PERANGKAT METODOLOGIS ISTINBA<T{ PROGRESIF
A. Kaidah Tafsir
4. Beberapa Kaidah Lain
158
Karena itu, berdasarkan ayat di atas, sosok orang-orang yang berilmu (al-‘Ulama), adalah sosok yang mempunyai ketakwaan yang kokoh hanya kepada Allah semata. keimanan mereka juga senantiasa aktif (connect, on
line) dengan Allah, sehingga dalam situasi apapun, terutama dalam kondisi
sulit yang potensial menggoncangkan imannya, mereka akan selalu bertawakkal kepada-Nya.
4. Beberapa Kaidah Lain
Harus diakui, pemahaman khit}a>b al-Qur’a>n membutuhkan kecermatan yang sangat tinggi. Ada sejumlah aspek dan perspektif yang harus dipertimbangkan, antara lain: 1) pola kalimat (jumlah ismiyah atau
fi’liyah dan segala ketentuannya), 2) bentuk kata (ism atau fi’l dan segala
variannya), dan 3) jenis huruf (beramal atau tidaknya, termasuk konteks dan konotasinya). Bahkan, yang tak kalah penting, adalah mempertimbangkan aspek-aspek: 1) mant}u>q-mafhu>m; 2)’a>m -kha>s}; 3)
mut}la>q-muqayyad; 4) mujmal-mubayyan, 5) naskh-mansu>kh, 6) muh}kam-mutasha>bih, dan h}aqi>qat dan maja>znya.44
44 Berikut ini penjelasan ringkas satu dari beberapa istilah tersebut, yang lebih erat
kaitannya dengan persoalan Mantu>q dan Mafhu>m. Secara terminologis, yang dimaksud
mantu>q adalah “makna yang ditunjukkan oleh lafaz} dalam pembicaraann (ma> dalla ‘alayhi al-lafz}u fi mah}alli al-nut}qi), sedangkan mafhu>m adalah makna yang ditunjukkan oleh lafaz},
bukan dari pembicaraan itu sendiri (ma> dalla ‘alayhi al-lafz}u, la> fi mah}alli al-nut}qi). Terkait dengan konsep mant}u>q, ada empat istilah yang digunakan al-Sayu>t}i> untuk menjelaskan variannya. Pertama, al-nas} (teks), yaitu suatu lafaz} yang tidak mengandung kemungkinan makna lain, kecuali yang ditunjuk oleh lafaz} itu sendiri. Kedua, z}a>hir, yaitu lafaz} yang mengandung kemungkinan makna lain, selain yang terkandung dalam teks. Hanya saja, makna lain itu adalah makna yang lemah (marju>h). Ketiga, ta’wi>l, yaitu lafaz} yang diartikan dengan makna lain yang marju>h} (lemah), karena ada indikasi yang mengharuskannya dipalingkan dari makna z}a>hirnya yang ra>jih} (kuat). Dengan kata lain, makna lafaz} itu adalah makna takwilan, bukan makna z}a>hirnya. Keempat, muh}mal, yaitu lafaz} yang mengandung makna lebih dari satu (mushtarak). Makna-makna itu, jika harus dipilih, sulit ditentukan mana yang lebih tepat, bahkan mungkin pula menggunakan semuanya sesuai konteksnya masing-masing.lebih
159
B. Kaidah Ta’wi>l
1. Pengertian Ta’wi>l
Kata al-ta'wîl (ﻞﯾوﺄﺘﻟا) adalah sebuah kosa kata bahasa Arab yang terbentuk dari kata dasar لآ (âla) yang berarti kembali (عﻮﺟﺮﻟا) kata tersebut jika diuraikan, akan terbentuk awwala, yuawwalu ta’wîlan ( - لوأ
لوﺆﯾ
-ﻸﯾوﺄﺗ ) Dalam bentuk isim makan-nya bisa juga berbunyi لﺂﻤﻟا yang berarti tempat kembali.45 Ar-Raghib al-Asfahani menyebutkan beberapa arti, antara lain kembali ke asal (ﻞﺻﻷا ﻰﻟإ عﻮﺟﺮﻟا), mengembalikan sesuatu pada tujuan yang dikehendaki baik berupa pengetahuan maupun perbuatan (ﻶﻌﻓو نﺎﻛ ًﺎﻤﻠﻋ ِةدﺮﻤﻟا ﺔﯾﺎﻐﻟا ﻰﻟإ ﺊﺸﻟاّدر), penjelasan (نﺎﯿﺒﻟا), makna/arti (ﻰﻨﻌﻤﻟا), dan terjamah (ﺔﻤﺟﺮﺘﻟا).46 Ada juga yang berpendapat bahwa lafaz} ta’wi>l berasal dari kata ﺔﻟﺎﯾﻹا yang berarti ﺔﺳﺎﯿﺴﻟا (mengatur). Selain berarti kembali, ulama muta’akhirin memaknai ta’wi>l dengan arti memalingkan (ﺔﻓﺮﺼﻟا).47
Atas dasar itulah ta’wi>l memiliki dua pengertian. Pertama, ta’wi>l diartikan sebagai pengertian suatu makna yang mana pembicara mengembalikan perkataannya. Kategori ini, ta’wi>l dibagi menjadi dua,
ta’wi>l al-amr, yaitu esensi perbuatan yang diperintahkan. Contoh dari ta’wi>l al-amr adalah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra, yang
lengkap bisa dilihat pada al-Suyu>thi, al-Itqa>n fi ‘Ulu>m al-Qur’a>n, (Bairut: Da>r Ihya’al-‘Ulum, 1987), cet I, Juz II, 88
45 Proses pemakanaan ini perubahan dari istiqa>qnya (masdar) kepada isim zaman /makan
maka terminologinya berarti seperti itu (tempat kembali)
46 Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufrada>t al-fadzdi al-Qur’a>n, (Beirut: Dâr al-Fikri, tt),
27.
160
berbunyi: “Rasulullah Saw, membaca dalam ruku` dan sujudnya:
Subhânallâh wa Bihamdika Allâhummaghfir lî. Beliau Saw, menakwilkan
al-Qur’a>n. Maksud kata menakwilkan tersebut adalah menjalankan ayat
ً�اﻮﺗ نﰷ ﻪﻧٕا ﻩﺮﻔﻐﺘ�ﺳاو ﻚﺑر ﺪﻤﲝ ﺢﺒ�ﺴﻓ
(Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmudan memohon ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat).47F
48
Bentuk keduanya dikenal dengan nama ta’wîl al-ikhbâr, artinya esensi dari apa yang diberitakan itu sendiri yang benar-benar terjadi. Seperti firman Allah Swt, dalam Surat al-A’râf ayat 52-53:
ﱠﻻِإ َنوُﺮُﻈﻨَﻳ ْﻞَﻫ .َنﻮُﻨِﻣْﺆُـﻳ ٍمْﻮَﻘِّﻟ ًﺔَْﲪَرَو ىًﺪُﻫ ٍﻢْﻠِﻋ ٰﻰَﻠَﻋ ُﻩﺎَﻨْﻠﱠﺼَﻓ ٍبﺎَﺘِﻜِﺑ ﻢُﻫﺎَﻨْـﺌِﺟ ْﺪَﻘَﻟَو
ُﻪَﻠﻳِوَْﺗﺄ
ۚ◌
ُر ْتَءﺎَﺟ ْﺪَﻗ ُﻞْﺒَـﻗ ﻦِﻣ ُﻩﻮُﺴَﻧ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ُلﻮُﻘَـﻳ ُﻪُﻠﻳِوَْﺗﺄ ِﰐَْ� َمْﻮَـﻳ
ِّﻖَْﳊِﺑﺎ ﺎَﻨِّﺑَر ُﻞُﺳ
ُﻞَﻤْﻌَـﻧ ﺎﱠﻨُﻛ يِﺬﱠﻟا َْﲑَﻏ َﻞَﻤْﻌَـﻨَـﻓ ﱡدَﺮُـﻧ ْوَأ ﺎَﻨَﻟ اﻮُﻌَﻔْﺸَﻴَـﻓ َءﺎَﻌَﻔُﺷ ﻦِﻣ ﺎَﻨﱠﻟ ﻞَﻬَـﻓ
ۚ◌
اوُﺮِﺴَﺧ ْﺪَﻗ
َنوَُﱰْﻔَـﻳ اﻮُﻧﺎَﻛ ﺎﱠﻣ ﻢُﻬْـﻨَﻋ ﱠﻞَﺿَو ْﻢُﻬَﺴُﻔﻧَأ
“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan al-Kitab (al-Qur’a>n) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali ta’wi>lnya. Pada hari ta’wi>lnya itu datang, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu; maka sungguh telah datang Rasul-Rasul Tuhan kami membawa yang benar, maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberikan syafaat kepada kami, atau dapatkah dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”49
48 Mannâ` al-Qaththan, Mabâhits fî Ulûm al-Qur’ân, (Kairo: Mansyurah al-`Ashr al-hadith,
1973), 325.
49 Departemen Agama RI, al-Qur’a>n dan terjemah (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2006),
161
Kata ta’wi>l dalam ayat ini diartikan sebagai sesuatu yang diberitakan oleh al-Qur’a>n seperti hari kiamat atau surga, bukan berita yang ada dalam al-Qur’a>n.50
Pengertian kedua, yaitu ta’wi>l al-kala>m, yaitu menafsirkan dan menjelaskan makna al-Qur’a>n pengertian ini identik dengan tafsir. Imam al-Thaba>ri misalnya terbiasa menggunakan redaksi, “al-Qaul fi>
ta’wili>hi qaulu> ta’a>la” yang berarti pemaknaan ta’wi>l identik
dengan tafsir, pendapat ini banyak digunakan oleh ulama salaf (mutaqaddimi>n). Berbeda dengan pendapat ulama muta>akhirîn ta’wi>l diartikan dengan memalingkan makna lafaz} yang kuat (
ﻊﺟاﺮﻟا
) kepada makna yang lemah (حﻮﺟﺮﳌا
) karena ada dalil yang menyertainya.51 Kataيﻮﺘ�ﺳا
dalam rangkaian al-Qur’a>n Surat Tha>ha (20):5, yang berbunyi52
يﻮﺘ�ﺳا شﺮﻌﻟا ﲆ� ﻦﲪﺮﻟا
(Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arash)misalnya, diartikan dengan “berkuasa” oleh para ulama muta>akhirîn,52F
53
bukan dengan bersemayam yang justru merupakan makna yang lebih kuat,
50 Ibid,
51 Manna' al-Qaththân, Mabâhits fî Ulûm al-Qur’ân, 326.
52Secara bahasa, kata dapat diartikan dalam enam makna, yaitu ﺪﺼﻘﻟاو ﺪﻤﻌﻟا sebagaimana tercantum dalam al-Qur’a>n Surat Fuslihat(41):11 نﺎ�د ﱔو ءﲈﺴﻟا ﱃٕا ىﻮﺘ�ﺳا ﰒ. Kedua راﺮﻘﺘ�ﺳٔ�ا sebagaimana tercantum dalam al-Qur’a>n Surat Hu>d(11):44 دﻮﳉا ﲆ� تﻮﺘ�ﺳاو. Ketiga بوﻛرﻟا sebagaimana tercantum dalam al-Qur’a>n Surat al-Mu'minûn (23):28 كﻠﻔﻟا ﻰﻠﻋ كﻌﻣ نﻣو تﻧأ تﯾوﺗﺳاذا. Keempatةدﺷﻟاو ةوﻘﻟا sebagaimana tercantum dalam al-Qur’a>n Surat al-Qashsh (28) :14 ىوﺗﺳاو هدﺷا ﻎﻠﺑﺎﻣﻟو. Kelima ﮫﺑ ﺎﺷﺗﻟا sebagaimana tercantum dalam al-Qur’a>n Surat al-An’am(6):50رﺻﺑﻟاو ﻰﻣﻋﻷا ىوﺗﺳﯾ لھ . Dan keenam وﻠﻌﻟا sebagaimana tercantum dalam al-Qur’a>n SuratThaha (20):5 يوﺗﺳا شرﻌﻟا ﻰﻠﻋ نﻣﺣرﻟا. Lihat Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman Ibnu al-Jauzi, Nuzhah al-A`yun al-Nawadhir fi Ilm al
Wujud wa al-Nadhair (Beirut: Muassasah al- Risalah, 1985), 153-154.
53Ahmad Mahmud Subhi, Fi Ilmi Kalâm, Dirâsat Falsafiyyah, (Iskandariyyah: Dâr
162
sehingga rangkaian redaksi ayat secara utuh dipahami dengan “Yang Maha Pengasih berkuasa di atas arash”.
Imam al-T}abat}aba'i, tokoh Syi>'ah terkenal pada abad ke-20 mendefinisikan ta’wi>l secara berbeda dengan tokoh-tokoh tafsir lainnya. Menurutnya, apa yang telah dikatakan sebagai ta’wi>l atau penafsiran al-Quran, bukan sekedar pengertian kata secara harfiah, melainkan berkaitan dengan dimensi-dimensi eksternal ayat (al-umu>r al-kha>rijiyyah) berupa kebenaran-kebenaran dan kenyataan-kenyataan tertentu yang berada di luar batas pemahaman manusia biasa, tetapi kebenaran dan kenyataan yang melahirkan prinsip-prinsip ajaran dan perintah-perintah amaliah dari al-Qur’a>n.54 Ta’wi>l, bukan pemahaman literal teks ayat, tetapi pemahaman di luar teks. Ta’wi>l, lanjutnya, adalah proses pengungkapan pesan-pesan yang terkandung dalam al-Qur’a>n berupa hokum/aturan, nas}ehat (mau’iz}ah) atau hikmah.
Menurut golongan Mu`‘tazilah, ta’wi>l adalah memalingkan lafaz} dari makna pertama yang dituju kepada makna kedua sesuai keinginan, dengan istighlâl murûnah.55