• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sidang Komisi Kegiatan Pemutakhiran Data Hasil Temuan Audit dengan BPKP Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI

Pengawasan

dan transparan diperlukan penguatan peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) dan sinergi atau koordinasi dengan pemeriksa ekstern.

Pengawasan intern pemerintah merupakan unsur manajemen Pemerintah yang penting dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sebagai pelaksana pengawasan intern pemerintah harus mampu merespon secara signifikan berbagai permasalahan dan perubahan yang terjadi, baik politik, ekonomi, dan sosial melalui suatu program dan kegiatan yang ditetapkan dalam suatu kebijakan pengawasan yang berlaku secara menyeluruh. Perubahan yang terjadi akibat dinamika tuntutan masyarakat tercermin dari penetapan peraturan perundang-undangan yang mendukung penerapan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik dan peningkatan peranan Inspektorat Jenderal dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Peraturan perundang-undangan yang mendukung kepemerintahan yang baik terutama berupa Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu dalam bidang keuangan telah ditetapkan paket Undang-Undang Keuangan Negara yang terdiri atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 dan

Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 yang mendorong penerapan sistem administrasi keuangan negara yang berbasis kinerja serta lebih transparan dan akuntabel.

Tuntutan masyarakat kepada Pemerintah untuk segera mewujudkan kepemerintahan yang baik merupakan tuntutan untuk terselenggaranya pemerintah yang bersih, efektif, efisien, dan taat kepada peraturan perundang-undangan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan melalui suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dalam hal ini pengawasan intern pemerintah memegang peranan penting untuk memberikan keyakinan bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pertanggungjawaban melalui sistem akuntabilitas tersebut telah dapat dilaksanakan seperti yang diharapkan. Untuk dapat melaksanakan peran pengawasan secara optimal, setiap unit APIP sesuai dengan lingkup kewenangan serta tugas dan fungsi masing-masing harus dapat memilih prioritas sasaran pengawasan, melaksanakan kegiatan pengawasan yang tepat dan relevan untuk diterapkan sesuai dengan sasaran pengawasan yang telah ditetapkan. Prioritas sasaran pengawasan tersebut perlu dirumuskan secara jelas dan terinci dalam program kerja pengawasan tahunan.

Signifikansi Koordinasi Internal Pengawasan

Kegiatan koordinasi pengawasan kinerja kelembagaan merupakan suatu kegiatan penting yang terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan sesuai Tupoksi dari Unit Kerja Inspektorat Jenderal,

Pengawasan

yaitu melakukan kegiatan pengawasan dan pemeriksaan kinerja pelaksanaan tugas, pokok dan fungsi di lingkungan Kementerian Agama. Tujuannya adalah meningkatkan akuntabilitas dan kinerja kelembagaan Kementerian Agama sebagai lembaga yang mengemban amanat di bidang keagamaan.

Untuk meningkatkan kualitas dan membangun proses pelaksanaan pengawasan kinerja diperlukan suatu sistem audit kinerja beserta pelaporannya yang berdaya guna dan mendukung reformasi/perbaikan dalam sistem birokrasi yang berkelanjutan di lingkungan Kementerian Agama. Di dalam internal organisasi Kementerian Agama, kegiatan koordinasi diperlukan utamanya untuk menunjang:

Pertama, Pengembangan sarana transparansi dari akuntabilitas kinerja unit kerja/organisasi;

Kedua, Pengembangan Knowledge Management untuk menunjang kinerja

Kementerian Agama sebagai lembaga yang mengemban di bidang keagamaan.

Untuk itu perlu dilakukan koordinasi internal yang intensif di antara masing-masing unit kerja yang terkait. Selain dari itu, kegiatan Koordinasi ini juga akan diperluas di dalam lingkup aparat pengawas internal pemerintahan secara umum sepeti kegiatan koordinasi yang akan dilakukan dengan aparat terkait di lingkungan BPK, BPKP, dan MenPan.

Koordinasi pengawasan penyeleng-garaan atas pemerintahan di tingkat Pusat dilaksanakan oleh Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara berdasar- kan Perpres No. 9 tahun 2005. Untuk mewu-judkan koordinasi pengawasan Kementerian

Agama tingkat nasional yang efektif, diper-lukan koordinasi internal. Kegiatan koordi-nasi pengawasan yang perlu dilaksanakan mencakup:

Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas)

Untuk meningkatkan koordinasi pengawasan internal perlu dilaksanakan Rapat Koordinasi Pengawasan (Rakorwas) guna di peroleh kesamaan persepsi mengenai kebijakan pengawasan antara Inspektorat Jenderal dengan unit kerja/satuan organisasi yang menjadi obyek audit. Rakorwas diselenggarakan dalam bentuk Rakorwas Nasional yang diikuti unsur Inspektorat Jenderal dan seluruh unit kerja/satuan organisasi di lingkungan Kementerian Agama. Tujuan Rakorwas adalah untuk membahas

isu-isu pengawasan yang relevan.

Koordinasi Pelaporan

Koordinasi pelaporan dilakukan melalui pengiriman laporan dari setiap ketua tim yang selesai melaksanakan tugasnya. Pelaporan dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa aspek diantaranya tepat waktu, pembuatan laporan memenuhi prinsip-prinsip penulisan laporan sesuai de¬ngan standar yang telah ditentukan oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) baik dari segi kualitas/mutu maupun dari segi formatnya. Sehingga, rekomendasi dalam laporan dapat segera ditindaklanjuti dan berguna bagi instansi yang diaudit dalam memperbaiki kinerja pada masa mendatang.

Frekuensi Pemeriksaan

Dalam satu tahun anggaran, terhadap satu obyek pengawasan dapat dilakukan satu

Pengawasan

kali pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal, dengan sasaran dan tujuan pemeriksaan yang sama. Ketentuan ini tidak berlaku untuk pemeriksaan investigatif yang dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan. Sasaran dan jadwal pengawasan oleh Inspektorat Jenderal di Pusat dan Daerah masing-masing ditetapkan oleh Inspektur Jenderal Koordinasi dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara yang dituangkan dalam dalam Program Kerja Pengawasan Tahunan di Pusat dan Daerah.

Monitoring

Koordinasi internal lainnya yang penting adalah monitoring atau pemantauan. Monitoring oleh Inspektorat Jenderal dilakukan secara terus-menerus terhadap seluruh tahap pelaksanaan tugas pokok instansi pemerintah sejak tahap perencanaan, sebagai salah satu bentuk pengarahan dan penjagaan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah, agar tetap berjalan sesuai dengan kebijakan, rencana, prosedur dan ketentuan peraturan

perundang-undangan. Inspektur Jenderal dapat segera memberikan saran atau rekomendasi kepada pimpinan instansi pemerintah/unit kerja yang bertanggungjawab, jika hasil monitoring menunjukkan bahwa ada hal-hal yang perlu dikoreksi untuk menjamin agar tujuan/sasaran program atau kegiatan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Saran atau ekomendasi tersebut antara lain dapat berupa perbaikan dalam penerapan sistem pengendalian intern, misalnya penyempurnaan kebijakan, pengorganisasian, perencanaan, prosedur, dan sistem pelaporan.

Selain itu, untuk mencapai hasil pengawasan yang optimal dan memberikan nilai tambah bagi penyelenggaraan pemerintahan, Inspektorat Jenderal wajib untuk memantau tindak lanjut dari rekomendasi hasil pengawasan intern, ekstern dan pengawasan masyarakat dan mendorong pimpinan instansi untuk memperhatikan dan melaksanakan tindak lanjut tersebut. Pemantauan tindak lanjut ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa instansi pemerintah telah melaksanakan

Sekretaris Itjen, Abdul Karim dan Para Inspektur Wilayah Kementerian Agama Saat Memberikan Arahan Koordinasi Internal TLHP

Pengawasan

terhadap efektivitas atau keandalan Sistem Pengendalian Intern Instansi Pemerintah. Evaluasi secara berkala merupakan suatu sistem pengendalian intern pada tingkat kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pemeriksaan atas kegiatan tertentu. Evaluasi efektivitas Sistem Pengendalian Intern Instansi Pemerintah dapat dilaksanakan dengan menggunakan metodologi evaluasi yang ditetapkan dalam Kepmen PAN No. 46/Kep/M.PAN/04/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat.

Optimalisasi Peran Koordinasi Internal Bagi Peningkatan Kualitas Hasil Pengawasan

Inspektorat Jenderal sebagai lembaga pengawasan internal pemerintah diperlukan untuk mendorong terselenggaranya tindak lanjut sebagaimana mestinya.

Apabila dari pemantauan tindak lanjut hasil pengawasan tersebut ditemukan adanya rekomendasi yang tidak dilaksanakan, maka pimpinan instasi pemerintah dapat mengenakan sanksi kepada pimpinan unit kerja atau personil yang bertanggungjawab.

Evaluasi Sistem Pengendalian Intern

Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang selama ini dikenal dengan istilah pengawasan melekat (waskat) merupakan lapisan pengawasan terdepan yang menjadi benteng pertahanan terhadap setiap upaya penyimpangan dan hambatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Inspektorat Jenderal mempunyai kewajiban untuk melakukan evaluasi secara berkala

Budaya Disiplin Menjadi Karakter Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Kementerian Agama

Pengawasan

manajemen pemerintahan yang bersih, efektif dan efisien. Pengawasan internal tidak hanya dilakukan pada saat akhir proses manajemen saja, tetapi berada pada setiap tingkat proses manajemen. Perubahan paradigma pegawasan internal yang telah meluas dari sekedar watchdog (menemukan penyimpangan) ke posisi yang lebih luas yaitu pada efektifitas pencapaian misi dan tujuan organisasi, mendorong pelaksanaan pengawasan kea rah pemberian nilai tambah yang optimal.

Harapan yang terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh Inspektorat Jenderal tersebut adalah:

Pertama, pengawasan internal diharapkan tidak hanya menggunakan pendekatan single loop learning, akan tetapi lebih kepada double loop learning. Artinya, tidak hanya melakukan pengujian atas realisasi yang dicapai dengan rencana yang telah ditetapkan, tetapi juga mempertimbangkan dan memberdayakan system pengendalian intern yang ada pada organisasi, sehingga terjadi suatu sistem pengawasan yang terintegrasi antara pencegahan dan penindakan secara terus menerus dalam menanggulangi dan mencegah praktek-praktek KKN, serta menutup celah-celah yang membuka peluang bagi tindakan yang merugikan organisasi serta menghambat pencapaian misi dan tujuan organisasi.

Kedua, dengan paradigma pengawasan

yang dianut sekarang ini, timbul harapan bahwa terselenggaranya pengawasan dapat berperan untuk memberikan nilai tambah pada manajemen pemerintahan melalui pendekatan konsultasi dan risk based audit. Pengawasan internal pemerintahan

diharapkan lebih mampu melakukan evaluasi yang diarahkan pada berbagai aspek yang memiliki resiko tinggi yang dapat mengganggu pencapaian kinerja pemerintah. Pengawasan internal pemerintah harus dapat mendorong instansi pemerintah untuk lebih mampu meningkatan pelaksanaan tugas-tugas dan pencapaian kinerja yang tinggi, dengan mewujudkan akuntabilitas publik, meningkatkan kredibilitas atau akuntabilitas instansi pemerintah, dan meyakinkan bahwa pembangunan nasional berjalan sebagaimana mestinya. Inspektorat Jenderal diharapkan lebih responsif untuk menjadi pengamat kegiatan pada satuan kerja. Fungsi pengawasan internal diharapkan berlangsung secara dinamis dan terus menerus memberdayakan

Ada 2 (dua) langkah besar yang harus dilakukan dalam meningkatkan kualitas hasil pengawasan agar menjadi optimal yaitu:

Pertama, Optimalisasi Pelaksanaan

Tugas dan Fungsi. Mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi agar dapat bekerja secara efektif dan efisien, serta memberikan nilai tambah yang optimal dalam mencapai misi dan tujuan organisasi (bukan sekedar watchdog untuk menemukan penyimpangan) pada setiap tingkatan proses manajemen.

Inspektorat Jenderal yang berfungsi sebagai penyeimbang (check and balance) terhadap fungsi pelaksanaan satuan organisasi sejajar dan merupakan mitra dalam meningkatkan efisiensi Negara serta

concern (menaruh perhatian) terhadap

pengawasan yang efektif dan efisien. Inspektorat Jenderal diharapkan lebih mampu melakukan evaluasi yang diarahkan

Pengawasan

pada berbagai aspek yang berisiko tinggi (KKN) yang dapat mengganggu pencapaian kinerja kementerian. Pengawasan internal diharapkan juga dapat mendorong satuan kerja atau organisasi dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan pencapaian kinerja yang tinggi.

Optimalisasi Inspektorat Jenderal perlu diuraikan secara tegas dan jelas serta dituangkan dalam Rencana Strategis dan kebijakan pengawasan Inspektur Jenderal sehingga pelaksanaan pengawasan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP).

Kedua, Pembenahan Standar Pengendalian Intern. Pembenahan standar-standar pengendalian intern agar dapat berjalan secara efektif dan memudahkan pengawasan/pemeriksaan, serta mencegah terjadinya KKN sedini mungkin. Tugas Inspektorat Jenderal adalah untuk mendorong dan membantu percepatan implementasi standar-standar pengendalian intern baik melalui law enforcement, maupun pembinaan secara aktif/langsung melalui asistensi dan konsultasi. Demikian juga, dalam penetapan standar-standar dalam sistem pengendalian intern secara menyeluruh, Inspektorat Jenderal harus terlibat aktif agar memudahkan pengawasannya di masa mendatang.

Penutup

Berdasarkan refleksi terhadap pelaksanaan pengawasan, menunjukkan bahwa masih banyak kendala yang dihadapi dalam menuju kualitas hasil pengawasan. Kendaala utama yang dihadapi dapat dibagi

menjadi 2 (dua) bagian besar. Kendala pertama, optimalisasi yang jelas dan tegas dalam menuju suatu kualitas hasil pengawasan yang efektif dan efisien, sehingga temuannya berkualitas tidak sekedar menguji ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku melainkan mempunyai nilai tambah bagi peningkatan kinerja manajemen pemerinthan, serta fokus pada bidang atau program yang berisiko tinggi.

Kendala kedua adalah belum lengkapnya standar-standar pengendalian intern pemerintah, baik secara menyeluruh oleh Presiden maupun secara parsial oleh Menteri yang diberi kuasa oleh Presiden selaku Kuasa pengguna Anggaran. Bahkan untuk beberapa standar yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku masih perlu perjuangan untuk menerapkannya seperti anggaran berbasis kinerja, standar pelayanan minimal, standar analisa belanja, pengembangan ukuran kinerja/indikator kinerja, dan lain sebagainya.

Langka pembenahan pertama yang harus dilaksanakan adalah membenahi koordinasi aparat pengawas internal pemerintah termasuk Inspektorat Jenderal dalam peningkatan mutu hasi pengawasan yang bukan sekedar temuan watchdog (penyimpangan dari ketentuan) yang focus pada prioritas atau program berisiko tinggi

(risk based audit). Langkah pembenahan

kedua adalah melengkapi standar-standar pengendalian intern serta mendorong implementasi secepatnya, dengan didasarkan suatu aturan yang tegas dan jelas. [Ahmadun]

Pengawasan

Dokumen terkait