• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kependudukan dan Keadaan Lingkungan Desa Dulupi

ETNIK GORONTALO DI DESA DULUPI

2.2.2. Kependudukan dan Keadaan Lingkungan Desa Dulupi

iklim Oldeman tipe E1, curah hujan rata-rata tahunan 1.508 mm, curah hujan rata-rata bulanan 160,50 mm, suhu harian rata-rata 26,50 C, suhu maksimum 27,10 C (bulan Juni), suhu minimum 25,80 C (bulan Desember-Januari), kelembaban minimum 75,9% (www.selayang pandang. kab Boalemo).

2.2.2. Kependudukan dan Keadaan Lingkungan Desa Dulupi

Awal cerita Desa Dulupi dimulai dari 150 tahun yang lalu pada waktu itu masih “oayuwa” (hutan belantara), rimbun dan warna hijaunya pohon yang melintang luas di desa kecil ini, penghuninya masih dapat dihitung dengan jari. Setiap kehidupan terus berputar mengikuti perkembangan jaman, namun adat dan budaya masyarakatnya masih belum berubah. Kekayaan alam masih nampak dan jarang tersentuh dengan keragaman modernisasi disaat sekarang ini, terbayang desa ini dahulu kala tentunya nampak asri nan indah.

Perjalanan menuju Desa Dulupi dari arah Kota Gorontalo dapat ditempuh selama ± 3 jam 20 menit dengan jarak tempuh ± 160 Km melalui jalan Trans Sulawesi. Antrian kendaraan yang panjang sepanjang 20 km lebih menjadi perhatian peneliti, dengan kondisi jalan yang rusak, berdebu akibat perbaikan, pelebaran jalur sisi kiri dan kanan bahu jalan.

Sesampai di ibu kota Kabupaten Boalemo maka yang akan kita akan melihat jembatan dengan konstruksi besi meruncing menjulang tinggi yang di bagian atas bertuliskan “Selamat Datang di Kabupaten Boalemo”, menyambut setiap kendaraan yang melewatinya. Sebutan khas untuk Kabupaten Boalemo adalah “kota idaman” yang merupakan slogan Kabupaten Boalemo, singkatan dari Indah, Damai, Amanah, Mandiri, Agamis dan Nyaman. Udara kota Boalemo terasa panas di bulan Mei-Juli 2014 saat penelitian dilaksanakan.

30

Mobil angkutan umum dalam kota tampak hilir mudik mengangkut penumpang. Tepat di persimpangan jalan yang ditandai dengan papan arah penunjuk jalan ke Kecamatan Dulupi mulai terdengar suara dari Sopir yang memberitahukan bahwa “Bolo Ngopee ma maso to kambungu Dulupi” (Tinggal dekat masuk di Desa Dulupi). Keberadaan mobil asing menjadi perhatian beberapa warga yang sedang duduk di degu-degu (tempat duduk depan rumah) disertai percakapan kecil diantara mereka.

Memasuki wilayah Desa Dulupi kita akan menjumpai pertama adalah desa Kotaraja, Tabongo, dengan kondisi jalan yang berbelok-berbelok beraspal dan sedikit jalan yang rusak berlubang, akibat seringnya hujan di wilayah tersebut. Di setiap pinggiran jalan menuju desa ini akan nampak terlihat kebun jagung dan kelapa serta rumah-rumah warga tepat di pinggiran jalan. Tidak banyak kendaraan yang lewat hanya ada satu dua sepeda motor dan bentor (becak motor), banyaknya pepohonan dan jarak rumah penduduk yang letaknya berjauhan membuat pemandangan begitu hijau dipandang mata, kendaraan tradisional pedati/roda yang menggunakan tenaga sapi masih digunakan oleh segelintir warga untuk memuat hasil bumi mereka.

Desa yang di kenal dengan sebuah tempat yang di sebut

“Sudut Indah”, dan tepat di desa Induk Dulupi akan kita jumpai

Tugu yang berada di tengah-tengah jalan perempatan desa. Di sekitar Tugu biasanya digunakan warga untuk berkumpul khususnya anak-anak muda. Di sisi kanan jalan terdapat satu bangunan Poskamling tepat di jalan perempatan Desa Dulupi. Poskamling dan tugu sebagai tempat persinggahan dan dilakukannya interaksi sosial antar sesama masyarakat yang berada di tempat itu.

31

Gambar 2.6.

Tugu sebagai Tempat Interaksi Sosial Masyarakat Sumber: Dokumentasi Peneliti

Jumlah penduduk Kecamatan Dulupi tahun 2013 adalah 16.620 jiwa, terdiri dari laki-laki 8.409 jiwa dan perempuan 8.211 jiwa. Rasio jenis kelamin penduduk Kecamatan Dulupi adalah 102, berarti bahwa untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 102 penduduk laki-laki, atau dapat dikatakan jumlah penduduk wanita di Dulupi lebih sedikit daripada jumlah penduduk laki-laki. Kepadatan penduduk terbanyak berada di Desa Tanah Putih dengan 110 orang per km2. Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terkecil adalah Desa Tangga Barito yaitu hanya 26 orang per km2 .

Berdasarkan data BPS Kabupaten Boalemo jumlah penduduk Desa Dulupi tahun 2013 adalah 3.849 jiwa, terdiri dari laki-laki 1893 jiwa dan perempuan 1956 jiwa. Jumlah KK (kepala keluarga) 1.191 dengan jumlah rumah 847 buah dalam bentuk rumah permanen, semi permanen, dan sebagian pula rumah

32

warga terbuat dari papan kayu. Berikut tabel dari jumlah penduduk di masing-masing dusun di Desa Dulupi.

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Masing-Masing Dusun di Desa Dulupi

Sumber: Kantor Desa Dulupi

Dari Tabel 2.2 nampak dusun yang terbanyak penduduknya adalah Dusun Batupotong dengan jumlah penduduk 1024 jiwa dengan jumlah 345 KK (kepala keluarga). Tahun ke tahun kondisi pemukiman warga mulai berubah, Desa Dulupi yang dulunya ditutupi oleh hutan dan perkebunan ladang tradisional (allengi) sudah berubah. Kondisi saat ini telah banyak warga yang tinggal di Desa Dulupi, ada juga pendatang yang sudah cukup lama tinggal di desa ini. Rumah penduduk tertata rapi berada tepat di pinggiran jalan, dan jika kita ke arah Dusun Langge dan Sambati akan kita jumpai beberapa lahan perkebunan warga seperti jagung dan kelapa. Hal itu diungkapkan oleh salah satu tokoh masyarakat ABJ sebagai berikut :

“Dulu sebelum ada jalan sekarang ini jalan ke Dulupi masih hutan, kalau mo (mau) ke Tilamuta harus jalan kaki biasa juga naik kuda atau sapi, baru lewat koala (sungai) sampai berapa kali penyeberangan, ada juga Desa Dusun Jumlah

Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Jmh KK Jumlah Rumah L P Dulupi I (Teratai) 657 283 374 233 205 II (Jambura) 799 391 408 235 193 III (Sambati) 526 280 246 143 107 IV (Batu Potong) 1024 506 518 345 165 V (Langge) 425 222 203 117 82 VI (Huata) 418 211 207 118 95 Jumlah 3849 1893 1956 1191 847

33 yang naik perahu, rumah-rumah waktu jaman dulu berjauhan yang ada hanya hutan dengan kebunnya orang, dulu masih rumah panggung, pake atap ombullo (atap dari daun nibong), daunnya lebar kalau ada acara pesta cuma itu yang dipake ba atap, habis ombullo baru pindah di atap dari daun kelapa orang sini bilang

watoppo”.

Ungkapan informan bisa menjadi salah satu contoh bahwa setiap desa memiliki sejarah dan lambat laun berkembang mengikuti jamannya dan secara administrasi akan berubah. Budaya setiap masyarakat tidak pernah bersifat statis semua

masyarakat/kebudayaan mempunyai dinamika (berubah).

Perubahan terjadi karena adanya interaksi sosial dan interaksi sosial terjadi karena adanya kontak sosial dan komunikasi. Perubahan sosial dan budaya akan mengalami dinamika mengikuti pola pengetahuan masyarakat tentang apa yang dilihat dirasakan dan di amati, dan secara lambat laun kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan berubah.

Desa Dulupi terdiri dari 6 dusun yaitu Dusun Sambati, Langge, Jambura, Huatta, Batupotong dan Teratai. Dusun yang dekat dari areal pantai adalah Dusun Batupotong, Teratai, Jambura dan Huatta, sedangkan dusun yang dekat dengan areal perkebunan dan pegunungan adalah dusun Langge dan Sambati.

Klasifikasi kondisi fisik bangunan rumah masyarakat di Desa Dulupi umumnya permanen ada pula yang semi permanen. Rata-rata penduduk sudah memiliki sarana MCK (mandi cuci kakus) di rumah masing-masing, namun beberapa dusun yang ada di wilayah Desa Dulupi seperti Dusun Langge, Sambati dan Batupotong sebagian besar warganya tidak mempunyai jamban keluarga. Beberapa sarana MCK telah dibangun melalui dana PNPM (program nasional pemberdayaan masyarakat) tahun 2010, namun masih banyak masyarakat yang mempunyai

34

kebiasaan mandi, mencuci dan buang air besar di sungai. Hasil observasi seperti di Dusun Batupotong, ada sarana MCK namun tidak layak lagi digunakan karena keadaan WC umum tersebut tidak terawat kebersihannya dengan baik, sehingga banyak warga di dusun Batupotong mengambil alternatif lain dengan istilah “WC putar” artinya buang air besar dipinggir pantai sambil pindah-pindah tempat. Beberapa kutipan hasil wawancara dengan beberapa informan di Dusun Batupotong, dusun yang dekat dari areal pantai sebagai berikut :

“Ada wc dibelakang rumah, cuman tidak ta urus baku harap bakase bersih, tapi torang semua jaga berak disitu, kalau antrian baru lari ka pinggir pantai, biasa orang bilang sini wc putar,he,,,he,,he, kalau untuk mandi disumur, so ada juga air PAM”.

“WC putar itu maksudnya pindah-pindah kalau beol dipinggir pantai, kalau waktu BAB pagi dengan siang BAB di dalam plastik baru plastiknya sambil diputar-putar baru dibuang ke laut, sengaja di buang supaya orang tidak lihat”.

Berikut penuturan informan HRY sebagai berikut:

“Torang pe tampa berak cuman di pinggir laut di bawah pohon bakau, soalnya WC umum kotor, biasa orang berak dorang tidak siram, kalau berak siang digaruk pasirnya ditutup dengan pasir itu kotoran, kalau malam tidak ada karena sudah terbawa air laut, kalau mo cebo

pigi di sumur milik tetangga, tidak bacebo dengan air

laut, juga sumur sini rasanya asin jadi cuma mo pake mandi dengan bacuci”.

Salah satu tempat mandi dan mencuci (cebok) setelah selesai BAB (buang air besar)warga dusun Batupotong, adalah pinggiran pantai sebagai alernatif untuk buang air besar seperti tampak pada gambar 2.7.

35

Gambar 2.7.

Tempat Mandi Warga pada Umumnya di Dusun Batupotong -Langge-Sambati Sumber: Dokumentasi Peneliti

Berbagai macam cerita beberapa informan yang tinggal di Dusun Batupotong tentang perilaku masyarakat. Sebagian warga yang lebih senang BAB (buang air besar) di pinggiran pantai, adapula yang BAB di WC umum, dan jika WC nya kotor ataupun antrian lama mereka lari ke pinggiran pantai. Beberapa sumur warga khususnya yang sangat dekat dari pinggiran pantai airnya sangat asin, meskipun asin ada beberapa informan yang masih tetap menggunakannya. Selain itu warga yang tinggal di Dusun Langge memiliki kebiasaan mandi mencuci, buang air besar di sungai dan mengambil air pada sumur kecil yang biasa disebut dengan Alli. Berikut gambar aktifitas warga di dusun Langge saat mandi di sungai.

Sejak tahun 2013 beberapa rumah warga di dusun Batupotong sudah mendapatkan air dari sumber air PAM, namun tidak keseluruhan rumah warga terpasang kran air tergantung pemesanan warga. Adapula sistem patungan antar tetangga atau

36

kerabat, jika salah satu kerabat dekat rumah yang memasang kran air PAM sedangkan rumah disampingnya tidak memasang, maka dalam sistem pembayaran dibagi dua. Setiap pemakaian 10 kubik air PAM biasanya dibayar dengan harga Rp. 38.000,- jika 30 kubik dengan harga Rp. 70.000,-. Kebiasaan warga di Dusun Batupotong, jika air PAM tidak mengalir mereka dengan terpaksa mandi dan mencuci menggunakan air sumur yang asin.

Gambar 2.8.

Sarana MCK dan Air Minum di Dusun Langge Sumber: Dokumentasi Peneliti

Hampir sebagian besar masyarakat di Desa Dulupi dalam hal kebutuhan air minum rata-rata mengkonsumsi air minum isi ulang dengan harga per galon Rp. 3.000,- dan jika sistem antar harganya Rp. 5.000,- sampai Rp. 6.000,-/galon tergantung jarak rumah, semakin jauh semakin mahal.

Khusus warga yang tinggal di ibukota Desa Dulupi rata-rata sudah memiliki jamban keluarga untuk keperluan BAB, mandi dan mencuci rata-rata menggunakan air sumur. Khusus warga yang tinggal di Dusun Langge untuk keperluan MCK sebagian besar masih menggunakan sumber air sungai. Sungai Labia menjadi salah satu tempat aktifitas warga Dusun Langge dalam

37

keperluan BAB, mandi, mencuci pakaian dan mencuci hewan ternak seperti sapi.

Selain dusun Langge dan Batupotong, peneliti juga fokus disalah satu dusun yaitu Dusun Sambati yang memiliki luas 20-25 km2.Jalan ke arah dusun penuh dengan tikungan dengan sedikit menanjak, jalan belum beraspal sama dengan kondisi jalan di Dusun Langge, sehingga jika musim hujan jalan menuju ke dusun ini sulit untuk dilewati. Sarana air yang tersedia adalah sumur umum, dan rata-rata warga yang tinggal di dusun Langge dan Sambati memiliki kebiasaan menampung air hujan jika datangnya hujan lebat.

Sarana kesehatan yang ada di wilayah Kecamatan Dulupi - Desa Dulupi adalah satu bangunan Puskesmas yang dibangun tahun 2004. Puskesmas induk ini sebelumnya adalah pustu (Puskesmas pembantu) yang masuk dalam wilayah kecamatan Tilamuta. Terdapat dua unit bangunan pustu di Dusun Sambati dan Langge serta 1 bangunan poskesdes (Pondok Kesehatan Desa) terdapat di Dusun Batupotong. Sarana kesehatan seperti pustu dan poskesdes untuk saat ini hanya digunakan pada saat kegiatan Posyandu dan pengobatan gratis. Petugas kesehatan yang dulunya ditugaskan di Pustu Sambati, saat ini telah dipindahkan ke Puskesmas Dulupi. Selain kurangnya sarana yang memadai seperti air dan lampu, petugas tersebut dipindahkan karena keterbatasan tenaga kesehatan yang masih sangat minim.

Semenjak tahun 2013 perawat yang ditugaskan di Pustu Sambati telah dipindahkan di Puskesmas Dulupi menjadi bendahara. Poskesdes yang dibangun tahun 2012 yang berada di Dusun Batupotong, sampai saat ini belum difungsikan karena fasilitas poskesdes tersebut belum lengkap seperti tidak ada sarana air bersih dan lampu penerangan.

Sampai saat ini Poskesdes yang dibangun oleh PNPM tahun 2009 terletak di Dusun Batupotong, belum dapat

38

difungsikan, alasan salah satunya adalah tidak tersedianya sarana pendukung seperti lampu dan air. Kondisi tersebut menyebabkan petugas belum bersedia tinggal di poskesdes ini, didukung pula oleh kepercayaan masyarakat bahwa poskesdes ini angker karena dekat dari rawa-rawa, khususnya bagi ibu yang melahirkan mempercayai bahwa melahirkan di poskesdes akan sangat mengganggu ibu saat proses melahirkan.

Gambar 2.9.

Bangunan Poskesdes di Dusun Batupotong yang Belum Difungsikan Sumber: Dokumentasi Peneliti