POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DULUPI
3.4. Ancaman Penyakit bagi Masyarakat 1. Kusta
Penyakit Kusta dalam istilah daerah Gorontalo Dulupi disebut Hutungo. Dusun Batu Potong dengan jumlah jiwa kurang
176
lebih 1024 penduduk terbanyak dari enam dusun Desa Dulupi ini menjadi satu-satunya dusun yang teridentifikasi terdapat penderita kusta/hutungo. Masyarakat menganggap sebagai ancaman besar karena dipercaya penyakit ini bisa menular melalui kontak langsung dengan para penderita. Penderita kusta hidup terasing hanya dengan lingkungan keluarganya akibat sikap masyarakat yang takut tertular. Salah satu penderita kusta sebut saja bapak AS, menceritakan riwayat penyakit yang dideritanya sehingga merasa diasingkan oleh tetangga bahkan masyarakat Dulupi.
Pada tahun 2002 lalu, informan bekerja sebagai penebang kayu dengan menggunakan mesin chainsaw (gergaji listrik) di areal pegunungan. Pekerjaan ini dilakukan bersama dengan beberapa temannya di dalam hutan yaitu di wilayah Paguyaman Pantai. Jarak tempat kerjanya sangat jauh masuk ke dalam hutan. Informan bercerita bahwa kejadian sakitnya bermula saat kakinya tertusuk sepotong kayu tajam sehingga kami terluka dan bengkak. Kaki kemudian dikompres dengan air panas saja dan ia tidak bekerja selama empat hari karena bengkak di kakinya semakin hari semakin besar. Dia selama satu bulan di dalam hutan tanpa memperoleh pengobatan karena jarak ke Puskesmas sangat jauh. beberapa waktu berselang Luka yang di deritanya tak kunjung membaik sampai akhirnya berkat dorongan istri tercinta, pada tahun 2003 memutuskan untuk berobat ke Puskesmas Dulupi. Dokter Puskesmas waktu itu mengatakan dan mendiagnosa bahwa penyakit tersebut sudah terinfeksi kusta.
Informan AS menjalani pengobatan selama satu tahun sampai 2004. Informan menerima obat terbungkus dalam kemasan aluminium berwarna coklat berbentuk kecil seperti biji lombok (rica). Obat berwarna merah tersebut dikonsumsi tiga kali 3 butir obat dalam sehari dan diminum setelah makan. Pada tahun 2005 istri informan membeli obat herbal merek Propolis
177
dengan harga Rp. 203.000,-, dalam sehari mengkonsumsi 1 satu kali. Khasiat tentang Propolis di ketahuinya dari penjual obat di desa Paguyaman. Informan merasakan ada perubahan setelah minum Propolis yaitu keluar tetesan darah kotor dari luka selama tiga hari di bagian kakinya dan dibersihkan dengan air hangat. Luka di bagian kaki mulai mengering tepatnya di bagian ibu jari dan kuku mulai tumbuh. Penyakit yang diderita bukan penyakit kusta menurut informan dan keluarga karena tidak sesuai dengan gejala penyakit kusta seperti yang diketahui. Berikut penuturan informan mengenai hal ini:
“Penyakit kusta itu barangkali telinganya bengkak, badannya juga, baluka, tangan kaki (keram seperti mencakar), bulu-bulu mata sudah mulai hilang, badan jadi kurus”.
Ciri-ciri kusta juga disebutkan oleh istri informan
“Adanya bulu bulu kuning atau alis mata hilang. Saya sudah 12 tahun mendampingi suami saya tapi tidak kena (tidak menular ke saya dan keluarga lain)”.
Gambar 3.9. Salah Satu Penderita Kusta Sumber: Dokumentasi Peneliti
Penyakit kusta sudah diderita informan kurang lebih 13 tahun. Bapak dengan profesi sebagai nelayan ini tidak hanya sakit secara fisik karena kusta, akan tetapi sering pula menerima dan
178
mendengar ocehan dari tetangga. Penyakitnya tersebut menyebabkan tidak ada warga yang datang/membeli ikan di rumahnya, berbeda dengan dahulu saat informan masih belum menderita kusta.Masyarakat setempat menganggap bisa tertular bila membeli ikan dari penderita kusta, sehingga masyarakat enggan untuk datang ke rumah informan.
Penderita kusta lainnya (bapak ES) merasakan kaki sakit sejak tahun 1982, menyatakan bahwa penyebab penyakit yang dideritanya akibat guna-guna (opo-opo) hasil kiriman seseorang yang iri tehadap usahanya. Informasi mengenai penyebab penyakitnya di dapatkan dari dukun/pengobat tradisional. Peneliti mengamati terdapat luka di lutut dan beberapa jari kakinya sudah tidak lengkap lagi (putus).
Informan memiliki kebiasaan menutupi luka dikakinya dengan cara menggunakan sepatu tanpa menggunakan kaus kaki atau perban. Luka di bagian lutut sering berdarah dan dihinggapi lalat, sesekali informan menggaruk lukanya. Tigapuluh tahun lamanya informan harus bersabar melawan penyakit. Saat menceritakan kisah hidupnya, informan mulai mengecilkan suaranya dan sesekali melihat ke atas sambil meneteskan air mata. Pengobatan sudah pernah dijalaninya sebanyak 4 kali, satu kali ke Puskesmas Tilamuta dan 3 kali ke Puskesmas Dulupi. Pada tahun 1985, informan mengobati diri sendiri dengan jahe (goraka) dan kuning (kunyit) yaitu dengan cara dikikis dan di campurkan dengan air kemudian di minum. Saat ini, informan mengobati dengan ramuan tradisional tersebut dan obat
ampisilin dan mixagrib yang dibelinya di warung-warung dekat
rumah.
Berbagai macam usaha sudah dijalani oleh beberapa penderita kusta di Desa Dulupi. Cemohan dan interaksi sosial yang serba terbatas seringkali menjadi faktor di mana para penderita kusta hanya bisa menerima kenyataan pahit dan
179
menyembunyikan diri di dalam rumah. Kehadiran keluarga dan petugas kesehatan menjadi penyemangat hidup bagi mereka. Bagai pribahasa menyebutkan “sudah jatuh tertimpa tangga” merupakan gambaran kondisi para penderita kusta yang harus menderita akibat penyakitnya ditambah penderitaan secara social akibat dikucilkan masyarakat.
3.4.2. Malaria
Malaria adalah salah satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil. Malaria menjadi masalah kesehatan di Indonesia karena mengakibatkan dampak yang luas dan berpeluang menjadi penyakit emerging (KLB) dan reemerging (peningkatan kasus kembali). Kondisi ini dapat terjadi, karena adanya kasus impor, resitensi terhadap obat, resistensi terhadap insektisida yang digunakan dalam pengendalian vector, serta adanya vector potensial, didukung pula oleh karakteristik lingkungan fisik, sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang berbeda-beda baik dalam hal pengetahuan (kognitif), sikap dan perilaku terkait kesehatan dan etiologi penyakit.
Berdasarkan (API), dilakukan stratifikasi dan Indonesia bagian Timur masuk dalam stratifikasi malaria tinggi, stratifikasi sedang di beberapa wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Menurut perhitungan para ahli berdasarkan teori ekonomi kesehatan, dengan jumlah kasus malaria sebesar tersebut dapat menimbulkan kerugian ekonomi mencapai 3 triliun rupiah lebih. Kerugian tersebut dapat berpengaruh terhadap pendapatan daerah (Helper Sahat P Manalu dkk, 2011).
Rencana strategis Kementerian Kesehatan tahun 2010-2014 menentukan bahwa malaria merupakan salah satu sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan dengan indikator
180
tercapainya sasaran hasil adalah angka penemuan kasus malaria 1 per 1.000 penduduk. Malaria merupakan salah satu penyakit selain TB dan HIV/AIDS yang menjadi komitmen Global Millenium
Development Goals (MDG’S) target ke-6 yaitu ditargetkan untuk
menghentikan penyebaran dan mengurangi insiden malaria pada tahun 2015 yang dilihat dari indikator menurunnya prevalensi dan kematian akibat malaria (Kemenkes, 2010). Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit malaria dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. Gejala umum yang ditandai dengan panas tinggi yang dapat naik turun secara berkala disertai dengan salah satu atau lebih gejala seperti menggigil, muka pucat, kepala sakit, pusing, tidak nafsu makan, mual, muntah, nyeri otot dan pegal-pegal.
Angka kesakitan dan kematian akibat malaria di wilayah Provinsi Gorontalo, tertinggi berada di wilayah Kabupaten Boalemo yaitu 11/1000 penduduk. Data tahun 2012, hasil pemeriksaan darah di 11 Puskesmas Kabupaten Boalemo ditemukan positif malaria berjumlah 1.397 dan penderita meninggal sebanyak 2 orang, CFR (0,1). Angka positif malaria tertinggi terdapat di Kecamatan Paguyaman Pantai, Kecamatan Dulupi Puskesmas Pangi, Kecamatan Dulupi. Jumlah penderita malaria di wilayah Puskesmas Dulupi kecamatan Dulupi sebanyak 183 penderita (Dinkes Kab Boalemo, 2013).
Masyarakat Dulupi pada umumnya mengetahui bahwa malaria merupakan penyakit yang di sebabkan oleh nyamuk dan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yakni cuaca. Di saat musim hujan pasti banyak genangan air menurut masyarakat menjadi sarang perindukan nyamuk yang bisa menyebabkan penyakit malaria. Gejala awal yang dirasakan seperti panas, demam menggigil, kurang makan dan susah tidur sering kali dialami oleh warga yang pernah menderita penyakit ini. Gejala tersebut dialami oleh informan SM yang pernah didiagnosis
181
malaria oleh petugas kesehatan setempat dan diungkapkan sebagai berikut,
“Kalau sudah sore banyak nyamuk di sungai. Soalnya saya lalu pernah digigit nyamuk, gejalanya biasa panas, menggigil, tidak suka makan dengan susah tidur. Tidak tau kalau malaria atau apa. Cuman kata orang gejala malaria, kalau sakit saya biasa beli obat di kios. Obat malaria yang di beli yang ada gambar malaria. obatnya Resohin dan Retokuin”.
Informan AN adalah salah satu pasien positif malaria yang
di diagnosis di Puskesmas Dulupi dan pernah dirawat di IGD (Instalasi Gawat Darurat) Puskesmas Dulupi. Informan menceritakan tentang kebiasaan dan gejala yang timbul pada saat terkena penyakit malaria. Berikut kutipan informan AN :
”Saya biasa tidak memakai baju sepulang dari kebun dan duduk di depan rumah sampai-sampai larut malam karena rasa panas atau gerah begitu. Saat tidur malam pun hanya memakai sarung, tidur pakai obat nyamuk merek manguni dengan harga Rp. 3.000,- tidak mempan karena nyamuknya banyak di rumah dari situ saya mulai dapa rasa panas, pusing, rasa lumpuh, tidur gelisah semenjak 5 hari yang lalu sudah saya alami, sampai akhirnya di bawa ke puskemas”.
Informan RDH selaku tenaga kesehatan di Puskesmas Dulupi dan merupakan pemegang program malaria menyatakan bahwa penemuan kasus malaria dimulai sejak tahun 2011. Temuan kasus malaria terus berlanjut khususnya di Dusun Langge, seperti menyampaikan informan berikut ini.
“Dulu tidak ada kasus malaria di Dulupi, nanti tahun 2011 setelah ada salah satu anggota keluarga dari perawat yang bertugas di sini, melaporkan kalau ada anggota keluarganya yang panas sudah berapa hari,
182
setelah itu kami periksa melalui mikroskopis dan ternyata positif falciparum, dari situ saya terus melakukan pemantaun dan kunjungan ke dusun Langge, ternyata setelah itu ada beberapa warga lain yang panas, demam pas diperiksa positif malaria“.
Data yang diperoleh dari petugas program malaria menggambarkan bahwa adanya peningkatan temuan ataupun indikasi masyarakat Dulupi tertular malaria. Menurut informan RDH hal ini karena Desa Dulupi pernah dilanda banjir sehingga terbentuk sebuah rawa tepat di dipemukiman penduduk di Dusun Langge. Ada indikasi penderita malaria tertular dari tempat penambangan di kota Marisa serta adanya genangan air di depan dan belakang rumah warga.
Kasus malaria mulai ditemukan di tahun 2011 dengan menggunakan pemeriksaan RDT, namun jumlah kasus kurang diketahui oleh petugas Puskesmas. Tahun 2013 terdapat 3 kasus positif falciparum, dan sampai saat ini kasus malaria mengalami peningkatan di tahun 2013 dengan target temuan penderita positif 25 orang dan hasil di lapangan di peroleh sebanyak 28 penderita positif malaria. Di tahun 2014 target 30 orang dan baru di triwulan I sudah ditemukan 4 penderita positif malaria. Hal ini yang akan menjadi tanggung jawab besar yang dialami oleh petugas kesehatan di Puskesmas Dulupi. Data malaria tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 (triwulan 1) di Puskesmas Dulupi dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Upaya kesehatan dalam hal pengobatan kepada penderita positif malaria di wilayah Puskesmas Dulupi dengan cara pemantauan ke rumah yang teridentifikasi, kemudian melakukan pengamatan terhadap tempat-tempat yang menjadi sarang perindukan jentik nyamuk. Petugas memberikan penyuluhan sekilas kepada keluarga penderita untuk menjaga kebersihan
183
pasien/penderita ke sarana fasilitas kesehatan. Upaya medis yang di lakukan ada dua tahap yaitu pertama menggunakan RDT
(Rapid test diagnostic) dan mikroskopis. Penggunaan RDT di
mulai tahun 2012 dan mikroskopis tahun 2011.
Tabel 3.1. Data Malaria di Wilayah Puskesmas Dulupi Tahun 2013-2014
Tahun 2013
Desa Hasil Pemeriksaan Jumlah
Suspek Diperiksa Dulupi Tabongo Kotaraja Negatif Positif
Januari 27 3 0 28 2 30 Pebruari 42 6 1 39 10 49 Maret 13 2 0 14 1 15 April 13 7 2 19 3 22 Mei 31 3 0 33 1 34 Juni 12 2 0 11 3 14 Juli 14 3 0 13 4 17 Agustus 10 1 1 10 2 12 Septemb 8 2 0 8 2 10 Oktober 5 1 0 6 0 6 Nopember 10 11 0 21 0 21 Desember 18 3 2 23 0 23 Jumlah 203 44 6 225 28 253 Tahun 2014 Januari 7 0 0 7 0 7 Pebruari 38 6 0 42 2 44 Maret 16 7 0 21 2 23 Jumlah 61 13 0 70 4 74
Sumber : Puskesmas Dulupi, 2014
Menurut petugas kesehatan di Dulupi, gejala yang sering dirasakan oleh pasiennya adalah panas/demam dan sakit kepala. Petugas seringkali bingung menentukan diagnosis terhadap penderita karena hasil pemeriksaan RDT positif malaria namun hasil mikroskopis negatif, namun ada pula hasil RDT dan mikroskopis semuanya positif. Setelah diberikan pengobatan pasien diperiksa kembali melalui RDT dan mikroskopis, dan biasanya setelah pengobatan hasil RDT positif dan hasil mikroskopis negatif (tidak tampak parasit). Penderita yang dinyatakan positif baik melalui RDT dan negatif hasil pemeriksaan