II. TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Metode-Metode Pengukuran Dampak Kredit
Dampak kredit dapat dinilai dari dua sudut yang saling terkait yaitu siapa yang dijangkau oleh kredit dan bagaimana kredit mempengaruhi kesejahteraan individu dan rumahtangga. Semua evaluasi dampak berupaya untuk menjawab pertanyaan yang sama tentang bagaimana kehidupan peserta program berbeda dari kondisi apabila program tersebut tidak diimplementasikan. Mengukur suatu dampak bermanfaat untuk membantu meningkatkan kegiatan usaha, mendapatkan jawaban yang tepat kepada praktisi, donor, investor, dan pembuat kebijakan. Dengan informasi penting tentang jenis layanan yang efektif, membantu untuk merancang program yang baik dan mengalokasikan sumberdaya yang lebih baik (Karlan dan Goldberg, 2008).
Selanjutnya Karlan dan Goldberg (2008) menyatakan bahwa evaluasi dampak tidak hanya mengukur tentang apakah suatu program yang diberikan berpengaruh positif pada peserta. Evaluasi dampak yang baik akan berbicara tentang masa depan dan tidak hanya tentang masa lalu. Beberapa komponen pertanyaan penting yang dibahas dalam evaluasi dampak suatu program adalah (1) bagaimana arus kas dalam rumahtangga atau perusahaan berubah, (2) apakah lebih banyak uang diinvestasikan dalam barang-barang investasi tahan lama, modal kerja, konsumsi, barang-barang rumahtangga, kesehatan atau pada keadaan darurat lainnya, (3) jika uang diinvestasikan dalam perusahaan bagaimana keuntungannya, (4) jika ada peningkatan laba perusahaan bagaimana tambahan keuntungan terakhir dapat dibelanjakan, (5) apakah dana diinvestasikan kembali, atau meningkatkan konsumsi dalam keluarga, dan (6) jika uang dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan apakah harus menjual aset produktif.
Evaluasi dampak dapat juga digunakan pada outcome non ekonomi seperti pemberdayaan perempuan. Penelitian kualitatif sangat membantu untuk
memahami konteks lokal dalam rangka menyusun langkah yang tepat dari hasil. Dalam beberapa kasus, proxy dapat mengurangi ambiguitas yang melekat dalam langkah-langkah kualitatif. Analisis dampak dapat digunakan untuk mengukur perubahan dalam penggunaan layanan kesehatan, gizi, penyakit dan pendidikan. Ada dua saluran potensial untuk mengamati perubahan dalam outcome kesehatan dan pendidikan, yaitu pertama dana pinjaman dapat digunakan secara langsung untuk kesehatan, gizi atau pengeluaran pendidikan. Kedua, dana dapat diinves- tasikan dalam perusahaan yang menyebabkan pendapatan perusahaan lebih tinggi dan kemudian pengeluaran yang tinggi untuk kesehatan, gizi atau pendidikan.
Ada beberapa pilihan metodologi untuk melakukan penilaian mengenai dampak kredit, yang dapat dikelompokkan secara umum ke dalam dua paradigma yang berbeda, yaitu metode ilmiah dan tradisi humaniora (Hulme 2000). Metode ilmiah melalui eksperimen berusaha untuk memastikan bahwa hasil dapat langsung dihubungkan dengan input. Sebagian ilmuwan sosial telah bergantung pada metode kelompok kontrol, yang melakukan perbandingan antara kelompok perlakuan dan kelompok yang identik yang tidak menerima perlakuan. Metode ini memungkinkan untuk mengestimasi dampak program dengan kuat dan kesimpulan yang lebih kuat dari kausalitas. Tradisi humaniora berusaha untuk menafsirkan proses yang terlibat dan mengeksplorasi berbagai dampak yang masuk akal terutama dengan menggunakan data kualitatif. Kekuatan pendekatan humaniora terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan laporan menyeluruh, menggambarkan dan memeriksa proses itu sendiri dan tidak hanya hasil saja. Pendekatan kemanusiaan meskipun dikritik karena kurangnya ketelitian dan subjektivitas yang berlebihan dapat memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam mengenai dinamika partisipasi terhadap program (Hulme 2000). Metode ilmiah dengan kuantifikasi sering dianggap lebih kuat dibandingkan dengan pendekatan humaniora, namun ada masalah potensial yang melekat dalam metode ilmiah yaitu bias seleksi.
Sumber utama bias seleksi dalam penilaian dampak adalah seleksi diri dari kredit. Bias seleksi diri dapat terjadi jika anggota kelompok perlakuan memiliki atribut yang tidak teramati yang membuat hasil dari program ini sulit atau tidak mungkin untuk mengeneralisasi ke populasi yang lebih luas dari calon peserta.
Sumber kedua dari bias seleksi adalah penempatan program non-acak. Banyak program didirikan di lokasi yang nyaman di mana ada saling melengkapi infrastruktur atau aktivitas program sebelumnya (Pitt dan Khandker, 1997).
Metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi bias seleksi adalah dengan penggunaan kelompok kontrol. Kelompok kontrol sering secara acak diambil dari anggota lain dalam masyarakat yang berhak untuk berpartisipasi dalam kredit atau tabungan program. Untuk mengontrol lebih ketat atas perbedaan sistematis potensial dalam atribut yang tidak teramati, banyak penelitian menggunakan kelompok kontrol yang telah diterima dalam program kredit tetapi yang belum menerima jasa keuangan mikro. Metode ini mengasumsikan bahwa semua peserta yaitu mereka yang tidak menerima perlakuan serta pada kelompok perlakuan memiliki karakteristik yang sama atau mirip dengan yang tidak teramati (Hulme, 2000).
Teknik ekonometrik yang komplek sering digunakan dalam kombinasi dengan menggunakan kelompok kontrol untuk mengontrol bias seleksi. Analisis regresi dasar memungkinkan untuk pengukuran langsung dampak program pada serangkaian variabel hasil tertentu, sementara mengendalikan (mengamati) individu atau karakteristik rumahtangga yang juga mungkin mempengaruhi variabel hasil. Namun, pendekatan ini tidak dapat mengontrol karakteristik yang tidak teramati yang dapat menyebabkan bias seleksi.
Ada tiga teknik ekonometrik dalam menanggapi masalah bias seleksi (Hulme, 2000). Metode pertama mengasumsikan distribusi kesalahan dianggap normal dari variabel hasil tanpa perlakuan. Efek perlakuan ini kemudian ditentukan dengan mengukur penyimpangan dari normalitas hasil dalam kelompok perlakuan. Metode kedua untuk mengendalikan bias seleksi adalah dengan menggunakan instrumen variabel. Instrumen mengidentifikasi harus menjadi penentu bergabung dengan kredit program, tapi bukan penentu variabel hasil, seperti pendapatan rumahtangga atau tingkat pengeluaran. Instrumen tersebut sangat sulit ditemukan.
Metode ketiga dengan penggunaan data panel, sering dianggap cara terbaik untuk mengendalikan bias seleksi, namun data panel sulit dan mahal dilakukan, sehingga hanya beberapa studi yang mampu menggunakan metode ini. Beberapa
penelitian yang menggunakan seleksi bias cukup banyak. Zaman (2000) menggunakan prosedur dua langkah Heckman ketika memeriksa dampak BRAC untuk mengendalikan bias seleksi. Zaman bergantung pada satu set data cross- sectional besar yang terdiri dari 1.072 orang, termasuk 547 anggota BRAC dan 525 kelompok kontrol yang memenuhi syarat non anggota di sepuluh desa dimana BRAC beroperasi. Tahap pertama adalah dengan membentuk model persamaan partisipasi yang mencoba untuk menangkap karakteristik individu, rumahtangga dan desa yang mempengaruhi probabilitas partisipasi dalam program. Dari koefisien persamaan partisipasi, perkiraan probabilitas partisipasi diperoleh. Perkiraan ini kemudian digunakan untuk membangun jangka selektivitas yang dikenal sebagai Mills ratio. Tahap kedua melibatkan penambahan Mills ratio untuk persamaan konsumsi dan mengestimasinya dengan menggunakan OLS. Jika koefisien dari selektivitas adalah nyata, maka proses seleksi ada bias partisipasi. Jika koefisien dari istilah selektivitas tidak nyata, perkiraan OLS dapat digunakan untuk model.
Simtowe (2006) dalam menganalisis dampak akses kredit pada adopsi jagung hibrida menggunakan model switching regression pada suatu model double hurdle. Rumahtangga dibagi menjadi rumahtangga terkendala kredit dan tidak terkendala kredit. Pitt dan Khandker (1997) memperkirakan dampak dari partisipasi gender dalam tiga kelompok program berbasis kredit dengan menggunakan desain survei quasi-experimental untuk mengidentifikasi pengaruh program kredit dengan kerangka maximum likelihood. Desain survei meliputi satu kelompok rumahtangga yang memiliki pilihan untuk masuk program kredit dan yang dapat mengubah perilakunya dalam menanggapi program, dan kelompok kontrol yang tidak diberikan pilihan memasuki program tetapi yang perilakunya masih diukur. Pitt dan Khandker kemudian memperkirakan reduced form persamaan kredit yang dipilah berdasarkan gender, untuk mengidentifikasi dampak kredit spesifik gender. Coleman (1999) mengatasi masalah seleksi diri dan penempatan program endogen dengan menggunakan data dari quasi- experiment yang dilakukan di timur laut Thailand pada tahun 1995-1996. Rumahtangga dibedakan menjadi rumahtangga anggota dan bukan anggota di 14 desa yang disurvei empat kali selama setahun.
Penelitian-penelitian tentang kredit di Indonesia pada umumnya menggunakan model persamaan simultan seperti yang dilakukan oleh Kuntjoro (1983), Rachmina (1994), Syukur (2001), Azriani (2008), Asih (2008), dan Nuswantara (2012). Penelitian-penelitian tersebut hanya menggunakan pengusaha atau rumahtangga yang memperoleh kredit saja sebagai sampel dari penelitian. Nuryartono (2005) sudah memperhitungkan bias seleksi dan endogeneity dengan menggunakan prosedur dua langkah Heckman dan model Switching Regression yang juga berlandaskan prosedur dua langkah Heckman. Sedangkan, penelitian ini menggunakan metode two stage mengikuti langkah Heckman model untuk mengetahui pengaruh partisipasi pada berbagai sumber pembiayaan terhadap kinerja usaha dan kesejahteraan rumahtangga pengusaha IKRT.