SURAT KETERANGAN
K. Abdul Wahid
Pertanyaa: Sejak kapan Gus Meik sering berada di makam Tambak?
Jawaban: saya tau sekitar mulai tahun tujuh delapan, beliau sering ke sini dengan naik sepeda motor, nanti bulan depan ke sini lagi, begitu seterusnya, puncaknya tahun delapan puluh dua itu sangat sering ke sini, apalagi ketika memprogram membenahi masjid dengan saya.
Pertanyaan: Hubungan penyebaran Dzikrul Ghōfilīn dengan makam Tambak seperti apa?
Jawaban: Ya awal perjuangan memang dari Tambak, namun bukan berarti lahirnya di Tambak ya tidak, karena dulukan sudah ada jamah Layliyah yang tidak dimulai dari Tambak, yang dimulai dari Tulungagung. Jika dulu sering ke Tambak dengan satu dua santri ya bukan membaca Dzikrul Ghōfilīn, ya cuman tahlil biasa. Namun ketika ajaran Gus Miek sudah rapi setiyap malam Jum’at Legi diadakan di sini.
Pertanyaan: Siapa saja yang di makamkan di sini?
Jawaban: Dulu sebelum Gus Miek ada tiga makam Wali yang berada di sini, untuk namnya bisa dibaca di makam. Jadi Gus Miek sering ke sini itu karena ada tiga makam Wali itu, jadi Gus Miek sering ke sini dan sering istirahat di serambi.
Pertanyaan: Untuk acara Dzikrul Ghōfilīn kapan saja dilaksanakan di sisni, dan siapa saja imamnya?
Jawaban: Yang sering setiap malam Jum’at legi, sebab itu warisannya Gus Miek, kalau imamnya dulu ada mbah jono, Gus Dewo, Gus Hisam dan lain lain secara bergantian. Tapi jika pesertanya yang banyak dari jamah Gus Dewo, karena dikomando Gus Sabut. Jadi tidak hanya malam Jumat Legi, tapi dari putra-putranya Gus Miek dan murid Gus Miek selalu punya hari untuk melakukan Dzikrul Ghōfilīn di makam Tambak sini. Ada malam Kamis Legi jama’ah dari Kyai Din Dukuh, ada juga jama’ah malam Sabtu Legi, Sabtu Kliwon ada jama’ah dari Gus Tajud.
Pertanyaa: Sejak kapan makam ini ditemukan?
Jawaban: Ya sekitar perang diponegoro, jadi sudah lama sekali, dan kuncennya mbah buyut saya, jadi turun temurun, dan saya generasi ke empat. Ya kalo puncak keramaiannya sejak dijamah Gus Miek, apalagi setelah Gus Miek di makamkan di sini. Gus Miek sendiri berkata pada saya bahwa dari makam ke makam yang paling faforit adalah makam Tambak.
Pertanyaan: Acara besar-besaran yang dilakukan di makam Tambak
kapan?
Jawaban: Ya secara besar-besaran dilaksanakan ketika memperingati haul Gus Meik dan ketika tujuh belas Ramadhan saat Nuzulul al-Qur’an, Nuzulul al- Qur’an ini dulu yang meminta Gus Miek untuk mengadakan acara di sini.
SURAT KETERANGAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan:
Nama : K.H. Muhammad Arsyad Busyairi
Alamat : Pengasuh Pesantren al-Falah Trenceng Tulungagung
Setatus : Santri Gus Miek
Waktu wawancara : 7 Mei 2011M.
Hp : 0815 5666 8885
Menerangkan bahwa saudara yang namanya tercantum di bawah ini benar-benar telah melakukan wawancara pada saya untuk penulisan skripsi dengan judul, “AJARAN TASAWUF K.H. HAMIM DJAZULI (GUS MIEK) dalam Dzikrul Ghōfilīn dan Semaan Al-Qur’ān Jantiko Mantab.” Jurusan Aqidah Filsafat,
Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011M.
Nama : Muhammad Makinudin Ali
Alamat : Jambangan Paron Ngawi Jawa Timur
Jurusan.Fakultas : Aqidah Filsafat/ Fakultas Ushuluddin
NIM : 1070 3310 1470
Demikian surat pernyataan dari saya, semoga informasi yang didapat bermanfaat. Amin
Tulungagung, 7 Mei 2011M.
Pertanyaan: Bagaimana sejarah Dzikrul Ghōfilīn dan Semaan Jantiko Mantab?
Jawaban: Sebenarnya saya itu tidak begitu tahu tentang sejarah ini, karena saya bertemu Gus Miek ketika ajarannya Gus Miek sudah berjalan. Menanyakan tentang Gus Miek ini harus difahami, pasti dalam mencari data akan mendapatkan cerita yang tidak sama, dan setahu saya teman sekaligus Santri Gus Meik yang tau jelas tentang beliau adalah Gus Ali Muhammad Surabaya, sebab dulu ketika Gus Miek sakitkan tidak sembarang orang bisa masuk ke Rumah Sakit, dan penjagaannya sangat ketat. Sampai istrinya Gus Miek saja tidak bisa masuk, adiknya Gus Miek pun Gus Munif duapuluh tujuh kali ingin menemui Gus Miek tidak kesampaian saking ketatnya penjagaan. Nah yang sering dipanggil Gus Miek adalah Gus Ali Muhammad Surabaya. Bahkan putra-putranyapun sedikit sekali mengetahui cerita tentang Gus Miek, sebab Gus Miek inkan jarang pulang, bisa jadi putra Gus Miek ini tahu cerita Gus Miek di daerah-daerah juga dari murid-murid Gus Miek. Sejarah tentang gus Miek dan ajarannya ini panjang, ada yang bercerita begini ada yang bercerita begitu, jangankan itu, ada orang mengarang buku menyebut nama Gus Miekpun bisa laris kok.
Pertanyaan: Kemudian setatus buku biografi Gus Miek itu seperti apa? Jawaban: Ya motifnya cari uang, dan insyaalloh tidak izin keluarga pembuatannya. Ya itu tadi, menempelkan gambar Gus Miek, banyak tamu lapor pada saya, punya motor baru kemudian ditangkap polisi di Tulungagung, di jawab kalo ini motor punya anak buah Gus Miek, ya sudah dilepaskan sama polisi. Kan seperti ini lucu, mengambil kekeramatan Gus Miek untuk kepentingan pribadi. Makanya dari sini saya itu tidak mau memberikan informasi tentang Gus Miek paling nanti juga dijadikan alas kaki untuk orang-orang yang mencari kepentingan dan keuntungan pribadi menjual nama Gus Miek.
Pertanyaan: Kalo tentang Semaan Jantiko Mantab?
Jawaban: Masalah Semaan ini dulu sebelum ada nama Jantiko dikalangan Pondok ploso sudah ada, yang dikomando oleh Gus Amiek menantu Kyai Den “Kakak Gus Miek,” kemudian sama Gus Miek didukung hingga besar, namun selanjutnya bagaiman saya kurang faham. Karena saya sendiri juga ragu bagi orang-orang yang mengaku penggerak Jantiko, karena bisa yakin dan menceritakan dirinya sendiri itukan pasti ada kepentingan dibaliknya. Makanya saya tidak enak menceritakan diri sendiri, nanti dianggap orang yang memiliki kepentingan dibalik nama besar Gus Miek. Termasuk Dzikrul Ghōfilīn ini, dulu setelah Gus Miek meninggal, tiba-tiba Gus Ali Muhammad inikan datang ke Ploso dan mengatakan pada saya bahwa Dzikrul Ghōfilīn ini di serahkan kepada saya untuk menjaganya. Ketika itu sebelum pemberangkatan jenazah Gus Miek akan diumumkan bahwa sayalah yang dipasrahi Gus Miek menjaga Dzikrul Ghōfilīn, tapi saat itu sama Kyai Den tidak boleh. Saya sendiri juga bingung, saya ini ibaratnya juga tidak hafal dengan Dzikrul Ghōfilīn tiba-tiba dapat amanah seperti itu, bahkan Gus Ali Muhammad sendiri juga saat itu tidak tahu siapa saya, sempat bertanya ke Gus Miek siapa Arsad ini, Gus Miek bilang pokoknya ini orang Tulungagung dari saudara-saudaranya dia yang paling pendek, ya karena memang tinggi saya dibanding saudara yang lain paling pendek. Amanah untuk menjaga Dzikrul Ghōfilīn ini disampaikan pada saya didepan jenazahnya Gus Miek. Nah seperti kabar yang saya terima dari Gus Ali Muhammad inikan tidak bisa diterima oleh orang lain, terlebih orang-orang yang
biasa mengimami Dzikrul Ghofiln, pasti pertanyaannya kok bukan saya yang diamanhai, kenpa Arsad yang tidak hafal Dzikrul Ghōfilīn yang diamanahi. Dulu Gus Ali Muhammad ini menanyakan pada Gus Miek, kenapa kok Arsad, bukan Gus Farid putra KH Ahmad , jawab Gus Miek, tidak, Dzikrul Ghōfilīn ini bukan milik bani Shiddiq, Dzikrul Ghōfilīn ini punya saya. Nah setelah bebrapa hari wafatnya Gus Miek, ketika itu saya juga datang ke Ploso dan Gus Ali Muhammad juga datang ke Ploso membawa koper, akhirnya memanggil saya menyampaikan wasiat Gus Miek, bahwa saya disuruh membagi warisan Gus Miek pada keluarganya, dengan cek isinya dua ratus juta.
Pertanyaan: Awal mula berjumpanya anda dengan Gus Miek?
Jawaban: Ya dulu ketika ada semaan Qur’an di rumah pak Muslih khodamnya Kyai Den, mestinya malam sabtu, saya datangnya malam Jum’at. Jadi tidak ketemu, dari sini Gus Miek mencari saya dan tidak ketemu, cerita Gus Miek mencari saya inipun dari Kyai Fuad adiknya Gus Miek. Termasuk dalam mengijazahi inpun saya tidak mau ke sembarang tempat, misalnya saya diundang ke majelis semaan, kemudian disuruh mengijazahi, ya saya tidak mau, karena saya merasa tidak berhak, tapi kalo orangnya datang kerumah minta diijazahi ya saya ijazahi. Ya terserah mereka saja. Karena saya sendiri juga tidak bisa menyalahkan Gus Ali Muhammad ini, masaka iya Gus Ali bohong, karena saya tahu benar Gus Ali ini orang kepercayaannya Gus Miek, selain itu Gus Ali itu dulu dengan saya ini tidak kenal sama sekali, kenal ya ketika Gus Miek bilang itu tadi, jadi saya merasa tidak punya kepentingan, bahkan Gus Ali pun heran ketika Gus Miek bilang begitu. Jadi posisi saya ya tidak tahu apa-apa.
Pertanyaan: Tentang jamaah Layliyah bagaimana pergerakannya?
Jawaban: Iya, dulu Gus Miek punya jamaah Layliyah, Gus Ali bercerita bahwa dulu ketika Gus Miek pidato mengatakan bahwa saya ini mursyid tunggal Dzikrul Ghōfilīn. Kemudian Gus Ali tanya, “lho Gus kok anda bilang seperti itu, nanti seperti Gus Farid dan yang lainnya bagaimana, Gus Miek menjawab, ya itu hanya untuk rame-rame saja. Inikan menandakan bahwa yang lain ini hanya mewakili daerah. Dulu pernah terjadi kesalah fahaman dalam mencetak Dzikrul Ghōfilīn, di situ ditulis li Syeikh Ahmad, saat itu Gus Miek langsung memberi konfirmasi dengan mencetak ulang menggunakan nama Lissyaikh Hamim Djazuli. Dulunya mau ditulis li mursidi Dzikrul Ghōfilīn Hamim Djazuli, kemudian saya memberi masukan, sebaiknya jangan memakai nama mursyid, itukan miliknya orang thareqat, jadi li Syeikh saja. Akhirnya ditulis di buku lisyaikh. Termasuk dalam al-fatihah, yang menyuruh Gus Miek dan ditulis oleh Kyai Ahmad . Jadi bedanya Gus Miek disini, misalkan saya yang mengarang pasti saya tulis nama saya. Tapi Gus Miek orangnya lain, di buku Dzikrul Ghōfilīn ini namnya tidak ada, dan dimunculkan nama KH Ahmad, yaitu katabahu nya KH Ahmad, sedangkan li Syaikh Hamim Djazuli dihilangkan. Mislakan terdapat penambahan fatihah dalam Dzikir, itu tidak apa-apa, cuman kalo smpai dikatakan ini bukan punya Gus Miek, Gus Ali Muhammad yang tidak terima. Nah sebelum diberi tahu sama Gus Ali Muhammad itu dulu saya sudah dapat bocoran, saya masih ingat bulannya Dzulhijjah hari Selasa saya bertemu Kyai Fuad adiknya Gus Miek di Ploso, beliau berkata pada saya kalo Dzikrul Ghōfilīn akan diamanahkan ke saya, saya cuman diam. Ya itu tadi, jika tidak ada yang terima dengan keberadan saya atas amanah Gus Miek wajar, manusiawi, saya yang tidak hafal kok di pilih Gus Miek, sedangkan yang hafal seperti Gus Farid tidak, hal ini wajar. Mungkin
saja Gus Farid dan keluarga ndalem faham dengan amanah Gus Miek ini, tapikan anak buahnya dari msaing masing ini yang terkadang tidak terima.
Pertanyaan: Ada tidak syair Gus Miek yang tidak ditulis di Dzikrul
Ghōfilīn?
Jawaban: Tidak ada setahu saya, ya yang di buku itu syairnya Gus Miek. Pertanyaan: Seperti makam Tambak, apakah tetap menjadi pusat
penyebaran Dzikrul Ghōfilīn?
Jawaban: Ya kalau dulu dua posnya, di Tambak dan Tulungagung. Tapi sekarang ya tetap dijalankan dan diamalkan di makam Tambak.
Pertanyaan: Kalau semaannya apa juga dari situ?
Jawaban: Kalo semaan kurang tahu, saya hanya mengikuti Dzikirnya dulu, baru ke semaanya ketika tahu sudah berjalan.
Pertanyaan: Apakah Dzikrul Ghōfilīn juga diamalkan di podok Ploso?
Jawaban: Kalo di pondoknya tidak, sebab Gus Miek sendiri memintanya begitu, bahkan ketika dimakamkan juga meminta di Tambak, tidak di Ploso, sebab jika di makamkan di Ploso, Ploso akan ramai pngunjung dan menganggu kegiatan ngaji.
Pertanyaan: Pengalaman anda dengan Gus Miek diluar kegiatan semaan
dan zikir seperti apa?
Jawaban: Yang saya ingat tentang makan, Gus Miek ini tipe orang yang tidak pilih-pilih makanan, apa saja mau. Dulu ketika habis acara di rumah saya ini, dihidangkan banyak sekali makanan, tapi yang buat saya heran yang dipilih Gus Miek maskan, istilah jawa “nget ngetan” jadi masakan yang sudah berhari hari, saya tau masakan itu sudah basi, tapi saya diam saja dan tidak berani berkata apa-apa. Selain itu ada tetangga saya, itu orangnya masih hidup. Jadi tidur di sebalh kamar yang biasanya dipakai Gus Miek tidur, ketika acara selesai Gus Miek tidur di kamar itu, ya manusia normal, Gus Miek tidurnya mendengkur, saudara saya yang tidur dibalik tembok kamar Gus Miek jam dua malam terbangun pindah tempat tidur, kemudian bertemu saya dan bilang, siapa di situ, zikir kenceng banget ganggu orang tidur saja, ketika saya lihat ternyata Gus Miek tidur, dan ngoroknya itu seperti suara orang berzikir. Bahkan ketika saya sakit hernia mau dioperasi, saya ketemu Gus Miek, sama Gus Miek diberitahu untuk pergi ke makam mbah Dalhar, kemudian sowan ke mbah Hamid Kajoran Magelang, pulang dari situ ada semacam kapas keluar dari lukanya itu, dan beberapa hari sembuh. Ada juga jamaah Gus Miek sakit ginjal, kemudian pamit mau oprasi dengan laser di Jakarta, namun ketemu Gus Miek dan disaranakan ke makam mbah Dalhar tujuh kali Jum’at, dan Alhamdulillah sembuh.
Pertanyaan: Cara mengijazahi apa sama dengan thareqat?
Jawaban: Ya tidak, seperti biasa saja doa bersama. Ya menurut Kyai Huda sebenarnya tidak di ijazahi langsung diamalkan tidak apa-apa, inikan bukan thareqat. Ya saya sendiri ikut saja, kalo ke sini mau dijiazahi ya saya kasih, kalo tidak langsung diamalkan ya tidak apa, silahkan, tidak salah. Saya sendiri ketika mau menolak untuk tidak mengijazahi ya bingung, pesan Gus Miek dari Gus Ali saya untuk mengijazahi, jadi terserah jamaah saja, ijazah silahkan tidak silahkan. Kalo yang paling ramai yah malam Jum’at kliwon di makam Gus Miek, yang digerakkan Gus Sabut.
Pertanyaan: Untuk makam Tambak siapa yang mengurusi? Jawaban: Ada Kyai Wahid yang turun temurun dari keluarganya.
Pertanyaan: Tantang membaca fatihah di dalam Zikir apa harus sesuai
buku?
Jawaban: Ya tidak, yang pasti dalam sehari harus seratus, masalah nyicilnya terserah.
Pertanyaan: Masalah Syair nya Gus Miek ?
Jawaban: Ya itu tambahan tambahan, tidak secara langsung, yang asli dari Gus Miek ya berbahsa Arab, yang bahasa Jawa itu tambahan dari Gus Maftuh
SURAT KETERANGAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan:
Nama : K.H. Muhammad Ashfar
Alamat : Pengasuh Pesantren al-Falah Sukoanyar Tulungagung
Setatus : Santri Gus Miek
Waktu wawancara : 9 Maret 2011M.
Hp. :
Menerangkan bahwa saudara yang namanya tercantum di bawah ini benar-benar telah melakukan wawancara pada saya untuk penulisan skripsi dengan judul, “AJARAN TASAWUF K.H. HAMIM DJAZULI (GUS MIEK) dalam Dzikrul Ghōfilīn dan Semaan Al-Qur’ān Jantiko Mantab.” Jurusan Aqidah Filsafat,
Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011M.
Nama : Muhammad Makinudin Ali
Alamat : Jambangan Paron Ngawi Jawa Timur
Jurusan.Fakultas : Aqidah Filsafat/ Fakultas Ushuluddin
NIM : 1070 3310 1470
Demikian surat pernyataan dari saya, semoga informasi yang didapat bermanfaat. Amin
Hormat Saya
Tulungagung, 9 Maret 2011M.
Pertanyaan: Bagaimana yang anda tau tentang Gus Miek dan Dzikrul
Ghofilin?
Jawaban: Jangankan orang lain, Kyai Djazuli saja sebagai ayah juga bingung dengan Gus Miek. Dulu ketika kakaknya Gus Miek menikah dapat Malang, kemudian Gus Miek membahas pernikahannya itu secara Fikih, dan kemudian menyebutkan kitab-kitab rujukannya. Secara sepontan Kyai Djazuli bertanya, Kamu itu ngajinya kapan, kok sudah bisa dalili saya? Dulu juga pernah Kyai Hamid Kajoran datang ke Ploso, bilang mau bertemu Gus Miek, kemudian Kyai Djazuli bertanya pada Kyai Hamid, lho kenapa bukan Amiek saja yang disuruh ke sana kyai?. Kata Kyai Hamid, Tidak, yang benar itu saya yang sowan ke Ploso, bukan Gus Miek yang saya suruh datang.
Pertanyaan: Banyak karomah yang terjadi antara dua Wali ini?
Jawaban: Banyak sekali, dulu ketika Kyai Hamid mengimami sholat, tiba- tiba Gus Miek keluar dari jamaah dan kelaur dari masjid, yang pada saat itu di depan masjid sedang lewat penjual bakso, sepontan saja Gus Miek teriak-teriak memanggil bakso, seluruh jamaah mendengar, dan ternyata menyindir sang Imam ketika mengimami sholat perutnya lapar dan tidak konsentrasi pada sholatnya. Dulu juga ada orang Tulungagung tanya, Gus Miek ini apa tidak sholat?, kemudian dijawab lho memang kamu tidak percaya Gus Miek Sholat? Bukan begitu Kyai, saya cuman tanya. Jadi orang semacam ini bingung, bertanya dengan akal, dan maunya dijawab dengan akal, sedangkan antara akal dan hatinya berbeda, sebab hatinya yang nanya percaya Gus Miek sholat. Kemudian sama Kyai diajak masuk dan ditunjukkan Gus Miek sholat di atas, nah inikan bukti, sholatnya Gus Miek tidak bisa ditangkap akal.
Pertanyaan? Lantas sejarah Dzikrul dan semaan?
Jawaban: Saya sendiri kurang faham dengan urutan dzikir dan semaan, karena ini jamiiyah campuran dari tiga orang, kyai Ahmad , Gus Miek dan Kyai Hamid, namun dalam tiga orang ini semua menjadikan Gus Miek sebagai Imam, semua sepakat. Buktiya dulu Kyai Hamid Kajoran berkata, nanti Gus Miek ini setelah wafat, baru ada orabg seperti dia kira2 dua ratus tahun lagi, sebab Gus Miek ini termasuk antic, saya mendengar sendiri berkata seperti itu. Gus Miek ini selalu menunjukkan yang jelek, ini cirinya Gus Miek, sebab kita tidak bisa mensifati kebagusannya Gus Miek.
Pertanyaan: Tentang syairnya Gus Miek?
Jawaban: Membuat syairnya ini Gus Miek spontanitas, dan sangat singkat, di setiap makam ya langsung irtidjal. Sama seperti di makam Tambak, dulu pernah membuat syair tapi yang terakhir saya tidak hafal, sebab saya tidak faham ketika diajarkan, dan yang terakir ada hubungannya dengan Hasan Besari. Jadi ceritanya Syeikh Abdul Qadir ini dari Sepanyol tawajjuh ke sini membawa farra bidinnihi yang ada hubungannya Hasan Besari. Karena tidak faham artinya makanya saya tidak faham, karena biasanya ketika ada yang membaca syair dan saya faham maknanya pasti hafal.
Pertanyaa: Tentang semaan qur’an?
Jawaban: Semaan ini anaknya Dzikrul Ghofilin setelah Dzikrul ini lancar, nah sejarahnya Gus Miek ini ingin menyetop tamu dengan membuat kegiatan positif, dulu sering sekali ada orang yang mencari Gus Miek, makanya kalo mau bertemu Gus Miek ya datangi acara seman ini sesuai dalil afdolul ibadati biqiraatil Qur’an. Gus Miek sendiri bicara, Qur’an ini untuk tapa brata, buat
keselamatan kita dan anak-anak nanti. Dan ini sudah diprediksi Gus Miek, kalo di atas tahun dua ribu sumber mala petaka, ya terbukti setelah meninggalnya Gus Miek sudah mulai banyak petaka. Jadi sekilas ini yang saya tahu tentang sejarahnya.
SURAT KETERANGAN
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan:
Nama : Mas Nur
Alamat : Bandar, Kediri Kota
Setatus : Sopir pribadi sekaligus Murid Gus Miek. Waktu wawancara : 8 Mei 2011M.
Hp. : 0354 773057
Menerangkan bahwa saudara yang namanya tercantum di bawah ini benar-benar telah melakukan wawancara pada saya untuk penulisan skripsi dengan judul, “AJARAN TASAWUF K.H. HAMIM DJAZULI (GUS MIEK) dalam Dzikrul Ghōfilīn dan Semaan Al-Qur’ān Jantiko Mantab.” Jurusan Aqidah Filsafat,
Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2011M.
Nama : Muhammad Makinudin Ali
Alamat : Jambangan Paron Ngawi Jawa Timur
Jurusan.Fakultas : Aqidah Filsafat/ Fakultas Ushuluddin
NIM : 1070 3310 1470
Demikian surat pernyataan dari saya, semoga informasi yang didapat bermanfaat. Amin
Kediri, 8 Mei 2011M
Pertanyaan: Bagaimana yang anda tau tentang sejarah Dzikrul Ghofilin? Jawaban: Ya sebenarnya sudah ada buku yang menceritakan tentang manakibnya Gus Miek, cuman saya juga tidak tahu siapa yang memprakarsai buku tersebut. Ya biarpun dalam bukunya seperti, dalam artian tidak semuanya benar dan bukan berarti semua salah, tetap masih ada yang sebagian yang benar. Saya justru malah punya CD rekaman pidatonya Gus Miek, jadi anda dengarkan saja dari rekaman pidato itu dan saya tidak bisa bercerita banyak. Masalahnya ketika cerita Gus Miek saya takut, sebabnya pasti tidak utuh, istilahnya saya nyopiri Gus Miek tiga hari tiga malam, dan setelah itu ganti sopir, nah disaat