• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK KORUPSI TERHADAP PEREMPUAN

Dalam dokumen Jurnal 5 TRANSPARANSI PARTISIPASI DAN DE (Halaman 85-88)

Oleh: Nindita Paramastut

MATERI YANG DIBERIKAN

G. DAMPAK KORUPSI TERHADAP PEREMPUAN

Terdapat tiga dampak terhadap perempuan dalam situasi seperti tersebut,

Pertama, peneliti melihat bahwa harapan perempuan sebagai kelompok yang akan meminimalisasi korupsi justru berbalik menyerang perempuan. Beban perempuan yang melakukan korupsi lebih banyak ketimbang laki-laki yang melakukan korupsi. Perempuan harus melewati berbagai tahapan yang maskulin untuk menjadi anggota legislatif. Semisal masuk partai politik, berjuang untuk pencalonan, kampanye, dan lain sebagainya. Dan keseluruhan tahapan yang mereka lalui harus dilewati dengan beban agen anti korupsi.

Kedua, terdapat pengaruh atas praktik korupsi dengan keterpilihan perempuan. Berdasarkan temuan data diketahui bahwa nomor urut dan dapil yang strategis masih sangat berpengaruh terhadap keterpilihan perempuan. Inilah yang membedakan antara mereka yang terpilih dan tidak terpilih.

Hubungan kedekatan kandidat dengan elit partai sangat berpengaruh untuk memperoleh nomor urut dan dapil yang strategis yang berimplikasi pada keterpilihan mereka. Mereka yang terpilih berada pada nomor urut 1,2, dan 3. Sedangkan yang tidak terpilih berada pada nomor urut 3,6, dan 11. Praktik korupsi bermain dalam proses tersebut. Oleh karena itu dapat dinyatakan bahwa praktik korupsi berpengaruh menentukan keterpilihan kandidat perempuan.

Tidak hanya nomor urut dan dapil yang berpengaruh, tetapi praktik politik uang juga memberikan dampak keterpilihan. Dari 6 informan, informan yang mengeluarkan uang paling banyak (1 Milyar) menjadi terpilih dan yang hanya mengeluarkan uang Rp.100.000.000 tidak terpilih.

Selain itu, praktik korupsi juga terbukti menghasilkan perubahan perolehan suara. Sebagian informan menyatakan bahwa mereka merasa perolehan suara mereka hilang. Seperti yang dialami oleh Tulip, dimana suaranya diambil oleh partainya untuk kandidat lain dari partai yang sama dan dapil yang sama. Tanpa adanya saksi yang bisa mengawal perolehan suara sampai keputusan KPU ditetapkan maka sulit untuk memastikan

perolehan suara kandidat akan tetap sesuai dengan hasil yang sebenarnya. Hilangnya jumlah suara yang sebenarnya juga kemudian berpengaruh pada kemungkinan keterpilihan. Hal ini dikarenakan perbedaan satu suara saja bisa berarti terpilih atau tidak terpilih.

Ketiga, teori perempuan sebagai agen anti korupsi melihat perempuan sebagai satu entitas yang sama dan ini merugikan kelompok perempuan. Dalam faktanya, setiap perempuan merupakan individu yang berbeda latar belakang. Perempuan yang adalah istri seorang petinggi partai tidak dapat disamakan dengan perempuan yang merupakan aktivis hak asasi manusia. Perempuan yang berada di dalam satu partai saja memiliki perbedaan latar belakang. Dengan lebih jauh, Luky Djani menyetujui paham bahwa dalam tahap tertentu gender tidak berlaku dan perspektif kelas yang lebih berpengaruh,

“Gender dalam tahap tertentu tidak berlaku, yang berlaku adalah perspektif kelas, laki-laki yang bekerja sebagai buruh posisinya lebih lemah daripada perempuan yang istrinya pemilik konglomerasi, pemilik perusahaan”.

Peneliti melihat bahwa teori perempuan sebagai agen anti korupsi tidak melihat hal ini. Mereka memandang perempuan sebagai satu entitas yang sama. Pola pikir seperti ini sangat diskriminatif dan menghilangkan kenyataan bahwa setiap perempuan memiliki latar belakang yang berbeda.

H. KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah, pertama, praktik korupsi terjadi dalam Pemilu 2009, dengan lebih khususnya dalam penelitian ini adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR RI. Sistem proporsional terbuka dengan penetapan calon terpilih melalui suara terbanyak berbanding lurus dengan masifnya praktik korupsi. Alasan mendasar mengapa politik uang banyak terjadi dalam Pemilu 2009 adalah rasionalitas pemilih dengan kandidat

Tahapan-tahapan yang dinilai paling rentan dengan praktik korupsi adalah pencalonan, kampanye dan rekapitulasi dan penghitungan suara. Dalam penelitian ini bentuk korupsi yang terungkap banyak terjadi melalui politik uang ialah vote buying dan electoral administrative corruption.

Vote buying merupakan praktik yang paling banyak terjadi. Data ICW menemukan 150 kasus dugaan politik uang yang terjadi selama masa kampanye dan masa tenang (Badoh dan Dahlan, 2010: 110).

Kedua, dampak yang dirasakan oleh kelompok perempuan adalah beban perempuan menjadi semakin besar dan mempengaruhi keterpilihan mereka. Beban ini ditimbulkan melalui konsep perempuan sebagai agen anti korupsi serta konsep yang melihat bahwa perempuan sebagai satu komunitas yang homogen. Dampak lain adalah berkaitan dengan perolehan suara kandidat dan keterpilihan perempuan. Pengalaman informan memperlihatkan bahwa korupsi telah menyebabkan perolehan suara kandidat tidak sesuai dengan data yang sebenarnya. Tanpa adanya saksi yang mengawal perolehan suara kandidat semakin membuat kemudahan hilangnya suara kandidat.

Goetz melihat bahwa argumentasi perempuan sebagai agen anti korupsi adalah argumentasi yang salah, keterwakilan perempuan harus terpenuhi sebagai bagian dari hak asasi manusia dan bukan sebagai agen untuk

mengubah pola pandang dunia politik (2007: 88). Goetz juga menyatakan

bahwa apabila korupsi ingin dihilangkan tidak bisa hanya mengandalkan perempuan saja, akan tetapi keseluruhan sistem harus dibenahi. Teori ini sesuai dengan praktik yang terjadi di Indonesia, UU yang lemah, sistem yang rentan, pemilih yang tidak rasional menyumbang untuk terjadinya korupsi. Sangat tidak adil apabila keseluruhan beban masalah ini diberikan

kepada perempuan sebagai ‘agen pembersih’. Beban semakin bertambah

dikarenakan teori ini melihat perempuan sebagai satu entitas yang sama. Sehingga apabila terbukti satu orang perempuan melakukan korupsi maka sanksi yang diberikan adalah untuk seluruh perempuan.

Ketiga, adaptasi yang dilakukan oleh kandidat perempuan dalam Pemilu 2009 adalah terseret dalam praktik korupsi. Berdasarkan pengalaman 6 kandidat perempuan, baik yang terpilih maupun tidak terpilih, terbukti semua melakukan politik uang, khususnya yang paling banyak dilakukan

adalah vote buying dalam masa kampanye. Sebagian informan juga melakukan praktik korupsi melalui penempatan nomor urut dan dapil dengan menggunakan hubungan kedekatan dengan elit partai sebagai mekanismenya.

Ketidaktahuan dan kepolosan kandidat terlihat di beberapa aspek. Sebagai contoh, penentuan strategi pemenangan kampanye yang kurang tepat dan pemanfaatan hubungan kedekatan untuk mendapatkan nomor urut dan dapil. Laki-laki pada umumnya lebih memiliki kemampuan untuk memperhitungkan saingannya dan membaca peta politik. Ini yang tidak terlihat dalam diri perempuan. Kepolosan akan strategi politik tidak dimiliki oleh perempuan. Keadaan ini sesuai dengan teori Goetz yang melihat bahwa jumlah perempuan yang melakukan korupsi sedikit dikarenakan jam terbang politik perempuan yang belum tinggi, bukan dikarenakan secara moral perempuan lebih baik.

Walaupun begitu praktik politik uang yang mereka lakukan dengan dalih sumbangan, sedekah, oleh-oleh tidak dapat sepenuhnya dinyatakan sebagai bentuk kepolosan mereka. Hal ini karena tidak dapat dipastikan apakah mereka menyatakan kepolosan tersebut karena terseret arus ataukah mereka memanfaatkan celah yang ada di UU.

I. REKOMENDASI

Dari kesimpulan ini maka rekomendasi yang dapat diberikan oleh Peneliti, yakni ;

Dalam dokumen Jurnal 5 TRANSPARANSI PARTISIPASI DAN DE (Halaman 85-88)