• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

A. Sekilas Kehidupan Warga Bantaran

2. Pola dan Proses Komunikasi pada Penyebab Konflik

Pada dasarnya konflik yang terjadi antara warga bantaran dan pemerintah kota melibatkan persoalan komunikasi dan semua unsur yang terkait di dalamnya. Hal itu membuat semua unsur komunikasi sebenarnya mengambil peran penting yang mempengaruhi kegagalan komunikasi yang menjadi penyebab konflik tersebut. Pemerintah kota sebenarnya sudah melakukan proses komunikasi melalui sosialisasi

commit to user

kepada semua warga bantaran secara umum. Namun demikian kegagalan komunikasi tidak dapat dielakkan karena munculnya faktor tertentu yang membuat pemerintah kota kurang memahami bagaimana kondisi bantaran secara umum.

Sosialisasi yang dilakukan pemerintah kota kepada warga bantaran tentang relokasi hanya ditujukan kepada warga yang tinggal di tanah negara (TN). Padahal ada warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik (THM). Kondisi tersebut kontan membuat warga yang tinggal di tanah hak milik (THM) tidak memiliki informasi yang tepat tentang bagaimana faktor relokasi tersebut diberlakukan dan dijalankan oleh pemerintah kota. Selain itu pemerintah kota sudah terlanjur menjanjikan bantuan uang kepada semua warga bantaran baik yang tinggal di tanah negara (TN) dan yang tinggal di tanah hak milik (THM). Selain itu, kurangnya informasi yang diperlukan oleh warga bantaran di tanah hak milik (THM) untuk membuat suatu keputusan yang tepat, meneyababkan munculnya konflik kepentingan tersebut. Hal itu menjadi faktor umum yang mendorong terjadinya konflik. Di lain pihak, pemerintah kota juga tidak kunjung mengadakan sosialisasi yang tepat dan ditujukan bagai warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik (THM), sehingga mendorong percepatan konflik tersebut.

Di samping itu, penundaan pembayaran uang dilakukan pemerintah kota memunculkan kesalahan persepsi dan miscommunication di kalangan warga bantaran, bahwa pemerintah kota sengaja menunda pembayaran dana bantuan banjir sebesar 8,5 juta dengan syarat harus relokasi. Padahal berdasarkan penjelasan Suparno HS, pemerintah hanya akan merelokasi warga yang bersedia ikut relokasi saja. Sedangkan yang bagi warga yang tinggal di tanah hak milik, yang bersedia direlokasi, pemerintah akan membeli tanah warga dengan harga yang pantas. Namun demikian, sejauh ini pemerintah belum melaksanakan sosialisasi untuk warga yang

commit to user

tinggal di tanah hak milik, sehingga proses relokasi yang berjalan bagi warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik masih terhambat. Selain itu pemerintah kota harus menuntaskan semua permasalahan tersebut pada tahun 2010 ini, dan membayarkan semua uang yang menjadi hak warga bantaran.

Dari semua penjelasan para tokoh masyarakat yang berkompeten dan berperan langsung menunjukkan bahwa pertikaian dan pertentangan yang terjadi antara warga bantaran dengan pemerintah kota terjadi karena kesalahan persepsi dan komunikasi di antara kedua belah pihak. Setidaknya ada dua indikasi yang menunjukkan bahwa konflik tersebut dimulai dengan kesalahan persepsi dan komunikasi. Indikasi pertama datang dari pernyataan masyarakat dan pemahamannya terhadap program pemerintah, seperti yang ditunjukkan oleh pernyataan Maryono bahwa

data itu mungkin digunakan untuk mendaftar atau data tentang siapa saja yang menjadi korban banjir. Data tersebut dikirimkan ke balaikota sebagai awal untuk meminta bantuan dari pusat [pen: pemerintah pusat di Jakarta]. Setelah ada informasi bahwa dana tersebut sudah dikucurkan dari pusat, tiba-tiba pemerintah kota bikin program yang bernama relokasi, karena pengertian bantuan banjir tidak sampai pada pengalokasian dalam bentuk lain. (Wawancara pada 12 Februari 2010)

Pernyataan yang serupa juga diberikan oleh Agus Sumaryawan. Ia menjelaskan ... Tidak ada sedikitpun muncul kata ―relokasi‖. Dengan demikian semua

warga yang tinggal menjadi korban banjir istilahnya hanya menunggu bantuan dari pusat [pen: bantuan dari pusat yang diberikan melalui pemerintah kota] yang akan segera cair dan tidak berbentuk material, kalau tidak berbentuk materi pasti berbentuk uang. (Wawancara pada 23 Januari 2010)

... Namun di akhir tahun 2008, mulai beredar kencang isu tentang relokasi, sehingga warga yang tinggal di daerah ini mulai menentang

secara keras, bahkan di sini di pasang spanduk besar bertuliskan ―Tolak

Relokasi Sampai Titik Darah Penghabisan.‖. ... Beberapa waktu setelah itu ada sosialisasi yang diberikan oleh pemerintah kota berkaitan dengan

masalah relokasi tersebut yang intinya bermaksud mengatakan ―warga

yang mau relokasi silahkan, yang tidak mau silahkan, namun jika terjadi sesuatu dari pemerintah pusat, pemerintah kota tidak ikut campur‖. Tetapi

commit to user

proses sosialisasi tersebut seakan menekan warga yang tinggal di wilayah bantaran untuk mau direlokasi. (Wawancara pada 23 Januari 2010) Pernyataan kedua orang tokoh tersebut menunjukkan pemahaman bahwa ada kesenjangan dan salah pengertian terhadap semua informasi yang telah diterima, terutama bagi warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik (THM). Hal itu mungkin disebabkan adanya keterbatasan informasi yang diterima atau pemahaman terhadap informasi yang kurang baik.

Sementara itu, tokoh penting di belakang relokasi, Suparno HS, memberikan pernyataan yang berhubungan dengan alasan pemerintah kota memberlakukan relokasi bagi masyarakat bantaran di wilayah Semanggi. Suparno HS menyatakan

Terus setelah semua korban di data, oleh walikota semua korban yang

telah didata tadi, dicatat dalam ‗buku putih‘ [pen: buku catatan tentang

semua korban banjir yang akan diberikan bantuan dan akan direlokasi], juga yang di tepi bantaran itu juga ada ‗buku putih‘, semua itu bagi warga yang menempati tanah negara. Setelah itu semua warga yang berada di

tanah negara, yang masuk dalam ‗buku putih‘ tadi semuanya kita data

untuk diajukan relokasi, sekaligus mendata semua warga yang bersedia relokasi, sehingga tidak ada paksaan. (Wawancara pada 14 April 2010)

Ia juga menyatakan bahwa relokasi terhadap warga bantaran itu bukanlah sebuah paksaan meskipun sebenarnya wilayah bantaran memang pada hakekatnya bukan tempat hunian yang baik. Seperti yang dijelaskan dalam pernyataan berikut

Pemerintah kota tidak pernah memaksa untuk relokasi, tetapi itu-kan

tempat larangan, bukan tempat pemukiman. Lalu saya dari pokja bilang

begini ―mbok ya sudah program pemerintah diikuti saja, wong banjir itu merepotkan orang banyak, selain hanya merepotkan sendiri‖.

... Nantinya yang tinggal di tanah hak milik itu juga dapat 8,5 juta [pen: perselesihan ini dimotori oleh warga yang tinggal di tanah hak milik]. Yang jadi keinginan mereka kan uangnya mau diminta sekarang, itu saja kan. Jadi yang jelas relokasi tetap jalan, kami juga tidak mau mengurangi hak mereka.

commit to user

Selain itu, Suparno HS menegaskan bahwa nanti pemerintah kota pasti akan membayarkan semua uang bantuan banjir yang seharusnya menjadi hak warga sebesar 8,5 juta pada tahun 2010 ini. Sehingga ada upaya dari pemerintah kota untuk tidak merugikan rakyat.

Di samping itu perselisihan ini rupanya juga dimulai oleh persepsi masyarakat bantaran bahwa mereka akan mereka akan mendapatkan bantuan jika mereka direlokasi terlebih dahulu, terutama warga yang tinggal di tanah hak milik (THM). Ketakutan mereka tidak akan mendapat bantuan uang banjir sebesar 8,5 juta rupian membuat mereka bertindak dan menggulirkan konflik menentang program pemerintah. Padahal pemerintah kota hanya menunda pembayaran uang ganti rugi mereka karena harus mengurusi permasalahan relokasi. Kesalahan persepsi yang diterima warga bantaran, rupanya juga dikuatkan karena tidak adanya kejelasan kapan pembayaran uang dana bantuan banjir tersebut akan dibayarkan, sehingga membuat masyarakat mulai menggulirkan konflik.

Kedua, salah pengertian tersebut muncul karena pemerintah kurang

memberikan sosialisasi yang memadai terhadap semua warga bantaran khususnya yang tinggal di tanah hak milik (THM), dan warga Semanggi umumnya, tentang kapan dana bantuan banjir tersebut dibayarkan. Di samping itu, sosialisasi yang pernah dilakukan pemerintah kota pada awalnya hanya terbatas pada warga yang tinggal di tanah negara (TN), padahal kenyataannya ada warga yang tinggal di tanah hak milik (THM). Jika pemerintah kota berniat merelokasi warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik, maka perlu ada sosialisasi lanjutan yang bertujuan menjelaskan semua maksud dan tindakan pemerintah yang akan dilakukan. Selain itu, karena program ini bersifat sukarela, tanpa paksaan, pemerintah kota harus membayarkan semua uang dana bantuan yang menjadi hak warga yang enggan

commit to user

direlokasi, tanpa syarat apapun. Tidak adanya proses sosialisasi lanjutan membuat munculnya salah pengertian dan kegagalan komunikasi yang mencetuskan konflik dan pertentangan antara warga bantaran dan pemerintah kota.

Semua pernyataan yang diberikan oleh para tokoh yang berada di belakang pemerintah kota serta para tokoh dari warga bantaran pada dasarnya membentuk suatu pola komunikasi yang dapat dilihat berdasarkan unsur komunikasi dan interaksi antara unsur-unsur tersebut. Interaksi antarkomponen penyusun proses komunikasi yang terjadi pada penyebab konflik pada dasarnya menghubungkan dan membuat penyebab konflik menjadi suatu persoalan yang membutuhkan proses komunikasi tertentu. Dalam kasus awal perselisihan ini pemerintah kota bertindak sebagai komunikator yang memberikan sejumlah pesan tertentu melalui sebuah aktivitas yang dikenal sebagi sosialisasi. Pesan tersebut sebagian besar berkaitan dengan program relokasi warga bantaran dengan menggunakan dana bantuan banjir yang dulu sempat dijanjikan oleh pemerintah kota. Di samping itu pesan dari pemerintah kota tersebut berisikan penundaan pembayaran dana bantuan banjir bagi warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik (THM), termasuk yang memulai perselisihan, karena ada masalah administrastif yang harus diselesaikan serta ada upaya untuk mencari proses penyelesaian yang tepat untuk relokasi warga bantaran yang tinggal di tanah hak milik.

Sementara itu warga bantaran sebagai komunikan mengganggap bahwa program relokasi merupakan suatu paksaan dan bentuk tekanan pemerintah kepada warga bantaran agar mau dipindahkan dari wilayah mereka di bantaran. Padahal pemerintah kota pada dasarnya hanya menunda pembayaran dana bantuan banjir tersebut, sambil mencari konsep penyelesaian yang tepat bagi warga yang tinggal di tanah hak milik. Perbedaan persepsi antara pemerintah kota dengan yang telah

commit to user

diterima oleh warga bantaran. Bentuk miscommunication antara pemerintah kota dengan warga bantaran menjadi awal perselisiahan yang ketat antara dua pihak tersebut. Perselisihan tersebut menempatkan pemerintah kota dan warga bantaran menjadi dua pihak yang berseteru pada konflik tentang dana banjir dan program relokasi tersebut. Tanggapan atau feedback yang dihasilkan oleh warga bantaran terkait dengan semua permasalahan tersebut ialah bentuk konflik dan eskalasi konflik yang secara umum semakin meningkat.