• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekam Jejak Terengi; Riset Ethnografi Kesehatan 2014 BOALEMO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Rekam Jejak Terengi; Riset Ethnografi Kesehatan 2014 BOALEMO"

Copied!
319
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

Rekam Jejak Terengi

N i n g s i

Roland Ngeolima

Sutamin Hamzah

Lestari Handayani

(3)

ii

dan Pemberdayaan Masyarakat Penulis Ningsi Roland Ngeolima Sutamin Hamzah Lestari Handayani Editor Lestari Handayani Desain Cover

Agung Dwi Laksono

Cetakan 1, November 2014 Buku ini diterbitkan atas kerjasama PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN

DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Jl. Indrapura 17 Surabaya

Telp. 031-3528748, Fax. 031-3528749

dan

LEMBAGA PENERBITAN BALITBANGKES (Anggota IKAPI)

Jl. Percetakan Negara 20 Jakarta

Telepon: 021-4261088; Fax: 021-4243933 e mail: [email protected]

ISBN 978-602-1099-07-0

Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis

(4)

iii

Pelaksanaan riset dilakukan oleh tim sesuai Surat Keputusan Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Nomor HK.02.04/1/45/2014, tanggal 3 Januari 2014, dengan susunan tim sebagai berikut:

Pembina : Kepala Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Penanggung Jawab : Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Wakil Penanggung Jawab : Dr. dr. Lestari H., MMed (PH) Ketua Pelaksana : dr. Tri Juni Angkasawati, MSc

Ketua Tim Teknis : dra. Suharmiati, M.Si

Anggota Tim Teknis : drs. Setia Pranata, M.Si

Agung Dwi Laksono, SKM., M.Kes drg. Made Asri Budisuari, M.Kes Sugeng Rahanto, MPH., MPHM dra.Rachmalina S.,MSc. PH drs. Kasno Dihardjo

Aan Kurniawan, S.Ant

Yunita Fitrianti, S.Ant

Syarifah Nuraini, S.Sos Sri Handayani, S.Sos

(5)

iv

dan Kab. Asmat

2. dr. Tri Juni Angkasawati, MSc : Kab. Kaimana dan Kab. Teluk Wondama

3. Sugeng Rahanto, MPH., MPHM : Kab. Aceh Barat, Kab. Kep. Mentawai

4. drs. Kasno Dihardjo : Kab. Lebak, Kab. Musi Banyuasin 5. Gurendro Putro : Kab. Kapuas, Kab. Landak

6. Dr. dr. Lestari Handayani, MMed (PH) : Kab. Kolaka Utara, Kab. Boalemo

7. Dr. drg. Niniek Lely Pratiwi, M.Kes : Kab. Jeneponto, Kab. Mamuju Utara

8. drg. Made Asri Budisuari, M.Kes : Kab. Sarolangun, Kab. Indragiri Hilir

9. dr. Betty Roosihermiatie, MSPH., Ph.D : Kab. Sumba Timur. Kab. Rote Ndao

(6)

v

Mengapa Riset Etnografi Kesehatan 2014 perlu dilakukan ?

Penyelesaian masalah dan situasi status kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih dilandasi dengan pendekatan logika dan rasional, sehingga masalah kesehatan menjadi semakin komplek. Disaat pendekatan rasional yang sudah

mentok dalam menangani masalah kesehatan, maka dirasa perlu

dan penting untuk mengangkat kearifan lokal menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Untuk itulah maka dilakukan Riset Etnografi sebagai salah satu alternatif mengungkap berbagai fakta kehidupan sosial masyarakat terkait kesehatan.

Dengan mempertemukan pandangan rasional dan

indigenous knowledge (kaum humanis) diharapkan akan

menimbulkan kreatifitas dan inovasi untuk mengembangkan cara-cara pemecahan masalah kesehatan masyarakat. Simbiose ini juga dapat menimbulkan rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa kebersamaan (sense of togetherness) dalam menyelesaikan masalah untuk meningkatkan status kesehatan di Indonesia.

Tulisan dalam buku seri ini merupakan bagian dari 20 buku seri hasil Riset Etnografi Kesehatan 2014 yang dilaksanakan di berbagai provinsi di Indonesia. Buku seri ini sangat penting guna menyingkap kembali dan menggali nilai-nilai yang sudah tertimbun agar dapat diuji dan dimanfaatkan bagi peningkatan upaya pelayanan kesehatan dengan memperhatikan kearifan lokal.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh informan, partisipan dan penulis yang berkontribusi dalam penyelesaian buku seri ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan-Kementerian Kesehatan

(7)

vi

dapat tersusun beberapa buku seri dari hasil riset ini.

Surabaya, Nopember 2014 Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI.

(8)

vii KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GRAFIK DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan 1.3. Metode

BAB II ASPEK SOSIAL BUDAYA SUKU GORONTALO DI DESA DULUPI

2.1. Sejarah Desa Dulupi

2.2. Geografi dan Kependudukan 2.2.1. Geografi

2.2.2. Kependudukan dan Keadaan Lingkungan Desa Dulupi 2.2.3. Pola Tempat Tinggal

2.3. Sistem Religi

2.3.1. Agama dan Tradisi Adat Istiadat Masyarakat Dulupi 2.3.2. Adat Molubingo

2.3.3. Organisasi Hui Illomata

2.3.4. Kepercayaan Tradisional Masyarakat Dulupi 2.4. Organisasi Sosial dan Kemasyarakatan

2.4.1. Sistem Sosial dan Sistem Kemasyarakatan 2.4.2. Permasalahan Sosial 2.5. Pengetahuan 2.5.1. Konsep Sehat-Sakit v vii xi xii xiv 1 1 11 12 17 17 23 23 29 38 47 47 54 59 61 73 73 78 83 83

(9)

viii

2.8. Mata Pencaharian Hidup 2.8.1. Kondisi Sosial Ekonomi 2.9 Teknologi dan Peralatan

BAB III POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DULUPI 3.1. Status Kesehatan Ibu dan Anak

3.1.1. Pra Hamil 3.1.2. Masa Kehamilan

3.1.3. Persalinan oleh Bidan dan Hulango 3.1.4. Masa Nifas

3.1.5. Pemberian ASI Eksklusif dan makanan Tambahan untuk Anak

3.1.6. Pantangan dan Cara Orang TuaMenjaga Kesehatan Anak

3.1.7. Penimbangan Bayi dan Balita 3.2. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 3.2.1. CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) 3.2.2. Ketersediaan Jamban dan Fungsinya 3.2.3. Ketersediaan Air Bersih

3.2.4. Tidak Merokok di Dalam Rumah 3.2.5. Pemberantasan Jentik nyamuk 3.3. Budaya Kesehatan Masyarakat Dulupi 3.3.1. Huyula dalam Cermin Kesehatan 3.3.2. Kepercayaan Datangnya Sakit 3.3.3. Tradisi Mongambu Manusia 3.3.4. Sehat untuk Semua

3.4. Ancaman Penyakit Bagi Masyarakat 3.4.1. Kusta 3.4.2. Malaria 3.4.3. TB (Tuberculosis) 97 97 108 115 115 115 115 127 137 140 146 148 151 151 153 157 160 164 165 165 168 172 173 175 175 179 188

(10)

ix Behavior)

BAB IV REKAM JEJAK TERENGI DI DESA DULUPI 4.1. Sekilas Tentang Terengi

4.2. Jejak Kasus TB Paru di Desa Dulupi 4.3. Tenaga Kesehatan TB

4.4. Peran Tenaga Kesehatan Menangani Program TB di Puskesmas Dulupi

4.5. Alat Kesehatan yang Tersedia di Laboratorium TB 4.6. Rumah Penderita TB paru

4.7. Sanitasi Rumah Penderita TB Paru 4.8. Interaksi Sosial Penderita TB Paru

4.9. Terengi atau Penyakit TB Paru Menurut Penderita 4.9.1. Pengetahuan dan Perilaku Penderita TB Paru 4.9.2. Kata Hati Penderita TB Paru

4.9.3. Perilaku Penderita TB Paru

4.9.4. Penderita TB Paru Mendambakan Kesembuhan 4.10. Peran PMO (Pengawas Minum Obat)

4.11. Pengetahuan Tentang Penyebab TB Paru 4.11.1. Akibat Kerja Berat

4.11.2. Perokok dan Mantan Perokok 4.12. Cara Pencegahan

4.13. Pola Pengobatan di Puskesmas Dulupi

4.13.1. Kisah Mantan Penderita TB Paru yang Dinyatakan Sembuh

4.14. Pola Pengobatan Dengan Cara Swamedikasi 4.15. Pengobatan Tradisional TB Paru (Terengi)

4.15.1. Peran dan Promosi Dukun terhadap Pengobatan Tradisonal 201 201 203 206 208 209 210 213 216 221 223 229 231 236 239 241 243 244 246 248 254 257 260 262

(11)

x BAB V KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan 5.2. Saran INDEKS GLOSARIUM DAFTAR PUSTAKA 279 279 282 285 291 299

(12)

xi

Tabel 2.1. Nama-nama Camat yang Pernah Menjabat di Kecamatan Dulupi

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Masing-masing Dusun di Desa Dulupi

Tabel 2.3. Luas Lahan di Wilayah Desa Dulupi

Tabel 3.1. Data Malaria di Wilayah Puskesmas Dulupi Tahun 2013-2014

Tabel 3.2. Temuan Jenis Parasit Berdasarkan Desa Tahun 2013-2014 (tri-1)

Tabel 3.3. Jumlah Fasilitas Kesehatan di Wilayah Puskesmas Dulupi

Tabel 4.1. Data Kasus TB Paru Tahun 2012

Tabel 4.2. Jumlah Penderita di Desa Dulupi Tahun 2013

28 32 98 183 184 192 204 206

(13)

xii

Grafik 3.1 . Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Tahun 2013

Grafik 3.2. Cakupan Persalinan oleh Dukun Tahun 2013

128 133

(14)

xiii

Gambar 2.1. Nama-nama Mantan Pemimpin Kampung/ Desa Dulupi, Tahun 1864 sampai dengan Tahun 2013 Gambar 2.2. Jembatan Peninggalan Belanda di Wilayah

Kecamatan Dulupi

Gambar 2.3. Peta Provinsi Gorontalo

Gambar 2.4. Peta Wilayah Kabupaten Boalemo Gambar 2.5. Peta Desa Dulupi

Gambar 2.6. Tugu sebagai Tempat Interaksi Sosial Masyarakat

Gambar 2.7. Tempat Mandi Warga pada Umumnya di Dusun Batupotong-Langge-Sambati

Gambar 2.8. Sarana MCK dan Air Minum di Dusun Langge Gambar 2.9. Bangunan Poskesdes di Dusun Batupotong

yang Belum Difungsikan

Gambar 2.10. Rumah dengan Sebutan Rumah Surabaya Gambar 2.11. Bentuk Rumah Huruf A.

Gambar 2.12. Ritual Mopolihu Lo Limu

Gambar 2.13. Bahan Adat Mopolihu lo Limau dan

Molubingo

Gambar 2.14. Alat yang Digunakan Saat Ritual Dayango Gambar 2.15. Bahan yang Digunakan Saat Ritual Dayango

untuk Mengobati Pasien yang Sakit Gambar 2.16. Huyula pada Saat di Kebun Gambar 2.17. Alat Pertanian Kopra

Gambar 2.18. Buah Kelapa Siap Dijadikan Kopra Gambar 2.19. Lahan Jagung Warga Saat Musim Tanam Gambar 2.20. Merk Racun Rumput yang Digunakan Petani

Jagung 19 20 25 25 27 31 35 36 38 40 41 56 57 65 66 80 101 101 103 104

(15)

xiv

untuk Menumbuk Rempah-rempah) Gambar 2.23. Roda (Gerobak Sapi)

Gambar 3.1. Ramuan Adat Tubolo dan Persiapan Ritualnya Gambar 3.2. Ritual Adat Tubolo

Gambar 3.3. Model Timbangan Saat Kegiatan Posyandu Gambar 3.4. Sarana MCK Warga di Desa Dulupi

Gambar 3.5. Sungai sebagai Tempat MCK Warga di Dusun Langge

Gambar 3.6. Sungai, Air Sumur (Alli), Air Hujan, Sumber Air Bersih Warga Dulupi

Gambar 3.7. Haulalahe Jenis Rokok Tradisional Para Orang Tua (Pria) di Desa Dulupi

Gambar 3.8. Akses Jalan di Dusun Sambati dan Langge Gambar 3.9. Salah Seorang Penderita Kusta

Gambar 4.1. Wadah, Slide Dahak dan Beberapa Botol Cairan yang Ada di Ruangan Lab. TB Puskesmas Dulupi.

Gambar 4.2. Tipe Rumah dan Kondisi Kamar Tidur Penderita TB Paru

Gambar 4.3. Tipe Rumah Papan dan Lampu Botol sebagai Alat Penerang Malam Hari

Gambar 4.4. Kondisi Rumah Penderita TB Paru.

Gambar 4.5. Tipe Rumah Permanen Penderita TB Paru Saling Berdekatan

Gambar 4.6. Aktivitas Penderita TB Paru Saat Dikunjungi Gambar 4.7. Petugas Puskesmas Memberikan Pelayanan di

Puskesmas Dulupi

Gambar 40. Daun Bohito dan Tembakau di Pasar Dulupi Gambar 41. Penderita TB Merokok dengan Daun Bilalahe

(Enau) 111 124 132 150 154 156 159 161 167 177 210 211 212 215 216 219 222 245 245

(16)

xv

Nama, Umur Penderita dan Kartu Indentitas Pasien TB

Gambar 43. Obat-obat Warung yang Sering Dibeli Masyarakat

Gambar 44. Obat-obat yang Dijual Bebas di Pasar

258 259

(17)
(18)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sektor kesehatan merupakan salah satu elemen penting yang mendasari kemajuan pembangunan suatu bangsa. Ditinjau dari segala aspek, peran kesehatan menjadi penentu keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan bahkan menjadi investasi yang tidak ternilai harganya. Cita-cita UUD 1945 untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Indonesia tentunya akan tercapai jika seluruh penduduknya sehat, baik secara fisik, mental sosial sehingga mampu dan produktif (Dinkes Provinsi Gorontalo , 2013).

Kesehatan sangat berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang merupakan salah satu upaya untuk mengatasi berbagai masalah. Kesehatan merupakan faktor yang memberikan konstribusi terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menyatakan IPM tinggi apabila masyarakat mempunyai status kesehatan yang baik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat keberhasilan kemajuan pembangunan kualitas hidup manusia dalam suatu daerah. Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, digunakan beberapa indikator yang mencerminkan kondisi mortalitas (kematian), status gizi dan morbiditas (kesakitan). Derajat kesehatan di Indonesia digambarkan melalui angka mortalitas, terdiri atas angka kematian bayi (AKB), angka kematian balita (AKABA), dan angka

(19)

2

kematian ibu (AKI), angka morbiditas, angka kesakitan beberapa penyakit serta status gizi balita dan dewasa (Profil Dinkes Kab Bolaemo, 2013).

Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Survei Demografi Indonesia (SDKI) 2012 memberikan data bahwa AKI 359 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 32 per 1000 kelahiran hidup. Berdasar kesepakatan global MDGs (Millenium Development Goal) tahun 2000, diharapkan tahun 2015 terjadi penurunan AKI menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup. Berbagai upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dilakukan untuk mengatasi perbedaan yang sangat besar antara AKI dan AKB di Negara maju dan di negara berkembang seperti Indonesia.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat menentukan kesehatan individu. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 provinsi dengan persentase tertinggi rumah tangga yang menggunakan fasilitas buang air besar milik sendiri adalah Riau sebesar (84,3%), Lampung (80,4%), dan Kepulauan Bangka Belitung (79,0%), sedangkan terendah adalah Provinsi Gorontalo (32,1%), Kalimantan Tengah (49,4 %), dan Maluku Utara (49,6 %) (Kemenkes, 2011).

Salah satu hal yang terkait dengan PHBS adalah perilaku pembuangan kotoran (feaces dan urine) yang tidak pada tempatnya. Buang Air Besar (BAB) disembarang tempat sangatlah berbahaya, karena akan memudahkan penyebaran penyakit baik lewat udara, air dan lalat.

Situasi derajat kesehatan masyarakat di Provinsi Gorontalo tahun 2012 masih belum mencapai target yang diharapkan, terbukti angka kematian ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA) masih tinggi dan status gizi masyarakat yang rendah. Penyebab tingginya indikator

(20)

3

utama bidang kesehatan tersebut sangat beragam, seperti faktor dari individu, lingkungan masyarakat, ekonomi, sosial budaya maupun program-program pemerintah yang ditujukan untuk masyarakat (Profil Dinkes Provinsi Gorontalo, 2013).

Berdasarkan rangking Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) tahun 2007, kabupaten yang memiliki IPKM rendah berada di Kabupaten Boalemo yaitu urutan 411 kategori (KaA) masuk dalam urutan 10 dari 20 kabupaten di Indonesia. Namun tahun 2009 IPM Provinsi Gorontalo mengalami peningkatan yaitu 69,79% (2009) dan tahun 2010 meningkat 70,28%.

Human Development Index (HDI) adalah ukuran

keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa yang dilihat dari parameter pembangunan ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang berarti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tinggi dapat dicapai apabila masyarakat mempunyai status ekonomi, kesehatan dan pendidikan yang baik. Kesehatan merupakan faktor penentu dalam pencapaian IPM karena kesehatan merupakan faktor yang memberikan konstribusi besar sehingga lemahnya sektor kesehatan berakibat terhadap peningkatan atau penurunan capaian IPM di Provinsi Gorontalo maupun Indonesia (Profil Dinkes Prov Gorontalo, 2013).

Masih tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, balita, kejadian penyakit menular dan tidak menular serta status kurang gizi menjadi indikator atau gambaran bahwa sesunggunnya derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Boalemo masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan angka kesakitan (mortalitas) AKB (angka kematian bayi) sebelum mencapai usia 1 tahun di Kabupaten Boalemo tahun 2011 adalah 18,7/1000 kelahiran hidup, kemudian meningkat di tahun 2012 adalah 31,3/1000 kelahiran hidup. Ini menunjukan angka kematian bayi meningkat pada tahun sebelumnya, sedangkan

(21)

4

target MDGS tahun 2015 di mana AKB sebesar 17/1000 kelahiran hidup (Profil Dinkes Kab Boalemo, 2013).

Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun pada tahun 2012 adalah 3,5/1000 kelahiran hidup atau 9 balita mati dari 2.556 kelahiran hidup. Target MDGS 2012 adalah 10/1000 kelahiran hidup. Jumlah kematian bayi 965 bayi, anak balita 9 orang dan balita 89 orang. Angka kematian yang dilaporkan belum dapat menggambarkan AKB/AKABA yang sebenarnya dari populasi (Profil Dinkes Kabupaten Boalemo).

Kematian Ibu sepanjang tahun 2011 ada 9 kematian, begitu pula tahun 2012 ada 4 kematian dari 2.556 kelahiran hidup (AKI 157/100.000 kelahiran hidup). Target Indonesia tahun 2012 adalah 118/100.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukan bahwa AKI di Kabupaten Boalemo mengalami penurunan yang signifikan. Jumlah kematian ibu tertinggi berada di wilayah Puskesmas Dulupi dengan penyebab pendarahan dan infeksi.

Selain AKI, AKB dan AKABA yang masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Boalemo, penyakit menular ikut berperan dalam menurunkan derajat kesehatan masyarakat di Indoensia. Salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian dan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia maupun diberbagai belahan dunia adalah Tuberkulosis (TBC) paru.

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang

kejadiannya paling tinggi dijumpai di India sebanyak 1,5 juta orang, urutan kedua di Cina 2 juta orang dan di Indonesia urutan ketiga dengan penderita 583.000 orang. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang di kenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis. Penularan penyakit ini melalui perantaraan ludah atau dahak penderita yang mengandung basil tuberculosis paru. Tingkat prevalensi penderita TBC di Indonesi diperkirakan sebesar 289

(22)

5

per 100 ribu penduduk dan insidensi sebesar 189 per 100.000 penduduk dan insidensi sebesar 189 per 100.000 penduduk, bahkan 27 dari 1.000 penduduk terancam meninggal (http//gejalapenyakit tuberculosis.com).

Penyakit TBC mulai merebak dan meluas setelah tahun 1985, saat HIV/AIDS mulai dikenal dan diketahui menyebar di masyarakat. HIV/AIDS adalah penyakit yang mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah terserang penyakit dan tidak mampu melawan kuman yang jinak sekalipun. Kuman yang biasanya menjadi sahabat manusia pun dapat berbalik menjadi musuh pada orang yang terinfeksi HIV/ AIDS. TBC juga lebih mudah menyerang orang dengan kekebalan tubuh lemah lainnya, seperti penyandang diabetes, lansia, bayi dan anak-anak. Penderita penyakit kronik, kanker, minum obat-obatan steroid atau pencegah reaksi transplantasi, dan kekurangan gizi (malnutrisi) juga rentan tertular. Pada orang-orang ini, kontak lama dan dekat dengan penderita TBC dapat segera membuat mereka tertular dan biasanya lebih sulit diobati.

Prevalensi nasional Tuberkulosis Paru (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan responden) adalah 0,99%. Sebanyak 17 Provinsi mempunyai prevelansi nasional yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Di Yogyakarta, Banten, Nusa Tenggara Barat, NTT, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua. (MediaKom, Edisi XV, Desember, 2008)

Hasil survei Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) menggambarkan kasus TB paru yang terdeteksi secara nasional tahun 2012 periode Juni di Provinsi Gorontalo menduduki peringkat 3 dengan presentase 43,40. Sedangkan menurut Indikator Sehat 2010 mengharapkan angka kesembuhan TB Paru tahun 2010-2015 mencapai 85%. Persentase TB Paru sembuh

(23)

6

pada tahun 2012 Provinsi Gorontalo mencapai 868 kasus atau sebanyak 63,36%. Angka Penemuan Kasus meskipun sempat mengalami fluktuasi, tapi sejak tahun 2009 angka penemuan kasus baru TB BTA + terus meningkat tahun 2011 dari angka 79,6% menjadi 84,5% (Profil Dinkes Prov Gorontalo, 2013).

Kabupaten Boalemo merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki kasus TB Paru cukup tinggi dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di wilayah Provinsi Gorontalo. Berdasarkan profil Dinkes Provinsi Gorontalo tahun 2012 menunjukkan, kasus TB Paru di Kabupaten Boalemo baik kasus baru dan lama berjumlah 431 orang atau 326,3/100.000 penduduk yang tersebar di 11 wilayah Puskesmas, salah satunya adalah wilayah Puskesmas Dulupi.

Jumlah kasus TB Paru berada di wilayah Puskesmas Dulupi tahun 2012 prevalensi 197/100.000 penduduk atau 15 penderita. Jumlah kasus di wilayah Puskesmas Dulupi lebih sedikit dibanding dengan Wilayah Puskesmas Paguyaman 67 penderita atau 438/100.000 penduduk, namun wilayah Puskesmas Dulupi masih cukup bermasalah kesehatan baik AKI, AKB, AKABA, penyakit menular dan penyakit tidak menular lainnya.

Penelitian etnografi kesehatan terkait dengan AKI, AKB dan AKABA telah dilakukan di Kabupaten Pohuwato tahun 2012. Hasil penelitian di Kabupaten Pohuwato desa Imbodu

menunjukkan masih banyaknya masyarakat melakukan

pengobatan ke Hulango (dukun) yang sangat dipecaya dalam menyembuhkan penyakit serta ibu hamil lebih percaya pada

Hulango baik dalam hal perawatan selama kehamilan sampai

proses persalinan (Srihandayani dkk, 2012).

Wilayah Puskesmas Dulupi dipilih berdasarkan data dan informasi dari penentu kebijakan kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo, di mana kasus penyakit menular masih cukup tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat

(24)

7

di Kabupaten Boalemo. Selain itu, masih kurangnya data terkait dengan budaya/tradisi menyangkut perilaku, kepercayaan dan pengetahuan yang dapat mempengaruhi status kesehatan individu/masyarakat khususnya penyakit menular seperti tuberculosis, hal ini sangat menarik untuk di analisis dan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan program kesehatan dalam memberantas penyakit menular di wilayah Kabupaten Boalemo.

Semakin disadari bahwa budaya tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi status kesehatan masyarakat, karena itu riset tentang budaya kesehatan masyarakat dalam upaya peningkatan status kesehatan sangatlah penting untuk dilakukan. Konsekuensi logis harus disadari bahwa keanekaragamannya budaya yang ada di wilayah Indonesia memerlukan pemahaman yang cermat untuk setiap daerah dengan etnis yang ada di wilayah tersebut. Pemahaman budaya secara spesifik, dengan menggali kearifan lokal akan dapat digunakan sebagai strategi upaya kesehatan dengan tepat secara lokal spesifik.

Masalah kesehatan tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat di mana mereka berada. Faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab-akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan pengetahuan tentang kesehatan, dapat membawa dampak positif maupun negatif terhadap kesehatan. Faktor tersebut merupakan potensi dan kendala yang perlu digali.

Penelitian terkait dengan kejadian tuberkulosis masih sangat jarang dilakukan khususnya menyangkut budaya masyarakat terkait dengan penyakit ini. Selain penyakit menular seperti TB paru, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara holistik aspek sejarah, geografis, dan sosial budaya terkait dengan kesehatan masyarakat.

(25)

8

Kearifan lokal masyarakat yang masih menjadi budaya merupakan fenomena tersendiri yang belum termakan arus modernisasi saat ini. Budaya masyarakat yang menjadi ciri khas pola kehidupan, dan yang telah menjadi tradisi turun temurun, memiliki potensi yang besar untuk mempengaruhi kesehatan baik dari sisi negatif maupun positif. Memahami status kesehatan masyarakat berdasarkan budaya merupakan salah satu upaya meningkatkan status kesehatan itu sendiri.

Dapat dikatakan bahwa kebudayaan dapat

mempengaruhi seluruh pola hidup manusia khususnya terkait dengan kesehatan dan penyakit. Goodenough (Casson, 1981) mengemukakan kebudayaan adalah suatu sistem kognitif- suatu sistem yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berada dalam pikiran anggota-anggota individual masyarakat. Kebudayaan menurut pandangan ini berada dalam tatanan kenyataan ideasional atau kebudayaan merupakan perlengkapan mental yang oleh anggota-anggota masyarakat dipergunakan dalam proses orientasi, transaksi, pertemuan, perumusan gagasan, penggolongan, dan penafsiran perilaku sosial nyata dalam masyarakat (Kalangie , 1993).

Dalam setiap masyarakat etnik dapat dijumpai tiga sistem atau sumber pelayanan atau perawatan kesehatan, yaitu sistem keprofesionalan, sistem tradisional atau keprametraan, dan sistem kerumahtanggaan. Dalam konteks Indonesia, sistem profesional adalah pelayanan dan perawatan kesehatan melalui pranata-pranata medis modern yang ditangani oleh dokter dan paramedik, sedangkan keprametraan diberikan oleh praktisi-praktisi medis tradisional dengan berpegang pada kepercayaan, pengetahuan, serta praktek pencegahan dari penyakit serta pengobatan yang diperoleh dalam pewarisan tradisi dari generasi ke generasi dalam bentuk-bentuk personalitik atau naturalistik, atau kedua-duanya (Kalangie N., 1993).

(26)

9

Dalam perawatan kesehatan rumah tangga khusus masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan, masih mengandalkan pengobatan tradisional, adapula perawatan kesehatan dengan membeli obat secara bebas di apotek, kios atau warung. Kenyataan menunjukkan beberapa kelompok masyarakat menggabungkan dua metode pengobatan baik secara medis modern dan tradisional.

Pada masa lalu, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan masih belum berkembang, sehingga kebudayaan memaksa masyarakat untuk menggunakan teknik pengobatan tradisional, dalam menyembuhkan penyakit ataupun menjaga kesehatan, meskipun belum ada yang dapat membuktikan apakah pengobatan tradisional tersebut dapat menyembuhkan penyakit. Unsur-unsur dalam pengobatan tradisional tentunya di pengaruhi oleh kebudayaan suatu masyarakat itu.

Selain itu pula masalah kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut dua aspek utama. Pertama adalah aspek fisik, seperti tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit, sedangkan aspek kedua adalah aspek non-fisik yang menyangkut perilaku kesehatan. Faktor perilaku mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat (Sarwono, 2004).

Perlunya memahami konsep akan budaya masyarakat terkait dengan kesehatan dan penyakit. Sehat tidak sekedar dilihat dari aspek penampilan fisik, fisiologis, fungsi sosial, akan tetapi juga aspek yang dapat memberikan pengaruh pada kondisi kesehatan individu seperti pengetahuan, sikap, persepsi dan perilaku masyarakat yang dikondisikan dengan pola budaya yang sangat perlu untuk diketahui, dan bagaimana upaya-upaya masyarakat dalam pencegahan penyakit (Boedihartono dalam Masinambow, 1997).

(27)

10

Kemudian, harus disadari bahwa individu dari kelompok masyarakat berbeda dapat mengganggap dirinya sehat sekalipun sebenarnya tidak sehat, atau sebaliknya dapat menganggap dirinya sakit sekalipun sebenarnya hasil pemeriksaan kedokteran sama sekali tidak sakit. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan konsep hidup masyarakat yang berbeda, sehingga tidak mengherankan jika ada anggota masyarakat yang teridentifikasi penyakit masih dapat bergerak dan menjalankan aktivitas sosialnya tanpa merasa sakit, sedangkan dipihak masyarakat lain, ataupun petugas kesehatan, dianggap sebagai beban yang memerlukan penanganan cepat. Perbedaan terjadi karena sakit dan sehat adalah konsep yang diciptakan oleh masyarakat dan tidak lepas dari persepsi masyarakat yang dikondisikan oleh kebudayaan dan pola perilaku yang dipelajari (Boedihartono, 1997).

Kenyataan yang ada pada masyarakat di Desa Dulupi Kabupaten Boalemo terkait dengan kesehatan adalah, keadaan ekonomi dan kepercayaan tradisional dalam hal pengobatan menjadi hal yang paling dominan dan merupakan salah satu kendala dalam pengambilan keputusan terhadap perawatan kesehatan, khususnya perawatan dengan menggunakan fasilitas kesehatan. Dapat dianalogikan “ yang mampu bertindak cepat,

sementara yang kurang mampu bertindak lambat, yang mampu segera bergerak dan yang kurang mampu bergerak segera”. Dengan analogi ini membuktikan bahwa faktor ekonomi sangat berpengaruh terhadap status kesehatan individu/masyarakat.

Salah satu faktor penting yang merupakan permasalahan dalam pencapaian sasaran program kesehatan yaitu kebijakan kesehatan yang masih dalam level kuratif (pengobatan). Kondisi ini sangat bertentangan dengan paradigma sehat yang lebih mengutamakan terbangunnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, sehingga upaya peningkatan status

(28)

11

kesehatan lebih ditujukan untuk peningkatan promotif dan preventif. Upaya ini perlu dikedepankan melihat masih banyak

masyarakat yang belum memiliki pengetahuan yang

komprehensif mengenai pola hidup yang sehat, pencegahan penyakit maupun menghindari risiko kematian yang disebabkan oleh kesehatan.

Ditinjau dari segala aspek, peran kesehatan menjadi penentu keberhasilan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan bahkan menjadi investasi yang tidak ternilai harganya. Cita-cita UUD 1945 untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyat Indonesia tentunya akan tercapai jika seluruh penduduknya sehat, baik secara fisik, mental sosial sehingga mampu dan produktif. Tujuan dan cita-cita pemerintah bisa bertepuk sebelah tangan, tidak seiring dengan apa yang terjadi di kalangan masyarakat yang masih memegang nilai-nilai dan kepercayaan tradisional dalam menjaga kesehatan dan penyembuhan penyakit (Profil Dinkes Prov. Gorontalo, 2013).

Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat mengkaji aspek sosial budaya masyarakat di Desa Dulupi terkait dengan kejadian TB Paru, serta dapat memberikan masukan kepada penentu kebijakan kesehatan baik di tingkat pusat maupun di daerah. Pelayanan kesehatan bukan hanya menyangkut kuratif, promotif dan preventif, melainkan lebih memahami apa yang menjadi keinginan dan kendala yang sering dihadapi masyarakat sehingga enggan untuk menggunakan pelayanan fasilitas kesehatan.

1.2. Tujuan

Buku ini bertujuan untuk menggambarkan secara holistik aspek sosial budaya terkait kesehatan masyarakat. Gambaran secara menyeluruh tentang aspek kesehatan masyarakat seperti

(29)

12

data tentang kesehatan ibu dan anak, PHBS, penyakit menular dan tidak menular, dan aspek sosial budaya lainnya terkait dengan sejarah, geogarfi, kepercayaan, pengetahuan masyarakat ditampilkan, sedangkan permasalahan TB Paru menjadi fokus pendalaman kajian pada masyarakat di Desa Dulupi Kabupaten Boalemo.

1.3. Metode

Riset Etnografi Kesehatan (REK) dilakukan di Desa Dulupi

Kecamatan Dulupi Kabupaten Boalemo Propinsi Gorontalo, selama dua bulan yaitu pada bulan Mei sampai Juli tahun 2014. Penentuan Kabupaten Boalemo sebagai lokasi penelitian berdasarkan hasil analisis data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2007) yang menunjukan IPKM di Kabupaten Boalemo urutan ke 10 dari 20 Kabupaten di Indonesia, dengan kategori kabupaten bermasalah kesehatan miskin (KaA) dengan rangking IPKM 411.

Dasar Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan data kasus penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Boalemo yaitu dipilih kasus TB Paru di Wilayah Puskesmas Dulupi Desa Dulupi. Serta beberapa masalah kesehatan lainnya seperti kesehatan ibu dan anak, PHBS dan penyakit tidak menular, yang semuanya akan digambarkan secara keseluruhan dalam buku ini.

Riset ini didisain sebagai riset khusus kesehatan nasional denga disain eksploratif dengan metode etnografi. Dalam metode etnografi, peneliti langsung terjun ke lapangan mencari data melalui informan. Menurut Spradley (1997) etnografi adalah suatu kebudayaan yang mempelajari kebudayaan lain, etnografi merupakan suatu bangunan pengetahuan yang meliputi teknik penelitian, teori etnografi dan berbagai macam deskriptif kebudayaan. Etnografi berulangkali bermakna untuk membangun

(30)

13

suatu pengertian yang sistematik mengenai semua kebudayaan manusia dan perspektif orang yang telah mempelajari kebudayaan itu. Tujuan utama etnografi adalah memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli, sebagaimana pandangan Malinowski (1922) dalam Spradley 1997, bahwa tujuan etnografi adalah memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya.

Sesuai dengan permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, yakni deskripsi tentang aspek sosial budaya terkait dengan masalah kesehatan masyarakat khsususnya terkait dengan TB Paru, maka penelitian ini dirancang sebagai penelitian kualitatif etnografi. Pemaparan data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk narasi dan sistematis mengenai fakta-fakta yang ditemukan selama penelitian berlangsung.

Data dikumpulkan sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian melalui pengamatan dan wawancara mendalam. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat di Desa Dulupi. Teknik pengambilan secara Purpossive Sampling yaitu sengaja memilih informan yang dianggap dapat memberikan informasi mengenai keadaan sosial budaya dan gambaran terkait dengan permasalahan kesehatan masyarakat.

Warga desa adalah sasaran pengamatan dan wawancara mendalam dilakukan terhadap informan yang terdiri dari remaja, ibu rumah tangga yang sedang atau pernah hamil dan bersalin, suami, anggota keluarga lainnya. Pengamatan dan wawancara mendalam juga dilakukan pada penderita atau mantan penderita yang pernah didiagnosis TB Paru dan informan terkait dengan penyakit menular lainnya serta penyakit tidak menular lainnya.

Gambaran tentang pola pencarian pengobatan juga ditampilkan sehingga sasaran pengamatan juga dilakukan terhadappetugas kesehatan Puskesmas dan jaringannya,

(31)

14

pengobat tradisional seperti dukun atau pengobatan alternatif lainnya, dan pengobatan sendiri yang dilakukan di tingkat rumah tangga.

Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, kades (kepala desa), kadus (kepala dusun) serta masyarakat biasa yang dapat memberikan informasi baik budaya maupun kesehatan masyarakat pada umumya merupakan bagian dari sosial masyarakat yang diamati di Desa Dulupi.

Pengamatan atau observasi dilakukan untuk memperoleh

gambaran secara utuh dan menyeluruh tentang aspek sosial budaya terkait dengan kondisi geografi, kebiasaan/pola hidup masyarakat, dan fenomena kesehatan masyarakat. Pengamatan di lingkungan sekitar pemukiman warga melengkapi kegiatan observasi.

Wawancara mendalam (indepth Interview) dilakukan dengan tujuan menjaring data tentang pendapat dan pandangan informan terkait dengan permasalahan dan tujuan penelitian. Wawancara dilakukan menggunakan pedoman pengumpulan data riset etnografi kesehatan. Dilakukan pencatatan hasil wawancara dan merekam suara informan.

Kajian pustaka atau bahan dokumen lain dilakukan guna memperkaya dan memperluas wawasan dan pengetahuan peneliti tentang objek atau masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini. Kajian pustaka atau dokumen lainnya di peroleh dari bahan bacaan atau referensi dan profil Dinkes Kabupaten Boalemo dan Puskesmas Dulupi, serta gambar atau foto hasil pemotretan dan pengambilan video yang diperoleh di lokasi penelitian

Semua data yang dikumpulkan mempunyai nilai penting. Data yang berhasil dikumpulkan baik data primer dan sekunder selama penelitian ini berlangsung, dianalisis dengan

(32)

15

menggunakan teknik kualitatif deksriptif. Penelitian ini bersifat kualitatif, sehingga tidak dilakukan pengujian hipotesis

(33)
(34)

17

BAB 2

ASPEK SOSIAL BUDAYA

ETNIK GORONTALO DI DESA DULUPI

2.1. Sejarah Desa Dulupi

Pada zaman dahulu sebelum Hindia Belanda, Desa Dulupi belum mempunyai nama yang resmi, karena waktu itu wilayah ini masih diselubungi oleh hutan dan pohon-pohonan. Di dalam hutan tersebut terdapat macam-macam pohon yang disebut

pohon mangiti yang getahnya dapat digunakan sebagai air tinta

atau tinta jaman dahulu.

Menurut kisah dan sejarah, terbentuknya Desa Dulupi sekitar tahun 1782, berawal dari datangnya orang-orang dari Boalemo Sulawesi Tengah yakni keturunan Raja Hurumani yang asalnya dari daerah Duluwo Limo Lopohalaa, yang sekarang ini disebut Dua Lima Pohalaa Gorontalo. Pada waktu itu Raja Hurumani tidak mendapat tempat atau kedudukan di Duluwo Limo Lopohalaa Gorontalo yang saat ini termasuk dalam kampung Tenda seperti Suwawa Bulano, Huwango Botu, Tenilo dan Sabua. Melihat hal ini raja Hurumani merantau dan pindah ke Boalemo dengan menggunakan perahu kecil. Setelah beberapa tahun lamanya di Boalemo maka raja Hurumani kawin dengan seorang wanita yang bernama Nurumani dan dikaruniai beberapa orang anak yang diantaranya adalah Palowa.

Nama Boalemo berasal dari sebuah lemon yang hanyut dan terdampar di salah satu tempat, yang buahnya sangat harum

(35)

18

maka raja Hurumani berangkat bersama anaknya dengan maksud mencari pohon lemon dengan menggunakan perahu. Dalam pencarian sekian lama mereka melihat sebuah pantai yang sangat indah sehingga tergugah hati mereka untuk singgah pertama kali di daratan, ternyata pantai itu adalah pantai Dulupi yang saat ini berada di dusun Batu Potong.

Perjalanan yang jauh membuat Raja Hurunami dan anaknya, berniat untuk sementara tinggal beberapa lama di tempat pemukiman pinggiran pantai tersebut. Akhirnya daerah tersebut dibuka dan makin lama makin diperluas, sehingga disebut dengan Dulu Pilih (kampung pilihan raja). Menelusuri asalnya buah lemon maka raja Hurumani meneruskan perjalanan ke Tilambuta (Tilamuta) dan Tulo-Tulo (Tutulo). Pohon lemon yang di telusuri ternyata ditemukan mulai dari Tangkobu sampai dengan Salilama (Mananggu).

Pada tahun 1820 raja Palowa (anak Hurumani) memperluas daerahnya ke Tabongo, Paria, Bualo, Olingia, Dulupi Hulu dan sebahagian Pangi serta menentukan pertengahan wilayahnya yaitu Olingia Kotaraja. Pada tahun 1864 terbentuklah pemerintahan yang diakui oleh masyarakat dan perkampungan tersebut dipimpin oleh Tahele Matowa. Beliau mulai mengatur penghidupan orang terutama dibidang tanah, pertanian dan kepercayaan.

Menjelang pemerintahan Jepang sekitar tahun 1942 sampai 1945, pada waktu itu Jepang kalah, mulai tersiarlah nama

Duluh Pilih lalu diperbaiki menjadi Dulupi. Wilayah Dulupi duku

sangat luas, maka desa-desa lain seperti Olingia Kotaraja, Dulupi Hulu yang sekarang disebut Polohungo dan Pangi terpisah dengan Desa Dulupi.

Sebagai bukti nyata adalah sebuah jembatan peninggalan Belanda yang menghubungkan antara Dulupi Kotara dan Polohungo. Nama jembatan tersebut adalah Hulude Seni. Pada

(36)

19

tahun 1936 muluslah pemerintahan di kampung Dulupi dan tahun 1974 kampung ini menjadi sebuah desa dengan nama Dulupi (Sumber: Arsip desa dan hasil wawancara dengan toma setempat).

Nama-nama mantan kepala desa dan masa jabatannya tertera dalam gambar yang ditampilkan di bawah ini.

Gambar 2.1.

Nama-nama mantan pemimpin kampung/Desa Dulupi, mulai tahun 1864-2013 sekarang

Sumber: Arsip Desa

Salah satu peninggalan Belanda yang memiliki sejarah adalah sebuah Jembatan yang terletak di dekat jalan trans yang menghubungkan antara desa Polohungo dengan Kotaraja, Tabongo dan Desa Dulupi.

(37)

20

Gambar 2.2.

Jembatan Peninggalan Belanda di Wilayah Kecamatan Dulupi Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sejarah merupakan hal yang sangat penting untuk diketahui, menurut Boas, kehidupan yang tampak pada suatu masyarakat, adalah sebagai akibat di masa lalu telah terjadi suatu peristiwa tertentu yang mungkin tak terduga, dengan kata lain bahwa pemahaman atas suatu kebudayaan hanya dipahami sebagai suatu perkembangan dalam sejarah. Penjelasan rangkaian peristiwa unik dan keterkaitan dengan kondisi suatu kebudayaan pada masa kini, diperlukan interferensi suatu teori. Dapat dibayangkan, alangkah sukarnya merekonstruksi suatu peristiwa unik di masa lalu tanpa ada bahan dokumen yang menceritakan suatu interaksi spesifik seseorang dalam masyarakatnya di masa lalu (Poerwanto, 2000).

(38)

21

Masing-masing dusun yang ada di Desa Dulupi memiliki sejarah. Ada enam (6) dusun yang memiliki cerita berbeda-beda seperti diuraikan sebagai berikut.

Dusun satu (1) adalah dusun Jambura yaitu, bermula dari

adanya sebuah pohon jambura yang sifatnya angker, secara kebetulan tumbuh di sebuah rawa kecil dekat sebuah lapangan sepak bola bernama lapangan jambura. Sehingga orang-orang tua dulu yang tinggal di dusun Jambura menamakannya Dusun Jambura. Kepala kampung yang pertama menjabat di dusun ini adalah bapak Abdulah Hamsah yang menjabat mulai tahun 1920 sampai dengan tahun 1960. Kebiasan yang sering dilakukan oleh warga dusun Jambura sampai saat ini adalah kegiatan kerja bakti setiap hari jumat.

Dusun dua (2) adalah dusun Teratai yang nama awalnya

bernama Malahu. Karena orang-orang tua dulu atau tokoh-tokoh masyarakat di dusun tersebut mengatakan bahwa Malahu bukan dari bahasa Indonesia, kemudian pada tahun 1961-1962 diganti dalam bahasa Indonesia dengan sebutan Teratai, yang berasal dari salah satu danau yang banyak ditumbuhi bunga Teratai.

Dusun tiga (3) adalah dusun Sambati, terletak ± 5 Km dari

arah desa induk Dulupi, dapat ditempuh ± 30 menit dengan menggunakan sepeda motor melalui jalan bebatuan tidak beraspal. Dusun sambati merupakan dusun ke 3 yang letaknya paling jauh dari dusun-dusun lainnya yang ada di Desa Dulupi. Sambati yang artinya “tempatku” dari data yang kami dapatkan bahwa dusun Sambati menurut cerita orang tua dulu adalah tempat tinggalnya Lati Moohe (setan yang paling ganas). Konon dulunya dusun Sambati merupakan hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar sebagai tempat warga untuk mencari kayu bakar, namun ada pula yang membuka lahan pertanian. Menurut informan RK bahwa saat mengambil kayu, warga selalu dihantui dengan setan penjaga hutan. Ada

(39)

22

kepercayaan bahwa dalam hutan ada penjaganya atau disebut dengan mahluk halus. Tahun 1961 namanya diganti menjadi Sambatiu atau tempat tinggalku. Selanjutnya berubah nama menjadi Sambati. Dulunya nama seorang kepala dusun atau pemimpin desa di sebut jegugu.

Dusun empat (4) adalah dusun Batu Potong, dusun yang

sangat dekat dari areal pantai dan letaknya cukup dekat dari arah desa induk Desa Dulupi. Menurut sejarahnya dulunya ada sebuah batu yang menghalangi aliran air sungai, kemudian masyarakat membongkar batu tersebut, sehingga jalan air bisa terbuka. Menurut sejarah dulunya dusun batu potong dihuni oleh orang Mangginano artinya orang jahat yang suka membunuh orang yang melewati kawasan itu, sehingga ada warga yang meninggal bernama Oli Haji.

Kemudian tahun 1960 muncul seorang yang bernama Timbi Dai, datang untuk mengusir orang Mangginano. Sebelum Timbi Dai meninggal, beliau berpesan jika mati nanti agar dikubur di gunung Batu Potong yang ada kaitan dengan Oli Haji. Gunung tersebut berada di kawasan dusun Langge. Beliau dikuburkan di kaki gunung, akan tetapi tujuh hari setelah dimakamkan, kuburan Timbi Dai tersebut sudah berpindah berada di atas gunung Haidu Bandera artinya gunung bendera. Warga Dulupi kemudian menyebutnya dengan kuburan Aulia yang dianggap keramat. Penamaan tersebut timbul terkait adanya cerita bahwa kuburan tiba-tiba pindah sendiri tanpa ada yang memindahkan.

Masih ada warga yang percaya bahwa kuburan Aulia dapat mendatangkan kebaikan. Jika kampung mereka kena musibah, maka mereka akan menziarahi kuburan tersebut. Seiring dengan waktu, kebiasaan tersebut lambat laun mulai berkurang, karena warga mulai menyadari bahwa apa yang mereka lakukan dapat mendatangkan kesyirikan kepada Tuhan.

(40)

23

Sampai saat ini Kuburan Aulia tersebut masih dianggap angker sehingga ditandai dengan sebuah bendera.

Dusun lima (5) adalah dusun Langge, menurut sejarahnya

dusun Langge berasal dari salah satu nama seorang kakek atau biasa disebut dengan opa, yang kebiasaan hari-harinya bekerja sebagai petani sagu dan meramu sagu. Dulunya dusun Langge banyak sekali ditumbuhi pohon sagu, maka secara spontan opa tersebut dipanggil dengan sebutan opa sagu atau biasa disebut dengan labia, seperti juga sebutan nama salah satu sungai di dusun Langge yaitu Sungai Labia. Selain itu menurut informan RL bahwa dulunya dusun Langge banyak sekali ditumbuhi pohon nangka hingga sampai sekarang menyebutnya dengan Langge artinya nangka. Kepala dusun yang pertama menjabat adalah bapak Marice Nasaru pada tahun 1971.

Dulunya warga dusun Langge hanya menggunakan lampu botol (Tohe Butulu), namun sejak awal tahun 2013 sudah menggunakan lampu listrik PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya). Penduduk harus membayar biaya listrik sesuai kesepakatan dengan setoran iuran perbulan untuk setiap rumah yang menggunakan PLTS sebesar Rp. 15.000,-.

Dusun enam (6) adalah dusun Huwata, salah satu dusun

yang dekat dari areal pantai. Dusun ini merupakan pecahan dusun Jambura. Huwata dalam bahasa Gorontalo, berarti tempat tambatan perahu/tempat bersandarnya perahu.

2.2. Geografi dan Kependudukan 2.2.1 Geografi

Kabupaten Boalemo dibentuk pada tanggal 12 Oktober 1999 dengan ibu kota Tilamuta, merupakan kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Gorontalo. Pada waktu diresmikan sebagai kabupaten yang mandiri, Kabupaten Boalemo terdiri atas

(41)

24

5 kecamatan yaitu Marisa, Paguat, Paguyaman dan Popayato dan Tilamuta, dengan 95 desa dan luas 6.761,67 km2. Jumlah penduduk adalah 190.279 jiwa pada tahun 1999, dengan tingkat kepadatan pendududuk 28,14 jiwa/km2 (id.wikipedia.org/wiki/ kabupatenBoalemo).

Pada tahun 2001 beberapa kecamatan di Kabupaten Boalemo dimekarkan sehingga jumlah kecamatan yang semula hanya 5, kini menjadi 10 kecamatan dengan tambahan 5 kecamatan baru yaitu Dulupi (pecahan dari Tilamuta), Lemito (pecahan dari Popayato), Mananggu (pecahan dari Paguat), Randangan (pecahan dari Marisa) dan Wonosari (pecahan dari Paguyaman). Pada tahun 2003 Kabupaten Boalemo dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu, Boalemo dengan ibu kota Tilamuta (induk) dan Pohuwato dengan ibu kota Marisa (hasil pemekaran). Lima kecamatan yaitu Dulupi, Mananggu, Paguyaman, Paguyaman Pantai, Tilamuta dan Wonosari masuk dalam wilayah Kabupaten Boalemo. Sedangan lima kecamatan lainnya yaitu Lemito, Marisa, Paguat, Popayato dan Randangan masuk dalam wilayah Kabupaten Pohuwato.

Akibat pemekaran tahun 2003, Kabupaten Boalemo yang semula mencakup wilayah dengan luas 6.761,67 km2, menciut menjadi 2.517,36 km2. Kabupaten Boalemo memiliki 7 kecamatan yaitu Botumoito dengan ibukota Tutulo, Dulupi dengan ibukota Dulupi, Mananggu dengan ibukota Tabulo, Paguyaman, Paguyaman Pantai dan Tilamuta sebagai Ibukota Kabupaten (mydulupi.wordpress.com.kab-Boalemo).

Keadaan geografis Kabupaten Bolemo terdiri dari daerah pegunungan, pertanian dan pesisir pantai. Kabupaten Boalemo terletak 0,27-1,01 Lintang Utara dan 121,23-122,44 Bujur Timur dengan batas-batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, sebelah Timur masih berbatasan dengan Kabupaten Gorontalo, sebelah selatan berbatasan dengan Teluk

(42)

25

Tomini, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pohuwato. http://www.depnakertrans.go.id/microsite/KTM/uploads/PAWO NSARI.pdf).

Gambar 2.3. Peta Provinsi Gorontalo Sumber: www.gorontaloprov.go.id

Gambar 2.4.

Peta wilayah Kabupaten Boalemo Sumber: www.boalemokab.go.id

(43)

26

Berdasarkan status hutan, wilayah Kabupaten Bolaemo terdiri atas hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan kawasan areal penggunaan lain.

Dengan adanya transmigran di Kabupaten Boalemo menjadikan jumlah penduduk terus mengalami peningkatan, seperti Etnik Jawa dan Bali yang berada di Kecamatan Paguyaman dan Wonosari. Program pemerintah daerah Kabupaten Boalemo yang saat ini dipadukan dengan pengembangan kawasan transmigran diantaranya adalah :

1) Pengembangan agropolitan berbasis jagung

2) Pengembangan tanaman jarak sebagai bahan baku biodiesel

3) Reboisasi hutan sebagai daerah resapan untuk mengganti pemanfaatan kayu dan pembanfaatn sumber daya alam secara optimal

4) Peningkatan kemampuan petani agar memiliki daya saing berproduksi dengan memanfaatkan potensi pertanian 5) Intensifikasi dan ekstensifikasi areal persawahan dengan

memanfaatkan pengairan dari irigasi Paguyaman.

Salah satu kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Boalemo adalah Kecamatan Dulupi, terbagi menjadi 8 desa dengan ibukota kecamatan berada di Desa Dulupi. Masing-masing wilayah administrasi terbagi-bagi menjadi beberapa wilayah administrasi yaitu dusun. Status hukum semua desa di Dulupi sudah tergolong desa definitif. Desa-desa yang merupakan bagian dari kecamatan Dulupi adalah Desa Dulupi, Pangi, Tangga Jaya, Polohungo, Kotaraja, Tabongo, Tanah Putih, dan Tangga Barito. Desa yang sangat berdekatan dengan Desa Dulupi adalah desa Tabongo dan Kotaraja. Ibukota Kecamatan Dulupi menuju ke Desa Dulupi dapat dicapai melalui transportasi darat baik dari arah ibu kota Provinsi Gorontalo maupun dari ibu kota

(44)

27

Kabupaten Boalemo- Tilamuta, dengan jarak ± 160 km dari arah kota Gorontalo dan ± 40 km dari arah kota Tilamuta. Perjalanan dari arah kota Gorontalo menuju Desa Dulupi bisa ditempuh dengan waktu 4 jam, sedangkan dari ibukota kabupaten Boalemo Tilamuta dapat ditempuh dengan waktu 50 menit.

Posisi Desa Dulupi sebagai lokasi penelitian tidak akan nampak dari kawasan jalan trans Sulawesi. Letak Desa Dulupi berada pada bagian dalam dekat pada kawasan pantai dan areal pegunungan. Jarak Desa Dulupi dari jalan trans Sulawesi ± 10 km, desa pertama yang akan dilewati sebelum memasuki Desa Dulupi adalah Desa Kotaraja dan Desa Tabongo. Di bawah ini adalah gambar peta Desa Dulupi.

Sebutan pemimpin yang sementara menjabat ataupun mantan pejabat disebut dengan Ayahanda, dan istri seorang pemimpin atau mantan pemimpin desa disebut dengan Bunda. Peran ayahanda dan bundaria memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan desa. Mereka sangat disegani dan dihormati oleh warga. Setiap kegiatan terkait dengan pembangunan atau aktifitas sosial desa selalu melibatkan peran dari ayahanda.

Gambar 2.5. Peta Desa Dulupi

(45)

28

Berikut daftar nama mantan camat yang pernah menjabat di Kecamatan Dulupi. Berikut nama-nama camat yang pernah menjabat di Kecamatan Dulupi.

Tabel 2.1. Nama-nama Camat yang Pernah Menjabat di Kecamatan Dulupi

Nama Lama Bertugas

1. Mahyudin Ahmad, SP 31 Desember 2001/01 Mei 2003 2. Sumardi Kamumu 02 Mei 2003 / 19 April 2005 3. Abu Bakar Nahu 20 April 2005 /30 Maret 2006 4. Abdul Wahid Lahuo 01 April 2006 / 01 April 2007 5. Mursalin Saidi 02 April 2007 / 01 Mei 2008 6. Nurdin Jaini. S.Pd 02 Mei 2008 / 01 Januari 2010 7. Drs. Hidayat Lamsu 02 Januari 2010 / 7 Maret 2012 8. Dorci Pauweni S. Sos 08 Maret 2012 / 31 Desember 2013 9. Abd Mutalib Mursai, S.Pd 01 Januari 2014 / sekarang

Sumber: Profil Kecamatan Dulupi 2013

Luas wilayah Kecamatan Dulupi secara keseluruhan adalah 326,3 km2, jika dibandingkan dengan wilayah Kabupaten Boalemo luas wilayah kecamatan ini sebesar 14,18%. Wilayah Kecamatan Dulupi memiliki topografi yang bervariasi. Ketinggian rata-rata wilayah adalah 101 m di atas permukaan laut (BPS Kab. Bualemo Tahun 2013).

Luas wilayah Desa Dulupi adalah 41,77 km dengan ketinggian 15 m di atas permukaan laut. Sebagian dusun-dusun yang masuk dalam wilayah Desa Dulupi berada dekat dari areal pegunungan seperti Dusun Langge dan Sambati, sedangkan Dusun Teratai, Huwatta, Batupotong dan Jambura dekat areal pinggiran pantai.

Suhu Kecamatan Dulupi bisa dikategorikan sama dengan wilayah Kecamatan Paguyaman Pantai dan Wonosari. Kategori

(46)

29

iklim Oldeman tipe E1, curah hujan rata-rata tahunan 1.508 mm, curah hujan rata-rata bulanan 160,50 mm, suhu harian rata-rata 26,50 C, suhu maksimum 27,10 C (bulan Juni), suhu minimum 25,80 C (bulan Desember-Januari), kelembaban minimum 75,9% (www.selayang pandang. kab Boalemo).

2.2.2. Kependudukan dan Keadaan Lingkungan Desa Dulupi

Awal cerita Desa Dulupi dimulai dari 150 tahun yang lalu pada waktu itu masih “oayuwa” (hutan belantara), rimbun dan warna hijaunya pohon yang melintang luas di desa kecil ini, penghuninya masih dapat dihitung dengan jari. Setiap kehidupan terus berputar mengikuti perkembangan jaman, namun adat dan budaya masyarakatnya masih belum berubah. Kekayaan alam masih nampak dan jarang tersentuh dengan keragaman modernisasi disaat sekarang ini, terbayang desa ini dahulu kala tentunya nampak asri nan indah.

Perjalanan menuju Desa Dulupi dari arah Kota Gorontalo dapat ditempuh selama ± 3 jam 20 menit dengan jarak tempuh ± 160 Km melalui jalan Trans Sulawesi. Antrian kendaraan yang panjang sepanjang 20 km lebih menjadi perhatian peneliti, dengan kondisi jalan yang rusak, berdebu akibat perbaikan, pelebaran jalur sisi kiri dan kanan bahu jalan.

Sesampai di ibu kota Kabupaten Boalemo maka yang akan kita akan melihat jembatan dengan konstruksi besi meruncing menjulang tinggi yang di bagian atas bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Boalemo”, menyambut setiap kendaraan yang melewatinya. Sebutan khas untuk Kabupaten Boalemo adalah “kota idaman” yang merupakan slogan Kabupaten Boalemo, singkatan dari Indah, Damai, Amanah, Mandiri, Agamis dan Nyaman. Udara kota Boalemo terasa panas di bulan Mei-Juli 2014 saat penelitian dilaksanakan.

(47)

30

Mobil angkutan umum dalam kota tampak hilir mudik mengangkut penumpang. Tepat di persimpangan jalan yang ditandai dengan papan arah penunjuk jalan ke Kecamatan Dulupi mulai terdengar suara dari Sopir yang memberitahukan bahwa “Bolo Ngopee ma maso to kambungu Dulupi” (Tinggal dekat masuk di Desa Dulupi). Keberadaan mobil asing menjadi perhatian beberapa warga yang sedang duduk di degu-degu (tempat duduk depan rumah) disertai percakapan kecil diantara mereka.

Memasuki wilayah Desa Dulupi kita akan menjumpai pertama adalah desa Kotaraja, Tabongo, dengan kondisi jalan yang berbelok-berbelok beraspal dan sedikit jalan yang rusak berlubang, akibat seringnya hujan di wilayah tersebut. Di setiap pinggiran jalan menuju desa ini akan nampak terlihat kebun jagung dan kelapa serta rumah-rumah warga tepat di pinggiran jalan. Tidak banyak kendaraan yang lewat hanya ada satu dua sepeda motor dan bentor (becak motor), banyaknya pepohonan dan jarak rumah penduduk yang letaknya berjauhan membuat pemandangan begitu hijau dipandang mata, kendaraan tradisional pedati/roda yang menggunakan tenaga sapi masih digunakan oleh segelintir warga untuk memuat hasil bumi mereka.

Desa yang di kenal dengan sebuah tempat yang di sebut

“Sudut Indah”, dan tepat di desa Induk Dulupi akan kita jumpai

Tugu yang berada di tengah-tengah jalan perempatan desa. Di sekitar Tugu biasanya digunakan warga untuk berkumpul khususnya anak-anak muda. Di sisi kanan jalan terdapat satu bangunan Poskamling tepat di jalan perempatan Desa Dulupi. Poskamling dan tugu sebagai tempat persinggahan dan dilakukannya interaksi sosial antar sesama masyarakat yang berada di tempat itu.

(48)

31

Gambar 2.6.

Tugu sebagai Tempat Interaksi Sosial Masyarakat Sumber: Dokumentasi Peneliti

Jumlah penduduk Kecamatan Dulupi tahun 2013 adalah 16.620 jiwa, terdiri dari laki-laki 8.409 jiwa dan perempuan 8.211 jiwa. Rasio jenis kelamin penduduk Kecamatan Dulupi adalah 102, berarti bahwa untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 102 penduduk laki-laki, atau dapat dikatakan jumlah penduduk wanita di Dulupi lebih sedikit daripada jumlah penduduk laki-laki. Kepadatan penduduk terbanyak berada di Desa Tanah Putih dengan 110 orang per km2. Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terkecil adalah Desa Tangga Barito yaitu hanya 26 orang per km2 .

Berdasarkan data BPS Kabupaten Boalemo jumlah penduduk Desa Dulupi tahun 2013 adalah 3.849 jiwa, terdiri dari laki-laki 1893 jiwa dan perempuan 1956 jiwa. Jumlah KK (kepala keluarga) 1.191 dengan jumlah rumah 847 buah dalam bentuk rumah permanen, semi permanen, dan sebagian pula rumah

(49)

32

warga terbuat dari papan kayu. Berikut tabel dari jumlah penduduk di masing-masing dusun di Desa Dulupi.

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Masing-Masing Dusun di Desa Dulupi

Sumber: Kantor Desa Dulupi

Dari Tabel 2.2 nampak dusun yang terbanyak penduduknya adalah Dusun Batupotong dengan jumlah penduduk 1024 jiwa dengan jumlah 345 KK (kepala keluarga). Tahun ke tahun kondisi pemukiman warga mulai berubah, Desa Dulupi yang dulunya ditutupi oleh hutan dan perkebunan ladang tradisional (allengi) sudah berubah. Kondisi saat ini telah banyak warga yang tinggal di Desa Dulupi, ada juga pendatang yang sudah cukup lama tinggal di desa ini. Rumah penduduk tertata rapi berada tepat di pinggiran jalan, dan jika kita ke arah Dusun Langge dan Sambati akan kita jumpai beberapa lahan perkebunan warga seperti jagung dan kelapa. Hal itu diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat ABJ sebagai berikut :

“Dulu sebelum ada jalan sekarang ini jalan ke Dulupi masih hutan, kalau mo (mau) ke Tilamuta harus jalan kaki biasa juga naik kuda atau sapi, baru lewat koala (sungai) sampai berapa kali penyeberangan, ada juga Desa Dusun Jumlah

Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Jmh KK Jumlah Rumah L P Dulupi I (Teratai) 657 283 374 233 205 II (Jambura) 799 391 408 235 193 III (Sambati) 526 280 246 143 107 IV (Batu Potong) 1024 506 518 345 165 V (Langge) 425 222 203 117 82 VI (Huata) 418 211 207 118 95 Jumlah 3849 1893 1956 1191 847

(50)

33 yang naik perahu, rumah-rumah waktu jaman dulu berjauhan yang ada hanya hutan dengan kebunnya orang, dulu masih rumah panggung, pake atap ombullo (atap dari daun nibong), daunnya lebar kalau ada acara pesta cuma itu yang dipake ba atap, habis ombullo baru pindah di atap dari daun kelapa orang sini bilang

watoppo”.

Ungkapan informan bisa menjadi salah satu contoh bahwa setiap desa memiliki sejarah dan lambat laun berkembang mengikuti jamannya dan secara administrasi akan berubah. Budaya setiap masyarakat tidak pernah bersifat statis semua

masyarakat/kebudayaan mempunyai dinamika (berubah).

Perubahan terjadi karena adanya interaksi sosial dan interaksi sosial terjadi karena adanya kontak sosial dan komunikasi. Perubahan sosial dan budaya akan mengalami dinamika mengikuti pola pengetahuan masyarakat tentang apa yang dilihat dirasakan dan di amati, dan secara lambat laun kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan berubah.

Desa Dulupi terdiri dari 6 dusun yaitu Dusun Sambati, Langge, Jambura, Huatta, Batupotong dan Teratai. Dusun yang dekat dari areal pantai adalah Dusun Batupotong, Teratai, Jambura dan Huatta, sedangkan dusun yang dekat dengan areal perkebunan dan pegunungan adalah dusun Langge dan Sambati.

Klasifikasi kondisi fisik bangunan rumah masyarakat di Desa Dulupi umumnya permanen ada pula yang semi permanen. Rata-rata penduduk sudah memiliki sarana MCK (mandi cuci kakus) di rumah masing-masing, namun beberapa dusun yang ada di wilayah Desa Dulupi seperti Dusun Langge, Sambati dan Batupotong sebagian besar warganya tidak mempunyai jamban keluarga. Beberapa sarana MCK telah dibangun melalui dana PNPM (program nasional pemberdayaan masyarakat) tahun 2010, namun masih banyak masyarakat yang mempunyai

(51)

34

kebiasaan mandi, mencuci dan buang air besar di sungai. Hasil observasi seperti di Dusun Batupotong, ada sarana MCK namun tidak layak lagi digunakan karena keadaan WC umum tersebut tidak terawat kebersihannya dengan baik, sehingga banyak warga di dusun Batupotong mengambil alternatif lain dengan istilah “WC putar” artinya buang air besar dipinggir pantai sambil pindah-pindah tempat. Beberapa kutipan hasil wawancara dengan beberapa informan di Dusun Batupotong, dusun yang dekat dari areal pantai sebagai berikut :

“Ada wc dibelakang rumah, cuman tidak ta urus baku harap bakase bersih, tapi torang semua jaga berak disitu, kalau antrian baru lari ka pinggir pantai, biasa orang bilang sini wc putar,he,,,he,,he, kalau untuk mandi disumur, so ada juga air PAM”.

“WC putar itu maksudnya pindah-pindah kalau beol dipinggir pantai, kalau waktu BAB pagi dengan siang BAB di dalam plastik baru plastiknya sambil diputar-putar baru dibuang ke laut, sengaja di buang supaya orang tidak lihat”.

Berikut penuturan informan HRY sebagai berikut:

“Torang pe tampa berak cuman di pinggir laut di bawah pohon bakau, soalnya WC umum kotor, biasa orang berak dorang tidak siram, kalau berak siang digaruk pasirnya ditutup dengan pasir itu kotoran, kalau malam tidak ada karena sudah terbawa air laut, kalau mo cebo

pigi di sumur milik tetangga, tidak bacebo dengan air

laut, juga sumur sini rasanya asin jadi cuma mo pake mandi dengan bacuci”.

Salah satu tempat mandi dan mencuci (cebok) setelah selesai BAB (buang air besar)warga dusun Batupotong, adalah pinggiran pantai sebagai alernatif untuk buang air besar seperti tampak pada gambar 2.7.

(52)

35

Gambar 2.7.

Tempat Mandi Warga pada Umumnya di Dusun Batupotong -Langge-Sambati Sumber: Dokumentasi Peneliti

Berbagai macam cerita beberapa informan yang tinggal di Dusun Batupotong tentang perilaku masyarakat. Sebagian warga yang lebih senang BAB (buang air besar) di pinggiran pantai, adapula yang BAB di WC umum, dan jika WC nya kotor ataupun antrian lama mereka lari ke pinggiran pantai. Beberapa sumur warga khususnya yang sangat dekat dari pinggiran pantai airnya sangat asin, meskipun asin ada beberapa informan yang masih tetap menggunakannya. Selain itu warga yang tinggal di Dusun Langge memiliki kebiasaan mandi mencuci, buang air besar di sungai dan mengambil air pada sumur kecil yang biasa disebut dengan Alli. Berikut gambar aktifitas warga di dusun Langge saat mandi di sungai.

Sejak tahun 2013 beberapa rumah warga di dusun Batupotong sudah mendapatkan air dari sumber air PAM, namun tidak keseluruhan rumah warga terpasang kran air tergantung pemesanan warga. Adapula sistem patungan antar tetangga atau

(53)

36

kerabat, jika salah satu kerabat dekat rumah yang memasang kran air PAM sedangkan rumah disampingnya tidak memasang, maka dalam sistem pembayaran dibagi dua. Setiap pemakaian 10 kubik air PAM biasanya dibayar dengan harga Rp. 38.000,- jika 30 kubik dengan harga Rp. 70.000,-. Kebiasaan warga di Dusun Batupotong, jika air PAM tidak mengalir mereka dengan terpaksa mandi dan mencuci menggunakan air sumur yang asin.

Gambar 2.8.

Sarana MCK dan Air Minum di Dusun Langge Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hampir sebagian besar masyarakat di Desa Dulupi dalam hal kebutuhan air minum rata-rata mengkonsumsi air minum isi ulang dengan harga per galon Rp. 3.000,- dan jika sistem antar harganya Rp. 5.000,- sampai Rp. 6.000,-/galon tergantung jarak rumah, semakin jauh semakin mahal.

Khusus warga yang tinggal di ibukota Desa Dulupi rata-rata sudah memiliki jamban keluarga untuk keperluan BAB, mandi dan mencuci rata-rata menggunakan air sumur. Khusus warga yang tinggal di Dusun Langge untuk keperluan MCK sebagian besar masih menggunakan sumber air sungai. Sungai Labia menjadi salah satu tempat aktifitas warga Dusun Langge dalam

(54)

37

keperluan BAB, mandi, mencuci pakaian dan mencuci hewan ternak seperti sapi.

Selain dusun Langge dan Batupotong, peneliti juga fokus disalah satu dusun yaitu Dusun Sambati yang memiliki luas 20-25 km2.Jalan ke arah dusun penuh dengan tikungan dengan sedikit menanjak, jalan belum beraspal sama dengan kondisi jalan di Dusun Langge, sehingga jika musim hujan jalan menuju ke dusun ini sulit untuk dilewati. Sarana air yang tersedia adalah sumur umum, dan rata-rata warga yang tinggal di dusun Langge dan Sambati memiliki kebiasaan menampung air hujan jika datangnya hujan lebat.

Sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Dulupi - Desa Dulupi adalah satu bangunan Puskesmas yang dibangun tahun 2004. Puskesmas induk ini sebelumnya adalah pustu (Puskesmas pembantu) yang masuk dalam wilayah kecamatan Tilamuta. Terdapat dua unit bangunan pustu di Dusun Sambati dan Langge serta 1 bangunan poskesdes (Pondok Kesehatan Desa) terdapat di Dusun Batupotong. Sarana kesehatan seperti pustu dan poskesdes untuk saat ini hanya digunakan pada saat kegiatan Posyandu dan pengobatan gratis. Petugas kesehatan yang dulunya ditugaskan di Pustu Sambati, saat ini telah dipindahkan ke Puskesmas Dulupi. Selain kurangnya sarana yang memadai seperti air dan lampu, petugas tersebut dipindahkan karena keterbatasan tenaga kesehatan yang masih sangat minim.

Semenjak tahun 2013 perawat yang ditugaskan di Pustu Sambati telah dipindahkan di Puskesmas Dulupi menjadi bendahara. Poskesdes yang dibangun tahun 2012 yang berada di Dusun Batupotong, sampai saat ini belum difungsikan karena fasilitas poskesdes tersebut belum lengkap seperti tidak ada sarana air bersih dan lampu penerangan.

Sampai saat ini Poskesdes yang dibangun oleh PNPM tahun 2009 terletak di Dusun Batupotong, belum dapat

(55)

38

difungsikan, alasan salah satunya adalah tidak tersedianya sarana pendukung seperti lampu dan air. Kondisi tersebut menyebabkan petugas belum bersedia tinggal di poskesdes ini, didukung pula oleh kepercayaan masyarakat bahwa poskesdes ini angker karena dekat dari rawa-rawa, khususnya bagi ibu yang melahirkan mempercayai bahwa melahirkan di poskesdes akan sangat mengganggu ibu saat proses melahirkan.

Gambar 2.9.

Bangunan Poskesdes di Dusun Batupotong yang Belum Difungsikan Sumber: Dokumentasi Peneliti

2.2.3. Pola Tempat Tinggal

Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer karena merupakan tempat tinggal dan berteduh manusia. Seiring dengan berjalan waktu dan perkembangan jaman, bentuk perumahan mengalami perubahan. Pada jaman purba manusia hidup berkelompok dan tinggal dalam gua, kemudian mendirikan rumah tempat tinggal di atas dan bawah pohon yang terletak di hutan-hutan. Kadang manusia jaman dulu hidup

Gambar

Tabel 3.1. Data Malaria di Wilayah Puskesmas Dulupi Tahun 2013-2014

Referensi

Dokumen terkait

Adanya rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnis sehingga mereka cenderung berkumpul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang sama. Faktor

Membangun rasa memiliki (sense of belonging) dari karyawan/ti sehingga bekerja dengan baik dan tidak melakukan tindakan yang merugikan perusahaan.. Memberikan reward and