• Tidak ada hasil yang ditemukan

IX. Sistematika Penulisan

4. Identitas Virtual: Anonimitas, Multiplisitas, dan Avatar

Dalam website GBI Glow FC, tersedia sebuah layanan live chat

counseling antara pengunjung dengan pihak GBI Glow FC. Dengan layanan ini,

para pengunjung dapat melakukan konseling langsung dengan pihak GBI Glow

FC dalam 24 jam. Percakapan dilakukan tanpa tatap muka, tanpa berbicara dan

mendengar, hanya dengan chatting yang difasilitasi oleh jaringan internet. Hal

yang menarik adalah prinsip konseling ini adalah anonim, yaitu masing-masing

pihak, baik konseli dan konselor, tidak memperkenalkan diri dan menyebutkan

identitas masing-masing. Pembicaraan akan berlangsung terus tanpa sesama pihak

mengetahui identitas lawan bicaranya. Menurut pengakuan dari pengelola situs,

anonim menjadi prosedur standar dalam live chat counseling. Mereka beralasan

bahwa dengan anonim, konseli dapat lebih bebas untuk mengkisahkan banyak hal

seputar permasalahan kehidupannya kepada konselor. Mereka menjadi lebih

percaya diri dan tidak ragu untuk bercerita hal yang buruk bahkan aib yang telah

dilakukannya. Sementara itu, pihak konselor pun menganonimkan dirinya dengan

tujuan agar tidak terjadi hubungan yang lebih lanjut antara dirinya dengan konseli

89

jawab IT dari GBI Glow FC, tak dapat dipungkiri bahwa ikatan emosional bisa

saja terjadi ketika percakapan terjadi dan dapat berlanjut ke dalam kehidupan

nyata dan dapat mengganggu proses konseling yang sesungguhnya. Ia

mengatakan, ”Seringkali terjadi bahwa pihak konseli merasa nyaman dengan

konselor tertentu yang memberikan jawaban-jawaban yang tepat dan menjadi jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh konseli. Beberapa kali terjadi, tentu saja bukan di gereja ini, si konseli mengetahui identitas konselornya sehingga kemudian menghubungi si konselor terus menerus. Demikian juga sebaliknya bisa terjadi. Kalau sudah begini, biasanya ada rasa sayang yang dapat menjerumuskan keduanya ke dalam perzinahan. Oleh karena itu, kita melarang setidaknya si konselor untuk menyebutkan identitasnya pada saat live chat counseling. Itu sudah jelas tercatat dalam SOP layanan ini.”

Identitas yang tersembunyi seperti ini menjadi sebuah konsekuensi baru

yang muncul dalam zaman internet. Konektivitas yang terjadi di ruang maya

memungkinkan setiap orang untuk menyembunyikan identitasnya. Jika dilihat

dalam berbagai forum di internet, termasuk forum-forum Kristen, banyak

pengguna yang masuk dan aktif di dalam ruang itu menggunakan nama samaran

yang bertujuan memalsukan identitasnya. Dengan identitas yang kabur ini,

mereka justru menjadi sangat aktif terlibat dalam pembicaraan-pembicaraan

teologis.

Fenomena lainnya yang penulis jumpai adalah banyaknya orang yang

mengikuti akun sosial media dari seorang gembala sidang, tetapi ia bukan jemaat

di gereja tempat gembala sidang memimpin. Penulis bertanya kepada seorang

90

memiliki jemaatnya masing-masing dan tidak ingin bermigrasi ke gereja lain

walau ia sangat mengagumi sang gembala sidang. Ia mengatakan bahwa ia selalu

mengikuti khotbah dan siraman rohani dari pendeta ini setiap harinya karena ia

merasa bahwa perkataan dari pendeta ini dapat menguatkan dirinya.4

Menurut Anthony Giddens, identitas merupakan sesuatu yang lunak dan

dapat dibentuk, bukannya sesuatu yang pasti.5 Identitas ini mengalami

pembentukan dalam situasi dan konteks sosial yang berbeda-beda. Oleh karena

itu, dalam dunia komunikasi yang diperantarai oleh internet, sangat mungkin

ditemukan identitas yang berlapis dari seseorang, bahkan juga kedirian yang

berlapis.6 Para pengguna internet dapat berada di beberapa tempat sekaligus

dalam konteks yang berbeda di waktu yang bersamaan. Identitas pun terkonstruksi

dalam permainan masuk dan keluar dari satu situs ke situs lainnya yang berbeda

satu sama lainnya.

Dalam pengamatan penulis, multi identitas ini menyebabkan terjadinya

percampuran teologis dalam diri jemaat. Di satu sisi, seorang jemaat adalah

seorang protestan mainstream, tetapi di sisi lainnya ia juga mengakui

ajaran-ajaran yang hanya ada di dalam gereja-gereja beraliran Pentakostal-Karismatik,

misalnya mujizat melalui penumpangan tangan dan bahasa Roh (glossolalia).

Seorang informan penulis berkata bahwa dirinya sering mengikuti akun media

sosial dari sebuah gereja dan mengikuti media sosial dari sang gembala sidang

yang menyebabkan dia merasa terberkati dan terikat dengan ajaran yang

4

Wawancara dengan Pendeta Julius Anthony, wakil gembala sidang GBI Glow Fellowship Centre, pada bulan Februari 2012.

5 Anthony Giddens, Modernity and Self Identity. Self and Society in The Late Modern Age. (Stanford: Stanford University Press, 1991).

6 Felix Wilfred, “Religion and Theology in Information Society”, dalam Jeevadhara Vol. XXXVI / 21 2006, hlm. 29.

91

disampaikan melalui media sosial dan gembala sidang dari gereja itu. Dari

perjumpaan di media sosial, ia mulai ”jajan” ke gereja Pentakostal Karismatik yang dirasa memberikan jawaban bagi persoalan hidupnya. Ia pun terbelah antara

bertahan dalam Protestantisme Arus Utama yang selama ini ia pegang, dan di satu

sisi menemukan jawaban dalam mujizat a la Pentakostal Karismatik. Sang

informan tidak dapat meninggalkan keanggotaan dirinya di gereja Protestan itu,

tetapi juga tidak ingin ketinggalan dalam fenomena ”kebangkitan rohani” yang ditunjukkan oleh para kelompok Pentakostal Karismatik. Internet dan media

sosial akhirnya membentuk multi-identitas secara teologis bagi para pelintas batas

struktural teologis di dalam dunia maya.

Tidak jarang, para peselancar di dunia maya ini tidak menggunakan

identitas yang sesungguhnya ketika berada di dalam jaringan. Mereka

menggunakan identitas palsu dan menciptakan pseudonim dalam bentuk akun

media sosial. Hal ini terlihat dari beberapa akun media sosial yang menaruh nama

akun yang tidak terlihat seperti nama yang sebenarnya (pseudonim). Dengan

alasan kenyamanan dan privasi, mereka menggunakan akun palsu, atau tidak

sepenuhnya benar, dan menggunakan nama samaran dalam akunnya. Bisa jadi

nama yang diganti, atau mereka menggunakan foto profil orang lain atau lambang

yang tidak menunjukkan diri mereka yang sebenarnya.

Sherly Turkle, seperti dikutip oleh Lorne L. Dawson, mengatakan bahwa

internet memiliki fungsi terapetik, yaitu menawarkan setiap orang untuk

melakukan ”moratorium” segala hal yang membuat mereka tertekan dan depresi. Ia mengatakan bahwa internet dapat menjadi ”outlet” di mana setiap orang bisa menangani masalah pribadinya dengan cara yang lebih produktif, serta sekaligus

92

menjadi ruang bagi pertumbuhan seseorang.7 ”Identitas kedua” yang digunakan para peselancar dunia maya dapat juga dilihat dalam sudut pandang ini, yaitu

sebagai upaya rekreasi dengan menarik diri dan mengenakan identitas lainnya

selama menyusuri situs demi situs internet, tanpa perlu takut batasan-batasan yang

muncul jika mereka menggunakan identitas asli mereka.