• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penandatanganan Pakta Integritas Pejabat Eselon II, III dan IV di Lingkungan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama

diperhitungkan dalam kebijakan “reformasi birokrasi” adalah koplitmen, kompetensi, dan konsistensi semua pihak yang berperan dalam penyelenggaraan negara, baik unsur aparatur negara maupun warga negara dalam mewujudkan clean government dan good

governance, serta dalam mengaktualisasikan

dan membumikan berbagai dimensi nilai yang terkandung dalam konstitusi negara kita, sesuai posisi dan peran masing-masing dalam negara dan bermasyarakat bangsa.

Sehingga patut menjadi perhatian semua pihak bahwa birokrasi merupakan kekuatan yang besar sekali. Kegiatannya menyentuh hampir setiap kehidupan warga negara. Maka kebijakan yang dibuat oleh birokrasi sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena warga yang hidup dalam suatu negara terpaksa menerima kebijaksanaan yang telah dibuat oleh birokrasi, selain itu memang birokrasi merupakan garis terdepan yang berhubungan dengan pemberian pelayanan umum kepada masyarakat.

Berkenaan dengan hal tersebut, tidak berlebihan bila dikatakan, gagalnya upaya untuk membenahi birokrasi akan berdampak luas pada nasib rakyat, dan tentu saja berdampak pada proses demokratisasi. Nasib rakyat akan semakin terpuruk karena kualitas pelayan publik dan tidak berfungsinya pelayanan publik karena akan cenderung mendistorsi proses menuju keadilan dan kesejahteraan rakyat. Reformasi birokrasi di Indonesia merupakan pekerjaan besar dan rumit, karena berkaitan dengan ribuan proses overlapping fungsi-fungsi pemerintahan. Selain itu juga berkaitan dengan jutaan manusia, dan melibatkan anggaran yang tidak sedikit.

Oleh karena itu, reformasi birokrasi dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan. Langkah-langkah yang diambil juga harus konkret, realistis, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Itu semua memerlukan out of the

box thinking, inovation breakthrough, a new paradigm shift, dan upaya yang luar biasa.

Sebab dalam pelaksanaan reformasi birokrasi mencakup tiga aspek besar, yakni organisasi, ketatalaksanaan dan sumberdaya manusia aparatur.

Action Penjaga Moral Bangsa

Kementerian Agama merupakan salah satu Kementerian yang memiliki tugas menyelenggarakan pemerintahan di bidang agama. Tugas dimaksud menjadi penting karena Kementerian Agama harus mampu berperan sebagai penjaga moral bangsa. Prasyarat yang sangat penting untuk meningkatkan peran tersebut yaitu melakukan upaya percepatan pelaksanan reformasi birokrasi terhadap seluruh satuan organisasi/kerja di lingkungan Kementerian Agama. Reformasi birokrasi tersebut sangat penting karena kondisi obyektif yang menunjukkan adanya beberapa hal yaitu: (1) persepsi, sikap, dan perilaku sebagian aparatur yang masih belum sesuai harapan masyarakat; (2) masih muncul sejumlah kasus penyimpangan yang membentuk stigma bahwa Kementerian Agama tidak dapat dilepaskan dari belenggu KKN; (3) kualitas pelayanan kepada masyarakat yang belum sesuai dengan harapan; (4) produktivitas kerja pegawai relatif masih rendah, dan sejumlah faktor lainnya. Kondisi tersebut, akan berdampak pada tingkat capaian kinerja Kementerian Agama secara menyeluruh.

Reformasi birokrasi merupakan paradigma yang dikonstruksi untuk menjawab sejumlah isu kritis tentang sikap, dan perilaku kerja aparatur yang dinilai kurang memuaskan. Reformasi birokrasi Kementerian Agama menjadi keharusan dalam penyelenggaraan pemerintahan di bidang agama. Reformasi dimaksud dilakukan untuk merespon atas maraknya tuntutan masyarakat terhadap perwujudan tata kelola kepemerintahan yang baik dan bersih.

Proses reformasi birokrasi sangat terkait dengan transformasi cara berpikir (mindset) dan perubahan manajemen (management

change) menuju good governance. Perubahan

manajemen berkaitan dengan penerapan

“total quality management“ yang memberikan

tekanan pada perbaikan secara terus-menerus pada setiap proses kinerja, berorientasi kepada kepuasan pelayanan dan menekankan pada basis kebutuhan pelayanan. Keduanya menjadi cikal bakal terbentuknya pencitraan Kementerian Agama sebagai “penjaga moral bangsa”.

Reformasi birokrasi tidak sekedar menyentuh ranah kelembagaan melalui r e s t r u k t u r i s a s i s e m a t a , m e l a i n k a n memperhatikan pula perubahan orientasi budaya kerja yang memberikan kontribusi terhadap kualitas pelayanan masyarakat yang cepat, tepat, murah, aman, dan nyaman. Pengembangan Budaya Kerja Kementerian Agama merupakan strategi yang digunakan untuk mempercepat reformasi birokrasi. Pengembangan budaya kerja adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam sikap dan perilaku yang harus ditampilkan setiap aparatur Kementerian Agama, yaitu perilaku kerja aparatur yang mampu melaksanakan setiap

tugas pekerjaan secara profesional, rasional, bermoral, dan bertanggung jawab berdasarkan persepsi yang tepat, yaitu bekerja sebagai panggilan Tuhan (ibadah). Dalam hal ini, model pengembangan budaya kerja Kementerian Agama sangat dikaitkan dengan birokrasi yang bersih dan bebas dari KKN, birokrasi yang efisien dan efektif, birokrasi yang transparan, dan birokrasi yang melayani.

Fo ku s p en gem b a n ga n b u d aya kerja adalah membangun kepemimpinan, kemampuan intelektual dan pendidikan karakter. Sumber pengembangan budaya kerja dimaksud digali dari nilai dasar sebagai etos kerja bagi setiap aparatur di lingkungan Kementerian Agama yaitu “ikhlas beramal”. Nilai dasar “ikhlas beramal” harus sosialisasikan dan diaktualisasikan ke dalam persepsi dan sikap kerja aparatur yang mencakup: (1) jujur dan integritas, (2) etika, akhlak mulia dan keteladanan, (3) taat hukum dan keputusan, (4) tanggung jawab dan akuntabel, (5) hormat sejawat, (6) cinta kerja dan kerja keras, (7) transparansi dan koordinasi, (8) disiplin, dan (9) bersahaja.

Sikap kerja tersebut kemudian diaktualisasikan dalam bentuk perilaku kerja yang mencakup: (1) bekerja atas dasar rencana kerja, (2) hasil kerja dapat dilaporkan, (3) waktu kerja ditunaikan, (4) data/informasi direkam/ dicatat, ditabulasi dan dikaji, (5) monitoring dan evaluasi dijalankan. (6) pembinaan terhadap bawahan dilaksanakan, (7) Pelayanan kepada pelanggan, stakeholder, dan masyarakat dijalankan, (8) gagasan untuk mengembangkan sistem kerja dan pelayanan dilahirkan dan dituangkan dalam rencana kerja, dan (9) memelihara martabat diri, harmoni kerja, hormat pimpinan dan memelihara citra

organisasi.

Dalam melaksanakan Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Agama terdapat dua hal mendasar yang menjadi tujuan, yaitu: perubahan cara berpikir (mindset) yang segera harus dilakukan dan perubahan manajemen (change management) berbasis kinerja. Perubahan manajemen yang baik, tidak hanya melihat output, akan tetapi juga pada outcome dan dampak mengurangi atau mempersempit kesempatan untuk melakukan berbagai bentuk penyimpangan.

Budaya kerja dalam reformasi birokrasi merupakan sumber penting untuk membangun budaya kerja pegawai Kementerian Agama agar kembali kepada niat dan semangat bahwa bekerja merupakan kewajiban dan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT., Tuhan Yang Maha Esa. Tentu saja pandangan ini akan menggugah kesadaran bersama terhadap kedudukan aparatur negara sebagai ”khadimul

ummah” untuk memberikan pelayanan prima,

yaitu kepuasan publik sebagai dampak dari hasil kerja birokrasi yang profesional, berdedikasi, dan memiliki standar moral yang tinggi. Berbagai prosedur dan tatanan yang mengakibatkan sistem pelayanan kurang berjalan lancar harus segera ditata ulang. Karena reformasi dilakukan bertujuan untuk mewujudnya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintahan yang bersih (clean government). Untuk itu, dukungan sumber daya manusia (SDM) yang memahami akan hak dan kewajibannya dengan baik merupakan tuntutan pertama yang harus dibenahi. Dengan kualitas manusia yang baik

(good man) akan menghasilkan leadership yang

kuat di dalam mengelola suatu kementerian/ lembaga termasuk di lingkungan Kemenag.

Kementerian Agama sebagai institusi besar yang memiliki jajaran sampai ke daerah-daerah harus memiliki orang-orang terbaik sebagai leaders. Mereka tidak berarti harus memiliki nilai akademik terbaik karena hasil akademik terbaik lebih menunjuk pada kemampuan analisis saja. Yang lebih penting adalah pembinaan karakter (character building) dan akhlak mulia. Oleh karena itu, pribadi-pribadi yang memiliki kesadaran (sense

of reality), imajinasi, kualitas leadership,

dinamisme, dan lebih penting lagi memiliki prinsip kejuangan yang telah diwariskan oleh para pendahulu, jujur dalam pelaksanaan tugas, tidak sekedar menuntut haknya, dan tidak hanya diam tanpa perubahan. Berani berpijak pada kebenaran yang hakiki serta berani membuat keputusan yang berat, tetapi benar demi kemaslahatan umat dan rela berkorban. Sosok pimpinan inilah yang diharapkan mampu memperbaiki orang-orang yang dipimpinnya dan meningkatkan kinerja Kementerian Agama pada masa mendatang.

Satu hal yang harus disadari bahwa sebaik apa pun suatu sistem dalam rangka pembangunan suatu bangsa tidak akan berjalan baik tanpa integritas tinggi yang didasari dengan nilai moralitas yang baik. Oleh sebab itu, pengembangan budaya kerja yang dilakukan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama merupakan langkah strategis dalam perannya menjadi konsultan pengawasan untuk mendorong perubahan yang drastis bagi perwujudan reformasi birokrasi Kementerian Agama. Sehingga sudah pasti, budaya kerja bisa mereformasi birokrasi. [Moch. Bukhori Muslim]

A

ku adalah sosok yang hidup dalam wilayah Indonesia yang telah aku diami selama dasawarsa ini, tapi aku sungguh terkejut mendapati keganjalan yang terjadi dinegeriku ini, dimana antara satu dengan lainya saling terkam, saling jegal, saling tendang, saling makan bahkan saling bunuh. Tapi kenapa hal ini sudah sangat akrab dengan bangsaku ini. Kami saling mengamankan dan mengesahkan tindakan diantara kami, dengan berjalannya waktu kami baru tahu bahwa ini adalah tindakan yang kami kenal dengan nama ”Korupsi”, ya kata ini sudah menjadi trend bagi sebagian manusia, karena kata ini sudah menyatu dengan setiap lini kehidupan dalam setiap lapis masyarakat, korupsi telah mendarah daging karena sudah menjadi aktifitas sehari-hari dari generasi ke generasi. Sehingga model dan modusnya hampir sama yang membedakan hanya dari segi teknik dan finansialnya, pembaharuan selalu terjadi dan mengiringi setiap modusnya, di samping itu adanya struktur yang selalu mengawal setiap aktifitasnya sehingga dengan pengamanan dari struktur yang ada maka kegiatan ini bisa dikoordinir dan dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok, dalihpun bisa bermacam-macam tergantung kepentingan dan suasana yang terjadi sehingga dari segi alasanpun bisa diatur dan diselaraskan dengan elemen yang ada. Kami menganggap tindakan ini bukan suatu kesalahan hanya suatu kebiasaan karena bagi kami yang bersalah hanya orang yang ketahuan saja.

S u n g g u h f a n t a s t i s t i n d a k a n penyelewengan terkoordinasi dan terstruktur dengan rapih, yang menjadi pertanyaan kenapa ini bisa terjadi ? faktor apa yang sangat dominan ? menurut pengamatan kami kiranya ada sebagian faktor yang mempengaruhi tindakan ini diantaranya adalah:

P e r t a m a , f a k t o r a l a m , a l a m

menyediakan berbagai perangkat yang mendukung setiap aktifitas manusia dari lahir sampai purna manusia, mengapa alam menjadi faktor dominan, karena alam adalah pencetus intuisi pertama ketika manusia itu muncul pertama dimuka bumi, alam berkaitan erat dengan intuisi karena alam adalah sarana untuk muncul tumbuh dan berkembang. Intuisi berkaitan erat dengan tindakan korupsi karena intuisi berkaitan dengan sifat dasar manusia dimana manusia punya kecenderungan untuk bersikap mempertahankan diri dari dunia diluar dirinya kondisi ini akan terakumulasi dengan adanya gangguan dari luar, dan juga bersifat tidak pernah puas dimana sifat dasar ini muncul ketika kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi dan berusaha menyerang jika terdapat gangguan.

Kedua, faktor sosial, hubungan sosial

juga sangat berpengaruh terhadap tindakan penyelewengan karena faktor ini berkaitan erat dengan hubungan sesama di mana setiap manusia melakukan interaksi dengan yang lainya, dan setiap interaksi membutuhkan komitmen, dimana komitmen ini akan saling mengikat antara yang satu dengan yang lainya sebagai bentuk konsekuensi diri.

Opini

Dokumen terkait