III. KERANGKA TEORITIS
3.1. Asymmetric Information dan Keseimbangan Pasar Kredit
Asymmetric information adalah situasi di mana pihak yang melakukan transaksi memiliki informasi yang berbeda. Suatu pihak memiliki informasi yang lebih dibandingkan pihak lainnya. Asymmetric information ini terjadi pada pasar kredit, antara pemberi pinjaman dengan peminjam, sehingga keseimbangan pasar kredit tidak sama dengan keseimbangan pada pasar barang.
Stiglitz dan Weis (1981) menyatakan mekanisme keseimbangan pasar kredit tidak sama dengan pasar barang dan jasa pada umumnya, karena adanya informasi yang tidak sempurna. Prinsip dasar ekonomi adalah keseimbangan pasar terjadi jika permintaan sama dengan penawaran. Apabila permintaan melebihi penawaran, harga akan meningkat sehingga terjadi penurunan permintaan dan/atau peningkatan penawaran sampai permintaan dan penawaran kembali sama
pada harga ekuilibrium baru, namun kondisi tersebut tidak terjadi pada pasar kredit karena adanya masalah asymmetric information. Keseimbangan pasar kredit terjadi dengan adanya credit rationing.
Credit rationing terjadi dalam situasi dimana pemberi pinjaman atau bank membatasi kreditnya sehingga permintaan kredit melebihi penawaran kredit pada tingkat kredit yang ditetapkan oleh bank tersebut (Jaffee dan Modigliani, 1969). Stiglitz dan Weis (1981) menyatakan bahwa keseimbangan pasar kredit dengan adanya credit rationing terjadi karena bank memberikan pinjaman tidak hanya memperhatikan tingkat bunga yang dibebankan pada pinjaman, tetapi juga memperhatikan resiko dari pinjaman. Suku bunga mempengaruhi resiko dari pinjaman, dengan memilih peminjam potensial (efek adverse selection) atau dengan mempengaruhi tindakan peminjam (insentive effect). Kedua efek tersebut berasal dari informasi tidak sempurna yang ada di pasar kredit. Hal ini dilakukan karena bank tidak memiliki informasi lengkap tentang peminjam.
Aspek adverse selection dan moral Hazard adalah dua faktor yang menyebabkan adanya credit rationing. Adverse selection terjadi karena pemberi pinjaman atau bank ingin mengidentifikasi peminjam yang paling mungkin untuk membayar pinjamannya karena penerimaan yang diharapkan bank tergantung pada kemungkinan pembayaran. Aspek adverse selection dari tingkat bunga adalah sebuah konsekuensi bahwa setiap peminjam yang berbeda memiliki probabilitas berbeda dalam membayar pinjamannya. Namun, bank kesulitan untuk untuk mengidentifikasi peminjam yang baik, karena adanya immperfect information dan karena itu, bank menggunakan berbagai perangkat skrining. Tingkat bunga yang bersedia dibayar konsumen dapat bertindak sebagai salah satu perangkat skrining. Peminjam yang bersedia membayar tingkat bunga yang tinggi, rata-rata memiliki risiko yang lebih buruk, karena peminjam yang bersedia untuk meminjam pada suku bunga tinggi memiliki kemungkinan untuk membayar pinjaman yang rendah. Tingkat bunga meningkat, maka tingkat resiko dari yang meminjam meningkat yang akan menurunkan keuntungan bank (Stiglitz dan Weis, 1981).
Apabila informasi sempuna, maka bank akan dapat menetapkan dengan tepat semua tindakannya terhadap peminjam (yang mungkin mempengaruhi
penerimaan dari kredit). Adanya asymmetric information menyebabkan bank tidak dapat secara langsung mengontrol semua tindakan peminjam, karena itu bank akan merumuskan ketentuan dari kontrak untuk mendorong peminjam agar mengambil tindakan yang sesuai dengan kepentingan bank, serta menarik peminjam berisiko rendah.
Gambar 1 menunjukkan mekanisme terjadinya credit rationing yang dapat dilihat dari hubungan antara penerimaan (return) yang diharapkan bank pada kredit dan tingkat bunga yang ditentukan. Penerimaan yang diharapkan bank meningkat lebih lambat dari tingkat bunga, dan akan menurun setelah titik R*. Hal ini terjadi karena peningkatan tingkat bunga tidak secara proporsional meningkatkan penerimaan bank karena peningkatan tingkat bunga akan meningkatkan kemungkinan kegagalan dalam pengembalian kredit. Bank tidak akan mengenakan tingkat bunga diatas R*, karena penerimaan akan menurun jika bank melakukan hal tersebut, sehingga pada titik R* merupakan penerimaan yang diharapkan bank yang maksimal. Tingkat bunga yang diharapkan terhadap penerimaan bank yang dimaksimalkan disebut sebagai tingkat bunga optimal dari bank, R*.
Sumber: Stiglitz dan Weiss, 1981
Gambar 1. Hubungan antara Tingkat Bunga dengan Return yang Diharapkan Bank
Penerimaan yang diharapkan bank dapat menunjukan sebagai penawaran kredit yang bersedia diberikan oleh bank. Penjelasan selanjutnya tentang interaksi antara permintaan dan penawaran kredit dalam pasar kredit dengan adanya credit rationing dapat dilihat pada Gambar 2. LS1 merupakan penawaran kredit oleh
bank yang diturunkan dari kurva penerimaan yang diharapkan bank pada Gambar Return yang
diharapkan Bank
1, sedangkan LD1 merupakan permintaan terhadap kredit. Kurva penawaran kredit
oleh bank akan berbentuk Backward Bending, karena setelah tingkat bunga R*, penawaran kredit akan berkurang. Interaksi antara penawaran kredit (LS1) dan
permintaan kredit (LD1) menyebabkan kondisi keseimbangan dengan tingkat
bunga nominal R1. Jika permintaan kredit meningkat menjadi LD2, maka akan
menyebabkan suatu kondisi dimana kurva permintaan dan penawaran tidak berpotongan, karena penawaran dari kredit akan menurun setelah titik R*. Pada kondisi ini, suatu keseimbangan dari pasar kredit dengan adanya credit rationing terjadi dengan tingkat bunga R* dan keuntungan bank adalah 0 (Freixas dan Rochet ,1997).
Sumber: Freixas dan Rochet ,1997
Gambar 2. Keseimbangan Kredit dengan Adanya Credit Rationing
Interaksi antara penawaran dan permintaan kredit juga dapat dijelaskan oleh Gambar 3. Interaksi antara penawaran dan permintaan kredit merupakan hubungan antara jumlah kredit (L) dengan tingkat bunga kredit (R). Seperti yang telah dijelaskan diatas, kurva penawaran bank merupakan Backward Bending. Penawaran kredit akan meningkat dengan meningkatnya tingkat bunga sampai pada titik tertentu (R*), namun setelah titik tersebut penawaran bank akan menurun. Pada tingkat bunga RM, penawaran kredit (SL) sama dengan permintaan
kredit DLo, yaitu sebesar LM . Apabila permintaan kredit meningkat menjadi DL1,
maka bank hanya memberikan penawaran maksimal sampai tingkat bunga R*, karena adanya masalah adverse selection dan moral hazard. Pada kelebihan permintaan kredit, tidak menguntungkan bagi bank untuk meningkatkan tingkat bunga. Sehingga, keseimbangan kredit terjadi pada titik R* dengan dicirikan oleh Jumlah kredit Equilibrium Excess Demand LD2 LS LD1 R* R 1 Tingkat bunga (R)
permintaan kredit yang melebihi penawaran kredit. Bank akan membatasi jumlah kredit yang diberikannya pada tingkat bunga R*, dan akan menolak peminjam yang secara observable beresiko. Peminjam yang ditolak akan menghadapi keterbatasan kredit dan keterbatasan akses terhadap kredit.
Gambar 3. Interaksi antara Permintaan dan Penawaran pada Pasar Kredit
Kontrak pinjaman tidak hanya ditentukan oleh tingkat bunga, tapi juga oleh faktor non harga seperti collateral. Jumlah kredit dan jumlah collateral atau ekuitas dari pemohon kredit juga mempengaruhi perilaku dari peminjam dan distribusi peminjam. Stiglitz dan Weis (1981) menunjukkan bahwa peningkatan persyaratan collateral dari pemberi pinjaman dapat mengurangi penerimaan bank, karena menarik peminjam untuk melaksanakan proyek-proyek berisiko. Menaikkan suku bunga atau persyaratan collateral ketika bank memiliki kelebihan permintaan kredit tidak akan menguntungkan bagi bank, melainkan bank akan menolak pinjaman dengan membatasi penawaran kredit yang diberikan.
Pasar kredit yang tidak sempurna juga akan menyebabkan pemberi pinjaman menghadapi masalah dalam pengelolaan resiko kegagalan pinjaman (loan default). Pemberi pinjaman akan mencari jaminan dan cara-cara agar tidak terjadi kegagalan dalam pinjaman serta menetapkan persyaratan tertentu. Persyaratan pemberian kredit secara umum dinyatakan dalam prinsip 6 C untuk mengetahui kelayakan calon peminjam dalam mendapatkan kredit (credit-
Tingkat bunga RM R* DLo SL L LM DL1 Equilibrium Excess Demand A* L* L1 Excess Demand
worthiness) (Rose, 1999) dalam Syukur (2001) yaitu: (1) character, menunjukkan karakter calon peminjam apakah mempunyai tanggung jawab, kejujuran, kesungguhan dalam mencapai tujuan, dan kesungguhan untuk mengembalikan kredit yang diterima, (2) capacity, menunjukkan persyaratan yang wajib dimiliki oleh kegiatan usaha calon peminjam yang akan diberi kredit. Dilakukan dengan melihat data historis usaha, legalitas, kepemilikan usaha, sifat kegiatan usaha dan produk, konsumen dan pemasok, (3) cash, menunjukkan kemampuan calon peminjam untuk menghasilkan uang tunai dari hasil usahanya. Aspek yang dilihat adalah laporan dan proyeksi arus tunai usaha, ketersediaan aktiva yang likuid, perputaran usaha, dan kualitas manajemen usaha, (4) collateral, menunjukkan bagian modal calon peminjam yang wajib dijadikan sebagai agunan. Agunan dilihat dari aspek kepemilikan, kerentanan terhadap keusangan, tingkat kegunaan, hak gadai, tingkat penguasaan atau pengambilalihan, (5) condition, merupakan persyaratan kelayakan usaha dilihat dari industri atau usaha, kinerja usaha sejenis, permintaan pasar, regulasi, lingkungan usaha dan kondisi politik yang mungkin berpengaruh terhadap peminjam, usaha atau industri tersebut, dan (6) control, merupakan kemampuan dalam hal pengawasan terhadap calon peminjam sehingga tidak menimbulkan kejadian yang mempunyai efek merugikan.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, informasi merupakan faktor penting untuk keputusan kredit dan salah satu tantangan bagi pemberi pinjaman untuk mengetahui risiko peminjam kredit, sementara peminjam memiliki informasi yang lebih dari pemberi pinjaman tentang usahanya. Bank tidak tertarik dalam menawarkan kredit kepada usaha kecil karena sangat sulit untuk mengatasi masalah asymmetric information dan skrining, monitoring, dan penegakan hukum. Dalam kondisi asymmetric information bank tidak yakin tentang perilaku masa depan peminjam dalam membayar kembali pinjaman. Masalah asymmetric information lebih mungkin terjadi ketika bank berurusan dengan usaha kecil dibandingkan dengan usaha besar (Beck et al, 2004; Cole, 2004). Bank sulit untuk memastikan jika perusahaan memiliki kapasitas untuk membayar (memiliki usaha yang layak) dan/atau kesediaan untuk membayar (karena moral hazard). Asymmetric information antara peminjam usaha kecil dan bank tercermin dalam ketidakmampuan mayoritas usaha kecil untuk memberikan informasi keuangan
yang up to date dan rencana bisnis yang realistis, sehingga akan meningkatkan biaya pinjaman yang dikenakan bank saat berhadapan dengan usaha kecil, akibatnya akan membatasi kemampuan bank untuk menilai kelayakan kredit dari usaha kecil.