BAB II TINJAUAN PUSTAKA
II.3 Kebijakan Pengadaan Barang Dan Jasa
II.3.2 Akuntabilitas
Menurut Kumurotomo akuntabilitas adalah ukuran yang menuujukkan apakah aktivitas birokrasi publik atau pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah sudah sesuai dengan norma dan nlai-nilai yang dianut oleh rakyat dan apakah pelayanan publik tersebut mampu mengakomodasi kebutuhan rakyat yang sesungguhnya.
Menurut UU No. 28 Tahun 2000 tentang penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, akuntabilitas adalah azas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggaraan negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Lembaga Administrasi Negara (LAN) mendefinisikan akuntabilitas sebagai kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja atas tindakan seseorang/ badan hukum/ pimpinan suatu organisasi kepada yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan.
Akuntabilitas publik yang harus dilakukan oleh sektor publik terdiri dari beberapa dimensi. Ellwood (dalam Mardiasno, 2002:226) menjelaskan terdapat empat dimensi akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh orang sektor publik yaitu:
1. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum 2. Akuntabilitas proses
4. Akuntabilitas kebijakan
Lembaga Administrasi Negara (2007:57) memberikan indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengukur pelaksanaan prinsip akuntabilitas adalah sebagai berikut:
1. Akuntabel pengelolaan anggaran yang dikeluarkan 2. Pertanggungjawaban kinerja
3. Intensitas penyimpangan
4. Upaya tinak lanjut penyimpangan
II.3.3 Pengertian Electronik Governance
E-Goverment, sebagai sebuah konsep memiliki prinsip – prinsip dasar yang universal, tetapi pengertian maupun penerapannya di sebuah negara tidak dapat di pisahkan dari sejarah, budaya, pendidikan, padangan politik, kondisi ekonomi masing masing negara. E- Goverment didefinisikan sebagai suatu mekanisme interaksi baru antara pemerintah dan masyarakat dan pihak – pihak lain yang berkepentingan, dimana pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi komunikasih dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan publik (Indrajit,2002).
Electonik Goverment di indonesia telah diperkenalkan melalui instruksi Presiden Nomor 6/2001 Tgl 24 April 2001 Tentang Telematika ( Telekomunikasi, Media Dan Informatika) yang menyatakan aparat pemerintah harus mengunakan teknologi telematika untuk mendukung good governace dan mempercepat proses demokrasi. Lebih jauh lagi, elektronik goverment wajib diperkenalkan untuk
salah satu area dimana internet dapat digunakan untuk menyediakan akses bagi masyarakat yang berupa pelayanan yang mendasar dan mensimplifiksasi hubungan anatara masyarakat dan pemerintah.
Menurut Keppres Nomor 20 Tahun 2006 E- Goverment adalah penmanfaatan teknologi informasi dan komunikasih dalam proses pemerintahan utuk meningkatkan efesiensi, efektifitas, transparansi, dan akutanbilitas penyelengaraan pemerintahan. Peranan IT dalam proses bisnis membuat organisasi berusaha untuk menginplementasikan IT untuk proses teringrasi.
II.3.3.1 Pengertian Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah Secara Elektonik (E- Procurement)
Menurut daftar kata X-Solutions dalam Andri Heryandi (2012) merupakan sebuah istilah dari pengadaan (procurement) atau pembelian secara elektronik. Menurut Ippolito dalam Ita Akyuna (2003) Bank Dunia menyebut dari sisi pemerintahan sebagai electronic government procurement atau E-GP adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet oleh pemerintahan-pemerintahan dalam melaksanakan hubungan pengadaan dengan para pemasok untuk memperoleh barang, karya-karya, dan layanan konsultasi yang dibutuhkan oleh sektor publik.
Menurut Palmer dalam Ita Akyuna (2003) menyebutkan adalah teknologi yang dirancang untuk memfasilitasi manajemen seluruh aktivitas pengadaan barang melalui internet, yang meliputi semua aspek fungsi pengadaan yang didukung oleh bermacam-macam bentuk komunikasi secara elektronik.
Menurut Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2006 tentang tentang Perubahan Keempat atas Keputusan Presiden No. 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan mulai diterapkan sejak tahun 2007 dengan berdirinya LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah), atau pengadaan barang dan jasa pemerintah yang selanjutnya disebut PPE adalah sistem pengadaan barang dan jasa Kementerian/ Lembaga/
Sekretariat Lembaga Tinggi Negara/ Sekretariat Lembaga Tertinggi Negara/ TNI/
Polri/ Komisi/ Pemerintah Propinsi/ Pemerintah Kabupaten/ Pemerintah Kota/Bank Indonesia (BI)/Badan Hukum Milik Negara (BHMN)/ Badan Usaha Milik Negara (BUMN/Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)/ Badan Layanan Umum (BLU), yang proses pelaksanaannya dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi, yang meliputi: E-Lelang Umum (e-regular Tendering), E-E-Lelang Penerimaan (e-Reverse Tender), E-Pembelian (e-Purchasing), E-Penawaran Berulang (e-Reverse Auction), dan e- Seleksi (e-Selection).
Menurut Edquist et al, Public procurement adalah proses akuisisi yang dilakukan pemerintah dan institusi publik untuk mendapatkan barang (goods), bangunan (works), dan jasa (services) secara transparan, efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan dan keinginan penggunannya. Dalam hal ini, pengguna bisa individu (pejabat), unit organisasi (dinas), atau kelompok masyarakat luas.
II.3.3.2 Dasar Hukum
8 Implementasi agar sesuai dengan tujuan dan prinsip pengadaan didasarkan atas peraturan pemerintah yaitu Undang-undang Nomor 11 tahun 2008, tentang Informasi dan Transaksi elektronik:
1. Keputusan Presiden nomor 80 tahun 2003, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
2. Peraturan Presiden nomor 8 tahun 2006, tentang Perubahan keempat atas Keputusan Presiden nomor 8 tahun 2003.
3. Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2008, tentang Fokus Program Ekonomi Tahun 2008-2009.
4. Instruksi Presiden nomor 5 tahun 2004, tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi.
II.3.3.3 Jenis-Jenis E- Procurement
1. E-Lelang Umum (e-Regular Tendering) 2. E-Lelang Penerimaan (e-Reverse Tendering) 3. E-Pembelian (e-Purchasing)
4. E-Penawaran Langsung (e-Price Quatation) 5. E-Penawaran Berulang (e-Reverse Auction) 6. E-Pembelian Langsung (e-Direct Purchasing) 7. E-Seleksi (e-Selection)
8. E-Katalog (e-Catalog)
II.3.3.4 Tujuan Dan Manfaat Dari Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elekronik (E-Procurement)
Adapun tujuan dari , menurut Siahaya (2012:80) sebagai berikut :
1. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas 2. Meningkatkan akses pasar dan persaigan dan usaha 3. Meningkatkan tingkat efisiensi proses pengadaan 4. Mendukung proses monitoring dan audit
5. Memenuhi kebutuhan akses informasi terkini
Tujuan ditas sejalan dengan isi Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah pada pasar 107, yaitu:
1. Meningkatkan transparasi dan akuntabilitas
2. Meningkatkan akses pasar dan persaigan yang sehat 3. Memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan 4. Mendukung proses monitoring dan audit
5. Memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time
Secara umum tujuan dari diterapkannya E- Procurement yaitu untuk menciptakan transparasi, efisiensi dan efektifitas serta akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa melalui media elektronik antara pengguna jasa dan penyedia jasa. Damin (2002) menambahkan mengenai tujuan yaitu untuk memperbaiki tingkat layanan kepada users, dan mengembangkan sebuah pendekatan pengadaan yang lebih terintegritas memlalui rantai suplai perusahaan tersebut, serta untuk mengefetifkan penggunaan sumber daya manusia dalam
Adapun manfaat yang diperoleh dari penerapan menurut Thai (2009) yaitu manfaat langsung (meningkatkan akurasi data,meningkatkan efesiens dalam koperasi, proses aplikasih yang lebih cepat, mengurangi biaya atministrasi dan mengurangi biaya operasi) dan manfaat tidak langsung (E- Procurement membuat penggadaan lebih kompetitif, meningkatkan customer services, dan menigkatkan hubungan dengan mitra kerja). Selain itu menurut Olken (2007), melalui transparasi akutabilitas dan partisipasi masyarakat dapat diperoleh melalui akses yang lebih baik ke informasi. Hal ini dapat membantu negara-negara berkembang untuk mengurangi korupsi yang merupakan masalah besar dibanyak negara berkembang. Menurut Keppres No. 80/2003 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintaha mempunyai beberapa manfaat yakni:
1. Menghemat anggaran;
2. Membuat proses interaksi antara pengguna dan penyedia jasa, serta masyarakat menjadi lebih mudah dan cepat;
3. Meningkatkan kontrol terhadap berbagai penyimpangan;
4. Mengurangi kontak fisik yang bisa meminimalkan risiko KKN;
5. Terjadinya pengurangan Harga pembelian barang, Penagihan dan pembayaran, serta Biaya administrasi;
6. Dapat mengoptimalkan pengelolaan basis pasokan yang tepat waktu;
7. Merupakan salah satu inisiatif e-Government.
II.3.3.5 Prisnsip–Prinsip Pengadaan Barang Dan Jasa Secara Elektronik (E–
Procurement)
Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap proses pengadaan
kepada masyarakat dari segi atministrasi, teknis, dan keuangan. Maka sesuai dengan Peraturan Presiden No 54 Tahun 2010 pengadaan barang dan jasa menerapakan rinsip – prinsip sebagai berikut:
1. Efisiensi, berarti pengadaan barang dan jasa harus diusahakan dengan mengunakan dana dan daya yang minimal untuk mencapai hasil dan sasaran dengan kuliats dan sasaran dalam waktu yang ditetapkanatau mengunakan dana yang telah di tetapkan untuk mencapai hail dan sasaran dnegan kualitas yang maksimal.
2. Efektif , berarti pengadaan barang dan jasa harus sesuai dengan sasaran yang telah di tetapkan serta meberikan manfaat yang sebesar – besarnya
3. Transparan, berarti semua ketentuan dan infrmasi mengenai pengadaan barang dan jasa bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh penyedia barang dan jasa yang berminat serta oleh masyarakat pada umumnya.
4. Terbuka, berarti pengadaan barang dan jasa dapat diikuti oleh semua penyedia barang dan jasa yang memenuhi pesyaratan atau kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas.
5. Bersaing, berarti pengadaan barang dan jasa harus dilakukan melalaui persaingan yang sehat diantara sebaik mungkin penyedia barang dan jasa yang setara dan memenuhi persyaratan sehinga dapat diperoleh barang dan jasa yang ditawarkan secara kompetitf dan tidak ada interfensi yang mengganggu tercipanya mekanisme pasar dalam pengadaan barang dan jasa.
6. Adil atau tidak diskriminatif, bererti meberikan perlakuan yang sama baik kepada semua penyedia barang dan jasa dan tidak mengarah untuk memberikan keuntungan kepada pihak tertentu dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional
7. Akuntabel, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang terkait dengan pengedaan barang dan jasa sehinga dapat di pertangungjawabkan.
II.4 Definisi konsep
Definisi konsep merupakan abstraksi mengenai fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik, kejadian keadaan kelompok, atau individu tertentu. Dalam hal ini konsep penelitian bertujuan untuk merumuskan dan mengidentifikasikan istilah-istilah yang digunakan secara mendasar agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian dan perbedaan persepsi yang dapat mengaburkan penelitian ini.
Adapun definisi konsep dalam penelitian ini adalah:
1. James E. Anderson dalam Tangkisilan (2003:2) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kebijakan yang ditetapkan oleh badan-badan dan aparat pemerintah. Dalam hal ini, kebijakan publik dipahami sebagai pilihan kebijakan yang dibuat pejabat atau badan pemerintah dalam bidang tertentu, misalnya pendidikan, pertanian, kesehatan, dan lain sebagainya.
2. Menurut Badjuri dan Yuwono dalam Tangkisilan (2003:25) evaluasi kebijakan merupakan tahapan yang cukup penting dan sering terlupakan efektivitasnya dalam konteks kebijakan publik Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sebagaian besar kebijakan publik di Indonesia secara
formal telah dilakukan evaluasi dengan baik, namun demikian, substansi kebijakan tersebut ternyata tidak tercapai secara efektif, bahkan sebagian lagi mengalami kegagalan.
3. Indikator evaluasi yang dikembangkan oleh William N. Dunn mencakup lima indikator yaitu,
a. Efektivitas b. Efisiensi c. Kecukupan d. Pemerataaan e. Responsivitas f. Ketepatan.
4. Menurut Ratminto dan Winarsih (2005: 19). Transparansi dalam konteks pelayanan publik harus terbuka, mudah, dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan serta disediakan secara memadai dan mudah dimengerti.
5. Menurut Kumurotomo akuntabilitas adalah ukuran yang menuujukkan apakah aktivitas birokrasi publik atau pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah sudah sesuai dengan norma dan nlai-nilai yang dianut oleh rakyat dan apakah pelayanan publik tersebut mampu mengakomodasi kebutuhan rakyat yang sesungguhnya.
6. Menurut Ippolito dalam Ita Akyuna (2003) Bank Dunia menyebut dari sisi pemerintahan sebagai electronic government procurement atau E-GP adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet oleh pemerintahan-pemerintahan dalam melaksanakan hubungan
pengadaan dengan para pemasok untuk memperoleh barang, karya-karya, dan layanan konsultasi yang dibutuhkan oleh sektor publik.
II.5 Definisi Operasional
Definisi operasional menurut Singarimbun adalah unsur-unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana cara mengukur suatu variabel. Dengan kata lain, definisi operasioanal adalah penunjuk pelaksanaan bagaimana cara mengukur suatu variabel. Adapun indikator yang digunakan peneliti untuk melakukan evaluasi terhadap pengadaan barang dana jasa secara elektronik adalah:
a. Efektivitas : apakah hasil yang diinginkan telah dicapai?
b. Efisiensi : seberapa banyak usaha diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?
c. Kecukupan : seberapa jauh pencapaian hasil yang diinginkan memecahkan masalah?
d. Pemerataaan : apakah biaya dan manfaat didistribusikan dengan merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda?
e. Responsivitas : apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok-kelompok tertentu?
f. Ketepatan : apakah hasi (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai?
II.6 Sistematika Penulisan
Hasil penelitian nantinya akan dilaporkan dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini peneliti diuraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini diuraikan kerangka teori, definisi konseptual, dan sistematika penulisan.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini diuraikan bentukdan lokasi penelitian, teknik pengumpulan dan analisis data, dan etika dalam melakukan penelitian.
BAB IV : GAMBARAN UMUM
Bab ini peneliti menguraikan tentang gambaran dan karakteristik lokasi penelitian.
BAB V : PENYAJIAN DATA
Bab ini akan diuraikan data-data yang diperoleh dari kegiatan penelitian di lapangan serta membahas atau menginterpretasikan data-data yang dibahas di bab sebelumnya. analisis terhadap data-data yang sehingga diperoleh hasil dari pembahasan dan interpretasi data-data yang diperoleh.
BAB VI : ANALISIS DATA
. Pada bab ini peneliti menguraikan analisis terhadap data-data sehingga diperoleh hasil dari pembahasan dan interpretasi data-data yang diperoleh.
BAB VII : PENUTUP
Bab ini peneliti akan menguraikan kesimpulan dan sarana/rekomendasi berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.
BAB III
METODE PENELITIAN III.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kulitatif. Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang memusatkan perhatian terhadap masalah-masalah atau fenomena yang ada pada saat penelitian dilakukan atau bersifat aktual, kemudian menggambarkan fakta-fakta tentang masalah yang diselidiki sebagaimana adanya diiringi dengan interpretasi rasional yang akurat (Nawawi, 1990:64). Dengan metode deskriptif diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas tentang evalua si kebijakan pengadaan barang dan jasa pemerintah secara elektronik di kantor layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Kota Gunungsitoli.
III.2 Lokasi Penelitian
Penelitian Dilaksanakan Di Kantor Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Gunungsitoli Di Kompleks Kantor Walikota Jl. Pancasila No. 14, Pulau Nias, Sumatera Utara.
III.3 Informan Penelitian
Dalam penelitian kualitatif diperlukan informan penelitian agar setiap informasi didapat secara detail oleh peneliti. Dalam penelitian ini penulis menggunakan informan kunci (key informan) dan informan utama. Informan kunci adalah mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok
yang diperlukan dalam penelitian, sedangkan informan utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang sedang diteliti.
Dalam penelitian ini yang menjadi :
a. Informan kunci yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan oleh penelitian. Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala LPSE Kota Gunungsitoli, Sekretaris LPSE Kota Gunungsitoli.
b. Informan utama adalah mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti. Adapun yang menjadi informan utama dalam penelitian ini adalah pegawai/staf LPSE Kota Gunungsitoli dan para stakeholder.
III. 4 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data atau informasi, keterangan-keterangan dan data-data yang diperlukan, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data-data sebagai berikut:
1. Teknik pengambilan data primer, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian sesuai dengan masalah yang diteliti. Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara:
a. Observasi (Observation), yaitu kegiatan penelitian dengan cara mengamati secara langsung dengan mencatat gejala-gejala yang ditemukan di lapagan serta menjaring data yang tidak terjangkau.
b. Wawancara (Interview), yaitu memberikan pertanyaan langsung kepada sejumlah pihak yang terkait dengan masalah tersebut.
2. Teknik pengumpulan data sekunder, yaitu pengumpulan data yang diperoleh melalui catatan-catatan tertulis lainnya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara:
a. Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari buku-buku, karya ilmiah, serta pendapat ahli yang berkompetensi dan memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.
b. Studi dokumentasi, yaitu teknik yang digunakan dengan menelaah catatan-catatan tertulis, atau dalam bentuk dokumen, arsip yang menyangkut masalah yang diteliti yang berhubungan dengan instansi terkait.
c. Browsing, yaitu pencarian bahan-bahan yang relevan dengan masalah yang diteliti melalui media internet.
III. 5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkat data sehingga mudah untuk membuat suatu deskripsi. Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini adalah peneliti mengkorfirmasi seluruh existing data primer ( wawancara dan observasi) dan data sekunder serta menyajikannya dengan analisis kualitatif. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan menyajikan data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, menyusunnya dalam satu satuan yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan serta menafsirkannya dengan analisis dengan kemampuan daya nalar peneliti untuk membuat kesimpulan peneletian.
BAB IV
GAMBARAN UMUM
IV.1 Sejarah Kota Gunungsitoli
Kota Gunungsitoli adalah salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008, sebagai salah satu hasil pemekaran dari Kabupaten Nias. Dasar hukumnya adalah Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2008. Berdasarkan catatan sejarah, Gunungsitoli atau sering disebut Luaha sudah dikenal atau dikunjungi sejak abad ke 18. Posisi Kota Luaha in terleetak pada muara Sungai Nou atau pasar Gunungsitoli saat ini. Pada saat itu ada tiga marga dominan yang menghuni Kota Luaha, yaitu Harefa, Zebua, dan Telaumbanua atau dikenal dengan Sitolu Tua.
Gambar 4.2 : Peta Kota Gunungsitoli
Kota Gunungsitoli terletak di Pulau Nias dan berjarak sekitar 85 mil laut dari Kota Sibolga. Ada dua pintu masuk dan keluar Pulau Nias yang berada di Kota Gunungsitoli, yaitu Bandar Udara Binaka dan Pelabuhan Angin. Secara topografi, sebagian besar wilayah kota berbukit-bukit sempit dengan ketinggian bervariasi antara 0-800 meter dpl. Struktur batuan dan susunan tanah umumnya bersifat labil mengakibatkan sering terjadi patahan pada jalan-jalan aspal dan longsor.
Ada beberapa kecamatan di Kota Gunungsitoli yakni Kecamatan Gunungsitoli, Gunungsitoli Alo'oa, Gunungsitoli Barat, Gunungsitoli Idanoi, Gunungsitoli Selatan, Gunungsitoli Utara. Batas Wilayahnya sebagai berikut : Luas Wilayah : ± 469,36 km²
Letak di atas
permukaan laut : 0 - 600 m
Utara Kecamatan Sitolu Ori (Kabupaten Nias Utara)
Selatan Kecamatan Gido dan Hili Serangkai (Kabupaten Nias)
Barat Kecamatan Alasa Talumozoi dan
Namohalu Esiwa (Kabupaten Nias Utara), serta Hiliduho (Kabupaten Nias)
Timur Samudera Hindia
Sebagaian besar mata pencaharian penduduk berasal dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, perikanan, termasuk juga perdagangan. Padi sawah merupakan komoditas tanaman panga terbesar yang diusahakan para petani. Panaroma pantai yang indah, rumah adat Nias, dan peninggalan sejarah berupa batu megalit yang terbesar di setiap kecamatan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Tabel 4.1 : Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Gunungsitoli Tahun 2010, 2014, dan 2015
Kecamatan
Visi: kota gunungsitoli yang maju, nyaman dan berdaya saing Misi :
1. Membangun masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing.
2. Membangun perekonomian yang kokoh dan berkeadilan .
3. Membangun infrakstruktur wilayah serta pemanfaatan ruang yang berwawasan lingkungan.
4. Menghadirkan tata kelola pemerintahan yang akuntabel, profesional dan melayani.
5. Memperkokoh kehidupan sosial kemasyrakatan yang berbudaya, religius, dan tata hukum.
Tujuan pembangunan daerah :
1. Mewujudkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkulitas dan terjangkau, disertai dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
2. Mewujudkan perekonomian yang kokoh dan berkeadilan.
3. Mewujudkan penyediaan infraktsruktur dan prasarana wilayah yang berkualitas dan merata.
4. Mewujudkan tata kelola pemerintah yang efektif, profesional dan melayani dengan hati.
5. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang religius, berbudaya dan tata hukum.
Tabel 4.2.2 : Nama- Nama SKPD
NO Nama Bagian Sekretariat Daerah dan Perangkat Daerah Kota Gunungsitoli 1. Bagian Pemerintahan, Otonomi Daerah dan Trantibum Linmas
2. Bagian Kesejahteraan Rakyat dan Pemberdayaan Masyarakat 3. Bagian Hukum
4. Bagian Perkonomian dan Sumber Daya Alam
5. Bagian Administrasi Pembangunan dan Infranstruktur 6. Bagian Pengadaan Barang Jasa
7. Bagian Umum dan Tata Usaha Pimpinan
14. Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman 15. Satuan Polisi Pamong Praja
16. Dinas Sosial
17. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian 18. Dinas Lingkungan Hidup
19. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
20. Dinas Pembardayaan Masyarakat & Desa/Kelurahan
21. Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
22. Dinas perhubungan
23. Dians Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Atap 24. Dinas Perikanan
25. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan 26. Dinas Perdagangan dan Perindustrian 27. Bappeda
28. Badan Pengelolaan Keuangan & Pendapatan Daerah 29. Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM 30. Badan Kesbangpol
36. Kecamatan Gunungsitoli Selatan 37. Kecamatan Gunungsitoli Idanoi 38. Kecamatan Gunungsitoli Barat 39. Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa 40. Kecamatan Gunungsitoli Utara 41. Walikota Gunungsitoli
42. Wakil Walikota Gunungsitoli
Bagan 4.2.1 : Struktur Organisasi Pemerintah Kota Gunungsitoli
Tabel 4.2.2 : Jumlah Pegawai Negeri Sipil Menurut Golongan Kepangkatan dan Jenis Kelamin di Kota Gunungsitoli, 2015
Golongan Kepangkatan
44. Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik 45. Staf Ahli Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Keuangan 46. Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia 47. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat
48. Asisten Perkonomian dan Pembangunan 49. Asisten Administrasi Umum
Walikota
II/A (Pengatur Muda) 89 57 146
IV.3 Tugas ULP (Unit Layanan Pengadaan)
Tabel 4.2.3 : Susunan Keanggotaan Unit Layanan Pengadaan Barang Dan Jasa Pemerintah Kota Gunungsitoli
No Jabatan Nama
1. Kepala Manahat Fraser Napitupulu, S.KM
NIP. 19760424 200012 1 002 2. Sekretaris Arlyn Ephafras Zega, M.Si
NIP. 19860130 200903 1 001
3. Anggota Novanolo Zebua
NIP. 19900121 201101 1 001
Sekretaris Riswan Kurniawan Zebua, A.Md
NIP. 19820328 201001 1 018 4. Anggota kelompok kerja
ULP
1. Manahat Fraser Napitupulu, S.KM NIP. 19760424 200012 1 002 2. Seriusman Nehe
NIP. 19850727 201001 1 023 3. Putra Setiawan BW, SH
NIP. 19870322 201001 1 005 4. Arlyn Ephafras Zega, M.Si
NIP. 19860130 200903 1 001 5. Heron Poniman Harefa, ST
NIP. 19821005 201101 1 004
NIP. 19760306 201101 1 003 7. Ahmadi Ansar Siregar
NIP. 19840624 201001 1 016 8. Danieli Mendrofa
NIP. 19840624 201001 1 024 9. Radius Orani Zatulo Zega, SP
NIP. 19801019 201001 1 014 14. Gemma Eka Kurniaman Zebua
NIP. 19850503 201001 1 026 15. Saferius Nduru
NIP. 19850509 201001 1 029
Tugas kepala ULP :
a. Memimpin dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan ULP;
b. Menyusun program ada anggaran ULP;
c. Mengawasi seluruh kegiatan pegiatan barang dan jasa di ULP dan
c. Mengawasi seluruh kegiatan pegiatan barang dan jasa di ULP dan