II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta Upaya-upaya
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan salah satu kekuatan pendorong terdepan dalam pembangunan ekonomi. Hal ini didasari oleh kondisi yang menunjukkan bahwa UMKM merupakan sektor usaha yang fleksibel dan dapat dengan mudah beradaptasi dengan pasang surut dan arah permintaan pasar. UMKM menciptakan lapangan pekerjaan lebih cepat dibandingkan sektor usaha lainnya, memiliki diversifikasi usaha, serta memberikan kontribusi penting dalam ekspor dan perdagangan nasional.
Konsep UMKM itu sendiri berbeda-beda antar negara, dan di Indonesia sendiri konsep UMKM juga berbeda-beda. Pada umumnya UMKM dibedakan berdasarkan nilai aset atau kekayaan yang dimiliki, jumlah tenaga kerja yang digunakan, dan penjualan per tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM berdasarkan kuantitas tenaga kerja. Menurut BPS, usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 sampai dengan 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitas usaha yang memiliki tenaga kerja 20 sampai dengan 99 orang.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 menyatakan bahwa Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memiliki asset paling banyak sebesar Rp 50 juta dan omset tahunan maksimum sebesar Rp 300 juta per tahun. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memiliki aset lebih dari Rp 50 juta sampai Rp 500 juta serta memiliki omset tahunan diatas Rp 300 juta sampai Rp 2.5 milliar. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha
kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp 500 juta sampai Rp 10 milliar dan omset tahunan lebih dari Rp 2.5 miliar sampai Rp 50 milliar.
UMKM sangat erat hubungannya dengan pemilik usahanya, sehingga karakteristik pemilik usaha sangat mempengaruhi keberadaan dan perkembangan dari UMKM. Untuk menjaga kelanjutan dan perkembangan usahanya, pemilik usaha harus memiliki pengetahuan, keterampilan, kualitas dan sikap yang diperlukan untuk mengembangkan usahanya. Sehingga, permasalahan yang paling sering timbul dalam usaha pengembangan UMKM juga terkait dengan karakteristik yang dimiliki oleh pemilik usaha dan UMKM itu sendiri.
Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah: (1) kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar, (2) kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan, (3) kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia, (4) keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran), (5) iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan, dan (6) pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil (Kuncoro, 2003).
Berbagai studi empiris telah banyak mengidentifikasi masalah dan kendala yang dihadapi UMKM. Studi Ibrahim (2008) tentang faktor strategis yang mempengaruhi kinerja industri kecil dan menengah di Borno Nigeria menemukan bahwa usaha kecil dipengaruhi oleh kendala infrastruktur yang tidak memadai seperti pasokan listrik yang kurang, kekurangan bahan baku, kurangnya akses ke lembaga keuangan, kekurangan tenaga kerja dan sumberdaya manusia yang kompeten, pengaruh negatif dari liberalisasi perdagangan sehingga kalah bersaing dengan barang-barang asing yang murah, masalah yang berkaitan dengan kebijakan, insentif, dan lingkungan usaha. Disamping itu, usaha kecil juga dipengaruhi oleh berbagai variabel kebijakan makroekonomi. Berdasarkan hasil studi tersebut, Ibrahim (2008) juga merekomendasikan beberapa implikasi kebijakan, yaitu (1) perbaikan iklim dan lingkungan usaha yang mendukung usaha kecil, seperti perbaikan infrastuktur listrik, air, jalan, dan transportasi, (2) fasilitas
kredit dari bank serta skema pendanaan lain untuk usaha kecil yang harus mencakup pemberian bantuan manajerial untuk meningkatkan manajemen dan kemampuan teknis usaha kecil, (3) pemerintah juga perlu mengambil tindakan konkrit untuk mengekang dumping, penyelundupan dan impor murah produk asing, menyelaraskan pajak, retribusi dan pungutan yang berguna untuk mengembangkan industri usaha kecil.
Kayanula dan Quartey (2000) menambahkan bahwa kendala lain yang dihadapi oleh usaha kecil adalah kurangnya akses kepada teknologi yang tepat, keberadaan hukum, peraturan dan aturan yang menghambat perkembangan sektor UMKM, lemahnya kapasitas kelembagaan dan kurangnya keterampilan manajemen dan pelatihan. Usaha kecil menghadapi berbagai kendala karena kesulitan untuk menyerap biaya tetap yang besar, tidak adanya skala ekonomi, dan biaya per unit yang lebih tinggi. Usaha kecil menghadapi berbagai kendala dalam ketersediaan pasar input dan biaya input. Parker et al., (1995) menyatakan akses terhadap pembiayaan masih menjadi kendala dominan bagi usaha kecil. Usaha kecil memiliki akses yang terbatas ke pasar modal baik lokal maupun internasional, karena persepsi lembaga keuangan selama ini melihat usaha kecil memiliki resiko yang lebih tinggi, hambatan informasi, dan biaya intermediasi yang lebih tinggi. Akibatnya, usaha kecil sering tidak dapat memperoleh pendanaan jangka panjang dalam bentuk utang dan ekuitas. Selain itu, usaha kecil juga menghadapi kendala tenaga kerja yang berkualitas, kesulitan untuk mendapatkan akses teknologi dan informasi yang tepat. Hal ini akan membatasi inovasi dan daya saing usaha kecil. Usaha kecil juga dihadapkan dengan masalah kurangnya keterampilan manajemen wirausaha dan bisnis, kurangnya keterpaduan dan adanya berbagai kepentingan yang membatasi kapasitas usaha kecil untuk mengembangkan usahanya. Daya saing di pasar yang kurang, dan permintaan domestik yang semakin berkurang, menyebabkan produk UMKM kalah bersaing dengan produk impor.
Dengan berbagai kelemahan yang ada, perlu upaya-upaya dan strategi pengembangan UMKM. Kartasasmita (1996) merekomendasikan beberapa strategi untuk menjadikan UMKM sebagai tulang punggung dunia usaha nasional dan perekonomian nasional yang tangguh. Pertama, peningkatan akses kepada
aset produktif terutama modal di samping juga teknologi, manajemen, dan segi- segi lainnya yang penting. Kedua, peningkatan akses pada pasar yang meliputi suatu spektrum kegiatan yang luas, mulai dari pencadangan usaha, sampai pada informasi pasar, bantuan produksi, dan prasarana serta sarana pemasaran. Prasarana perhubungan adalah prasarana ekonomi yang dasar dan akan sangat membantu khususnya bagi usaha kecil di perdesaan. Ketiga, pelatihan kewirausahaan, mengenai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berusaha. Keempat, memperkuat kelembagaan ekonomi seperti pasar. Untuk itu diperlukan intervensi-intervensi yang tepat, yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah yang mendasar dalam suatu ekonomi bebas, tetapi tetap menjamin tercapainya pemerataan sosial (social equity). Kelima, kemitraan usaha yang merupakan jalur yang penting dan strategis bagi pengembangan usaha ekonomi rakyat.
Hafsah (2004) juga menambahkan bahwa usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk pengembangan UMKM, meliputi: (1) penciptaan iklim usaha yang kon- dusif, antara lain dengan mengusahakan ketenteraman dan keamanan berusaha serta penyederhanaan prosedur perijinan usaha, keringanan pajak dan sebagainya, (2) bantuan permodalan dengan memperluas skim kredit khusus dengan syarat- syarat yang tidak memberatkan UMKM untuk membantu peningkatan permo- dalannya, (3) perlindungan usaha jenis-jenis usaha tertentu, terutama jenis usaha tradisional yang merupakan usaha golongan ekonomi lemah, (4) pengembangan kemitraan antara UMKM dengan pengusaha besar di dalam negeri maupun di luar negeri, (5) pelatihan dalam aspek kewiraswastaan, manajemen, administrasi dan pengetahuan serta keterampilannya dalam pengembangan usahanya, (6) memben- tuk lembaga khusus yang bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penumbuhkembangan UMKM dan juga berfungsi untuk mencari solusi dalam rangka mengatasi permasalahan baik internal maupun eksternal yang dihadapi oleh UMKM, (7) memantapkan asosiasi untuk meningkatkan perannya antara lain dalam pengembangan jaringan informasi usaha yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan usaha bagi anggotanya, (8) mengembangkan promosi dalam upaya mempromosikan produk- produk yang dihasilkan, dan (9) mengembangkan kerjasama yang setara antara
pemerintah dengan dunia usaha untuk menginventarisir berbagai isu-isu mutakhir yang terkait dengan perkembangan usaha.
Upaya peningkatan dan pengembangan UMKM dalam perekonomian nasional oleh Bank Indonesia dilakukan dengan mendorong pemberian kredit perbankan kepada UMKM. Pemberian kredit kepada UMKM sebenarnya dapat menguntungkan bagi bank yang bersangkutan. Pertama, tingkat kemacetannya relatif kecil terutama disebabkan oleh tingkat kepatuhan nasabah usaha kecil yang lebih tinggi dibandingkan nasabah usaha besar. Kedua, pemberian kredit kepada UMKM mendorong penyebaran risiko, karena penyaluran kredit kepada usaha kecil dengan nilai nominal kredit yang kecil memungkinkan bank untuk memperbanyak jumlah nasabahnya, sehingga pemberian kredit tidak terkonsentrasi pada satu kelompok atau sektor usaha tertentu. Ketiga, kredit UMKM dengan jumlah nasabah yang relatif lebih banyak akan dapat mendiversifikasi portofolio kredit dan menyebarkan risiko penyaluran kredit. Keempat, suku bunga kredit pada tingkat bunga pasar bagi usaha kecil bukan merupakan masalah utama, sehingga memungkinkan bank-bank memperoleh pendapatan bunga yang memadai. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa ketersediaan dana pada saat yang tepat, dalam jumlah yang tepat, sasaran yang tepat dan dengan prosedur yang sederhana lebih penting dari pada bunga murah maupun subsidi (Subari, 2004).
Lebih jauh Subari (2004) menyatakan bahwa peranan Bank Indonesia dalam upaya pemberdayaan UMKM dilakukan melalui empat pilar kebijakan dan strategi, yaitu kebijakan kredit perbankan, pemberian bantuan teknis kepada UMKM, penelitian mengenai pola pembiayaan kepada UMKM, dan penyediaan sistem informasi usaha kecil dan pemberian bantuan teknis. Program yang pernah dilaksanakan dalam pembentukan lembaga keuangan yang dibentuk dari beberapa bank komersial maupun departemen pemerintah antara lain:
1. Kredit Usaha kecil (KUK) yang dilakukan oleh bank-bank komersial. Target grup untuk KUK sangat luas. Setiap UMKM mengajukan kredit dan dianggap layak selama asetnya tidak melebihi batas program.
2. Kredit Modal Kerja Permanent (KMKP) dan Kredit Investasi Kecil (KIK) yang dimotori oleh Bank Indonesia sebagai upaya bank sentral dalam mendukung UMKM di tahun 1980an.
3. Sistem Unit Desa yang dilaksanakan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mendanai UMKM yang memiliki skala aktivitas lebih kecil daripada yang diberikan oleh KUK. Sistem ini menyediakan kredit (yang tidak disubsidi) dengan tingkat bunga yang tidak lebih tinggi daripada cost of fund.
4. Beberapa kredit dengan nilai lebih kecil dikeluarkan oleh perusahaan pembiayaan mikro (microfinance enterprises). Kredit ini disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.
5. Kredit yang diberikan oleh Departemen Perindustrian, namun jumlahnya sangat terbatas.
Beberapa program yang telah dilakukan ternyata belum memberikan implikasi sesuai dengan harapan. Beberapa permasalahan yang timbul, diantaranya: (1) program pendampingan yang telah dilakukan lebih pada supply side effort, sehingga untuk UMKM yang baru tumbuh, perkenalan dan adaptasi terhadap inovasi terbaru ternyata tidak efektif, (2) strategi pemasaran kurang diperhatikan, dimana produk cenderung tidak melihat selera konsumen, (3) adanya kredit-kredit murah yang dikeluarkan oleh bank, baik bank komersial maupun bank sentral, telah memberikan pelajaran bahwa pemberian bantuan likuiditas untuk KMKP dan KIK ternyata telah menimbulkan praktik moral hazard di kalangan perbankan yang salah satu indikasinya adalah meledaknya kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada saat itu.
Untuk mengoptimalkan pemberian KUK oleh bank-bank kepada usaha kecil, Bank Indonesia bersama dengan perbankan selama ini telah menempuh tiga strategi dasar sebagai berikut: Pertama, penerapan batas minimum pemberian kredit sebesar 20 persen dari keseluruhan kredit bagi semua bank, sesuai dengan ketentuan Paket Kebijakan Januari (Pakjan) 1990 serta penyediaan fasilitas kredit likuiditas untuk membiayai sektor yang menjadi prioritas yaitu pengembangan koperasi, pengadaan pangan dan pemilikan rumah sederhana. Kedua, mengembangkan kelembagaan dengan memperluas jaringan perbankan,
mendorong kerja sama antar bank dalam penyaluran Kredit Usaha kecil (KUK) dan mengembangkan lembaga-lembaga keuangan yang sesuai dengan kebutuhan penduduk berpenghasilan rendah, seperti pendirian Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan BPR Syariah. Ketiga, pemberian bantuan teknis melalui Proyek Pengembangan Usaha kecil (PPUK), Proyek Hubungan Bank dengan Kelompok
Swadaya Masyarakat (PHBK), dan Proyek Kredit Mikro (PKM) (Kuncoro, 2008). Pemerintah juga mengeluarkan program penyaluran Kredit Usaha Rakyat
(KUR). KUR ditetapkan berdasarkan Inpres Nomor 6 tanggal 8 Juni 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM, dan diluncurkan pada tanggal 5 November 2007. Dalam peluncuran KUR dilakukan nota kesepahaman bersama antara Departemen Teknis, Perbankan, dan Perusaha- an Penjaminan. Kebijakan penjaminan kredit ini diharapkan akan dapat memberikan kemudahan akses yang lebih besar bagi para pelaku UMKM dan koperasi yang telah feasible namun belum bankable. KUR didesain untuk mengatasi masalah agunan, yang umumnya menjadi kendala UMKM untuk memperoleh kredit dari bank umum.
Tujuan diluncurkannya KUR adalah (1) untuk mempercepat pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKM, (2) untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi, dan (3) untuk penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja. KUR adalah Kredit Modal Kerja (KMK) dan atau Kredit Investasi (KI) dengan plafon kredit sampai dengan Rp 500 juta yang diberikan kepada Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKM-K) yang memiliki usaha produktif yang akan mendapat penjaminan dari Perusahaan Penjamin. KUR mensyaratkan bahwa agunan pokok kredit adalah proyek yang dibiayai, namun karena agunan tambahan yang dimiliki oleh UMKM-K pada umumnya kurang, maka sebagian dicover dengan program penjaminan. Besarnya coverage penjaminan maksimal 70 persen dari plafond kredit. Sumber dana KUR sepenuhnya berasal dari dana komersial Bank.
Program KUR memang bukan produk satu institusi pemerintah saja. Instansi yang terlibat dalam program KUR adalah Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, Perindustrian, Kementrian KUKM, akibatnya realisasi program KUR sangat bergantung pada
koordinasi antar institusi. Penyaluran KUR menghadapi kendala dengan tidak sinkronnya kebijakan antar institusi. Pengawasan pengusaha bermodal kecil tetap diperlakukan sama seperti investor kelas kakap. Salah satunya penerapan kebijakan baru BI yang mengatur mekanisme penyaluran KUR. Kebijakan yang diberi nama BI Checking itu mewajibkan bank teknis untuk mengecek langsung calon debitur KUR. Proses itu jelas saja membuat proses penyaluran KUR menjadi panjang dan rawan tersendat. Hal penting yang harus diperhatikan adalah proses pendampingan bagi UMKM yang telah diberikan kredit tersebut. Pihak- pihak debitor khususnya bank harus memiliki program pendampingan usaha bagi UMKM tersebut, agar UMKM dapat mengelola kredit yang telah diberikan dengan baik. Proses pendampingan dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah, universitas, dan pihak-pihak lain yang terkait.
Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM selama ini selalu menghadapi kendala. Hal in terjadi karena kebijakan dan skema kredit yang diberlakukan kepada usaha kecil secara top down, tanpa terlebih dahulu memperhatikan karakteristik individu dan usaha dari pelaku usaha kecil serta mengabaikan kebutuhan usaha kecil. Pembiayaan yang berkelanjutan juga perlu menciptakan interaksi antara sektor keuangan dengan aspek lainnya yang sangat dibutuhkan oleh usaha kecil, seperti kemudahan