prestasinya dengan kemarin. Dan orang yang celaka adalah orang yang hari ini prestasinya lebih buruk dari kemarin”.
Kata-kata bijak tersebut diatas harus selalu disimpan dibenak pikiran kita untuk sementara untuk mendiskusikan budaya kerja dan peningkatan kerja. Dan tidaklah salah ungkapan itu dijadikan landasan untuk pengembangan budaya kerja khususnya di Kementerian Agama. Sebab budaya kerja itu hakikatnya merupakan cara pandang seseorang terhadap bidang yang ditekuninya dan prinsip-prinsip moral yang dimilikinya, yang menumbuhkan keyakinan yang kuat atas dasar nilai-nilai yang diyakini, memiliki semangat yang tinggi dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan prestasi kerja terbaik.
Bagaimanapun seseorang telah berusaha meningkatkan kinerja namun pada akhirnya akan ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor kerja tim dan budaya kerja itu sendiri, dimana yang sering berlaku di instansi adalah yang sering berlaku. Budaya suatu instansi sangat menentukan keahlian aktual dalam penerapan setiap rencana atau tugas. Setiap peningkatan ukuran kinerja yang bermanfaat harus dibuat, atau sekurang-kurangnya harus ada beberapa parameter operasional yang ada untuk mengawasi dan pada tingkatan berapa mereka harus akan ditempatkan. Tujuan dari hal ini adalah untuk mencapai sasaran target yang telah ditetapkan, misi, dan nilai-nilai organisasi. Persoalan tentang visi, misi, dan sasaran harus diberi perhatian yang besar dan tidak boleh dibiarkan mendua dan semua harus diprioritaskan!
Makna dari definisi budaya kerja tersebut sangatlah idealis dan mengandung
sejuta harapan untuk memperbaiki kinerja aparatur negara kedepan. Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah apakah budaya kerja itu hanyalah sebuah wacana yang sangat sulit untuk diimplementasikan oleh aparatur negara? Bernasib sama dengan wacana dan retorika-retorika lainnya yang dibiayai dengan anggaran yang besar tetapi tidak ada hasilnya?
Tantangan yang dihadapi aparatur negara cukup memprihatinkan terutama karena masih ada pemimpin dan aparatur negara yang mengabaikan nilai-nilai moral dan budaya kerja. Oleh karena itu perlu segera dikembangkan budaya kerja aparatur demi terwujudnya kesejahteraan dan pelayanan masyarakat secara baik dan benar.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara telah mengembangkan program yang menyangkut budaya kerja aparatur, peningkatan efisiensi, disiplin, penghematan, dan kesederhanaan hidup, yang semuanya diarahkan pada perwujudan pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean
government).
Masalah mendasar dalam memahami dan mengimplementasikan budaya kerja itu merupakan tugas berat yang ditempuh secara utuh menyeluruh dalam waktu panjang karena menyangkut proses pembangunan karakter, sikap, dan perilaku serta peradaban bangsa. Budaya kerja aparatur negara dapat diawali dalam bentuk nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, institusi, atau sistem kerja, sikap dan perilaku SDM aparatur yang melaksanakan. Interaksi antara ketiga unsur penting itulah yang sangat mempengaruhi pengembangan
Pengawasan
penerapan nilai-nilai budaya kerja melalui pengembangan kerja sama dan dinamika kelompok; penerapan nilai-nilai budaya kerja untuk memperbaiki kebijakan publik; penerapan nilai-nilai budaya kerja untuk memperbaiki pelaksanaan manajemen dan pelayanan masyarakat; penerapan nilai-nilai budaya kerja untuk memperbaiki pelaksanaan pengawasan, evaluasi kinerja dan penegakan hukum secara konsisten.
Budaya kerja ini diharapkan tidak terhenti sebagai wacana melainkan benar-benar bisa terwujud sebagai standard
operating procedure (SOP). Karena itu dua
pendekatan dapat ditempuh secara strategis yaitu sosialisasi dari dalam aparatur negara sendiri dipadukan dengan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi kepada masyarakat sangat strategis karena dapat membentuk opini publik yang diharapkan dapat berdampak positif terhadap perubahan budaya kerja. Di samping faktor lingkungan
yang sangat mempengaruhinya, unsur-unsur itu diinternalisasikan ke dalam setiap pribadi aparatur sehingga menghasilkan kinerja berupa produk dan jasa yang bermutu bagi peningkatan pelayanan masyarakat. Untuk mengimplementasikannya diperlukan perbaikan persepsi, pola pikir, dan mengubah perilaku yang dilakukan dengan menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya kerja sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Proses sosialisasi peningkatan kinerja aparatur baik secara individu dan secara nasional akan dapat berdaya guna bila nilai-nilai dasar budaya kerja dapat diterapkan melalui proses sosialisasi, internalisasi dan institusionalisasi dengan cara penerapan nilai-nilai budaya kerja untuk pengembangan jati diri, sikap dan perilaku aparatur negara sebagai pelayanan masyarakat;
Inspektur Jenderal Kementerian Agama, Mundzier Suparta Temu Wicara Pengawasan Unit Eselon I Pusat
Pengawasan
lingkungan sosial yang mampu ”memaksa” perubahan sikap dari perilaku setiap aparatur negara.
Solusi Pengembangan Budaya Kerja
Upaya menyikapi dan menyiasati era globalisasi serta tuntutan reformasi ada beberapa aspek strategis di bidang kelembagaan, kepegawaian, ketatalaksanaan dan pengawasan operasional yang meliputi analisis jabatan, pengawasan melekat, pendidikan dan pelatihan, serta pembinaan pola karier. Upaya lain dalam rangka pendayagunaan aparatur negara melalui penyempumaan perilaku pegawai sebagai sumber daya dominan diharapkan akan membawa hasil yang lebih optimal.
Sistem nilai budaya merupakan konsepsi nilai yang hidup dalam alam pemikiran sekelompok manusia atau individu yang sangat berpengaruh terhadap budaya kerja aparatur negara. Hal tersebut disebabkan karena secara praktis budaya kerja mengandung beberpa pengertian. Budaya berkaitan erat dengan persepsi terhadap nilai-nilai dan lingkungannya yang melahirkan makna dan pandangan hidup yang akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku dalam bekerja. Di dalam proses budaya terdapat saling mempengaruhi dan saling ketergantungan (interdependensi) baik sosial maupun lingkungan sosial. Pada hakikatnya, bekerja merupakan bentuk atau cara manusia mengaktualisasikan dirinya, di samping itu bekerja juga merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai, keyakinan yang dianutnya dan dapat menjadi motivasi untuk melahirkan karya yang bermutu dalam pencapaian tujuan. Permasalahan dalam budaya kerja yang dihadapi adalah terabaikannya
nilai-nilai etika dan budaya kerja dalam birokrasi pemerintahan sehingga melemahkan disiplin, etos kerja dan produktivitas kerja.
Secara umum dapat dikatakan bahwa birokrasi pemerintahan belumlah efektif dalam menjalankan tugas dan fungsinya, kegemukan, berjalan lambat, belum proporsional dan profesional.
Kondisi budaya kerja yang diharapkan ”Terbangunnya Kultur Birokrasi terutama di Kementerian Agama” untuk mewujudkan kondisi tersebut antara lain terciptanya iklim kerja yang berorientasi pada etos kerja dan produktivitas yang tinggi melalui pengembangan budaya kerja yang membentuk perubahan sikap dan perilaku serta motivasi kerja. Dengan pengembangan budaya kerja yang tinggi, terbentuk sikap, perilaku dan budaya kerja pegawai yang etis, bermoral, profesional, disiplin, hemat, hidup sederhana, jujur, produktif, menghargai waktu, menjadi panutan dan teladan, serta mendapat kepercayaan dari masyarakat.
Dalam reformasi birokrasi diharapkan dapat terwujud birokrasi yang andal dan profesional efektif dan efisien serta mampu mengantisipasi dinamika perubahan global yang merupakan landasan kokoh bagi Indonesia menuju civil society yang demokratis, maju dan mandiri, berdaya saing serta bersih dalam penyelenggaraan negara.
Komitmen mewujudkan birokrasi yang bersih dan profesional harus ditindaklanjuti dengan beberapa strategi antara lain perampingan birokrasi yang meliputi penataan tugas dan fungsi pemerintah di setiap tingkat, rasionalisasi organisasi, rasionalisasi pegawai, desentralisasi, dan privatisasi; Pengembangan sistem dan metode kerja aparatur; Penerapan sistem
Pengawasan
merit dalam manajemen PNS; Penerapan sistem remunerasi PNS yang layak dan adil; Pencegahan dan pemberantasan KKN; penyempurnaan sistem dan peningkatan pelayanan publik yang berkualitas.
Strategi tersebut selanjutnya harus diikuti langkah-langkah praktis dan rasional yang memungkinkan sistem pemerintah dapat berjalan secara efektif dan efisien di antaranya: Pertama, penataan peran dan kelembagaan pemerintah dengan sasaran terwujudnya organisasi pemerintahan yang ramping, efektif, dan efisien yang dapat mendukung peran serta masyarakat dan dunia usaha dalam pembangunan yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional dan global.
Kedua, pengaturan tata laksana pemerintahan dengan sasaran terbentuknya mekanisme, prosedur, hubungan, metode, dan tata kerja aparatur negara yang tertib dan efektif. Ketiga, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dengan sasaran hadirnya pegawai negeri sipil yang proporsional, netral, dan dapat mempertanggungjawabkan keputusan serta tindakannya. Keempat, pemberantasan KKN dengan sasaran tampilnya aparatur negara yang bebas KKN dan kinerja instansi pemerintah yang accountable. Dan Kelima, peningkatan kualitas pelayanan publik dengan sasaran terwujudnya pelayanan publik yang sederhana, transparan, tepat, terjangkau, lengkap, wajar, serta adil.
Diharapkan dengan strategi dan langkah-langkah konkret dimaksud dapat meningkatkan kepercayaan dan kepuasan publik terhadap performance, baik instansi maupun pejabat publik, pada gilirannya
dapat mendekatkan pemerintah dengan masyarakat serta terjalin aliansi atau linkage antara institusi negara, masyarakat, dan sektor swasta. Aliansi antara ketiga pilar tersebut (pemerintah, masyarakat, dan kalangan swasta) diperlukan untuk menghindari sikap dan perilaku aparat pemerintah terjebak dalam pola birokrasi yang kaku eksklusif dan kebebasan berkreasi.
Semangat reformasi birokrasi di Kementerian Agama, yang menjadi harapan masyarakat seyogyanya memotivasi setiap pengambil kebijakan agar memiliki kemauan dan keberanian secara moral dan politik, untuk memproduksi kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada terwujudnya
good governance yang dapat mendukung
kelancaran dan keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggaraan pemerintah secara demokratis.
Akhirnya, komitmen untuk memperkuat kebijakan pemerintah dalam mewujudkan birokrasi profesional yang tekah menjadi agenda Kementerian Agama, seiring dengan tuntutan demokratisasi dan globalisasi, sangat memerlukan konsistensi dan kontinuitas perjuangan baik oleh pemerintah, dan masyarakat tanpa tergantung kepada siapa yang memegang kendali pemerintahan. Karena itu sosialisasi dan impementasi tata pemerintahan yang baik perlu terus ditingkatkan sehingga resonansi dan gerakan bersih, transparan, dan profesional dapat menjadi agenda semua pihak dan perlu dicanangkan di segala bidang kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. [M. Ali Zakiyudin]
M
anusia diciptakan Allah SWT dengan segala keunikannya. Masing-masing orang dengan segala karakteristiknya, fisik maupun psikis, memiliki potensi kebaikan dan keburukan di dalam dirinya. Keberagaman manusia baik tingkah pola dan berbagai kekhasan lainnya adalah keniscayaan yang telah dititahkan oleh Tuhan Yang Maha Mengatur. Potensi jahat (fujur) dan potensi baik(taqwa) telah lekat dan menjadi satu kesatuan
yang utuh dalam diri setiap manusia. Siapapun, kapanpun, di manapun memiliki peluang yang sama untuk menjadi orang baik atau orang jahat. Peran seseorang dalam bekerja di berbagai instansi, baik negeri maupun swasta memberikan peluang yang sama untuk bisa sukses dan memberikan peran yang produktif dan berarti.
Namun dalam kenyataannya, masih banyak anggapan bahwa Abdi Negara (PNS) memiliki kinerja berbeda dibanding dengan pegawai-pegawai swasta. Anggapan berbeda karena kekhasan dan keunikan bidang tugas dan fungsi mungkin tidak menjadi masalah, akan tetapi dianggap berbeda di sini adalah lebih pada kualitas kinerja yang dilakukan dan dicapai oleh abdi negara dalam menunaikan tugas-tugasnya masih di bawah kelas instansi swasta. Tentu saja abdi negara perlu memperhatikan anggapan ini, apakah memang demikian adanya. Anggapan miring tersebut perlu menjadi pertimbangan dan bahan instropeksi tentang realitas kinerja dan etos kerja yang dimiliki oleh segenap aparatur negara, sehingga pada tindak lanjutnya tersemaikan kesadaran dan pengejawantahan budaya kerja dalam pelaksanaan tugas.