IX. Sistematika Penulisan
3. Otoritas Religius: Kabur dan Tersebar
Internet menawarkan prinsip kesetaraan di tengah dunia yang sarat akan
hierarki struktur dan tawar menawar kekuasaan. Semua orang yang memiliki
konektivitas internet tentu memiliki akses penuh untuk masuk dan menjelajahi
dunia maya yang tanpa batas ini. Mulai dari media sosial, surat kabar online, situs
pemerintah, sampai kepada situs-situs dari kelompok-kelompok garis kiri di suatu
wilayah dapat diakses dengan mudahnya. Dalam media sosial, semua orang yang
memiliki akun Facebook dan Twitter adalah sama dan setara. Tidak ada lagi boss
85
memiliki akses penuh terhadap akunnya masing-masing juga untuk mengunjungi
akun yang lainnya, bahkan mengirimkan pesan atau berkomentar dalam halaman
akun lainnya. Semua akun media sosial ibarat catatan harian terbuka yang dapat
dilihat oleh semua orang. Walau juga penyedia layanan media sosial memberikan
fasilitas privasi sehingga pemilik akun bisa membatasi siapa saja yang dapat
berkunjung dan mencorat-coret halaman akunnya.
Menarik jika melihat hal ini dalam penggunaannya di gereja. Website dan
media sosial gereja dapat diakses oleh siapa saja, bahkan dikomentari oleh siapa
saja. Dalam hal ini, gereja pun menjadi terbuka sejelas-jelasnya bagi umatnya.
Umat dapat dengan mudah mengetahui informasi seputar gereja dari berbagai
sumber yang beredar di dalam internet, entah informasi yang sifatnya mendukung
gereja, atau sebaliknya informasi yang menjatuhkan gereja. Situs yang dimiliki
oleh gereja memberi kemungkinan bagi partisipasi interaktif umat. Misalnya saja,
gereja memberi kemungkinan setiap orang yang ingin untuk berbicara langsung
kepada gembala sidang dengan masuk ke dalam situs dan mengisi halaman
permohonan doa atau konseling. Bahkan situs-situs tertentu menyediakan
halaman seperti ”surat kepada gembala” sehingga jemaat dapat langsung
berkomunikasi dengan gembalanya.
Jemaat pun dapat berinteraksi langsung dengan gembala sidangnya
melalui media sosial sang gembala itu, entah dengan menulis di halaman akun
Facebook dari sang gembala, atau dengan me-retweet setiap ’kicauan’ sang gembala di Twitter. Kesempatan-kesempatan yang diberikan ini tentu saja
meruntuhkan hierarki struktural yang secara tegas dipelihara di dalam lembaga
86
harus mempersiapkan diri terlebih dahulu, misalnya dengan berefleksi dan
merenungi kesalahan dan pelanggaran yang telah dibuat, maka saat ini, para
pendeta dapat dijumpai kapan saja dan dimana saja. Jika di masa lalu
berkomunikasi dengan pendeta identik dengan memiliki masalah dan beban berat
yang membutuhkan dukungan dan doa dari pendeta, maka saat ini komunikasi itu
dapat dilakukan dalam segala kondisi, entah susah atau senang, entah
pembicaraan serius atau sekadar bergurau dengan sang pendeta. Seorang gembala
sidang dari sebuah megachurch di Jakarta, dalam akun Twitter-nya, terlihat saling
berbalas komentar dengan pengikutnya mengenai pertandingan sepakbola yang
sedang sedang disiarkan di televisi. Dukungan dan ledekan ringan bagi kedua
kesebelasan pun keluar dari akun gembala dan pengikutnya ini sehingga tidak
terlihat sama sekali perbedaan jabatan antara keduanya. Kenyataan berbeda
penulis temui ketika melihat sang gembala sidang masuk ke dalam ruang ibadah
untuk berkhotbah. Dalam ibadah yang dihadiri oleh ribuan orang itu, sang
gembala mendapat pengawalan ketat dari para bodyguard demi menghindari
jemaat yang hendak datang langsung kepadanya. Pemandangan a la kerajaan, di
mana sang raja dikawal prajuritnya ketika berjalan, tentu saja bertolak belakang
dengan kebebasan yang diberikan oleh internet yang memberikan kuasa bagi
setiap orang untuk membangun kerajaannya sendiri, yaitu kerajaan virtual.
Fenomena mengutip khotbah pada saat ibadah pun menunjukkan
bagaimana otoritas untuk memberitakan firman bukan lagi eksklusif milik gereja,
melainkan juga umat. Saat umat mendengar firman, di saat yang sama juga umat
memberitakan kembali firman itu. Proses reproduksi informasi pun terjadi antara
87
(decoding). Umat kemudian memproduksi ulang informasi ini dengan framing
sosio-kultural masing-masing, dan menyebarkan kembali informasi yang
didengarnya. Bukan tidak mungkin terjadi distorsi dalam proses ini yang
mengakibatkan bias makna. Sifat eklektik dari internet, yang mencampur fakta
dan fiksi, kebenaran dan kebohongan, baik dan buruk, tampilan publik
sesungguhnya semakin mendorong relativitas dari otoritas itu. Ketika sudah
berada di ranah internet, gereja tidak lagi memiliki kontrol atas apa yang
dinyatakan oleh umat, sekalipun bias dan tidak menyatakan kebenaran.3
Kebebasan ini memungkinkan munculnya komunitas-komunitas virtual
yang berafiliasi dengan gereja. Misalnya muncul forum anak muda dari suatu
gereja yang sama dan membahas problem anak muda Kristen dalam konteks
perkotaan. Dalam perjalanannya, anggota yang bergabung semakin banyak dan
terbuka bagi orang lain yang bukan anggota dari gereja itu sendiri. Dengan
demikian pun percampuran ajaran menjadi tidak terhindarkan.
Hal yang menarik di sini adalah pengelola situs (web master/web
administrator) pun menjadi orang yang, secara diam-diam, memiliki kekuasaan
sama seperti sang gembala sidang. Secara langsung, para pengelola situs yang
adalah para pekerja gereja melakukan framing terhadap konten dari situs gereja.
Secara langsung mereka mengatur tampilan dari situs dan mengarahkan jemaat
untuk memilih konten yang akan dilihat. Misalnya saja, tautan dan hyperlink yang
dicantumkan dalam satu halaman akan menggiring seseorang untuk masuk ke
halaman yang lainnya. Desain dari situs pun, secara tidak langsung, menunjukkan
arah dari gereja ini. Misalnya saja, situs dari JPCC memiliki tampilan menarik dan
3
88
berkesan high-tech sehingga memberi kesan bahwa gereja ini adalah gereja yang
dikhususkan bagi anak muda perkotaan yang akrab dengan kecanggihan
teknologi. Sementara itu, GBI Glow FC mencantumkan banyak foto dari gembala
sidangnya yang menampakkan bahwa sang gembala sidang adalah pusat dari
semua aktivitas pelayanan GBI Glow FC. Bahkan dapat dikatakan bahwa gereja
ini adalah tentang dirinya.