• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA TEORITIS

3.2. Aksessibilitas dan Partisipasi pada Kredit

Istilah akses dan partisipasi pada kredit yang digunakan oleh banyak peneliti dalam menganalisis kinerja pasar kredit sering membingungkan dan saling dipertukarkan (Diagne dan Zeller, 2001). Namun, untuk menganalisis secara lebih jelas mengenai faktor penentu sosial ekonomi dari akses dan partisipasi dalam program kredit serta untuk menilai dampaknya pada kesejahteraan rumahtangga, maka perlu membuat perbedaan antara aksessibilitas dan partisipasi pada kredit. Diagne dan Zeller (2001) menyatakan rumatangga atau individu memiliki akses kepada sumber kredit tertentu, jika mampu meminjam dari sumber tersebut, meskipun karena berbagai alasan memilih untuk tidak meminjam. Rumahtangga atau individu dikatakan berpartisipasi dalam kredit jika meminjam dari sumber kredit tertentu. Rumahtangga atau inidvidu dikatakan dibatasi kredit (credit constraint) ketika tidak memiliki akses pada kredit atau tidak bisa meminjam sebanyak yang ia inginkan.

Untuk menjelaskan konsep aksessibilitas dan partisipasi pada kredit, dapat menggunakan pandangan teori kontrak dari transaksi pinjaman yang dikembangkan Freixas dan Rochet (1997). Pada transaksi pinjaman, pemberi pinjaman pada dasarnya memilih batas kredit (credit limit) dan jumlah yang ingin dipinjamkan. Jumlah yang ingin dipinjamkan kepada peminjam berkisar antara 0 sampai batas tertentu, katakanlah sebesar bmax, dimana bmax adalah jumlah

maksimal kredit yang ingin dipinjamkan oleh pemberi pinjaman. Peminjam memilih jumlah yang akan dipinjam dalam kisaran yang ditetapkan oleh pemberi pinjaman (b*), yaitu antara 0 sampai bmax. Pemberi pinjaman menawarkan kontrak

kepada peminjam yang menerima atau menolak pinjaman. Peminjam dikatakan akses terhadap kredit jika memiliki credit limit yang positif (b*>0), dan dikatakan tidak akses jika memiliki credit limit sama dengan nol (b*=0). Pemberi pinjaman membatasi dirinya dengan jumlah maksimum yang mampu dipinjamkan kepada

setiap peminjam yaitu total kredit yang diberikan kepada semua klien (Diagne dan Zeller, 2001).

Penegakan kontrak yang tidak efektif menyebabkan pemberi pinjaman membatasi penawaran kreditnya, meskipun sebenarnya mampu mencukupi permintaan dimana peminjam bersedia membayar dengan tingkat bunga yang cukup tinggi (Stiglitz dan Weiss, 1981). Oleh karena itu, dari sudut pandang peminjam, batas kredit yang relevan pada penawaran tidaklah jumlah maksimal yang pemberi pinjaman mampu pinjamkan, melainkan jumlah maksimal yang pemberi pinjaman bersedia untuk pinjamkan. Jumlah maksimum pemberi pinjaman bersedia untuk meminjamkan ini adalah batas kredit peminjam. Irisan antara maksimum pemberi pinjaman bersedia untuk memberikan pinjaman dengan maksimum yang mampu dipinjamkan merupakan tingkat penjatahan kredit (credit rationing) yang timbul karena asymmetric information dan masalah penegakan kontrak (Diagne dan Zeller, 2001).

Dengan demikian, perbedaan penting antara akses dan partisipasi kredit terletak pada kenyataan bahwa partisipasi dalam program kredit adalah sesuatu yang peminjam potensial (individu atau rumahtangga) memilih untuk melakukannya, sementara akses pada kredit merupakan kendala yang membatasinya. Dengan kata lain, partisipasi lebih dari masalah sisi permintaan yang terkait dengan pilihan peminjam potensial dari jumlah pinjaman yang optimal, sementara akses lebih dari sisi penawaran yang berhubungan dengan pilihan pemberi pinjaman dari batas kredit. Partisipasi dalam kredit berhubungan

dengan harapan peminjam potensial terhadap sumber kredit. Kelompok yang tidak berpartisipasi dapat dibagi menjadi dua sub-kelompok, yaitu non-participant yang dibatasi oleh kriteria kelayakan, yaitu memiliki bmax=0, dan non-participant yang

memilih untuk tidak berpartisipasi karena permintaan optimal untuk kredit formal nol. Jika diasumsikan bahwa peserta program kredit selalu bisa meminjam, yaitu, bmax > 0 bagi peserta, maka sub-kelompok non- participant yang kedua memiliki

akses ke kredit formal (Diagne dan Zeller, 2001).

Batas kredit peminjam bergantung pada pemberi pinjaman dan karakteristik dan tindakan peminjam, dan juga tergantung pada peristiwa acak yang mempengaruhi pemberi pinjaman dan peminjam potensial. Oleh karena itu batas

kredit yang dihadapi peminjam potensial adalah variabel acak yang nilainya ditentukan oleh sejumlah kejadian, yaitu dari faktor peminjam, pemberi pinjaman, dan faktor lain diluar keduanya. Batas kredit peminjam tergantung pada peristiwa acak juga menyiratkan bahwa batas kredit peminjam tidak dapat diketahui secara pasti sebelumnya oleh peminjam. Peminjam hanya dapat membentuk ekspektasi atau harapan tentang nilai kemungkinan batas kredit peminjam pada saat pinjaman tersebut. Pemberi pinjaman formal biasanya menyediakan informasi yang cukup tentang kebijakan pinjamannya (kriteria kelayakan, jenis proyek yang didanai, agunan dan persyaratan uang muka, dan sebagainya) yang memungkinkan peminjam potensial untuk membentuk harapan yang cukup akurat tentang batas kredit peminjam dari setiap sumber kredit formal. (Diagne dan Zeller, 2001) menyatakan bahwa harapan peminjam sebelumnya tentang nilai kemungkinan batas kredit peminjam dan keragamannya mempengaruhi perilaku dan membuat peminjam potensial memutuskan apakah atau tidak untuk mencari pinjaman dari sumber kredit tertentu.

Dengan demikian, faktor-faktor yang mempengaruhi aksessibilitas pada kredit berhubungan dengan pemberi pinjaman, karakteristik dan tindakan peminjam. Diamond (1991) menyatakan bahwa aksessibilitas pada kredit dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan seperti ukuran perusahaan, umur dan industri. Ukuran dan umur perusahaan memberikan sinyal mengenai risiko kredit. Umur perusahaan biasanya dilihat sebagai indikator kualitas perusahaan, karena umur panjang mungkin berisi sinyal untuk kemampuan kelangsungan hidup dan kualitas manajemen serta reputasi akumulasi modal. Informasi asimetris cenderung lebih terjadi pada perusahaan baru, karena kreditur tidak punya cukup waktu untuk memantau perusahaan-perusahaan tersebut. Selain itu, perusahaan tersebut tidak punya cukup waktu untuk membangun hubungan jangka panjang dengan sumber keuangan.

Karakteristik pengusaha seperti usia dari pemilik, jenis kelamin, etnis, pendidikan, pengalaman dan kekayaan pribadi juga menentukan aksessibilitas kredit oleh UMKM. Han (2008) menyatakan bahwa karakteristik pengusaha seperti pendidikan, pengalaman usaha, dan kekayaan pribadi memiliki dampak yang kuat pada masalah keuangan yang dihadapi oleh UMKM.

Pemahaman peminjam tentang persyaratan perbankan untuk mendapatkan kredit sangat penting dalam mengakses kredit perbankan. Hal ini akan memastikan penyampaian informasi kepada bank. Kualitas dan kuantitas informasi yang tersedia sangat penting dalam mengakses kredit. Aliran informasi menyiratkan bahwa kedua belah pihak akan memiliki pemahaman yang lebih baik satu sama lain (Ennew dan Binks, 1997). Untuk memastikan aliran informasi yang cukup, maka sangat penting bagi peminjam untuk memahami informasi yang dibutuhkan oleh bank dan pentingnya informasi dalam mengakses kredit perbankan. Japelli dan Pagano (2001) mencatat bahwa informasi kredit yang akurat dapat memiliki daya prediksi yang lebih besar untuk kinerja perusahaan dari data dalam laporan keuangan yang ada.

Berdasarkan tinjauan teoritis dan penelitian-penelitian empiris sebelumnya, maka akses pada kredit merupakan fungsi dari karakteristik pengusaha, karakteristik usaha, aliran informasi, jenis usaha, kekayaan atau aset, agunan. Sehingga persamaan faktor-faktor yang mempengaruhi akses pada kredit dapat ditulis sebagai berikut:

Akses Kredit = f (Xi, Yi, Zi) ...(3.1)

dimana:

Xi = karakteristik pengusaha

Yi = karakteristik usaha

Zi = jenis agunan

Akses pada kredit lebih kepada sisi penawaran dari kredit, sehingga faktor- faktor yang mempengaruhi juga berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi penawaran kredit, namun dalam penelitian ini hanya melihat faktor yang mempengaruhi akses kredit dari sisi IKRT. Partisipasi dalam kredit lebih kepada sisi permintaan kredit, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi untuk meminjam kepada kredit merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kredit.

Sebenarnya studi empiris atau teori yang membedakan faktor-faktor yang mempengaruhi akses dan partisipasi terhadap kredit belum jelas, karena seperti yang telah disebutkan sebelumnya konsep akses dan partisipasi pada kredit tersebut sering saling dipertukarkan. Namun, beberapa studi menunjukkan

beberapa faktor penentu partisipasi pada kredit (Atieno, 2001; Okurut et al., 2004) menyatakan bahwa partisipasi kredit bisa dimodelkan menggunakan karakteristik sosial ekonomi rumahtangga dan perusahaan. Karakteristik utama dari perusahaan menentukan partisipasi dalam pasar kredit dan menentukan segmen pasar kredit yang digunakan. Karakteristik perusahaan tersebut meliputi: pekerjaan utama, ukuran rumah tangga, jumlah tenaga kerja, jenis kelamin pemilik, pendapatan usaha, pendapatan, usia perusahaan, dan aset yang dimiliki. Collin, et al.(2013) juga menyatakan bahwa belanja riil, kekayaan kotor, tingkat pendidikan, kekayaan rumahtangga, dan keaktifan dalam suatu organisasi menentukan partisipasi seseorang dalam meminjam kredit. Oriakhi dan Onemolease (2012) menyatakan bahwa faktor demografi sangat menentukan partisipasi seseorang untuk ikut dalam suatu program atau kegiatan, yaitu ukuran rumahtangga, keanggotaan seseorang dalam suatu asosiasi atau organisasi. Secara umum tingkat partisipasi seseorang terhadap suatu program dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi adalah karakteristik individu seperti umur, tingkat pendidikan, jumlah beban keluarga, pendapatan, dan pengalaman dalam berkelompok. Pendidikan seseorang dapat memperoleh berbagai ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi diri dan kehidupannya maupun dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Pendidikan dapat mempengaruhi cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak seseorang. Faktor eksternal meliputi hubungan yang terjalin antara seseorang dengan program tersebut. Dengan demikian, fungsi partisipasi dalam kredit dapat dirumuskan, sebagai berikut:

PARTK = f (UMUR, TPD, JTKG, TPEND, ASET, ORGS, PELT)...(3.2) dimana:

PARTK = partisipasi dalam kredit UMUR = umur pemilik IKRT TPEND = pendidikan pemilik IKRT JTKG = ukuran keluarga

TPEND = pendapatan IKRT

ORGS = keikutsertaan pemilik IKRT dalam organisasi PELT = keikutsertaan pemilik IKRT dalam pelatihan

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi partisipasi tidak jauh berbeda dengan faktor-faktor yang mempengaruhi akses terhadap kredit. Zeller (1994) menyatakan pemilihan seseorang terhadap sumber kredit tertentu tergantung kepada sejauh mana sumber kredit tersebut memiliki kesesuaian dengan karakteristik personal dan ekonominya. Lebih lanjut, keputusan individu untuk memilih berpartisipasi untuk meminjam atau tidak tergantung kepada tingkat permintaan individu tersebut terhadap kredit.