• Tidak ada hasil yang ditemukan

IX. Sistematika Penulisan

1. Dari Simbol Ritual ke Simbol Virtual

Kekristenan, sebagai sebuah kepercayaan, hidup di dalam dunia simbol.

Menurut Eliade, simbol menjadi jembatan antara Yang Kudus dengan yang

profan, antara manusia dengan Pencipta-Nya. Dalam penelitian ini, penulis

melihat pergeseran simbol-simbol di dalam ritual gereja ke dalam simbol-simbol

virtual.

Jika selama ribuan tahun umat Kristen menggunakan sebuah tempat yang

dikhususkan untuk beribadah dan mengalami persekutuan dengan sesamanya,

maka saat ini perjumpaan dapat dilakukan di dalam ruang virtual, ruang maya.

Gereja-gereja saat ini, selain memiliki tempat untuk mengalami perjumpaan

secara riil, juga memiliki ruang virtualnya yang dapat menjadi ruang mahakudus

baru bagi jemaatnya untuk saling bertemu dan merasakan ”hadirat” Tuhan.

Situs internet yang dimiliki dan dioperasikan oleh gereja telah menjadi

rumah (homepage) rohani bagi jemaatnya. Ketika mengakses itu, jemaat dapat

merasakan sukacita yang sesungguhnya, sama ketika mereka datang ke gereja.

Dalam percakapan non formal dan tak terstruktur, penulis bertanya kepada

seorang teman penulis yang merupakan anggota jemaat dari gereja Pentakosta

Karismatik terkait apa yang ia rasakan ketika masuk ke dalam website milik

gereja. Ia mengatakan bahwa perasaan yang berbeda ia dapatkan ketika masuk ke

dalam website milik gereja. Ketika ia masuk ke dalamnya dan melihat isinya, ada

2 Jean Baudrillard, ”Simulacra and Simulations”, dalam Mark Poster (ed.), Jean Baudrillard, Selected Writings, (Stanford: Stanford University Press, 1988), hlm.166-184.

81

perasaan sukacita yang ia rasakan karena ia menemukan informasi yang

menguatkan baginya, entah itu melalui kata-kata yang ditulis oleh pendeta gereja

itu atau dalam konten yang ditulis oleh pengelola situs. Setiap harinya, situs

gereja-gereja pun mendapatkan kunjungan yang cukup banyak. Website GBI

Glow FC dikunjungi kurang lebih sebanyak 500 hingga 700 kali setiap harinya.

Bahkan di hari minggu, jumlah kunjungan dapat mencapai tiga kali lipatnya.

Jikalau jumlah ini terus dijumlahkan selama seminggu, maka jumlah pengunjung

hampir sama dengan jumlah jemaat yang beribadah di hari Minggu di seluruh

cabang GBI Glow FC. Selain itu, rata-rata pengunjung dari website menghabiskan

waktu cukup lama untuk mengeksplorasi isi dari situs ini oleh karena mereka

yakin isinya sangat baik dan dapat menjadi ”berkat” bagi mereka. Selayaknya mengikuti ibadah, mereka keluar dari situs dengan perasaan sukacita.

Tampilan situs yang menarik rupanya juga mempengaruhi ”penampilan” gereja serta ibadah yang dilangsungkan oleh gereja. Tampilan situs yang menarik

berkorelasi dengan kemasan ibadah yang menarik di dalam gereja. Situs dari

ketiga gereja di atas memiliki tampilan yang menarik untuk dipandang, tidak

membosankan, menggunakan format dan layout terbaru yang canggih. Berkaitan

dengan itu, hal yang sama penulis jumpai dalam peribadahan di dalam gereja

masing-masing. Pihak gereja telah menggunakan gambar-gambar yang atraktif

dan menarik untuk digunakan di dalam ibadahnya. Dalam sebuah ibadah,

tampilan multimedia menampilkan potongan dari film ”Passion of The Christ” yang berisi kisah sengsara Yesus Kristus. Tampilan ini ditampilkan di layar untuk

mengiringi jemaat bernyanyi lagu dengan lirik, ”karena kita Dia menderita, karena kita Dia disalibkan” yang membuat jemaat ikut larut dalam kesedihan akibat

82

visualisasi penderitaan Yesus yang ditampilkan itu. Penulis membandingkan hal

ini dengan gereja-gereja lain yang memiliki situs yang kurang atraktif, kaku, dan

datanya tidak sering diperbarui (update). Umumnya, kemasan ibadah di gereja ini

pun kurang begitu menarik serta tidak mengandalkan visualisasi demi mendapat

perhatian jemaat. Akibatnya, gereja-gereja ini tidak memiliki jemaat dalam jumlah

yang besar dalam ibadahnya.

Pergeseran penekanan dari ibadah menjadi ”kemasan” ibadah itulah yang menjadi kritik dari Baudrillard. Simulakrum ibadah yang glamor dengan

visualisasi di seluruh ruangan ibadah telah menjadi konsep ibadah yang

sesungguhnya, melampaui ritus-ritus yang terkandung di dalam ibadah itu sendiri.

Jemaat menganggap bahwa hal ini merupakan ibadah yang baik, yang

sesungguhnya adalah ibadah yang dihiasi oleh gambar-gambar visual,

lampu-lampu sorot berwarna-warni yang berkelap-kelip sepanjang ibadah, sound system

yang meriah, serta kamera yang menyorot dari berbagai sudut dan

menampilkannya ke layar. Gereja yang menyuguhkan tampilan ibadah seperti ini

pun dianggap sebagai gereja yang benar. Sebagian besar umat bahkan tidak lagi

peduli terhadap logika penafsiran ayat-ayat Alkitab yang disampaikan oleh

pengkhotbahnya, yang menurut penulis agak serampangan. Asalkan dia memakai

setelan jas, memegang gadget berbentuk tablet, maka ia akan dianggap sebagai

pengkhotbah yang baik. Umat pun akan berteriak ”amin” sebagai tanda setuju terhadap perkataannya.

83 2. Spiritualitas Online: ’Klik’ sebagai Refleksi dan Doa

Penggunaan internet yang masuk sampai ke ranah peribadahan membuat

umat mampu mengalami perjumpaan dengan Yang Kudus itu melalui internet.

Umat hanya tinggal mengklik dalam satu ketukan jari, maka ritual perjumpaan itu

dapat dilakukan. Di dalam akun media sosial, seperti Facebook dan Twitter, umat

dapat menuliskan refleksinya terhadap banyak hal yang ia jumpai dalam

kehidupannya. Ada begitu banyak tulisan yang di-posting di Facebook dan

Twitter yang isinya merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan. Misalnya, ada

sebuah akun yang menuliskan ”Terimakasih Tuhan untuk berkatmu pada hari ini,

Engkau sungguh baik dalam kehidupan kami”. Atau juga kalimat-kalimat yang

berisi kekuatan seperti ”Dalam menghadapi setiap kesulitan dan permasalahan

hidup ini, Tuhan senantiasa setia menolong dan memampukan kita.” Dalam jejaring pertemanan penulis di media sosial, posting-an ini selalu bermunculan

setiap harinya. Bukan hanya satu atau dua akun, melainkan beberapa akun.

Bahkan, dalam sehari, sebuah akun dapat memposting lebih dari satu kali status

yang mengekspresikan perasaan mereka terhadap apa yang Tuhan lakukan dalam

kehidupan mereka. Geliat spiritualitas baru ini, yaitu spiritualitas online, telah

merebak di hampir seluruh umat Kristen dewasa ini, terutama yang dekat dengan

teknologi. Melalui status Facebook, seseorang dapat menunjukkan refleksi

imannya terhadap Tuhan. Tuhan tidak lagi bersemayam di dalam kerajaan sorga

yang mengawang, tetapi juga di dalam kerajaan global media sosial. Refleksi

terhadap karya Tuhan tidak hanya terdapat dalam teks-teks Kitab Suci ribuan

tahun, tetapi juga halaman-halaman akun media sosial seperti Facebook dan

84

Spiritualitas yang pada mulanya merupakan hubungan tertutup antara

Tuhan dengan umatnya, kini terbuka bagi seluas mungkin orang. Iman yang

tumbuh dan terpelihara dalam ranah privat, kini telah keluar ke dalam ranah

publik. Seorang informan yang penulis tanya, yang merupakan anggota jemaat

dari GBI Glow FC, mengakui bahwa ia merasa terpanggil untuk menuliskan

kata-kata syukur kepada Tuhan di dalam akun Twitter-nya setiap pagi setelah bangun

tidur karena dengan begitu ia yakin bahwa dengan bersyukur, kegiatannya

sepanjang hari akan diberkati Tuhan dan berjalan dengan baik. Selain diberkati

oleh Tuhan, dengan menulis ungkapan syukur itu dalam akunnya, maka ia bisa

memberkati banyak orang lain yang menjadi ’pengikut-pengikutnya’. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk terjadi diskusi singkat mengenai permasalahan

iman Kristen. Status-status ini dapat dikomentari secara langsung oleh orang lain,

entah komentar itu bersifat menguatkan pernyataan iman dari si pemilik akun,

atau justru menyanggahnya dengan pernyataan iman lainnya.