59
dalil hukum. Hal ini disebabkan karena dengan pengembangan qiyas dipandang lebih meminimalisir munculnya keragaman pendapat hukum daripada mengangkat ‘urf sebagai dalil yang bisa memicu munculnya kebhinekaan tradisi yang memiliki legalitas hukum.90
Dari klarifikasi konsep ‘urf di atas berujung pada kesimpulan bahwa posisi ‘urf dalam istinbat}} hukum adalah sebagai bagian dari kaidah-kaidah istinbat}} yang ada, dan secara kakiki bukanlah sebuah dalil yang berdiri sendiri, melainkan berpijak pada dalil-dalil yang
mu’tabar, seperti ijma’, istih}sa>n, mas}a>lih} mursalah, dan al-dhari’ah, kecuali pada persinggungan antara ‘urf qawly dengan aspek
kebahasaan dalam menginterpretasi nas}-nas} shariat. Kesimpulan ini disambut positif oleh kalangan ahli us}ul belakangan, seperti: ‘Abd al-Wahab Khalaf,91 ‘Abd al-Karim Zaidan,92 S}alah al-Din
Sulthan,93Wahbah al-Zuhailiy,94 serta yang lain. Mereka sama-sama mencantumkan ‘urf pada deretan dalil-dalil hukum, tetapi dengan klarifikasi sebagaimana yang telah kami uraikan.
8. Sadh al-Dhari>’ah
Secara lughawi (bahasa), al-Dhari>’ah berarti:
90 Nas}r Hamid Abu Zaid, al-Ima>m al-Shafi’iy wa Ta>′sis al-Idiyulujiyyah al-Wasat}iyyah,
cet. I, (Alexandria: Sina li al-Nas}r, 1992), 105.
91‘Abd al-Wahab Khalaf, Mas}a>dir al-Tashri<’ al-Islamiy fi<ma> la> Nas}s}a Fi<hi, 170.
92‘Abd al-Karim Zaidan, al-Wa>jiz fi< Us}u>l al-Fiqh, 354.
93Shalah al-Din Sulthan, Hujjiyyah al-‘Adillah al-Ijtiha>diyyah al-Far’iyyah, 101.
60
نﺎﻛ ءاﻮﺳ ءﻲﺸﻟا ﱄإ ﺎﺑﻬ ﻞّﺻﻮﺘﻳ ﱵﻟا ﺔﻠﻴﺳﻮﻟا
ّ�ﻮﻨﻌﻣ وأ ﺎّﻴّﺴﺣ
“Jalan yang membawa kepada sesuatu, secara hissi atau ma’nawi, baik atau buruk” 95
Jadi kata al-dhari>’ah secara etimologi berarti wasi>lah atau jalan ke suatu tujuan. Syekh Ha>shim Jami>l mengartikan dengan jalan dan perantara yang dibolehkan dalam batas-batas tertentu, akan tetapi bisa menimbulkan keharaman shari>’at.96 Must}afa Ibra>him az-Zala>mi mengartikan al-dhari>’ah sebagai suatu perantara yang mubah yang dapat membawa kepada sesuatu yang dicegah atas mafsadahnya.97 Muhammad Abu Zahrah mendefinisikan al-dhara>i’ (jamak dari al-dhari>’ah) dengan sesuatu yang menjadi perantara ke arah perbuatan yang diharamkan atau dihalalkan.
Karena Al-dhari>’ah diartikan sebagai sesuatu yang menjadi perantara ke arah perbuatan yang diharamkan atau dihalalkan. Dalam hal ini, ketentuan hukum yang dikenakan pada al-dhari>’ah selalu mengikuti ketentuan hukum yang terdapat pada perbuatan yang menjadi sasarannya. Jelasnya, perbuatan yang membawa ke arah mubah, adalah mubah. Perbuatan yang membawa ke arah haram adalah haram. Dan perbuatan yang membawa ke arah wajib adalah
95Pengertian ini adalah pendapat Shat}ibi, (Muwa>faqa>t, Vol. IV, 198) dan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah (‘I’la>m al-Muwaqi’i>n, Vol, III, 147) yang penulis temukan dalam karya Wahbah az-Zuhaili, Ushu>l Fiqh al-Islami (Baerut: Da>r al-Fikr, 1986), Juz. II, 873.
96 Hashim Jamil Abdullah, Masa>il Min al-Fiqh al-Muqa>ran, (Bagda>d: Bayt al-H}ikmah, 1989), 55
97 Musthafa Ibra>hi>m Zalami>, Asba>b Ikhtila>f Fuqaha>’ fi> Ahka>m
61
wajib. Misalnya zina adalah haram, maka, melihat aurat wanita yang menyebabkan seseorang melakukan zina adalah haram juga. Shalat Jum’at adalah fard}u (wajib), maka meninggalkan jual beli guna memenuhi kewajiban menjalankan ibadah shalat Jum’at adalah wajib. Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan disini bahwa sumber penetapan hukum ini ada dua98:
a. Maqa>s}id (tujuan/sasaran), yakni perkara-perkara yang mengandung mas}lah}at atau mafsadat.
b. Was}a>il (perantaraan), jalan atau perantaraan yang membawa kepada maqa>s}id, dimana hukumnya mengikuti hukum dari perbuatan yang menjadi sasarannya (maqa>s}id), baik berupa halal atau haram.
Jadi, yang menjadi sumber pokok hukum Islam di sini adalah tinjauan terhadap suatu perbuatan. Peninjauan terhadap akibat suatu perbuatan, bukannya memperhitungkan kepada niat si pelaku, akan tetapi yang diperhitungkan di sini adalah akibat dan buah dari perbuatannya. Menurut Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, jalan atau perantara tersebut bisa berbentuk sesuatu yang dilarang maupun yang dibolehkan.99
98 Muhammad Abu Zahrah, Us}u>l Fiqh, Terj. Saefullah Ma’shum, dkk., (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), 439.
99 Ibnu Qayyim Jauziyyah, A’lam Muqi<’in, juz 2 (Beirut: Dar Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), 103.
62
Dari pendapat Ibnu al-Qayyim ini, makna al-dhari>’ah lebih baik dikemukakan secara umum sehingga dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu yang dilarang disebut sadhdh al-dhari>’ah dan yang diperintahkan untuk melaksanakan disebut fath al-dhari>’ah.
Imam Ahmad bin Hambal terbilang sebagai mujtahid yang paling banyak memfungsikan metode al-dhari>’ah dalam proses istinbanya, begitu juga dengan Imam Maliki. Sementara yang terlihat jarang memfungsikannya adalah Imam Syafi’i dan Abu Hanifah.100 Teori penetapan al-dhari>’ah menurut prespektif Imam Ahmad bin Hambal dan mazhabnya dibedakan dengan teori yang dikembangkan oleh kalangan ulama Malikiyah. Bagi mazhab Hambali, teori yang digunakan ialah dengan tinjauan kesimpulan akhir atas konsekuensi yang akan terjadi. Sedangkan bagi mazhab Maliki dengan tinjauan tingkatan atau kadar kekuatan yang bisa menyebabkan suatu perantara menuju pada kerusakan.101
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa pengertian shadhdh
al-dhari>’ah adalah menutup jalan atau perantaraan yang membawa
kepada suatu hal yang mafsadah atau keburukan, maka Imam al-Shatibi mendefinisikan shadhdh al-dhari>’ah ini dengan, “melakukan suatu pekerjaan yang semulanya mengandung kemaslahatan (boleh)
100Muh}ammad Abu> Zahrah, Ibnu H}anbal H}aya>tuhu> wa ‘Ashruhu> A<ra>’uhu wa
Fiqhuhu (Kairo: Da>r al-Fikr al-’Araby, 1996), 345.
101 Azizi Hasbullah (ed.), Kilas Balik Teoritis Fiqh Islam, cet. II (Kediri: PP Lirboyo, 2005), 300.
63
untuk menuju kepada suatu kemafsadatan (al-mamnu>’).”102 Maksudnya, seseorang melakukan suatu pekerjaan yang pada dasarnya dibolehkan karena mengandung suatu kemaslahatan, tetapi tujuan yang akan dicapai berakhir pada suatu kemafsadatan. Contoh, dalam masalah zakat. Sebelum waktu h}aul (batas waktu perhitungan zakat sehingga wajib mengeluarkan zakatnya) datang, seseorang yang mempunyai sejumlah harta yang wajib dizakatkan, menghibahkan sebagian hartanya kepada anaknya, sehingga berkurang nisab harta itu dan terhindar dari kewajiban zakat. Pada dasarnya, menghibahkan harta kepada anak atau orang lain, dianjurkan oleh shara’, akan tetapi karena tujuan hibah ini adalah dengan tujuan menghindari kewajiban membayar zakat, maka perbuatan ini dilarang. Atas dasar bahwa, zakat itu hukumnya wajib, sedangkan hibah hukumnya sunah.
Bilamana dipetakan secara lengkap dari sumber hukum Islam diatas yaitu; al-Qur’a>n, hadis, ijma’, dan qiyas, konsensus ulama menjadikan sebagai Masha>dir al-Ah}ka>m al-Mujtama’ ‘alaiyh (sumber hukum Islam yang disepakati) sedangkan selain adilla>t
al-Akhka>m yang terdiri atas; istihsa>n, maslahat mursalah, ‘urf, saddu
Dha>ri’ah, dan selainnya sebagai masha>dir Ah}ka>m
al-Mukhtalaf ‘alaiyh (sumber hukum Islam yang tidak disepakati).103
102 Ibra>him bin Musa al-Lakhmi al-Gharnathi al-Maliki (al-Shathiby), al-Muwa>faqa>t fi<
Us}u>l al-Fiqh, juz 3 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt.), 257-258.
103Ada juga yang menyebutnya dengan istilah istidla>l, dimana term Istidla>l menurutnya adalah, “mengambil sebuah dalil hukum yang tidak ada dalam nas, ijma’ maupun qiyas. Seperti
64