• Tidak ada hasil yang ditemukan

Limbah Industri

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 125-129)

TOKSIKOLOGI PESTISIDA DAN INDUSTRI

B. Toksikologi Industri

5. Limbah Industri

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 101 sangat menentukan apakah wilayah tersebut bisa dikatakan berperan dalam hal penyehatan dan penyelamatan lingkungannya, atau malah sebaliknya.

Apabila kuantitas industri di sebuah wilayah tidak sehat, mengeluarkan limbah sehingga merusak dan mencemari lingkungan, sudah barang tentu wilayah tersebut justru berperan dalam hal perusakan dan pencemaran lingkungan. Pada keadaan di mana suatu industri di satu wilayah mencemari dan merusak lingkungan, maka secara kualitas, industri pada wilayah tersebut dikategorikan tidak sehat dan tidak ramah lingkungan, walaupun pada awalnya mampu meningkatkan skala perekonomian wilayah tersebut, tetapi suatu saat perhitungan dilakukan secara akurat, dengan melibatkan komponen ekologis yang ada, maka peningkatan sektor ekonomi itu menjadi sia-sia. Karena apabila dihitung biaya pemulihan lingkungan dan kerugian yang ditimbulkannya, lebih besar mengeluarkan biaya daripada biaya yang diperolehnya dari hasil kegiatan industri tersebut.

Sebagaimana diskusi kita terdahulu tentang sumber daya dan komponen yang ada pada lingkungan, di mana pada satu lingkungan, terdiri dari beberapa komponen, yang secara garis besarnya digolongkan atas 2, yakni lingkungan biotik dan abiotik. Pada lingkungan biotik, terdapat semua makhluk hidup baik flora, fauna dan jasad renik, tak terkecuali, manusia pun merupakan salah satu komponennya.

Sehingga, penyehatan dan penyelamatan lingkungan, berarti menyehatkan dan menyelamatkan manusia. Sementara itu, lingkungan abiotik terdiri dari semua komponen yang bukan makhluk hidup atau disebut juga dengan benda mati. Dalam kajian toksikologi lingkungan, baik itu biotik dan abiotik adalah sumber dan sekaligus media transport untuk terjadinya peristiwa keracunan pada manusia. Hal ini sudah kita pelajari di Bab 3 Xenobiotik sebagai Bahan Toksin.

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan

102

Kerusakan dan pencemaran lingkungan merupakan permasalahan total dari persoalan lingkungan hidup. Artinya, tidak hanya hilangnya fungsi lingkungan karena diambil oleh manusia (untuk bahan baku industri misalnya), tetapi lebih dari itu, terjadinya perubahan fungsi lingkungan seperti pencemaran pada air sungai misalnya. Terjadinya pencemaran, bisa saja disebabkan sewaktu proses pengambilan bahan baku, ataupun sebagai akibat proses industri yang mengubah bahan baku menjadi bahan jadi.

Untuk mempermudah kita mencermati persoalan dan alur permasalahannya, kita mulai dari menelaah tentang limbah. Di mana asumsi dasar bahwa industri akan mengakibatkan limbah pada lingkungan. Lingkungan yang kita bicarakan ini ialah wadah di mana kita tinggal berdampingan dengan manusia lain, dan makhluk hidup lain serta benda mati yang mempunyai fungsi spesifik di dalam sumber daya lingkungan tersebut.

a. Pengertian Limbah

Metcalf & Eddy (2004) mendefinisikan limbah merupakan buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi, baik industri maupun domestik (rumah tangga). Di mana masyarakat bermukim, di sanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Akan tetapi, pada diskusi kita kali ini, kita akan membicarakan tentang limbah industri saja. Sehingga kita bisa menghubungkan penalaran bermula dari peradaban manusia, pemanfaatan lingkungan, proses industri dan pada gilirannya adalah limbah. Limbah yang dihasilkan oleh industri, tidak akan ke mana mana lagi. Dengan kata lain, limbah tersebut, kembali masuk ke dalam lingkungan, merusak dan mencemari. Dan ini merupakan kajian dari toksikologi lingkungan.

Oleh karena itu, pada diskusi lanjutan nanti kita akan membicarakan pengelolaan limbah industri dan menjawab pertanyaan kenapa penting dikelola. Dan bagaimanakah hubungannya dengan aktivitas manusia seperti dalam lingkup pekerjaan, dalam lingkup tempat tinggal.

Sampai nanti kita akan menemukenali bagaimana komprehensifnya hubungan antara industrialisasi dengan keselamatan dan kesehatan

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 103 manusia, sehingga dalam bekerja pun, baik di pabrik industri maupun di tempat lain, manusia mesti mengedepankan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan lingkungan kerjanya.

b. Pembagian Limbah Menurut Wujudnya

Berdasarkan bentuk/wujud dari limbah, Sugiharto (2001) mengelompokkan limbah dalam rangka pengendalian atas:

1) Limbah padat (solid waste) atau dikenal dalam kehidupan sehari-hari dengan istilah sampah.

2) Limbah cair (liquid waste), adalah air yang tidak bisa digunakan lagi untuk keperluan yang sama.

3) Limbah gas (gas waste) dan partikel. Yaitu gas dan partikel yang tidak diharapkan kehadirannya.

Dari pengelompokkan di atas, dapat kita pahami bahwa berdasarkan bentuknya, limbah tersebut berada dalam semua bentuk zat. Baik berupa padat, cair maupun gas. Sehingga keberadaannya pun sangat lekat dan dekat dalam kehidupan manusia. Apalagi yang dihasilkan oleh industri, karena sektor industri itupun sudah menjadi bagian dalam kehidupan manusia dan penataan ruang wilayah di lingkungan tempat tinggal dan beraktivitasnya manusia.

c. Karakteristik Limbah

Karakteristik atau ciri khas limbah sangat penting diketahui dalam hal identifikasi serta menentukan pengendaliannya pada lingkungan.

Kristanto (2005) menentukan karakteristik limbah ini atas 4 ciri, yaitu:

1) berukuran mikro;

2) dinamis;

3) berdampak luas (penyebarannya);

4) berdampak jangka panjang (antar-generasi).

Dapat diketahui karakteristik atau ciri-ciri spesifik dari limbah, yang begitu berbahaya bagi kehidupan manusia dalam satu lingkungan.

Selain karena ukurannya yang mikro, limbah juga mempunyai dampak yang luas dan dalam waktu yang lama.

Limbah industri yang terutama sekali, ialah pencemaran terhadap udara. Di mana proses pencemaran udara itu merupakan semua spesies

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan

104

kimia yang dimasukkan atau masuk ke atmosfer yang “bersih” disebut kontaminan. Kontaminan pada konsentrasi yang cukup tinggi dapat mengakibatkan efek negatif terhadap penerima (receptor).

Bila ini terjadi, kontaminan tersebut disebut sebagai cemaran (pollutant) atau bahan pencemar (Kristanto, 2005; Palar, 2004; Dewata

& Danhas, 2018). Cemaran udara diklasifikasikan menjadi 2 kategori menurut cara cemaran masuk atau dimasukkan ke atmosfer yaitu: (1) cemaran primer; dan (2) cemaran sekunder. Cemaran primer adalah cemaran yang diemisikan secara langsung dari sumber cemaran.

Cemaran sekunder adalah cemaran yang terbentuk oleh proses kimia di atmosfer.

Sumber cemaran dari aktivitas manusia (antropogenik) adalah setiap kendaraan bermotor, fasilitas, pabrik, instalasi atau aktivitas yang mengemisikan cemaran udara primer ke atmosfer. Ada 2 kategori sumber antropogenik, yaitu sumber tetap (stationery source) seperti:

pembangkit energi listrik dengan bakar fosil, pabrik, rumah tangga, jasa, dan lain-lain; dan sumber bergerak (mobile source) seperti: truk, bus, pesawat terbang, dan kereta api.

Lima cemaran primer yang secara total memberikan sumbangan lebih dari 90% pencemaran udara global adalah:

1) Karbon monoksida (CO).

2) Nitrogen oksida (NOx) 3) Hidrokarbon (HC).

4) Sulfur Oksida (SOx).

5) Partikulat.

(Metcalf & Eddy, 2004; Kristanto, 2005; Palar, 2004; Dewata &

Danhas, 2018).

Selain cemaran primer terdapat cemaran sekunder yaitu cemaran yang memberikan dampak sekunder terhadap komponen lingkungan ataupun cemaran yang dihasilkan akibat transformasi cemaran primer menjadi bentuk cemaran yang berbeda. Ada beberapa cemaran sekunder yang dapat mengakibatkan dampak penting baik lokal, regional maupun global yaitu:

BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 105 1) CO2 (karbon monoksida).

2) Cemaran asbut (asap kabut) atau smog (smoke fog).

3) Hujan asam.

4) CFC (Chloro-Fluoro-Carbon/Freon).

5) CH4 (metana).

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 125-129)