• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAWASAN F. O. K. U. S. Evaluasi Program Kerja 100 Hari Kementerian Agama: Capaian dan Tantangan. Tegas dan Mandiri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGAWASAN F. O. K. U. S. Evaluasi Program Kerja 100 Hari Kementerian Agama: Capaian dan Tantangan. Tegas dan Mandiri"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

P

ENGAWASA

F . O . K . U . S

Tegas dan Mandiri

N

Nomor 25 Tahun VII Triwulan I 2010

Evaluasi Program Kerja

100 Hari Kementerian Agama:

“Capaian dan Tantangan”

(2)

2

Fokus Pengawasan

a.

Diterbitkan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI Tahun 2010 Dewan Penyunting:

Pembina : Mundzier Suparta Pengarah : Ichtijono, Mukhayat, Achmad Ghufron, Burhanuddin, Achmad Zaenuddin. Dewan Redaksi: Penanggung jawab: Abdul Karim Ketua : Maman Taufiqurrohman Sekretaris: Budi Setyo Hartoto Anggota : O. Sholehuddin, Kusoy, Maman Saepulloh, Anshori, Sukarma, Nur Arifin, Nugraha Stiawan, Noer Alya Fitra. Redaksi : Miftahul Huda, Ali Ghozi. Sirkulasi : Miftahul Hidayat Produksi : Hariyono Alamat Redaksi:

Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Jalan RS. Fatmawati Nomor 33A Cipete Jakarta Selatan 12420 PO. BOX 3867, Telp. (021) 75916038, 7697853, Fax. (021) 7692112

e-mail: [email protected]

Dewan Penyunting menerima artikel yang ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam bentuk soft copy.

Daftar Isi

SURAT PEMBACA ... 3 DARI REDAKSI ... 4 FOKUS UTAMA Mengukur Tingkat Inisiatif Anti Korupsi ... 5 Implementasi Budaya Kerja ... 15 Budaya Kerja, Sekedar Retorika? ... 20 Realisasi Budaya Kerja & Reformasi ... 28 Peningkatan Budaya Kerja ... 32 Belajar dari Budaya Kerja Jepang ... 39 PENGAWASAN Penggunaan Absensi Sistem Barcode ... 42

Pentingnya Koordinasi Internal ... 48 Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan ... 55 Menakar Budaya Kerja Profesional ... 58 OPINI Budaya Kerja, Konsep dan Realita ... 63 Budaya Kerja Bisa Mereformasi Birokrasi .. 65

Ideologi Korupsi (Sebuah Renungan) ... 69

JURNAL KEGIATAN Kunjungan Ke PT Astra Honda Motor ... 71

Gelar Pengawasan (Gerwas) ... 73

RANDANG PMA Nomor 1 Tahun 2010 ... 76

RESENSI BUKU ... 78

Fokus Pengawasan

(3)

3

Surat Pembaca

Program PIAK Kementerian Agama

Salam Sukses,

Redaksi majalah Fokus Pengawasan, saya mau ber ta nya, dan pertanyaan saya ini ju ga men jadi pertanyaan beberapa te man di kantor. Se la ma ini saya sering mendengar program PIAK? Pertanyaan saya, apakah benar PIAK itu menjadi program unggulan di Kementerian, apa saja programnya dan bagaimana penca pai an nya?

Terimakasih

Lulu Lutfiah, Pekayon - Pasar Rebo

Redaksi: Kementerian Agama seperti ke men terian yang lain juga mempunyai pro gram kerja PIAK. Program Pengukuran Inisiatif Anti Korupsi, yang disingkat dengan PIAK, akan menjadi bahasan di Majalah FP edisi ini. Selamat membaca.

Profil Satker

Assalamu ’alaikum Wr. Wb.

Dewan redaksi majalah FP yang saya hormati. Sebagai majalah yang di ter bitkan oleh Itjen, saya mengusulkan hendaknya majalah ini juga memuat profil satker terbaik dan satker-satker yang banyak temuannya. Minimal kita dapat belajar banyak dari beberapa satker-satker tersebut. Terima kasih

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Agus Bahaji, Wanaraja - Garut - Jabar

Redaksi: Terima kasih atas usulan sau­ dara. Kami akan menindaklanjuti usulan ter sebut. Dan kedepan, disamping Itjen Kementerian Agama akan menampilkan profil satker terbaik, tetapi juga akan memberikan

opini terhadap hasil akhir audit kepada setiap satker, intern Kementerian Agama.

Bagaimana Budaya Kerja ala Kemenag

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Redaksi yang terhormat, mohon di -je laskan tentang Budaya Kerja yang telah dikembangkan oleh Kementerian Agama, dapat mereformasi birokrasi. Terima kasih.

Wassalamualaikum

Azka Jihadul Ulya, Bogangin-Sumpiuh

Redaksi: Budaya kerja adalah cara pandang dan suasana hati yang menumbuhkan keyakinan yang kuat atas dasar nilai­nilai yang diyakininya, serta memiliki semangat yang tinggi dan bersungguh­sungguh untuk mewujudkan prestasi kerja yang baik. Untuk lebih jelas dan rincinya silahkan saudara bisa membaca artikel yang berjudul “Budaya Kerja Bisa Mereformasi Birokrasi”. Selamat membaca dan sukses selalu. Amin.

Redaksi memohon maaf, tidak semua surat pembaca dapat ditampilkan, karena keterbatasan tempat.

Saran dan kritik dari para pembaca sangat kami harapkan!

(4)

4

Dari Redaksi

Syukur alhamdulillah, Majalah Fokus Pengawasan (FP) Itjen Kemenag edisi ke 26 Triwulan II Tahun 2010 telah terbit. Penerbitan kali ini adalah kali kedua dengan

cover baru disertai dengan penambahan

jumlah halaman untuk mengakomodasi banyaknya tulisan/artikel yang masuk dari para auditor dan pelaksana di lingkungan Itjen Kementerian Agama.

Forum Fokus yang berbahagia

Menindaklanjuti nota dinas Inspektur Jenderal tentang Partisipasi Auditor dalam Penulisan Artikel Ilmiah pada Majalah Fokus Pengawasan, disampaikan bahwa setelah mencermati kontribusi penulisan artikel Majalah Fokus Pengawasan, fenomena yang ada minimnya auditor memberikan kontribusi penulisan artikel ilmiah. Oleh karena itu, dimohon agar para Inspektur Wilayah mendorong para auditor di wilayahnya masing-masing untuk memberikan kontribusi tulisan sesuai bidangnya, minimal 1 (satu) naskah untuk setiap penerbitan, dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan auditor dalam hal penulisan artikel ilmiah dan memenuhi KUM bidang pengembangan profesi.

Tema yang diangkat pada edisi kali ini adalah ”Implementasi Budaya

Kerja dalam Rangka Peningkatan Kinerja Menuju Reformasi Birokrasi di Lingkungan Kementerian Agama”. Dalam fokus utama

akan membahas tentang Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) sebagai salah satu unsur untuk melakukan upaya-upaya pencegahan tindak pidana korupsi. Pengisian instrumen PIAK saat ini diperuntukkan bagi seluruh

Unit Eselon I pada Kementerian Agama, selanjutnya seluruh jajaran unit/satker di lingkungan kementerian agama akan melaksanakan pengisian dokumen instrumen PIAK. Selanjutnya, fokus utama juga membahas tentang Implementasi Budaya kerja, realisasi pelaksanaannya serta memuat tulisan budaya kerja yang mengadopsi dari negara lain.

Pembaca Fokus yang budiman

Dalam bidang pengawasan, edisi kali ini akan memuat tiga tulisan terkait dengan penggunaan absensi sistem barcode untuk mengukur capaian hasil kerja (kinerja) pegawai, pentingnya koordinasi internal dan strategi peningkatan Mutu Pendidikan. Selain itu, opini tentang konsep dan realita budaya kerja yang berkembang juga diungkapkan secara jelas dalam tulisan tersendiri juga ideologi korupsi.

Reportase jejak kegiatan yang dilaksanakan Itjen juga tak luput dari pantauan redaksi majalah Fokus Pengawasan yaitu kunjungan ke PT AHM dan Gelar Pengawasan yang dilaksanakan oleh Inspektur Wilayah I-V, sebagai media koordinasi dan konsultasi antar pihak Itjen dengan Satker yang masih menyisakan temuan untuk ditindaklanjuti guna mencari solusi atas permasalahan yang ada sebagai upaya untuk meningkatkan opini penilaian hasil audit.

Akhirnya, kami ucapkan selamat membaca majalah ini, saran dan kritik sangat kami harapkan untuk mewujudkan majalah Fokus Pengawasan yang lebih baik dan berkualitas. [ ]

(5)

D

alam rangka menilai kemajuan suatu instansi publik dalam mengembangkan

upaya pemberantasan korupsi di instansinya, Komisi Pemberantasan Korupsi

(KPK) memiliki instrumen bernama Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK)

2010. PIAK merupakan alat ukur untuk menilai kemajuan suatu instansi publik

dalam mengembangkan upaya pemberantasan korupsi di instansi terkait. Pada tahun

lalu, Kemenkeu dan KemenPendiknas adalah instansi yang dipilih untuk pilot project.

PIAK merupakan pengembangan dari AIA (Anti Corruption Initiative Assessment) yang

telah diterapkan oleh lembaga anti korupsi di Korea, ACRC (Anti Corruption and The Civil

Rights Commission) sejak tahun 2002. PIAK ditujukan untuk mengukur apakah suatu

instansi telah menerapkan sistem dan mekanisme yang efektif untuk mencegah dan

mengurangi korupsi di lingkungannya.

Indikator PIAK terdiri 6 (enam) unsur utama, yaitu kode etik, peningkatan

transparansi dalam manajemen SDM, peningkatan transparansi dalam pengadaan,

Fokus Utama

MENGUKUR TINGKAT

INISIATIF ANTI KORUPSI

DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN AGAMA

Oleh: Mukhayat

Kunjungan dan Silaturrahim Menteri Agama Suryadharma Ali di Kantor Inspektorat Jenderal Kementerian Agama

(6)

tingginya nilai transparansi penyelenggara

negara melalui upaya untuk membantu

pelaporan gratifikasi dan tingginya angka

kepatuhan pelaporan harta kekayaan, kode

etik, promosi antikorupsi, dan pelaksanaan

rekomendasi KPK.

KPK melakukan PIAK dengan dasar

pemikiran karena menganggap bahwa

inisiatif internal suatu instansi/lembaga

merupakan salah satu kunci penting

keberhasilan

upaya

pemberantasan

korupsi.

Beberapa

inisiatif

seperti

pembuatan dan penegakan kode etik,

pengawasan atas pengadaan barang dan

jasa, serta transparansi dalam rekrutmen

pegawai merupakan upaya yang dianggap

mampu mencegah terjadinya tindak

pidana korupsi.

Untuk

pelaksanaan

Penilaian

Inisiatif Anti Korupsi pada Kementerian, KPK

menugaskan kepada Inspektur Jenderal

di tiap Kementerian agar berperan dan

bertugas sebagai : (1) Sebagai koordinator

pelaksanaan

PIAK di

Kementerian

masing-masing; (2) Menerima koordinasi

dari KPK atas pelaksanaan PIAK; (3)

Mensosialisasikan program PIAK kepada

peserta PIAK 2010; (4) Menetapkan 3

(tiga) unit utama yang menjadi target

untuk mewakili dalam pelaksanaan PIAK

2010; (5) Menjadi penghubung antara

KPK dengan unit utama terutama dalam

tahap pengisian kuesioner, konfirmasi

jawaban dan pemenuhan bukti untuk

penilaian; (6) Melakukan verifikasi atas

pengisian kuesioner dari unit utama

peserta PIAK 2010; (7) Meneruskan isian

kuesioner peserta PIAK ke KPK disertai

bukti pendukungnya.

Pokok-pokok penilaian inisiatif anti

korupsi tahun 2010 meliputi 7 indikator

utama dengan total 57 pertanyaan,

peningkatan transparansi PN, peningkatan

akses publik dalam memperoleh informasi

instansi,

pelaksanaan

rekomendasi

perbaikan yang diberikan KPK, dan kegiatan

promosi anti korupsi, serta satu unsur

Inovasi, yaitu kecukupan dan efektifitas

dari inisiatif anti korupsi lainnya.

Instrumen

PIAK

ini

akan

dilaksanakan untuk semua Kementerian/

Lembaga di Pusat dan Daerah (dalam hal ini

Pemda). Untuk keperluan dimaksud, maka

KPK dengan suratnya Nomor:

B-412/0-15/03/2010 tanggal 1 Maret 2010,

menyelenggarakan sosialisasi program

Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK)

kepada semua Kementerian/Lembaga di

Pusat dan Daerah pada tanggal 17 Maret

2010 di Gedung KPK.

Penilaian

PIAK

di

setiap

kementerian dilakukan kepada 3 (tiga)

unit utama Eselon I, dengan ketentuan

unit Sekjen wajib mengisi, untuk 2 (dua)

unit Eselon I lainnya, diserahkan kepada

pihak Irjen yang menentukannya.

Pada tahun 2009 KPK telah

melaksanakan PIAK 2009 melalui pilot

project yang terdiri dari 2 Kementerian

dengan 6 unit utama, yaitu Kementerian

Keuangan dengan 4 Direktoratnya:

Direktorat Jenderal Pajak; Direktorat

Bea dan Cukai; Direktorat Jenderal

Perbendaharaan; Direktorat Jenderal

Anggaran dan dari Kementerian Pendidikan

Nasional terdiri dari Direktorat Jenderal

Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga

Pendidikan (PMPTK) dan Sekretariat

Jenderal.

Direktorat Jenderal Anggaran

Kementerian Keuangan mencapai nilai

tertinggi dalam Penilaian Inisiatif Anti

Korupsi (PIAK) 2009. Perolehan nilai

tertinggi tersebut di antaranya karena

(7)

meliputi: (a) Kode etik khusus meliputi 3

(tiga) sub indikator, yaitu: ketersediaan

dan bentuk kode etik khusus, ketersediaan

mekanisme penerapan dan pelembagaan

kode etik khusus, dan penegakan kode

etik khusus dengan 13 pertanyaan;

(b) Peningkatan transparansi dalam

manajemen SDM, meliputi 3 (tiga)

sub indikator yaitu: tersedianya proses

rekrutmen yang terbuka dan transparan,

tersedianya sistem penilaian kinerja yang

objektif dan terukur, dan tersedianya

proses promosi dan pengisian jabatan

yang terbuka dan transparan dengan 16

pertanyaan; (c) Peningkatan transparansi

dalam pengadaan, meliputi 2 (dua)

sub indikator yaitu: penetapan pengadaan

secara elektronik, dan adanya mekanisme

kontrol dari eksternal, dengan 8

pertanyaan; (d) Peningkatan transparansi

dalam penyelenggaran negara dengan

2 (dua) sub indikator yaitu: pelaporan

gratifikasi, dan kepatuhan LHKPN dengan

9 pertanyaan; (e) Peningkatan akses

publik dalam memperoleh informasi unit

utama meliputi 2 (dua) sub indikator

yaitu: keterbukaan unit utama dalam

menyebarkan informasi, dan tingkat

keaktifan unit utama dalam menyebarkan

informasi, dengan 5 pertanyaan; (f)

Pelaksanaan rekomendasi yang diberikan

oleh KPK/BPK/APIP, meliputi 2 (dua)

sub indikator yaitu: respon terhadap

rekomendasi dari KPK/BPK/APIP, dan

pelaksanaan rekomendasi dari KPK/BPK/

APIP dengan 2 pertanyaan; dan (g) Kegiatan

promosi anti korupsi meliputi 2 (dua) sub

indikator yaitu: kegiatan promosi internal,

dan kegiatan dengan 4 pertanyaan.

Ketentuan pengisian Kuesioner

PIAK oleh masing-masing unit utama

Eselon I yang dipilih mengikuti ketentuan:

Pertama, semua pertanyaan dalam

kuesioner ini harus dijawab kecuali jika

ada petunjuk lain berdasarkan jawaban

yang diberikan. Kedua, jawaban kuesioner

disesuaikan dengan kondisi terakhir atau

sesuai pertanyaan di unit utama Anda dan

kondisi tersebut telah berlangsung minimal

6 bulan terakhir. Ketiga, demi objektivitas,

maka setiap jawaban harus dilengkapi

dengan dokumen pendukungnya yang

sah.

Dari

indikator-indikator

yang

dijadikan ukuran penilaian PIAK oleh

KPK, maka setiap unit utama Eselon I

tentu menginginkan agar mendapatkan

nilai positif dalam upaya pemberantasan

korupsi di lingkungan unit yang

dipimpinnya, dan hasil pengukuran

inisiatif oleh KPK merupakan penilaian

yang akuntabel, sebab dibuat oleh instansi

yang berwenang.

Untuk

itu,

bagaimana

kita

mengukur tingkat inisiatif anti korupsi di

lingkungan Kementerian Agama? Secara

objektif, masing-masing pimpinan unit

utama harus jujur tentang bagaimana

kualitas unitnya apabila dikaitkan dengan

sub-sub indikator pada kuesioner PIAK.

Tiap pimpinan diharuskan merumuskan,

membuat dan melakukan inisiatif yang

diarahkan kepada upaya pencegahan

korupsi. Jenis inisatif anti korupsi dimaksud

harus bersifat standar, dan minimal

telah mencakup aspek-aspek inisiatif

seperti dicontohkan pada instrumen PIAK

2010 yang meliputi 57 elemen. Dengan

demikian, dapat menambahkan dengan

jenis-jenis inisiatif lainnya yang menurut

pertimbangan pimpinan unit utama Eselon

I dianggap urgen.

Pengukuran inisiatif anti korupsi

dilakukan

dengan

membandingkan

(8)

keputusan. Substansi kode etik terkait

dengan tugas-tugas spesifik unit utama,

bisa pula berupa penjabaran kode etik PNS

Kementerian Agama yang secara spesifik

dalam arti lebih rinci dan diberlakukan

untuk PNS di unit utama masing-masing.

Sebagai contoh misalnya pada unit

Inspektorat Jenderal Kementerian Agama

telah mengeluarkan Kode Etik Auditor

yang ditetapkan dengan Peraturan

Inspektur Jenderal Departemen Agama

Nomor IJ/219/2009;

(3)

Kode

etik

khusus dilengkapi

dengan mekanisme

penerapan

dan

pelembagaan kode

etik, dalam hal ini

berupa: (1) unit kerja

yang

melakukan

tugas

mengawasi

pelaksanaan kode

etik

pada

unit

utama

Eselon

I

dengan

disertai

ruang

lingkup

p e n gawa s a n nya ,

sampai pada tingkat

Eselon berapa yang diawasi, misalnya pada

tingkat eselon 2, atau eselon 3 ke bawah,

dan tersedianya layanan konsultasi yang

bertugas mengawasi pelaksanaan kode etik

khusus yang bertugas untuk memberikan

keterangan/penjelasan kepada seluruh

pegawai terkait dengan hal-hal yang

diperbolehkan dan dilarang menurut kode

etik khusus atau disebut dengan “whistle

blower”, (2) penyediaan sarana yang

dipakai dalam proses pelayanan seperti:

faksimili, telepon, e­mail, ruang konsultasi,

dan lainnya, (3) kegiatan sosialisasi kode

etik khusus untuk para pegawai di lingkup

antara penilaian KPK yang tertuang dalam

kuesioner PIAK 2010 seperti diutarakan

dengan apa yang telah dilakukan di tiap

unit utama Eselon I yang bersangkutan.

Untuk ini maka masing-masing Satker,

terutama bagi unit-unit utama Eselon

I harus menjawab apakah sampai saat

ini sudah mempunyai atau apakah telah

melakukan item-item PIAK dimaksud.

Komponen PIAK yang dijadikan

alat pengukur inisiatif anti korupsi tiap

unit utama eselon I

meliputi 7 indikator

yaitu:

Pertama,

Kode Etik Khusus:

(1)

Penilaian

inisiatif anti korupsi

dari aspek kode

etik dilihat dari 3

aspek, yaitu sejauh

mana ketersediaan

dan bentuk kode

etik

khusus,

k e t e r s e d i a a n

m e k a n i s m e

penerapan

dan

p e l e m b a g a a n

kode etik khusus,

dan bagaimana penegakan kode etik

khusus dilakukan oleh unit utama; (2)

Ketersediaan kode etik khusus di tiap unit

utama Eselon I, bukanlah kode etik pegawai

negeri sepeprti diatur pada Peraturan

Pemerintah (PP) Nomor 30 Tahun 1980

dan PP Nomor 42 Tahun 2004 ataupun

kode etik pegawai negeri sipil Kementerian

Agama sebagaimana ditetapkan dengan

Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor

421 Tahun 2001, akan tetapi kode etik

yang khusus diberlakukan pada tiap unit

utama dan ditetapkan oleh masing-masing

pimpinan unit utama dalam bentuk surat

Fokus Utama

Nilai kehidupan adalah jika seseorang dapat menikmati hidup setiap saat

dalam kondisi apapun.

Sesungguhnya nikmat yang besar yang harus dijaga adalah ketika kebaikan itu memenuhi jiwa dan membahagiakan hati.

Disadur dari buku :

(9)

unitnya masing-masing dengan disertai:

rencana kegiatan sosialisasi, jadual, dan

sejenisnya. Setiap pelaksanaan sosialisasi

harus didokumentasikan dengan baik;

(4) Evaluasi secara periodik terhadap

pelaksanaan kode etik dengan konsekuensi

bila sesuai hasil evaluasi mengharuskan

revisi terhadap kode etik dalam beberapa

aspeknya, maka harus ditindaklanjuti

dengan revisi. Hasil pelaksanaan evaluasi

harus didokumentasikan dalam bentuk

laporan tertulis yang memuat waktu kan

kode etik, bisa dalam bentuk keputusan

atau surat edaran dari pimpinan unit

utama Eselon I masing-masing; (5)

Mekanisme penanganan pelanggaran

kode etik khusus dapat berupa

tahapan-tahapan penanganan pelanggaran kode

etik khusus mulai dari penerimaan

laporan, proses pengolahan, sampai

dengan tindak lanjut. Dalam rangka

pelaksanaan kode etik diperlukan pula

penunjukan kepada pejabat tertentu/

seseorang pejabat pada lingkup internal

unit utama eselon I dengan tugas untuk

memberikan informasi adanya tindakan

pelanggaran atas peraturan atau kode

etik khusus, baik kepada pihak pengawas

internal atau penegak hukum (whistle

blower). Dalam penanganan pelanggaran

kode etik harus dapat terjamin/terjaga

kerahasiaannya, dan jaminan kerahasiaan

harus dicantumkan pada salah satu pasal

dalam keputusan kode etik khusus.

Kedua, Peningkatan Transparansi

dalam Manajemen SDM. Penilaian

Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) 2010 tidak

terlepas pula dari upaya-upaya unit utama

dalam melakukan kegiatan peningkatan

transparansi dalam manajemen SDM,

meliputi

ketersediaannya

proses

rekrutmen yang terbuka dan transparan,

tersedianya sistem penilaian kinerja yang

objektif dan terukur, dan tersedianya

proses promosi dan pengisian jabatan yang

terbuka dan transparan: (1) Ketersediaan

proses rekrutmen yang terbuka dan

transparan,

meliputi:

ada/tidaknya

pedoman

pelaksanaan

penerimaan/

rekrutmen pegawai baru yang terbuka

dan transparan yang ditetapkan oleh

Menteri atau a.n. Menteri, yang di

dalamnya memuat ketentuan tentang:

(a)

pemberian jenis kewenangan

kepada masing-masing unit utama,

misalnya dalam proses penyampaian

pengumuman penerimaan, berikut media

atau sarana apa yang dipergunakan

untuk

penyampaian

pengumuman

penerimaan dimaksud. Dokumen

surat-surat pengumuman rekrutmen melalui

media cetak atau elektronik tersebut

harus didokumentasikan dengan baik,

(b) pengikutsertaan pihak ketiga yaitu

institusi di luar Kemenag yang bersifat

independen, berupa tenaga ahli atau

firma/lembaga/organsiasi dalam proses

rekruitmen pegawai. Bila dilibatkan pihak

ketiga, maka harus dijelaskan sejauh mana

peran-peran yang diberikan kepada pihak

ketiga tersebut, apakah pada: seluruh

tahap proses rekrutmen yaitu tahap

pengumuman rekrutmen pegawai, seleksi

administrasi, seleksi kompetensi, dan

wawancara, atau hanya pada sebagian

besar tahapan proses (2-3 tahap), atau

pada sebagian kecil tahapan proses (1

tahap); (2) Ketersediaan sistem penilaian

kinerja yang objektif dan terukur, yaitu

ada tidaknya sistem penilaian terhadap

kompetensi teknis, perilaku, dan kinerja

yang dihasilkan oleh pegawai yang

ditetapkan oleh pimpinan unit utama

Eselon I (sistem tersebut bisa berupa

(10)

penjabaran dari sistem yang ditetapkan

oleh Menag). Sistem tersebut perlu

memuat aspek-aspek seperti: kualitas

pekerjaan berupa kecepatan/ketepatan/

kecermatan penyelesaian setiap pekerjaan

yang dibebankan kepada pegawai yang

bersangkutan dalam jangka waktu tertentu;

kuantitas pekerjaan seperti banyaknya

item pekerjaan yang dapat diselesaikan

oleh pegawai yang bersangkutan dalam

jangka waktu tertentu; dan hal lainnya

yang dipandang perlu; (2) Ada tidaknya

kontrak kinerja (Penkin/Pakta Integritas)

yang berisi kontrak pelaksanaan program

kerja selama periode tertentu dengan

pengukuran kinerja pegawai yang dapat

dilakukan pada setiap triwulan/semester

ataupun akhir periode kontrak kinerja.

Misalnya: kontrak kinerja Sekretaris

dengan Dirjen, antara Kabag dengan

Kepala Biro, dan lain sebagainya;

(3) Pemberlakuan kontrak kinerja

sebaiknya dibuat dalam bentuk dengan

surat edaran dari pimpinan unit utama

dengan berisi ketentuan meliputi: sampai

tingkat eselon berapa, periode

waktu-waktu kapan dilakukannya evaluasi

kontrak kinerja. Kontrak kinerja harus

didokumentasikan dengan baik, untuk

lembar asli dipegang oleh masing-masing

pejabat yang melakukan kontrak, dan

duplikatnya disimpan di bagian yang tugas

fungsinya menangani kepegawaian; (4)

Tersedianya proses promosi dan pengisian

jabatan yang terbuka dan transparan.

Yaitu dokumen/surat penetapan tentang

job qualification yang telah diberlakukan

di tiap unit utama Eselon I yang antara lain

memuat ketentuan tentang mekanisme

pengisian jabatan dipublikasikan atau

tidak, terbuka, atau terbatas, ada tidaknya

penterlibatan pihak ketiga.

Ketiga, Penilaian Inisiatif Anti

Korupsi 2010 dilihat pula dari ada

tidaknya upaya-upaya unit utama eselon

I dalam melakukan kegiatan peningkatan

transparansi dalam pengadaan, meliputi:

(1) Penetapan pengadaan secara

elektronik,

yang

ditetapkaan

oleh

pimpinan unit utama meliputi: (a) Ada

tidaknya penetapan pimpinan tentang

pembentukan Unit Layanan Pengadaan

yaitu unit khusus yang bertugas melakukan

seluruh pengadaan yang ada di instansi,

terdiri dari pegawai-pegawai yang telah

memiliki sertifikasi pengadaan barang

dan jasa pemerintah; (b) Ada tidaknya

pemberlakuan/penerapan

metode

pengadaan barang dan jasa secara

elektronik (e­procurement), yaitu kegiatan

pengadaan barang/jasa yang dilakukan

secara elektronik dengan memanfaatkan

fasilitas teknologi informasi sehingga

sebagian besar proses pengadaan barang/

jasa tidak menggunakan tatap muka lagi.

Dalam dokumen/surat yang dibuat oleh

pimpinan unit utama eselon I disertakan

pula rencana target penerapan sistem

e­procuremen di tiap unit utama Eselon I

(mulainya tahun kapan); (c) Unit pelayanan

pengadaan harus secara berkelanjutan

mendata jumlah anggaran belanja modal

dalam satu tahun dan data perkembangan

dana yang telah dilaksanakan melalui

metode e­procurement tersebut dengan

disertai persentasenya;

(2)

Ada/tidaknya

mekanisme

kontrol dari eksternal yang ditetapkan

oleh pimpinan unit utama, yaitu: (a) Ada/

tidaknya dokumen atau surat penetapan

dari pimpinan unit utama eselon I yang

mengatur tentang mekanisme pengaduan

berisi atau memuat tentang: tata cara

penyampaian, pemrosesan dan tindak

(11)

lanjut terhadap pengaduan pengadaan

barang/jasa yang dikelola di luar panitia

pengadaan barang dan jasa. Bila telah

ada pengaturan dari Menteri, maka di

tiap unit utama pengaturan mekanisme

dalam bentuk penjabaran atas peraturan

menteri dimaksud; (b) Hasil penanganan

pengaduan yang telah ditangani (diterima,

ditelaah,

dan

diselesaikan)

harus

didokumentasikan dengan baik sebagai

bukti kegiatan inisiatif anti korupsi.

Keempat, Peningkatan Transparansi

Penyelenggaraan

Negara.

Penilaian

inisiatif anti korupsi 2010 diukur pula dari

ada tidaknya peningkatan transparansi

penyelenggaraan negara yang meliputi

aspek pelaporan gratifikasi dan kepatuhan

terhadap pelaporan LHKPN kepada KPK:

(1) Pelaporan Gratifikasi. Pada aspek

ini, diperlukan adanya penegasan dari

pimpinan unit utama kepada bawahan

yang telah diwajibkan melaporkan

LHKPN dengan dibuat secara tertulis

berupa pengaturan mengenai gratifikasi,

dilengkapi pula rencana pelaksanaan

sosialisasinya kepada semua pejabat/

pegawai,

mekanisme

penanganan

gratifikasi di intern unit utama. Rencana

sosialisasi agar disertai waktu/jadwal

pelaksanaannya, siapa pemberi sosialisasi,

siapa yang diberi sosialisasi; (2) Kepatuhan

dalam pelaporan LHKPN. Dalam aspek ini

diukur dari telah ada tidaknya perjanjian

kerjasama pengelolaan data wajib LHKPN

dari pimpinan unit utama dengan KPK.

Bila hanya dilakukan oleh Menteri Agama,

maka dari unit utama bersifat meneruskan

maksud/isi perjanjian tersebut kepada

bawahannya di lingkup unit utamanya.

Diukur pula dari ada tidaknya

penetapan pimpinan unit utama tentang

penetapan persyaratan LHKPN sebagai

salah satu kelengkapan dalam sistem

promosi/mutasi utuk intern unitnya.

Bila telah ada ketetapan dari

Menteri atau Sekjen a.n. Menteri, maka

dari pimpinan unit utama bisa bersifat

meneruskan kebijakan Menteri dimaksud

Fokus Utama

Irjen Kementerian Agama, Mundzier Suparta dan Inspektur Wilayah II, Mukhayat Saat Memberikan Arahan Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK)

(12)

untuk di lingkungan unit utamanya.

Diukur pula dari ada tidaknya

pemberian bimbingan teknis pengisian

formulir LHKPN, baik dari nara sumber

intern

ataupun

KPK.

Pelaksanaan

bimbingan

teknis,

termasuk

surat

undangan kepada KPK, dan kepada para

pejabat di unitnya berikut daftar hadirnya,

harus didokumentasikan dengan baik

sebagai bukti kegiatan.

Pimpinan unit utama harus pula

mempunyai data nama pejabat wajib lapor

LHKPN, yang telah dan belum melapor

serta persentasenya.

Diukur pula dari ada tidaknya

ketentuan tertulis tentang pemberian

sanksi internal bagi wajib lapor LHKPN

yang belum melaporkan sesuai target

waktu yang ditentukan.

Kelima, Peningkatan Akses Publik

dalam Memperoleh Informasi Utama.

Penilaian inisiatif dari aspek akses

publik dalam memperoleh informasi unit

utama dilihat dari dua aspek meliputi

aspek keterbukaan unit utama dalam

menyebarkan informasi dan bagaimana

tingkat keaktifan unit utama dalam

menyebarkan informasi: (1) Keterbukaan

unit utama dalam menyebarkan informasi

dilihat dari sejauh mana jenis media

informasi yang telah diterbitkan dan

terbuka bagi publik yang telah diterbitkan

seperti website, majalah/buletin yang

terbit secara periodik, leaflet/flyer,

majalah dinding, papan pengumuman,

dan lainnya terkait masalah korupsi. Bila

website misalnya, apa alamatnya, bila

majalah, majalah apa, dan sebagainya;

(2) Tingkat keaktifan unit utama dalam

menyebarkan informasi. Dari aspek

ini, apa telah ada atau belum surat

penetapan dari pimpinan unit utama yang

menetapkan tentang pembentukan unit

kerja khusus yang bertanggung jawab

dalam penyebaran informasi kepada

publik yaitu suatu unit kerja yang salah

satu tugasnya mengumpulkan, mengelola,

menyebarkan informasi kepada publik

secara luas, disertai pula mekanisme waktu

pelaksanaan pemutakhiran. Dalam hal

pelaksanaan pemutakhiran informasi bagi

publik, agar hasilnya didokumentasikan

sebagai bukti.

Keenam, Pelaksanaan Rekomendasi

yang diberikan oleh KPK/BPK/APIP/Itjen.

Penilaian inisiatif dari aspek pelaksanaan

rekomendasi yang diberikan oleh KPK/

BPK/APIP dilihat dari dua aspek meliputi

aspek bagaimana respon dan bagaimana

pelaksanaan rekomendasi tersebut: (1)

Dari aspek respon, maka akan dilihat

apakah unit utama telah atau belum

membuat action plan yaitu rencana aksi

atau rencana tindak lanjut unit utama

dalam satu tahun terakhir terhadap

penyelesaian rekomendasi atas saran KPK/

BPK/BPKP/Itjen. Action plan dibuat dengan

mencakup aspek : temuan, rekomendasi,

penanggungjawab tindak lanjut, target

waktu penyelesaian, dan realisasinya;

(2) Dari aspek pelaksanaan rekomendasi

dari KPK/BPK/APIP/Itjen, akan dilihat

bagaimana persentase implementasi

action plan terhadap rekomendasi

KPK/BPK/APIP/Itjen yang merupakan

gabungan jumlah rekomendasi dari hasil

kajian KPK atau hasil audit BPK/BPKP/Itjen

yang terakhir. Data tersebut dibuat dan

ditandatangani oleh pimpinan unit utama

atau yang ditunjuk. Persentase dimaksud

misalnya : > 85%; 70 – 85%; 50 – 69%; atau

< 50%.

Ketujuh, Kegiatan promosi anti

korupsi. Penilaian inisiatif dari aspek

(13)

pelaksanaan rekomendasi yang diberikan

oleh KPK/BPK/APIP dilihat dari dua aspek

meliputi aspek sejauh mana kegiatan

promosi internal dan promosi eksternal

dilakukan oleh unit utama; (1) Kegiatan

promosi internal, yaitu sejauh mana

promosi internal telah dilakukan di intern

unit utamanya. Unit utama agar dapat

mendata/mendokumentasikan persentase

unit kerja Eselon III yang telah menerima

sosialisasi anti korupsi, yaitu perhitungan

persentase yang didasarkan pada unit

kerja setingkat Eselon III yang telah

menerima sosialisasi

dan

dibandingkan

dengan total seluruh

unit kerja setingkat

Eselon III yang ada di

unit utama Eselon I

yang bersangkutan.

Dilengkapi

pula

dengan data tentang

: kapan dilakukan,

oleh siapa, berapa

orang

yang

mengikuti. Persentase dimaksud yaitu: >

85% ; 70 – 85%; 50 – 69%; atau < 50%;

(2) Kegiatan promosi eksternal,

yaitu dilihat dari kegiatan-kegiatan ekternal

apa yang telah dilaksanakan, misalnya:

website, spanduk, standing banner,

poster, stiker, papan pengumuman publik,

iklan cetak - elektronik, leaflet, booklet,

atau lainnya. Dokumen materi anti korupsi

produk sendiri/dari unit utama yang

bersangkutan harus didokumentasikan,

baik berupa asli atau foto copy, karena

hal tersebut termasuk point penilaian

inisiatif anti korupsi; (3) Dilihat juga dari

aspek bukti pendukung berupa anggaran

dan rencana waktu pelaksanaan kegiatan

promosi anti korupsi yang dilakukan.

Prosedur pengisian kuesioner Penilaian

Inisiatif Anti Korupsi tahun 2010

Pengisian kuesioner Penilaian

Inisiatif Anti Korupsi tahun 2010 didahului

dengan sosialisasi oleh KPK kepada

tiap kementerian/lembaga, dilanjutkan

sosialisasi oleh kementerian/Lembaga

yang dalam hal ini ditugaskan KPK kepada

masing-masing Itjen/Inspektur Utama.

Setelah pimpinan unit utama menerima

sosialisasi,

masing-masing

mengisi

kuesioner sesuai petunjuk pengisian,

dengan ketentuan setiap jawaban yang

dipilih atau diisi, wajib

disertai dokumen/

bukti pendukungnya,

sebab

tanpa

dilampiri

data

pendukungnya, KPK

tidak memberikan

nilai.

Terhadap

kegiatan yang masuk

kategori inisiatif anti

korupsi yang telah

dilaksanakan tetapi

baru dilakukan setelah Januari 2010, agar

dilampirkan pada format tersendiri yaitu

pada laporan kualitatif anti korupsi, dan

akan diberikan penilaian oleh KPK dengan

bobot 17%, untuk isian kuesioner diberi

nilai dengan bobot 87%.

Setelah unit utama mengisi

kuesioner, kemudian diserahkan ke Itjen

untuk dilakukan validasi oleh Tim PIAK

Itjen, dan hasil validasi disampaikan

kepada unit utama untuk disesuaikan, dan

bila telah sesuai validasi Itjen, maka isian

kuesioner ditandatangani oleh pimpinan

unit utama atau oleh pejabat lain ditunjuk,

minimal eselon II, misalnya di Ditjen

adalah Sekretaris an. Dirjen. Dapat pula

ditugaskan sebagai pejabat pengisi kepada

Fokus Utama

Hidup adalah indah bagi orang yang beriman. Akhirat dicintai bagi orang yang bertaqwa. Merekalah orang

yang berbahagia.

Kemarin adalah mimpi yang telah berlalu. Esok hari adalah cita-cita yang indah,

(14)

informasi; (6) Responsif atas pelaksanaan

rekomendasi yang diberikan oleh KPK/

BPK/APIP/Itjen; (7) Secara aktif melakukan

kegiatan promosi anti korupsi baik promosi

internal, maupun eksternal.

Kedua, sejauh mana tingkat

kualitas inisiatif anti korupsi tahun 2010

bagi tiap unit utama Eselon I Kementerian

Agama, kiranya masih memerlukan

perhatian serius, dan sebuah inisiatif

tentunya harus tumbuh dari dalam diri

tiap pimpinan unit utama disemua jenjang,

dan dengan didorong, dimotivasi oleh

pimpinan Kementerian Agama, yang pada

saatnya perlu diberikan reward bagi yang

kategori minimal “baik” dan diberikan

punishment bagi unit yang s.d. target

yang ditentukan belum mencapai kategori

minimal “baik”. Konsekuensi lemahnya

inisiatif dalam upaya pemberantasan

korupsi, akan menimbulkan image negatif

karena akan secara terbuka diketahui

semua kementerian/lembaga di pusat dan

daerah.

Sebagaimana saran dan arahan

Inspektur Jenderal Kementerian Agama,

maka Penilaian Inisiatif Anti Korupsi

(PIAK) bukan saja hanya dilaksanakan

pada unit utama eselon I Pusat, tetapi

harus dikembangkan kepada semuan unit

Kanwil Kementerian Agama Propinsi dan

pada UIN/IAIN/IHDN dan STAIN/STAKN/

IHDN/STABN. Untuk itu perlu dibuat

juknis PIAK dan disosialisasikan secara

intensip. Pengembangan PIAK sebagai

upaya pencegahan korupsi sangat sejalan

dengan rencana pemberian opini Satker

Bebas Korupsi (SBK) yang sedang disiapkan

dengan harapan di tahun 2010 telah

terlaksana. Semoga, Amin. [Mukhayat]

Kabag Ortrala dan Kepegawaian.

Setelah itu isian diserahkan ke

Itjen untuk dilakukan validasi kembali,

setelah sesuai maka secara kolektif isian

disampaikan ke KPK.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat

disimpulkan bahwa: Pertama, sebuah

satker/unit utama eselon I dinilai telah

memiliki inisiatif anti korupsi di tahun

2010 dengan kategori “baik” atau bahkan

“sangat baik”, apabila satker tersebut

telah melakukan inisiatif paling tidak

pada 7 aspek pokok/indikaktor inisiatif

anti korupsi secara terus menerus, yaitu:

di bidang: (1) Kode etik, telah memiliki

dan menerapkan kode etik khusus di

unitnya dengan dilengkapi mekanisme

penerapan dan pelembagaan kode etik

khusus, serta penegakan kode etik khusus;

(2) Senantiasa meningkatkan transparansi

dalam manajemen SDM dengan telah

tersedianya proses rekrutmen yang

terbuka dan transparan, tersedianya

sistem penilaian kinerja yang objektif dan

terukur, dan tersedianya proses promosi

dan pengisian jabatan yang terbuka dan

transparan;

(3)

Melakukan

peningkatan

transparansi dalam pengadaan dengan

telah menetapkan pengadaan secara

elektronik, dan adanya mekanisme kontrol

dari eksternal; (4) Melakukan peningkatan

transparansi dalam penyelenggaran negara

dengan melakukan pelaporan gratifikasi,

dan memiliki kepatuhan pelaporan LHKPN;

(5) Senantiasa meningkatkan akses publik

dalam memperoleh informasi unit utama

dengan adanya keterbukaan unit utama

dalam menyebarkan informasi, dan tingkat

keaktifan unit utama dalam menyebarkan

(15)

nya dan telah menjadi sifat serta kebiasaan

dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan

sehari-hari. Budaya kerja diharapkan

bermanfaat bagi pribadi aparat negara

maupun unit kerjanya, di mana secara

pribadi memberi kesempatan berperan,

berprestasi dan aktualisasi diri, dan

dalam kelompok bisa meningkatkan

kualitas kinerja kelompok. Sasaran yang

ingin dicapai dalam penerapan dan

pengembangan budaya kerja adalah

bertumbuh kembangnya nilai-nilai moral

dan budaya kerja produktif aparat negara,

meningkatnya persepsi, pola pikir, pola

sikap, pola tindak, dan perilaku aparat

negara sehingga terhindar dari perbuatan

KKN, meningkatnya kinerja aparat negara,

dan terbentuknya citra aparat negara dan

kepercayaan masyarakat.

Dengan terciptanya sebuah budaya

kerja yang efektif dan efesien dalam

instansi pemerintahan diharapkan mampu

memberikan konstribusi maksimal guna

mencapai tatanan bernegara yang baik

karena sebagai aparatur negara setiap

instansi pemerintahan memiliki tanggung

jawab yang sama untuk mencapai hal

tersebut.

Melaksanakan

budaya

kerja

tidak bisa dipisahkan dengan sumber

daya manusia (SDM) itu sendiri, karena

budaya kerja sangat erat kaitannya

dengan sikap/perilaku dan paradigma

berpikir manusia dalam menciptakan

S

istem nilai budaya merupakan

konsepsi nilai yang ada dalam

pemikiran sekelompok manusia

atau individu yang berpengaruh

terhadap budaya kerja aparatur negara.

Hal tersebut disebabkan karena secara

praktis budaya kerja mengandung

beberapa pengertian. Budaya berkaitan

erat dengan persepsi terhadap

nilai-nilai dan lingkungannya yang melahirkan

makna dan pandangan hidup yang akan

mempengaruhi sikap dan tingkah laku

dalam bekerja. Di dalam proses budaya

terdapat saling mempengaruhi dan saling

ketergantungan (interdependensi) baik

sosial maupun lingkungan sosial.

Bekerja merupakan bentuk atau

cara manusia mengaktualisasikan dirinya.

Bekerja juga merupakan bentuk nyata dari

nilai-nilai, keyakinan yang dianutnya dan

dapat menjadi motivasi untuk melahirkan

karya yang bermutu dalam pencapaian

tujuan. Permasalahan dalam budaya kerja

yang dihadapi adalah terabaikannya nilai-nilai etika dan budaya kerja dalam birokrasi

pemerintahan sehingga melemahkan

disiplin, etos kerja dan produktivitas kerja.

Secara umum dapat dikatakan bahwa

birokrasi pemerintahan belumlah efektif

dalam menjalankan tugas dan fungsinya,

kegemukan, berjalan lambat, belum

proporsional dan profesional. Dalam hal

pengawasan dan akuntabilitas aparatur,

masih terjadi pelanggaran terhadap

Fokus Utama

Implementasi Budaya Kerja Instansi Pemerintah

Dalam Rangka

Meningkatkan Kinerja Aparatur Negara

Oleh: Rofi Sari Dewi

(16)

produktivitas kerja yang memadai. Maka

sebagai aparatur negara setiap manusia

yang berada/bekerja dalam

instansi-instansi pemerintahan hendaknya mampu

menciptakan budaya kerja yang kondusif,

di mana hal tersebut menjadi tuntutan

dasar dalam menciptakan kinerja modern

(tepat guna).

Dalam menciptakan sebuah sistem

kerja untuk mewujudkan kinerja modern

maka ada 3 faktor pendukung yang sangat

penting, yaitu :

Pertama, Sumber Daya Manusia

(SDM). Untuk menciptakan kinerja

mod-ern erat kaitannya dengan budaya kerja

yang sedang berlaku sehingga peran

serta setiap manusia di dalamnya menjadi

hal mutlak yang menentukan arah budaya

kerja itu sendiri. Dalam hal ini setiap

aparatur negara dalam menunaikan

tu-

gas-tugas kerja seharusnya memiliki nilai-nilai:

(a) Disiplin. Dalam hal ini bukan

hanya disiplin waktu yang menjadi

perhatian setiap pekerja akan tetapi

disiplin dalam menunaikan setiap

tugas yang dibebankan kepadanya atau

tanggung jawab kerjanya seharusnya

bisa diselesaikan dengan baik. Berdisiplin

secara kuantitas waktu kerja dan kualitas

hasil kerja harus menjadi budaya kerja

disetiap instansi-instansi pemerintahan;

(b) Terampil/mampu menciptakan

inovasi kerja Dengan adanya tanggung

jawab kerja berarti setiap pekerja juga

diberikan keleluasaan untuk menunjukkan

atau

mengejewantahkan

setiap

keterampilan yang dimilikinya dalam

menciptakan kualitas kerja yang inovatif

sehingga terjadi pengembangan kerja

yang berkualitas;

(c) Berbasis pada Rasionalitas dan

Kecerdasan Emosi. Penyaringan setiap

tenaga kerja termasuk tenaga-tenaga kerja

dalam instansi-instansi pemerintahan

menjadi indikator bahwasanya kualitas

sumber daya manusia menjadi syarat

utama dalam menduduki setiap jabatan/

posisi yang tersedia. Termasuk juga

adanya pendidikan pelatihan-pelatihan

yang dilaksanakan di setiap instansi

menjadi penunjang untuk mewujudkan

sumber daya manusia yang berbasis pada

rasionalitas dan kecerdasan emosi. Sebagai

aparatur negara kita harus dibekali dengan

kematangan dan kecerdasan emosi dalam

menghadapi setiap tantangan kerja;

(d) Partisipatif atau mampu

mem-bangun budaya kerja kelompok atau

ker-

jasama yang baik, baik itu secara horizon-tal maupun vertikal. Untuk mewujudkan

team work

yang baik setiap pekerja sehar-usnya memiliki kemampuan partisipatif

agar dalam penyelesaian setiap tanggung

jawab terjadi sinkronisasi kerja yang efek-tif;

(e) Tulus dan Ikhlas atau mampu

menempatkan atau memposisikan kerja

sebagai tanggung jawab kemanusiaan

sehingga terwujud motivasi kerja yang

positif (tanpa pamrih). Hal ini menjadi

sangat penting untuk terpenuhi karena

harus diakui bahwasanya budaya kerja

yang terjadi hampir di semua instansi

pemerintahan banyak kehilangan nilai

ini. Para pekerja tidak memandang setiap

tanggung jawab kerja yang diberikan

kepadanya mengandung nilai ibadah

sehingga tidak mengherankan jika di

setiap pelaksana kerja/tugas para pekerja

tidak mampu menempatkan diri sebagai

pelayan masyarakat yang menerapkan

prinsip, standar, pola penyelenggaraan

(17)

pelayanan publik, dan pemberian

pelayanan prima kepada masyarakat

yang merupakan perwujudan kewajiban

aparatur pemerintah sebagai abdi

masyarakat.

Kedua, Imbalan/Materi. Tidak

dapat dinafikan bahwa setiap pekerja/

pegawai memiliki hak untuk memperoleh

imbalan dari setiap tanggung jawab

kerja yang mereka emban. Oleh karena

itu, materi sebagai bentuk imbalan kerja

menjadi hal penting untuk terpenuhi.

Karl Marx (dalam bukunya Das

Kapital) menekankan bahwasanya untuk

mewujudkan sistem perekonomian yang

baik termasuk untuk mencapai sebuah

hasil kerja yang maksimal maka setiap

pekerja harus menerima imbalan atau

materi yang setimpal dari setiap hasil

kerjanya, di mana hal ini juga menjadi

motivasi terbesar bagi setiap pekerja untuk

dapat menyelesaikan setiap pekerjaannya

secara maksimal.

Hal ini yang kemudian menjadi

rujukan banyak negara dalam menciptakan

sebuah budaya kerja, yang kemudian

mengarah pada penerapan budaya

kapitalis tersebut. Dalam dunia bisnis/

swasta budaya kerja kapitalis ini dapat

dilihat dari pemberian “bonus” bagi

para pekerja selain dari gaji pokok yang

biasa mereka terima, dimana pemberian

bonus ini sebagai bentuk imbalan dari

hasil kerja mereka baik secara kuantitas

maupun pencapaian kualitas hasil kerja

sedangkan

dalam

instansi-instansi

pemerintah biasa kita kenal dengan istilah

honor yang belakangan ini kemudian

menggelinding sebuah program sertifikasi

(Guru) dan tunjangan kinerja dibeberapa

instansi pemerintahan dimana semua

itu merupakan “penghasilan tambahan”

sebagai buah dari hasil kerja yang

dilakukan.

Ketiga, Hasil Guna. Terlepas

dari sistem apa yang kita anut dalam

menciptakan budaya kerja hal terpenting

adalah bagaimana kita bisa memberikan

hasil kerja yang tepat guna karena dalam

setiap pekerjaan bukan hanya hasil yang

diinginkan akan tetapi bagaimana hasil

kerja kita tepat guna dalam artian dalam

melaksanakan setiap pekerjaan kita

diberikan sebuah tanggung jawab besar

untuk menyelesaikannya dengan baik.

Dengan terpenuhinya poin-poin di atas

Insya Allah akan menghantarkan kita pada

pencapaian reformasi birokrasi kearah yang

lebih baik. Walaupun penulis sadari tulisan

ini masih sangat dangkal pengetahuan dan

pengalaman akan tetapi semoga tulisan

ini menumbuhkan semangat diaologis

buat kita semua dalam melihat berbagai

macam persoalan bangsa terutama dalam

menciptakan budaya kerja yang paling

ideal guna mewujudkan kinerja modern.

Pemerintah telah menerbitkan

kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk

meningkatkan kinerja aparatur dalam

melaksanakan tugasnya. Bentuk-bentuk

kebijakan pemerintah yang ada tersebut

antara lain: pertama, Penetapan Indikator

Kerja. Dalam usaha meningkatkan kinerja

aparaturnya, pemerintah menetapkan

program

manajemen

kepegawaian

berbasis kinerja. Salah satu peraturan

yang dikeluarkan pemerintah untuk

tujuan tersebut adalah Peraturan Menteri

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:

PER/09/M.PAN/5/2007 tentang Pedoman

Umum Penetapan Indikator Kinerja

Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah.

Yang dimaksud dengan kinerja instansi

pemerintah adalah gambaran mengenai

(18)

tingkat pencapaian sasaran ataupun tujuan

instansi pemerintah sebagai penjabaran

dari visi, misi dan rencana strategi instansi

pemerintah yang mengindikasikan tingkat

keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan

kegiatan-kegiatan sesuai dengan program

dan kebijakan yang ditetapkan.

Dalam pasal 3, peraturan Menpan

tersebut, setiap instansi pemerintah wajib

menetapkan indikator kinerja utama

(Key Performance Indicators). Indikator

kinerja utama yang dimaksud adalah

ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan

sasaran strategis organisasi. Penetapan

indikator kinerja utama di lingkungan

instansi pemerintah harus memenuhi

karakteristik spesifik, dapat dicapai, relevan,

menggambarkan keberhasilan sesuatu

yang diukur dan dapat dikuantifikasi dan

diukur (pasal 8).

Sebagai

contoh,

tercapainya

pengurangan angka pengangguran 1

juta per tahun dengan memberdayakan

50 investor baik investor dalam negeri

maupun investor asing setiap tahunnya.

Dalam pasal 5 dikatakan, indikator kinerja

utama instansi pemerintah harus selaras

antar tingkatan unit organisai. Indikator

kinerja utama pada setiap tingkatan

unit organisasi meliputi indikator kinerja

keluaran (output) dan hasil (outcome).

Kinerja pegawai dijabarkan langsung dari

misi organisasi. Penilaian kinerja dilakukan

secara transparan dan obyektif. Penilaian

kinerja menjadi bahan diagnosis dalam

upaya peningkatan kinerja organisasi.

Selanjutnya kinerja pegawai juga menjadi

istrumen utama dalam pemberian reward

and punishment termasuk untuk promosi

dan rotasi pegawai. Dengan demikian,

peraturan pemerintah tersebut menunjang

dan mendukung upaya pengembangan

manajemen kepegawaian berbasis kinerja

(berorientasi produk).

Kedua, Peningkatan kompetensi

pegawai melalui pendidikan dan latihan

(Diklat), Disiplin dan Remunerasi. Upaya

lain yang diupayakan pemerintah dalam

memperbaiki kinerja aparaturnya adalah

pendidikan dan pelatihan (Diklat) pegawai,

penegakan disiplin PNS dan sistem

remunerasi di lingkungan kerja instansi

pemerintah.

Dalam

upaya

peningkatan

profesionalitas pegawainya, pemerintah

menggalakkan pendidikan dan pelatihan

(diklat) pegawai. Diklat dapat berupa

diklat prajabatan dan diklat dalam jabatan

antara lain diklat kepemimpinan, diklat

fungsional dan diklat teknis. Pemerintah

yakin perbaikan kinerja pemerintah dapat

terlaksana bila setiap instansi pemerintah

menegakkan disiplin PNS. Disiplin tersebut

tidak terjadi hanya untuk sementara alias

hangat-hangat tahi ayam. Penerapan

peraturan disiplin PNS harus tegas dan

konsisten. Selain itu diharapkan PNS

wajib menjaga dan mengembangkan etika

profesinya.

Remunerasi adalah pemberian

imbalan kerja yang dapat berupa gaji,

honorarium, tunjangan tetap, insentif,

bonus atau prestasi, pesangon dan/

atau pensiun. Dengan remunerasi

diharapkan adanya sistem penggajian

pegawai yang adil dan layak. Besaran gaji

pokok didasarkan pada bobot jabatan.

Penggajian PNS juga berdasar pada pola

keseimbangan komposisi antara gaji pokok

dengan tunjangan dan keseimbangan

skala gaji terendah dan tertinggi.

Dengan remunerasi pula, peningkatan

kesejahteraan pegawai dikaitkan dengan

kinerja individu dan kinerja organisasi.

(19)

Meski dianggap memiliki dampak

yang signifikan terhadap kinerja dan

produktivitas Instansi, ternyata tidak

mudah menerapkannya keseluruhan

anggota komunitas instansi. Banyaknya

pegawai menjadi kendala terpenting

dalam upaya penerapan budaya kerja

tersebut. Untuk menerapkan budaya kerja

pada pegawai yang jumlahnya ratusan

ribu orang dengan latar belakang yang

berbeda-beda dan untuk menerapkan

sebuah pola Budaya Kerja yang disepakati

tidaklah mudah.

Tingkat

kesulitan

dalam

mensosialisasikan nilai-nilai strategis

instansi kepada pegawai yang ada

tergantung pada beberapa faktor. Artinya

Budaya Kerja itu diterapkan seiring dengan

implementasi sebuah sistem, walaupun

sulit tapi biasanya lebih konsisten. Tapi

kalau budaya itu hanya semacam slogan

atau himbauan tapi tidak ada suatu contoh

konkret bagaimana melakukannya, susah

untuk mengimplementasikannya.

Kendala-kendala itu bukannya tidak

bisa diatasi. Budaya kerja dapat diterapkan

dengan berbagai cara yang sesuai dengan

situasi dan kondisi yang berlaku di instansi

masing-masing. Salah satu faktor kunci

keberhasilan Implementasi budaya kerja

perusahaan adalah kepada komitmen

untuk melaksanakannya. Seluruh jajaran

pegawai mulai dari pimpinan tertinggi

hingga

pelaksana

terendah

harus

memiliki komitmen yang sama dalam

menerapkan budaya kerja yang disepakati.

Komitmen yang dimaksud bukan hanya

sekedar komitmen yang diucapkan ketika

ditanyakan, tapi harus dibuktikan dengan

perbuatan nyata dalam bekerja

sehari-hari.

Satu hal penting lainnya dalam

penerapan nilai-nilai strategi adalah

bagaimana seseorang itu bisa menjadi

contoh bagi yang lain. Penerapan budaya

kerja diawali dengan sosialisasi itu dari

bagaimana memberikan contoh. Seorang

pimpinan harus mencontohkan dulu,

bahwa budaya kerja yang kita inginkan

kepada jajaran adalah seperti ini, dari

contoh itu mau tidak mau bawahan

akan mengabsorb nilai-nilai budaya kerja

baru yang harus dilaksanakan. Selain

itu, sebuah reward penghargaan bagi

mereka yang telah menerapkan budaya

kerja tersebut secara konsisten hingga

bisa membuat mereka perform, perlu juga

untuk dilakukan.

Selain itu, penerapan budaya kerja dapat

dilakukan melalui pendekatan role model,

pendekatan sistem, pendekatan inisiatif

satuan kerja dan pendekatan komunikasi

budaya kerja sebagai sebuah mata rantai

yang harus diterapkan agar Budaya

Kerja itu bisa disosialisasikan. Proses

pengembangan ini memang harus secara

simultan. Karena bila tidak simultan bisa

tidak efektif.

Efektif tidaknya penerapan Budaya

Kerja di suatu instansi harus melalui sebuah

mekanisme evaluasi tertentu. Mekanisme

itu tentunya amat tergantung pada situasi

dan kondisi perusahaan tersebut. Pada

suatu instansi, misalnya, setiap enam

bulan dan akhir tahun digelar evaluasi

tentang efektivitas penerapan Budaya

Kerja di lingkungannya. Laksanakan

evaluasi dengan seluruh pimpinan, Apakah

tercapai atau tidak implementasi budaya

kerja yang telah dilakukan. Parameter atau

indikatornya dapat dilihat dari perilaku

pegawai. [Rofi Sari Dewi]

(20)

Fokus Utama

Budaya Kerja, Akankah Sekedar Retorika?

Oleh : Ali Yuddin

D

i tengah derasnya arus tuntutan akan perlunya mengedepankan prinsip keterbukaan dalam sistem dan mekanisme yang berlaku di birokrasi Indonesia, budaya kerja aparatur beserta seluruh aspeknya, menjadi hal mendasar yang perlu direduksi kembali oleh setiap aparatur penyelenggara pemerintahan. Hal ini terkait erat dengan realitas praktek penyelenggaraan pemerintahan dengan nuansa permasalahan yang semakin kompleks dengan konsekuensi tantangan kerja yang dIhadapi oleh organisasi pemerintahan dengan para aparatur pemerintahan di dalamnya yang semakin kompleks pula. Selama ini para pemimpin dan aparatur masih sering mengabaikan nilai-nilai moral dan budaya kerja yang ada. Masalah mendasar dalam memahami dan mengimplementasikan budaya kerja merupakan tugas berat yang harus ditempuh secara utuh dan menyeluruh dalam waktu yang sangat panjang, karena hal ini menyangkut proses pembangunan karakter, sikap dan perilaku aparatur itu sendiri.

Pembangunan karakter serta pembentukan sikap dan perilaku Aparatur yang dianalogikan sebagai Pengembangan Budaya Kerja Aparatur, merupakan suatu proses pengembangan cara pandang Aparatur dalam memberikan makna terhadap “kerja”, atau cara pandang Aparatur terhadap bidang yang ditekuninya dengan

prinsip-prinsip moral yang dimiliki dan menimbulkan keyakinan yang kuat atas dasar-dasar nilai yang diyakininya, memiliki semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan prestasi kerja terbaik, sehingga dalam diri seorang Aparatur akan tertanam prinsip” bekerja adalah ibadah, bekerja adalah panggilan untuk melaksanakan tugas mulia, agar menjadi orang pilihan yang unggul”.

Pengembangan Budaya Kerja Aparatur selama ini, telah dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan, baik itu melalui aktivitas Pendidikan dan Pelatihan formal maupun non formal, seminar-seminar, pelaksanaan sosialisasi dan sebagainya dengan satu tujuan yaitu : “Terciptanya Aparatur Negara yang profesional, bermoral dan bertanggung jawab dan memiliki persepsi yang tepat terhadap pekerjaan, sehingga prestasi kerja merupakan suatu aktualisasi jati diri”.

Dalam pencapaian tujuan pengembangan Budaya Kerja dimaksud, ada beberapa unsur penting yang saling berintegrasi yaitu nilai-nilai, institusi/sistem kerja dan Sumber Daya Aparatur, serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Semua unsur ini, harus menjadi perhatian dalam menata budaya kerja, bermula dari pilihan nilai-nilai apa saja yang akan dijadikan acuan, kemudian diinternalisasikan dalam setiap pribadi aparatur dan selanjutnya

(21)

diimplementasikan dalam setiap sistem, prosedur dan tata laksana, sehingga akan menghasilkan kinerja berupa produk atau jasa yang bermutu bagi peningkatan pelayanan masyarakat.

Namun dalam pelaksanaan tugas Birokrasi Pemerintahan selama ini, hal tersebut masih dirasakan “jauh panggang dari api”, karena terlalu banyak kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pencapaiannya. Kendala tersebut berasal dari lingkungan internal dan ekternal lingkup tugas aparatur itu sendiri. Ada beberapa faktor penting yang sering diabaikan dan menyebabkan hal tersebut terjadi yaitu :

Pertama, Masih Rendahnya Komitmen

dan Konsistensi terhadap Visi, dan Misi Organisasi. Terjadinya hal ini karena belum adanya pemahaman yang benar dari masing-masing individu dalam organisasi mengenai urgensi dari makna Visi dan Misi Organisasinya yang pada dasarnya merupakan acuan dan sasaran yang harus dicapai oleh organisasinya, masih terdapatnya kepentingan pribadi yang lebih menonjol dibandingkan dengan tujuan organisasi, seringnya terjadi kesalahan dan penyimpangan dalam penetapan kebijakan bahkan banyak kebijakan, aturan dan instrumen manajemen lainnya yang telah diperbaiki tetapi dalam pelaksanaannya masih jauh berbeda dari yang diharapkan.

Kedua, Masih Belum Seimbangnya

Pelaksanaan Wewenang dan Tanggung Jawab Aparatur. Terjadinya hal ini karena belum adanya upaya yang ditunjukkan oleh seluruh komponen sumber daya aparatur untuk menyeimbangkan wewenang yang dimiliki dengan tanggung jawab terhadap pelaksanaan kewenangan yang dimiliki, adanya istilah lempar bola dan lari dari

tanggung jawab terhadap kewenangan yang telah dijalankan, dan belum adanya keberanian untuk mengambil resiko dari setiap kebijakan yang diambil.

Hal ini disebabkan karena masih adanya kekuasaan yang berlebihan pada masa pemerintahan orde baru yang belum dapat diperbaiki sepenuhnya. Banyak wewenang dan tanggung jawab aparatur yang belum diatur sesuai dengan kebutuhan organisasi. Akibatnya dimasyarakat terbangun dan berkembang sebuah opini tentang masih rendahnya tanggung jawab aparatur dalam bidang tugas masing-masing, wewenang yang kurang jelas dan manajemen pelayanan yang masih kurang baik, sehingga pelayanan yang diberikan oleh aparatur masih jauh dari harapan masyarakat, baik dari aspek kualitas maupun kapasitas layanan;

Ketiga, Masih Kurangnya Keikhlasan

dan Kejujuran Aparatur dalam Melaksanakan Tugas. Terjadinya hal ini disebabkan oleh masih kurangnya kesadaran dan keimanan sebagian aparatur, ditambah dengan faktor budaya turun temurun yang telah menjadi tradisi sejak zaman penjajahan, seperti dalam pelaksanaan tugas harus ada “hasil” yang diperoleh, pemberian tip atau semacamnya yang telah menjadi kebiasaan, keharusan bahkan pemaksaan dan pemerasan secara halus. Aparatur yang tidak mengikuti tradisi tersebut bukannya diberikan penghargaan tetapi malah dianggap sebagai manusia yang aneh dalam birokrasi saat ini;

Keempat, Masih Rendahnya Integritas

dan Profesionalisme dari Para Aparatur. Adapun penyebab utama terjadinya hal ini disebabkan oleh masih belum diterapkannya

merit system yang jelas dalam mengukur

kinerja aparatur dan belum adanya

(22)

upaya tindak lanjut dari hasil penilaian kinerja tersebut; tidak adanya keharusan untuk mengikuti pelatihan tertentu yang berhubungan dengan bidang tugas dan bahkan sering kali terjadi Diklat yang diikuti aparatur tidak melihat urgensi dan tidak berkaitan langsung dengan bidang tugasnya. Kondisi ini masih diperparah lagi dengan sikap dan perilaku aparatur sehari-hari seperti, sifat dan perilaku sebagian aparatur yang masih mau menang sendiri dan biasanya tidak mau disalahkan karena menganggap dirinya adalah orang yang punya kewenangan lebih, kurangnya kemauan untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan teknologi dan kondisi aktual saat ini, sering mangkir, datang terlambat dan cepat pulang (sehingga ada istilah negatif yang

berkembang dikalangan aparatur saat ini yaitu “hanya orang yang bodohlah yang mau terlambat dua kali dalam satu hari, peganglah prinsip kalau sudah terlambat datang maka jangan sampai terlambat untuk pulang, kalau bisa dipercepat”);

Kelima, Masih Rendahnya Kreativitas

dan Kepekaan Aparatur Terhadap Lingkungan Tugas. Lingkungan kerja yang mendorong kreativitas aparatur haruslah ditumbuhkembangkan untuk memperbaiki cara kerja dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja. Kepekaan terhadap keluhan masyarakat haruslah ditanggapi dan dicarikan jalan pemecahannya, namun hal tersebut belum sepenuhnya dapat dicapai dan masih sangat perlu untuk ditingkatkan dalam pelaksanaannya, disebabkan oleh beberapa hal diantaranya :

(a) Ide baru (kreativitas) dari bawahan sering kurang mendapat perhatian (respon positif) dari atasan, karena dianggap akan

mengganggu kebijakan dan prosedur baku yang sudah ada. (b) Banyak diantara para aparatur yang masih alergi terhadap kritikan. (c) Keluhan masyarakat sering kali diabaikan disebabkan keterbatasan sarana dan prasarana, ataupun adanya keengganan aparatur untuk menanggapi keluhan tersebut karena adanya anggapan akan menyimpang dari kebijakan dan prosedur yang sudah ada dan bahkan akan merepotkan. (d) Tidak adanya kemauan untuk menciptakan inovasi-inovasi baru, karena dianggap akan menjadi bertambahnya beban tugas dan tanggung jawab serta adanya kecenderungan untuk selalu mengerjakan pekerjaan rutin dari waktu kewaktu karena dianggap telah dikuasai sepenuhnya dan jauh dari resiko. (e) Rendahnya Manajemen Kepemimpinan dan Keteladanan Aparatur.

Seorang Pemimpin harus menguasai manajemen kepemimpinan (leadership), mengenal secara mendalam Visi dan MIsi Organisasinya dan segala hal yang harus dilakukan oleh bawahannya, disamping itu seorang pimpinan harus dapat menjadi contoh bagi bawaannya dan dalam bidang pekerjaan dia harus cukup professional dan menguasai aspek-aspek yang diharapkan oleh bawahannya, harus mampu mengelola dan mendayagunakan potensi bawahan secara optimal, harus mampu memotivasi dan menumbuhkembangkan ide-ide bawahan serta punya kemampuan memimpin yang akan menjadi kerangka acuan bagi bawahannya, adil, tegas, rendah hati dan bertanggung jawab serta dapat menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dalam sebuah Team

Work dari berbagai keberagaman yang ada.

Hal ini merupakan suatu unsur mutlak dalam pencapaian Pengembangan Budaya

Referensi

Dokumen terkait

Seperti yang peneliti amati di MA NU Miftahul Ulum Loram Kulon Jati Kudus, seorang guru mapel fiqih telah mengembangkan pembelajarannya dengan menggunakan

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tri Wibowo dan Hidayat Amir (2005) yang meneliti tentang faktor- faktor yang mempengaruhi nilai tukar, dimana hasil

Ukuran perusahaan akan berpengaruh terhadap struktur modal dengan didasarkan pada kenyataan bahwa semakin besar suatu perusahaan akan mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi

Kama Mzee wa kanisa lazima ujifunze na kuelewa utume wa kanisa lako, kazi zako na muundo wa uongozi pamoja na ngazi zake katika kanisa la Waadventista Wasabato.. Asante

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dan mendorong untuk melakukan penelitian ulang

Salep Wasir Untuk Bengkak atau Benjolan di Anus - Selamat datang di web Spesialis Hemoroid D-24 yanga Melayani Konsultasi 24 Jam Masalah Penyakit Wasir Ambeien Hemoroid dan

Pada kondisi normal ketika tidak ada faktor anthropogenik (aktivitas manusia), suhu udara menunjukkan hubungan yang cenderung konsisten berbanding lurus terhadap