Oleh: Nindita Paramastut
MATERI YANG DIBERIKAN
F. ADAPTASI PEREMPUAN TERHADAP PRAKTIK KORUPS
Melalui penjabaran 6 informan, peneliti melihat terdapat beberapa hal penting. Pertama, seluruh informan melakukan praktik korupsi, termasuk politik uang. Kandidat yang terpilih maupun tidak terpilih terbukti melakukan praktik korupsi. Walaupun begitu, beberapa informan menyatakan pada peneliti bentuk ketidaktahuan yang besar terkait praktik korupsi yang
mereka lakukan., semisal terkait dengan definisi politik uang. Hal ini seperti
yang dinyatakan oleh Mawar, “Yang saya antipasi adalah money politic, saya sama sekali tidak nyawer uang karena saya tidak ngoyo”. Dari pernyataan
ini jelas terbaca bahwa definisi politik uang yang dipahami adalah membagi-
bagikan uang kepada pemilih. Situasi ini sejalan dengan peraturan yang
memang mendefinisikan politik uang dengan sangat sempit.
Informan juga menggunakan alibi sebagai oleh-oleh, sedekah, sumbangan dan sebagainya saat memberikan uang atau barang kepada konstituen. Dari pernyataan mereka terungkap bahwa mereka merasa hal tersebut bukan merupakan praktik korupsi dikarenakan saat memberikan uang atau barang tersebut mereka tidak dengan memberikan peringatan untuk memilih mereka atau tidak memilih lawan mereka, meskipun pembagian tersebut dalam rangka sosialisasi mereka sebagai caleg.
Situasi seperti ini tidak dapat dinyatakan sebagai bentuk kepolosan atau ketidaktahuan kandidat. Sulit untuk memastikan apakah benar mereka memang polos dan terseret arus ataukah mereka mengetahui celah dalam UU dan memanfaatkannya. Keterbawaan kandidat dalam arus politik uang juga terlihat dalam pernyataan informan yang membandingkan dirinya dengan caleg lain. Sebagai contoh “Aku keluarkan 100 juta dapat 5000 suara, itukan lumayan banget ya, dibandingin temen aku keluarnya sampe 3 milyar”. Ungkapan seperti ini mengartikan bahwa kandidat setuju adanya korelasi positif antara jumlah uang yang dikeluarkan dengan suara yang diperoleh. Pernyataan ini juga seolah-olah membenarkan bahwa tindakan yang mereka lakukan masih jauh lebih baik ketimbang orang lain yang mengeluarkan uang lebih banyak dibanding dirinya.
Kesimpulan ini juga didukung oleh pandangan keahlian dari Ramlan Surbakti dan Luky Djani. Ramlan Surbakti (Wawancara Pribadi 16 Maret 2012) menyetujui bahwa praktik politik uang dilakukan tidak hanya oleh laki-laki tetapi juga oleh perempuan.Luky Djani (Wawancara Pribadi 11 Mei 2012) pun berpendapat yang sama, menurutnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan saat mereka bersaing untuk terpilih dalam Pemilu, “Tidak ada perbedaan, apalagi politisi, baik laki-laki maupun perempuan melakukan apa saja untuk menang kan enggak ada bedanya”.
terutama karena jam terbang yang minim dalam berpolitik yang membuat mereka tidak mampu menyusun strategi yang tepat untuk pemenangan di dapil, padahal uang yang sudah mereka keluarkan cukup besar. Semisal dalam pengalaman Tulip yang mengalami penipuan, baik oleh tim suksesnya maupun oleh partainya. Berkaitan dengan semua hal terkait sistem Pemilu, ia belajar langsung di lapangan dengan banyak bertanya pada caleg DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota yang kerja sama dengannya. Proses belajar otodidak di lapangan pada akhirnya membuat dirinya banyak ditipu oleh orang-orang yang baru ia kenal saat di dapil dan berjanji membantu berkampanye untuk dirinya akan tetapi justru menipunya.
Gambaran kepolosan juga terlihat pengalaman Lily. Kedekatan Lily dengan salah seorang petinggi partai, yakni Bapak Ahmad (nama samaran) sangat membantunya untuk mendapatkan nomor urut 3. Selain itu terdapat hubungan simbiosis mutualisme juga antara Lily dan Ahmad yang memperjuangkan Lily untuk berada dalam 1 dapil.
Ketertarikan Ahmad untuk menarik Lily dalam dapilnya adalah untuk menghindari seorang caleg perempuan lain yang berlatar belakang pengusaha. Dengan menempatkan Lily di dapilnya, Ahmad mendapatkan keuntungan yang besar. Sementara di sisi lain Lily merasa sudah sangat baik bisa mendapatkan nomor urut 3 dikarenakan ia belum terlalu lama masuk menjadi kader PDIP. Kepolosan Lily tergambar melalui strategi pemetaan yang telah diperhitungkan oleh Ahmad, ketimbang harus bersaing dengan caleg perempuan lain yang adalah pengusaha, Ahmad lebih baik bersaing dengan Lily yang adalah aktivis. Ahmad tentunya lebih percaya diri apabila harus bersaing dengan Lily.
Kedua, proses rekrutmen yang diterapkan oleh partai politik sangat tidak berpola, tidak menerapkan proses kaderisasi serta sangat dekat dengan praktik korupsi. Praktik rekrutmen partai politik yang tidak berpola tergambar dalam pengalaman Tulip. Tanpa pengalaman apa-apa ia langsung dicalonkan melalui nomor urut 2.
Praktik rekrutmen yang tidak menerapkan proses kaderisasi tergambar melalui pengalaman Popy. Walaupun ia telah bertahun-tahun mengabdi pada Golkar akan tetapi ia tidak mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan nomor urut dan dapil yang strategis. Popy mengatakan
bahwa senioritas masih berlaku di dalam Golkar. Padahal dalam pandangan peneliti, Popy adalah salah seorang kader senior di Golkar. Ia sudah lama mengabdi pada Golkar. Situasi yang serupa juga terjadi di Partai Demokrat melalui jawaban Rosa saat ditanyakan apakah terdapat kemudahan bagi elit partai untuk dicalonkan, “Oh pasti, biasanya kan orang partai pengen orang ini harus di nomor jadi dan harus terpilih”.
Gambaran praktik pencalonan oleh partai politik yang dekat dengan praktik korupsi terdeskripsikan melalui pengalaman Miyana, Mawar, Lily, dan Tulip. Berbeda dengan Popy, Miyana yang sama-sama kader lama Golkar mendapatkan nomor urut dan dapil strategis dengan alasan ia merupakan pendiri Golkar. Tidak dapat dipungkiri bahwa latar belakangnya sebagai salah seorang istri elit Golkar juga memberikan kelebihan yang tidak dimiliki oleh Popy.
Situasi serupa juga terjadi pada informan dari Demokrat dan PDIP. Mawar dan Tulip yang terpilih mendapatkan nomor urut yang lebih strategis apabila dibandingkan dengan mereka yang tidak terpilih, yakni Lily dan Rosa. Harus diakui bahwa Mawar dan Tulip memiliki kedekatan hubungan yang kuat dengan elit partai. Meskipun Lily juga memiliki kedekatan hubungan dengan elit partai, akan tetapi jaringan yang ia miliki lebih rendah dengan jaringan Tulip yang langsung berhubungan dengan ketua umum PDIP.
Pengalaman Miyana, Mawar, Tulip, dan Lily dapat dinyatakan sebagai bentuk korupsi, walaupun tidak secara langsung. Praktik korupsi yang terjadi adalah pemanfaatan hubungan kedekatan antara kandidat dengan salah seorang elit partai untuk perolehan nomor urut strategis.
Dari perbandingan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor ada tidaknya hubungan antara kandidat dengan elit partai merupakan variabel yang tidak dapat dihilangkan dari proses pencalonan. Dan praktik pemanfaatan hubungan kedekatan ini merupakan bagian dari korupsi karena merupakan bagian dari penyelewengan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Keadaan ini sesuai dengan faktor yang dikemukakan oleh Goetz, yakni berkaitan dengan akses perempuan ke dunia politik. Goetz melihat bahwa hubungan kedekatan seorang kandidat dengan elit partai masih menjadi faktor utama untuk masuk ke partai politik.