• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agama dan Tradisi Adat Istiadat Masyarakat Dulupi

ETNIK GORONTALO DI DESA DULUPI

2.3. Sistem Religi

2.3.1 Agama dan Tradisi Adat Istiadat Masyarakat Dulupi

Secara umum 99 % masyarakat di Desa Dulupi mayoritas beragama islam, jika ada yang beragama lain seperti agama Kristen, mereka adalah Etnik pendatang. Sebagai masyarakat

48

religius, mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama, khususnya dalam tatanan hari-hari besar agama islam seperti Maulid Nabi Muhamad SAW, Isra Miraj, Hari Raya Idul Fitri dan Idul adha. Tokoh-tokoh masyarakat seperti imam dan warga yang sering aktif dalam kegiatan keagamaan, memiliki kebiasaan melakukan zikir (dikili) Khususnya memasuki bulan suci Ramadhan, Maulid Nabi Muhamad, dan Isra Miraj. Kebiasaan melakukan zikir (dikili) sudah turun temurun dilakukan, Dikilli di mulai jam 8 malam sampai jam 3 Subuh.

Provinsi Gorontalo termasuk ke 9 dari 19 wilayah kesatuan RI yang memiliki hukum adat. Etnik Gorontalo punya falsafah di mana adat bersendikan syariah dan syarah bersendikan alqur’an atau kitabullah. Secara keseluruhan Etnik Gorontalo memiliki adat–budaya yang sama. Adat Gorontalo yang mejadi filosofi bukan sekedar seremoni, dan semua telah diatur dalam tatanan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan sosial kemasyarakatan.

Peran dari adat/pemangku adat ibarat 3 serangkai yang memiliki peran masing-masing yaitu :

1) Lembaga adat-Dewan adat bertanggung jawab terkait dengan adat budaya,

2) Peran Religius/Keagamaan di sebut “Kodhi” dalam hubungannya dengan religius peran Kodi sangat tinggi, Semua urusan yang terkait dengan agama di bawah tanggung jawab Kodi,

3) Pimpinan Pemerintahan disebut Ta’uwa seperti Gubernur, Bupati, Walikota.

Hubungan antara agama, adat dan budaya Etnik Gorontalo memiliki keterikatan yang sulit untuk dipisahkan. Keterkaitan antara adat dan agama dapat dilihat dalam pelaksanaan ritual-ritual adat seperti perkawinan, acara arwah, adat Molubingo, ritual ibu hamil tujuh bulan, mandi lemon, beati

49

(adat untuk anak gadis yang baru pertama haid), dan ritual adat lainnya.

Salah satu aspek sosial budaya yang memiliki dampak positif terhadap perilaku masyarakat di Desa Dulupi yakni nuansa agama/religinya. Suasana Islami di Desa Dulupi dapat tergambarkan lewat kegiatan atau acara memperingati hari-hari besar Agama Islam yang sering dilaksanakan oleh masyarakat seperti yang diutarakan oleh Informan IP selaku Tokoh Agama di Desa Dulupi. Beliau mengutarakan,

Masyarakat disini masih sangat antusias dalam rangka memperingati hari-hari besar agama, masih tetap dilestarikan dari jaman nenek moyang “.

Beberapa kegiatan/acara Islami yang masih turun

temurun dilaksanakan di Desa Dulupi antara lain perayaan Isra Miraj dan Maulid Nabi Muhaman SAW. Etnik Gorontalo adalah salah satu Etnik yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan memelihara adat budaya, tradisi dan adat istiadat yang bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah. Perayaan Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi Muhamad SAW, bagi masyarakat Gorontalo merupakan tradisi budaya Islam lokal yang membedakan bentuk perayaan peringatan Isra’ Mi’raj antara masyarakat Etnik Gorontalo dengan masyarakat Etnik lainnya. Budaya yang terkait dengan kegiatan kegamaan adalah Walima dan Dikili.

1. Walima dalam Perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W Setiap tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Hijriah masyarakat Gorontalo di Desa Dulupi sangat mengenal perayaan Maulid Nabi. Setiap warga ikut dalam kegiatan Maulid Nabi. Di rayakan dengan membuat Walima dan setiap rumah tangga aktif memberikan sumbangan baik dalam bentuk uang maupun makanan. Setiap masjid yang ada di Desa Dulupi semua

50

merayakannya. Satu hari sebelum perayaan Maulid Nabi, para tokoh-tokoh masyarakat seperti iman dan pengurus-pengurus masjid lainnya melakukan zikir bersama atau yang biasa disebut dengan Dikilli (zikir). Warga meramaikan masjid dengan berzikir dimulai setelah isya sampai jam 11 pagi.

Setiap perayaan Maulid Nabi warga di Desa Dulupi bergotong royong untuk merayakan dan menyambutnya biasanya rasa solidaritas itu muncul pada saat hari puncaknya maulid nabi Muhamad SAW. Setiap warga punya kewajiban membawa Walima. Walima adalah makanan berupa kue, telur rebus, nasi ketan campur daging ayam atau ikan, dan makanan tradisional lainnya. Menurut informan ADJ Walima merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi. Setelah hari puncaknya Maulid Nabi, doa zikir dilakukan oleh warga muslin yang datang ke masjid dan para pengunjung dan pezikir mendapatkan Walima.

Walima dalam bahasa Arab yang artinya perayaan oleh

masyarakat Gorontalo umumnya dikenal sebagai wadah yang berisi berbagai jenis kue basah atau kering yang diarak ke masjid pada setiap Maulid Nabi, bahkan di beberapa tempat di Gorontalo walima juga diisi dengan bahan makanan pokok hasil

kebun, ternak dll yang disiapkan apa adanya.

(http://walimagorontalo.blogspot.com/). Bagian-bagian dalam Walima,

a) Tolangga yaitu Bambu, rotan atau kayu yang paten dapat dipergunakan bertahun –tahun, disimpan oleh masyarakat untuk dipakai pada saat perayaan Maulid Nabi.

b) Kertas warna yaitu bahan kertas warna yang digunakan untuk menghiasi bambu, rotan atau kayu pada Tolangga. (hasil observasi di masjid bekas tempat walima dengan warna kertas berwarna biru, putih, merah, kuning.

51

c) Bendera besar sesuai keinginan pemilik walima dengan guntingan berbagai bentuk, dipasang dari ujung walima sampai ke bawah. Bendera kecil warna-warni jumlah tidak tetap tergantung keinginan pemilik walima, diletakkan disetiap sisi tengah walima, bahan bendera terbuat dari kertas atau kain.

d) Kolombengi terbuat dari tepung, gula dan telur. Kue ini dapat ini dapat disimpan berbulan-bulan dan tidak mudah rusak, inilah kue khas Walima.

e) Tusuk Kue terbuat dari bambu untuk tusukan kue kolombengi panjang sesuai ukuran Tolangga.

f) Plastik bening biasanya untuk melindungi kue Kolombengi setelah ditusuk.

g) Lilingo terbuat dari daun kelapa muda dibuat bulat seperti tempat nasi, fungsinya adalah wadah tempat nasi kuning, pisang, ayam bakar/goreng, ikan laut asap, kue basah, dll. h) Makanan berupa nasi kuning, ikan bakar, ayam bakar &

pisang.

Salah satu tokoh masyarakat menggagas kegiatan keagamaan (Tadarus Al-Qur’an) setiap malam Jumat di Dusun Sambati. Kegiatan ini berkaitan erat dengan nuansa religi yang masih sangat kental di dusun. Terbukti dari antusias para ibu dan bapak yang mengikuti kegiatan tersebut, seperti penuturan informan,

“Ada tadarus Al-Qur’an tiap malam Jumat, kalau sudah selesai 30 jus, langsung dihatam. Yang ikut Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak. Selain itu di Dusun kami juga ada kegiatan memperingati hari besar agama Islam, seprti: zikir bersama (modikili) dalam rangka memperingati Maulid Nabi Mohammad S.A.W. yang biasa dibawa macam “Tolangga” begitu. Banyak masyarakat yang mempersiapkan pada saat hari H. Tolangga itu terbuat

52

dari kayu yang diisi dengan makanan (nasi kuning,

bilinthi) dan berbagai macam bentuk kue tradisional. Tolangga dikhususkan untuk para pezikir yang dari

malam berzikir di masjid. Paginya baru masayarakat berdatangan membawa tolangga ke masjid. Ini kebiasaan orang Gorontalo, masih mentradisi sampai dengan sekarang”.

Kegiatan lain yang dilakukan oleh umat Islam di Desa Dulupi di mana setiap hari Jumat di masjid-masjid istilahnya “Jumat Bersih” dalam rangka membersihkan tempat ibadah. Kegiatan ini masih kental dengan gotong-royongnya dalam istilah gorontalo “Mohuyula”. Selain itu kegiatan lain yang bernuansa islami yang masih menjadi tradisi di desa ini pada saat peringatan 10 Muharam. Seperti ungkapan informan TA sbb:

“Kalau di Maulid Nabi membawa walima dalam kegiatan ini yang di bawa adalah “Toyopo” yang terbuat dari daun kelapa muda yang dibuat dengan sedemikian rupa berfungsi sebagai wadah untuk tempat makanan, prosesnya hampir sama dengan peringatan maulid nabi, hanya berbeda setelah dilaksanakannya doa, makanan yang di bawa langsung dimakan bersama dengan Jama’ah yang hadir dalam masjid”.

Pengurus masjid bertugas sebagai imam dan pengurus kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan biasa disebut

ketua ta’ merul seperti mengumukan kerja bakti bersama untuk

kegiatan keagamaan, dan desa, penyambutan Isra miraj, Maulid nabi dan zikir bersama (dikilli).

2. Dikili

Dikili diperdengarkan dalam Bahasa Gorontalo biasanya

dikenal pada saat Maulid dan perayaan Isra Miraj, dalam Bahasa Indonesia lebih kurang artinya adalah zikir. Dikili ini dilagukan

53

dalam irama yang sama oleh banyak orang yang dimulai oleh pemimpin Agama setelah sholat Isya dan berakhir sebelum sholat Dzuhur atau lebih kurang 15 jam. Bagi warga yang mengiktui zikir ini mereka menikmatinya dengan penuh kerinduan dan berdoa semoga Allah dapat memberikan kebaikan dunia akhirat.

Kegiatan perayaan Isra Miraj dan Maulid Nabi dilaksanakan secara tradisional oleh masyarakat Dulupi, khususnya pada acara

dikilli (zikir) bersama, di mana setiap masjid yang ada di Desa

Dulupi memiliki jadwal masing-masing dalam melakukan zikir ini. Jika acara Maulid Nabi dikilli dilakukan sebelum atau satu hari sebelum menjelang perayaan Maulid Nabi. Zikir ini dipandu oleh pengurus-pengurus masjid dan warga lainnya yang sering terlibat dalam acara puncak dikilli. Setiap warga yang mengikuti zikir diberikan sedekah dengan jumlah Rp. 25.000 – Rp. 50.000,- . Pelaksanaan dikilli untuk perayaan Isra Miraj di mulai setelah selesai mengerjakan shalat Isha, dilanjutkan dengan pencerahan agama (tauziah), kemudian zikir bersama, waktunya sampai jam 3 subuh, adapula yang melaksanakan zikir ini sampai pagi. Begitu pula dalam perayaan Maulid Nabi dikilli dilakukan mulai jam 9 malam sampai jam 10 pagi.

Dikili (zikir) dilaksanakan setiap tahun selama menjelang

Maulid Nabi selama satu bulan. Setiap masjid yang ada di Kecamatan Dulupi sudah memiliki jadwal masing-masing untuk melaksanakan zikir. Orang yang menghadiri zikir tersebut biasanya berjumlah 100 sampai 200 orang. Selama berzikir mereka diberi minuman teh dan kue. Setiap warga memiliki naskah panduan zikir yang mereka dapatkan dari guru/imam dulu. Menurut informan WR,

“Bacaan zikir sudah disediakan oleh guru/imam yang dulunya bertugas memandu zikir, zikir dimulai satu hari sebelum Maulid Nabi biasanya jam 10 malam sudah bazikir sampai jam 10 pagi”.

54

Hasil pengamatan kami terhadap buku/naskah panduan zikir, ada perpaduan bacaan zikir dalam bentuk Bahasa Arab dan Bahasa Gorontalo yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Adapula do’a zikir dalam Bahasa Gorontalo, saat kami tanyakan arti doa tersebut, informan tidak mengetahui arti tulisan tersebut karena menurutnya mereka menggunakan Bahasa Gorontalo kuno.

Hampir secara keseluruhan akivitas keagamaan sehari-hari, dari enam dusun yang ada di Desa Dulupi semuanya aktif khususnya dalam pelaksanaan shalat Jumat dan perayaan hari-hari besar agama Islam. Beberapa informan mengatakan zikir selain mendapatkan pahala dan sedekah, adapula yang pernah merasakan sakit karena secara rutin mengikuti zikir ini Seperti penuturan informan ADJ sebagai berikut :

“Saya pernah masuk rumah sakit sering mual, pusing karena sering ikut zikir siang hari malam di masjid, rata-rata kami membawa makanan dari rumah sendiri, yang disediakan di masjid berupa teh dan kue”.