• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG

Dalam dokumen Jurnal 5 TRANSPARANSI PARTISIPASI DAN DE (Halaman 198-200)

Sejak tahun 2005 dimulai pemilihan kepala daerah secara langsung. Semangat mendorong pilkada langsung adalah sebagai salah satu implementasi otonomi daerah. Pelaksanaan otonomi daerah mendorong dikukuhkannya kedaulatan rakyat daerah dengan cara memilih kepala daerahnya secara langsung. Pemerintahan yang dipilih secara langsung memiliki legitimasi lebih kuat dan kepala daerah yang terpilih akan lebih dekat dengan rakyatnya.

Namun yang terjadi hasil pemerintahan daerah hasil pilkada langsung tidak berjalan secara efektif bahkan cenderung koruptif.2Hal ini karena

terjadi politik transaksional dalam pemerintahan daerah yang dilakukan oleh kepala daerah dengan angoota DPRD. Terjadinya politik transaksional ini karena kebijakan yang dikeluarkan oleh kepala daerah seringkali tidak mendapatkan dukungan dari DPRD karena partai yang mayoritas ada di DPRD tidak sama dengan partai pendukung kepala daerah, sedangkan pemerintahan harus terus berjalan. Peta politik yang ada di daerah tidak jelas. Oleh karena itu agar pemerintahan dapat terus berjalan harus dilakukan transaksi antara kepala daerah dengan anggota DPRD.

Ketidakjelasan peta politik di DPRD karena pilkada kita tidak mengarah kesana. Salah satu penyebabnya adalah karena waktu pemilu antara pemilu kepala daerah dan pemilu anggota DPRD tidak dilaksanakan pada waktu yang sama. Sehingga kekuatan politiknya berbeda antara kedua lembaga tersebut. Sehingga pemerintahan daerah tidak berjalan secara efektif.

Hanya sedikit kepala daerah yang dapat menjalankan pemerintahannya dengan efektif. Contoh pemerintahan di daerah yang dianggap berhasil

2 Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menuturkan sebanyak 290 kepala daerah sudah berstatus tersangka, terdakwa, dan terpidana karena terbelit kasus. Dari jumlah

itu, sebanyak 251 orang kepala daerah atau sekitar 86,2 persen terjerat kasus korupsi.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/02/09/063460207/Ini-Daftar- Kepala-Daerah-Tersandung-Kasus-Korupsi

antara lain adalah Kota Solo saat kepemimpinan Joko Widodo dan Provinsi Gorontalo saat dipimpin oleh Fadel Muhammad. Salah satu faktor yang menyebabkan kebijakan mereka dapat dijalankan karena mayoritas parlemen yang ada disana adalah partai yang mendukung mereka menjadi kepala daerah. Joko Widodo merupakan kader PDIP dan mayoritas anggota DPRD Kota Surakarta berasal dari PDIP, ditambah wakilnya pada saat itu merupakan ketua DPC PDIP. Sehingga mudah baginya untuk menkoslodisasi kebijakannya dengan DPRD. Begitu juga dengan Fadel Muhammad saat menjadi gubernur Gorontalo. Fadel Muhammad berasal dari Partai Golkar dan mayoritas anggota DPRD Provinsi Gorontalo berasal dari Partai Golkar. Selain karena dukungan DPRD dalam pemerintahan Joko Widodo dan Fadel Muhammad, keberhasilan mereka dalam memimpin daerahnya juga karena gaya kepemimpinan keduanya.

Ketidakselarasan antara kebijakan yang akan dijalankan kepala daerah dengan keinginan DPRD menyebabkan kepala daerah sulit untuk menjalankan programnya. Sehingga sulit terjadi efektivitas pemerintahan di daerah. Oleh karenanya terjadilah transaksi antara kepala daerah dengan anggota DPRD karena kepala daerah harus menjalankan programnya. Ketidakselarasan ini terjadi karena partai pendukung kepala daerah dengan partai mayoritas yang ada di DPRD tidak sama. Sehingga sulit menyamakan suara antara kepala daerah dengan anggota DPRD.

Selain ketidakefektifan pemerintahan daerah masalah lain yang terjadi dalam pemilihan kepala daerah adalah mahalnya ongkos penyelenggaraan pilkada. Tingginya biaya tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara pemilu tetapi juga peserta pemilu, khususnya partai politik. Apalagi dibuka ruang untuk dilaksanakan pilkada dua putaran.

Sejak awal prosesnya pilkada memakan biaya yang mahal. Dari sisi penyelenggaraan, biaya paling besar yang harus dikeluarkan adalah untuk honor petugas penyelenggara. Setiap daerah paling tidak melaksanakan dua kali pemilihan kepala daerah. untuk itu dibentuk petugas untuk menyelenggarakan pemilihan kepala daerah.

Mahalnya proses ini juga dirasakan oleh peserta pemilu. Politik transaksional tidak hanya terjadi pada pemerintahan yang terbentuk setelah pilkada tetapi juga terjadi pada saat sebelum dan saat pilkada

itu berlangsung. Untuk menjadi kepala daerah seorang kandidat harus membayar uang kepada partai politik untuk mendapatkan kendaraan untuk maju sebagai calon kepala daerah. Dalam penentuan calon kepala daerah seringkali partai politik tidak melakukan proses yang demokratis. Seorang yang ingin dicalonkan oleh partai politik sebagai calon kepala daerah harus membayar semacam “uang pendaftaran” kepada partai politik. Sehingga mereka yang memiliki sumber daya yang yang paling banyak yang dapat dicalonkan untuk maju sebagai bakal calon kepala daerah. tidak sampai disitu, selain harus mendapatkan persetujuan dari partai politik, seorang bakal calon juga harus mendapatkan restu tokoh partai setempat atau pimpinan partai setempat yang memiliki organisasi basis massa.3 Selain

itu, modus lainya dikenal dengan istilah “sewa perahu”. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki keinginan untuk menjadi calon kepala daerah

tetapi tidak memiliki afiliasi dengan partai politik. Tetapi yang bersangkutan

memiliki sumber daya keuangan yang besar. Sehingga yang dilakukan adalah mencari partai politik sebagai kendaraan pencalonannya.

Fenomena-fenomena inilah yang menjadi penyebab mahalnya pemilu kepala daerah. transaksi politik yang terjadi pada saat pencalonan ternyata tidak berhenti di situ saja, transaksi politik berlanjut karena kepala daerah harus menjalankan programnya sementara dukungan dari DPRD tidak terjadi dengan lancar. Mahalnya pilkada mendorong pemerintah untuk merubah sistem pemilihan mejadi pemilihan melalui DPRD, khususnya untuk pemilihan gubernur. Pengembalian sistem pemilihan ke DPRD bukan solusi yang pas untuk menghemat biaya peyelenggaraan pilkada.

Jika ingin mengefisienkan biaya pilkada salah satu caranya adalah dengan

menyerentakkan penyelenggaraan pilkada.

Ketidakefektifan pemerintahan dan mahalnya biaya pilkada sebetulnya tidak perlu terjadi jika pemilunya dilakukan secara serentak. Yang dimaksud dengan pemilu serentak disini adalah menyerentakkan pemilihan kepala eksekutif dengan pemilihan legislatif.

Lazimnya yang terjadi dalam sistem pemerintahan presidensil adalah

3 Sri Budi Eko Wardani “Pilkada Langsung Pertaruhan Demokrasi dan Mitos Good Governance” dalam Pilkada Langsung Demokratisasi Daeah dan Mitos Good Governance. Kemitraan. 2005

Dalam dokumen Jurnal 5 TRANSPARANSI PARTISIPASI DAN DE (Halaman 198-200)