• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DULUPI

3.1. Status Kesehatan Ibu dan Anak 1. Pra Hamil

3.1.4. Masa Nifas

Perawatan ibu setelah melahirkan/masa nifas tetap dilakukan oleh seorang bidan dan dukun beranak di Desa Dulupi. Ibu yang melahirkan di Puskesmas, jika tidak ada masalah dalam persalinannya biasanya setelah melahirkan langsung pulang hari itu juga bersama keluarganya. Jika terjadi masalah seperti pendarahan atau bayi masih membutuhkan penanganan serius, bidan belum memberikan izin pulang dan semua tergantung kondisi pasien.

Pasca melahirkan, bidan memberikan obat ketika ibu melahirkan akan pulang. Pemantauan terus dilakukan oleh bidan biasanya selama 3 hari pasca melahirkan. Selain bidan, dukun memiliki peran yang lebih besar saat pasca melahirkan, yaitu merawat ibu dan bayi dengan baik di rumah. Seorang dukun akan melakukan perawatan berupa memandikan ibu selang dua hari setelah melahirkan, yaitu dengan cara memandikan dengan ramuan. Dukun memandikan ibu dengan air hangat yang diberi daun pisang kering dan daun jarak (balacai) yang digosokkan ketubuh ibu. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan tenaga atau urat yang sempat terbuka saat persalinan. Selain itu, ibu nifas harus duduk di batu yang panas/hangat yang telah disiapkan dukun untuk merapatkan jalan lahir.

Memandikan dengan air hangat, memijat ibu dan bayi setelah melahirkan, sudah merupakan tradisi turun temurun. Ibu dan bayi dipijat sebanyak 3 kali dalam seminggu oleh dukun bayi. Pijatan di badan berguna untuk membuat sang ibu rileks dan badan terasa segar kembali. Pantangan ibu setelah melahirkan

138

adalah dilarang bekerja khususnya memasak, mencuci dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Menurut dukun, ibu yang istilahnya “bapaksa kerja” setelah melahirkan akan kena

penyakit bantahan, dan penyakit itu jika dibiarkan atau tidak

diobati bisa bahaya. Ciri-ciri penyakit tersebut adalah sakit kepala terus menerus, pusing, badan lemah, dan semakin hari berat badan menurun atau semakin kurus dan bisa mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, rata-rata ibu nifas sangat menjaga kesehatannya, aktifitas setelah melahirkan dikurangi. Peran suami dan keluarga sangat membantu untuk memulihkan tenaga ibu setelah masa melahirkan.

Terkait dengan kunjungan ibu nifas ke pelayanan kesehatan di wilayah Puskesmas Dulupi, dari 151 ibu hamil yang ditolong oleh petugas kesehatan saat melahirkan hanya 110 orang (76,4%) dari ibu nifas yang mendapatkan pelayanan kesehatan. Rata-rata pemeriksaan ibu nifas dilakukan di Posyandu yang dilaksanakan setiap bulannya di tiap-tiap dusun.

Seorang bidan setelah memberikan pelayanan selama masa nifas sering mengingatkan tentang pelayanan keluarga berencana (KB). Setiap ibu yang telah melahirkan dianjurkan oleh bidan untuk ber KB dengan menggunakan alat kontrasespsi. Alat kontrasepsi yang diminati oleh ibu-ibu di Desa Dulupi adalah pil KB, suntik dan susuk KB (implant). Metode KB menggunakan spiral (IUD) tidak digunakan karena hampir seluruh ibu-ibu di Desa Dulupi takut untuk pemasangan spiral. Pil KB diperoleh dari bidan desa tetapi biasa juga dibeli di pasar tradisional Dulupi seperti diungkap oleh informan AY (bidan) sbb:

“Dalam hal KB rata-rata ibu-ibu disini KB implant (susuk) dan KB pil sama suntik. Kalau KB spiral dorang tidak mau alasannya takut. Kalau ada yang sudah cocok dengan KB pil dorang tidak mau mo rubah-rubah lagi”.

139

Ada beberapa ibu yang diwawancara mengaku menggunakan alat kontrasepsi KB implant. Saat itu masa berlaku KB implant tersebut sudah habis dan seharusnya dilepas tapi belum dilakukan karena tidak memiliki uang untuk biaya melepas

implant. Berikut ungkapan informan ibu SKO,

“Saya pasang KB susuk (implant) sejak sape anak umur 1 tahun, sekarang sape anak itu so umur 9 tahun kelas 2 SD, sedangkan batas susuk hanya 3 tahun, ini so lewat 4 tahun saya belum kase keluar, ini saya si tidak dapa haid somo satu tahun umur baru 44 tahun. Takut saya kong mo bayar lagi katanya kalau bakase kaluar tidak tahu berapa mo diminta itu kalau bakase kalura, pestengah mati uang sape laki tebisa bekerja ada kena penyakit usus turun, jadi saya yang mencari uang sendiri untuk keperluan hari-hari”.

Kasus lainya terkait dengan penggunaan alat kontrasepsi KB implant terjadi pada informan ibu ASN. Pemasangan KB

implant dilakukan pada tahun 2006 saat anak dari informan ASN

berusia 1 bulan. KB implant dipasang pada bagian atas tangan kiri dengan pemasangan gratis di Puskesmas. Batas pemakaian KB

implant hanya 2 tahun, yang sebelumnya juga informan pernah

memasang KB implant namun hingga pemakaian 6 tahun belum dilepas dan diganti baru karena masalah biaya. Ungkap informan ASN sebagai berikut:

“Saya KB implant sudah dua kali dulu pasang pas waktu ada anak ke-dua itu saya lepas dan hamil anak ke tiga tahun 2006. Saya ba pasang yang kedua sampe sekarang saya belum lepas, kalau mo dilepas bayar 50 ribu, yang mahal kalau mo ba pasang ulang Rp.150.000, itu yang saya pikir tapi saya tidak apa juga sampe sekarang, tidak hamil-“.

140

Pemasangan implant sudah berlangsung lebih dari 6 tahun, tetapi informan ASN tidak merasa khawatir dan tidak mengeluh sedikitpun. Informan lebih memikirkan tentang biaya yang harus dikeluarkan saat pelepasan implant dan pemasangan kembali yang menurutnya terlalu berat untuk kondisi ekonominya.

Sekarang ini anjuran program berbasis gender bidang kesehatan yang mengikutsertakan pria dan wanita dalam program KB sangat diharapkan dan sudah disosialisasi di tiap kesempatan. Keluarga berencana intinya untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang berkaitan dengan masalah dan beban keluarga jika kelak memiliki anak. Dulu di kalangan masyarakat Dulupi masih ada istilah banyak anak banyak rezeki, namun saat ini masyarakat mulai disibukkan dengan aktifitas masing-masing khususnya terkait ekonomi keluarga. Warga Dulupi lebih memperhatikan kebutuhan dasar rumah tangga sehingga harus bekerja dan beraktifitas lebih banyak di kebun, sehingga para ibu-ibu memutuskan untuk ber KB demi membantu para suami dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

3.1.5. Pemberian ASI Ekslusif dan Makanan Tambahan untuk