IX. Sistematika Penulisan
3. GBI Praise Revival for Jesus
Gereja GBI Praise Revival for Jesus (GBI PRJ) adalah gereja lainnya yang
masuk ke dalam pengamatan dan observasi penulis. Gereja ini berlokasi di sebuah
gedung pusat perbelanjaan yang dekat dengan arena Pekan Raya Jakarta
(PRJ/Jakarta Fair), sehingga bukan suatu kebetulan singkatannya pun menjadi
PRJ, melainkan terasosiasi kepada event tahunan DKI Jakarta yang memang terus
berlokasi di tempat itu. Ia menempati lantai paling atas (roof top) dari pusat
perbelanjaan ini, sehingga akses masuk ke ruangan gereja berada terpisah dari
56
Berdasarkan wawancara dengan wakil gembala sidang, pendeta Robertus
Purwadi4, gereja ini didirikan oleh seorang dokter internis bernama Janto
Simkoputra Ph.D., yang kemudian menjabat sebagai gembala cabang dari gereja
ini. Sebelum menempati lokasi saat ini, gereja ini telah menempati dua tempat
sebelumnya, yaitu bermula pada tahun 1998 di sebuah ruangan di hotel
Borobudur, Jakarta Pusat, lalu pada tahun 2005 pindah ke salah satu ruangan di
arena PRJ, dan terakhir pada tahun 2008 menempati lokasi super megah yang
sekarang.
Dalam pengamatan penulis, gereja ini memiliki jemaat dalam jumlah yang
besar. Hal ini diakomodasi dengan ibadah yang dilaksanakan sebanyak lima kali
setiap hari Minggu. Selain itu, mereka memiliki enam cabang gereja yang
berlokasi di seputar Jakarta, yang masing-masing juga melaksanakan ibadah lebih
dari satu kali di setiap hari Minggu. Untuk tempat di pusat, penulis telah hadir di
seluruh jam ibadah Minggu, dan mendapati seluruh kursi terisi oleh jemaat.
Penulis tidak mengkonfirmasi tentang kapasitas ruang ibadah secara pasti, tetapi
penulis menduga bahwa ruangan megah ini mampu menampung sekitar
1200-1500 orang dalam satu kali ibadah. Belum lagi menghitung jemaat yang juga
beribadah di gereja cabang lainnya yang pasti berjumlah cukup banyak. Sang
wakil gembala sidang menjelaskan bahwa gereja ini bertumbuh dengan cukup
pesat dari segi jumlah jemaat. Penulis lalu menggali lebih lanjut tentang daya tarik
tempat ini bagi jemaat baru dan mendapatkan jawaban yang menarik.
”Gereja ini, dari sekian banyak jemaat yang pernah kita survei dengan memberikan angket, memiliki daya tarik nomor satu, yaitu dalam setiap kegiatannya itu selalu memberi yang terbaik kepada Tuhan. Dalam segala segi, baik fisik, kerohanian, dan
4 Hasil wawancara dengan Pendeta Robertus Purwadi, 28 Februari 2012. Bandingkan profil sejarah GBI PRJ di http://gbiprj.org/home/page-7-sejarah-gbi-prj.html diakses pada 13 Juni 2014.
57 pelayanan-pelayanan yang lain. Fisik misalnya setiap peralatan dan gedung kita selalu memberikan yang terbaik. Karena prinsip kami mempersembahkan kepada Tuhan itu harus mempersembahkan yang terbaik.”5
Pernyataan di atas memang sangat nampak ketika masuk ke dalam ruangan gereja
ini. Di pintu depan, mereka menugaskan dua orang petugas kemanan (satpam),
seorang polisi berseragam, dan sebuah metal detector yang menyerupai pintu.
Gereja seolah mau menjamin dan meyakinkan umatnya bahwa ruang sakral
tempat mereka beribadah aman dan bebas dari oknum yang tidak
bertanggungjawab. Selain itu, gereja ini juga dilengkapi peralatan multimedia
yang sangat canggih. Di belakang panggung, terdapat sebuah monitor besar yang
membentang sepanjang panggung. Monitor ini bukan layar biasa yang digunakan
untuk menampilkan pantulan dari proyektor, tetapi merupakan monitor LED
besar, yang beroperasi tanpa pantulan proyektor. Panggung pun didekorasi dengan
lampu-lampu yang dapat mendukung aksi para ’artis’ di atas panggung sepanjang ibadah. Sound system ruangan pun dirancang dengan amat sangat baik. Gereja
menggunakan peralatan suara yang terbaik dipadu dengan para profesional sound
engineering yang bertanggung jawab mengoperasikannya. Penempatan speaker
pun tidak terlihat sembarangan, melainkan mengikuti konsep akustika ruangan
sehingga suara yang diproduksi dapat menggema dengan baik dan merata di
seluruh penjuru ruangan. Sofistikasi terhadap peralatan multimedia tampaknya
menjadi hal paling penting yang perlu dilakukan oleh gereja dewasa ini. Tak dapat
dipungkiri bahwa hal ini merupakan sebuah daya tarik bagi jemaat untuk
beribadah di suatu gereja. Gereja yang high-tech, dilengkapi dengan sarana
multimedia dan teknologi informasi yang canggih, cenderung akan menarik
banyak jemaat untuk bergabung.
5
58
Di tempat ini, terlihat jelas bahwa jemaat didominasi oleh jemaat berusia
produktif, yaitu yang berada di bawah usia lima puluh tahun. Dari mayoritas ini,
menurut pengamatan penulis, 50 persennya adalah kaum muda yang berusia di
bawah 30 tahun. Ibadah di tempat ini pun kental sekali dengan nuansa kaum
muda, dengan lagu-lagu bertempo cepat dan dipadu dengan aransemen musik
dinamis yang mengandalkan berbagai macam alat musik yang dimainkan
bersamaan oleh para musisi profesional.
Sama seperti JPCC, gereja ini membentuk sebuah tim musik yang terdiri
dari penyanyi, pemain musik, serta arranger lagu. Mereka ditugaskan menjadi
pemimpin pujian dan penyembahan di tempat ini. Mereka bertugas mengiringi
dan memandu jemaat dalam bernyanyi di setiap hari Minggu. Tim ini dinamakan
Loving God Loving People (LGLP). Tidak hanya itu, mereka juga memproduksi
lagu-lagu rohani populer dan dipublikasi di dalam album-album rohani yang telah
mereka terbitkan sendiri. Lagu-lagu ini tidak hanya didengarkan oleh orang-orang
yang membeli album mereka, tetapi juga dipilih dan dinyanyikan di gereja-gereja
lainnya.
4. Website Gereja: Sarana Informasi dan Persekutuan
Saat ini, hampir semua gereja yang ada di kota besar memiliki website-nya
masing-masing. Website gereja pun beragam jenisnya, dari yang masuk ke dalam
kategori simply-amateur design sampai kepada high-end design. Yang pertama
terlihat lesu dengan tampilan desain seadanya dan isi yang kurang beragam serta
tidak mengalami pembaruan secara berkala (tidak update). Banyak dari isi website
59
informasi lama yang tidak lagi dapat dipercaya kebenarannya. Sebaliknya,
kategori yang kedua terlihat sangat mutakhir dengan desain yang terlihat segar
dan dinamis. Informasi yang terdapat di dalamnya pun selalu menunjukkan
informasi terakhir yang tentu dapat dipercaya bagi siapapun yang mengaksesnya.
JPCC memiliki dua buah website resmi yang mereka kelola. Website
pertama adalah www.jpcc.org yang merupakan website yang berisi informasi
umum tentang gereja ini. Halaman muka dari website ini menunjukkan desain
wallpaper yang menarik, dengan latar lanskap kota Jakarta dengan
gedung-gedung tinggi. Gambar latar ini seolah mau mengatakan bahwa gereja ini adalah
gereja yang eksis di metropolitan Jakarta serta menghidupi gaya hidup metropolis
dalam seluruh kegiatannya. Website ini bebas diakses oleh siapapun, bahkan bagi
pengunjung yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Penyedia website membuat dua
versi bahasa untuk website ini, yaitu dalam Bahasa dan english. Hal yang
mengejutkan bagi penulis adalah tampilan pertama yang muncul ketika masuk ke
website ini adalah tampilan dalam english. Para pengunjung harus meng-klik link
di pojok kanan atas halaman untuk memutasi halaman ke Bahasa. Isi website
kebanyakan adalah informasi tentang JPCC secara normatif, seperti sejarah
terbentuknya gereja, visi dan misi serta nilai-nilai yang dianut oleh gereja, profil
para pendeta yang melayani dan memimpin, jenis-jenis kegiatan gereja, serta
jadwal ibadah minggu. Adapun hal menariknya adalah mereka menyertakan
sebuah halaman bagi para newcomer di website ini, yang isinya adalah ajakan
untuk mengucapkan doa yang berisi pengakuan atas kebaikan Tuhan di dalam
60 Gambar 1: Halaman muka www.jpcc.org diakses tanggal 14 Juni 2014
Gambar 2: Halaman dari www.jpcc.org yang menjelaskan tentang sejarah JPCC. Diakses tanggal 14 Juni 2014
61 Gambar 3: Halaman dari www.jpcc.org khusus bagi pengunjung yang tertarik menjadi Kristen.
Diakses tanggal 14 Juni 2014
Website kedua dari JPCC adalah www.myjpcc.org yang merupakan
website khusus bagi anggota jemaat yang telah terdaftar. Hanya anggota yang
terdaftar saja yang dapat mengakses website ini. Penulis mengakses masuk dengan
menggunakan akun dari seorang teman penulis yang menjadi anggota di gereja
ini. Ketika masuk, pengunjung akan mendapati halaman muka yang menarik dari
segi tampilan dengan berbagai menu yang mengarahkan pengunjung dari satu
halaman ke halaman lainnya. Ada pengalaman yang sangat menarik bagi penulis,
yaitu website ini diciptakan layaknya sebuah halaman media sosial, seperti
Facebook, yang memiliki sifat personal dan interaktif. Di dalamnya, pemilik akun
dapat melihat profil anggota jemaat lain yang tergabung di dalam satu kelompok
sel (cell group) dengan pemilik akun. Selain itu, semua pendaftaran kegiatan
gereja dilakukan melalui website ini. Jika pemilik akun ingin mengikuti sebuah
kegiatan gereja, maka ia cukup meng-klik link yang ada dan secara otomatis ia
akan terdaftar di kegiatan itu. Tetapi, tidak semua kegiatan menyediakan link
62
pendaftaran jika pemilik akun belum memenuhi persyaratan untuk memenuhi
kegiatan itu. Website ini terhubung dengan database JPCC sehingga semua data
profil jemaat secara pribadi dapat ditampilkan disini. Pemilik akun pun akan
dikirimkan pengumuman tentang segala kegiatan yang akan dilangsungkan gereja
oleh administrator website ini. Website ini juga terhubung dengan akun media
sosial pribadi para pemimpin gereja ini, umumnya Instagram dan Twitter. Oleh
karena itu, semua hal yang mereka posting ke dalam akun media sosial ini, secara
otomatis akan diteruskan ke website ini dan ditampilkan dengan menarik.
Mungkin saja perancang website ingin agar setiap pemilik akun di website ini
merasa tetap dekat dengan para pemimpin gereja mereka ketika mereka membuka
akunnya. Selain itu, tampilan seperti ini mengusung sebuah ide dan konsep
website yang baru, yang jauh dari kesan kaku.
Gambar 4: Halaman muka www.myjpcc.org diakses tanggal 14 Juni 2014
Kesan artistik modern dan tidak kaku juga penulis dapatkan dari website
www.glowfc.com yang dimiliki oleh GBI Glow FC. Pada halaman muka,
63
Lumoindong yang ditempelkan di tampilan seputar kegiatan gereja. Dengan
berlatar warna hitam, website ini menyajikan berbagai informasi seputar gereja
ini, mulai dari visi dan misi gereja, sejarah berdirinya, pengakuan iman, sampai
kepada informasi tentang waktu dan tempat ibadah dilengkapi jadwal
pengkhotbah di masing-masing tempat. Selain itu, ada pula info mengenai
program siaran media dari pendeta Gilbert Lumoindong yang disiarkan di
berbagai radio di Indonesia dan stasiun televisi. Selain itu, di dalam website ini
tersedia layanan bagi para pengunjung, seperti permohonan doa, permohonan
untuk konseling, sampai dengan layanan chatting dengan konselor secara
langsung. Selain itu, ada pula layanan streaming, seperti radio streaming dan
video streaming yang menyiarkan secara langsung ibadah yang berlangsung di
gereja melalui internet. Terkait hal streaming, akan penulis jelaskan di dalam
bagian selanjutnya.
Dalam wawancara penulis dengan kepala bagian media dan teknologi
informasi dari gereja ini, bapak Louwrix Simanjuntak, dikatakan bahwa media
diciptakan untuk memuliakan Tuhan. Oleh karena itu gereja sebaik mungkin harus
menggunakan teknologi yang sudah ada, yang merupakan karya Tuhan.6
”Pada saat saya masuk, gereja ini sudah banyak berjalan di bidang demikian. Mereka juga sudah cukup kenal dengan teknologi. Pada dasarnya teknologi ini diciptakan Tuhan untuk memuliakan Tuhan. Banyak orang yang mengatakan bahwa teknologi ini hanya untuk orang dunia (semua kegiatan yang berorientasi di luar pelayanan gereja). Pandangan ini salah. Justru teknologi membantu gereja sehingga gereja dapat menjadi sangat baik. Contoh sederhana saja, dahulu pendeta membawa Alkitab berukuran besar kemana-mana. Sekarang ini mereka hanya cukup membawa gadget mereka. Saat ini ketika orang disuruh mengangkat Alkitab, yang diangkat justru handphonenya. Teknologi bisa membuat segalanya menjadi simple.”
Pemahaman seperti ini sungguh diaplikasikan di dalam gereja seperti ini. Oleh
karena itu, segala bentuk teknologi terbaru pun diaplikasikan oleh pihak gereja.
6 Wawancara dengan Bapak Louwrix Simanjuntak yang merupakan pemimpin divisi IT & Design GBI Glow FC.
64
Sebaliknya, pihak gereja-gereja Protestan mainstream tampak malu-malu untuk
mengapresiasi internet di dalam gereja sampai sejauh ini. Masih terbayang oleh
penulis perkataan seorang pendeta dalam khotbahnya di sebuah gereja
mainstream, yang mengharuskan jemaat yang hadir membawa Alkitab fisik
dengan alasan dapat dibaca dengan lebih baik. Padahal, tetap saja ada jemaat yang
mulai mengandalkan Alkitab online yang dapat diunduh di gadget mereka
masing-masing.
GBI PRJ juga mengembangkan website mereka dengan sangat baik.
Seperti dua gereja sebelumnya, terdapat berbagai macam informasi yang dapat
ditemukan oleh para pengunjung di dalam website gereja ini. Informasi seperti
profil dan sejarah gereja ini, jadwal ibadah, serta jadwal pengkhotbah di setiap
ibadah, dapat ditemukan dengan cukup mudah di halaman muka. Desain yang
modern dan memukau juga membuat orang betah untuk berlama-lama di website
ini. Gereja ini juga memiliki sebuah link untuk melihat video streaming dari
ibadah yang dilangsungkan. Selain itu, mereka juga menyertakan sebuah link yang
akan menghubungkan pengunjung dengan berbagai akun media sosial gereja
sehingga pengunjung tetap dapat meng-update segala kegiatan gereja dari website
65 5. Media Sosial: Eksistensi di Dunia Virtual
Di era komunikasi digital saat ini, memiliki akun media sosial7 yang
berbasis internet bukanlah sebuah pilihan, melainkan telah menjadi sebuah
keharusan. Hampir semua orang yang mengenal internet telah memiliki akun
media sosial. Data yang penulis peroleh dari www.internetworldstats.com
menyebutkan bahwa sampai dengan 31 Maret 2012, pengguna media sosial yang
paling terkenal, Facebook, telah mencapai 835.525.280 pengguna.8 Pengguna
terbanyak berasal dari wilayah Eropa dan Asia yang menguasai 35-40% dari
angka di atas. Data ini diperbaharui secara kasar oleh data statistik yang
diterbitkan oleh Facebook sendiri yang menyebutkan bahwa jumlah pengguna
media sosial raksasa ini sampai 31 Maret 2014 adalah sebanyak 1,28 miliar
pengguna aktif, yaitu kira sepertiga dari total populasi di seluruh dunia.9 Jumlah
yang mencengangkan ini bahkan ditambah dengan jumlah pengguna aktif yang
menggunakan layanan mobile Facebook yang telah mencapai 95% dari total
pengguna aktif, atau sekitar 1,01 miliar pengguna. Tidak berbeda jauh dengan
Facebook, aplikasi media sosial terpopuler lainnya, Twitter, telah menghubungkan
sebanyak 255 juta pengguna aktif di seluruh dunia, dan sebanyak 78%
penggunanya, atau sekitar 199 juta, telah mengaplikasikan Twitter mobile di
gadget mereka masing-masing.10 Bahkan, Twitter mengklaim bahwa setiap hari
ada sekitar 500 juta tweet yang dikirimkan. Angka-angka di atas menunjukkan
7
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai ”sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”. Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial diakses pada 14 Juni 2014.
8 http://www.internetworldstats.com/facebook.htm diakses pada 14 Juni 2014.
9 http://newsroom.fb.com/company-info/ diakses pada 14 Juni 2014
10
66
intensitas penggunaan media sosial Facebook dan Twitter. Keduanya saat ini telah
ada dalam genggaman setiap orang, di manapun dan kapanpun, entah di kantor
atau di sekolah atau di rumah, baik di jalan atau di dalam ruangan, baik siang atau
malam hari. Selain kedua aplikasi di atas, masih banyak lagi aplikasi sosial media
lainnya yang beredar di ranah dunia maya dan membuat setiap orang di seluruh
dunia dapat saling terhubung.
Besarnya jumlah pengguna serta tingginya intensitas dari penggunaan
media sosial berbasis internet ini pun ditangkap sebagai sebuah momentum bagi
gereja untuk ikut terjun menyelam dalam geliat konektivitas antar manusia di
dunia maya ini. Gereja mulai berlomba-lomba untuk membuat akun mediasosial
yang merepresentasikan dirinya kepada jemaat dan dunia luar. Sejalan dengan
doktrin misiologis gereja yaitu berusaha menjangkau semua orang dengan Injil
Yesus Kristus, maka tawaran konektivitas luas yang diberikan oleh media sosial
pun seolah sayang untuk dilewatkan begitu saja.
5. 1. Facebook
Umumnya, sebuah gereja tidak memiliki akun Facebook layaknya
akun personal. Pihak Facebook memfasilitasi organisasi dan perusahaan
untuk membuat Facebook page.11 Page ini nantinya dapat di-follow oleh
semua orang yang memiliki akun personal Facebook. Page berfungsi
sebagai sarana informasi di mana gereja dapat mem-posting segala hal,
11 Hal yang membedakan page dengan akun personal adalah hubungan page dengan akun personal berjalan satu arah. Setiap akun personal yang mengikuti page tertentu akan mendapatkan notifikasi tiap kali page itu melakukan perubahan pada halamannya, entah dengan mengirimkan foto atau mengupdate status. Hal ini tidak berlaku sebaliknya di mana page tidak akan
mendapatkan notifikasi apapun tiap kali akun personal yang mengikutinya melakukan perubahan pada halamannya. Sumber https://www.facebook.com/help/174987089221178 diakses tanggal 14 Juni 2014.
67
umumnya tentang kegiatan yang berlangsung dan yang akan
dilangsungkan oleh gereja. Penulis kerap menemukan posting berupa
gambar dan foto yang sifatnya pengumuman tentang kegiatan yang akan
dilangsungkan oleh gereja. Di dalam foto itu, semua follower page dapat
memberikan komentar ataupun pertanyaan terkait dengan berita yang
di-posting. Pihak gereja, yang diwakili oleh administrator akun, akan
membaca komentar dan membalasnya. Para follower akan saling
membalas komentar atau menjawab pertanyaan. Tidak jarang juga muncul
perbedaan pendapat yang berujung kepada perdebatan antar follower yang
berbeda dan tidak saling kenal. Konstruksi Facebook dan media sosial
sejenis yang terbuka dan mengedepankan konektivitas, telah
memungkinkan terjadinya percakapan antara beberapa oknum yang tidak
saling mengenal.
JPCC memiliki Facebook page dengan followers sebanyak 21.000.
GBI PRJ, berada di bawahnya, dengan followers sebanyak 5.020.
Sedangkan GBI Glow FC memiliki followers yang paling sedikit dari
ketiganya, yaitu hanya sekitar 526. Hal yang menarik adalah tidak semua
followers dari Facebook page gereja-gereja ini adalah anggota gereja ini
atau bergereja di tempat ini setiap minggunya. Menurut keterangan
seorang rekan penulis yang menjadi followers salah satu Facebook page
gereja ini, ia tetap ingin mengetahui info kegiatan di salah satu gereja ini
walau ia tidak bergereja disana. Ia hanya tertarik untuk datang di acara
68
membahas tema tertentu. Dengan cara ini, ia akan mendapat informasi
secara langsung dari page ini tanpa perlu hadir setiap minggunya.
Tidak hanya interaksi antara organisasi gereja dengan umat, di
dalam Facebook kita dapat melihat interaksi religius antara para pemimpin
gereja dengan umatnya. Hampir sebagian besar pemimpin gereja memiliki
akun Facebook. Semakin terkenal seorang pendeta, maka akan semakin
banyak temannya di media sosial ini.12 Pertemanan yang terjalin bisa saja
terjadi antara pemimpin religius dengan jemaat ataupun antar sesama
pemimpin religius. Sayangnya, Facebook hanya mengakomodasi
pertemanan sebuah akun pribadi mencapai 5000 pertemanan, sehingga
jikalau ingin memiliki lebih banyak teman maka seseorang biasanya
membuat akun yang lainnya, yang tentu dengan nama yang sedikit
berbeda.13 Pembatasan ini dimaksudkan agar para pengguna Facebook
dapat memiliki ’teman-teman’ yang eksklusif dan saling mengenal satu sama lain, yang secara aktif berinteraksi dan bukan sekadar hasil dari
mengklik ”add friend” atau ”accept friend request”. Walaupun, 5000 adalah angka yang besar untuk jalinan pertemanan.
Menulis status dan mengkomentari status sepertinya menjadi
aktivitas yang paling utama dari pemilik akun Facebook. Seseorang dapat
menulis segala hal yang ia inginkan, tidak terkecuali. Hal yang umum
ditemukan adalah pemilik akun, bagaikan seorang reporter, menuliskan
12 Kategori ’terkenal’ biasanya identik dengan seberapa sering seorang pendeta tampil di media, baik di media cetak maupun media elektronik. Dalam hal ini, ada kesejajaran antara pendeta terkenal dengan pendeta yang menjadi gembala sidang di sebuah gereja yang besar (megachurch).
13 Misalnya, jikalau penulis membuat akun dengan nama ”Johanes Lengkong”, maka untuk akun yang lainnya harus menggunakan nama akun ”Johanes Lengkong 1” untuk membedakannya dengan akun yang lainnya.
69
berbagai macam hal yang terjadi di sekitarnya pada hari itu, termasuk juga
segala kejadian yang berkaitan dengan pribadinya.
5. 2. Twitter
Selain Facebook, keterlibatan dunia religius di dalam jagat Twitter
pun tidak kalah menarik. Bahkan, menurut pengamatan beberapa waktu
belakangan ini, Twitter justru lebih sering digunakan oleh gereja jika
dibandingkan dengan Facebook. Twitter adalah media sosial dengan
konsep aplikasi yang sederhana namun mudah untuk terkoneksi dengan
lebih banyak orang. Para pengguna akan menuliskan tulisan sepanjang 140