POTRET KESEHATAN MASYARAKAT DULUPI
3.1. Status Kesehatan Ibu dan Anak 1. Pra Hamil
3.1.3. Persalinan oleh Bidan dan Hulango (Dukun Beranak)
Berdasarkan Profil Dinkes Kabupaten Boalemo diketahui bahwa sebanyak 2.386 orang dari 2.588 orang ibu bersalin atau sebesar 96,6% ditolong oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Boalemo. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah Puskesmas Dulupi merupakan yang terendah yaitu 76.4 %. Keadaan ini dipengaruhi oleh letak geografis yang sulit, serta masih tingginya kepercayaan dan berobat dukun dibanding tempat pelayanan kesehatan (Profil Dinkes Kab Boalemo, 2012).
Wilayah kerja Puskesmas Dulupi terdiri dari 3 desa yaitu Desa Dulupi, Kotaraja dan Tabongo. Desa Dulupi yang terdiri dari 6 dusun. Bidan yang bertugas di Puskesmas Dulupi berjumlah 5 orang, namun tidak semua melakukan pekerjaannya sebagai
128
bidan, hanya 2 orang bidan yang menangani pasien ibu hamil dan melahirkan. Tiga orang bidan lain menangani pasien lain atau membantu kedua bidan tersebut dalam mempersiapkan alat-alat persalinan.
Puskesmas Dulupi memiliki 2 ruangan KIA yang digunakan sebagai tempat untuk melakukan salah satu kegiatan yaitu pemeriksaan kehamilan, pengontrolan dan pengawasan ibu hamil. Di ruangan ini pula dilakukannya pertolongan persalinan kepada ibu hamil yang datang melahirkan di fasilitas kesehatan.
Masyarakat Desa Dulupi hampir sebahagian besar melakukan pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan, akan tetapi masih ada di temukan pertolongan persalinan yang di tangani sendiri dan juga di bantu oleh Hulango (dukun bayi).
Grafik 3.1.
Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Tahun 2013 Sumber: Puskesmas Dulupi tahun 2014
Grafik 3.1 menggambarkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan pada bulan Januari sampai Desember tahun 2013. Nampak cakupan persalinan oleh nakes terbanyak di Desa
129
Dulupi yaitu 74,32 % , di mana rata-rata para ibu hamil sudah melakukan persalinan dan percaya pada petugas kesehatan setempat.
Rata-rata wanita di Desa Dulupi hamil di usia yang masih sangat muda, sehingga risiko tinggi pada saat kehamilan bisa terjadi. AKI (Angka Kematian Ibu) terjadi di tahun 2011 dengan satu kasus akibat pendarahan karena keterlambatan penanganan disebabkan oleh jarak antara rumah pasien ke fasilitas kesehatan cukup jauh. Kasus kematian ibu hamil terjadi juga di tahun 2013 dengan satu kasus akibat eklampsi dengan protein urine positif. Kematian ibu bersalin disebabkan oleh pengetahuan masyarakat tentang kesehatan masih kurang serta kesadaran dari masyarakat itu sendiri masih rendah terhadap persalinan oleh tenaga kesehatan. Mereka masih terpengaruh oleh budaya dan kebiasan persalinan oleh dukun dibanding pelayanan oleh tenaga kesehatan, sehingga pihak keluarga tidak mau dirujuk. Seperti ungkapan informan (bidan) sebagai berikut :
“Kasus kematian ibu hamil tahun 2012 karena usia ibu itu masih muda 17 tahun, keluarga menyembunyikan kehamilannya, karena faktor malu hamil tanpa bapak, pasien tidak melakukan pemeriksaan K1, K2, K3, nanti sudah mau melahirkan dan kejang-kejang papanya bukan bawa ke Puskesmas hanya di bawa ke kantor polisi karena mau melapor orang yang menghamili anaknya, waktu itu masih sempat dirujuk ke RS Tilamuta di Kabupaten Boalemo namun tidak tertolong karena sudah kejang-kejang dan tensinya naik”.
Pada tahun 2014 terjadi satu kasus kematian bayi saat lahir akibat retensio plasenta. Meskipun sempat dirujuk, tetapi akhirnya ibu meninggal dunia setelah pulang paksa akibat tidak ada lagi cukup dana untuk rawat inap di rumah sakit. Ungkap informan (bidan ) sebagai berikut,
130
“Begitu juga baru-baru ini (bulan Juni 2014) minggu lalu ada ibu partus ditolong sama orang tuanya sendiri melahirkan, waktu torang pigi ke rumahnya dia marah dia bilang tidak hamil perutnya katanya ambou (pengaruh lemak), nanti so sakit perut baru dia tahu hamil, dukun so cukup kasih nasehat untuk melahirkan di Puskesmas, tapi pasien menolak, akhirnya plasenta (dodomi) tidak keluar, tiga hari plasenta tidak keluar, ahirnya kami rujuk ke RS Tilamuta, di RS Tilamuta plasenta tidak keluar akhirnya di rujuk ke RS Pohuwato, belum terlalu pulih badanya pasien dan keluarganya minta pulang paksa, dengan alasan pasien sudah tidak mampu tinggal lama-lama di RS badannya terasa berat, dengan alasan yang juga tidak ada uang lagi, orang susah juga kasihan waktu dirujuk kami ada kasih uang Rp 250.000,-”.
Fenomena ini memberikan gambaran bahwa tindakan oleh sebagian ibu yang tidak memilih fasilitas kesehatan sebagai tempat melahirkan akan memberikan pengaruh yang besar terhadap keselamatan ibu hamil-melahirkan. Saat ini persalinan oleh tenaga kesehatan di Desa Dulupi mencapai 74,32 yang artinya 27 % masih memakai jasa non medis yaitu dukun beranak. Hal ini perlu di waspadai dan perlunya program kemitraan bidan dan dukun di setiap wilayah. Berdasarkan SDKI yang dilakukan tahun 2012 cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan nasional sudah mencapai 89,68 %, angka ini sudah mencapai target nasional yang tertuang dalam Renstra Kementerian sebesar 88%.
Terkait pelayanan KIA, informan (bidan) selama melaksanakan tugasnya sangat aktif dalam memberikan pelayanan yang baik kepada pasien-pasiennya. Meskipun di Desa Dulupi banyak dukun namun menurut informan dukun yang bermitra dengannya hanya 5 orang. Upaya untuk meningkatkan
131
kinerja dukun dilakukan dengan memberikan dana transport kepada dukun sebesar Rp. 25.000,-/orang bila memberikan informasi atau membawa pasien ibu yang akan melahirkan. Hal di ungkapkannya sebagai berikut :
“Saya kalau ada ibu hamil dan sampai proses partus, selalu saya kontrol dan kerjasama dengan dukun, kalau dukun bawa pasien ibu hamil ada kita kasih uang transport Rp. 25.000,- lima orang dukun di sini semua bakasih informasi kalau ada ibu hamil dengan yang mo melahirkan”.
Menurut informan (bidan) saat ini pembiayaan persalinan dengan dana Jampersal (Jaminan persalinan) sudah tidak berlaku lagi. Pasien risti (risiko tinggi) yang akan di rujuk ke RS Tilamuta dan tidak memiliki kartu Jamkesmas, maka secara langsung informan menguruskan kartu Jamkesda, ungkap informan :
“Saya biasa lihat pasien biasanya dorang tidak punya kartu jamkesmas. Kalau ekonominya tidak mampu apalagi kalau mo dirujuk saya uruskan dia punya kartu jamkesda, yang penting mereka ada KTP, yang susahnya kalau tidak ada KTP, dan rata-rata biasa kesulitan di situ KTP, Baru mominta surat keterangan tidak mampu dari kepala desa. Kalau yang tidak ada kartu jamkesmas atau jamkesda terpaksa harus bayar kalau pas mo melahirkan, biasanya Rp. 500-600.000/partus, melahirkan di Puskesmas kami tidak melayani partus di rumah, kecuali dalam keadaan terpaksa pasien yang rumahnya jauh dari fasiliats kesehatan dan sudah tidak mampu ke Puskesmas kecuali risiko tinggi kami harus rujuk ”.
Kesulitan yang sering dihadapi adalah pasien tidak mau dirujuk dan bila akan dirujuk harus menunggu hasil perundingan keluarga yang menyebabkan keterlambatan rujukan. Salah satu
132
pertimbangan tidak mau dirujuk adalah masalah ekonomi, seperti diungkap informan :
“Biasanya torang mau bantu dorang (ibu hamil-melahirkan) biasa dorang sendiri yang tidak mau, apalagi kalau mo dirujuk, nanti somo parah pasien baru ada keputusan keluarga, biasa pasien sendiri yang tidak mau mo dirujuk, mungkin dorang bapikir ekonomi. sekarang ini persalinan harus di Puskesmas kalau di rumah harus dibayar. Kalau ada yang melahirkan di rumah biasanya dukun yang tidak bermitra dengan torang yang kasih melahirkan, nanti kalau ada apa-apanya baru torang dipanggil“.
Dilakukan wawancara kepada seorang dukun beranak di Dusun Batupotong. Informan bekerja sebagai dukun beranak sudah cukup lama, dan sudah lupa awal mulanya jadi dukun beranak. Profesi sebagai dukun di peroleh dari orang tuanya secara turun temurun. Selain berprofesi sebagai dukun beranak, informan juga sebagai pengobat tradisional, pijat tradisional khususnya untuk anak-anak bayi dan ibu hamil. Sejak 4 tahun terakhir ini Informan bermitra dengan bidan di Puskesmas Dulupi. Informan menceritakan tentangpola kerja dukun dalam menolong ibu bersalin setelah bermitra dengan bidan. Dukun dilarang menolong persalinan dan akan kena sangsi berupa denda sebesar 500 ribu rupiah bila melanggar Hal-hal yang tidak boleh dilanggar dalam upaya kerjasama tersebut diungkap informan sebagai berikut:
“Saya tidak boleh bakasih melahirkan di rumah ibu hamil, kalau saya langgar saya kena denda RP, 500.00,- begitu juga kalau ada ibu hamil yang bersalin di rumah kena denda RP, 500.000,-. Makanya saya anjurkan dan selalu bawa pasien ibu hamil sama ses bidan di Puskesmas“.
133
Menurut informan (dukun) untuk menjalin kerjasama tersebut dukun hanya diberikan sosialisasi tata cara pemeriksaan ibu hamil dan persalinan dilengkapi dengan alat partus. Terkait intensif/imbalan yang diberikan sampai saat ini tidak ada pembicaraan mengenai dana bantuan untuk seorang dukun dalam memberikan informasi atau saat membawa pasien. Ungkap informan,
“Torang cuma dikasih kayak pelatihan begitu, tidak ada bicara dana berapa yang mo dikasih kalau mo antar orang melahirkan atau ba kasih informasi, biasa kasihan torang cuma mo dapa dari ibu hamil itu biasa dikasih Rp 200.000, sampai dengan 250.000,- Dulu ada di kasih sama ses astri pas dia so pindah ke Paguyaman, tapi sejak tahun 2013 so teada torang dapa bantuan itu, biasa ses astri kasih torang kalau mo babantu antar pasien dengan bantu-bantu di ruangan bersalin biasanya Rp. 50.000,-.
Grafik 3.2.
Cakupan Persalinan oleh Dukun Tahun 2013 Sumber : Puskesmas Dulupi 2014
134
Grafik 3.2 menunjukkan bahwa masih banyak para ibu yang menaruh kepercayaan pada Hulango (dukun bayi), khususnya di Desa Dulupi yang memiliki persentase persalinan dukun yaitu sebesar 6.8%, lebih tinggi di banding dengan desa-desa lain yang ada di wilayah Puskesmas Dulupi. Saat ini persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan di Puskesmas dan ibu hamil/melahirkan akan memperoleh buku KIA untuk kontrol. Buku KIA tempat mencatat data ibu dan bayi. Berikut penuturan informan RA yang pernah membantu istrinya melahirkan sendiri di rumahnya sebagai berikut :
“Anak ke enam saya lahirkan sendiri di rumah dibantu oleh Hulango. Tapi sekarang sudah harus di RS (RS yang dimaksud oleh informan adalah sarana kesehatan dasar yakni Puskesmas), karena kalau di rumah itu akan didenda. Melahirkan di RS bagus terjamin. Kalau mau ba kontrol juga dikasih buku KIA, ada diisi data agar supaya sehat bayi dan ibunya. Ada juga petugas yang mengingatkan untuk rajin datang ke Imunisasi tiap bulan”.
Ketergantungan ibu hamil kepada dukun karena dukun
dapat memberi pelayanan terkait ritual, mau menjaga selama hamil sampai melahirkan, membantu ibu bersalin termasuk merawat dn memandikan. Informan juga tahu bahwa dukun harus memberitahu bidan bila ada yang mau melahirkan seperti pernyataan informan RMA berikut ini :
“Kalau mau melahirkan ke dukun dulu. soalnya masih dia
mo tondhaloliopo (adat dalam ritual raba-raba perut
supaya ta jaga terus ibu dan bayi di dalam perut. Tidak ada yang ba ganggu. Dukun yang somo dapa rasa semua, dorang yang mo b jaga dari hamil sampai melahirkan. Mo ba rawat, mo kase mandi, mo kase pake, sampe ada yang mo kase tidur atiolo (kasihan) dorang dukun yang
135 biasa jaga ba bantu. Tapi sekarang so harus ba kase tau sama ti ses (bidan) kalau ada yang mo melahirkan”.
Dari ungkapan informan di atas nampak warga sudah mulai menyadari dan menaruh kepercayaan penuh akan pelayanan kesehatan saat mulai pemeriksaan kehamilan sampai persalinan. Hulango tetap mendampingi pasiennya (ibu hamil) pada saat proses persalinan berlangsung. Hal yang sering dilakukan Hulango saat persalinan di Puskesmas adalah memberikan air yang telah didoakan kemudian diminumkan pada ibu yang akan melahirkan dengan tujuan agar proses persalinan cepat dan selamat. Dukun juga membantu bidan menyiapkan keperluan ibu seperti menyiapkan pakaian ibu dan bayi. Ibu merasa nyaman dengan adanya Hulango yang mendampinginy saat persalinan berlangsung. Pandangan lain diutarakan oleh informan KA selaku suami yang menyatakan bahwa:
“Waktu itu saya bawa istri saya sedang hamil anak kedua kami. Dan yang saya tau kalau sekarang-sekarang ini orang yang melahirkan harus di Puskesmas tapi biasanya saya, melalui dukun bayi dulu yang tugasnya mendampingi untuk mengatasi kalau ada roh/setan yang mengganggu kan kalau bidan tidak bisa mengatasi hal tersebut. Karena biasa dukun yang membaca doa untuk keselamatan ibu hamil dan cabang bayi yang ada di dalam perut“.
Aksesbilitas jalan dan sarana transportasi merupakan
segelintir persoalan yang dihadapi oleh ibu hamil untuk memperoleh pertolongan persalinan dengan baik dan selamat. Keluhan disampaikan oleh ibu-ibu hamil secara langsung ketika peneliti mengikuti kegiatan Posyandu khususnya di dusun terpencil seperti Sambati dan Langge adalah jalan dan sarana transportasi sebagai kendala utama dalam melakukan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas.
136
Ibu hamil yang berada di Dusun Sambati sebahagian besar memilih untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, tetapi terkendala oleh jauhnya akses ke tempat pelayanan kesehatan akibat kondisi jalan yang sulit. Berdasarkan pengalaman yang ada di tahun-tahun sebelumnya ibu yang tinggal menghitung hari untuk melahirkan masih tetap bertahan di rumahnya, ungkap informan YA sbb :
“Mau ke kampung setengah mati dengan kondisi jalan dan biaya juga berat bagi kita biasa ongkos pulang pergi Rp. 15.000,0 naik bentor. Dengan keadaan ini banyak yang bersalin di rumah dengan undang Hulango“.
Keadaan seperti ini sudah sering kali terjadi. Akan tetapi sekarang dukun diharuskan untuk dapat menginformasikan ke bidan desa apabila ada ibu hamil atau yang akan melahirkan. Menurut beberapa informan, sekarang peraturannya semua dukun yang bermitra wajib untuk memberikan informasi ke bidan. Salah satu keinginan masyarakat khususnya warga yang tinggal di Dusun Sambati dan Langge adalah disediakan rumah tunggu seperti ungkap informan KDR sebagai berikut :
“Paling baik ada rumah tunggu di dusun ini yang difungsikan untuk para ibu hamil yang akan melangsungkan persalinan yang usia kandungannya sudah menginjak 9 bulan. Dengan rumah tunggu akan mengurangi kejadian persalinan di rumah dan dibantu oleh Hulango. Di rumah tunggu nanti akan ada warga yang menjaga (Informasi saran ini diperoleh kader dari kepala Desa Dulupi).”
Menurut informan AY (Bidan), saat ini akan diterapkan aturan oleh Puskesmas Dulupi yaitu setiap ibu hamil dan memeriksakan kehamilannya di Puskesmas akan diberikan seperti surat perjanjian (kontrak) dengan petugas kesehatan
137
(bidan) bahwa ibu hamil akan memilih tempat persalinan di fasilitas kesehatan. Isi perjanjian tersebut akan ditandatangani oleh pihak keluarga seperti suami atau orang tua dari ibu hamil.