BAB VI ANALISIS JARINGAN SOSIAL EGO CENTRIC KERAMBA
6.3 Implikasi Teori Dengan Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian mengenai analisis jaringan sosial yang terbentuk antara pedagang pengumpul (petani pemilik modal/pengusaha) atau disebut dengan aktor ego dengan petani bagian dalam kelompok maupun petani diluar kelompok atau disebut dengan aktor alter di daerah Haranggaol, diketahui bahwa ikatan-ikatan yang terbentuk disebabkan oleh adanya kepentingan yang berbeda sehingga mempunyai akses yang berbeda pula terhadap sumber daya yang ada.
Kepentingan pedagang pengumpul (pengusaha/petani pemilik modal) dalam menghasilkan panen ikan dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar menyebabkan pedagang pengumpul membutuhkan hasil panen dari beberapa petani baik dalam kelompok maupun diluar kelompok.
Menjadi bagian dari pemasaran itu dibentuk karena adanya kepercayaan antara aktor ego dengan aktor alter ataupun antara alter dengan alter.
Kepentingan yang berbeda ini juga akan membawa mereka menjalin hubungan yang secara sengaja akan membentuk simpul/link di antara mereka.
Simpulan-simpulan/link yang terjalin akan secara sadar membentuk jaringan sosial di antara mereka.
Seperti yang diungkapkan oleh Granovetter dalam (Ritzer & Goodman, 2008:382) bahwa hubungan yang terjadi berlandaskan gagasan, bahwa aktor (individu atau kolektifitas) berada pada stratifikasi yang berbeda sehingga mempunyai akses yang berbeda pula terhadap sumber daya bernilai (kekayaan, kekuasaan, informasi). Ikatan-ikatan ini akan menghasilkan simpul-simpul jaringan yang saling terhubung.
Menurut Lawang (2004) jaringan sosial (social network) adalah sebuah struktur sosial yang tercipta dari individu-individu atau organisasi yang lazim disebut node yang terikat atau terhubung oleh satu atau lebih karakteristik interdepensi tertentu diantara mereka. Beberapa contoh dari jaringan sosial antara lain, persahabatan, kekerabatan, pertukaran financial , hubungan ketaksukaan, hubungan seksual atau hubungan kepercayaan, pengetahuan atau prestise.
Dalam hal ini akses bagi aktor ego dalam memasarkan hasil panen ikan lebih tak terbatas (luas), sedangkan aktor alter terlebih alter yang berada diluar kelompok ego terbatas dalam hal memasarkan hasil panen ikan. Dalam akses modal, bagi aktor alter yang terbatas untuk memenuhi semua modal yang jumlahnya terbilang tidak sedikit dalam berkeramba jaring apung dapat menjalin kerjasama dengan aktor ego agar usahanya tetap berjalan. Kerjasama yang terjalin merupakan hasil komunikasi dari aktor-aktor atas informasi yang didapat.
Informasi yang didapat merupakan informasi dari kerabat-kerabat dekat meliputi keluarga, teman-teman kumpul diwarung ataupun teman-teman satu dusun.
Bagi aktor ego, untuk menjadikan usahanya tetap berjalan serta menghasilkan sesuai yang dikehendaki maka aktor ego memberikan kepercayaan kepada aktor alter dalam meminjam modal untuk usaha keramba ikan yang akan berlanjut pada penjualan ikan hasil panen. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya aktor alter yang merupakan bagian dari keluarga baik keluarga dekat maupun keluarga jauh yang masi bertempat tinggal di Haranggaol. Dengan aktor alter yang merupakan keluarga dari aktor ego, kepercayaan dalam menjalankan usaha keramba akan terus tetap terjalin.
Berdasarkan hasil data yang telah disajikan, maka informasi yang didapat oleh aktor-aktor alter agar terhubung dengan aktor ego adalah informasi verbal dari orang-orang terdekat dengan mereka. Orang-orang terdekat yang pastinya tidak akan memberikan informasi yang tidak menguntungkan. Sikap saling percaya yang ada tumbuh karena orang-orang tersebut ada eratan dengan keluarga maupun kerabat dekat.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
Haranggaol yang sampai saat ini masih menjadi sentralitasnya keramba jaring apung di danau Toba menjadikan daerah ini daerah penghasil ikan keramba yang lebih banyak bila dibandingkan daerah-daerah lainnya di sekitaran danau Toba. Keramba jaring apung adalah mata pencaharian sebagian besar penduduk Haranggaol selain pariwisata dan pertanian. Yang dimana pariwisata dan pertanian hanya sebagai mata pencahrian sampingan atau bahkan sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakatnya disebabkan kurangnya hasil pemasukan dari pariwisata dan pertanian. Pariwisata yang hanya pada saat hari-hari tertentu saja bisa menghasilkan serta pertanian yang kualitas tanamannya semakin buruk akibat unsur tanah yang buruk juga tidak cukup membantu pemenuhan kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Usaha budidaya keramba ikan jaring apung pada saat mulai digalakkan didaerah ini dilakukan oleh penduduk-penduduk setempat. Hingga berlanjut dari tahun ke tahun, usaha keramba jaring apung menarik minat para investor dari daerah lain di luar Haranggaol bahkan diluar Sumatera Utara. Hal ini diketahui hingga pada saat tahun 2004. Namun tanpa diketahui apa sebabnya, virus Koi Herves melanda ikan-ikan di Haranggaol yang menyebabkan ikan-ikan mati hingga berton-ton banyaknya. Kematian ikan ini menyebabkan para investor dari luar Haranggaol dan di luar Sumatera Utara lepas tangan dalam hal penanganan kejadian ini.
Dari kejadian ini, maka penduduk Haranggaol membuat kesempakatan agar yang berhak mengelola danau Toba disekitaran daerah mereka menjadi usaha keramba jaring apung adalah masyarakat mereka sendiri yang berdomisili ditempat ini. Tidak diperkenankan lagi orang luar yang mengambil bagian dalam usaha ini. Adapun orang luar yang ingin membuka usahanya tersebut haruslah mereka yang memang warga asli Haranggaol yang merantau dan harus kembali bermukim ditempat ini.
Dalam usaha keramba jaring apung ada aktor-aktor yang berperan dalam menjalankan usaha ini agar usaha ini tetap berjalan. Aktor-aktor ini meliputi para petani keramba jaring apung, pedagang pengumpul (pengusaha/pemilikmodal) dan para pekerja keramba. Pentingnya aktor-aktor ini dalam menjalankan usahanya terlebih saat menjual hasil panen ikannya membuat ikan segera didistribusikan ke pedagang pengecer dipasar-pasar. Hal ini terus berlanjut sehingga membentuk jaringan sosial diantara mereka.
Para petani mengontak pedagang pengumpul (pengusaha/pemilik modal) untuk merintis usahanya, terkhusus mereka yang ingin bergabung kedalam kelompok seorang pedagang pengumpul (pengusaha/pemilik modal) dan sebagian mengontak sesama petani. Jaringan sosial yang terbentuk diantara aktor-aktor ini adalah jaringan sosial egocentric yang berpusat pada aktor ego dan aktor alter adalah aktor yang menjalin relasi dengan ego.
Hasil pengamatan dilapangan ada tiga aktor ego dalam usaha keramba jaring apung di daerah ini yakni aktor ego Aseng Sinaga, Irwan Rajagukguk dan Bombom Haloho. Dalam jaringan sosial ego yang terjalin dalam kelompok mereka selain aktor alter yang berada dalam kelompok mereka ada juga aktor
alter yang berada diluar kelompok mereka ikut menjual hasil panen ikannya kepada mereka. Selain aktor alter menghubungi aktor ego ada beberapa aktor alter yang menghubungi aktor alter lainnya dalam jaringan sosial yang terbentuk dari ketiga jaringan sosial ego tersebut.
Ketiga jaringan sosial egocentric tersebut memiliki ikatan/link, ukuran, kepadatan yang berbeda-beda tentunya. Jaringan sosial ego Aseng Sinaga (Rohakinian) memiliki ikatan/link sebanyak 19 ikatan/link, 14 ukuran jaringan dengan kepadatan 0,033 dalam jaringannya. Jaringan sosial ego kelompok Rohakinian memebentuk jaringan sosial terbuka dengan jumlah empat ikatan/link antar alter. Pada jaringan sosial Irwan Rajagukguk (Siharo) memiliki ikatan/link sebanyak 34 ikatan/link, 27 ukuran jaringan dengan kepadatan 0,014 dalam jaringannya. Jaringan sosial Siharo membentuk jaringan terbuka karena ada tujuh ikatan/link yang terjalin antar alter. Sementara itu dalam jaringan sosial Bombom Haloho (Paimaham) terdapat sebanyak 57 ikatan/link, 46 ukuran jaringan dan 11 ikatan/link antar alter yang membentuk jaringan sosial tertutup karena ikatan yang terjalin antar alter dimana kohesivitas jaringannya sedang. Ketiga kelompok jaringan tidak memiliki jarak diameter karena tidak adanya perantara dari aktor alter menuju aktor ego. Tidak seorang aktor alter pun yang saling menghubungi baik jarak terdekat maupun terjauh dalam mengontak aktor ego. Setiap aktor alter langsung mengontak aktor ego. Aktor alter saling menghubungi untuk memberitahu aktor ego siapa yang dapat membantu memodali usaha keramba mereka.
Hubungan-hubungan yang terjadi dalam setiap jaringan sosial kelompok dipengaruhi oleh adanya ikatan kekeluargaan dan juga pertemanan diantara aktor
ego dengan aktor alter ataupun aktor alter dengan aktor alter yang tercipta karena seringnya berkumpul disebuah warung serba guna bagi masyarakatnya, bisa sebagai tempat minum kopi, teh atau yang lainnya, tempat bermain catur, kartu dan lain-lainnya. Ikatan kekeluargaan yang menjadikan jaringan ini tetap terus terjalin.
7.2. Saran
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti dilapangan maka disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Saran teoritis
Bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian dalam jaringan sosial ini hal kajian selanjutnya dapat ditarik dengan pendekatan modal sosial dan keterlekatan sosial dalam jaringan yang terbentuk. Dimana para petani dalam maupun luar keluar kelompok memiliki modal sosial dalam memasarkan hasil panen ikan keramba bukan hanya dari jaringan sosial. Begitu juga dengan keterlekatan sosial yang terjadi antara petani dalam kelompok dengan pedagang pengumpul. Petani dalam kelompok terikat perjanjian dari mulai ikut bergabung yakni membeli benih ikan, pakan ikan dan menjual hasil panen ikan kepada pedagang pengumpul.
2. Saran akademis
Diperlukan kajian yang lebih mendalam lagi kepada para akademis yang meneliti mengenai analisis jaringan sosial untuk dapat membantu pemetaan jaringan sosial secara menyeluruh baik itu antara aktor-aktor utama maupun aktor-aktor pelengkap dalam jaringan sosialnya seperti para pekerja, para distributor ikan yang mati dikolam dan lain sebagainya.
3. Saran praktis
- Jaringan sosial yang terjalin sesama aktor, aktor ego dengan alter dan alter dengan alter, merupakan kunci utama untuk bisa membantu para petani (alter) dalam memasarkan/menjual ikan hasil panennya. Oleh karenanya, diperlukan pertemuan-pertemuan agar keakraban para aktor semakin intens serta menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan untuk memajukan sistem pemasaran yang saling sama-sama menguntungkan kedua belah pihak.
- Karena pada dasarnya jaringan sosial ini terjalin karena adanya hubungan kekeluargaan yang saling keterkaitan dan pertemanan yang kental menyulitkan bagi penduduk pendatang untuk bisa menjalankan usaha keramba. Oleh karena itu dibuat sebuah organisasi yang bisa membantu penduduk pendatang untuk menaungi mereka membuka usaha keramba.
DAFTAR PUSTAKA
Affan, J.M. 2012. Identifikasi Lokasi Untuk Pengembangan Budidaya Keramba Jaring Apung Berdasarkan Faktor Lingkungan dan Kualitas Airdi Perairan Pantai Timur Bangka Tengah. Depik 1(1): 78-85. ISSN 2089-7790.
Amiruddin, Suwaib. 2014. Jaringan Sosial Pemasaran Pada Komunitas Nelayan Tradisional Banten. Journal Komunitas 1 (6). 106-115. ISSN 2086-5465.
Agusyanto, Ruddy. 2007. Jaringan Sosial Dalam Organisasi. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kab. Magelang ). Jurnal Perencanaan Kota A SAPPK. Volume 4. Nomor 1.
Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial, Format-Format Kuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Airlangga Univesity Press.
Buts, Cartir.T. 2008. Social Network Analysis with SNA. Journal of Statistical Software. Volume 24. Issue 6
Coleman, James S. 2009. Dasar-dasar Teori Sosial. Bandung: Nusa Media Damsar. 2011. Sosiologi Ekonomi. Cetakan ke-2. Jakarta : Kencana
Dardiani & Intan, R.S., 2010. Mata Diklat 7 Manajemen Pemasaran. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pertanian.
Doreian, Patrick et al. 2016. Identifying Fragments in Network for Structural Balance and Tracking the Level of Balance Over Time. Volume 35. Issue
Eriyanto. 2014. Analisis Jaringan Komunikasi : Strategi Baru Dalam Penelitian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.
Fachrina. 2005. Pola Jaringan Sosial Masyarakat Nelayan Tradisional Pada Musim Panceklik. Jurnal Sosiologi SIGAI. Volume VI. Nomor 9.
Field, John. 2005. Modal Sosial. Medan: Bina Medan Perintis.
Fukuyama, Francis. 2002. Trust Kebajikan dan Penciptaan Kemakmuran.
Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Guilano, Enrico Julio dan Handoyo, Pambudi. 2014. Pola Rekrutmen Surveyor Pada Lembaga Survei PT. TNS Di Kota Surabaya. Paradigma. Volume 02. Nomor 03.
Hardiyanti, Octalina. 2013. Analisis Pemanfaatan Jaringan Sosial Center For Orangutan Protection ( COP ) di Kalimantan Dalam Upaya Penyelamatan Orangutan. eJournal Pemerintahan Integratif. 1-11. Volume 01. Nomor 01.
Hawe, Penelope et al. 2004. A Glossary of terms for navigating the field of social network analysis. Journal Epidemiol Community Health. 58:971-975, doi:10.1136/jech.2003.014530
Insani, Nur dan Waryanto, Nur Hadi. 2012. Penerapan Teori Graf Pada Analisis Jejaring Sosial Dengan Menggunakan Microsoft Microsoft NodeXL.
Pythagoras. Volume 7. Nomor 1.
KemenPUPR. 2016. Inkubasi Kawasan Danau Toba.
http://www.pu.go.id/uploads/services/infopublik20160330174236.pdf
Madja Purba, Darwan. 2007.Musik Tradisional Simalungun.Majalah Sauhur (Agustus 2007)
Martino, Gaetono et al. 2014. Social Network Analysis in Encouraging Role- Players in the Beef Market to Take Breeding Decisions: A Methodological Study. Italian Journal Of Animal Science. Volume 12.
E9.
Mudiarta, Ketut Gede. 2009. Jaringan Sosial (Networks) Dalam Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis : Perspektif Teori dan Dinamika Studi Kapital Sosial. Journal Forum Penelitian Agro Ekonomi. 1-12. Volume 27. Nomor 1.
Nadhiroh, Muflikh Irene. Aidi, Muhammad Nur. Sartono, Bagus. 2014. Kajian Scientometrics: Analisis Jaringan Sosial Pada Publikasi Internasional Indonesia Bidang Kimia. Pusat Penelitian Perkembangan Iptek, LIPI.
Volume 13. Nomor 01. ISSN 1907-9753.
Najamudin. 2014. Penguatan Jaringan Sosial ( Social Network ) Dalam Pengembangan Sistim Usaha Masyarakat Kelurahan Gerantung Kabupaten Lombok Tengah. Jurnal Transformasi P2M IAIN Mataram.Volume 10. Nomor 02.
Prastowo, Andi. (2011). Metode Penelitian Kualitatif. Jogyakarta: Ar- Ruz Media Rachmatun Suyanto, S. 2010. Pembenihan dan Pembesaran Nila. Jakarta :
Penebar Swadaya. (e-book).
Rice, Eric and Maxwell-Amanda Yoshioka. 2015. Social Network Analysis as a Toolkit for the Science of Social Network. Journal of The Society for Social Work and Research. Volume 6. Number 3. doi. 10.1086/682723.
Rismawati. 2010. Analisis Daya Dukung Perairan Danau Toba Terhadap Kegiatan Perikanan Sebagai Dasar Dalam Pengendalian Pencemaran Keramba Jaring Apung [Tesis]. Sumut : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Ritzer, George. 2007. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada.
Siagian, Mindo Tua. 2013. Model Pengelolaan Keramba Jaring Apung (KJA) Masyarakat Berkelanjutan Di Danau Toba [Disertasi]. Sumut : Universitas Sumatera Utara, SPs (Sekolah Pascasarajana).
Soumokil, Ofir Victor. Manongga, Danny dan Hendry. 2013. Pengaruh Sentralitas Aktor Dalam Jaringan Sosial Game Online Massive Multiplayer Online Role Playing Game Menggunakan Social Network Analysis. SENTIKA.
ISSN 2089-9815.
Sulistiawati, Asri. 2014. Analisis Jaringan Sosial Dalam Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Tani Berkah. Jurnal Sosiologi Pedesaan. 2302-1517 Volume 02. Nomor 02.
Surata, Sang Putu Kaler. Vipriyanti, Nyoman Utari dan Falk, Ian. 2010. Social Network Analysis Assessing Social Capital Biosecurity Ecoliteracy.Jurnal Ilmu Pendidikan. Jilid 17. Nomor 3.
Soekanto, Soerjono.2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pers Syafei, L.S. 2005. Penebaran Ikan Untuk Pelestarian Sumberdaya Perikanan (Fish
Restocking for Sustaining Fishiries Resources). Jurnal Iktiologi Indonesia.
Volume 3. Nomor 2.
Triyanti, Riesti. Yuliaty, Christina dan Apriliani, Tenny. 2014. Peran Jaringan Sosial Nelayan Pada Pemasaran Tuna, Cakalang dan Tongkol: Studi Kasus Di Kota Kendari. Jurnal Sosek KP. Volume 9. Nomor 2.
Turner, Rachel. A ,et al. 2014. Social Network and Fishers’ Behaviour: Exploring The Links Between Information Flow And Finishing Success In The Northumberland Lobster Fishery. Ecology and Society. Volume 19. Issue 2.
Valente, Thomas W et al.2015. Social Network Analysis for Program Implementation. Journal Pone. PLUS ONE. doi.0131712.
Webster, Cynthia M and Morrison, Pamela. 2013. Network Analysis in Marketing.
Australasian Marketing Journal. Volume 12 (2)
Zulkarnain. Lubis, Djuara P. Satria, Arif. Hubies, Musa. 2015. Jaringan Komunikasi Dalam Kegiatan Distribusi Dan Pemasaran Pada Pembudidaya Ikan Di Kabupaten Kampar, Riau. Jurnal Sosek KP. Volume 10 No. 1.
Lampiran
PEDOMAN WAWANCARA
Penelitian Dengan Judul :
“Ego-Centric Social Network Analysis Pada Pemasaran Keramba Jaring Apung (KJA) di Desa Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horison, Kabupaten Simalungun
A.1. Identitas Informan (Petani Ikan Keramba)
1. Nama :
2. Jenis Kelamin :
3. Usia :
4. Pendidikan : 5. Pekerjaan Utama : A.2. Keramba Jaring Apung
1. Status kepemilikan usaha : punya sendiri/ warisan/ mengganti milik orang lain/ kepunyaan orang lain.
2. Sejak kapan anda menggeluti usaha keramba jaring apung ini?
3. Berapa jumlah keramba yang anda miliki?
4. Apakah usaha keramba jaring apung ini adalah mata pencaharian utama anda?
5. Bagaimana pengelolaan usaha anda (bagi yang punya keramba)?
(sendiri atau dibantu oleh kerabat/orang lain) 6. Bagaimana perkembangan usaha anda sekarang?
7. Berapa kg/ton setiap kali panen dari semua keramba jaring apung yang anda miliki/kelola?
A.3. Jaringan Sosial
1. Bagaimana hubungan sosial anda dengan para petani keramba jairng apung yang ada disini dan pedagang pengumpul?
2. Apakah anda melakukan hubungan sosial kepada semua petani keramba yang ada disini atau hanya sebagian kecil saja?
3. Apa saja unsur yang membuat anda menjalin hubungan sosial dengan petani keramba lainnya?
4. Dalam setiap hubungan sosial dan interaksi dengan orang, apa saja prinsip atau aturan yang anda pegang dan sering anda lakukan?
5. Dalam setiap hubungan sosial yang anda bangun dengan petani keramba lainnya dan pedagang pengumpul, apakah ada kepercayaan dan atas unusr apa anda mempercayainya?
6. Atas dasar pertimbangan/ unsur apa yang bisa membuat anda mempercayai pedagang pengumpul tersebut?
7. Sudah berapa lama hubungan sosial anda terbentuk dengan mereka?
A.4. Kelangsungan Pemasaran
1. Dalam proses pemasaran untuk pertama kalinya bagi anda, anda mencari tahu informasi akan pemasaran dari siapa?
2. Apakah ada kesepakatan tertentu dalam pemasaran yang anda jalin?
3. Bagaimana sistem pemasaran yang terbentuk antara anda dengan pedagang pengumpul?
B.1. Identitas Informan (Pedagang Pengumpul)
1. Nama :
2. Jenis Kelamin :
3. Usia :
4. Pendidikan :
1. Apa yang membuat anda menjadi seorang pedagang pengumpul?
2. Bagaimana caranya anda bisa menjadi pedagang pengumpul di area peternakan ikan ini?
3. Berapa lama anda menjadi pedagang pengumpul ditempat ini?
B.2. Jaringan Sosial
1. Bagaimana cara anda bisa membentuk hubungan sosial dengan petani-petani keramba jaring apung baik dalam kelompok dan diluar kelompok anda?
2. Selain adanya rasanya kepercayaan, apa unsur lainnya yang membuat anda menjalin hubungan sosial dengan para petani keramba?
3. Ada berapa petani keramba yang menjalin kerjasama dalam hal pemasaran hasil ikan dengan anda?
4. Apa yang membuat anda untuk menerima petani keramba menjadi kelompok anda?
5. Berapa lama anda menjalin hubungan sosial dengan petani keramba jaring apung?
6. Bagaimana jaringan sosial yang anda bentuk?
B.3. Keberlangsungan Pemasaran
1. Apa saja kesepakatan yang anda tentukan dalam keberlangsungan pemasaran ini?
2. Selain dengan petani keramba, dengan siapa saja anda membentuk sistem pemasaran sebelum pindah ketangan pedagang pengecer?
3. Bagaimana sistem pemasaran baik dalam kelompok dan diluar kelompok anda yang anda lakukan?
DOKUMENTASI
1.a. Sebagian Keramba Jaring Apung Haranggaol tampak dari darat (Sumber:
dokumentasi pribadi, Oktober 2017)
1.b. Sebagian Kerambah Jaring Apung Haranggaol tampak dari danau (Sumber:
dokumentasi pribadi, Oktober 2017)
2.a. Perahu kapal tempat ikan yang akan segera dikemas plastik (packing)
2.b. Perahu kapal tempat ikan yang akan segera dikemas plastik (packing)
3.a. Suasana para pekerja pengusaha pedagang pengumpul mengemas (packing) ikan yang akan didistribusikan ke pedagang pengecer di pasar-pasar
3.b. Suasana para pekerja pengusaha pedagang pengumpul mengemas (packing) ikan yang akan didistribusikan ke pedagang pengecer di pasar-pasar
5. Kendaraan yang membawa hasil panen ikan ke pedagang pengecer (Paimaham)
Tabel Analisis Jaringan Sosial Ego
Tabel 6.1
Ukuran, Kepadatan, Diameter, Ikatan Dalam Jaringan Aseng Sinaga
No. Nama Size Ties Pairs Densit AvgDis Diamet nWeakC pWeakC 2StepR 2StepP ReachE Broker nBroke nClose EgoBet nEgoBe
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 Aseng Sinaga 17,00 7,00 272,00 2,57 9,00 64,71 17,00 100,00 58,62 132,50 0,97 6,00 0,00 0,00
2 Jansen Saragih 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 17,00 100,00 89,47 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
3 Ebet Sihotang 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
4 Pak Purba 1 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
5 Agus Sinaga 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 17,00 100,00 80,95 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
6 Rinson Sinaga 3,00 2,00 6,00 33,33 1,00 33,33 17,00 100,00 73,91 2,00 0,67 2,00 1,00 16,67
7 Martuah Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
8 Dinus Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
9 Edin Sinaga 4,00 2,00 12,00 25,00 1,00 25,00 17,00 100,00 70,83 2,00 0,67 2,00 1,00 16,67
10 Juan Sidauruk 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
11 Dodi Samosir 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 17,00 100,00 89,47 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
12 Jontel Sinaga 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 17,00 100,00 89,47 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
13 Dedy Sinaga 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 17,00 100,00 85,00 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
14 Pardogi Simarmata 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
15 Lingga 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 17,00 100,00 89,47 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
16 Pak Purba 2 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
17 Mardi Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 17,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
18 Ben Siboro 2,00 1,00 2,00 5,00 1,00 50,00 17,00 100,00 80,95 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
Tabel 6.2
Hasil Density Pada Aktor Ego
No. Nama Size Avg De Density
1 2 3
1 Aseng Sinaga 17,00 0,412 0,026 2 Jansen Saragih 2.000 0,500 0,500 3 Ebet Sihotang 1.000 0,000
4 Pak Purba 1 1.000 0,000
5 Agus Sinaga 2.000 0,500 0,500 6 Rinson Sinaga 3.000 0,667 0,333 7 Martuah Sinaga 1.000 0,000
8 Dinus Sinaga 1.000 0,000
9 Edin Sinaga 4.000 0,750 0,250 10 Juan Sidauruk 1.000 0,000
11 Dodi Samosir 2.000 0,500 0,500 12 Jontel Sinaga 2.000 0,500 0,500 13 Dedy Sinaga 2.000 0,500 0,500 14 Pardogi Simarmata 1.000 0,000
15 Lingga 2.000 0,500 0,500
16 Pak Purba 2 1.000 0,000 17 Mardi Sinaga 1.000 0,000
18 Ben Siboro 2.000 0,500 0,500
Tabel 6.3.
Ukuran, Kepadatan, Diameter, Ikatan Dalam Jaringan Irwan Rajagukguk
Size Ties Pairs Densit AvgDis Diamet nWeakC pWeakC 2StepR 2StepP ReachE Broker nBroke nClose EgoBet nEgoBe
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 Perdana sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 1,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
2 Manchen Purba 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
3 Chandra Purba 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
4 Ari Saragih 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
5 Jorris 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
6 Michael Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
7 Ando Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
8 Asmer Sijabat 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
9 Lamhot 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
10 Sepri Simarmata 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
11 Lila 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
12 Mieke Sidauruk 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
13 Rikson Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
14 Resel Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
15 Eva Pakpahan 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 84,38 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
16 Lingga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 1,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
17 Puncamen Saragih 5,00 4,00 20,00 20,00 1,00 20,00 27,00 100,00 77,00 0,00 0,00 0,00
18 J Saragih 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 84,38 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
19 Rinto Samosir 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
20 Sardimus Sinaga 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
21 Ogen Sinaga 1,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
22 Pulga Simarmata 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,00 0,50 0,00 0,00
23 Yedi Sipayung 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
24 San Saragih 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 84,38 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
25 Jan Purba 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 93,10 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
26 Juel Girsang 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 27,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
27 Ober Sidauruk 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 27,00 100,00 84,38 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
28 Irwan Rajagukguk 27,00 10,00 702,00 1,42 19,00 70,37 27,00 100,00 62,79 346,00 0,99 10,00 0,00 0,00
Tabel 6.4.
Tabel 6.3
Ukuran, Kepadatan, Diameter, Ikatan Dalam Jaringan Bombom Haloho
No. Nama Size Ties Pairs Densit AvgDis Diamet nWeakC pWeakC 2StepR 2StepP ReachE Broker nBroke nClose EgoBet nEgoBe
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
1 Bombom Haloho 46,00 11,00 20,70 0,53 35,00 76,09 46,00 100,00 676.510 29,50 0,99 11,00 0,00 0,00
2 Jepri Simarmata 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
3 Jarisman Purba 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 93,88 0,00 0,50 1,00 0,00 0,00
4 Sumardin Sihotang 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
5 J Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
6 Bresman Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
7 Desman Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
8 Rikson Purba 6,00 0,00 0,00 16,67 1,00 16,67 46,00 100,00 82,14 12,50 0,83 5,00 0,00
9 Rikky Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
10 Arya Munthe 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
11 Jhon Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
12 Warisman Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
13 Tomy Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
14 Panda Purba 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 88,46 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
15 Flora Saragih 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 93,88 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
16 Oldes Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
17 Manihuruk 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
18 Belli Sinaga 3,00 2,00 6,00 33,33 1,00 33,33 46,00 100,00 92,00 2,00 2,00 1,00 1,00 16,67
19 Anto Silalahi 2,00 5,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 88,46 0,50 1,00 0,00 0,00 0,00
20 Romy Sinaga 1,00 0,00 00,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
21 Parman Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
22 Petrus Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00
23 Roy Sitio 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 88,46 0,50 1,00 0,00
24 Sariambah Saragih 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 88,46 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
25 Jona Purba 3,00 2,00 6,00 33,33 1,00 33,33 46,00 100,00 92,00 2,00 0,67 2,00 0,00 0,00
26 Saling Sinaga 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 46,00 100,00 100,00 93,88 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
27 Hendrik Simarmata 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00
28 Panser Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00
29 Elidin Sialagan 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00
30 Hendisen Simarmata 1,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 100,00 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
31 Uba Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00
32 Sardinus Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
33 Ery Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
34 Polman Simarmata 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 88,46 0,50 0,50 1,00 1,00
35 Julius Saragih 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
40 Mardi Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
41 Topher Sinaga 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
42 Rudy Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
43 Uttok 2,00 1,00 2,00 50,00 1,00 50,00 46,00 100,00 93,88 0,50 0,50 1,00 0,00 0,00
44 Junar Sijabat 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
45 Sokay 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
46 Jan Purba 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
47 Pak Juntak 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 100,00 46,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00
Tabel 6.4.