• Tidak ada hasil yang ditemukan

P

emberlakuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang kemudian disusul dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, semakin mempertegas keberadaan madrasah yang secara sistemik terintegrasi ke dalam sistem pendidikan nasional. Karenanya, lembaga madrasah merupakan bagian integral dari program pendidikan nasional; artinya bahwa keberadaan madrasah sama dan sederajat dengan keberadaan sekolah umum, baik dalam implementasi kurikulum maupun kualifikasi lulusannya.

Sebagaimana tercantum dalam Bab II Pasal 2 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 bahwa lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan. Dari delapan standar di atas, pemerintah baru menyelesaikan dua standar yakni Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kedua standar dimaksud telah ditetapkan melalui Peraturan Mendiknas

Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Peraturan Mendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Standar-standar lainnya masih terus diupayakan untuk diselesaikan pemerintah melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Kedelapan standar dimaksud merupakan standar minimal yang dicanangkan pemerintah untuk dicapai dan dipenuhi oleh satuan-satuan pendidikan. Meskipun harus diakui bahwa sebagian standar yang dipatok pemerintah sebagai sesuatu yang “minimal” ternyata masih terasa cukup berat untuk dipenuhi oleh sebagian besar satuan pendidikan, terutama madrasah. Namun demikian, masyarakat madrasah tidak perlu terlalu khawatir, karena sesungguhnya standar-standar itu hanyalah semacam “stasiun-stasiun” yang harus dilalui untuk menuju pendidikan berkualitas yang dicita-citakan. Dengan sikap yang wajar, tidak panik tetapi juga tidak santai serta dibarengi upaya yang maksimal, madrasah diharapkan dapat secara bertahap memenuhi standar-standar dimaksud; bahkan diharapkan juga ada yang dapat melampauinya.

Irjen Kementerian Agama, Mundzier Suparta

Pengawasan

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dirujuk oleh setiap pendidik; begitu juga kerangka dasar dan struktur kurikulum serta jumlah jam belajar dan kalender akademik yang sangat urgent bagi setiap satuan pendidikan sebagai dasar untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tertuang dalam Standar Isi. Berbagai hal yang harus dikuasai pendidik sekaligus harus dirujuk oleh satuan pendidikan dalam melakukan penilaian dan menentukan kelulusan peserta didik terdapat dalam Standar Kompetensi Lulusan.

Dengan demikian, kedua produk kebijakan pemerintah di atas sangat mendesak untuk disosialisasikan dan dikoordinasikan pelaksanaannya kepada stakeholders

madrasah, terutama para Kepala Seksi Mapenda di kabupaten/kota serta kepala-kepala madrasah, tidak terkecuali Kepala Madrasah Swasta serta Perguruan Tinggi.

Inspektorat Jenderal sebagai aparat fungsional pada Kementerian Agama dalam pelaksanaannya mempunyai peran strategis dalam mendorong perwujudan kebijakan pendidikan Islam. Sebagai pemeriksa internal Departemen, guna mengukur tingkat capaian kinerja sebagai gambaran tingkat efisiensi dan efektifitas kinerja, serta tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, dilakukan pemeriksaan dengan pendekatan komprehensif dan ke depan sedang dipersiapkan pemeriksaan kinerja. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Tanggungjawab Keuangan Negara, Pasal 4 ayat (1) menyatakan macam pemeriksaan adalah pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Peraturan Menteri Agama Nomor

03 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Agama Bab XI Pasal 720 menyatakan Inspektorat Jenderal mempunyai tugas menyelenggarakan pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Agama berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Agama.

Fokus Peningkatan Mutu Pendidikan

Pertama, Mengejar Ketertinggalan

Kualitas Lulusan Pendidikan: (a) Mengurangi bantuan dengan nilai kecil; (b) Pemberian bantuan dengan nilai besar berdasarkan persyaratan dan target tertentu; (c) Memberikan bantuan beasiswa pendidikan dan penetapan program ”menyekolahkan”; (d) Mencari peluang kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi unggulan selain UIN seperti IPB, UGM, ITB, UI untuk dapat menerima dan memberikan perlakuan khusus/tertentu bagi lulusan MA untuk dapat diterima diperguruan tinggi tersebut; (e) Meningkatkan kerja sama dengan beberapa negara, baik Negara Barat maupun Negara Timur Tengah, baik dengan pemerintah maupun dengan perguruan tinggi, baik dalam bidang Sumber Daya Manusia (SDM), Informasi Teknologi (IT) maupun pendanaan; (f) Memberikan kebebasan kepada madrasah untuk memilih buku-buku ajar yang akan dipakai sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditentukan; (g) Melakukan rekrutmen tenaga pendidikan sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan dalam upaya meningkatkan kualitas lulusan; (h) Mengevaluasi dan mengkaji pengelompokan madrasah sebagaimana yang sudah ada sekarang; (i) Mengurangi pertemuan-pertemuan; seperti seminar, workshop, pelatihan, lokakarya,

dalam implementasi kurikulum maupun kualifikasi lulusannya.

Kedua, Mutu pendidikan dapat

ditandai antara lain kesesuaian dengan standar, mencapai dan/atau melampaui standar, lulusannya kompetitif dengan lulusan lembaga yang setara dan sejenis dan baik serta sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan stakeholders.

Ketiga, Lembaga pendidikan sebagai

bagian dari satuan kerja yang merupakan entitas obyek pengawasan yang harus memberikan akuntabilitasnya atas penerimaan dana yang diperoleh, baik yang berasal dari pemerintah (DIPA) dan dari sumber dana lainnya yang sah.

Keempat, Substansi pengawasan mengarah pada pengawasan yang berbasis pada mutu kinerja (quality performance based

system), yang mencakup aspek mutu kinerja

akademis, mutu kinerja ketenagakerjaan, pendidikan/kepegawaian dan mutu kinerja keuangan. Masing-masing aspek pengawasan dipertimbangkan dari input, proses, output/

outcome dan dampak. Ketiga aspek ini

menjadi satu kesatuan kinerja yang menjadi substansi pengawasan.

Kelima, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama merupakan lembaga perangkat Kementerian Agama dengan penekanan tugas dan fungsinya pada pengawasan internal pada Kementerian Agama, dimana didalamnya termasuk institusi Pendidikan Islam dan Perguruan Tinggi. Sedangkan lingkup pengawasan perguruan tinggi Islam mencakup dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi yang mengacu pada Tri Dharma Perguruan Tinggi. [Makobah]

konsultasi dan lain-lain, kecuali yang bersifat darurat, urgen dan mendesak. Diklat dilakukan benar-benar untuk kebutuhan peningkatan kualitas dan dampaknya dapat dirasakan secara nyata; (j) Berupaya meningkatkan anggaran pendidikan; (k) Meningkatkan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi arah kebijakan dan program intern antar pusat dan daerah; (l)Melanjutkan program yang selama ini sudah berjalan, sepanjang secara prinsip tidak bertentangan dengan arah dan kebijakan umum Ditjen Pendidikan Islam. Kedua, Mengubah Sistem Manajemen dan Birokrasi Pendidikan: (a) Mengedepankan dan memprioritaskan program dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan pemeran utama dalam pendidikan, yaitu untuk kepentingan pihak yang belajar pihak yang mengajar, dan tempat proses pembelajaran dilaksanakan; (b) Mengurangi sistem yang banyak mengatur, regulasi, membina, mengawasi, tetapi lebih banyak kebebasan dan kepercayaan yang bertangungjawab dan dapat dipertanggungjawabkan; (c) Memprioritaskan anggaran untuk memenuhi kepentingan pemeran utama pendidikan, baik untuk peningkatan kualitas SDM, kesejahteraan tenaga pengajar, maupun untuk memenuhi sarana dan prasarana; (d) Menentukan perencanaan untuk selalu diarahkan kepada kepentingan peningkatan kualitas pendidikan; (e) Perencanaan dibuat berdasarkan usulan dari bawah.

Kesimpulan

Pertama, Lembaga madrasah merupakan bagian integral dari program pendidikan nasional; artinya bahwa keberadaan madrasah sama dan sederajat dengan keberadaan sekolah umum, baik

neraka”.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi

sabilillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Orang bijak juga pernah berkata: ”Orang yang beruntung adalah yang hari ini prestasinya lebih baik dari kemarin. Orang yang merugi adalah orang yang hari ini sama

K

erja pada hakekatnya adalahnya manifestasi amal kebajikan. Sebagai sebuah amal, maka niat dalam menjalankannya akan menentukan penilaian. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.” Amal seseorang akan dinilai berdasar apa yang diniatkannya. Suatu hari Nabi Muhammad berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al­Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi kepada

Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah

tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api

Pengawasan

Inspektur Jenderal Kementerian Agama, Mundzier Suparta Sidak Ujian Nasional (UN) di MAN Insan Cendekia Serpong BSD Tangerang

Dokumen terkait