• Tidak ada hasil yang ditemukan

NO PARTAI POLITIK USULAN

Dalam dokumen Jurnal 5 TRANSPARANSI PARTISIPASI DAN DE (Halaman 182-186)

b Keberlakuan Ambang Batas

NO PARTAI POLITIK USULAN

1. Golkar 3-6 Kursi 2. Demokrat 3-8 Kursi 3. PDIP 3-8 Kursi 4. PKS 3-8 Kursi 5. PAN 3-10 Kursi 6. PPP 3-10 Kursi 7. PKB 3-10 Kursi 8. Gerindra 3-10 Kursi 9. Hanura 3-10 Kursi

5. Penghitungan Suara dan Formula Penentuan

Calon Terpilih

Pasal 209 UU Pemilu 2012 menegaskan partai peserta pemilu yang tidak memenuhi ambang batas 3,5 persen tidak disertakan dalam penghitungan perolehan kursi DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Suara partai yang lolos ambang batas 3,5 persenlah yang akan digunakan sebagai basis penghitungan kursi. Caranya, setelah seluruh suara sah ditetapkan, jumlah suara sah tersebut kemudian dikurangi dengan suara sah partai- partai yang tak lolos ambang batas, sehingga tinggal suara sah milik partai- partai yang lolos ambang batas. Selanjutnya, ditentukan bilangan pembagi pemilih (BPP) dengan cara membagi jumlah suara sah partai-partai tersebut dengan jumlah kursi di masing-masing dapil.

Setelah BPP ditetapkan, Pasal 212 UU Pemilu 2012 menyatakan akan ditetapkan perolehan kursi setiap partai di masing-masing dapil dengan ketentuan berikut:

apabila jumlah suara sah suatu Partai Politik Peserta Pemilu sama 1.

dengan atau lebih besar dari BPP, maka dalam penghitungan tahap pertama diperoleh sejumlah kursi dengan kemungkinan terdapat sisa suara yang akan dihitung dalam penghitungan tahap kedua; apabila jumlah suara sah suatu Partai Politik Peserta Pemilu lebih 2.

kecil daripada BPP, maka dalam penghitungan tahap pertama tidak diperoleh kursi, dan jumlah suara sah tersebut dikategorikan

sebagai sisa suara yang akan dihitung dalam penghitungan tahap kedua dalam hal masih terdapat sisa kursi di daerah pemilihan yang bersangkutan;

penghitungan perolehan kursi tahap kedua dilakukan apabila 3.

masih terdapat sisa kursi yang belum terbagi dalam penghitungan tahap pertama, dengan cara membagikan jumlah sisa kursi yang belum terbagi kepada Partai Politik Peserta Pemilu satu demi satu berturut-turut sampai habis, dimulai dari Partai Politik Peserta Pemilu yang mempunyai sisa suara terbanyak.

Terhadap penghitungan perolehan kursi tahap kedua yang berdasarkan sisa suara, terdapat beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 213 UU Pemilu 2012, jika terdapat sisa suara partai di suatu dapil yang sama jumlahnya, maka kursi diberikan kepada partai yang sisa suaranya memiliki persebaran lebih banyak. Sedangkan, penetapan calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota didasarkan pada perolehan kursi partai di suatu dapil dengan ketentuan sebagai berikut:

Calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/ 1.

kota ditetapkan berdasarkan calon yang memperoleh suara terbanyak.

Jika suara terbanyak diperoleh oleh dua calon atau lebih maka 2.

penentuan calon terpilih ditentukan berdasarkan persebaran perolehan suara calon pada daerah pemilihan dengan mempertimbangkan keterwakilan perempuan.

Jika yang memperoleh suara terbanyak jumlahnya kurang dari 3.

jumlah kursi yang diperoleh partai politik maka kursi yang belum terbagi itu diberikan kepada calon berdasarkan perolehan suara terbanyak berikutnya.

Sedangkan penetapan calon terpilih anggota DPD didasarkan pada nama calon yang memperoleh suara terbanyak pertama, kedua, ketiga, dan keempat di provinsi bersangkutan. Jika pada perolehan suara calon terpilih

keempat terdapat jumlah suara yang sama, maka calon yang memperoleh dukungan pemilih yang lebih merata penyebarannya di seluruh kabupaten/ kota di provinsi bersangkutan yang ditetapkan sebagai calon terpilih. Sedangkan, calon dengan urutan perolehan suara terbanyak kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan menjadi calon pengganti antarwaktu.

Tabel 4.7 Pandangan Fraksi tentang Metode Penghitungan/Konversi Suara

NO. PARTAI POLITIK USULAN

1. Golkar Divisor Webster

2. Demokrat Kuota Murni

3. PDIP Divisor Webster

4. PKS Divisor Webster

5. PAN Kuota Murni

6. PPP Kuota Murni

7. PKB Kuota Murni

8. Gerindra Kuota Murni

9. Hanura Kuota Murni

Metode konversi suara menjadi kursi dengan menetapkan BPP tersebut dikenal sebagai metode kuota murni.Pengambilan keputusan terkait metode ini cukup panjang dan terjadi tarik-ulur fraksi-fraksi di DPR. Bahkan, metode ini menjadi salah satu materi yang diputuskan melalui

voting dalam Rapat Paripurna DPR, Kamis, 24 April 2012.Metode konversi suara menjadi perdebatan karena sangat terkait dengan perolehan kursi partai nantinya.

Metode kuota murni cenderung menguntungkan partai menengah-kecil dan merugikan partai besar. Partai seperti PAN, PPP, PKB, Gerindra, dan Hanura sejak awal mengusulkan metode kuota murni karena partai mereka akan diuntungkan dengan penggunaan metode ini. Metode kuota murni ini

berbanding terbalik dengan metode D’Hondt yang justru menguntungkan

partai besar dan merugikan partai menengah-kecil.

Membandingkan kedua metode itu, metode Divisor varian Webster dinilai paling proporsional dan lebih adil.Karena itu, PDIP, Golkar dan PKS mengusulkan metode Webster. Metode ini tidak mengandung bias terhadap partai besar maupun partai menengah-kecil.

B. DOMINASI TINDAKAN STRATEGIS

SISTEM PEMILU

Sub bahasan di atas menjelaskan kebijakan hukum yang diambil pembentuk undang-undang tentang keberlakuan sistem pemilu. Kebijakan hukum dalam pengaturan sistem pemilu telah dibentuk melalui proses panjang dan perdebatan tak berkesudahan. Dalam perdebatan itu terlihat pilihan-pilihan kebijakan hukum atau maksud dibentuknya sistem pemilu, baik tentang sistem proporsional terbuka, ambang batas 3,5 persen, daerah pemilihan 3-10, syarat kepesertaan, dan konversi suara menjadi kursi menggunakan metode kuota.

Pertanyaan selanjutnya, apakah kebijakan-kebijakan hukum tersebut dibentuk melalui proses yang terbuka dan partisipatif atau tidak? Terbuka dan partisipatif secara gagasan dan ide, bukan sebatas formalitas!

Mengukur kadar partisipasi dalam gagasan memang tidak mudah, apalagi publik atau kelompok masyarakat di luar parlemen tidak memiliki kuasa dalam pengambilan kebijakan. Ditambah lagi dengan masukan publik terhadap sistem pemilu yang juga beragam. Karena itu, alat ukurnya tidak pada diakomodasi-tidaknya suatu gagasan tertentu, tetapi lebih pada proses pengambilan kebijakan yang didasarkan pada nilai-nilai, bukan sekadar tukar-menukar kepentingan (barter politik).

Berdasarkan hal itu, maka untuk mengukur tingkat partisipatifnya, akan dilihat dari konsistensi gagasan yang diusung partai terhadap lima isu krusial sistem pemilu. Partai bisa dikatakan cukup partisipatif jika gagasannya dibangun secara konsisten sejak awal pembahasan hingga menjadi sebuah kebijakan hukum.Konsistensi dijadikan tolak-ukur dengan asumsi bahwa gagasan itu dibangun sejak awal oleh partai dan saat pembahasan berpeluang memperoleh masukan publik yang juga menguatkannya.

Meski konsisten, bisa saja kemudian gagasan partai terkait sistem pemilu berubah di tengah atau di akhir pembahasan. Perubahan itu bisa muncul sebagai respons terhadap masukan publik atau proses komunikatif dengan partai lain. Sebagai catatan, perubahan kebijakan partai tidak muncul akibat barter kepentingan atau adanya “imbalan” tertentu. Dengan

kata lain, kebijakan hukum tentang sistem pemilu lahir melalui tindakan komunikatif oleh pembentuk undang-undang yang menempatkan dirinya tidak terbatas sebagai wakil partai, namun juga wakil kelompok yang lebih luas. Berdasarkan hal itu, maka pendekatan yang digunakan adalah aktor pembuat kebijakan dan kepentingan masing-masing aktor yang melatarbelakangi lahirnya kebijakan hukum tentang sistem pemilu.

Gagasan itu sesuai dengan pandangan Habermas tentang undang- undang.Menurutnya, undang-undang merupakan ruang pertemuan tindakan komunikatif yang lahir atas sebuah konsensus.Akan tetapi, konsensus itu mesti didasarkan pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Kata kuncinya ada pada tindakan komunikatif, di mana tindakan ini memiliki orientasi pada pencapaian pemahaman satu sama lain. Tindakan komunikatif berbeda dengan tindakan strategis yang merupakan suatu

Tabel 4.8 Perkembangan Pandangan Fraksi tentang Sistem Pemilu

PARTAI

Dalam dokumen Jurnal 5 TRANSPARANSI PARTISIPASI DAN DE (Halaman 182-186)