Oleh: Nindita Paramastut
LEMBAGA PEREMPUAN PERSEN LAKI-LAKI PERSEN TOTAL
DPR RI 102 18 persen 457 82 persen 560
DPRD Provinsi 321 27.27 persen 1684 84 persen 2005
DPRD Kab/Kota 1857 12 persen 13901 88 persen 15757
Angka dalam tabel ini memperlihatkan jumlah perempuan yang terpilih melalui Pemilu legislatif 2009. Jumlah perempuan paling banyak berada
dalam DPRD Provinsi, yakni 321 dari 1684 (27.27 persen). Untuk anggota DPR RI perempuan hanya mencapai angka 18 persen. Keterwakilan
perempuan paling minim berada dalam DPRD Kab/Kota, yakni dengan
jumlah perempuan 1857 (12 persen) yang tersebar di seluruh Kab/Kota di
Indonesia.
Rendahnya angka keterwakilan perempuan dikarenakan perempuan menghadapi berbagai kendala untuk dapat masuk ke dunia politik, diantaranya adalah budaya patriarki yang masih sangat kuat, partai politik yang tidak memiliki kebijakan pengarusutamaan gendernya, serta sistem Pemilu yang diterapkan.
Kendala pertama adalah budaya patriarki. Budaya yang dianut oleh masyarakat membedakan nilai dan peran antara laki-laki dan perempuan. Terdapat nilai-nilai yang dilekatkan kepada perempuan dan terdapat nilai- nilai lain yang juga dilekatkan pada laki-laki melalui konstruksi sosial. Sebagai contoh, perempuan disamakan dengan sifat penyayang, lembut, adil, penurut, pasif, dan lain sebagainya. Di sisi lain, laki-laki diidentikkan dengan sifat kuat, tegar, berani, aktif, dan lain-lain. Pembedaan nilai ini kemudian mengkonstruksikan berbagai pekerjaan berdasarkan jenis kelamin. Salah satunya adalah gambaran bahwa politik adalah dunia
yang kotor, manipulatif, dan penuh dengan konflik. Dunia politik bukan
“tempat yang cocok” untuk perempuan. Penganalogian dunia politik dengan dunia laki-laki berimplikasi dominasi laki-laki dalam berbagai bentuk pekerjaan yang berkaitan dengan dunia politik serta pencitraan negatif bagi perempuan yang masuk ke dunia politik.
Kendala kedua adalah terkait dengan tidak adanya kebijakan pengarusutamaan gender dalam partai politik. Keadaan ini tercipta sebagai perpanjangan tangan dari budaya patriarki tersebut. Wilayah
politik yang didefinisikan bukan sebagai wilayah perempuan menjadikan
tumbuhnya patriarki dalam tubuh partai politik.Tidak adanya penerapan pengarusutamaan gender di tubuh partai politik telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Kajian Wanita Universitas Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, 3 partai politik pemenang Pemilu
2009 tidak memiliki strategi pemberdayaan perempuan dan keadilan gender baik yang tercantum dalam dokumen formal maupun dalam praktek (informal) (Adelina dan Soetjipto, 2012: 19).
Kendala yang ketiga adalah berkaitan dengan sistem Pemilu yang diterapkan. Dalam berbagai varian sistem Pemilu, sistem representasi proporsional dengan daftar dinilai memiliki kelebihan lebih menguntungkan perempuan dibandingkan dengan sistem proporsional dengan suara terbanyak atau sistem distrik. Bagi kelompok perempuan di Indonesia, sistem Pemilu yang diterapkan dalam Pemilu 2009 belum benar-benar
memberikan afirmasi kepada kelompok perempuan. Argumentasi ini
terutama berkaitan dengan mekanisme penetapan calon terpilih melalui suara terbanyak. Perubahan mekanisme penetapan calon terpilih dari nomor urut menjadi suara terbanyak yang ditetapkan melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) telah membuat lahirnya kekecewaan yang besar bagi gerakan perempuan. Keputusan Mahkamah Konstitusi telah
mematahkan perjuangan panjang bagi upaya afirmasi untuk menutup
kesenjangan gender yang ada di arena politik dan pengambilan keputusan (Ismed, 2010: 32-33).
Mekanisme penetapan calon terpilih melalui suara terbanyak juga mendapatkan pertentangan dari berbagai kelompok. Penerapan sistem suara terbanyak merupakan sistem terjun bebas. Caleg dari nomor urut kecil sampai besar memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih. Persaingan secara bebas ini kemudian ditengarai melahirkan praktik korupsi dalam Pemilu. Titi Anggraini selaku Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), dalam forum diskusi dengan mitra proyek Leveraging Educating Accountable Democracy yang diselenggarakan oleh Kemitraan pada April 2011 pun menyatakan bahwa (LEAD Advisory Meeting), “Sistem suara terbanyak membuat calon harus mencari uang lebih banyak untuk dapat berkampanye”.
Situasi seperti ini juga memberikan keuntungan bagi calon-calon yang terkenal. Seperti diungkapkan oleh Ketua DPP Partai Golkar Andi Mattalatta jika sistem suara terbanyak bakal dimenangkan oleh calon-calon yang lebih populer. Padahal popularitas belum tentu menjamin seseorang itu memiliki kualitas yang baik untuk menjadi wakil rakyat yang duduk di
DPR (Darwis, 2011: 209).
Fernita Darwis yang merupakan Ketua Bidang Politik Gerakan Pemberdayaan Swara Perempuan dan Wakil Sekjen Kaukus Perempuan
Politik Indonesia Tingkat Nasional Periode 2008-2011, pun meyakini
bahwa suara terbanyak berpengaruh buruk terhadap caleg perempuan sebab calon perempuan akan sulit bersaing dengan calon laki-laki karena keterbatasannya, misal mobilitas calon perempuan tak setinggi laki- laki yakni dalam hal dana caleg perempuan tak sebanyak calon laki-laki (Darwis, 2011: 225).
Berdasarkan penjabaran di atas, maka tulisan ini akan mencari tahu bagaimana perempuan beradaptasi dalam pertarungan Pemilu yang rentan dengan praktik korupsi. Bagaimana perempuan menghadapi sistem yang ditengarai rentan korupsi dengan berbagai kendala yang telah melekat pada diri perempuan. Kemudian penelitian ini juga untuk mencari tahu dampak yang ditimbulkan oleh sistem yang rentan korupsi terhadap perempuan.
B. PRAKTIK KORUPSI DALAM PEMILU
TAHUN 2009
Arif Nur Alam selaku Direktur Eksekutif Indonesia Budget Centre yang sangat aktif menyoroti isu-isu korupsi, menjelaskan bahwa korupsi dalam Pemilu 2009 paling rentan terjadi dalam beberapa tahapan, yakni tahapan pencalonan, kampanye, dan penghitungan suara (Wawancara Pribadi 3 November 2011).
Dalam tahapan pencalonan, korupsi dapat dilakukan antara calon dan partai politik. Praktik korupsi dalam tahapan pencalonan adalah berkaitan dengan bagaimana seseorang dapat menjadi seorang caleg, proses pemberian nomor urut, distribusi dapil dan lain sebagainya. Politik uang yang paling rentan terjadi dalam tahapan ini adalah yang dinamakan pembelian kandidasi (candidacy buying) yakni suatu proses dimana kandidat harus memberikan imbalan kepada partai politik sebagai bagian dari proses pencalonan. Dalam pandangan Fahmi Badoh dan Abdullah, politisi berupaya untuk dinominasikan menjadi calon legislatif
atau eksekutif dengan cara membayar atau mengiming-imingi elit partai (Badoh dan Dahlan, 2010: 23).
Dalam tahapan kampanye dan penghitungan suara sangat besar kemungkinan terjadinya korupsidalam bentuk politik uang, baik yang dilakukan oleh caleg dengan pemilih maupun caleg dengan penyelenggara Pemilu. Praktik politik uang yang dilakukan saat kampanye adalah untuk mempengaruhi pemilih agar memilih salah satu kandidat. Salah satu bentuk politik uang yang dapat dilakukan saat penghitungan suara adalah manipulasi administratif dalam tahapan dan proses Pemilu yang dilakukan dengan mengubah, menghambat atau memanipulasi tahapan dan kelengkapan administratif untuk kepentingan pemenangan peserta Pemilu tertentu (Badoh dan Dahlan, 2010: 23). Bentuk manipulasi seperti ini dapat dengan mudah dilakukan oleh penyelenggara Pemilu melalui kewenangan yang mereka miliki.
Dalam praktiknya, berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengenai jumlah pelanggaran Pemilu dalam Pemilu 2009, terdapat 6.019 pelanggaran Pemilu tindak pidana dan 15.341 pelanggaran administrasi dengan total keseluruhan jumlah pelanggaran adalah 21.360 (Laporan Panwaslu Tahun 2009 dalam Surbakti, et al, 2012: 59). Keseluruhan jumlah pelanggaran tersebar di berbagai tahapan Pemilu, yakni dimulai dari pemutakhiran data pemilih sampai dengan penetapan hasil Pemilu.
Tabel 1.2. Rekapitulasi Pelanggaran Pemilu dalam Setiap Tahapan Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD tahun 2009
NO TAHAPAN PEMILU PELANGGARAN PEMILU JUMLAH