• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TESIS OLEH FERIEL AMELIA SEMBIRING (Halaman 25-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai berikut:

1. Aspek akademik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan literatur yang lebih mendalam lagi mengenai analisis jaringan sosial ego-centric yang terjadi dalam hal pemasaran antara pedagang pengumpul/pengusaha/petani pemilik modal (ego) dan para petani keramba jaring apung (alter), sehingga dapat diketahui seberapa banyak aktor alter dengan ego serta aktor alter dengan alter yang terhubung dan pola jaringan yang terbentuk berdasarkan hasil analisis jaringan serta hubungan-hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial di antara mereka.

2. Aspek Praktis

Selain dari aspek akademik, penelitian ini diharapkan dari aspek praktis dapat memberikan sumbangsih berupa referensi terhadap pembuat kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah berusaha memberikan gambaran utuh kepada mereka mengenai kondisi para petani keramba dalam memasarkan hasil panen, sehingga dapat membantu memberikan informasi lebih lanjut sistem pemasaran bagi para petani yang mau atau masih merencanakan untuk membuka usaha keramba serta memungkinkan juga untuk bisa menjangkau ke daerah-daerah yang lebih banyak lagi. Juga dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah

terkhususnya pemerintah pusat bahwa kawasan ini merupakan lahan untuk mata pencaharian masyarakat lokalnya sehingga tidak akan mengambil keputusan dengan menutup semua keramba jaring apung demi membangun kota wisata, dengan diberlakukannya zona untuk keramba maka keberlangsungan mata pencaharian masyarakatnya akan tetap terus berlangsung. Dan khususnya pedagang pengumpul, penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai analisis jaringan sosial dalam hal ini gambaran jaringan sosial yang terbentuk sehingga saling mengguntungkan diantara mereka yang terjalin jaringan sosial.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Pustaka

2.1.1. Analisis Jaringan Sosial ( AJS )/Social Network Analysis(SNA)

Analisis jaringan sosial adalah studi tentang struktur yang mengacu pada keteraturan dalam pola hubungan antara individu, kelompok atau organisasi.

Analisis jaringan sosial merupakan salah satu kajian dalam sosiologi modern. Saat ini perkembangan analisis jaringan sosial sudah memasuki ranah studi-studi lainnya seperti studi biologi, komunikasi, ekonomi, geografi, kesehatan serta linguistik. Analisis jaringan sosial adalah analisis tentang pandangan akan hubungan-hubungan sosial yang didalamnya memuat berbagai bentuk jenis dan pola-pola hubungan antar pelaku dalam jaringan serta ikatan sosial antar pelaku dalam jaringan.

Asumsi mendasar analisis jaringan sosial adalah bahwa struktur jaringan, dan sifat-sifat struktur tersebut memiliki implikasi yang signifikan terhadap hasil kepentingan. Karena fokus pada struktur jaringan daripada karakteristik individu dan atau perilaku anggota jaringan, data yang diperlukan untuk analisis yang tepat berbeda dari apa yang biasanya dikumpulkan. Biasanya, desain penelitian yang berfokus pada karakteristik perilaku individu dan bagaimana karakteristik tersebut mempengaruhi yang lain, mengumpulkan dan melakukan analisis terhadap data atribut. Data atribut didefinisikan sebagai data yang mencerminkan sikap, pendapat, dan perilaku individu atau kelompok.

Sebaliknya, analisis jaringan sosial tidak hanya mensyaratkan data atribut, namun dibangun berdasarkan pengumpulan dan analisis data relasional. Data

relasional mengacu pada kontak, ikatan dan koneksi, yang menghubungkan satu agen dalam jaringan ke jaringan lainnya. Data relasional tidak dapat direduksi menjadi sifat masing-masing agen itu sendiri melainkan pada sistem kumpulan agen.

Wasserman dan Faust (1994) dalam Rice et al (2015) menjelaskan bahwa social network analysis (SNA) merupakan metode untuk menganalisis struktur

sosial mengenai berbagai elemen yang terdapat pada lingkungan sosial yang saling berhubungan. Berbeda dengan analisis sosial lainnya, SNA menitikberatkan analisisnya pada interaksi antar aktor. Terdapat dua jenis hubungan yang bisa dijelaskan dalam SNA, yaitu: pertama, directional relations: jenis hubungan “self choices” dimana hubungan yang terjadi antar aktor merupakan pilihan dari

masing-masing aktor dan tidak berlaku saling berkebalikan. Kedua, non directional relations: jenis hubungan dimana hubungan para aktor saling simetris.

Analisis jaringan sosial adalah interaksi ataupun hubungan yang terbentuk karena adanya jaringan antara aktor-aktor (node-node) yang dihubungkan dengan garis/simpul (link) yang dimana link menunjukkan adanya relasi. Jaringan memandang sistem apapun sebagai seperangkat aktor yang saling terkait atau node. Para aktor dapat mewakili entitas di berbagai tingkat kolektivitas, seperti orang, perusahaan, negara, dan sebagainya. Ikatan antara pelaku dapat dari berbagai jenis, seperti persahabatan, persaingan, dan sebagainya, dan dapat dicirikan bersama beberapa dimensi, seperti durasi, frekuensi, dan sejenisnya yang yang dapat digambarkan melalui sebuah diagram dengan menggunakan program pengolahan data jaringan sosial (Borgatti dan Xun Li, 2009)

Social network analysis berdasar atas asumsi tentang pentingnya hubungan diantara node-node yang berinteraksi meliputi teori, model, serta aplikasinya.

Dinyatakan berdasarkan konsep-konsep relasional atau proses analisis. Analisis jaringan tidak secara individu, tetapi dengan entitas yang terdiri dari individu-individu dan hubungan yang tercipta diantara mereka atau relasi antar anggota dalam sebuah kelompok.

Analisis jaringan sosial adalah suatu teknik untuk mempelajari hubungan atau relasi sosial antar anggota dari sebuah komunitas orang (Hanneman dan Ridldle, 2005) dalam Eriyanto (2014). Sedangkan pendapat lain yaitu Schelhas dan Cerveny, analisis jaringan sosial adalah suatu proses pembelajaran serta pemahaman mengenai jaringan-jaringan (formal maupun informal) pada bidang-bidang tertentu (Soumokil, et al. 2013). Dalam analisis jaringan sosial terdapat simpul dan garis. Simpul adalah aktor individual dalam jaringan dan garis adalah hubungan antara para aktor.

Analisis jaringan sosial memandang hubungan-hubungan sosial dan ikatan-ikatan sosial diantara pelaku atau aktor-aktor (nodes) yang hasil analisis struktur-sturktur sosiak dapat dideskripsikan dalam bentuk grafik atau diagram yang dikenal dengan sosiogram. Ada dua cara dalam menganalisis jaringan sosial yakni analisis jaringan sosial utuh (menyeluruh) dan analisis jaringan sosial egocentric. Analisis jaringan sosial utuh (menyeluruh) dan analisis jaringan sosial egocentric , aktor-aktornya dapat dibedakan. Dalam analisis jaringan sosial utuh (menyeluruh) aktor adalah nodes sedangkan analisis jaringan ego aktor-aktornya adalah ego dan alter. Analisis jaringan utuh mencari siapa aktor

centralnya sedangkan analisis jarigan ego aktor centralnya sudah diketahui yakni si ego sendiri.

2.1.2. Ego-centric Network

Analisis jaringan ego-centric, level aktor memusatkan perhatian pada bagaimana posisi aktor (ego) dengan aktor lainnya (alter). Pada jaringan ego-centric tidak membicarakan jaringan secara keseluruhan tetapi hanya jaringan yang melibatkan aktor ego-alter. Jaringan ego-centirc menyoroti efek bahwa jaringan ini dapat memiliki perilaku, yang pada gilirannya, menggarisbawahi pentingnya praktisi dan peneliti untuk memeriksa jaringan lokal seseorang untuk lebih memahami tingkat risiko dan faktor pelindung yang mempengaruhi individu.

Dalam analisis jaringan sosial ego-centric terdapat struktur yang dapat diketahui, meliputi:

1. Ukuran (Size)

Ukuran berkaitan dengan jumlah anggota dalam jaringan. Ukuran dari jaringan menentukan karakterikstik suatu jaringan. Ukuran dapat dihitung dengan menghitung berapa banyak link antara ego dan alter (Carolan 2013:147) dalam Eriyanto (2014). Jaringan dengan ukuran kecil, antar aktor (node) lebih kohesif dibandingkan dengan jaringan ukuran besar. Struktur relasi diantara aktor juga berbeda antara jaringan dengan ukuran kecil dan besar.

2. Kepadatan (Density)

Kepadatan (density) adalah perbandingan jumlah link (ties) yang ada dalam jaringan dengan jumlah link yang mungkin muncul. Jaringan dengan kepadatan tinggi adalah jaringan dimana anggotanya saling berinteraksi satu sama lain. Sebaliknya jaringan dengan kepadatan rendah ditandai dengan minimnya interaksi antar anggota jaringan.

Angka kepadatan bergerak dari 0 hingga 1, dimana semakin mengarah ke 1 berarti makin padat suatu jaringan.

3. Jarak (Distance) dan Diameter

Ukuran lain dalam jaringan ego yaitu jarak (distance) dan diameter.

Jarak adalah berapa rata-rata semua aktor (ego-alter) bisa saling mengontak satu sama lain. Menghitung jarak (distance) cukup sederhana. Hitung berapa jarak terdekat antara satu aktor bisa mengontak aktor lain. Jarak dari semua aktor tersebut kemudian dibuat rata-rata. Sementara diameter adalah jarak paling jauh seorang aktor bisa mengontak aktor lain dalam jaringan.

Data egocentric memungkinkan mengeksplor (menjelajah) keragaman hubungan jaringan yang mengelilingi individu-individunya misalnya, rekan-rekan yang berbasis dalam lingkungan, rekan-rekan-rekan-rekan yang berbasis dalam sekolah dan ataupun anggota keluarga. Jenis data berfokus pada individu yang sedang dipelajari yang disebut dengan ego dan alter, yang orang lain kepada siapa ego terikat (Butts, 2008) dalam Eric Rice et al (2015).

Dalam studi egocentric, peserta diminta untuk mencalonkan alter kepada siapa mereka terikat, atribut dari orang-orang tersebut dan sifat ikatan (hubungan)

pada setiap alter. Dan kemudian peserta diminta mengeksplorasi jika dan bagaimana alter terikat satu sama lain. Pertanyaan untuk mengumpulkan data tentang struktur jaringan lokal ego mudah diberikan melalui instrumen survei (Butts, 2003, 2008). Setelah jaringan ini dibangun maka dapat dipahami peran setiap anggota dalam jaringan, membantu menjelaskan akses ke informasi, aliran informasi, ketersedian dukungan dan memberi pengaruh banyak pada perilaku orang yang target potensialnya untuk upaya intervensi.

Jaringan egocentric terdapat dua ikatan yang terbentuk dalam jaringan antara ego dengan alter dan juga alter dengan alter yakni jaringan tertutup dan jaringan terbuka. Jaringan disebut terbuka jikalau relasi hanya terjadi antar aktor ego dan alter sementara antar alter tidak saling terhubung satu sama lain. Jaringan terbuka disebut juga dengan jaringan radikal. Sebaliknya, jika jaringan dikatakan tertutup jikalau tidak hanya aktor ego dan alter saling terhubung satu sama lain melainkan juga aktor alter dengan aktor alter. Jaringan ini disebut dengan jaringan mengunci/interlock (Eriyanto, 2014:389).

2.1.3. Keramba Jaring Apung

Keramba jaring apung adalah wadah pemeliharaan ikan terbuat dari jaring yang dibentuk segi empat atau silindris ada diapungkan dalam air permukaan menggunakan pelampung dan kerangka kayu, bambu, atau besi, serta sistem penjangkaran. Lokasi yang dipilih bagi usaha pemeliharaan ikan dalam KJA relatif tenang, terhindar dari badai dan mudah dijangkau. Ikan yang dipelihara bervariasi mulai dari ikan air tawar, berbagai jenis kakap, sampai baronang, bahkan tebster. KJA ini juga merupakan proses yang luwes untuk mengubah

nelayan kecil tradisional menjadi pengusaha agribisnis perikanan (Abdulkadir, 2010).

Keramba jaring apung merupakan salah satu metode pemeliharan ikan dalam kurungan yang terdiri atas 4 pola dasar pemeliharan ikan, yaitu :

1. Kurungan tancap : bentuk kurungan ikan yang peletakannya menggunakan tiang- tiang pancang yang ditancapkan ke dasar perairan.

2. Kurungan terendam : bentuk kurungan ikan yang secara keseluruhan terendam didalam air dan bergantung kepada pelampung/rangka apung.

3. Kurungan lepas dasar : biasanya terbuat dari kotak kayu/bambu dan diletakan pada dasar air yang beraliran deras, dan diberi pemberat/jangkar.

4. Keramba jaring apung : jaring kurung apung ini terikat pada suatu rangka dengan disukung oleh pengapung-pengapung (Nikijuluw V.P.H, 1992) dalam Rachmatun Suyanto (2010). Usaha budidaya ikan air tawar dengan menggunakan teknik Kerambah Jaring Apung (KJA) lebih efisien dari segi biaya dari pada teknik tambak di kawasan danau atau perairan tertutup yang sifatnya permanen dan rentan terhadap konflik kepemilikan lahan atau tanah. Selain itu keramba jaring apung termasuk alat produksi yang fleksibel, karena bila tidak berproduksi kerambah dapat didaratkan untuk menjaga keamanan dan pemeliharaannya.

Keramba jaring apung merupakan bentuk/sistem kurungan yang banyak sekali di pakai dan bentuk serta ukurannya bervariasi sesuai dengan tujuan penggunaannya dikarenakan sistem keramba ini memiliki nilai yang ekonomis (murah) dan merupakan cara yang sangat baik untuk menyimpan berbagai organisme air, maka banyak sekali kegunaannya yaitu : sebagai sarana penyimpanan sementara, sebagai tempat pemeliharaan pembesaran ikan-ikan

konsumsi, tempat penyimpanan dan transportasi ikan umpan, wadah organisme air untuk memonitor kualitas lingkungan, sarana pemeliharaan untuk tujuan “Re–

stocking“.

Sejauh ini keramba jaring apung merupakan cara yang paling baik untuk membudidayakan ikan secara intensif dibandingkan cara lain seperti kurung tancap (pens), tambak (pond), kolam (tank), ataupun kolam arus. Bila ditinjau dari segi pengelolaannya, sangat mudah diterapkan. Tingkat kualitas ikan peliharaan serta pemanfaatan sumber daya dapat bernilai ekonomis (Nikijuluw V.P.H, 1992) dalam Rachmatun Suyanto (2010).

Dalam hal untuk menjalankan usaha budidaya ikan keramba jaring apung ada persyaratan teknis yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi usaha budidaya antara lain adalah :

1. Arus air

Arus air pada lokasi yang dipilih diusahakan tidak terlalu kuat namun tetap ada arusnya agar tetap terjadi pergantian air dengan baik dan kandungan oksigen terlarut dalam wadah budidaya ikan tercukupi, selain itu dengan adanya arus maka dapat menghanyutkan sisa-sisa pakan dan kotoran ikan yang terjatuh di dasar perairan.

2. Kedalaman Perairan

Kedalaman perairan sangat berpengaruh terhadap kualitas air pada lokasi tersebut. Lokasi yang dangkal akan lebih mudah terjadinya pengadukan dasar akibat dari pengaruh gelombang yang pada akhirnya menimbulkan kekeruhan.

Sebagai dasar patokan pada saat surut terendah sebaiknya kedalaman perairan lebih dari 3m dari dasar waring/jaring.

3. Tingkat Kesuburan Air

Jenis perairan yang sangat baik untuk digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung dengan sistem intensif adalah perairan dengan tingkat kesuburan rendah hingga sedang.Jika perairan dengan tingkat kesuburan tinggi digunakan dalam budidaya ikan di jaring terapung maka hal ini sangat beresiko tinggi karena pada perairan tinggi (eutropik) kandungan oksigen terlarut pada malam hari sangat rendah dan berpengaruh buruk terhadap ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi.

4. Bebas dari Pencemaran

Dalam dunia perikanan, yang dimaksud dengan pencemaran perairan adalah penambahan sesuatu berupa bahan atau energi ke dalam perairan yang menyebabkan perubahan kualitas air sehingga mengurangi atau merusak nilai guna air dan sumber air perairan tersebut.

5. Kualitas Air

Dalam budidaya ikan, secara umum kualitas air dapat diartikan sebagai setiap perubahan (variabel) yang mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup dan produktivitas ikan yang dibudidayakan. Jadi perairan yang dipilih harus berkualitas air yang memenuhi persyaratan bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan yang meliputi sifat fisika, kimia dan biologi.

6. Lokasi Bukan Daerah Up-welling

Lokasi ini terhindar dari proses perputaran air dasar kepermukaan (up-welling). Pada daerah yang sering terjadi up-welling sangat membahayakan kehidupan organisme yang dipelihara, dimana air bawah dengan kandungan oksigen yang sangat rendah serta gas-gas beracun akan kepermukaan yang dapat

menimbulkan kematian secara massal. Lokasi seperti ini sebaiknya dihindari kecuali sistem keramba dipasok oksigennya dengan suatu mekanisme tertentu.

2.1.4. Pemasaran Hasil Panen Ikan

Pemasaran merupakan aspek yang sangat mendasar dalam mencapai keuntungan suatu usaha. Jika produk yang dihasilkan tidak memiliki sasaran pasar maka produk tersebut tidak akan terjual. Oleh karena itu, sebelum melakukan usaha seorang pengusaha sebaiknya berpikir dan berorientasi ke aspek pemasaran terlebih dahulu (Dardiani dan Intan Rahma Sari, 2010).

Menurut Kohls dan Uhls (1990 dan 2002) dalam Kusnadi et al (2009:23) mendefenisikan pemasaran sebagai keragaman dari semua aktivitas bisnis dalam aliran dari produk- produk dari jasa-jasa dimulai dari tingkat produksi pertanian sampai di tingkat konsumen akhir.

Dalam pengertian dunia perusahaan, perkataan produksi dipakai sebagai tindakan pembuatan barang-barang, sedangkan perkataan distribusi (marketing) dipakai sebagai tindakan yang bertalian dengan pergerakan barang-barang dan jasa dari produsen ke tangan atau ke pihak konsumen. Istilah pemasaran dan tataniaga yang sering di dengar dalam ucapan sehari-hari di negeri kita adalah terjemahan dari atau berasal dari perkataan “marketing” (Hanafiah dan Saefuddin, 1983). Menurut Hanafiah dan Saefuddin, tataniaga atau pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, diantaranya sebagai berikut :

1. Sebagian besar dari hasil perikanan berupa bahan makanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatip stabil sepanjang tahun sedangkan

penawarannya sangat tergantung kepada produksi yang sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim.

2. Pada umumnya pedagang pengumpul memberi kredit (advancedpayment) kepada produsen (nelayan dan petani ikan) sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.

3. Saluran tataniaga hasil perikanan pada umumnya terdiri dari : produsen (nelayan atau petani ikan), pedagang perantara sebagai peengumpul, wholesaler (grosir), pedagang eceran dan konsumen (industry pengolahan dan konsumen akhir).

4. Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen samapai konsumen pada umumnya meliputi proses-proses pengumpul, pengimbangan dan penyebaran, dimana proses pengumpulan adalah terpenting.

5. Kedudukan terpenting dalam tataniaga atau pemasaran hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul daalam fungsinya sebagai pengumpul hasil, berhubung daerah produksi terpencar-pencar, skala produksi kecil-kecil dan produksinya berlangsung musiman.

6. Tataniaga atau pemasaran hasil perikanan tertentu pada umumnya bersifat musiman, dan ini jelas dapat dilihat pada perikanan laut. Barang-barang perikanan mempunyai ciri-ciri yang dapat mempengaruhi atau menimbulkan masalah dalam pemasarannya. Ciri-ciri dimaksud antara lain sebagai berikut :

1. Produksinya musiman, berlangsung dalam ukuran kecil-kecil (small scale) dan di daerah terpencar-pencar serta spesialisasi.

2. Konsumsi hasil perikanan berupa bahan makanan relative stabil sepanjang tahun. Sifat demikian ini dihubungkan dengan sifat

produksinya yang musiman dan jumlahnya tidak berketentuan karena pengaruh cuaca, menimbulkan masalah dalam penyimpanan dan pembiayaan.

3. Barang hasil perikanan berupa bahan makanan mempunyai sifat cepat atau mudah rusak (perishabel).

4. Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah. Kenyataan menunjukkan bahwa jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap, tetap berubah-ubah dari tahun ke tahun (Hanafiah dan Saefuddin, 1983).

2.2. Teori Jaringan Sosial

Manusia merupakan mahluk sosial yang memiliki keinginan untuk hidup bersama dengan orang lain. Keinginan tersebut meliputi keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lainnya yang berbeda di sekelilingnya. Keinginan tersebut muncul karena manusia merasakan suatu kebutuhan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia adalah dengan berinteraksi satu sama lain. Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang saling mempengaruhi dalam hal pengetahuan, sikap dan perilaku. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu.

Hubungan sosial bisa dipandang sebagai sesuatu yang seolah-olah merupakan sebuah jalur atau saluran yang menghubungkan antara satu orang

(titik) dengan orang-orang lain dimana melalui jalur atau saluran tersebut bisa dialirkan sesuatu, misalnya barang, jasa, dan informasi. Hubungan sosial antara dua orang mencerminkan adanya pengharapan peran dari masing-masing lawan interaksinya. Tingkah laku yang diwujudkan dalam suatu interaksi sosial itu sistematik, meskipun para pelakunya belum tentu menyadarinya. Dari terwujudnya hubungan sosial yang baik maka akan memudahkan jaringan sosial berkembang.

Calhoun, et al. (1994) mengemukakan bahwa proses interaksi sosial merupakan dasar terbentuknya hubungan sosial (social relationship) yaitu pola interaksi antara dua orang atau lebih. Banyak orang memiliki beberapa hubungan sosial, mulai dari kenalan biasa, sahabat karib sampai dengan kerabat atau keluarga. Adanya jaringan hubungan antara sekelompok orang yang membentuk mata rantai, langsung maupun tidak langsung dengan beragam komunikasi dan perjanjian diantara mereka yang disebut dengan jaringan sosial. Jaringan sosial timbul dari adanya keteraturan interaksi yang berulang atau merupakan suatu hubungan sosial yang terpola.

Jaringan sosial (social network) adalah sebuah struktur sosial yang tercipta dari individu-individu atau organisasi yang lazim disebut node yang terikat atau terhubung oleh satu atau lebih karakteristik interdepensi tertentu diantara mereka.

Beberapa contoh dari jaringan sosial antara lain, persahabatan, kekerabatan, pertukaran financial , hubungan ketaksukaan, hubungan seksual atau hubungan kepercayaan, pengetahuan atau prestise (Lawang, 2004).

Jaringan sosial merupakan salah satu dimensi modal sosial selain kepercayaan dan norma. Ide sentral dari modal sosial adalah bahwa

jaringan sosial merupakan suatu aset yang bernilai (Field, 2005:16), jaringan-jaringan menyediakan suatu basis bagi kohesi sosial karena menyanggupkan orang untuk bekerjasama satu sama lain dan bukan hanya dengan orang yang mereka kenal secara langsung agar saling menguntungkan. Jaringan sosial merupakan suatu jaringan tipe khusus, dimana ikatan yang menghubungkan satu titik ke titik lain dalam jaringan adalah hubungan sosial. Terlihat pada jenis ikatan ini, maka secara langsung atau tidak langsung yang menjadi anggota suatu jaringan sosial adalah manusia (person). Jaringan sosial tidak hanya beranggotakan pada satu individu, namun dapat juga berupa sekumpulan orang yang mewakili titik-titik seperti yang dikemukakan sebelumnya, jadi tidak harus satu titik mewakili satu orang, misalnya organisasi, instansi, pemerintah atau negara.

Jaringan sosial menjadi sangat penting di dalam masyarakat karena di dunia ini bisa dikatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak menjadi bagian dari jaringan-jaringan hubungan sosial dari manusia lainnya. Walaupun begitu manusia tidak selalu menggunakan semua hubungan sosial yang dimilikinya dalam mencapai tujuan-tujuannya, tetapi disesuaikan dengan ruang dan waktu atau konteks sosialnya (Agusyanto, 2007:30). Analisis jaringan atau teori jaringan sosial merupakan studi tentang cara struktur sosial dari hubungan-hubungan sekitar seseorang, kelompok, atau organisasi mempengaruhi keyakinan-keyakinan atau perilaku-perilaku.

Menurut Granoveter hubungan (jaringan) itu terjadi berlandaskan gagasan, bahwa aktor (individu atau kolektifitas) berada pada stratifikasi yang berbeda sehingga mempunyai akses yang berbeda pula terhadap sumber daya bernilai

(kekayaan, kekuasaan, informasi). Distribusi yang timpang dari sumber daya yang terbatas akan menimbulkan baik itu kerjasama maupun kompetisi, yang mana beberapa kelompok akan bergabung untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas itu dengan bekerjasama. Akibatnya pada sistem yang strukturnya

(kekayaan, kekuasaan, informasi). Distribusi yang timpang dari sumber daya yang terbatas akan menimbulkan baik itu kerjasama maupun kompetisi, yang mana beberapa kelompok akan bergabung untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas itu dengan bekerjasama. Akibatnya pada sistem yang strukturnya

Dalam dokumen TESIS OLEH FERIEL AMELIA SEMBIRING (Halaman 25-0)