IV. METODE PENELITIAN
4.4. Analisis Data
4.4.2. Analisis Pengaruh Partisipasi Industri Kecil dan
Kesejahteraan Rumahtangga Pengusaha
Aksessibilitas dan partisipasi pada berbagai sumber pembiayaan memungkinkan pengusaha memiliki perilaku yang berbeda dalam memanfaatkan kredit yang diperoleh. Membandingkan pengaruh dari beberapa sumber pembiayaan dirasakan penting guna melihat sumber pembiayaan mana yang lebih cocok diberikan kepada pengusaha IKRT atau skim kredit/kontrak kredit seperti apa yang cocok untuk IKRT, atau apakah semua sumber pembiayaan memberikan efektifitas yang sama pada IKRT. Pada penelitian ini sumber pembiayaan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu sumber pembiayaan formal yang diwakili oleh sumber pembiayaan bank, sumber pembiayaan semiformal yang diwakili oleh kredit PKBL, dan sumber pembiayaan informal diwakili pedagang grosir atau suplier.
Analisis untuk membandingkan dampak dari sumber pembiayaan ini dilakukan dengan metode dua tahap (two stage) mengikuti model Heckman untuk menghindari endogeneity. Tahapan pertama yaitu dengan mencari nilai dugaan dari peluang meminjam atau partisipasi pada sumber pembiayaan yang ada dengan menggunakan multinomial logit. Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi pengusaha IKRT meminjam ke suatu sumber pembiayaan tertentu dapat dibagi menjadi beberapa persamaan:
P2 = bo + ∑ biXi + Ei...(4.6)
P3 = bo + ∑ biXi + Ei...(4.7)
Seperti halnya dengan model logit, kita mencari nilai log odd dari model terlebih dahulu, dengan persamaan:
Log P1/P4= bo + ∑ biXi + Ei = Z1...(4.8)
Log P2/P4= bo + ∑ biXi + Ei = Z2...(4.9)
Log P3/P4 = bo + ∑ biXi + Ei = Z3...(4.10)
Untuk mendapatkan nilai prediksi atau praduga ketiga probability sumber pembiayaan tersebut, maka persamaannya menjadi:
�1 =
exp�1
1+exp�1+exp�2+exp�3
...(4.11) �2 =
exp�2
1+exp�1+exp�2+exp�3 ...(4.12) �3 =
exp�3
1+exp�1+exp�2+exp�3
...(4.13) dimana:
Pi = kategori probability sumber pembiayaan yang dimanfaatkan, untuk
IKRT non pangan: P1 = kredit bank, P2 = kredit PKBL, P3 =
pembiayaan informal, P4 = kategori dasar, modal sendiri. Untuk IKRT
pangan: P1 = kredit bank, P2 = kredit PKBL, P3 = kategori dasar.
Xi = karakteristik pengusaha, yaitu: lama pendidikan pengusaha, karak-
teristik rumahtangga yaitu jumlah anggota keluarga, karakteristik usaha yaitu pengalaman usaha, dummy posisi pemilik, dummy organisasi, dummy pelatihan, dummy aset, dan dummy omset.
Setelah didapatkan parameter dugaan dari peluang meminjam ke sumber pembiayaan tertentu, kemudian praduga peluang meminjam ke berbagai sumber pembiayaan tersebut dimasukkan sebagai variabel eksogen pada masing-masing persamaan kinerja usaha dan pengeluaran rumahtangga IKRT yang dikelompokkan kepada IKRT non pangan dan IKRT pangan, dengan persamaan- persamaan sebagai berikut:
4.4.2.1. Kinerja Usaha dan Pengeluaran IKRT Non Pangan 4.4.2.1.1. Nilai Aset Tetap
Investasi aset tetap diproksi dengan nilai aset tetap produksi yang dimiliki oleh pengusaha IKRT non pangan. Aset tetap produksi merupakan kekayaan yang
dimiliki oleh usaha IKRT. Aset tetap pada usaha tas dan alas kaki pada umumnya sama, yaitu terdiri dari mesin jahit besar dan kecil, mesin kompresor, persediaan, dan peralatan seperti gunting, kayu cetak. Aset tetap yang dimiliki diduga dipengaruhi oleh pendapatan rumahtangga pengusaha, pengalaman usaha, dummy jenis usaha, dummy aset, praduga kredit bank, praduga kredit PKBL, dan praduga pembiayaan informal. Persamaan aset tetap sebagai berikut:
FISET = c0 + c1TPEND + c2PU + c3JU + c4 DASET + c5P1 + c6P2 + c7P3 +
U1...(4.14)
Tanda parameter yang diharapkan: c1, c2, c4, c5, c6, c7 > 0 ; 0 < c3 < 1
dimana:
FISET = nilai aset (Rp)
TPEND = pendapatan total rumahtangga pengusaha (Rp/thn) PU = pengalaman usaha (thn)
TPD = lama pendidikan (thn)
JU = dummy jenis usaha, D=1 jika usaha tas, D= 0 jika usaha alas kaki DASET = dummy aset, D = 1 jika pengusaha memilik aset > Rp 50 juta,
D = 0 jika pengusaha memiliki aset ≤ Rp 50 juta
P1 = praduga sumber pembiayaan bank
P2 = praduga sumber pembiayaan PKBL
P3 = praduga sumber pembiayaan informal
4.4.2.1.2. Penggunaan Tenaga Kerja
Penggunaan tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja total yang digunakan untuk kegiatan produksi IKRT non pangan. Penggunaan tenaga kerja dapat menunjukkan skala usaha pengusaha IKRT non pangan dan kemampuannya memberikan manfaat kepada masyarakat sekitarnya karena dapat menyerap tenaga kerja. Peningkatan modal pengusaha akan dapat meningkatkan kemampuan IKRT menggunakan lebih banyak tenaga kerja. Penggunaan tenaga kerja dapat dikatakan sebagai permintaan terhadap input tenaga kerja. Sehingga, penggunaan tenaga kerja pengusaha IKRT non pangan diduga dipengaruhi oleh pendapatan total rumahtangga pengusaha, pendidikan pengusaha, jumlah anggota keluarga, dummy jenis usaha, dummy posisi pemilik, dummy aset, praduga kredit
bank, praduga kredit PKBL, dan praduga pembiayaan informal. Persamaan penggunaan tenaga kerja adalah sebagai berikut:
JTK = d0 + d1TPEND + d2TPD + d3JTKG + d4JU + d5POS + d6DASET
+ d7 P1 + d8 P2 + d9 P3 + U2...(4.15)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan : d1, d2, d3, d6, d7, d8, d9 > 0 ; 0 < d4, d5 < 1
dimana:
JTK = jumlah total tenaga kerja yang digunakan (org) JTKG = ukuran keluarga (org)
POS = dummy posisi pemilik, D=1 jika pemilik sebagai pengelola, D=0 jika pemilik ikut bekerja
4.4.2.1.3. Penggunaan Bahan Baku
Peningkatan akses pada sumber pembiayaan akan meningkatkan modal dari pengusaha, sehingga likuiditasnya meningkat. Pengusaha dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan usahanya dengan meningkatkan penggunaan bahan baku, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi. Penggunaan bahan baku diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga pengusaha, harga output, pengalaman usaha, dummy aset, praduga kredit bank, praduga kredit PKBL, dan praduga pembiayaan informal. Persamaan penggunaan bahan baku sebagai berikut:
BBB = e0 + e1TPEND + e2 HPROD + e3 PU + e4 DASET + e5 P1+ e6 P2
+ e7 P3 + U3...(4.16)
Tanda parameter yang diharapkan: e1, e2, e3, e4, e5, e6, e7 > 0
dimana:
BBB = penggunaan bahan baku (Rp/thn) HPROD = harga output (Rp/unit)
4.4.2.1.4. Biaya Produksi
Biaya produksi menunjukkan besarnya modal kerja yang dimiliki oleh pengusaha. Peningkatan aksessibilitas dan partisipasi pada sumber pembiayaan akan meningkatkan modal kerja pengusaha, sehingga pengusaha memiliki
kemampuan untuk memenuhi keperluan biaya produksinya. Modal kerja atau biaya produksi IKRT non pangan diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga pengusaha, produksi total, pengalaman usaha, dummy jenis usaha, dummy aset, praduga kredit bank, praduga kredit PKBL, dan praduga pembiayaan informal. Persamaan modal kerja atau biaya produksi sebagai berikut:
BPROD = f0 + f1TPEND + f2 QTOT + f3PU + f4JU + f5DASET+ f6 P1 +
f7P2 + f8P3 + U4... (4.17)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan : f1, f2, f3, f5, f6, f7, f8> 0 ; 0 < f4 < 1
dimana:
BPROD = biaya produksi (Rp/thn) QTOT = jumlah produksi (unit)
4.4.2.1.5. Nilai Produksi
Nilai produksi merupakan produksi yang dihasilkan dalam satuan rupiah per tahun. Peningkatan penggunaan bahan baku karena penambahan modal akan meningkatkan produksi, sehingga produksi diduga merupakan fungsi dari total pendapatan rumahtangga pengusaha, lama pendidikan, jumlah anggota keluarga, pengalaman usaha, penggunaan bahan baku, dummy jenis usaha, dummy aset, praduga kredit bank, praduga kredit PKBL, dan praduga pembiayaan informal. Persamaan produksi sebagai berikut:
OMSET = g0 + g1TPEND + g2TPD + g3PU + g4BBB + g5JU + g6DASET
+ g7P1 + g8P2+ g9P3+ U5...(4.18)
Tanda parameter yang diharapkan:
g1, g2, g3, g4, g6, g7, g8, g9 > 0 ; 0 < g5 < 1
dimana:
OMSET = nilai produksi (Rp/thn)
4.4.2.1.6. Pengeluaran Rumahtangga Pengusaha
Tingkat kesejahteraan rumahtangga pengusaha dapat ditunjukkan oleh pengeluaran untuk konsumsi total rumahtangga pengusaha. Pengeluaran untuk konsumsi total meliputi pengeluaran untuk kebutukan pangan, kebutuhan non pangan, investasi pendidikan dan kesehatan. Peningkatan likuiditas pengusaha
akan meningkatkan pengeluaran total pengusaha, sehingga dapat dikatakan kesejahteraan pengusaha juga meningkat. Pengeluaran total rumahtangga pengusaha diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga pengusaha, jumlah anggota keluarga, pengeluaran pokok, dummy aset, praduga kredit bank, praduga kredit PKBL, dan praduga pembiayaan informal. Hubungan tersebut dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
EXP = ho + h1TPEND + h2 JTKG + h3KPOK + h4DASET + h5P1+
h6 P2 + h7P3+ U6...(4.19)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan: h1, h2, h3, h4, h5, h6, h7 > 0
dimana:
EXP = pengeluaran total rumahtangga pengusaha (Rp/thn) KPOK = pengeluaran kebutuhan pokok (Rp/thn)
Untuk mengetahui derajat kepekaan (respon) variabel dependen terhadap variabel-variabel indpenden maka digunakan nilai elastisitas. Rumus untuk menduga nilai elastisitas adalah :
) / ( * ˆ X Y a EXY j ...(4.20) dimana :
EXY = elastisitas peubah endogen Y terhadap peubah penjelas X X = nilai rata-rata peubah penjelas X ke- j
= nilai rata-rata peubah endogen Y
j
aˆ = parameter dugaan peubah penjelas ke-j
Jika EXY lebih besar dari satu berarti peubah endogen Y responsif terhadap
peubah eksogen Xj. Jika EXY lebih kecil dari satu berarti peubah endogen Y tidak
responsif terhadap peubah eksogen Xj.
Teknik estimasi dalam analisis data menggunakan program Statistical Analysis System (SAS) Versi 9.1. dan program STATA versi 11. Program SAS digunakan untuk mengolah model probit, sedangkan program STATA versi 11 digunakan untuk menganalisis model dua tahap (Hekman model).
4.4.2.2. Kegiatan Produksi dan Pengeluaran IKRT Pangan 4.4.2.2.1. Nilai Aset Tetap
Investasi produksi diproksi dengan nilai aset tetap produksi yang dimiliki oleh pengusaha IKRT pangan. Aset produksi pada IKRT pangan terdiri dari mesin giling, krei, drum, cembung dan saringan. Variabel-variabel yang diduga mempengaruhi nilai aset tetap pengusaha IKRT pangan berbeda dengan pengusaha non pangan. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan karakteristik usaha dari IKRT non pangan dengan IKRT pangan. Nilai aset tetap yang dimiliki IKRT diduga dipengaruhi oleh tabungan, pengalaman usaha, praduga kredit bank, dan praduga kredit PKBL. Persamaan aset tetap sebagai berikut:
FISET = i0 + i1TAB + i2PU + i3P1 + i4P2 + U7...(4.21)
Tanda parameter yang diharapkan: i1, i2, i3, i4 > 0
dimana:
FISET = nilai aset (Rp) TAB = tabungan (Rp/thn)
4.4.2.2.2. Penggunaan Tenaga Kerja
Peningkatan modal akan dapat meningkatkan kemampuan IKRT pangan untuk menggunakan tenaga kerja yang lebih banyak. Penggunaan tenaga kerja pengusaha di dalam usaha IKRT pangan diduga dipengaruhi oleh omset usaha atau nilai produksi, jumlah anggota keluarga, dummy aset, praduga kredit bank, dan praduga kredit PKBL. Persamaan penggunaan tenaga kerja adalah sebagai berikut:
JTK = j0 + j1UDP + j2OMSET + j3JTKG + j4DASET + j5P1 + j6P2 +
U8...(4.22)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan : j2, j3, j4, j5, j6 > 0 ; j1 < 0
dimana:
JTK = jumlah total tenaga kerja yang digunakan (org) UDP = upah dalam produksi (Rp/thn)
4.4.2.2.3. Penggunaan Bahan Baku
Penggunaan bahan baku menunjukkan permintaan terhadap penggunaan input bahan baku. Penggunaan bahan baku pada IKRT pangan adalah penggunaan kedelai. Penggunaan bahan baku diduga dipengaruhi oleh pendapatan usaha, harga input, penggunaan bahan tambahan, dummy omset, praduga kredit bank, dan praduga kredit PKBL. Persamaan penggunaan bahan baku pengusaha pangan sebagai berikut:
JBKL = k0 + k1PENDU + k2HINP + k3BBT+ k4DOMSET + k5P1 + k6P2 +
U9...(4.23)
Tanda parameter yang diharapkan: k1, , k3, k4, k5, k6 > 0, k2 < 0
dimana:
JBKL = penggunaan bahan baku (Kg/thn) HINP = harga input per unit (Rp/kg) BBT = penggunaan bahan tambahan (Rp)
4.4.2.2.4. Biaya Produksi
Modal kerja atau biaya produksi IKRT pangan diduga dipengaruhi oleh pendapatan usaha, penggunaan tenaga kerja, jumlah kedelai yang digunakan, pengalaman usaha, dummy posisi pemilik, praduga kredit bank, dan praduga kredit PKBL. Persamaan modal kerja atau biaya produksi pengusaha pangan sebagai berikut:
BPROD = l0 + l1BBB + l2PU + l3P1 + l4P2 + U10... (4.24)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan : l1, l2, l3, l4 > 0
dimana:
BPROD = biaya produksi (Rp/thn)
4.4.2.2.5. Nilai Produksi
Nilai produksi merupakan produksi yang dihasilkan oleh IKRT pangan yang dihubungkan dengan harga outputnya. Peningkatan nilai produksi menunjukkan peningkatan skala usaha dari IKRT pangan. Peningkatan penggunaan bahan baku karena penambahan modal dari sumber pembiayaan akan meningkatkan produksi,
dan selanjutnya akan meningkatkan penjualan atau nilai produksi dari IKRT pangan. Sehingga, nilai produksi diduga merupakan fungsi dari penggunaan bahan baku, penggunaan tenaga kerja, dummy aset, dan praduga probabilitas sumber pembiayaan kredit bank dan PKBL.
Persamaan produksi sebagai berikut:
OMSET = m0 + m1BBB + m2JTK + m3P1 + m4P2 + U11... (4.25)
Tanda parameter yang diharapkan: m1, m2, m3, m4 > 0
dimana:
OMSET = nilai produksi (Rp/thn)
4.4.2.2.6. Pengeluaran Rumahtangga Pengusaha
Tingkat kesejahteraan pengusaha dapat ditunjukkan oleh pengeluaran total rumahtangga pengusaha. Pengeluaran total meliputi semua pengeluaran, baik kebutukan pangan, kebutuhan non pangan, investasi pendidikan dan kesehatan. Peningkatan likuiditas pengusaha akan meningkatkan pengeluaran total rumahtangga pengusaha, sehingga dapat dikatakan kesejahteraan rumahtangga pengusaha juga meningkat. Pengeluaran total rumahtangga pengusaha IKRT pangan diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga pengusaha, jumlah anggota keluarga, dummy aset, praduga kredit bank, dan praduga kredit PKBL. Hubungan tersebut dituliskan dalam bentuk persamaan sebagai berikut:
EXP = no+ n1TPEND + n2JTKG + n3DASET + n4P1 + n5P2 + U12. (4.26)
Tanda parameter dugaan yang diharapkan: n1, n2, n4, n5 > 0 ; 0 < n3 < 1
dimana:
EXP = pengeluaran rumahtangga untuk konsumsi total (Rp/thn)
4.4.3. Analisis Pengaruh Credit Rationing terhadap Kinerja Usaha dan