• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN TASAWUF

SUFSIME (GHAZALIANISME) NUSANTARA

B. PERKEMBANGAN TASAWUF

Kebudayaan bangsa Indonesia sebelum Islam banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme, dan Paganisme atau Politeisme. Hal-hal yang menyangkut masalah tradisi dan kepercayaan melekat pada kepribadian bangsa Indonesia yang majemuk hasil dari proses akulturasi budaya Hindu dan Budha yang sudah lama tertanam dalam kehidupan sehari-hari. Hasil akulturasi budaya ini dapat dilihat dari beberapa prasasti, peninggalan, dan bahkan hasil karya seni serta arsitektur bangunan tempat-tempat ibadah yang mencerminkan nuansa berbagai agama di Indonesia.

Kenyataan ini menjadi salah satu jalan bagi syariat Islam masuk dan diterima dengan mudah oleh masyarakat Nusantara waktu itu, termasuk ajaran tasawuf Islam. Tasawuf Islam kala itu, hampir bisa digeneralisasikan, karena karakteristik Islam yang rahmatan lil a’alamin menempuh cara-cara adaptatif dan akomodatif tetapi tetap kokoh dengan prinsip uluhiyah Allah. Pendekatan dan metode yang diterapkan oleh para tokoh sufi kala itu nyaris tidak bisa dibantah oleh masyarakat Nusantara sebagai “adik kandung” karena nyata-nyata memiliki tujuan akhir yang sama yaitu dekat dengan Allah (qurb, taqorrub) atau merasa bersatu dengan Allah, manunggal dengan Sang Hyang Widi. Tasawuf Islam dan mistisisme Hindu-Budha, dengan demikian, memiliki tujuan akhir yang sama yaitu dekat dan atau bersatu dengan Allah yang harus dilakoni melalui sebuah proses pensucian jiwa yang teramat sangat panjang yang disebut mujahadah dan riyadah.

Tasawuf di Indonesia banyak diminati lantaran didukung oleh kebudayaan lama bangsa Indonesia yang bersafat mistik maupun mitos-mitos yang banyak berkembang, sebagaimana diutarakan pada kebudayaan bangsa Indonesia sebelum Islam. Tasawuf mudah masuk pada lini kebudayaan masyarakat Indonesia yang bercorak mistis, hal ini dikarenakan adanya kemiripan dalam ajaran tasawuf dengan kebudayaan lama bangsa Indonesia. Kemiripan itu ada pada metode pendekatan dengan Tuhan. Pendekatan dengan Tuhan adalah simbol kesempurnaan, yang dapat dikatakan sebagai peleburan atau kesatuan antara Tuhan dan manusia, manunggal. Penyatuaan atau Imanunggal

adalah tingkatan tertinggi faham al-Hulul yang di bawa al-Hallaj dan paham Wihdat al-Wujud yang dibawa oleh Ibn al-‘Arabi, atau paham ma’rifatnya Robiah al-‘Adawiyah. Semua merupakan bagian dari sutu metode agar dapat dekat, bersatu, melebur menjadi menjadi satu kesatuan. Hal ini hampir menyerupai dengan metode keagamaan Hindu maupun Budha dalam upaya mencapai kepada tingkatan tertingginya yakni menjadi brahmana.

Tasawuf di Indonesia terbagi berdasarkan teritorial wilayah beberapa wilayah yang sudah berkembang dan sudah banyak pengikutnya yaitu, Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Tokoh-tokohnya di pulau Jawa lazim dikenal dengan sebutan Wali Sanga melalui Sunan Bonang dan Siti Jenar. Sedangkan di Sumatra ada tokoh Hamzah Fansuri, di Kalimantan ada Syekh Ahmad Khatib Sambas, di Sulewesi ada Syekh Yusuf Tajul Khalawati al-Makasari.

1. TASAWUF DI JAWA (ABAD XV M.) A. Sunan Bonang (1465-1525 M.)

Maulana Malik Ibrahim adalah bapak para wali Jawa. Dia

meninggalkan warisan yang, sayangnya, jarang diketahui dan dibaca. Naskah-naskah Islam awal yang dijumpai menunjukkan adanya upaya mengutamakan pembelajaran bidang hukum Islam atau fiqih sebagai dasar pengetahuan untuk memahami ajaran Islam. Misalnya naskah lontar abad XV M. dari Jawa Timur, yang memuat naskah uraian tentang fiqih yang diajarkan oleh Maulana Malik Ibrahim, wali pertama di pulau Jawa. Tetapi, didalam naskah itu juga diuraikan tasawuf akhlaqi, ringkasan dari Bidayat al-Hidayah karangan Imam al-Ghazali (w. 1111 M).

1). Pencipta Suluk

Suluk secara harfian berarti menempuh (jalan). Dalam tardisi

tasawuf kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syari’at) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (haqiqat). Ber-suluk juga mencakup

hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan. Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur’an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik. Kata suluk dan salik biasanya berhubungan dengan tasawuf, tarekat dan sufisme. Contoh eratnya keterkaitan kata-kata tersebut bisa terlihat pada tema utama dan isi dari tiga website berikut ini, Suluk :: Hanya Sekeping Cermin…™,

Suluk Homepage (keduanya dalam Bahasa Indonesia), dan Suluk

Academy (dalam bahasa Inggris).

Diyakini klebanyakan orang Jawa bahwa, Mawlana Malik Ibrahim memiliki keturunan bernama Sunan Ampel ayahanda Mawlana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang). Sunan Bonang (1465-1525 M.) sebenarnya tokoh, selain Selain Jenar, yang justru berperan penting dalam penyebaran tasawuf sunni yakni Melalui beberapa karyanya dalam bentuk kitab suluk dan ajaran tentang martabat tujuh orang dapat mengenai tasawuf Sunan Bonang. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat cinta (‘isyq). Menurut Bonang, cinta sama

dengan iman, pengetahuan intuitif (ma’rifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al-Yaqin. Imam tauhid dan ma’rifat itu, menurut Sunan Bonang, terdiri dari pengetahuan yang sempurna (ma’rifat) dan pengabdian yang terus menerus kepada Allah.

Sunan Bonang (1465 - 1525 M.) adalah ulama sufi yang ahli dalam bidang seperti kalam dan fikih dan sastra. Juga dikenal ahli falak, musik dan seni pertunjukan. Sebagai sastrawan dia menguasai bahasa dan kesusastraan Arab, Persia, Melayu dan Jawa Kuno. Nama aslinya ialah Makhdum Ibrahim. Dalam suluk-suluknya dan dari sumber-sumber sejarah lokal ia disebut dengan berbagai nama gelaran seperti Ibrahim Asmara, Ratu Wahdah, Sultan Khalifah dan lain-lain.3

Sejarah sastra Jawa Pesisir, mengenal Sunan Bonang sebagai penyair prolifik dan penulis risalah tasawuf yang ulung. Di bawah

pengaruh wawasan estetika sufi yang diperkenalkan Sunan Bonang gamelan Jawa berkembang menjadi orkestra polyfonik yang sangat meditatif dan kontemplatif. Karya-karya Sunan Bonang yang dijumpai hingga sekarang dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, suluk-suluk yang mengungkapkan pengalamannya menempuh jalan tasawuf dan beberapa pokok ajaran tasawufnya yang disampaikan melalui ungkapan-ungkapan simbolik yang terdapat dalam kebudayaan Arab, Persia, Melayu dan Jawa. Di antara suluk-suluknya ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah, Suluk Kaderesan, Suluk Regol, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Pipiringan, Gita Suluk Latri, Gita Suluk Linglung, Gita Suluk ing Aewuh, Gita Suluk Jebang, Suluk Wregol dan lain-lain.4. Kedua, karangan prosa seperti Pitutur Sunan Bonang yang ditulis dalam bentuk dialog antara seorang guru sufi dan muridnya yang tekun. Bentuk semacam ini banyak dijumpai sastra Arab dan Persia.

Suluk adalah salah satu jenis karangan tasawuf yang dikenal dalam masyarakat Jawa dan Madura dan ditulis dalam bentuk puisi dengan metrum (tembang) tertentu seperti sinom, wirangrong, kinanti,

smaradana, dandanggula dan lain-lain . Seperti halnya puisi sufi umumnya, yang diungkapkan ialah pengalaman atau gagasan ahli-ahli tasawuf tentang perjalanan keruhanian (suluk) yang mesti ditempuh

oleh mereka yang ingin mencpai kebenaran tertinggi, Tuhan, dan berkehendak menyatu dengan Rahasia Sang Wujud. Jalan itu ditempuh melalui berbagai tahapan ruhani (maqom) dan dalam setiap tahapan

seseorang akan mengalami keadaan ruhani (ahwal) tertentu, sebelum

akhirnya memperoleh kasyf (tersingkapnya cahaya penglihatan batin)

dan ma’rifat, yaitu mengenal Yang Tunggal secara mendalam tanpa

syak lagi (haqq al-yaqin). Di antara keadaan ruhani penting dalam tasawuf yang sering diungkapkan dalam puisi ialah wujd (ekstase

mistis), dzawq (rasa mendalam), sukr (kegairahan mistis), fana’

(hapusnya kecenderungan terhadap diri jasmani), baqa’ (perasaan kekal di dalam Yang Abadi) dan faqr. 5 Suluk-suluk Sunan Bonang tidak

3Hussein Djajadiningrat 1913; Purbatjaraka 1938; Drewes 1968.

4Drewes 1968.

jarang menggunakan kias atau perumpamaan, serta citraan-citraan simbolik. Citraan-citraan tersebut tidak sedikit yang diambil dari budaya lokal. Kecenderungan tersebut berlaku dalam sastra sufi Arab, Persia, Turki, Urdu, Sindhi, Melayu dan lain-lain, dan merupakan prinsip penting dalam sistem sastra dan estetika sufi (Annemarie Schimmel 1983: ) Karena tasawuf merupakan jalan cinta, maka sering hubungan antara seorang salik (penempuh suluk/jalan menuju Allah) dengan

Allah dilukiskan sebagai hubungan antara pencinta (muhibb, ‘asyiq)

dan Kekasih (mahbub, ma‘syuq). 2). Mujahadah

Secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia. Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai dengan‘penyucian diri’, yang dibagi tiga. Pertama, penyucian jiwa atau nafs (tazkiyat al-Nafs). Kedua, pemurnian kalbu (tashfiyat al-Qalb). Ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliyat al-Sirr).

Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengalah hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (‘diri jasmani’). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah da mukasyafah. Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu. Penyucian jiwa dicapai dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Termasuk ke dalam ibadah ialah melaksanakan salat sunnah, wirid, zikir, mengurangi makan dan tidur untuk melarih ketangguhan jiwa. Semua itu dikemukakan oleh

Sunan Bonang dalam risalahnya Pitutur Seh Bari.

Sedangkan pemurnian kalbu ialah dengan membersihkan niat buruk yang dapat memalingkan hati dari Tuhan dan melatih kalbu dengan keinginan-keinginan yang suci. Sedangkan pengosongan pikiran dilakukan dengan tafakkur atau meditasi, pemusatan pikiran kepada Yang Satu. Dalam sejarah tasawuf ini telah sejak lama ditekankan. Dengan tafakkur maka pikiran seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk menyekutuhan Tuhan dan sesembahan yang lain. Dalam Suluk Wujil juga disebutkan bahwa murid-muridnya menyebut Sunan Bonang sebagai Ratu Wahdat. Istilah ‘wahdat’ merujuk pada konsep sufi tentang martabat (tingkatan) pertama dari tajalli Tuhan atau pemanifestasian ilmu Tuhan atau perbendaharaan tersembunyi-Nya (kanz makhfiy) secara bertahap dari ciptaan paling esensial dan bersifat ruhani sampai ciptaan yang bersifat jasmani. Martabat wahdat ialah martabat keesaan Tuhan, yaitu ketika Tuhan menampakkan keesaan-Nya di antara ciptaan-ciptaan-keesaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Pada peringkat ini Allah menciptakan esensi segala sesuatu atau hakikat segala sesuatu . Esensi segala sesuatu juga disebut ‘bayangan pengetahuan Tuhan’ atau hakikat Muhammad yang berkilau-kilauan . Ibn `Arabi menyebut gerak penciptaaan ini sebagai gerakan Cinta dari Tuhan, berdasar hadis qudsi yang berbunyi, Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal, maka aku mencipta hingga Aku dikenal.. Maka sebutan Ratu Wahdat dalam suluk ini dapat diartikan sebagai orang yang mencapai martabat tinggi di jalan Cinta, yaitu memperoleh makrifat dan telah menikmati lezatnya persatuan ruhani dengan Yang Haqq.

3). Penutup

Sunan Bonang terkenal karena meninggalkan karya tulis berupa Kitab Suluk Tulisan itu berisi catatan pengalaman orang-orang saleh yang menegaskan bahwa latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan pengendalian hawa nafsu (mujahadah) sangat diperlukan dalam rangkaian pembersihan hati dan menjernihkan jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu kedekatan yang mengantarkan seseorang pada alam rohani ketika jiwa merindukan Allah hingga memperoleh titisan

cahaya Ilahi. Hubungan intim dengan Allah tidak dapat dicapai oleh jiwa yang berwawasan materialistis, yang menyibukkan diri dengan rasa ketergantungan pada dunia fana dan materi, dan jauh dari agama dan Allah.

Diantara murid Sunan Bonang yang terkenal dengan karya tangannya berupa sastra mistikal, yaitu Ki Ageng Selo keturunan dari Bondan Kejawen. Bondan Kejawen memiliki tiga orang putra-putri yaitu: Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pendowo dan Nyi Ageng Ngerang (dinikahi oleh Ki Ageng Ngerang). Dari pernikahan ini Nyi Ageng Ngerang memiliki putra yang kemudian menjadi murid Sunan Bonang yaitu : Ki Ageng Selo. Sementara Ki Ageng Getas Pendowo memiliki keturunan bernama Nyepeng Gledeg alias Ki Ageng Selo II. Ki Ageng Selo II inilah yang kemudian melahirkan keturunan yang berhasil mendirikan kerajaan Mataram Islam, yaitu Ki Ageng Manis, yang berputra Ki Ageng Pamanahan ayahanda Panembahan Senopati sang pendiri Mataram Islam dan dilanjutkan oleh putranya Sunan Sedo Ing Krapyak dan Senopati Sultan Agung.