• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

A. Sekilas Kehidupan Warga Bantaran

1. Pernyataan-Pernyataan dalam Eskalasi Konflik

Penyebab konflik yang berkisar dari kesalahan persepsi dan kegagalan komunikasi, selanjutnya membawa perselisihan menuju tingkat terbuka, dengan beragam aksi komunikasi yang memiliki implikasi besar dan luas. Setelah mencoba menggunakan berbagai macam cara untuk membujuk pemerintah kota agar mau mencairkan dana bantuan banjir tersebut, warga bantaran kini menggulirkan konflik menuju eskalasi yang lebih luas dan berdampak besar. Begitu luasnya eskalasi perselisihan yang terjadi antara masyarakat bantaran dan pemerintah kota, beberapa surat kabar lokal sempat memasukkan permasalahan tersebut menjadi berita utama. Situasi tersebut jelas menunjukkan bahwa warga bantaran dan pemerintah kota sama-sama memegang teguh kehendak dan keyakinan mereka.

Fakta tentang perluasan eskalasi konflik yang terjadi antara warga bantaran dengan pemerintah kota dimuat dalam surat kabar lokal, Joglosemar, edisi 14 Maret 2010. Begitu kuatnya eskalasi konflik tersebut, sampai-sampai warga bantaran mengajukan gugatan terhadap pemerintah kota di pengadilan negeri, Surakarta. Joglosemar menuliskan

Ratusan warga penghuni area bantaran di Semanggi hingga kini nekat bertahan dan menolak tawaran relokasi Pemerintah kota Solo. Karena kenekatannya itu, mereka hingga kini tidak mendapatkan dana hibah banjir yang dijanjikan pemerintah. Namun mereka tidak menyerah, meski kalah dalam gugatan hukum di pengadilan Negeri Surakarta yang mereka ajukan sendiri. Bahkan mereka menduga ada dugaan korupsi dalam penyaluran hibah banjir itu (Joglosemar, 14 Maret 2010: 13).

Laporan yang dituliskan oleh harian umum Joglosemar tersebut menujukkan betapa kuatnya perjuangan dari warga bantaran dalam menuntut hak mereka berkaitan dengan dana bantuan banjir. Hal itu menimbulkan eskalasi yang luas, hingga

commit to user

Situasi dan kondisi seperti itu membuktikan bahwa eskalasi perselisihan yang terjadi antara warga bantaran dan pemerintah telah berkembang jauh sejak konflik tersebut digulirkan. Sebab, sudah menjadi rahasia umum bahwa apabila suatu perselisihan tersebut sudah memasuki ranah pengadilan dan melibatkan institusi hukum sebagai media perselisihan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa perselisihan tersebut mencapai klimaks dan menjadi fakta tak terbantahkan bahwa perselisihan telah bergerak dan memiliki implikasi yang lebih luas.

Lebih lanjut, Joglosemar, di edisi yang sama, menjelaskan bahwa pengadilan tampaknya menjadi ranah baru dan medan perselisihan baru bagi warga bantaran dan pemerintah kota, terkait dengan kasus bantuan banjir ini. Harian Joglosemar menuliskan

Setelah melalui proses yang berbelit-belit, pada 17 Februari lalu pihak Pengadilan Negeri justru memberikan keputusan yang mengecewakan dengan menolak seluruh materi gugatan ‖Alasannya gugatan kami

melanggar Perda yang menyebutkan wilayah bantaran tidak boleh

dihuni,‖ tambahnya (Joglosemar, 14 Maret 2010: 13).

Penjelasan yang tertulis di harian umum Joglosemar tersebut semakin menguatkan fakta bahwa pengadilan negeri, Surakarta, menjadi ranah perselisihan baru antara warga bantaran dan pemerintah kota. Selain itu, pernyataan tersebut menunjukkan keputusan pengadilan negeri justru menguatkan bahwa semua tuntutan warga akhirnya dipatahkan di pengadilan negeri tersebut.

Selain beberapa pernyataan di atas, harian Joglosemar, pada edisi 18 Februari 2010, juga memberitakan, pengadilan negeri rupanya menolak semua gugatan warga bantaran terhadap pemerintah kota terkalit permasalahan relokasi dan bantuan banjir. Secara lebih jelas harian tersebut menulis dalam lead

Majelis hakim yang menyidangkan gugatan class action warga Bantaran Bengawan Solo, ditolak. Penolakan tersebut dibacakan majelis hakim saat membacakan putusan di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, Rabu (17/2).

commit to user

Majelis menilai gugatan yang diajukan penggugat kabur (Joglosemar, 18 Februari 2010: 9).

Penolakan tersebut pada hakekatnya hanya terfokus pada proses hukum yang berlaku, sehingga tidak menghasilkan efek apapun terhadap institusi pengadilan tersebut. Namun demikian, penolakan gugatan tersebut berimbas besar terhadap warga bantaran yang menggulirkan perselisihan tersebut.

Karena itu, keputusan pengadian negeri tampaknya semakin meruncingkan permasalahan dan perselisihan antara warga bantaran dan pemerintah kota sekaligus meluaskan eskalasi konflik tersebut. Surat kabar yang lain rupanya menjelaskan situasi serupa. Solopos, misalnya, pada edisi 18 Februari 2010 memberitakan

Hakim Ketua Yuhanis SH yang membacakan putusan itu menyatakan menolak seluruh gugatan warga yang diwakili 13 orang yang tergabung dalam Solodaritas Korban Banjir Bantaran (SKoBB). ... ‖Menolak

seluruh gugatan yang diajukan oleh penggugat dan membebankan biaya perkara pada penggugat,‖ ungkap Yuhanis di depan persidangan

(Solopos, 18 Februari 2010: I).

Kontan saja, penolakan pengadilan negeri terhadap semua materi gugatan–dalam perselisihan tersebut–membuat warga bantaran menggulirkan reaksi keras dengan cara mengajukan banding. Pada edisi yang sama pula, Solopos menuliskan

Warga yang diwakili oleh kuasa hukumnya Heri Hendro Harjuno SH langsung banding atas putusan itu. Ratusan warga bantaran yang

meng-geruduk Pengadilan Negeri (PN) Solo langsung meluapkan kekecewaan mereka. Bahkan, mereka juga mencaci majelis hakim (Solopos, 18 Februari 2008: I).

Tulisan berita dalam harian Solopos tersebut secara tidak langung mengungkapkan bahwa warga bantaran siap untuk meningkatkan eskalasi konflik tersesbut hingga ke pengadilan tinggi di tingkat propinsi. Fakta tersebut merupakan bukti kuat bahwa perselisihan antara warga dengan pemerintah kota tampak semakin pelik.

commit to user

Keinginan warga bantaran untuk mengajukan banding terhadap putusan pengadilan merupakan salah satu bukti bahwa perselisihan yang melibatkan suatu kelompok masyarakat rupanya berpotensi memunculkan eskalasi konflik yang semakin luas, karena melibatkan banyak institusi tertentu. Selain itu, penyataan warga untuk meningkatkan pembahasan permasalahan ini hingga ke tingkat propinsi rupanya menjadi fakta penting yang menujukkan penolakan yang kuat terhadap suatu kebijakan pemerintah. Di lain pihak, partisipasi aktif media massa lokal yang memuat perselisihan ini menjadi topik penting dalam berita harian, menujukkan bahwa konflik tersebut tidak hanya menjadi suatu isu yang terlokalisasi dalam satu wilayah semata–dalam hal ini kawasan Semanggi–tapi juga menjadi isu lokal yang dibahas secara luas di seluruh eks-karesidenan Surakarta. Semua hal itu menjadi sebuah indikasi jelas tentang perkembangan eskalasi konflik.

Pada dasarnya keputusan untuk pengajuan banding tidak serta-merta muncul ketika proses pengadilan tersebut berakhir dengan penolakan putusan penggugat, tetapi muncul dari pemikiran sebagian tokoh SKoBB, jauh-jauh hari sebelum proses pengadilan tersebut di mulai. Sehingga, pada hakekatnya eskalasi konflik ini sebenarnya sudah direncanakan terlebih dahulu, meskipun tidak secara langsung. Agus Sumaryawan, ketua dan koordinator SKoBB sebenarnya sudah menyiapkan langkah-langkah yang hendak ditempuh, apabila mereka menemui kegagalan di proses pengadilan. Ketika diwawancarai pada proses pengumpulan data, ia menyatakan

... besok tanggal 17 Februari 2010, ialah pembacaan putusan kami menang atau kalah di Pengadilan Negeri Surakarta. Saat itu semua warga yang tergabung dalam SKoBB akan kami kerahkan sebanyak 500 orang untuk mendukung kami di sana. Jika kami kalah maka akan kami ajukan banding, lalu segera laporkan ke KPK, karena ada indikasi korupsi. (Wawancara pada 23 Januari 2010)

commit to user

Penjelasan tersebut rupanya merupakan pernyataan yang menunjukkan bahwa warga bantaran rupanya siap melanjutkan perselisihan ini hingga mencapai kemenangan atau hingga dana banjir tersebut turun. Pernyataan Agus Sumaryawan rupanya terbukti setelah adanya putusan penolakan yang dibacakan oleh majelis hakim di pengadilan negeri saat itu.

Situasi di ruang sidang pengadilan negeri rupanya mendukung fakta bahwa eskalasi perselisihan ini telah meluas. aktivitas observasi yang dilakukan selama pengumpulan data menunjukkan bahwa setidaknya ada lebih dari 500 orang warga, persis seperti yang dikatakan oleh Agus Sumaryawan, bantaran yang memadati ruang sidang dan halaman pengadilan negeri. Kebanyakan dari mereka yang datang ke sidang tersebut terdiri dari orang-orang paruh baya dan banyak anak muda yang ikut serta mendukung tuntutan terhadap pemerintah kota terkait dana banjir. Sementara itu, ruang sidang pengadilan negeri tersebut terasa penuh sesak dijejali banyak warga bantaran yang berharap-harap cemas menanti putusan majelis hakim. Sedangkan sebagian warga yang berada di luar ruang sidang membentangkan poster-poster berisi tuntutan kepada pemerintah kota tentang dana banjir tersebut. Selain itu ada beberapa media massa lokal dan masional yang meliput persidangan tentang dana banjir tersebut.

Meskipun pada akhirnya, majelis hakim menolak semua tuntutan warga yang melakukan tuntutan. Warga bantaran, beserta semua pihak yang berada di belakang warga, rupanya telah bersiap melakukan semua upaya untuk menuntut hak mereka tentang dana bantuan tersebut, bahkan warga siap melakukan apapun untuk menuntut sesuatu yang telah menjadi hak mereka. Pengacara dari pihak warga bantaran, Heri Hendro Hajuno, sempat mengatakan

Karena ini sudah hak, ini bukan sesuatu yang diminta, tapi sesuatu yang istilah Jawa-nya ‗dono‘ atau hadiah, karena kebaikan hati pemerintah

commit to user

terhadap kemanusiaan, maka saya bantu. Bukan! Tapi sudah diamanatkan undang-undang kebencanaan [pen: undang-undang tentang bencana alam dan sebagainya], jadi ini tidak bisa tidak, jadi mereka [pen: warga bantaran] akan keukeuh [pen: berjuang], sampai kapanpun. (Wawancara pada 15 Maret 2010)

Pernyataan tersebut mengandung suatu indikasi bahwa pada dasarnya warga akan menempuh segala macam cara untuk menuntut agar dana bantuan banjir segera dicairkan. Heri Hendro Harjuno juga sempat menyatakan bahwa ia sudah mengajukan gugatan banding terhadap semua masalah tersebut, ‖Yang jelas, kita akan naik banding, tanggal 24 Maret ini kita sudah mengajukan memo banding. Pernyataan bandingnya sendiri sudah saya nyatakan tanggal 2 Maret‖. (Wawancara pada 15 Maret 2010).

Pernyataan sikap dan penjelasan yang diberikan Heri Hendro Harjuno pada dasarnya persis seperti yang pernah dinyatakan oleh media massa, tentang bagaimana sikap yang akan ditempuh apabila hasil putusan pengadilan tersebut ternyata memenangkan pemerintah kota dan menekuk warga bantaran. Keadaan tersebut jelas memberikan setidaknya dua kemungkinan besar. Pertama, permasalahan ini akan berlarut-larut sampai pemerintah kota membayarkan semua uang yang menjadi hak warga. Kedua, perselisihan tersebut akan terus bergulir menuju tingkat eskalasi yang lebih tinggi, hingga pada akhirnya lebih banyak melibatkan beragam kepentingan lain. Kondisi kedua tampaknya akan terus bergerak menuju ke satu titik yang menyatakan bahwa warga bantaran benar-benar akan mempertahankan wilayah tersebut hingga batas kemampuan terakhir.

Harian Joglosemar pada edisi 14 Maret 2010 rupanya sempat menuliskan berita yang pada intinya menyatakan bahwa warga bantaran akan bersikap tegas terhadap semua upaya yang berusaha menggusur mereka dari tanah tempat tinggal mereka. Secara umum Joglosemar menuliskan

commit to user

Namun tidak bagi warga bantaran yang tetap nekat bertahan. Bagi warga bantaran, tidak pernah mengenal wacana relokasi, karena sejak awal hanya dijanjikan bantuan untuk rekonstruksi bangunan rumah yang rusak (Joglosemar, 14 Maret 2010: 13).

Selanjutnya, harian tersebut menuliskan bahwa

Dua sikap yang berbeda ini dipertaruhkan di meja hijau. Sayang, warga harus menerima kenyataan pahit. Dalam 21 kali persidangan di Pengadilan Negeri Surakarta, kekalahan diterima warga pada vonis 17 Februari lalu (Joglosemar, 14 Maret 2010: 13).

Pernyataan yang dituliskan oleh harian Joglosemar tersebut setidaknya mengandung pengertian bahwa warga akan tetap melakukan beragam upaya yang bisa dilakukan untuk tetap bertahan di bantaran, bahkan jika mereka kalah di semua persidangan yang telah dilakukan. Hal itu menujukkan bahwa eskalasi perselisihan tersebut pada dasarnya akan terus meningkat, selama pemerintah kota belum mencairkan bantuan banjir atau membatalkan rencana relokasi warga bantaran.

Kutipan berita dari harian Joglosemar tersebut pada dasarnya membenarkan pernyataan dan penjelasan yang diberikan oleh Heri Hendro Harjuno yang menyatakan bahwa warga bantaran akan terus mempertahankan hak mereka apapun yang terjadi. Semua fakta yang berada di lapangan tampaknya membuktikan bahwa eskalasi perselisihan ini sebenarnya berpotensi untuk menjadi semakin luas. Hal itu beresiko membuat konflik yang terjadi memiliki eskalasi yang semakin meningkat.

Warga bantaran yang lain juga menyatakan kemungkinan mereka akan melakukan semua tindakan yang dianggap perlu untuk menuntut dan meminta hak yang seharusnya mereka terima sekitar tiga tahun silam. Hal itu pada hakekatnya menjadi salah satu faktor pendorong perluasan eskalasi konflik yang sedang terjadi. Warga bantaran bernama Maryono menyatakan

commit to user

Saya yakin apabila pihak pemerintah kota kalah, pasti akan mengajukan banding, kami juga akan mengajukan banding apabila kami kalah. Pihak, warga bantaran sendiri kalau kalah juga akan mengajukan banding, bahkan sampai ketingkat internasional [pen: kemungkinan besar maksudanya ialah tingkat nasional]. Sebab bagi warga, soal bantuan itu sudah tidak akan main-main lagi. (Wawancara pada 12 Februari 2010)

Selain itu, ia juga menambahkan

Tetapi kenyataanya belum ada penyelesaian, intinya masing-masing berusaha mempertahankan apa yang sudah mereka miliki. Karena warga merasa tidak ada penyelesaian secara baik-baik untuk menangani masalah ini, maka kami mengajukan masalah ini ke pengadilan. (Wawancara pada 12 Februari 2010)

Secara sederhana pernyataan Maryono menunjukkan bahwa warga siap melakukan apapun juga demi mendapatkan bantuan banjir tersebut, bahkan jika perlu melakukan beragam cara, termasuk meningkatkan eskalasi konflik melalui pengadilan dengan cara melakukan penuntutan.

Garis besarnya, warga bantaran melakukan beragam tindakan yang secara konseptual merupakan tindakan yang meningkatkan perluasan konflik tersebut apabila belum mendapatkan hasil positif dan tanggapan dari pemerintah. Dengan begitu perluasan konflik tersebut kemungkinan besar bisa melakukan beragam cara dengan harapan mendapatkan perhatian dari pemerintah kota, termasuk membawa permasalahan ini ke tingkat nasional. Berita yang diangkat oleh beberapa harian lokal tersebut rupanya menujukkan semacam penegasan dari pernyataan warga sendiri. Hal ini jelas akan memberikan dampak tertentu bagi warga dan pemerintah kota apabila tidak segera diselesaikan. Namun demikian, tanggapan para tokoh yang terlibat tidak selalu demikian. Bagi para tokoh yang berada di luar bantaran–bukan warga bantaran–dan tokoh yang berada di belakang relokasi justru memberikan pernyataan sebaliknya, bahwa aksi yang dilakukan warga bantaran tidak lebih dari aksi biasa.

commit to user

Wartawan harian Joglosemar, Abdul Alim, menganggap eskalasi perselisihan tersebut kemungkinan besar tidak akan berdampak banyak bagi pemerintah kota. Bagi Alim, perselisihan tersebut justru akan berdampak pada warga bantaran sendiri. Wartawan harian Joglosemar itu menyatakan

Lagi pula semakin lama mereka [pen: warga bantaran anggota SKoBB] bertindak pasti akan semakin capek, sekarang pergerakan SKoBB tidak seperti pada awal masa terbentuknya dulu. Sekarang aktivitas yang mereka lakukan cenderung minim. (Wawancara pada 21 Maret 2010)

Indikasi yang tersirat dari jawaban yang diberikan Alim seakan menegaskan bahwa upaya yang dilakukan masyarakat bantaran untuk meningkatkan eskalasi konflik, dengan cara menutut pemerintah kota, justru merugikan masyarakat sendiri, karena masyarakat jelas membuang lebih banyak biaya ketimbang yang akan didapatkan. Ia juga menyatakan

Sepertinya pemerintah kota menganggap bahwa semua permasalahan tersebut hanyalah sebagian kecil dari hambatan dari semua program relokasi yang sudah berhasil. Sebab semua program pasti ada hambatannya, sehingga, mungkin, bagi pemerintah kota semua permasalahan ini hanya hambatan kecil setelah semua program relokasi berhasil. (Wawancara pada 21 Maret 2010)

Hal itu jelas bertentangan dengan anggapan warga bantaran bahwa perluasan dan semua aktivitas untuk menggulirkan dan meningkatkan eskalasi perselisihan itu bisa mewujudkan harapan mereka untuk mendapatkan hasil positif .

Namun demikian pemerintah kota pada dasarnya memberikan perhatian kepada semua aksi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menggulirkan perselisihan tersebut, walaupun perhatian tersebut tidak sebesar perhatian mereka terhadap warga yang telah direlokasi. Hal itu, tampaknya menjadi peredam eskalasi perselisihan tersebut, meskipun tidak menghentikannya. Suparno HS, sebagai wakil dari pemerintah kota, menyatakan ‖Ya tidak masalah, wong itu semua hak mereka, ya

commit to user

namanya alam demokrasi, ya pasti ada yang setuju, ada pula yang menentang. Yang penting nanti tahun 2010 akan selesai, kan begitu toh.‖ (Wawancara pada 14 April 2010). Pernyataan yang diberikan Suparno HS menunjukkan bahwa pemerintah kota memberikan kebebasan bagi warga bantaran yang ingin melakukan kontra terhadap kebijakan pemerintah tentang relokasi dan penundaan dana banjir. Selain itu, paparan itu menunjukkan bahwa pemerintah kota juga memberikan perhatian yang minim terhadap munculnya perselisihan tersebut, sama seperti yang dikatakan oleh Alim.

Lebih lanjut, Suparno HS berusaha menyampaikan perhatian pemerintah kota terhadap warga bantaran yang melakukan perselisihan tersebut, meskipun hal itu tidak secara langsung tersirat dalam pernyataannya. Ketua Pokja tersebut menyampaikan

Apa memang ganti rugi toh... yang 8,5 juta itu kan uang banjir. Bagi warga yang tinggal di luar bantaran uang 8,5 juta itu buatlah untuk membeli memperbaiki rumah, kalau yang berada di bantaran gunakan untuk beli tanah, lalu gunakan juga untuk buatlah rumah. Untuk warga yang tinggal di tanah hak milik nanti akan dipertimbangkan berapa harga tanah per meternya. Saya yakin semua hal itu tidak akan merugikan warga. Kalau mereka melawan dengan keras, kita harus lunak, semua itu harus pakai strategi, ya kan. (Wawancara pada 14 April 2010)

Dengan demikian, pemerintah kota pada dasarnya tetap menjalankan program relokasi warga, sekaligus berusaha mencari jalan keluar yang baik untuk menghambat eskalasi konflik tersebut. Jadi sebenarnya pemerintah kota memperhatikan keinginan masyarakat bantaran yang enggan direlokasi, meskipun seakan-akan enggan memperhatikan. Dari sini sebenarnya tampak bahwa pemerintah kota sebenarnya berniat baik terhadap warga bantaran.

Sementara itu, tokoh penting di DRPD Surakarta, Sukasno SH, memberikan penjelasan bahwa pemerintah kota memberikan perhatian yang relatif lebih sedikit terhadap warga yang menolak relokasi, karena menganggap bahwa

commit to user

pemerintah kota sudah melakukan hal yang dianggap perlu untuk meredam eskalasi perselisihan tersebut. Meskipun hal itu tidak mengurangi niat baik pemerintah kota untuk menyelesikan konfik tersebut. Secara pribadi, Sukasno SH mengatakan

Pemerintah kota bersikap pasif, artinya yang lalu biarlah berlalu, sebab pemerintah kota sudah mengambil semua langkah yang diperlukan, memberikan pemahaman ya sudah, memberikan sosialisasi, tapi pada akhirnya dikembalikan ke warga. Lalu jika mereka menggugat pemerintah kota ya silahkan saja. (Wawancara pada 11 Mei 2010)

Pernyataan yang diberikan Sukasno SH menampakkan fakta dan bukti baru bahwa pemerintah kota lebih banyak memberikan kebebasan kepada warga bantaran untuk melakukan aksi protes dan menggulirkan perselisihan secara bebas. Meskipun begitu, pemerintah kota juga telah melakukan tindakan-tindakan baik, karena telah memberikan pemahaman dan sosialisasi. Meskipun ada beberapa pihak yang menilai sosialisasi tesrebut belum menjangkau sasaran.

Sebagai wakil dari pemerintah kota, Widdi Srihanto juga memberikan pernyataan yang mirip dengan yang diberikan oleh Sukasno SH. Widdi Srihanto secara umum menyatakan bahwa pemerintah kota secara sederhana bersikap pasif ketika menghadapi tekanan warga bantaran yang melakukan aksi. Ia menjelaskan bahwa

Kalau menghadapi mereka semua ya tinggal terserah mereka saja, wong

kita sudah transparan mengurus mereka semua itu. Selama masih ada komunikasi maka semua masalah seperti itu pasti dapat diselesaikan. Kami juga harus mencari konsep yang tepat untuk mengatasi warga yang tinggal di tanah hak milik. (Wawancara pada 25 Mei 2010)

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah kota lebih banyak bersikap pasif ketika menghadapi eskalasi konflik yang sejatinya menekan pemerintah kota. Karena pemerintah kota beranggapan telah memberikan semua hal yang dirasa perlu untuk tindakan sosialisasi tentang relokasi.

commit to user

Semua pendapat dan pernyataan yang diberikan oleh semua tokoh terkait dan laporan yang ditulis oleh media massa menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan perkembangan dan eskalasi konflik yang terjadi antara warga bantaran dan pemerintah kota yang secara sederhana rupanya dipengaruhi oleh beberapa hal. Permasalahan tentang dana bantuan banjir yang tidak kunjung selesai atau sederhananya tidak kunjung dibayarkan oleh pemerintah kota membuat masyarakat mulai mendesak semua pihak terkait untuk segera mencairkan dana yang menjadi hak mereka. Akan tetapi, hampir semua pihak yang secara teknis bertanggungjawab terhadap dana bentuan banjir tersebut seakan acuh-tak-acuh terhadap tuntutan tersebut. Ketika warga bantaran merasa semua upaya legal yang telah diupayakan menemui jalan buntu, warga bantaran mulai menggalang kekuatan untuk memulai melakukan aksi-aksi penuntutan terhadap pemerintah kota melalui beragam cara, termasuk melalui aksi demonstrasi dan tuntutan perdata di pengadilan negeri.

Tuntutan perdata dan aksi protes terhadap pemerintah kota menimbulkan efek serius terhadap permasalahan ini. Persoalan yang pada mulanya hanya menjadi isu lokal–hanya terkait dengan warga bantaran semata–kini menjadi isu di sekitar Karesidenan Surakarta. Inilah fakta yang menunjukkan bahwa persoalan dana banjir telah meluas menjadi permasalahan yang dibahas di pengadilan yang mungkin akan berlanjut ke tingkat nasional. Hal itu jelas menjadi indikator paling jelas untuk menujukkan bahwa eskalasi perselisihan tersebut telah meluas dengan implikasi yang cukup besar, meskipun tidak terlalu signifikan. Liputan-liputan yang dilakukan oleh beberapa media massa lokal tentang permasalahan tersebut semakin menguatkan dan menujukkan betapa luasnya pengaruh eskalasi pertentangan tersebut. Konflik berlatarbelakang ekonomi ini rupanya tidak hanya mencakup ranah ekonomi semata,

commit to user

tapi juga mulai merambah ke ranah hukum, yang dibuktikan melalui lebih dari dua puluh satu kali persidangan.

Persoalan ini rupanya tidak hanya berhenti di ranah hukum semata, tapi juga makin merembet ke ranah politik kota. Perhatikan kutipan ulang dari harian