator atau adjudikator dalam permasalahan tentang dana bantuan banjir tersebut. Perhatikan pernyataan yang diberikan oleh pengacara warga bantaran tersebut

Ya karena, syarat mediator, atau konsiliator harus dapat diterima oleh kedua belah pihak, kami sampai sejauh ini di pihak SKoBB belum melihat adanya kemungkinan munculnya mediator yang bisa diterima oleh semua pihak.Artinya, SKoBB masih membuka jalan untuk mediasi tentang dana bantuan banjir, tetapi untuk relokasi, kami sudah harga mati. (Wawancara pada 15 Maret 2010)

Hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa warga bantaran sebenarnya masih membuka peluang untuk proses penyelesaian dan mediasi demi mencapai resolusi konflik. Namun di pernyataan yang lain, Heri Hendro Harjuno tampaknya skeptis dan pesismis dengan munculnya mediator. Ia menyatakan

Memang arahnya demikian, dan hal itu sudah pernah kita coba waktu tingkat pengadilan paling bawah, yaitu PN [Pengadilan Negeri], tapi

mentok. ... Jadi untuk mediator yang bisa menjembatani tampaknya saya agak skeptis ada yang bisa. (Wawancara pada 15 Maret 2010)

Meskipun Heri Hendro Harjuno merasa skeptis terhadap mediasi yang diberikan pengadilan, akan tetapi pernyataan yang diberikan sebenarnya menunjukkan bahwa ada potensi besar bahwa pengadilan bisa memberikan jalan keluar. Walaupun potensi itu belum tergali untuk bisa menjadi fasilitator jalan damai.

Di lain pihak, sebenarnya pemerintah kota sendiri juga bisa menjadi mediator dan arbitrator yang baik untuk mendukung proses resolusi konflik ini, dan memberikan jalan keluar yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi warga bantaran dan pemerintah kota. Untuk itu, Sukasno SH menyatakan bahwa

Kalau menurut saya, tetap harus ada komunikasi dengan kelompok yang

‗pokoknya tidak mau ini tadi‘, kalau ada komunikasi pada kahirnya

komunikasi akan menjadi intens, pertama kita mungkin hanya bertegur sapa saja, tapi lama-kelamaan kita pasti akan sampai pada cerita,

commit to user

wedangan bagaimana, kondisi keluarga bagaimana, dan itu harus terjalin terus jangan sampai pisah. ...

Pandangan ketua DPRD Surakarta sebenarnya menjelaskan bahwa apabila pemerintah ingin menyelesaikan kasus ini, maka proses komunikasi yang baik dan tepat menjadi syarat utama. Hal itu juga penting untuk mencapai adanya mediasi dan resolusi konflik yang tepat. Lebih lanjut ia menjelaskan

Saya kira masih ada upaya, seperti itu, misalnya baik kepada siapa. Pada akhirnya komunikasi seperti itu akan terjalin tidak pada ketua komunitas. Sebab mungkin saja ketua komunitas itu terlalu mendominasi, sehingga mungkin semua anggotanya terkadang tidak nyambung [pen: tidak dapat mengikuti keinginan ketua kelompok]. ... Sebenarnya, mungkin ada keinginan untuk lepas dari kelompok tersebut, tetapi karena ada rasa sungkan, malu, takut. Jadi bisa saja pemerintah kota berkomunikasi melalui mereka-mereka yang seperti ini [pen: warga yang jenuh dan ingin lepas dari kelompok]. Yang namanya paguyuban, saya yakin, satu ikatannya mungkin semu. ... Jadi saya yakin kepentingan antara ketua paguyuban dan semua anggotanya mungkin berbeda. Sehingga komunikasi menjadi hal yang penting. (Wawancara pada 11 Mei 2010)

Keterangan yang diberikan oleh Sukasno SH di atas, tampaknya cukup menarik. Sebab secara tidak langsung pernyataan yang diberikan Sukasno SH memberikan isyarat bahwa komunikasi interpersonal antara warga bantaran dan pemerintah kota, yang terjadi secara informal, bisa berpotensi membuahkan resolusi konflik, dan menjadikan pemerintah kota sebagai mediator atau mungkin juga negosiator.

Secara sederhana, Sukasno SH hendak menjelaskan apabila proses komunikasi interpersonal yang menghubungkan pemerintah kota dengan kelompok masyarakat belum membuahkan hasil nyata, maka perlu ada perubahan jalur komunikasi menjadi interpersonal yang terjadi antara individu dari pemerintah kota, dan warga bantaran yang terjadi secara informal. Hal itu kemungkinan bisa menghasilkan kesepakatan antara warga dan pemerintah kota, karena ada proses negosiasi yang bersifat pribadi, tanpa bantuan pihak ketiga. Di samping itu,

commit to user

komunikasi informal antarpribadi tersebut juga bisa digunakan untuk mencari mediator yang tepat untuk mencarikan jalan keluar yang tepat.

Pernyataan dari ketua DPRD Surakarta, Sukasno SH, pada dasarnya mirip dengan yang diberikan oleh koordinator aksi masyarakat dalam dana bantuan banjir tersebut, Agus Sumaryawan. Ia sebenarnya mensahkan apa yang telah dikatakan oleh Sukasno SH, tentang pentingnya komunikasi dalam penyelesaian konflik tersebut. Agus Sumaryawan memberikan keterangan

Seharusnya pemerintah kota mengadakan koordinasi untuk melakukan tatap muka bersama masyarakat, ibaratnya dalam bahasa jawa ―ayo podho dirembug‖. Hal itu harus dilakukan berdasarkan prinsip demokrasi yang

mendahulukan musyawarah lalu melakukan mufakat. Selama ini yang dilakukan pemerintah belum ada musyarwarah tapi sudah dimufakati bersama-sama, sehingga itu jelas salah besar. Karena selama ini pemerintah selalu merealisasikan semua kebijakan yang belum pernah dimusyawarahkan. ... [ilustrasi oleh sumber]. (Wawancara pada 23 Januari 2010)

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Agus Sumaryawan, dapat diketahui bahwa warga bantaran sendiri sebenarnya menginginkan adanya komunikasi dengan pemerintah kota terkait penyelesaian masalah bantuan banjir tersebut. Hal itu sebenarnya menunjukkan adanya keinginan positif warga untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah ini dengan proses mediasi atau negosiasi yang baik, melalui proses komunikasi yang baik pula.

Jika memang ada niat baik dari warga bantaran untuk berbicara dengan baik dan menyelesaikan permasalahan ini melalui musyawarah, seperti yang juga diinginkan oleh pemerintah kota, seperti yang telah diungkapkan oleh ketua DPRD Surakarta. Lalu mengapa, sampai sekarang belum tercapai kesepakatan yang sama antara pemerintah kota dengan masyarakat bantaran, yang nota bene memulai konflik ini. Kenyataan seperti ini menuntut upaya lebih serius untuk mendalami dan mengkaji permasalahan tersebut secara lebih dalam.

commit to user

Dalam upaya mediasi atau setidaknya arbitrasi, atau mungkin juga negosiasi, SKoBB, sebagai representasi warga bantaran yang menggulirkan konflik sebenarnya juga dapat menjadi kelompok yang mendukung mediasi dengan pemerintah kota demi mencapai resolusi konflik. Sebagai forum atau kelompok masyarakat SKoBB menjadi suatu lambang dari perlawanan warga bantaran yang memulai konflik dengan pemerintah kota. Potensi dukungan SKoBB terhadap pencarian resolusi konflik sebenarnya dinyatakan oleh warga bantaran sekaligus aktivis di SKoBB, Maryono. Ia menyatakan bahwa

Sebenarnya ada upaya SKoBB untuk menyelesaikan permasalahan ini namun ada perasaan gengsi dari tiap-tiap pihak, baik itu dari warga bantaran maupun pemerintah kota sendiri untuk mau mengawali proses negosiasi tersebut, entah karena permasalahan apa saya sendiri tidak

ngerti. Tetapi sepanjang pengamatan saya ada beberapa teman-teman di SKoBB yang sebenarnya juga ingin melakukan negosiasi, begitu juga dengan pemerintah kota. Masalahnya sekarang siapa yang ingin memulai lebih dulu. ... (Wawancara pada 12 Februari 2010)

Perhatikan pernyataan yang diberikan oleh Maryono di atas. Keterangan dan pernyataan tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa warga bantaran melalui SKoBB juga menginginkan jalan damai dan proses mediasi untuk mencapai resolusi konflik yang disepakati semua pihak. Namun demikian, dia sendiri tidak menampik fakta bahwa banyak pihak yang merasa egois sehingga enggan merintis jalan damai yang penting untuk melahirkan resolusi konflik yang menguntungkan semua pihak.

Keterangan tersebut sebenarnya tidak bertentangan dengan pernyataan Agus Sumaryawan, warga bantaran yang juga menjabat sebagai ketua SKoBB sekaligus koordinator aksi protes, yang pada dasarnya juga menyatakan bahwa dia