• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akarisida

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 109-112)

TOKSIKOLOGI PESTISIDA DAN INDUSTRI

6. Akarisida

Secara etimologi “akarisida” berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “acarina” artinya tungau dan “cide” artinya membunuh. Secara umum, akarisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia sintetis beracun yang digunakan untuk membunuh tungau, caplak, dan laba-laba. Dalam hal ini, tidak digunakan insektisida, karena walaupun tubuh tungau dan laba-laba berbuku-buku, tetapi ia mempunyai kaki sebanyak 4 pasang.

Tungau berukuran sangat halus, dan tidak tampak oleh pandangan mata apabila sedang berada di balik daun ataupun pada permukaan daun pada tanaman yang sudah berkerut. Kerutan pada daun tanaman, disebabkan karena tungau mengisap cairan dan daun mengalami kekurangan cairan. Selain itu, akibat tungau berukuran kecil tersebut, ia pun sulit dipredasi oleh predatornya.

a. Gangguan pada Tanaman

Di bidang pertanian, tungau menimbulkan banyak kerusakan pada kualitas buah jeruk, seperti dikenal dengan istilah tungau karat buah dan tungau merah. Di samping jeruk, tungau juga merusak daun ketelah pohon, serta tanaman solanaceae seperti cabai dan tomat.

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan

86

Pada tomat dan cabai, tungau tidak hanya merusak daun bahkan menghisap cairan buah. Bekas gigitannya itu, meninggalkan jejak bintik dan ini adalah perlakuan yang mempermudah patogen menginfeksi tanaman. Dengan demikian, tungau disebut sebagai penyebab penyakit primer dan diikuti oleh patogen lain seperti jamur sehingga menjadi gejala yang kompleks.

b. Jenis-Jenis Akarisida

Akarisida merupakan bagian dari ragam jenis pestisida berdasarkan fungsinya. Banyak jenis akarisida yang telah dijual bebas di pasaran.

Beberapa di antaranya adalah:

(1) Bahan aktifnya abamectin: Aspire, Agrimec, Demolish, Indmektin, Matros, Numection.

(2) Bahan aktifnya alfa sipermetryn: Bestox, BM Alpha, Tetrin, Valiant, Attate.

(3) Bahan aktifnya asetat: Dafat

(4) Bahan aktifnya deltametrin: Decis, Delta, Sancis, Sidacis, dan lain-lain.

Salah satu jenis akarisida yaitu: “Samitec 135 EC” (Lihat Gambar 14).

Gambar 14. Salah Satu Produk Akarisida

Sumber: https://www.google.com/search?q=gambar+akarisida+samite

Spesifikasi Produk

Adalah akarisida racun kontak berbentuk pekatan yang dapat diemulsikan berwarna kuning terang, digunakan untuk mengendalikan hama tungau pada pertanaman cabai, jeruk dan teh.

Identifikasi Produk

Nama Produk : SAMITE 135EC Bahan Aktif : Piridaben 135 g/l Jenis Produk : Akarisida

Nama Kimia : 2-tert-butyl-5(4-tertbutylbenzen-ylthio)-4-chloropyridazin-3(2H) Rumus Empiris : C19H25ClN2O

Sumber: infotani.blogspot.com/2016/02/referensi-pestisida-akarisida-untuk.html

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 87

7. Pestisida pada Lingkungan

Kehadiran pestisida pada lingkungan yang dimaksud ini adalah keberadaan racun senyawa pestisida yang bukan berada pada tanaman yang membutuhkannya. Dengan kata lain, pestisida tersebut berada pada lingkungan selain pada organ tanaman sesuai sasaran.

Artinya pada bagian ini, kita tidak membahas tentang mekanisme dan keberadaan pestisida pada tanaman dalam mengobati penyakit tanaman yang terserang hama dan penyakit oleh patogen. Tetapi yang dibicarakan adalah residu dari pestisida itu, yang berada pada lingkungan hidup.

a. Residu Pestisida pada Tanah

Saat pestisida disemprotkan ke tanaman, maka partikel paling halus dari pestisida itu berada di udara. Tentu tidak semuanya yang diserap oleh tanaman. Ada bagian yang tinggal di udara, dan turun ke tanah.

Kelompok senyawa yang tidak mudah menguap di udara akan tinggal cukup lama pada tanah dan menyerap ke dalam tanah.

Walaupun pestisida di dalam tanah akan diuraikan dan terdegradasi oleh mikroorganisme tanah seperti fenitrotion menjadi amino fenitrotion oleh bacillus subtilis, tetapi tidak semua pestisida yang dapat didegradasi seperti demikian. Dari hasil laporan penelitian Rosliana (2011) dalam tesisnya mengemukakan bahwa residu pestisida jenis kloropirifos ternyata berada pada tanah di daerah Bandung. Konsentrasi residu ini berada dalam jumlah 0,136 pp dalam tanah di Lembang dan 0,699 ppm dalam tanah di Gambung.

Selain itu, dalam aplikasi pestisida di lapangan dari hasil observasi penulis ternyata petani tidak semuanya melakukan penyemprotan dengan cara yang benar. Masih ada yang menyemprotkan pestisida tidak hanya pada organ tanaman, melainkan kepada tanah dan udara sekitar.

Alasan mereka adalah untuk menjaga tanaman. Artinya paparan di udara dan tanah akan menghalangi hama atau penyakit mendekati tanaman.

Kondisi di atas makin mempertinggi kadar atau terjadinya residu pestisida pada tanah di lingkungan hidup. Pada gilirannya, air dalam tanah (perkolasi) maupun air di atas permukaan tanah pada kondisi run off (aliran permukaan) akan segera mengangkut residu ke badan air

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan

88

atau ke tempat lain. Dalam hal ini, terjadi distribusi atau penyebaran residu pestisida yang berasal dari tanah ke tempat lain pada lingkungan dan berada pada media transport lain, seperti berada pada badan air (body of water).

b. Residu Pestisida pada Air

Residu pestisida yang telah ada di dalam badan air seperti sungai akan terus mengalir ke laut. Di sungai itu pun telah menimbulkan dampak pada biota sungai. Residu pestisida yang berada pada air, akan lebih mudah menyebar sebab di samping karena mengikuti arus air, juga terjadinya penguapan ke udara.

Selain itu, memang ada golongan pestisida yang disemprotkan pada media air. Contohnya herbisida berdaun lebar pada tanaman padi sawah. Golongan pestisida ini langsung berada pada badan air sawah.

Apabila terjadi penguapan, maka ia ikut terbang ke atas bersama udara.

c. Residu Pestisida pada Udara

Terdapat 2 cara sehingga residu pestisida berada pada udara. Pertama, saat penyemprotan dilakukan secara langsung, maka media transport dari sumber berupa alat penyemprot ke tanaman atau sasaran adalah udara. Jarak antara sprayer dengan sasaran adalah ruang udara yang akan dipenuhi oleh pestisida. Cara kedua adalah hasil penguapan dari air dan tanah yang telah dicemari oleh residu pestisida setelah penyemprotan dilakukan.

Efek paling berbahaya dari residu pestisida pada udara adalah terjadinya peristiwa hujan asam. Di mana air hujan yang turun akan bereaksi dengan kandungan residu pestisida ketika terjadi pertemuan.

Reaksi ini akan menghasilkan senyawa asam sulfat dan dibawa oleh hujan kembali ke bumi. Reaksi sederhananya adalah:

XSO4 + H2O menjadi H2SO4 + X

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 109-112)