IX. Sistematika Penulisan
2. Agama dan Teknologi: Perjumpaan yang Menghidupkan
Jurgen Habermas mengatakan bahwa perkembangan teknologi di dalam
masyarakat merupakan proses rasionalisasi modernitas. Di dalam masyarakat
pra-modern, rasionalitas terbagi menjadi tiga yaitu rasionalitas kognitif-instrumental,
rasionalitas moral-praktis, dan rasionalitas estetis-praktis. Pada saat itu, ketiganya
dapat diseimbangkan oleh pandangan dunia yang mistis-religius. Dalam konteks
masyarakat modern, pandangan mistis-religius hancur sehingga peran agama
digantikan dan diungguli oleh moralitas-rasional dan etika dalam masyarakat
modern.9 Modernisasi pun seolah mematikan agama sehingga ketika agama ingin
tetap hidup dan berkembang, maka ia harus menghindari modernisasi itu sendiri.
Pada awalnya memang agama dan teknologi rasanya merupakan dua hal
yang sama sekali tidak terkait. Keduanya seolah terpisahkan oleh dikotomi antara
yang sakral dengan yang profan. Teknologi komunikasi seperti internet berurusan
dengan relasi intra-manusia di dunia, sementara agama mengatur relasi
extra-numena antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya di dunia. Internet, dengan
segala kecanggihannya, mampu menghubungkan satu manusia dengan manusia
9 A. Widyarsono, ”Masyarakat Teknologi Modern dan Gereja”, Rohani, 044: 000 (Yogyakarta: November, 1997), hlm. 417-419.
35
lainnya secara real time. Dengan bahasa pemrograman dan algoritma tertentu,
penduduk yang berada di Jawa kini dapat terhubung dengan mereka yang berada
di Papua secara langsung dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Di lain pihak,
agama menghubungkan manusia dengan Sang Kudus yang mengatur kehidupan
dunia manusia. Agama menyediakan bahasa yang membuat manusia mampu
mendengar dan mengerti kehendak dari Sang Kudus itu. Jika seseorang ingin
mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat, maka ia harus
memeluk agama dan kepercayaan tertentu supaya ia dapat ’diselamatkan’. Bahkan tidak jarang, konsep soteriologis seperti ini mengharuskan seseorang yang
beragama untuk hidup memisahkan diri dari hal-hal yang duniawi, termasuk dari
produk hasil kemajuan teknologi. Dalam rangka askese rohani dan mengarahkan
hati kepada kehendak Ilahi, manusia beragama hidup terpisah dari dunia.
Namun, pemisahan ini sudah tidak dapat lagi dilakukan terutama di tengah
era computer-mediated information society, di mana kehidupan manusia telah
termediasi oleh jaringan digital komputer. Perjumpaan manusia dengan Sang
Khalik pun dapat dilakukan di ruang virtual, dalam koneksi jaringan mesin
komputer. Bahasa program yang terdiri dari algoritma rumit yang membentuk
program dalam komputer pun saat ini juga diadaptasi menjadi bahasa teologia, di
mana Sang Pencipta dapat bersabda di dalamnya. Agama menggunakan internet
sebagai medium bagi pemberitaan sabda Ilahi sehingga mampu menjangkau
sebanyak mungkin orang, baik yang sudah percaya ataupun yang belum percaya.
Sebaliknya, internet menghidupi dan mengasuh agama di dalamnya demi
akseptabilitas yang lebih luas di tengah dunia yang sebagian besarnya masih
36
Lorne Dawson, salah satu peneliti mula-mula tentang internet dan agama
mengatakan bahwa masuknya agama ke dalam medium internet adalah paralel
dengan terhisabnya agama ke dalam media informasi lainnya, yaitu
mengudaranya siaran keagamaan di radio dan tele-evangelisasi. Semuanya
membentuk rangkaian tak terputus bagaimana agama selalu berelasi dengan media
elektronik. Agama tidak ingin meninggalkan media elektronik sebagai sarana
ekspansi dan menjangkau umat. Sebaliknya, salah satu fungsi media elektronik
sebagai media syiar agama membuat media dapat diterima dan digunakan oleh
semua orang di semua tempat. Media seolah dibaptis menjadi media suci.
Ketika berselancar di dunia internet, pengguna internet tentu akan
menemukan ribuan bahkan jutaan situs, forum, dan pembicaraan di chat room
yang terkait dengan agama. Hampir semua aliran keagamaan mencatatkan
namanya di dalam mesin jaringan internet, baik itu agama-agama besar maupun
agama-agama lokal yang jumlah umatnya hanya sedikit. Berbagai denominasi dari
masing-masing agama pun ikut mencatatkan diri. Misalnya, terkait sejarah
panjang kekristenan, pengguna internet dapat menemukan banyak hal tentang
sejarah dan ajaran dari Katolik Roma, juga ihwal kemunculan Protestantisme di
dalam kekristenan, serta ajaran Kristen Pentakostal Karismatik yang menekankan
kepada manifestasi kuasa Roh Kudus dalam kehidupan rohani umat.
Hadirnya internet membuat setiap orang dapat menemukan segala hal
dalam satu ketukan jari, termasuk agama dan kepercayaan. Mulai dari agama
samawi-monoteistik seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, sampai kepada agama
politeistik layaknya Hindu dan agama-agama suku. Kita dapat menemukan
37
pembawa beserta perkembangannya dari awal hingga saat ini.10 Selain itu, ada
pula situs-situs di dalam internet yang dikelola langsung oleh aliran keagamaan
tertentu dan memuat informasi spesifik seputar doktrin dan ajaran dari aliran
tersebut. Misalnya saja, situs www.vatican.va yang memuat informasi tentang
sejarah, ajaran dan doktrin, serta struktur kepemimpinan dari Gereja Katolik
Roma. Situs ini merupakan situs resmi Gereja Katolik Roma dan dikelola
langsung oleh tahta suci Vatikan. Di Indonesia, ada sebuah situs
www.ahlulbaitindonesia.org yang merupakan situs yang berisi informasi tentang
aliran Islam Syiah dan perkembangannya di Indonesia. Walau kerap mendapatkan
stigma negatif, cap sesat oleh berbagai kalangan muslim, bahkan menjadi korban
konflik horizontal di berbagai daerah, tetapi mereka mempertahankan eksistensi
mereka di dunia maya dan menggunakannya sebagai corong politik mereka.
Masih banyak lagi situs lainnya yang berisi hal serupa yang dimiliki atau
berafiliasi kepada satu kelompok agama tertentu.
Perkembangan teknologi media dan informasi secara gradual dan masif
membuat agama juga ikut menyesuaikan diri terhadap trend teknologi ini.
Menurut Carolyn Marvin, setiap kali terjadi perubahan pada peralatan komunikasi
juga mengakibatkan perubahan besar dalam sistem sosial masyarakat, termasuk
agama.11 Perubahan ini terkait cara orang memandang dirinya dan masyarakat.
Contohnya, perubahan dan pergeseran dari budaya komunikasi oral ke budaya
tulisan, lalu kemudian ke budaya komunikasi percetakan, dan kemudian ke
10Ada beberapa situs di internet yang sifatnya menyajikan informasi, seperti
www.wikipedia.com dan www.religionfacts.com. Selain itu, ada juga beberapa situs pencari yang dapat membantu para pengguna untuk menemukan informasi seputar agama-agama dan
kepercayaan di seluruh dunia, seperti www.google.com dan www.yahoo.com.
11Carolyn Marvin, ”When Old Technologies Were New: Implementing the Future”, dalam Hugh Mackay & Tim O’Suliivan (eds), The Media Reader: Continuity and Transformation, (London: Sage Publications, 2000). Hlm. 58-72