• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktor-Aktor Jaringan

Dalam dokumen TESIS OLEH FERIEL AMELIA SEMBIRING (Halaman 86-0)

BAB V KERAMBA JARING APUNG HARANGGAOL

5.2 Aktor-Aktor Jaringan

Dalam setiap aktivitas ataupun kegiatan yang berada berupa siklus ekonomi maka akan ada pengelola dalam sistem tersebut termasuk aktivitas perikanan keramba jaring apung di Haranggaol. Dengan jumlah keramba yang mencapai ribuan unit, menurut informasi dari informan tanpa data resmi, mengharuskan kegiatan dalam berkeramba jaring apung dikelola oleh orang-orang yang memiliki kegunaannya masing-masing.

Keterbatasan manusia dalam mengakses maupun mengelola sumber daya suatu produksi menyebabkan perbedaan dalam mengakses maupun mengelolanya.

Akses yang berbeda terhadap sumber daya bernilai (kekayaan, kekuasaan, informasi) membuat orang-orang yang berkecimpung dalam kegiatan keramba jaring apung saling terhubung satu sama lain sehingga membentuk simpul-simpul jaringan sosial yang secara tidak langsung membawa keuntungan diantara mereka satu sama lain.

Kegiatan keramba jaring apung Haranggaol dikerjakan oleh aktor-aktor yang memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing. Aktor-aktor utama yang

bekerja untuk keramba jaring apung ini antara lain adalah pedagang pengumpul yang berperan juga sebagai pengusaha/pemilik modal dan para petani keramba dan aktor-aktor pembantu dalam hal memelihara termasuk memberi pakan dan memanen ikan yang disebut sebagai pekerja atau anggota.

Pedagang pengumpul adalah petani keramba yang juga memiliki peran sebagai pengusaha dan juga petani pemilik modal yang memberikan bantuan modal kepada para petani yang ingin bergabung menjadi bagian dalam kelompoknya. Bantuan kepada calon petani keramba yang bergabung dengannya berupa pembibitan, produksi hingga memasarkan hasil panen. Dalam hal ini, peneliti mengkategorikan pedagang pengumpul sebagai yang memiliki multi peran. Selain sebagai orang yang membantu memasarkan hasil panen ikan keramba petani keramba baik petani keramba dalam kelompoknya maupun diluar kelompoknya, ia juga adalah petani pemilik modal/pemberi modal dalam kelompoknya. Ia merupakan pengusaha yang memiliki dan mengelola keramba-keramba ikannya.

Petani keramba disini dikelompokkan oleh peneliti menjadi dua yakni petani keramba dengan keramba modal sendiri dan petani dengan modal pemilik pengusaha. Petani keramba adalah supervisor dalam pengelolaan keramba karena mereka menjadi kunci dalam pemenuhan kebutuhan keramba. Dan ada beberapa para pekerja yang disebut sebagai anggota. Anggota bagi mereka adalah para pekerja yang dikerjakan untuk membersihkan keramba, memberi makan ikan dan memanen ikan.

Secara umum petani keramba dan atau pengusaha harus memiliki jaringan yang luas diluar diantara mereka agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan.

Kerugian yang dimaksud adalah terjadinya pencurian pakan maupun ikan. Untuk mengurangi terjadinya kerugian tersebut umumnya petani menjalin kerjasama dengan penjual pakan. Petani akan membeli stok pakan dari mereka dengan sebuah kontrak yang tak tertulis. Kontrak tersebut adalah jika anggota (para pekerja) menjual pakan kepada mereka, mereka wajib memberitahukan kepada petani. Selanjutnya akan menjadi urusan para petani dengan anggota. Hal ini sangat merugikan pihak pengusaha karena ada indikasi bahwa pakan ikan tersebut adalah hasil curian dari pakan milik pengusaha.

Kerjasama lainnya yang harus dijalin oleh petani adalah kepada rumah makan. Mereka adalah orang-orang yang menampung ikan dalam keadaan kurang baik setiap harinya dari petani. Petani akan menjual ikannya dengan harga miring kepada pemilik rumah makan karena keadaan ikan yang kurang baik(mati). Sama seperti penjual pakan hubungan mereka kemudian bersifat simbiosis mutualisme.

Dan jika ada anggota yang menjual ikan yang kurang baik(mati) tersebut tanpa sepengetahuan petani kepada rumah maka pemilik rumah makan tidak akan menerimanya.

Meskipun orang-orang ini tidak begitu penting dalam proses pengelolaan namun petani perlu memperhatikan keberadaan orang-orang tersebut. Sementara itu untuk proses penjualan, para petani (dalam hal ini petani pemilik modal/pengusaha/pedagang pengumpul) umumnya menghantarkan sendiri hasil panennya ke daerah tujuan seperti Rantau Parapat, Kisaran, Siantar Sidikalang, Medan.

5.2.1. Pedagang Pengumpul

Pedagang pengumpul adalah badan atau orang pribadi yang kegiatannya mengumpulkan hasil dari suatu kegiatan/komoditi. Pedagang pengumpul merupakan salah satu peran yang paling penting dalam proses kegiatan/komoditi yang menghasilkan suatu produk demi terlaksananya produk sampai ke tangan konsumen. Hal ini juga tidak terlepas dari kegiatan berkeramba jaring apung di Haranggaol. Pedagang pengumpul di Haranggaol juga sangat dibutuhkan untuk membantu petani keramba dalam memasarkan produk keramba mereka. Pedagang pengumpul keramba jaring apung merupakan petani keramba yang juga berperan sebagai petani keramba pemberi modal atau pengusaha. Pedagang pengumpul ialah petani keramba jaring apung yang sebagai pemilik modal yang memberikan modal kepada para petani didalam kelompoknya ataupun bagi para petani yang ingin menjadi bagian dalam kelompoknya dalam berbudidaya keramba jaring apung dalam hal berupa pembibitan, produksi hingga memasarkan hasil panen.

Bagi para petani yang tidak memiliki kesanggupan akan modal untuk mengembangbiakan budidaya ikan KJA maka para petani akan mencari tahu pengusaha keramba yang dapat memberikan bantuan dalam hal modal.

Untuk bisa bergabung para petani harus membayar panjar (uang muka) minimal setengah dari keseluruhan total biaya yang harus dikeluarkan. Misalnya calon petani ingin mengisi 2 unit/lobang keramba maka petani harus membayar panjar (uang muka) sekitar sebesar dua puluh juta, hal ini dikarenakan harga per unit sekitar dua puluh juta. Harga sebesar itu sudah termasuk bibit dan pakan ikan.

Dengan kesepakatan yang dikeluarkan oleh pengusaha keramba dan bisa disetujui oleh para petani keramba yang akan diberikan modal pengembangbiakan

ikan KJA. Kesepakatan-kesepakatan itu meliputi para petani harus membeli bibit ikan, pakan ikan dari pengusaha dan hasil panen ikan pun harus dijual ke pengusaha keramba. Kesepakatan-kesepakatan yang terjalin itu tidak dimateraikan hitam diatas putih.

Maka dari itu pedagang pengumpul atau petani kerambah yang juga sebagai pengusaha ikan menjadikan calon petani menjadi bagian dikelompoknya harus saling kenal dan saling percaya. Tidak mengherankan jika semua para petani dalam kelompok seorang pengusaha keramba tersebut adalah sanak saudara, walaupun ada yang diluar dari sanak saudara. Tidak semua petani yang bergabung dengan pengusaha tersebut adalah sanak saudara mereka melainkan juga orang-orang diluar sanak saudara namun masih saling kenal atau dari sanak saudara ke sanak saudara. Para petani diluar sanak saudara pengusaha yang sebelum bergabung dengannya dibawa oleh sanak saudara pengusaha keramba tersebut untuk dipinjami modal pengembangbiakan ikan.

Selain memberikan modal kepada para petani yang ingin menjadi bagian kelompok salah satu pengusaha yang ada berupa bibit ikan, pakan ikan hingga panen, pengusaha juga sebagai pedagang pengumpul untuk memasarkan hasil panen ikan diluar anggota para petani mereka. Tidak hanya para petani yang merupakan anggota mereka saja yang hasil panen ikannya dipasarkan melainkan juga para petani lainnya yang berada diluar keanggotan pengusaha keramba tersebut.

Pedagang pengumpul mengambil semua bagian dalam pengelolahan produksi ikan mulai dari bibit hingga pemasaran. Hal ini karena jaringan mereka begitu luas dengan dibantu oleh para pekerja yang mencari informasi mengenai

bibit, pakan dan pemasaran hasil panen ikan keramba. Sudah menjadi atribut bagi pengusaha keramba untuk menjadikan dia sumber utama dalam semua proses usaha keramba ini. Dalam hal pakan dan pemasaran misalnya, mereka lebih memiliki relasi jaringan yang begitu luas sehingga memudahkan mereka untuk mendapat informasi yang terbaru dan lengkap.

Ada beberapa pedagang pengumpul atau petani keramba pemberi modal (pengusaha keramba jaring apung) di Haranggaol yang memiliki jaringan luas dengan para petani dikelompoknya maupun diluar kelompoknya, dengan penjual bibit ikan, dengan penjual pakan ikan dan dengan distributor ikan dipasar-pasar.

Disini peneliti mendapatkan informasi bahwa ada tiga pengusaha keramba dengan jumlah petani keramba baik yang berada dikelompoknya maupun diluar kelompoknya mencapai hingga puluhan petani keramba dengan jumlah keramba mencapai ratusan unit jumlah panen ikan yang hingga ber-ton-ton.

5.2.2. Petani Keramba Jaring Apung

Petani keramba adalah petani yang mengelola keramba jaring apung dengan segala pengetahuan yang dimilikinya tentang keramba. Untuk menjadi petani keramba, harus mengetahui bagaimana mengelola ikan keramba jaring apung sehingga menghasilkan panenan yang bagus. Petani keramba adalah supervisor dalam pengelolahan keramba karena mereka menjadi kunci dalam pemenuhan kebutuhan keramba. Ada begitu banyak jumlah petani keramba yang hampir keseluruhan masyarakatnya merupakan petani keramba jaring apung.

Para petani keramba di daerah Haranggaol adalah warga yang bermukim didaerah tersebut. Menurut informasi yang didapat dari informan, pada tahun

1998 hingga pada tahun 2000-an para petani keramba tidak hanya masyarakat yang bermukim di Haraggaol melainkan juga yang berada diluar seperti Medan, Siantar bahkan Jakarta dan Bandung, dan mereka adalah para perantau yang sudah menetap didaerah rantauan.

Para petani yang berada di Medan, Siantar, Jakarta dan Bandung tersebut adalah bagian masyarakat Haranggaol dahulunya sebelum merantau. Pada awalnya membuka keramba tidak ada permasalahan yang terjadi dan yang mengerjakan keramba mereka adalah para pekerjanya. Namun ketika terjadi wabah penyakit ikan yang menyebabkan ikan mati hingga ribuan ton pada tahun 2004 menyebabkan mereka lepas tangan dengan membiarkan bangkai ikan yang membusuk serta meninggalkan utang yang belum dilunasi. Akibat ikan tidak jadi panen itulah para petani sulit untuk membayar utang kepada pengusaha keramba sehingga pengusaha keramba mengalami kerugian. Karena sistem perjanjian yang terbentuk antara para petani keramba dan pengusaha keramba hanya bersifat lisan saja tanpa adanya perjanjian hitam diatas putih maka pengusaha keramba sulit melakukan tindakan yang lebih tegas lagi apalagi mereka tinggal diluar daerah Haranggaol.

Akibat kejadian ini maka masyarakatnya mulai membuat kesepakatan bersama bahwa yang boleh membuka keramba jaring apung adalah masyarakat yang bertempat tinggal di daerah ini. Walaupun masih ada yang sebelumnya dari luar daerah ini yang kerambanya masih bertahan maka dia harus menempatkan salah satu dari keluarganya untuk bertempat tinggal didaerah ini.

Hal ini disepakati masyarakatnya agar ketika terjadi kematian ikan hingga ribuan ton akibat bencana alam akibat wabah penyakit atau yang saat ini yang

lebih mengancam yakni saat erupsi Sinabung maka kesepakatan-kesepakatan yang terjalin sebelumnya dapat terpenuhi. Selain hal diatas tersebut yang menyebabkan bahwa hanya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah ini saja yang boleh membuka keramba adalah dengan tujuan untuk mensejahterakan masyarakat lokalnya.

Bagi masyarakat Haranggaol terlebih yang melakukan kegiatan keramba jaring apung, beranggapan bahwa danau Toba disekitar mereka merupakan kawasan yang dimiliki masyarakat setempat demi kepentingan masyarakatnya sendiri bukan masyarakat diluar daerah Haranggaol. Dengan begitu masyarakat daerah ini bisa memanfaatkan pinggiran danau untuk memberikan pemasukan maupun peningkatan taraf ekonomi.

Petani disini dikelompokkan peneliti menjadi dua yakni petani keramba dengan keramba modal sendiri dan petani dengan modal milik pengusaha keramba (pemilik modal). Perbedaan petani keramba dengan modal sendiri dengan petani keramba yang modalnya dari pengusaha keramba adalah sebagai berikut :

a. Petani keramba modal sendiri

Petani keramba modal sendiri merupakan petani keramba yang membudidayakan kerambanya dengan modal sendiri. Petani keramba modal sendiri adalah petani diluar kelompok dari salah satu pengusaha (pedagang pengumpul). Petani keramba modal sendiri atau petani luar kelompok pengusaha dapat menjual hasil panen ikan keramba kepada salah satu pengusaha keramba (pedagang pengumpul) ataupun langsung menjual hasil panen ikannya kepada salah satu pedagang pengecer di pasar-pasar yang sudah menjadi langganannya.

Petani modal sendiri tidak akan terikat kepada salah satu pengusaha (pedagang pengumpul) dalam membudidayakan kerambanya. Sama halnya seperti menjual hasil panen ikan kerambanya bisa sendiri ataupun melalui bantuan pengusaha keramba (pedagang pengumpul) begitu juga dengan bibit ikan ataupun pakan ikan bisa mereka beli dari pengusaha keramba (pedagang pengumpul).

Namun untuk memperlancar usaha budidaya mereka, petani keramba modal sendiri akan memerlukan bantuan pengusaha keramba (pedagang pengumpul) dengan membeli bibit ikan, pakan ikan terlebih menjual hasil panen ikan keramba secara berkelanjutan. Tetapi juga bisa sewaktu-waktu memutuskan untuk mengganti pengusaha keramba (pedagang pengumpul) karena ketiadaan ikatan perjanjian di antara mereka.

b. Petani dengan modal pengusaha keramba (pedagang pengumpul) Kebalikan dari petani dengan modal sendiri, petani dengan modal pengusaha keramba (pedagang pengumpul) adalah para petani yang modalnya dibantu oleh pengusaha keramba (pedagang pengumpul). Dengan dibantunya dalam hal modal pembudidayaan ikan keramba, petani ini terikat perjanjian-perjanjian dengan sang pengusaha keramba. Dimana perjanjian-perjanjian itu meliputi pembelian bibit ikan, pakan ikan serta ikan yang sudah siap di panen untuk di jual harus melalui pengusaha keramba (pedagang pengumpul) yang memberinya modal. Petani keramba yang di bantu dalam hal modal secar tidak langsung menjadikan mereka anggota didalam kelompok salah satu pengusaha tersebut.

Petani-petani keramba dalam kelompok ini merupakan sanak saudara yang saling kenal. Saling kenal diantara mereka merupakan keharusan dikarenakan perjanjian ini bersifat abstrak. Bagi mereka sanak saudara tidak akan saling

merugikan karena landasakan kepercayaan yang begitu kuat di antara mereka.

Walaupun ada petani yang ikut bergabung namun bukan merupakan sanak keluarga dari pengusaha keramba (pedagang pengumpul) maka dia akan meminta bantuan kepada salah satu anggota petani dalam kelompok untuk bisa bergabung.

5.3. Kesepakatan dan Keterikatan Dalam Pemasaran Keramba Jaring Apung

Saat memutuskan untuk menjadi bagian dari salah satu pedagang pengumpul (petani keramba pemberi modal, pengusaha keramba), ada kesepakatan yang terjalin antara petani yang ingin bergabung dengan pedagang pengumpul. Ada beberapa perjanjian yang harus dipatuhi petani yang ikut bergabung dengan salah satu pedagang pengumpul (pengusaha keramba) tersebut.

Keikutsertaan petani keramba dalam salah satu kelompok pedagang pengumpul bersifat tanpa paksaan ataupun karena khilaf. Dalam hal ini, antara pihak petani ikan harus punya kemauan bebas (sukarela) untuk mengikatkan diri, dimana kesepakatan itu bisa bersifat tegas maupun tidak tegas.

Kesepakatan-kesepakatan yang terjalin diantara petani keramba dengan pedagang pengumpul (pengusaha/petani pemilik modal) tidak bersifat hitam diatas putih yang dengan dibubuhi tanda tangan beserta materai. Kesepakatan-kesepakatan itu hanyalah bersifat lisan antara pedagang pengumpul (pengusaha) dengan para petani yang ingin bergabung. Kesepakatan-kesepakatan lisan tanpa adanya pernyataan hitam diatas putih disebabkan oleh tingkat kepercayaan yang besar antara pengusaha terhadap dengan para petani yang ingin bergabung.

Kepercayaan yang didasari karena faktor dari sanak keluarga sendiri, yang

pastinya sudah saling kenal seperti apa, siapa dan bagaimana para petani yang akan bergabung tersebut.

Tidak hanya berlatarbelakang punya keterikatan dalam sanak saudara, para pengusaha ini juga memberlakukan kesepakatan-kesepakatan tanpa hitam diatas putih kepada para petani yang ingin diberikan modal tetapi mereka bukan sanak saudaranya. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, bahwa para petani yang memiliki keramba jaring apung di daerah ini adalah mereka-mereka yang bertempat tinggal didaerah Haranggaol. Dengan begitu hal ini tidak menyulitkan bagi para pengusaha untuk langsung bertindak apabila ada salah satu atau beberapa dari petani keramba yang diberi modal olehnya tidak menepati kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat karena mereka juga saling kenal.

Namun untuk sejauh saat ini peristiwa-peristiwa pelanggaran kesepakatan dapat diselesaikan oleh kedua belah pihak tanpa merusak hubungan mereka. Ini terbukti yang hingga sampai saat ini hubungan mereka tetap terjalin baik. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengusaha, Irwan Rajagukguk, :

“Usaha keramba ikan jaring apung ditempat kami ini berlandaskan rasa kepercayaan. Kita yang disini keluarga semua, saling berkomitmen untuk tetap saling percaya, jadi kami tidak perlu pakai perjanjian yang harus ditandatangani apalagi pakai materai segala seperti kebanyakan usaha lainnya. Walaupun misalnya si “ini” bukan keluarga kandung dari bapak atau mamak tapi karena satu marga dan sering ketemu di kede jadi sudah tahu baik buruknya si “ini” tadi. Memang awalnya ada surat bukti bahwa berapa lobang yang mau dia usahakan. Tapi karena sudah terus-menerus dia menjadi anggota kami ya tak pakai itu lagilah, sudah hapal soalnya.

Yang terpenting aku kenal siapa dia, sudah cukup itu saja.”

Adapun kesepakatan-kesepakatan yang terjalin diantara para petani yang ingin bergabung (diberi modal) dengan pengusaha yakni awal bergabung petani haruslah memberikan uang panjar. Setelah pemberian uang panjar maka para

petani akan menerima bibit ikan sebanyak lobang keramba ikan yang mereka punya (setiap lobang di isi sebanyak 7000 bibit ikan nila dan 3000 bibit ikan mas).

Misalnya petani yang diberi modal akan mengisi 4 lobang keramba mereka maka akan diberi 40.000 bibit ikan. Dari proses pemberian bibit ikan hingga proses panen, para petani tersebut harus berada dibawah kontrol pengusaha.

Harga bibit ikan, harga pakan ikan, dan harga jual ikan yang dipanen juga harus berdasarkan keputusan pengusaha. Tidak dapat dipungkiri bahwa pengusaha akan mengambil keuntungan dari para petani yang diberi modal olehnya.

Walaupun pengusaha mengambil profit (keuntungan) dari para petani ikannya, para petani ikannya menyetujuinya setelah adanya pembahasan lebih lanjut tentang harga yang sedang berlangsung. Disini para petani ikan dilibatkan dalam membahas harga bibit ikan, pakan ikan juga termasuk harga memasarkan ikan dengan pengusaha. Pengusaha tidak semena-mena dalam menentukan harga kepada para petani ikannya. Harga yang diberikan adalah berdasarkan harga pasar yang kemudian ditambah dengan harga keuntungan yang sudah disepakati.

Sementara itu, bagi petani ikan yang berada diluar kelompok sang pengusaha keramba yang ingin dibantu untuk memasarkan produksi ataupun hasil panen ikannnya bisa menghubungi salah satu pengusaha ini secara langsung maupun melalui para petani lainnya. Karena ketidakterikatan mereka maka tidak ada kesepakatan-kesepakatan yang berarti diantara mereka seperti para petani yang diberi modal oleh pengusaha. Pengusaha keramba ikan yang juga sebagai pedagang pengumpul menerima hasil panen ikan petani dari luar kelompok mereka dengan cash atau pembayaran lunas sesuai dengan kesepakatan harga yang telah ditentukan. Tetapi ketika musim ikan melimpah ruah terutama hasil

produksi (panen) ikan dari Sumatera Barat yang masuk ke Sumatera Utara maka sistem pembayarannya yang berlaku adalah ketika uang hasil penjualanan ke pedagang-pedagang kecil sudah diterima.

Banyak para petani diluar kelompok pengusaha-pengusaha itu menjual hasil panen (produksi) ikannya ke pengusaha-pengusaha tersebut agar proses pemasarannya cepat berlangsung. Proses pemasaran yang cepat sampai pada pedagang-pedagang kecil di pasar-pasar tidak akan menyebabkan ikan-ikan itu mati dalam jumlah yang banyak sehingga tidak merugikan para petani diluar kelompok pengusaha. Apalagi jika hasil panen para petani tersebut menghasilkan ber ton sekali panen. Karena apabila para petani itu sendiri yang memasarkan maka dia harus mencari tahu sendiri daerah atau lokasi-lokasi yang membutuhkan ikan mas dan nila untuk dijual, belum lagi mencari pedagang-pedagang kecil yang dipasar-pasar untuk join dengan mereka. Apalagi pedagang-pedagang kecil yang ada dipasar juga sebelumnya sudah diajak kerjasama dengan pengusaha ikan tersebut. Kerumitan yang seperti inilah yang membuat para petani yang diluar pengusaha/petani dengan modal sendiri membutuhkan bantuan pengusaha/pemilik modal untuk memasarkan hasil panen ikannya.

Pengusaha keramba dengan para petani keramba yang diberi modal olehnya memiliki keterikatan dalam perjanjian selama proses usaha ikan keramba masih berlangsung yakni mulai dari pembibitan, pakan ikan sampai kepada pemasaran ikan. Namun apabila petani ada yang ingin berdiri sendiri dengan modal sendiri atau memutuskan untuk bergabung ke kelompok pengusaha yang lain maka dia akan memutus keterikatan sebelumnya yang tentunya proses awal

sampai akhir sudah selesai. Maka pengusaha pun tidak akan memaksakan agar petani ikan tersebut untuk tetap berada dikelompoknya.

Sementara itu petani yang memang dengan modal sendiri tidak memiliki keterikatan dengan pengusaha manapun. Oleh karena itu ia akan dengan sesuka hati memilih memasarkan ikan, apakah dibantu dengan pengusaha/pedagang pengumpul atau memasarkan sendiri. Tidak menutup kemungkinan petani yang dengan modal sendiri akan menjual hasil panen ikannya sendiri, karena hasil panennya tidak begitu banyak, ini teruntuk petani yang sedikit kerambanya.

Tidak jarang juga pedagang pengumpul (pengusaha keramba) yang mencari informasi siapa petani keramba modal sendiri yang masa panennya segara tiba untuk membicarakan bahwa hasil panen ikannya boleh dibantu jual olehnya. Hal ini sering terjadi apabila hasil panen ikan tidak mencukupi kebutuhan pasar. Biasanya ini terjadi apabila ikan-ikan mati dalam skala yang cukup besar.

Petani keramba dengan modal sendiri biasanya juga akan selalu berkelanjutan menjual hasil panen ikannya dengan pedagang pengumpul (pengusaha keramba) karena sudah saling menguntungkan bagi mereka. Sebagai contohnya, petani keramba yang awalnya menjual hasil panen kerambanya kepada pedagang pengumpul x pada saat hasil panen ikan melimpah ruah maupun tidak.

5.4. Proses Menjual Hasil Panen Ikan

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnnya bahwa ikan yang sudah siap untuk dipanen akan dijualkan petani keramba kepada pedagang pengumpul

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnnya bahwa ikan yang sudah siap untuk dipanen akan dijualkan petani keramba kepada pedagang pengumpul

Dalam dokumen TESIS OLEH FERIEL AMELIA SEMBIRING (Halaman 86-0)