POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DULUPI
3.1. Status Kesehatan Ibu dan Anak 1. Pra Hamil
3.1.2. Masa Kehamilan
Masa kehamilan adalah masa ketika ibu hamil menjalani proses awal hamil hingga menjelang kelahiran. Kehamilan adalah masa yang paling diidam-idamkan bagi pasangan yang baru menikah atau yang belum memiliki keturunan. Pasangan yang belum mempunyai anak biasanya akan berusaha melakukan upaya untuk mendapatkan anak. Semua yang menjadi anjuran orangtua, mertua atau keluarga menjadi patokan pasangan suami istri untuk melakukan upaya guna mendapatkan keturunan.
Ibu SRI umur 25 tahun, setelah menikah hampir 4 tahun baru memiliki keturunan. Menikah sejak tahun 2010, dan hamil pada tahun 2013 setelah berbagai usaha dilakukannya yaitu mendapat pijatan pada seorang Hulango (dukun), berikut penuturan informan (ibu SRI),
“Saya kawin tahun 2010 nanti tahun 2013 baru bisa hamil hampir 4 tahun, tidak ada pigi di dokter cuma bo pigi di dukun saja, 7 kali dia urut saya hamil, saya percaya betul sampe sekarang saya di urus trus sama bibi (panggilan untuk Hulango) mulai kandungan 1 sampai 8 bulan sekarang ini“.
118
Rata-rata warga Desa Dulupi khususnya para ibu lebih percaya pada Hulango (dukun) untuk mendapatkan keturunan atau melakukan pijatan selama masa kehamilan, persalinan dan masa nifas.
Usia ibu pada kehamilan pertama di Desa Dulupi masih belasan tahun yaitu antara 15 sampai 18 tahun. Ibu-ibu yang sudah berpengalaman melahirkan, tidak terlalu khawatir lagi jika hamil atau melahirkan. Orangtua atau mertua yang membantu mereka untuk membawa ke Puskesmas saat akan melahirkan dan tak lepas dari peran dukun yang selalu mendampingi ibu hamil.
Informan SLM seorang isteri berumur 19 tahun pendidikan tamat SMP, tidak merencanakan untuk menikah diusia muda, namun karena sudah sangat menyukai pasangannya dan atas kesepakatan bersama akhirnya SLM menikah diusia 15 tahun. Informan sudah dikaruniai anak dua, usia anak pertama 3 tahun dan anak keduanya usia 10 bulan. Saat masa kehamilan informan selalu mengikuti anjuran dari dukun seperti menghindari pantangan yang akan membahayakan dirinya dan janin yang dikandungnya. Pantangan yang dikenal yaitu larangan ibu hamil mandi pada sore hari menjelang magrib atau melempar batu di sungai karena setan sangat suka dengan ibu hamil. Menurut Hulango, ibu hamil memiliki bau sangat harum sehingga ibu hamil dianjurkan membawa paku atau peniti yang dikaitkan dibaju saat tidur atau bepergian untuk menghindari dari gangguan setan.
Ibu hamil di Desa Dulupi rutin memeriksakan kehamilannya di Puskesmas atau di setiap kegiatan Posyandu untuk menjaga kesehatan diri dan janinnya selama masa kehamilan. Ada pula ibu hamil yang enggan memeriksakan kehamilannya sejak usia kandungan 1 sampai 8 bulan, namun mendekati persalinan baru ibu tersebut mau memeriksakan kehamilannya. Ada beberapa kasus di mana ibu hamil sampai
119
dengan melahirkan tidak diketahui oleh bidan. Menurut bidan setempat, kasus tersebut sering terjadi disebabkan wanita tersebut hamil di luar nikah, faktor lain adalah karena jauh dari fasilitas kesehatan, sehingga mereka lebih memilih dukun dalam pemeriksaan kehamilan sampai persalinan.
Salah satu masalah yang dialami para bidan di Puskesmas adalah ketika seorang ibu hamil di luar nikah. Ada dua kasus hamil di luar nikah yang akan diwawancarai sebagai informan namun mereka menolak. Berdasarkan keterangan dari temannya dan dukun, diperoleh informasi bahwa saat itu wanita tersebut memeriksakan kehamilannya pada Hulango (dukun) secara rutin pada saat usia kehamilan sudah 5 bulan. Wanita tersebut berusaha menyembunyikan kandungannya dan tidak mau memeriksakan kehamilannya jika ada kegiatan Posyandu di pustu. Kasus lain diungkapkan oleh bidan saat menemui seorang ibu hamil di rumahnya. Ibu hamil menolak bidan dan marah pada orangtua dan bidan yang berusaha ke rumah untuk memeriksa kehamilannya.
Masih banyak para ibu di Desa Dulupi yang kurang memperhatikan kesehatan diri dan janin yang dikandungnnya, begitu pula dalam hal memberikan asupan makanan yang baik untuk anaknya. Perubahan perlu dilakukan terhadap sikap para ibu yang mengambil keputusan salah dalam menjaga kehamilannya. Pemberian pengetahuan, pemahaman tentang kesehatan, motivasi, diharapkan akan merubah perilaku kesehatan.
Sebagian warga mengenal kepercayaan terkait kehamilan dan persalinan seperti dianjurkan ibu hamil tidak boleh berdiri lama-lama di depan pintu agar persalinan lancar, bangun pagi harus awal dianjurkan pukul 5 saat subuh. Informan SRI mempunyai kebiasaan bangun pagi pada pukul 5. Saat bangun pagi ibu hamil wajib membuka semua pintu dan jendela agar saat
120
melahirkan bayi cepat keluar. Membersihkan tempat masak (tungku) dipercaya akan kelancaran melahirkan. Kebiasaan untuk melindungi diri dari bahaya selama masa kehamilan-bersalin adalah membawa peniti atau kain tirai yang diikatkan dipinggang namanya Bendolo untuk menghindari gangguan setan atau
pongko (manusia jadi-jadian). Isi dari Bendolo adalah cengkeh,
pala, bawang putih, bawang merah, goraka (jahe). Menurut dukun (Hulango) jika semua bahan tersebut di pegang oleh ibu hamil dan bersalin, pongko (manusia jadi-jadian), setan dan orang jahat tidak akan mampu mendekati ibu hamil atau ibu yang akan melahirkan. Artinya, bahan-bahan bumbu masakan tersebut dipercaya sebagai pengusir setan atau menghindari gangguan mahluk lainnya. Menurut informan (dukun) orang hamil baunya selalu tercium oleh setan atau pongko. Selain itu informaan SRI mempunyai kebiasaan menyisipkan satu buah pisau kecil di bawah bantal tidurnya saat tidur siang dan malam hari.
Informan mengaku bahwa sejak pertama ngidam sampai usia kandungan 8 bulan informan mempercayakan pemeriksaan kehamilannya ke dukun dekat rumah. Alasan tidak ke Posyandu untuk memeriksakan kehamilan karena letaknya jauh dari rumah. Pemeriksaan baru dilakukan setelah kehamilan di atas 7-8 bulan seperti diungkapkan informan SR.
“Saya pe tante yang jaga akan ba kase tahu jadwal Posyandu, nanti sokandungan 7-8 bulan ini baru saya pigi di Posyandu selama ini tidak pernah ke Posyandu, disuntik baru satu kali, saya malas ke Posyandu jauh dari rumah, kalau dukun cuman dekat rumah “.
Informan (SR) memperoleh vitamin dan tablet besi (Fe) saat memeriksakan kehamilan di Posyandu.
121 “Nama obat saya tidak tahu warna bungkus obat putih obatnya warna merah diminum satu hari satu biji, tapi sejak dikasih 1 bulan lalu ( masih kandungan 7 bulan), saya tidak minum baru 3 biji di minum, saya rasa tidak sakit tidak rasa pusing“.
Selama dua bulan ini (usia kandungan 8 bulan), informan hanya minum obat vitamin tiga butir dengan alasan merasa baik-baik saja dan alasan kedua tidak biasa minum obat dokter. Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa informan lebih percaya pada dukun sehingga obat yang diberikan dari petugas kesehatan tidak diminum karena merasa tubuh masih kuat dan tidak merasakan pusing selama hamil.
Rata-rata informan (ibu rumah tangga) di Desa Dulupi belum mengetahui asupan gizi yang baik untuk kesehatan kandungannya. Informan SLM tidak pernah minum susu untuk menjaga kesehatan janinnya, sehari-hari hanya mengkonsumsi sayur kangkung, kacang panjang dan ikan, kadang-kadang makan dabu-dabu (sambal), sayur santan (pilitode). Sangat Jarang ibu hamil di Desa Dulupi mengkonsumsi susu dan buah. Susu biasanya hanya diminum oleh ibu yang menerima susu gratis dari bidan karena ibu hamil yang memiliki berat badan rendah yang tidak sesuai dengan usia kehamilannya.
Salah satu adat/ritual yang sering dilakukan oleh dukun (Hulango) saat masa kehamilan pertama sampai proses persalinan adalah adat tubolo yaitu adat goyang perut, adapula
Adati Lomohepo lo Ambongo artinya adat mo raba perut di usia
kandungan 7 bulan untuk ibu yang pertama hamil. Adat raba perut bertujuan meluruskan posisi bayi dan agar posisi kepala bayi tetap di bawah dan ritualnya dimaksudkan agar ibu melahirkan dengan cepat dan selamat. Informan SRM menceritakan tentang adat tubolo sebagai berikut :
122
“Adat Tubolo ini untuk meluruskan posisi bayi supaya kepala bayi tetap posisi di bawah, ibu gampang melahirkan, bukan cuma itu supaya selamat melahirkan, pokoknya semua untuk keselamatan ibu hamil, jauh dari segala gangguan setan“.
Bu sarmin yang biasa disapa nanalio (Sebutan masyarakat setempat) berprofesi sebagai dukun bayi sejak tahun 1978. Profesi sebagai dukun didapatkan dari orangtua dan ajaran turun temurun dari kakek neneknya. Informan pernah mengikuti pelatihan dukun selama satu hari di Kecamatan Tilamuta pada tahun 2000, saat pelatihan informan diberikan alat penolong persalinan (partus kit). Ungkap informan sebagi berikut :
“Saya sudah lama jadi dukun semenjak memiliki anak tiga, warisan dari nenek saya dan orang tua saya yang semuanya sebagai dukun “.
Bahan yang di sediakan pada saat adat Tibollo adalah selembar kain putih ukuran 3 meter, satu buah piring yang berisi cengkeh, pala, bawang merah, bawang putih, kayu manis, dua potong kayu berukuran kurang lebih 15 cm yang biasa mereka sebut dengan kayu palangi, satu gelas air putih, satu buah cincin putih dan garpu plastik berwarna putih.
Adat Tibollo dimulai dengan dukun menyuruh ibu hamil untuk berbaring di tempat yang telah disiapkan terdiri dari tikar dan bantal. Saat berbaring tepat dibelakang pinggang ibu hamil di selipkan sehelai kain panjang berwarna putih. Dukun mengaitkan kedua ujuang kain sambil menggoyang-goyangkan ujung kain tersebut, sambil berdoa dan membaca mantera-mantera. Perut pasien ikut bergoyan, dimulai dari bagian belakang posisi atas, kemudian berpindah sampai ke bawah belakang perut. Setelah goyang perut dukun melakukan pijatan perut namun sebelumnya dukun membacakan salam dengan sebutan Assalamualaikum sambil memegang pusar pasien.
123
Dukun melanjutkan dengan membaca mantera, setelah itu pijatan mulai dilakukan dan hanya di bagian perut.
Setelah itu Hulango mencelupkan cincin yang dikaitkan dengan garpu ke dalam air, selanjutnya memutar-mutarkan garpu dengan meniup air sambil membaca mantera. Setelah selesai melakukan ritual goyang perut, air dalam gelas tersebut di gunakan untuk membasuh perut dan muka pasiennya (ibu hamil). Fungsi memutar-mutar air dengan menggunakan garpu dan cincin adalah sebagai perantara doa untuk kesembuhan serta agar ibu hamil selamat saat melahirkan, berikut ungkapan informan,
“Cincin sebagai perantara doa, jadi setiap mau bikin adat atau baca mantera harus di taruh cincin untuk kesembuhan supaya selamat ibunya yang mau melahirkan”.
Saat ritual berlangsung disiapkan satu buah piring kecil berisi minyak kelapa dan di dalam minyak kelapa itu ada tiga buah cincin putih yang berfungsi sebagai persyaratan saat mulai proses urut ibu hamil seperti yang diungkapkan informan berikut ini, “Kalau setiap mo ba uru harus di kasih cincin dalam
minyak kelapa, supaya orang yang di uru (pijat) sembuh sehat kuat ”.
Ramuan berisi kayu manis, jahe, bawang putih, bawang merah, cengkeh, pala digunakan Hulango pada saat melaksanakan adat Tubolo bertujuan untuk memberikan mempermudah ibu hamil saat proses persalinan dan menjaga ibu hamil dari segala macam gangguan mahluk ghaib. Berikut gambar bahan ramuan yang digunakan Hulango saat adat Tubolo.
124
Gambar 3.1.
Ramuan Adat Tubolo dan Persiapan Ritualnya Sumber: Dokumentasi Peneliti
Ritual dilanjutkan di sungai (Koalla) Labia yang terletak tepat di samping rumah informan (dukun). Hulango membawa pasiennya ke tengah sungai dengan kedalam sungai kurang lebih sebatas lutut orang dewasa. Pasien duduk dengan posisi kaki lurus ke depan. Hulango pada tahap awal menghadap ke arah depan ibu hamil sambil memutar-mutar air menggunakan tangan kanan sambil membaca mantera. Setelah itu air sungai di percikkan beberapa kali ke muka pasien. Gerakkan dukun (Hulango) tersebut dilakukan berulang dengan posisi berlainan arah, yaitu setelah arah depan kemudian kebelakang, kanan, kiri badan pasien.
Selain itu “nana lio” (sebutan nama Hulango-dukun) air sungai dimasukkan ke dalam mulut dan membuang kembali. Tindakan tersebut dilakukan sebanyak 3 kali terlihat mulutnya komat kamit mengucapkan beberapa kata, membelah air ke samping kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali, dengan menggunakan ujung telapak tangan kanan, memutar mutar air sebanyak 25 kali. Selanjutnya air yang diputar putar itu diambil untuk dipercikkan ke wajah ibu hamil dengan tangan kanan
125
sebanyak 45 kali. Setelah itu “nana lio” berdiri di belakang pasien kemudian tangan kanan membelah air sebanyak 2 kali ke arah kiri dan kanan diteruskan memutar mutar air sungai sebanyak 135 kali dan air disiram 37 kali ke belakang tubuh pasien yang membelakanginya. Hal yang sama juga dilakukan kembali dari arah samping kiri dan kanan ibu hamil tetapi tidak dilakukan gerakan memutar air oleh “nana Lio”.
Gambar 3.2. Ritual Adat Tubolo Sumber: Dokumentasi Peneliti
Ritual dilanjutkan, dukun dengan tangan kanan memegang ubun ubun ibu hamil sambil membaca mantera-mantera, kemudian tangan kanan nana lio mengusap-usap perut pasiennya sambil memutar tangannya sebanyak 37 kali dan dibagian akhir ritual nana lio mengambil “pece” (lumpur berwarna hitam) yang terdapat di tepian koala (sungai) diberikan kepada pasien yang duduk melawan aliran air sungai. Lumpur tersebut dioleskan ke perut pasien dengan tujuan “supaya anak
cepat kaluar” tutur nana lio. Lumpur (pece) bahasa Gorontalo latao tersebut dioleskan ke bagian bawah perut ibu hamil.
Menurut informan supaya Mopoolipa o dodomi maksudnya adalah supaya air ketuban cepat pecah sehingga bayi cepat
126
keluar dari perut ibu, dan bertujuan untuk menipiskan Dodomi
(plasenta), atau disebut Tunnuhu. Setelah itu pasien mandi
dengan menggunakan sabun mandi (berdasar pengamatan peneliti, ibu hanya menggosok badan bagian atas, tanpa membersihkan secara keseluruhan badannya).
Pelaksanaan ritual mandi dan memeriksakan kehamilan ke dukun hanya boleh dilakukan pada hari Kamis atau Jumat, diungkapkan informan SRI sebagai berikut :
“Hari lain tidak boleh bo hari Kamis atau Jumat saja. Kalau waktu lain cuman bisa ba uru biasa, kalau mandi adat harus hari Jumat atau Kamis”.
Saat ritual berlangsung, nanalio (sebutan nama dukun) tidak memperhatikan kondisi kebersihan air sungai, padahal bertepatan dengan kegiatan MCK (mandi cuci kakus) warga di Dusun Langge yang rata-rata dilakukan pada pagi hari. Ritual/adat tubolo di mulai pada pagi hari sekitar jam 7 pagi.
Nana lio saat melakukan ritual di sungai tidak mengindahkan
kesehatan dan kebersihan ibu hamil. Tindakan berbahaya tersebut adalah memasukkan segengam lumpur yang diambil dipinggiran sungai kemudian digosokan ke perut ibu hamil sampai mendekati bagian kemaluan ibu hamil dengan posisi duduknya melawan aliran air sungai yang mengalir melewati kedua celah kakinya yang belum tentu bersih, durasi pasien berada di dalam sungai dengan posisi badan basah dalam waktu cukup lama dengan suhu air koala (sungai) saat pagi hari cukup dingin. Saat itu aliran air sungai membawa beberapa lembar daun pohon dan warna air sungai sedikit keruh karena dasar sungai terdiri dari tanah berwarna cokelat dan berpasir.
Pelayanan kesehatan ibu hamil mencakup pemeriksaan KI dan K4. Jumlah kunjungan KI merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas
127
pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. K4 adalah gambaran ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ke tiga umur kehamilan (Juknis SPM, Kemenkes 2008 dalam Profil Dinkes Provinsi Gorontalo, 2013).
Cakupan kunjungan ibu hamil di wilayah PKM Dulupi tahun 2012 berjumlah 151 ibu hamil dengan K1 139 (92,1%) dan K4 111 (73,5%). Berbagai faktor yang menghambat ibu hamil memeriksakan kehamilan di Puskesmas salah satunya adalah jarak, waktu dan biaya yang dikeluhkan oleh beberapa ibu-ibu di desa ini. Faktor lain, ibu hamil di luar nikah enggan memeriksakan diri karena stigma sosial di kalangan masyarakat Dulupi, dan tingkat kepercayaan ibu hamil terhadap Hulango (dukun) masih sangat besar khususnya dalam pemeriksaan kehamilan.