TOKSIKOLOGI PESTISIDA DAN INDUSTRI
B. Toksikologi Industri
6. Jenis dan Dampak Limbah Industri terhadap Lingkungan
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 105 1) CO2 (karbon monoksida).
2) Cemaran asbut (asap kabut) atau smog (smoke fog).
3) Hujan asam.
4) CFC (Chloro-Fluoro-Carbon/Freon).
5) CH4 (metana).
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan
106
seperti tanah, larutan alkohol, panas dan insektisida. Apabila efluen dibuang langsung ke suatu perairan akibatnya mengganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.
b. Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan
Industri kimia seperti alkohol, parfum & minyak pelumas (oli) dalam proses pembuatannya membutuhkan air sangat besar, mengakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan ke lingkungan sekitarnya.
Air limbahnya bersifat mencemari karena di dalamnya terkandung zat kimia berbahaya, senyawa organik dan anorganik baik terlarut maupun tersuspensi serta senyawa tambahan yang terbentuk selama proses permentasi berlangsung.
Industri ini mempunyai limbah cair selain dari proses produksinya juga, air sisa pencucian peralatan, limbah padat berupa onggokan hasil perasan, endapan Ca SO4, gas berupa uap alkohol. Kategori limbah industri ini adalah limbah bahan berbahaya beracun (B3) yang mencemari air dan udara.
Gangguan kesehatan akibat bahan kimia toksik dari industri kimia:
1) Keracunan yang akut, yakni keracunan akibat masuknya dosis tertentu ke dalam tubuh melalui mulut, kulit, pernapasan dan akibatnya dapat dilihat dengan segera, misalnya keracunan H2S, Co dalam dosis tinggi. Dapat menimbulkan lemas dan kematian.
Keracunan fenal dapat menimbulkan sakit perut dan sebagainya.
2) Keracunan kronis, sebagai akibat masuknya zat-zat toksik ke dalam tubuh dalam dosis yang kecil, tetapi terus-menerus dan berakumulasi dalam tubuh, sehingga efeknya baru terasa dalam jangka panjang misalnya keracunan timbal, arsen, raksa, asbes dan sebagainya.
Industri fermentasi seperti alkohol, di samping bisa membahayakan pekerja apabila menghirup zat dalam udara selama bekerja apabila tidak sesuai dengan threshold limit value (TLV) gas atau uap beracun dari industri juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat sekitar.
Dengan demikian, tidak hanya berbahaya dalam kaitannya dengan keselamatan dan kesehatan kerja, tetapi juga berspektrum luas untuk lingkungan di luar sistem industri internal.
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 107 Kegiatan lain sektor ini yang mencemari lingkungan adalah industri yang menggunakan bahan baku dari barang galian seperti batako putih, genteng, batu kapur/gamping dan kerajinan batu bata. Pencemaran timbul sebagai akibat dari penggalian yang dilakukan terus-menerus sehingga meninggalkan kubah-kubah yang sudah tidak mengandung hara sehingga apabila tidak direklamasi tidak dapat ditanami untuk ladang pertanian.
c. Limbah Industri Sandang Kulit dan Aneka
Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, menyamakan kulit dapat mengakibatkan pencemaran yang berisiko tinggi terhadap lingkungan karena dalam kegiatannya proses pencucian terhadap bahan-bahan bakunya memerlukan air sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar.
Proses ini menimbulkan air buangan (bekas proses) yang besar pula, di mana air buangan mengandung sisa-sisa warna, BOD tinggi, kadar minyak tinggi dan beracun (mengandung limbah B3 yang tinggi).
d. Limbah Industri Logam & Elektronika
Bahan buangan yang dihasilkan dari industri besi baja seperti mesin bubut, cor logam dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Sebagian besar bahan pencemarannya berupa debu, asap dan gas yang mengotori udara sekitarnya.
Selain pencemaran udara oleh bahan buangan, kebisingan yang ditimbulkan mesin dalam industri baja (logam) mengganggu ketenangan sekitarnya. Kadar bahan pencemar yang tinggi dan tingkat kebisingan yang berlebihan dapat mengganggu kesehatan manusia, baik yang bekerja dalam pabrik maupun masyarakat sekitar.
Walaupun industri baja/logam tidak menggunakan larutan kimia, tetapi industri ini mencemari air karena buangannya dapat mengandung minyak pelumas dan asam-asam yang berasal dari proses pickling. Proses ini dilakukan adalah untuk membersihkan bahan plat, sedangkan bahan buangan padat dapat dimanfaatkan kembali.
Bahaya dari bahan-bahan pencemar yang mungkin dihasilkan dari proses-proses dalam industri besi baja/logam terhadap kesehatan
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan
108
manusia, baik yang bekerja di dalam industri terkait ataupun masyarakat sekitar yang berada di lingkungan, yaitu:
1) Debu dapat menyebabkan iritasi, sesak napas. Debu pada udara sangat luas penyebarannya dan susah dikendalikan.
2) Kebisingan sangat mengganggu pendengaran, menyempitkan pembuluh darah, ketegangan otot, menurunnya kewaspadaan, konsentrasi pemikiran dan efisiensi kerja. Kebisingan juga salah satu pencemaran udara (Dewata & Danhas, 2018).
3) Karbon monoksida (CO), dapat menyebabkan gangguan serius, yang diawali dengan napas pendek dan sakit kepala, berat, pusing-pusing pikiran kacau dan melemahkan penglihatan dan pendengaran. Bila keracunan berat, dapat mengakibatkan pingsan yang bisa diikuti dengan kematian.
4) Karbon dioksida (CO2), dapat mengakibatkan sesak napas, kemudian sakit kepala, pusing-pusing, napas pendek, otot lemah, mengantuk dan telinganya berdenging.
5) Belerang dioksida (SO2), pada konsentrasi 6-12 ppm dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, peradangan lensa mata (pada konsentrasi 20 ppm), pembengkakan paru-paru/
celah suara.
6) Minyak pelumas, buangan dapat menghambat proses oksidasi biologi dari sistem lingkungan, apabila bahan pencemar dialirkan ke sungai, kolam atau sawah dan sebagainya. Kenyataannya hal ini masih berlangsung di berbagai tempat di Indonesia.
7) Asap, dapat mengganggu pernapasan, menghalangi pandangan, dan bila tercampur dengan gas CO2, SO2, maka akan memberikan pengaruh yang membahayakan seperti yang telah diuraikan di atas.
Sebagaimana kita ketahui bahwa keberadaan bahan pencemar (polutan) pada lingkungan tak lepas dari keberadaan benda asing (xenobiotik) yang berpotensi untuk terjadinya toksin dan toksisitas pada makhluk hidup. Hal ini berkaitan dengan banyak aspek salah satunya dengan ilmu kependudukan dan sosial.
Dalam ilmu lingkungan, tidak hanya membahas masalah biotik saja. Lingkungan sosial juga merupakan kajian dari ilmu lingkungan.
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 109 Karena, lingkungan sebagai suatu sistem, maka antar-komponen yang ada di dalamnya membentuk suatu keterkaitan yang sangat erat dan saling memengaruhi satu sama lain. Terjadinya penurunan kualitas sumber daya penduduk dan kesejahteraan yang merupakan masalah sosial, juga merupakan bahan kajian dari ilmu lingkungan.
Oleh karena itu, membedah persoalan toksikologi dalam lingkungan hidup mesti melibatkan banyak variabel dan komponen, yang tidak hanya variabel fisik saja. Melainkan akan bersinggungan dengan masalah-masalah sosial, terutama masalah kualitas sumber daya manusia meliputi kesehatan dan kesejahteraan. Rendahnya kualitas sumber daya manusia secara langsung akan memberikan pilihan pada kerusakan lingkungan hidup, sebab di negara berkembang penduduk hanya bersandar pada ekonomi yang bersifat ekstraktif.
Masalah kependudukan juga tak lepas dari kajian dalam ilmu lingkungan. Kependudukan berkaitan dengan sumber daya manusia dalam lingkungan. Pendekatan pembangunan berwawasan kependudukan juga merupakan bahan kajian dalam ilmu lingkungan di samping pembangunan berkelanjutan. Kedua model pembangunan itu pada dasarnya sama-sama bertumpu pada kesejahteraan antar-generasi dengan pelestarian lingkungan.
Demikian juga halnya dengan toksikologi lingkungan, yang menelaah masalah toksin di lingkungan yang berdampak pada manusia, tetapi tidak fokus pada dampak itu, melainkan pada sumber, bagaimana pemaparannya serta bagaimana mengendalikan racun itu sehingga tidak merusak lingkungan hidup dan organisme termasuk manusia yang hidup di dalamnya. Sehingga masalah industri menjadi bahan kajian yang utama sebagai sumber pencemar pada lingkungan hidup.
Secara skematis pada Gambar 15 di bawah ini akan memperlihatkan bagaimana hubungan implikasi antara manusia dengan industrialisasi dan pencemaran dan perusakan lingkungan oleh limbah yang dihasilkan oleh proses industri.
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri Toksikologi Lingkungan
110
Gambar 15. Hubungan Manusia dan Limbah Industri dalam Lingkungan Hidup
Sumber: Dewata, I dan Danhas, Y. 2020
Dapat kita perhatikan bahwa industrialisasi telah menghasilkan proses yang masing-masing proses memberikan dampak berupa kehadiran limbah. Limbah yang dihasilkan oleh proses industri akan ke mana lagi kalau tidak berada pada lingkungan internal (lingkungan kerja/mikro) dan lingkungan eksternal (di luar kerja/makro).
Lingkaran besar di bawah sebagai simbol dari lingkungan hidup. Di mana limbah akan masuk ke dalam lingkungan hidup dan selanjutnya manusia akan berinteraksi dengan situasi tersebut.
Persoalan kemudian ialah bahwa lingkungan makro maupun lingkungan mikro yang kita bicarakan ini, adalah lingkungan di mana manusia hidup dan beraktivitas. Aktivitas yang dilakukan manusia seperti aktivitas ekonomi di lingkungan kerja misalnya, akan sangat memberi dampak yang signifikan terhadap keselamatan dan kesehatan lingkungan kerjanya.
Pada siklus yang tidak dikelola, seperti pada Gambar 15 akan lahirlah sumber daya manusia yang tidak produktif dengan persoalan yang kompleks terhadap lingkungan yang sudah rusak dan tercemar.
BAB 6|| Toksikologi Pestisida dan Industri 111 Karena lingkungan sudah rusak dan cemar, manusia akan direpotkan oleh upaya penyelamatan dan pemulihan lingkungannya itu sehingga merugikan manusia secara ekonomis.