• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN

B. Agency Theory

Teori agensi pertama kali dipopulerkan oleh Jensen dan meckling pada tahun1976. Dalam teori ini dinyatakan bahwa hubungan keagenan muncul ketik satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk memberikan

agen tersebut4. Dalam hal ini pemegang saham hanya tertarik pada hasil keuangan yang bertambah atau investasi mereka didalam perusahaan. Hubungan antara agen dan principal (pemegang saham) harus memiliki kepercayaan yang kuat dimana agen

melaporkan segala informasi perkembangan perusahaan yang dimiliki oleh principal

melalui segala bentuk informai akuntansi karena hanya pihak manajemen yang mengetahui dengan pasti keadaan perusahaan.

Teori agensi mengasumsikan bahwa seorang manajer sebagai pengelola perusahaan mengetahi lebih banyak informasi-informasi internal dan prospek perusahaan kedepannya dibandingkan pemilik (pemegang saham). Karena pemilik (pemegang saham) tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja agen, maka pemilik (pemegang saham) tidak pernah dapat mengetahui dengan pasti bagaimana usaha agen memberikan kontribusi pada hasil aktual perusahaan. Oleh karena itu sebagai seorang manajer mempunyai kewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut penting karena sebagai alat komunikasi perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan baik pihak-pihak internal maupun eksternal.

Oleh karena itu informasi yang akurat mengenai kondisi perusahaan sangat dibutuhkan agar tidak bias terutama menyangkut hal pengambilan keputusan. Adannya ketidakseimbangan penguasaan informasi akan memicu munculnya suatu

4Rahmita Wulandari, “Analisis Pengaruh Good Corporate Governance dan leverage

kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Asimetri

antara manajemen (agent) dengan pemilik (principal) dapat memberikan kesempatan

kepada manajer untuk melakukan manajemen laba (earning management).

Asimetri informasi ini mendorong terjadinya konflik yang biasa disebut agency

conflict yakni mendorong agent menyajikan informasi yang tidak sebenarnya seperti

menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui oleh prinsipal terutama yang berkaitan dengan pengukuran kinerja agent. Terdapat kemungkinan konflik

dalam hubungan antara prinsipal dan agen (agency conflict), konflik yang timbul

sebagai akibat keinginan manajemen (agen) untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya yang dapat mengorbankan kepentingan pemegang saham (principal) untuk memperoleh return dan nilai jangka panjang perusahaan. Agency

conflict timbul karena5 :

1. Moral-Hazard

Manajemen memilih investasi yang paling sesuai dengan kemampuan yang paling menguntungkan bagi perusahaan.

2. Earning Retention

Manajemen cenderung mempertahankan tingkat pedapatan perusahaan yang stabil, sedangkan pemegang saham lebih menyukai distribusi kas yang lebih tinggi melalui beberapa peluang investasi internal yang positif.

5Pipin Kurnia, “Pengaruh Ukuran Dewan, Female Representation dalam Dewan, dan Konsentrasi Kepemilikan terhadap Kinerja Perusahaan (Studi terhadap Perusahaan Publik pada Industri Bahan Dasar Kimia,” (Tesis S2 Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 2008), h.10.

3. Risk Aversion

Manajemen cenderung mengambil posisi aman utuk mereka sendiri dalam mengambil keputusan investasi.

4. Time-Horizon

Manajemen cenderung hanya memperhatikan cash flow perusahaan

sejalan dengan waktu penugasan mereka.

C. Profitabilitas

Setiap perusahaan selalu berusaha untuk meningkatkan profitabilitasnya. Jika perusahaan berhasil meningkatkan profitabilitasnya, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien sehingga mampu menghasilkan laba yang tinggi. Sebaliknya, sebuah perusahaan memiliki profitabilitas yang rendah menunjukan bahwa perusahaan tersebut tidak mampu mengelola sumber daya yang dimilikinya dengan baik, sehingga tidak mampu menghasilkan laba tinggi. Profitabilitas berhubungan dengan kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba dengan menggunakan sumber daya yang dimilikinya.

Profitabilitas adalah ukuran mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan selama periode tertentu. Dalam rasio profitabilitas ini dapat dikatakan sampai sejauh mana keefektifan dari keseluruhan manajemen dalam

menciptakan keuntungan bagi perusaaan6. Nilai profitabilitas sudah menjadi norma ukuran bagi kesehatan perusahaan karenanya profitabilitas digunakan sebagai alat yang untuk menganalisis kinerja manajemen. Tingkat profitabilitas akan menggambarkan posisi laba perusahaan profitabilitas juga merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan keputusan perusahaan.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk dapat mengetahui kemampuan perusahaan didalam menghasilkan laba selama periode tertentu serta memberikan gambaran mengenai tingkat efektifitas manajemen didalam melaksanakan kegiatan operasinya. Efektifitas manajemen dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan serta investasi perusahaan. Rasio tersebut disebut juga dengan rasio rentabilitas7. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya8.

Sedangkan menurut Kasmir, Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga

6

Herdiani Restu Ekasiswi & Moh. Didik, Analisis Pengaruh Manajemen Laba dan Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen (Studi Empiris Perusahaan Manufaktur Go public yang Terdaftar di BEI 2007-2009)” Jurnal (2010), h. 7.

7

Muchlisin Riadi, Rasio Profitabilitas, Artikel diakses pada 16 juni 2015 dari http://www.kajianpustaka.com/2012/12/rasio-profitabilitas.html

8

Sofyan Syafri, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, (Jakarta : Rajawali Pers, 2008), h. 304.

memberikan ukuran tingkat efektivis manajemen suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi9.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa profitabilitas adalah suatu ukuran atau rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas kegiatan operasional yang dilakukan dalam periode tertentu. Pada dasarnya terdapat 7 teknik dalam mengukur tingkat profitabilitas dalam suatu perusahaan yaitu Gross Profit Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM), Rentabilitas

Ekonomi, Return on Investment (ROI), Return on Asset (ROA), Return on Equity

(ROE), dan Earning per Share (EPS)10.

1. Gross Profit Margin (GPM)

Gross Profit Margin Merupakan rasio yang menguur efisiensi pengendalian

harga pokok atau biaya produksinya, mengindikasikan kemampuan perusahaan untuk berproduksi secara efisien.

9

Kasmir, Analisa Laporan Keuangan (Jakarta : Rajawali Pers, 2008), h,196. 10Muchlisin Riadi, “Rasio Profitabilitas”, diases pada 21 Oktober 2015 dari http://www.kajianpustaka.com/2012/12/rasio-profitabilitas.html

Penjualan HPP GPM :

2. Net Profit Margin

Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap penjualan. Semakin tinggi Net Profit Margin (NPM) semakin baik operasi suatu perusahaan.

3. Return on Invesment

Return on investment merupakan perbandingan antara laba bersih setelah

pajak dengan total aktiva. Return on investment adalah merupakan rasio yang

mengukur kemampuan perusahaan secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang tersedia didalam perusahaan.

4. Return on Asset

Return on Asset adalah rasio rentabilitas yang menunjukan perbandingan

antara laba dengan total asset suatu perusahaan, rasio ini menunjukan tingkat efisiensi pengelolaan asset yang dilakukan oleh perusahaan yang bersangkutan11. Dalam pengertian lain disebutkan bahwa ROA merupakan ukuran kemampuan perusahaan

11Dwi Nura’ini Ihsan, Analisis Laporan Keuangan Perbankan Syariah, (Jakarta : UIN Jakarta Press, 2013), h. 101.

Laba Bersih Setelah Pajak

NPM :

Penjualan

Laba Bersih Setelah Pajak

ROI :

dalam menghasilkan keuntungan (return) bagi perusahaan dengan memanfaatkan

aktiva yang dimilikinya. Semakin besar ROA menunjukan kinerja yang semakin baik. Nilai ROA yang semakin tinggi menunjukan suatu perusahaan semakin efisien dalam memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba, sehingga nilai perusahaan meningkat. ROA juga menggambarkan perputaran aktiva dari volume penjualan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan Jadi semakin tinggi nilai profitabilitas menunjukan kinerja keuangan perusahaan semakin membaik. Profitabilitas proksi ROA secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Berdasarkan rumus diatas dapat diketahui bahwa semakin besar ROA suatu perusahaan berarti semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai suatu perusahaan dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut dari sisi penggunaan asset.

5. Return on Equity

Return on Equity ialah perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan

total ekuitas. Return on equity ialah suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang

tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik itu pemegang saham biasa ataupun Laba Bersih

ROA :

pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam suatu perusahaan12.

Return on equity ialah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah perusahaan

tersebut mengelola modal sendiri (net worth) dengan secara efektif, mengukur tingkat

keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri ataupun pemegang saham suatu perusahaan13. ROE tersebut menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut dengan rentabilitas usaha. Profitabilitas dengan proksi ROE dirumuskan sebagai berikut :

Tingkat profitabilitas suatu perusahaan dapat menjadi tolak ukur dalam menentukan kondisi perusahaan terutama kondisi keuangannya, sehingga perusahaan dapat memahami secara baik kondisi yang dialami oleh perusahaan. Tingkat profitabilitas yang tinggi menunjukan bahwa kinerja perusahaan tersebut dipandang baik dan pengawasan serta pengontrolan operasional perusahaan berjalan dengan baik. Sedangkan apabila tingkat profitabilitas rendah, menunjukan bahwa kinerja perusahaan dipandang kurang baik, dan kinerja manajemen dinilai buruk atau kurang maksimal di mata para principal (pendiri perusahaan). Dalam mengukur

12

Sofyan Syafri, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, h. 304. 13

Agnes Sawir, Analisa Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009). h.64.

Laba bersih setelah pajak

ROE :

profitabilitas, para pengguna laporan keuangan yaitu pihak-pihak yang berkepentingan biasanya menemui berbagai kendala seperti data yang dilaporkan di dalam laporan keuangan telah dimodifikasi dan lain-lain.

Dalam mengukur tingkat profitabilitas, ada beberapa tolak ukur yang sangat penting karena banyak digunakan dalam perhitungan rasio-rasio yang menghitung tingkat profitabilitas, yaitu aktiva dan laba. Profitabilitas bisa menjadi bahan acuan untuk melihat kondisi suatu perusahaan khususnya kondisi keuangan perusahaan, sehingga apabila tingkat profitabilitas tinggi maka para investor dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut akan menilai bahwa perusahaan tersebut baik. Dengan demikian, perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang tinggi akan lebih disukai oleh banyak investor dan pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dengan perusahaan tersebut dengan berbagai kepentingannya masing-masing.