PARADIGMA ISTINBA<T{ PROGRESIF
A. Al-Qur’a>n : Sumber Otoritatif
BAB III
PARADIGMA ISTINBA<T{ PROGRESIF
Menurut Thomas Kuhn, sebagaimana dikutip Ian Barbour, teori dalam sains akan sangat tergantung pada paradigmanya1, dimana perkembangan sebuah ilmu pengetahuan akan sangat dipengaruhi oleh asumsi metodologis sebagai
scientific revolusion (revolusi ilmu pengetahuan), dari statemen ini muncul
paradigma baru teori keilmuan tak terkecuali istinbat} hukum mengalami pergeseran paradigma (shifting paradigm).
Oleh karena itu, untuk menuju pemikiran Islam yang sesuai dengan perkembangan zaman, (situasi dan kondisi) kesadaran tadabbur terhadap Al-Qur’a>n sebagai majal al-istinbat} perlu dilestarikan agar dogmatisme dan pensakralan tidak akan terjadi sehingga ritme pemaknaan al-Qur’a>n menjadi dinamis dengan berbagai paradigma yang terbangun secara holistik.
A. Al-Qur’a>n : Sumber Otoritatif
Bagi umat Islam, al-Qur’a>n menduduki tempat yang paling penting dalam semua aspek kehidupan. Hal ini disebabkan karena al-Qur’a>n memiliki ragam fungsi yang dibutuhkan manusia sepanjang masa. Seperti disebutkan di dalam berbagai ayat, al-Qur’a>n mengenalkan diri sebagai
1 Istilah paradigma sebernanya berasal dari bahasa yunani yaitu paradeigma, dari kata;
para (disamping, disebelah) dan dekeynai (model, contoh). Dari dua suku kata tersebut bisa
diartikan sebagai sudut pandang sesuatu, totalitas premis-premis dan metodologis yang menentukan studi ilmiah, serta dasar-dasar untuk menyeleksi problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset, selain itu, paradigma juga bisa dimaknai sebagai perangkat pra anggapan konseptual dan metodologis dalam tradisi kerja ilmiah, lihat lorens Bagus, kamus filsafat (Jakarta; Gramedia Utama, 1996),779 bandingkan dengan Ian barbour, juru bicara Tuhan : Antara sains dan Agama (Bandung : Mizan,2003), 81.
94
petunjuk (hudan), obat (syifa’), penjelas segala sesuatu (tibyânan li kulli
sya>i), dan mau’idzah (al-Qur’a>n Yûnus (10):57).2
Posisi al-Qur’a>n sebagai petunjuk yang bersumber dari dzat yang Maha Mengetahui tidak dapat diragukan. Selain ditegaskan ayat-ayatnya sendiri seperti al-Qur’a>n al-Baqarah (2):2, juga dikukuhkan oleh seonggok bukti lain seperti ketidak mampuan manusia membuat tandingannya baik dari segi bahasa maupun dari segi kepadatan isi dan kandungannya. Al-Qur’a>n sendiri menyerukan tantangan untuk mendatangkan semisal dengan kadar berbeda-beda, namun semua itu gagal dilakukan oleh manusia meski mereka mendapatkan bantuan dari selain Allah Swt.3
Belakangan, temuan-temuan ilmiah sebagai hasil kemajuan sains dan teknologi turut menguatkan kebenaran al-Qur’a>n. Sejumlah ilmuan dari berbagai disiplin membuktikan kebenaran al-Qur’a>n yang dimaksud. Dengan eksplorasi yang ektensif, al-Dhayyab berhasil menemukan keselarasan antara ajaran-ajaran al-Qur’a>n dengan temuan-temuan ilmiah khususnya yang terkait dengan disiplin ilmu kedokteran. Studi tersebut sungguh mengesankan karena ia berhasil menyingkap sekian banyak rahasia-rahasia medis di balik ajaran dan pernyataan-pernyataan al-Qur’a>n seperti hubungan antara pelarangan minuman keras, kewajiban puasa, rahasia shalat, keistimewaan
2 QS. Yunus, (10): 57 ِﻣْﺆُﻤْﻠِﻟ ٌﺔَﻤْﺣَر َو ىًﺪُھ َو ِروُﺪﱡﺼﻟا ﻲِﻓ ﺎَﻤِﻟ ٌءﺎَﻔِﺷ َو ْﻢُﻜِّﺑَر ْﻦِﻣ ٌﺔَﻈِﻋ ْﻮَﻣ ْﻢُﻜْﺗَءﺎَﺟ ْﺪَﻗ ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﮭﱡﯾَأ ﺎَﯾ ) َﻦﯿِﻨ ٥۷ (
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”.
3 Ayat yang dimaksud adalah ayat-ayat yang memuat tantangan kepada pihak yang meragukan al-Qur’a>n untuk mendatangkan yang semisal dengan al-Qur’a>n. Lihat al-Qur’a>n Surat At- Thur (52):34, Hud (11):13, Yunus(10):38, dan al-Baqara(2):23.
95
madu, rahasia warna, kandungan gizi dalam makanan-makanan yang disebutkan di dalam al-Qur’a>n, proses penciptaan manusia, sampai pada rahasia stamina Ashâb al-Kahfi sehingga dapat bertahan selama 309 tahun.4
Pernyataan seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis, Maurice Bucaille, juga layak untuk disebutkan. Menurutnya, al-Qur’a>n tidak hanya bebas dari kontradiksi di dalam narasinya, yaitu kontradiksi yang menjadi ciri Injil karena disusun oleh manusia, ia (al-Qur’a>n) juga menyajikan kepada orang-orang yang mempelajarinya secara obyektif dengan mengambil petunjuk dari sains modern. Lebih dari itu, semua bagian telah terbukti. Al-Qur’a>n mengandung pernyataan ilmiah yang sangat modern.5
Sehubungan dengan itu pula ahli atom Indonesia, Ahmad Baiquni, menyatakan bahwa al-Qur’a>n bukan buatan manusia melainkan wahyu dari Allah Swt, yang dengan tepat menyajikan informasi mengenai apa yang ada di dalam alam ini, yang baru berabad-abad kemudian dapat diketahui dan dipahami oleh umat manusia yang tekun melakukan kajian dan mengembangkan sains.6 Al-Qur’a>n, lanjut Baiquni, adalah pegangan hidup yang dapat diandalkan karena ia menyatakan aturan yang harus diikuti oleh alam dan ummat manusia, ia menunjukkan arah kebahagian di dunia dan di akhirat.7
4 Abdul Hamid Diyab dan Ahmad Qarquz, Ma’a at-Thib fi al-Qur’a>n, Terjemahan, Alimin Mesra, Fenomena Medis dalam Al-Qur’a>n, (Jakarta: Restu Ilahi, 2002), 109.
5 Murice Bucaille, The Bible The Qur’an and Since, translate from The Freench by Alastair. Panel and The Author Tp. Ttt, 21.
6 Ahmad Baiquni, Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern, (Pustaka: Bandung, 1983), 78.
96
Mahmud Gunner Erikson, setelah membaca al-Qur’a>n berulang kali mengatakan, bahwa apa yang terdapat di dalam al-Qur’a>n adalah benar. Keyakinan yang demikian mantap diwujudkannya dengan memeluk agama Islam.8
Al-Qur’a>n, sebagaimana diketahui, menggunakan bahasa Arab, yakni bahasa yang digunakan oleh masyarakat yang bermukim di Jazirah Arab, sebagai media9 sekaligus sebagai mu’jizat.10 Integrasi kedua hal ini merupakan obyek kajian yang menarik. Dengan keindahan bahasanya, al-Qur’a>n telah membuktikan diri sebagai mu’jizat yang tidak dapat diragukan. Sepanjang sejarah belum ada seorang manusia yang mampu menciptakan karya tulis yang setara. Namun di sisi lain, harus diakui bahwa keindahan dan keunikan bahasa al-Qur’a>n terkadang menempatkan kandungannya susah
8 Dar al-Ifta wa al-Da‘awa>d wa al-Irsha>d, Limada A<slamna, (Riyadh, 1404 H), 226.
9 Pemilihan bahasa Arab sebagai media, tentu saja merupakan hak prerogatif Allah SWT. Namun demikian, seperti yang dituturkan Quraish Shihab, hal tersebut tidak terlepas dari universalitas Islam, yakni misi yang diperuntukkan untuk seluruh manusia. Karena itu, ia harus diawali di tempat yang strategis dan diserukan oleh figur yang berwibawa/terpercaya. Ketika agama Islam mulai diserukan, Mekkah adalah sebuah tempat yang paling strategi, karena ia merupakan jalur perdagangan di samping sebagai obyek kunjungan spritual (ibadah haji) yang telah eksis jauh sebelum kelahiran Muhammad Saw. Karenanya sangat logis jika Mekkah dipilih sebagai lokus awal turunnya al-Qur’a>n (Islam). Dalam pada itu, dalam masyarakat Mekkah, suku yang terpandang adalah kaum Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, dan di antara mereka, Muhammad Saw, adalah sosok yang paling diakui baik dari segi integritas moral maupun integritas intelektualnya. Pemilihan Mekkah sebagai lokus awal di mana Islam di serukan, maka sangat logik al-Qur’a>n menggunakan bahasa Arab sebagai medianya. Sebuah misi pasti muncul dengan menggunakan bahasa di mana ia muncul pertama kali. Quraish Shihab, Mu’jizat
al-Qur’a>n (Bandung: Mizan), 105-106; Malik bin Nabi, Fenomena al-al-Qur’a>n¸ (Bandung: Marja',
1983), 161-162.
10 Kaitannya dengan hal ini, dapat dijelaskan dengan merujuk pada kelaziman yang berlaku pada mu’jizat yang dianugerahkan kepada setiap Nabi. Mu’jizat yang berfungsi membuktikan kebenaran misi dan pembawanya senantiasa mempunyai kemiripan dengan kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat, khususnya para penentang. Kaum yang menentang Nabi Musa As. memiliki keistimewaan dalam soal sihir, karena itu ia dianugerahi mu’jizat berupa tongkat yang cara kerjanya mirip dengan sihir, sementara kaum Nabi Isa As, mempunyai keahlian dalam soal pengobatan, karena itu mu’jizat Nabi Isa As, adalah kemampuan menghidupkan orang mati dengan izin Allah Swt. Demikian, al-Qur’a>n sebagai mu’jizat Nabi Muhammad Saw, karena penantangnya mempunyai keahlian dalam aspek bahasa yakni kemampuan menggubah syair dan sajak. Lihat: Quraish Shihab, Mu’jizat al-Qur’a>n (Bandung: Mizan), 105-106.
97
dipahami, bukan hanya oleh kalangan non Arab (‘ajam), tetapi juga oleh orang Arab sendiri. Klaim Ibnu Khaldun yang menyatakan bahwa semua orang Arab memahaminya dan mengetahui makna kosakata dan kalimatnya, dengan alasan diturunkan dalam bahasa Arab dan menurut uslub-uslub balaghah-nya,11 perlu dikritisi. Jika yang dimaksud oleh Ibnu Khaldun adalah kosakata dan kalimat al-Qur’a>n pada umumnya, maka tentu saja ada benarnya, akan tetapi jika yang dimaksud adalah keseluruhan, maka ungkapan tersebut tidak tepat. Buktinya, para Sahabat Rasulullah Saw, sendiri, terkadang bertanya prihal makna kata-kata tertentu di dalam al-Qur’a>n. Riwayat yang populer dinukil dalam hal ini adalah makna kata adzzulm pada rangkaian al-Qur’a>n al-An`am/6:82,
ُﻈِﺑ ْﻢَُ�ﺎَﳝِإ اﻮُﺴِﺒْﻠَـﻳ َْﱂَو اﻮُﻨَﻣَآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا
ٍﻢْﻠ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan imannya dengan kez}aliman…”12
Arti kata kezaliman di sini banyak dipertanyakan oleh para Sahabat, dan ternyata arti yang dimakud dari kata ini sangat berbeda dengan pemahaman mereka. Untuk itu, Rasulullah Saw, menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan kezaliman pada ayat tersebut berkaitan dengan bunyi ayat dalam al-Qur’a>n Luqman/31:3, yang berbunyi: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah Swt), adalah kez}aliman yang besar”.13
Melihat dari berbagai contoh problematika pemaknaan Al-Qur’a>n, manusia hendaklah mampu menjadi mediator bahasa Tuhan kepada bahasa
11 Fazlurrahman, Islam (terj), (Bandung: Penerbit Pustaka, 1984), 27.
12 Ibid,
13 Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi Ulum al-Qur’a>n (Riyadh: Dar al-Ma’ârif li an-Nasyr wa at-Tawzi’, 1992), 246.
98
manusia dengan tetap merealisasikan dan mengaplikasikan segala petunjuk al-Qur’a>n manusia baik yang tersurat (mantu>q) dan tersirat (mafhum)sebagai pemahaman yang tepat dan holistik sebagai sumber kehidupan yang otoritatf.