• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUFSIME (GHAZALIANISME) NUSANTARA

B. Sunan Kalijaga

2.2. Ngaji di Baghdad

Syekh Siti Jenar di Baghdad, ia menumpang di rumah keluarga besar Ahmad al-Tawalud. Disinilah cakrawala pengetahuan sufinya diasah tajam. Sebab di keluarga al-Tawalud tersedia banyak kitab-kitab ma’rifat dari para sufi kenamaan. Semua kitab-kitab itu adalah peninggalan kakek al-Tawalud, Syekh ‘Abdul Mubdi’ al-Baghdadi. Di Irak, Syekh Siti Jenar bersentuhan dengan paham Syi’ah Ja’fariyyah, yang dikenal sebagai madzhab Ahl al-Bayt.

Syekh Siti Jenar membaca dan mempelajari dengan baik tradisi sufi dari karya al-Hallaj (858-922 H.), al-Bashtamii (w.874 H.), Kitab al-Shidq karya al-Kharraj (w.899 H.), Kitab al-Ta’aruf karya al-Kalabadzi (w.995 H.), Risalah karya Qusyairi (w.1074 H.), Futuhat al-Makkiyah dan karya Ibnu ‘Arabi (1165-1240 H.), Ihya’ Ulum al-Din dan kitab-kitab tasawuf al-Ghazali (w.1111 H.), dan al-Jili (w.1428 H.). Secara kebetulan periode al-Jili meninggal, Syekh Siti Jenar sudah berusia dua tahun, sehingga saat itu pemikiran-permikiran al-Jili, merupakan hal yang masih sangat baru bagi komunitas Islam Indonesia. Dari sekian banyak kitab sufi yang dibaca dan dipahaminya, yang paling berkesan pada Syekh Siti Jenar adalah kitab Haqiqat al-Haqa’iq, al-Manazil al-Ilahiyah dan al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awakhiri wa al-Awail karya Syekh ‘Abdul Karim al-Jili terutama kitab al-Insan al-Kamil. Siti Jenar banyak meluangkan waktu mengikuti dan mendengarkan konser-konser musik sufi yang digelar diberbagai sama’ khan’a. Sama’ khan’a adalah rumah-rumah tempat para sufi mendengarkan musik spiritual dan membiarkan dirinya hanyut dalam ekstase (wajd). Sama’ khan’a mulai bertumbuhan di Baghdad sejak abad

IX H. Pada masa itu grup musik sufi yang terkenal adalah al-Qawwal dengan penyanyi sufinya ‘Abdul Warid al-Wajd.

Syekh Siti Jenar kelak sekembalinya ke Jawa menyebarkan ajaran dan pandangan mengenai ilmu sangkan-paran sebagai titik pangkal paham kemanuggalannya. Konsep-konsep pamor, jumbuh dan manunggal dalam teosofi Siti Jenar dipengaruhi oleh paham-paham puncak mistik al-Hallaj dan al-Jili. Siti Jenar menilai bahwa ungkapan-ungkapan yang digunakan al-Jili sangat sederhana, lugas, gampang dipahami namun tetap mendalam. Yang terpenting, memiliki banyak kemiripan dengan pengalaman rohani yang sudah dilewatkannya, serta yang akan ditempuhnya. Pada akhirnya nanti, sekembalinya ke Tanah Jawa, pengaruh ketiga kitab itu akan nampak nyata, dalam berbagai ungkapan mistik, ajaran serta khotbah-khotbahnya, yang banyak memunculkan guncangan-guncangan keagamaan dan politik di Jawa.

Berbagai pengalaman spiritual dilaluinya di Baghdad sampai pada tingkatan fawa’id (memancarnya potensi pemahaman roh karena hijab yang menyelubunginya telah tersingkap. Dengan ini seseorang akan menjadi berbeda dengan umumnya manusia; dan lawami’ (mengejawantahnya cahaya rohani akibat tersingkapnya fawa’id), tajalli melalui ruh al-Haqq dan zawaid (terlimpahnya cahaya Ilahi ke dalam kalbu yang membuat seluruh rohaninya tercerahkan). Ia mengalami berbagai kasyf dan berbagai penyingkapan hijab dari nafsu-nafsunya. Disinilah Siti Jenar memadukan pengalaman sufi dari kitab-kitab al-Hallaj, Ibnu ‘Arabi dan al-Jili.

Sebenarnya inti ajaran Syekh Siti Jenar memiliki kesamaan dengan ajaran sufi ‘Abdul Qadir al-Jilani (w.1165), Ibnu ‘Arabi (560/ 1165-638-1240), Ma’ruf al-Karkhi, dan al-Jili. Hanya saja ketiga tokoh tersebut mengalami nasib yang baik dalam artian, ajarannya tidak dipolitisasi, sehingga dalam kehidupannya di dunia tidak pernah mengalami intimidasi dan kekerasan sebagai korban politik dan menemui akhir hayat secara biasa. Syekh Siti Jenar kemudian diklaim sebagai tokoh pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama al-Jili ke Jawa. Sayangnya, Syekh Siti Jenar tidak banyak menuliskan ajaran-ajarannya karena kesibukannya menyebarkan gagasan melalui

lisan ke berbagai pelosok Tanah Jawa. Dalam catatan sastra suluk Jawa hanya ada tiga (3) kitab karya Syekh Siti Jenar; Talmisan, Musakyaf (al-Mukasysyaf) dan Balal Mubarak

2.3. Siti Jenar vs. Al-Hallaj

Siti Jenar adalah yang pertama kali mengusung gagasan al-Hallaj dan terutama Al-Jili. Beberapa kitab dari Syekh Abdul Karim Al-Jili yang sangat terkesan bagi Siti Jenar dan nantinya akan mempengaruhi corak dakwahnya di Tanah Jawa antara lain: Kitab Haqiqat Haqa’iq, al-Manazil al-Ilahiyyah, dan Al-Insan Al Kamil fi Ma’rifat Al Awakhiri wa al-Awail, di mana dalam menyebarkan ajarannya Syekh Siti Jenar mengemukakan pandangannya mengenai ilmu sangkan paran sebagai titik pangkal paham kemanunggalan dengan konsep-konsep, pamor, lumbuh, dan manunggal.

Siti Jenar dipengaruhi oleh faham-faham mistik al-Hallaj dan al-Jili, di samping karena proses pencarian spiritualnya, yang memiliki pemahaman yang -secara praktis/amali- mirip dengan al-Hallaj dan secara filosofi mirip dengan al-Jili dan Ibn ‘Arabi. Dalam perjalanan ke Jawa Syekh Siti Jenar berhenti di daerah Ahmadabad Gujarat, di sana dia berkenalan dengan Syekh Abdul Ghafur al-Gujarati, yang merupakan anggota jamaah karamah al-Awliya’ yang menganut faham Syi’ah Ismailiyyah. Siti Jenar cukup lama tinggal di Gujarat sehingga pada keilmuan dan pemikirannya sangat dipengaruhi oleh kelompok Syi’ah Ismailiyyah. Siti Jenar kemudian menyebarkan ajaran thariqat al-Akmaliyah] yang mengutamakan ajaran manunggaling kawula Gusti. Ia mengajarkan bahwa, derajat tertinggi bisa tercapai ketika manusia benar-benar lepas dari aspek basyar dalam arti jasadnya. Tidak ada wirid dengan bilangan tertentu, jamaahnya selalu diingatkan untuk mengingat Allah kapan pun, di manapun, dan dalam kondisi apapun. Tidak ada desah napas tanpa menyebut asma Allah. Semua orang bebas untuk bertemu Allah, tanpa ada guru, kyai, atau mursyid. Inti dari ajaran tarekat al-Akmaliyah adalah pengetahuan tentang prinsip sangkan, paran, dan dumadi.

3). Penutup

Simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar adalah ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paraning dumadi, asal muasal kejadian manusia yang secara biologis diciptakan dari tanah merah yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Jasad manusia tidak kekal, kelak akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia menyebut manusia sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatunya rasa ke dalam Tuhan). Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka hanyalah berasa di dunia ini, sesuai pernyataan populernya bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang-orang mukmin.Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dengan Tuhan. Setelah meninggal ia akan terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dengan Tuhan Di dunia manunggalnya hamba dengan Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya.

2. TASAWUF DI SUMATRA (ABAD XVI-XVII M.)

Pekembangan Tasawuf di Sumatra sama halnya di Pulau Jawa, yakni untuk mengIslamkan penduduk sumtra. Ulama sufi yang sangat berpengaruh ilah Hamzah Pansuru yang berfaham Wahdatul Wujud. Hamzah pansuri terkenal dengan tulisannya sehingga membuat ajaran Tasawuf banyak dikenal oleh banyak oerang. Kemudian muridnya Syekh Samsudin bin Abdillah al-Sumatrani yang bermukim di Aceh, tokoh sufi lainnya yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di Sumatra Ialah Syekh Abdul Rau’uf bin Ali Al-Fansuri yang menyebarkan Tarekat Satariyah dan kemudian diikuti oleh murid-mueidnya. Ulama sufi yang lainnya adalah Syekh Abdu samad Al-Palambani. Perketaannya yang sering dikatan tentang sufu yaitu “ seorang sufi tidak boleh hanya mengajar dan berzikir saja tetapi ia harus berani membela agama Islam dengan fisik.

Di Aceh pada abad XVI dan XVII M. terkenal nama-nama ahli tasawwuf seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, dan ‘Abd.