• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABU YAZID AL-BUSTHAMI (200-261 H/815-874 M) TEORI AL-ITTIHAD

Al-Bustami adalah orang pertama yang memakai istilah fana’ sebagai kosakata sufistik. Dia mengadopsi teori monisme dari gnostisisme hindu-budha. Konsep muraqabah (pendekatan spiritual) yang dipahaminya disejajarkan dengan ajaran samadi (meditation) yang pada puncaknya mencapai ekstasi (fana’) dimana terjadi penyatuan antara yang mendekat (muraqib, yakni sufi) dan yang didekati (muraqab, yakni Allah). Pada konteks ini diketahui bahwa Bustami memilah antara konsep ibadah dan ma’rifah dimana ahli ibadah (ritual normatif) dipersepsikan sebagai orang yang jauh untuk dapat meraih ma’rifah (tingkat spiritualitas hasil pendakian sufistik). Ittihad (yang menjadi teori sentral dari al-Bustami) tampak sebagai suatu tingkatan dalam tasawuf dimana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu kepada yang lainnya dapat saling berkata: hai aku (ya Ana!).

Konsep ittihad ini merupakan pengembangan dari konsep fana’ dan baqa’ yang dicetuskannya. Menurutnya, setelah mencapai ma’rifat, seseorang dapat melanjutkan kepada maqam selanjutnya yaitu fana’, baqa’ dan akhirnya ittihad. Fana’ adalah penyirnaan diri dari sifat keduniawian yang dilukiskan laksana kematian jasad dan lepasnya ruh menuju kepada kekekalan (baqa’) dan dari sini dapat melangkah kepada penyatuan dengan Allah (ittihad). Pada titik ini kerap terjadi

apa yang diistilahkan dalam dunia sufi sebagai syatahat atau keadaan tidak sadar karena telah terjadi penyatuan dimana dia seolah menjadi Allah itu sendiri. Konsep fana’ sebenarnya memiliki beberapa pemaknaan yang dapat diikhtisarkan menjadi tiga. Pertama, ungkapan majazi bagi penyucian jiwa dari hasrat-hasrat keduniawian. Kedua, pemusatan akal untuk berfikir tentang Allah semata dan bukan selainnya. Ketiga, peniadaan secara total kesadaran atas eksistensi diri dengan meleburkan kesadaran dalam eksistensi Allah semata. Inilah yang disebut sebagai fi al-fana’ fana’ (peniadaan dalam peniadaan) atau baqa’ fi Allah (menyatu dalam Allah).

Maqom tertinggi para sufi adalah ma’rifatullah dengan mata hati (bashirah). Melihat Allah dengan mata hati diyakini dapat dilakukan semasa hidup di dunia bagi siapapun hamba Allah yang dikarunia hati yang suci dan bersih, terbebas dari godaan hawa nafsu dan kecenderungan terhadap kehidupan duniaiwi. Melihat Allah (ma’rifatullah) dialami oleh seorang hamba Allah yang benar-benar sudah mengalami tahapan fana‘ dan baqa‘ (istigraq) dimana ia benar-benar bertatap muka dan berhadap-hadapan dengan-Nya. Maqom fana’ merupakan hasil dari usaha spiritual (riyadhah atau mujahadah). Didalam menempuh maqomat sufi atau calon sufi senantiasa melakukan bermacam-macam ibadah, mujahadah dan riyadhoh yang sesuai dengan ajaran agama, sehingga satu demi satu maqam itu dilalauinya dan sampailah ia pada maqom puncak yaitu ma’rifatullah.86

Al-Basthami terkenal sebagai sufi pemabuk (sukr). Ia mengatakan “aku mukasyafah dari apa yang kuminum dari gelas cinta-Nya”, lalu dari lisannya muncul kata-kata : haus, haus, lalu dia berkata: “aku heran kepada mereka yang berkata: aku mengingat Tuhanku, apakah aku lupa, maka akupun mengingat apa yang aku lupakan. Aku minum cinta itu segelas, tapi tidak juga habis minuman itu, juga tidak kering”. Minuman cinta itu diibaratkan sebagai sebuah kebahagiaan hidup yang abadi dan hakiki. Ia tidak pernah kering bila sudah berhubungan dengan Tuhan, sebab cinta sufi selalu menyatu dengan

cinta Tuhan dan senantiasa bertambah. Air cinta tidak akan kering dan menyebabkan bertambahnya sukr dan terus meningkatkan bertambahnya cinta tersebut.

Dalam keadaan demikian seorang sufi lebih memilih sesuatu yang menyakitkan dan yang sebenarnya tidak disukai hawa nafsu. Tetapi, kemudian ia juga menemukan kelezatan dari apa yang menyakitkannya itu karena ia dapat menyaksikan diri-Nya atau syuhud.87 Syuhud adalah keadaan seorang sufi yang melihat dirinya dengan Tuhan, bukan dengan kemampuan dirinya sendiri. Atau keadaan menyaksikan Tuhan dengan mata Tuhan

Syuhud yang dimaksud adalah syuhud ‘ayyan.88

87 Abu Bakr Muhammad bin Isaq al-Kalabadziy, al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1993, 136.

BAB IV

AL-JUNAYD AL-BAGHDADI (W. 299 H/910 M.) TEORI WIHDAT AL-WUJUD

Abu Qasim Junaid bin Muhammad Nahawandi al-Baghdadi. Al-Junaid lahir di Nahrawand, Persia, tetapikeluarganya menetap di Baghdad, tempat ia belajar fiqh madzhab al-Syafi’i kepada Abu Tsawr. Ia mengajarkan qawl qadim al-Syaf i’i dan sempat menjadi qadhi di Baghdad. Dalam disiplin tasawuf ia adalah murid Sirr al-Saqathyi, pamandanya sendiri, selain al-Muhasibi. Ketika ia menjadi qadhi ia ikut mendan tangani sebuah surat kuasa yang berisikan sangsi hukuman mati atas diri al-Hallaj. Tetapi, sebagai seorang sufi, didalamnya suratnya itu, ia menyatakan dengan tegas bahwa “berdasarkan syari’at al-Hallaj bersalah, tetapi berdasarkan haqiqat Allah Yang Maha Mengatahui diri al-Hallaj”.

Al-Junaid menyadari betul keberatan kaum ulama ortodoks saat itu. Mereka melakukan penentangan dan perlawanan terhadap kaum sufi. Karenanya, ia secara diam-diam melakukan pelatihan-pelatihan spiritual (riyadhah) kepada murid-muridnya. Hal ini dimaksudkan sebagai usaha mengembalikan manusia kepada sumbernya, Allah SWT. Di Baghdad ia terkenal sebagai syakeh sufi. Ia pun mendapat gelas sayyid al-taifah dan juga thawus al-ulama’ (burung merak para ulama). Dia menjadi figur teladan dalam dunia ketasawufan. Banyak thariqat dan bahkan hampir seluruhnya yang silsilah keilmuannya merujuk kepadanya.

Ia dikenal sebagai tokoh yang mensistematisasikan beberapa kecenderungan tasawuf dan mencoba mengislamisasi istilah-istilah tasawuf dengan istilah-istilah dari al-Qur’an. Ia menempatkan tasawuf tetap berada di bawah Kitabulah dan al-Sunnah, tetapi tasawuf tetap menjadi bagian dari Islam. Secara tegas ia mengatakan, “kalau saja ada ilmu yang lebih besar dari tasawuf, tentulah saya akan mencarinya sekalipun harus merangkak”.

Keseriusannya mengkaji syariah mempengaruhi corak pemikiran tasawufnya. Ia berpendapat bahwa tasawuf secara praktis haruslah berada dalam bingkai tuntunan syariat. Baginya, tasawuf tidaklah diperoleh dari kata-kata atau perdebatan atas sesuatu hal, melainkan dari praktek hidup lapar, senantiasa bangun malam, dan memperbanyak amal saleh. Tasawuf, baginya, adalah proses mensucikan pergaulan dengan Allah yang dimulai dari kondisi atau kejiwaan atau mental

yang terbebas dari segala bentuk godaan duniawi.89 Dia menegaskan

kepada para muridnya bahwa, janganlah kamu berusaha membersihkan hatimu dengan menggunakan ilmu akhirat, kecuali kamu sanggup membersihkan hatimu dari hal-hal duniawi. Karenanya, mulailah usahamu dengan mengeluarkan ketergantungan kepada dunia dari ruhmu.90

Dia mengkritik perilaku sebagian pihak yang menjadikan wushul (mencapai penyatuan diri dengan Allah) sebagai tindakan dan apologi untuk melepaskan diri dari tanggung jawab atau kewajiban hukum syariah. Mazhab tasawawufnya dikenal terikat kuat dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Wacana cinta spiritualnya senantiasa menuju kepada “ketenangan jiwa” (shahw) sebagai kontra terhadap praktik kesufian yang bercirikan sukr (mabuk kepayang semisal Basthami dan al-Hallaj).

Ia terpengaruh dengan keteladanan al-Hasan al-Basri dalam menekankan aspek zuhd dan sabar, tawakkal dari al-Muhasibi dan

89 Sya’rani, Abu Mawahib ‘Abd. Al-Wahhab bin Ahmad bin ‘Ali Asnhari,

al-Thabaqat al-Kubra, juz I, al-Maktabah al-Sya’biyah, 84.

mahabbah dari Rabi’ah al-‘Adawiyah. Bagi Junaid, berkhalwat bukanlah sesuatu yang penting. Jauh lebih penting adalah memberikan nasehat kepada umat. Tasawuf merupakan penyerahan diri kepada Allah, bukan untuk tujuan lain. Cara yang baik untuk mendekatkan diri dengan-Nya adalah dengan senantiasa mencintainya. Cinta spiritual adalah kecenderungan hati seseorang kepada Allah dan kepada segala sesuatu yang datang dari Allah. Cinta sufi adalah menggantikan sifat-sifat sang pecinta (manusia) dengan sifat-sifat-sifat-sifat Yang Maha Dicinta (Allah).

Kajian menarik dari al-Junaid adalah tentang fana, tetapi berbeda dengankonsep fana’ al-Bustami, yakni proses peleburan diri sehingga menghilang batas-batas individual yang ada dalam diri manusia. Doktrin ini ditopang oleh dua konsep utama, perjanjian atau kontrak azali dan fana’. Manusia telah tercipta sebelumnya dari ke-fana’an-nya. Agar bisa kembali, maka manusia perlu juga meniadakan dirinya kembali agar suci sebagaimana ketika berada di alam ruh. Tetapi al-Junaid menegaskan bahwa fana’ bukanlah akhir dari perjalanan spiritual manusia. Fana’ hanyalah sarana menuju baqa’. Jika fana’ menimbulkan perasaan bersatu dengan Allah karena peleburan sifat diri manusia, maka baqa’ adalah perpisahan dari perasaan itu untuk kembali menjadi hamba Allah, sebab tidak ada yang lebih baik dan menyenangkan daripada menjadi hamba.

Kerapkali fana’ itu prosesnya teramat panjang sehingga ada yang menyebutnya sebagai fana al-Fana’. Kaum malamatiyah (aliran sukr) seringkali berhenti di fana’ dimana fenomena syatahat sering terjadi, dan bukannya meneruskannya kepada baqa’. Konsep fana’ dan baqa’ ini tidak lepas dari teori tentang ma’rifah yang disifati sebagai suatu proses yang berkesinambungan dan dinyatakan tidak akan pernah mencapai sebenar-benarnya pengenalan Allah dalam kemutlakan-Nya. Al-Junaid memberikan analogi dengan ungkapan “cangkir teh tidak akan bisa menampung semua air yang ada di lautan”.

Tasawuf al-Junaid menampakkan sebuah doktrin sufi yang mengutamakan keseimbangan antara keimanan dan ilmu, dan ilmu dan amal saleh. Dia menegaskan bahwa, melupakan Allah sesaat saja

adalah sangat dahsyat bahayanya daripada masuk neraka. Dan, ketika seseorang menghadapi kaum fakir miskin, maka janganlah ia mengajak mereka bicara dengan ilmu pengetahuan melainkan hadapilah mereka dengan kelemah lembutan. Karena, ilmu di mata mereka adalah menakutkan sedangkan kelemah lembutan adalah menjadikan mereka

dekat dan saling menyayangi.91 Di sisi lain al-Junaid mengingatkan

tentang seseorang sufi yang lebih mengutamakan penampilan dan kesucian lahiriah tetapi hatinya kosong dari mengingat Allah. Dia menyatakan bahwasanya, hati yang demikian tidaklah lain adalah hati yang rapuh dan binasa.

Al-Junayd merumuskan tasawuf sebagai usaha keras membersihkan hati, menjauhi akhlak tabi’i, mengekang berkembangnya sifat-sifat manusiawi, menjauhkan nafsu, dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam melaksanakan syari’at Islam. Dia menegaskan bahwa, madzhab kami adalah tasawuf yang diikat oleh Kitabullah dan al-Sunnah. Ia mengingatkan murid-muridnya agara jangan pernah mengikuti seseorang yang tidak menjaga kemurnian al-Quran dan yang belum termasuk kategori ahli hadits.92 Katanya pula, kualitas ma’rifat seseorang akan jatuh manakala dia berencana berlaku dosa meskipun tidak sempat melaksanakan rencananya itu. Karenanya, ia mengklasifikan tapan bersuci menjadi dua, yaitu : bersuci bathin : mensucikan hati dan bersuci lahir: mensucikan anggota tubuh dari dosa. Dia memposisikan tasawuf sebagai akhlak, dan ia berpendirian bahwa tasawuf adalah perilaku keseharian yang berlandaskan kepada delapan akhlak para nabi Allah SWT, yaitu:93 sakha’ ) akhlak Nabi Ibrahim as.), ghurbah (akhlak Nabi Yahya as.), ridho’ (akhlak Nabi Ishaq as.), memaki pakaian yang kasar dari bulu domba woll (akhlak Nabi Musa as.), shabr , mencontoh Nabi Ayyub as.), mengembara, mencontoh Nabi ‘Isa as.), isyarah (akhlak Nabi Zakaria as.), dan faqr (akhlak Nabi Muhammad SAW).

Al-Junayd, seraya menuturkan kisahnnya ketika memasuki

91 al-Sya’rani, al-Thabaqat al-Kubra, 84.

92 al-Sya’rani, a-lThabaqat al-Kubra’, 84.

tasawuf, menyatakan bahwa saya mengenal tasawuf adalah bukan melalui teori tetapi dengan cara menahan lapar, meninggalkan dunia dan memutuskan kecenderungan-kecenderungan terhadap kemewahan. Bagi al-Junayd, seorang sufi adalah laksana bumi yang selalu puas dengan nasib dan takdir yang menimpanya, tetapi darinya

selalu keluar hal-hal yang menyenangkan makhluk selain dirinya.94

BAB V

AL-HALLAJ

(332-396 H./ 858-922 M.)

TEORI AL-HULUL