BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.3 Jumlah Penduduk
4.3.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku
Penduduk kelurahan Haranggaol di dominasi oleh suku Simalungun. Suku Simalungun adalah salah satu bagian dari suku Batak. Suku Simalungun adalah suku asli daerah ini. Selain suku Simalungun, ada beberapa penduduk yang juga masih sama dari bagian suku Batak yakni dari suku Batak Toba, Karo, Jawa, Padang yang menikah dengan penduduk setempat maupun sebagai pendatang untuk meraup rezeki. Penduduk pendatang ini didomansi oleh penduduk yang datang dari Tobasa dan Siantar. Penduduk Tobasa dan Siantar yang datang untuk mencari pekerjaan di penginapan-penginapan dan pekerja keramba.
Hal ini dapat terlihat dari beberapa rumah makan/ warung makanan yang didirikan oleh penduduk suku Padang dan Jawa. Penduduk yang didominasi suku Simalungun berjumlah 2242 jiwa, Batak Toba berjumlah 640, Karo berjumlah 160 jiwa, Jawa 96 jiwa dan Padang 64 jiwa. Sebagian suku Batak Toba tidak lagi mau disebut sebagai penduduk pendatang dikarenakan mereka sudah
turun-temurun tinggal ditempat ini. Merekalah yang merupakan hasil pernikahan campuran antar suku Simalungun. Untuk lebih jelasnya, komposisi penduduk kelurahan Haranggaol berdasarkan suku dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 4.6
Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku
No. Suku Jiwa Persentasi
1. Simalungun 2242 70 %
2. Batak Toba 640 20 %
3. Karo 160 5 %
4. Jawa 96 3 %
5. Padang 64 2 %
Jumlah 3202 100 %
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
4.3.5. Kompisisi Penduduk Berdasarkan Agama
Penduduk Haranggaol didominasi oleh agama Kristen Protestan sejumlah 2081 jiwa, Katolik 1057 dan Islam 64. Dengan jumlah Kristen, baik Protestan dan Katolik yang lebih banyak dibandingkan dengan agama lainnya tidak membuat agama minoritas tidak bebas merayakan perayaan besar keagaamaan mereka.
Penduduk saling menghargai dan menjaga kerukunan antar umat yang berbeda agama.
Hal ini dapat dilihat ketika hari besar keagamaan, mereka yang sedang merayakan hari besar keagamaannya ikut membagikan makanan kepada mereka yang tidak merayakan hari besar agamanya, begitu juga sebaliknya. Hal ini terbukti ketika peneliti menanyakan kerukunan yang terjadi didaerah ini saat-saat
situasi yang sedang dialami negara akan krisis agama yakni belum pernah mayoritas menyinggung secara signifikan minoritas.
Data stastistik penduduk berdasarkan agamanya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7
Kompisisi Penduduk Berdasarkan Agama
No. Agama Jiwa Persentasi
1. Kristen Protestan 2081 70 %
2. Katolik 1057 33 %
3. Islam 64 2 %
4. Budha - -
5. Hindu - -
6. Kong Hucu - -
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
4.4. Pola Pemukiman Penduduk
Pola pemukiman penduduk Haranggaol mengelompok memadat, bangunan tempat tinggal yang keseluruhannya sudah berupa bebatuan (beton) seperti dikota-kota. Sudah tidak ditemukan lagi rumah-rumah yang berbentuk gorga suku batak. Rumah-rumah yang ada di kelurahan Haranggaol saling berhadapan, dikarenakan pemukiman diapit oleh danau Toba dan pegunungan, terkhususnya yang berada di pasar besarnya. Rumah yang berada diselatan membelakangi danau dan yang menghadap di timur membelakangi pegunungan.
Menurut informasi yang peneliti kumpulkan di lapangan, kondisi rumah
rumah berganti menjadi rumah semi permanen hingga saat ini sudah menjadi rumah beton permanen dan juga ada yang bertingkat. Perubahan bentuk rumah ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang diiringi dengan perekonomian masyarakatnya yang semakin membaik. Anak-anak penduduk desa Haranggaol yang mengadu nasib di kota kemudian membenahi rumahnya seperti bentuk-bentuk rumah di kota. Banyak diantara penduduk yang merubah rumahnya disebabkan pendapatan dari sektor perikanan dalam keramba jaring apung di danau.
Pendapatan dari sektor jaring apung juga mengambil alih dalam perubahan yang terjadi di Haranggaol. Menurut beberapa informan ketika bertani, berdagang dan berpariwisata, pendapatan mereka hanya cukup untuk sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari. Hingga kemudian saat beralih pada mata pencaharian keramba jaring apung mereka mendapat keuntungan yang besar dan mulai biasa membangun rumah mereka, membeli kendaraan dan menambah aset lainnya. Saat ini, seluruh rumah di desa Haranggaol telah memakai jasa Perusahaan Listrik Negara (PLN). Untuk mendapatkan air dahulu masyarakat langsung memanfaatkan air sekitar danau untuk kebutuhan mandi dan menyuci pakaian dan perabotan rumah. Namun, saat ini masyarakat tidak perlu kesusahan untuk mendapatkan air bersih tersebut.Sebab, di kelurahan ini telahmemiliki sarana air bersih yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM) dan dialiri kerumah-rumah penduduk.
Dahulu penduduk desa ini memanfaatkan lahan perbukitan sebagai pertanian bawang dan pisang serta mangga. Hingga pada tahun 2000-an pemanfaatan lahan berkurang hampir 70%. Penurunan ini terjadi setelah serangan
hama pada tanaman pertanian dan berkurangnya kesuburan tanah. Saat ini pemanfaatan ruang di Desa Haranggaol adalah memanfaatkan Danau Toba menjadi sentral perikanan ikan nila. Desa Haranggaol ini merupakan sebuah perkampungan yang bersifat geneologis teritorial. Selain dihuni oleh suku Simalungun, Haranggaol dihuni oleh penduduk pendatang seperti suku Batak Toba, Karo, dan Jawa. Dengan demikian mayoritas suku di Haranggaol ini adalah suku Batak Simalungun dengan Marga Saragih, Sinaga, Purba dan sedikit bermarga Silalahi, Aritonang, Sirait, Nainggolan dan lain-lain.
4.5. Sarana dan Prasarana
1. Jalan Umum dan Transportasi
Jalan yang terdapat di daerah kelurahan Haranggaol berada dalam kondisi yang baik dimana jalan-jalannya sudah pada di aspal. Dan jalan-jalan menuju dusun-dusunnya juga dikategorikan baik walaupun jalannya tidak diaspal seperti jalan umum di kelurahan ini. Jalannya semi aspal yang walaupun hujan tidak akan menyebabkan jalannya digenangi air hujan sehingga tidak licin saat berjalan dijalan ini.
Akan tetapi jalan dari simpang Haranggaol menuju Haranggaol kurang bagus karena pada lokasi ini terdapat sejumlah lubang aspal dan bebatuan yang membahayakan pengendara. Itulah sebabnya para pengendara diharuskan berhati-hati jika melewati lokasi ini. Namun demikian kelurahan Haranggaol telah memiliki jalan yang menghubungkan satu kelurahan ke kelurahan lain, satu desa menuju desa lain, bahkan dari desa menuju kota.
Transportasi yang tersedia ditempat ini sangatlah minim, angkutan yang ada hanya tersedia pada hari-hari tertentu terutama pada saat hari pekan/onan yakni hari Senin. Transportasi yang digunakan ke Haranggaol adalah angkutan umum berupa angkot, bis, dan taksi. Merk angkutan CV. Sinar Sepadan lintas Saribu Dolok- Haranggaol tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang menuju Saribu Dolok - Haranggaol. Jadi penumpang dari berbagai daerah diluar Seribu Dolok - Haranggaol dengan tujuan ke Haranggaol hanya sampai di simpang Haranggaol, harus melanjutkan perjalanan dengan angkutan sepadan yang memiliki stasiun di Seribu Dolok dengan trayek Seribu dolok – Haranggaol.
Angkutan ini berangkat setiap 30 menit sampai 1 jam sekali atau paling tidak, sampai angkutan tersebut penuh. Alternatif lain menuju Haranggaol adalah menggunakan taksi milik warga sekitar yang dapat dihubungi langsung. Taksi ini mengantarkan penumpang sampai tujuan dengan tarif Rp 60.000 (Medan- Haranggaol) dan Rp.40.000 (P.Siantar- Haranggaol).
Sedangkan transportasi yang digunakan untuk mengangkut hasil panen ikan, pedagang pengumpul (pengusaha/pemilik modal) ataupun petani ikan menggunakan mobil truk berupa colt diesel dan mobil pick-up kecil lainnya.
Masyarakatnya biasa menggunakan transportasi pribadi, masyarakatnya sudah pada memiliki transportasi pribadi sehingga memudahkan mereka melakukan perjalanan disekitar daerah ini.
Menurut warganya yang sudah lama tinggal di kelurahan Haranggaol ini, dahulunya transportasi yang bisa dilakukan untuk mencapai tempat ini bisa menggunakan jalur darat serta jalur perairan. Dari berbagai penjuru danau Toba bisa mencapai daerah ini dengan melakukan penyeberangan melalui kapal feri
dari Simanindo, Pangururan, Parapat dan lain sebagainya. Namun dikarenakan semakin bertambahnya keramba ikan di pinggiran danau daerah Haranggaol menyebabkan kapal feri yang biasanya melewati tempat ini tak bisa lagi melakukan rute perjalanannya ke daerah Haranggaol.
Selain transportasi secara umum masyarakat kelurahan Haranggaol terkhususnya bagi mereka yang memiliki usaha keramba jaring apung memiliki kapal mesin ataupun sampan ( solu ). Kapal mesin ataupun solu ini berguna untuk kegiatan usaha keramba mereka. Kapal mesin ini mengangkut keperluan kolam seperti pakan ikan (pellet), bibit dan hasil panen serta keperluan lainnya. Dan bagi pemilik usaha keramba yang tidak memiliki kapal mesin ataupun sampan/solu akan meminjam kepada mereka yang punya. Karena tidak semua pemilik keramba jaring apung didaerah ini memiliki kapal mesin ataupun sampan(solu) tersebut.
Biasanya para pemilik usaha keramba jaring apaung yang memiliki jumlah keramba yang banyak dan pastinya memiliki anggota petani kermaba yang tidak sedikit memiliki kapal mesin ini.
2. Kesehatan
Kelurahan Haranggaol tidak memiliki rumah sakit, akan tetapi terdapat sebuah Puskesmas dan sebuah balai kesehatan desa yang dipergunakan untuk imunisasi dan konsultasi setiap bulannya bagi balita dan bagi para ibu hamil.
Masyarakat dapat mengunjungi para ahli medis di Puskesmas, Polindes dan juga balai pengobatan yang ada. Ini disebabkan tingkat kesadaran masyarakatnya terhadap kesehatan cukup baik, dibuktikan ketika masyarakat sakit mereka akan mengunjungi para ahli medis untuk diperiksa dan mendapatkan penangan berupa
obat. Untuk memudahkan melihat jumlah sarana kesehatan yang terdapat di Kelurahan Haranggaol dapat dilihat melalui tabel berikut ini:
Tabel 4.8
Sarana Kesehatan di Kelurahan Haranggaol
No. Sarana Kesehatan Jumlah
1. Puskesmas 1
2. Polindes 3
3. Apotek 2
Jumlah 6
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017 3. Pendidikan
Dalam menempuh pendidikan, sekolah merupakan sarana yang paling penting. Bangunan dengan kondisi yang nyaman membuat siswa/i nya nyaman juga dalam meraih ilmu pengetahuan. Sekolah-sekolah yang ada di Haranggaol tidak jauh dengan pemukiman penduduk bahkan beberapa siswa/i berjalan kaki ke sekolah karena sekolahnya sangatlah dekat dengan rumah tempat tinggalnya.
Sekolah-sekolah tersebut sudah didukung dengan prasarana pendidikan yang sesuai standard pendidikan, kursi dan meja untuk siswa/i juga guru dikelas, papan tulis dan spidol ataupun kapur tulis. Kantor guru juga dilengkapi dengan kursi dan meja guru per guru dan lemari guru dan pelengkap ruangan lainnya seperti dispenser, televisi.
Bangunan sekolah di Haranggaol tersebut meliputi Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) milik pemerintah yakni SD Negeri 1 Haranggaol, SD Negeri 2 Haranggaol, SD Negeri Purba Saribu, SD Inpres Tangga Batu dan
Sekolah Menengh Pertama (SMP) milik swasta yakni SMP GKPS Haranggaol, SMP St. Agustinus Haranggaol. Sangat disayangkan untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Haranggaol tidak ada sama sekali baik sekolah negeri maupun swastanya. Karena Sekolah Menengah Atas tidak ada ditempat ini maka sebagian orangtua menyekolahkan anak-anaknya ke Pematang Siantar, dipilihnya daerah ini karena dekat dengan tempat tinggal mereka, Haranggaol. Pilihan lainnya disekolahkan di Medan, alasannya biar lebih maju lagi dalam proses belajar-mengajarnya. Menurut penuturan seorang informan, ketidakadaannya sekolah tingkat SMA dikarenakan sedikitnya minat anak-anak yang baru saja menamatkan bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan sekolah didaerahnya. Mereka ingin menikmati Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota orang yang pastinya juga bisa bebas dikota orang tanpa orangtua yang secara tidak langsung menumbuhkan sikap kedewasaan mereka. Penyebab inilah yang kemungkinan besar sekolah jenjang SMA tidak ada di daerah ini.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di tabel daftar sekolah kelurahan Haranggaol berikut ini:
Tabel 4.9
Sarana Pendidikan di Kelurahan Haranggaol
No. Jenis Sekolah Jumlah
1. Taman Kanak-kanak 1
2. Sekolah Dasar 4
3. Sekolah Menengah Pertama 2
Jumlah 7
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
4. Wisata
Selain sebagai daerah yang dikenal dengan keramba jaring apungnya, Haranggol juga merupakan tempat wisata yang walaupun mengalami kemunduran akan kunjungan para wisatawan yang dibuktikan dengan terdapatnya beberapa penginapan bagi wisatawan yang berwisat atau berkunjung ke wilayah ini.
Penginapan ini berupa kamar kecil atau yang dikenal dengan losmen-losmen.
Adapun penginapan yang terdapat didaerah ini adalah penginapan Horison, penginapan Marbun, penginapan Naga Murni, penginapan Sigumba-gumba, penginapan Tuhulan dan penginapan Pantai Haranggaol
Semua sarana penginapan tersebut memanfaatkan pinggiran Danau Toba sebagai tempat berenang para wisatawan. Penginapan ini juga menyediakan tempat makan/restoran kecil, wisatawan yang menginap untuk menikmati sarapan pagi, makan siang, maupun makan malam selain warung makanan yang ada di tempat penginapan. Selain tempat untuk menginap, para wisatawan dapat menikmati Danau Toba dengan bermain-main sekitar danau dan juga berenang.
Tidak jarang hal ini dimanfaatkan beberapa penduduk untuk menyediakan fasilitas ban bekas yang berisi angin untuk disewakan pada wisatawan yang bermain air ataupun berenang di danau.
Penginapan-penginapan ini sudah jarang terisi penuh oleh wisatawan, walaupun itu hari libur panjang. Menurut penuturan salah satu pemilik penginapan, yang menginap akhir-akhir ini adalah mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir yang melakukan penelitiannya. Walaupun ada wisatawan yang tujuannya untuk berwisata terjadi ketika libur panjang tiba namun itupun tidak sebanyak sewaktu orangtuanya yang mengelola dikarenakan jalanan yang rusak
dan digenangi air bila hujan berhari-hari menyebabkan wisawatan urung melakukan wisata.
5. Pasar
Pasar merupakan salah satu sarana yang paling penting disetiap daerah, dimana masyarakatnya bisa melakukan hal jual dan beli. Daerah Haranggaol terdapat pasar atau mereka menyebutnya dengan sebutan tiga yang hanya berlangsung saat pekan. Pekan yang dimaksud adalah hari tertentu untuk pasar dibuka. Pasar ini dibuka hanya pada hari Senin saja. Beberapa tahun yang lalu pasar ini dibuka pada hari Senin dan Kamis. Seperti pada umumnya pasar tradisional lainnya, pasar di Haranggaol juga menjual segala jenis kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun ada hal aneh bagi peneliti bahwa, ikan keramba milik masyarakatnya tidak dijual di pasar ini. Hal ini disebabkan hampir semua masyarakat disitu memiliki keramba yang sewaktu-waktu ikannya bisa diambil. Walaupun ada masyarakatnya yang tidak memiliki keramba ikan maka akan beli langsung atau memintanya pada saudaranya yang punya keramba. Hal inilah yang menyebabkan bahwa ikan keramba tidak dijual dipasar.
6. Rumah Ibadah
Rumah ibadah adalah salah satu prasarana yang harus dimiliki oleh suatu wilayah. Rumah ibadah dibangun untuk memenuhi kebutuhan rohani dari penduduknya. Dengan adanya rumah ibadah dapat membantu penduduknya menjalankan kewajiban agamanya. Adapun rumah ibadah yang ada di daerah Haranggaol dapat dilihat ditabel berikut ini:
Tabel 4.10 Rumah Ibadah
No. Rumah Ibadah Jumlah
1. Mesjid 1
2. Gereja 8
3. Kuil -
4. Vihara -
Jumlah 9
Sumber : Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
Seperti pada tabel 4.10 diatas tertulis bahwa rumah ibadah Mesjidnya berjumlah satu. Gereja jumlah rumah ibadahnya ada delapan yang terbagi dari gereja untuk Protestan dan gereja Katolik. Untuk gereja Protestan ada enam dan untuk gereja Katolik ada dua. Gereja Protestan meliputi GKPS Gloria Haranggaol, GKPS Haranggaol, GKPS Silumbak Haranggaol. Gereja Katholik meliputi gereja St. Agustinus. Sementara untuk rumah ibadah Kuil dan Vihara belum ada didaerah.
BAB V
KERAMBA JARING APUNG HARANGGAOL
5.1. Keramba Jaring Apung Haranggaol
Danau Toba, danau yang dikenal sebagai tujuan tempat berliburnya para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Terlebih pada tahun 1980-an di wilayah Sumatera Utara yang perlahan-lahan seiring waktu membawa danau ini untuk dijadikan kawasan keramba ikan selain tujuan utamanya sebagai tempat wisata alam. Hal ini bisa dilihat dari atas pemandangan atau yang dikenal dengan penatapan bahwa sekitar pinggiran danau dihiasi dengan keramba-keramba milik masyarakat setempat.
Keramba-keramba tersebut bukan dalam jumlah yang sedikit melainkan hingga ribuan unit keramba yang juga bukan hanya milik masyarakat setempatnya melainkan juga milik perusahaan. Awalnya, keramba jaring apung (KJA) yang dibudidayakan di kawasan danau Toba merupakan program dari pemerintah pusat yang bernama Opsus (operasi khusus) Maduma Sejahtera. Opsus ini mulai dikembangkan sekitar tahun 1986 dengan sasaran untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat kawasan danau Toba yang saat itu masih berada di bawah garis kemiskinan.
Program Opsus disosialisasikan dengan memberikan ilmu-ilmu mengembangbiakan bibit ikan mas kepada masyarakat. Beberapa warga yang mendiami kawasan khususnya sekitaran danau mulai melakukan pengembangbiakan ikan mas seperti yang telah disosialisasikan oleh Opsus.
Masyarakat yang ikut mengembangbiakan bibit ikan mas adalah yang berada dipinggiran danau, seperti daerah Haranggaol, Muara, Pangururan yang dianggap
memiliki ketenangan air yang bagus untuk ikan mas dan pengembangbiakan ikan mas pun berhasil.
Sebelum keramba jaring apung sebagai mata pencaharian utama, mata pencaharian masyarakat dulunya yakni sebagai petani berladang yang menghasilkan sayur-sayuran, buah pisang, bawang merah, bawang putih dan juga memanfaatkan hasil hutan berupa kayu pepohonan di hutan untuk dijual dan dijadikan bangunan rumah. Namun kendati hasil pertanian dan pariwisata mereka menurun yang mengakibatkan perekonomian masyarakatnya juga menurun menyebabkan masyarakatnya tertarik untuk membudidayakan ikan keramba terlebihnya di daerah Haranggaol.
Di awal tahun 1990, hama penyakit tanaman menyerang seluruh tanaman petani di pesisir Haranggaol. Hal ini menyebabkan hasil pertanian masyarakat Haraggaol yang diperoleh sudah sangat minim dan bahkan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, diperburuk lagi dengan kondisi tanah yang sudah tidak subur lagi sehingga tanaman yang ditanami tidak menghasilkan dan hal ini berlangsung hampir satu dekade lamanya.
Beberapa kali mencoba mengganti jenis tanaman juga tidak ada harapan untuk menghasilkan hasil panen yang cukup untuk menutupi kehidupan ekonomi masayarakat. Bahkan tanaman pisang yang menjadi tanaman primadona daerah ini dahulunya tidak lagi dapat bertumbuh dengan baik. Akibat kurangnya hasil panen dari ladang, maka masyarakat Haranggaol beralih menjadi petani keramba jaring apung setelah melihat keberhasilan program Opsus tersebut.
Kegagalan-kegagalan dalam bercocok tanam tanaman dan keberhasilan dalam membudidayakan ikan mas atas program Opsus membawa masyarakatnya
mulai tertarik untuk lebih mengetahui tata pengelolahan keramba jaring apung dan mengembangkannya dengan membuat keramba jaring apung disekitaran danau Haranggaol. Sekitar tahun 1996, masyarakat Haranggaol terinspirasi dan mulai mencoba untuk membudidayakan ikan air tawar jenis ikan mas dan mulailah keramba jaring apung di kawasan danau Toba memiliki jumlah keramba yang terus bertambah. Awalnya, para petani keramba jaring apung membudidayakan ikan mas. Dan pembudidayan tersebut membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk siap dipanen. Hingga pada akhirnya, permintaan konsumen yang meningkat terhadap konsumsi ikan mas maka para pemilik keramba mulai pemberian pakan ikan dengan pellet, yang sebelumnya hanya menggunakan sayur-mayur hasil ladang masyarakat, agar berat ikan siap dijual diusia seratus hari atau tiga bulan lamanya.
Keberhasilan keramba jaring apung mereka terus berlanjut dan menghasilkan panen yang membawa peningkatan taraf ekonomi masyarakatnya.
Ini terbukti dari rumah-rumah penduduk yang mulai menjulang tinggi (bertingkat-tingkat), berdinding tembok dan juga beralaskan keramik maupun marmer.
Rumah penduduk saat ini sudah tidak terlihat lagi rumah-rumah yang masih bersifat rumah tradisional. Dan membawa masyarakatnya memiliki alat transportasi tidak hanya beroda dua melainkan juga beroda empat, yang kata penduduk setempatnya hal inilah yang membuat transportasi umum ditempat ini tidak dapat berkembang, dikarenakan penduduknya malas menggunakan transportasi umum karena memiliki transportasi untuk pergi ke suatu tempat.
Namun pada tahun 2004 semua ikan mas di serang virus Koi Herves dan menyebabkan seluruh ikan yang berada di keramba jaring apung mati sehingga
banyak kerugian yang ditanggung oleh para petani. Awalnya virus ini menyerang salah satu petani keramba yang menyebabkan ikannya pada bermatian. Dan merambas ke keramba milik petani lainnya sehingga menyebabkan beribu-ribu ton ikan mati. Akibat serangan virus Koi Herves yang telah menyerang ikan mas para petani mulai mengembangkan ikan nila. Ikan nila dipercaya oleh para petani bisa mengurangi tingkat kematian ikan mas. Dan ternyata hal ini benar, pemeliharaan ikan nila bisa mengurangi tingkat kematian ikan mas. Hal inilah yang membuat petani keramba mulai menggabungkan pemeliharaan ikan mas dengan nila hingga sampai saat ini.
Perekonomian masyarakat Haranggaol bisa dikatakan stabil hingga saat ini karena keramba jaring apung. Keramba jaring apung telah menjadi solusi bagi masalah ekonomi setelah terjadinya krisis moneter di Haranggaol. Terbukti dari keuntungan keramba yang bisa mencapai lima juta hingga tujuh juta setiap tiga bulan atau seratus hari per petak (satu unit terdapat dua petak keramba) keramba jaring apung. Hasil tersebut disampaikan para petani dengan perkiraan ukuran satu keramba 4x4 meter dan dengan atau ukuran 5x5 meter. Untuk satu keramba jaring apung bisa menampung tujuh ribu ekor ikan nila dan tiga ribu ikan mas dengan produksi mencapai lebih dari satu ton dan harga jual berkisar dua puluh delapan rupiah per kilogramnya untuk ikan mas dan dua puluh enam ribu rupiah untuk ikan nila.
Pengelolaan keramba yang terbilang mahal dengan biaya dua puluh juta lebih per lubangnya tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Haranggaol untuk menjalankan usaha keramba jaring apung. Hal yang terbukti dengan semakin banyaknya jumlah keramba. Masyarakatnya yang mulai merasakan dampak
peningkatan ekonomi dari keramba ini mengembangkan beberapa unit keramba jaring apung mereka lagi. Keramba jaring apung yang ada sebagian besar dimodali oleh pengusaha yang dimana satu pengusaha bisa memiliki hingga ratusan unit keramba dari beberapa petani didalam kelompok mereka.
peningkatan ekonomi dari keramba ini mengembangkan beberapa unit keramba jaring apung mereka lagi. Keramba jaring apung yang ada sebagian besar dimodali oleh pengusaha yang dimana satu pengusaha bisa memiliki hingga ratusan unit keramba dari beberapa petani didalam kelompok mereka.