• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARADIGMA ISTINBA<T{ PROGRESIF

E. Legalitas Hukum Hasil Ra’y

126

seperti ini adalah pada masalah batas masa ‘iddah wanita yang ditalak suami.59

Baik pendapat yang pertama atau kedua, sama-sama tidak bertentangan dengan dalil nas} yang tersurat walaupun dapat dianggap bahwa hukum hasil ra’y antara satu dengan yang lain bertentangan. Ketidakpastian hukum dalam ayat tersebut di atas adalah karena lafaz}

quru>’ mengandung dua arti yang secara hakikatnya dalam kekuatan

yang sama atau yang disebut lafaz} mushtarak.60

Sedangkan terhadap hukum yang sudah tersurat secara jelas dan tegas dan telah memberikan penunjukkan yang pasti maka peranan

ra’y tidak ada atau dengan kata lain tidak perlu lagi menggunakan ra’y

untuk menemukan hukumnya dan tidak perlu pula mempertanyakan lagi hukum tersebut karena produk hukum dari nas} itu sudah qat}’i dan final.61

E. Legalitas Hukum Hasil Ra’y

Ra’y berperan dalam penggalian dan penetapan hukum, baik terhadap

hukum yang tersirat, apalagi dalam hukum-hukum yang tersuruk. Dalam kasus hukum yang tersuruk yang diperkirakan hukumnya tidak ada, mujtahid hanya dikatakan telah berhasil dalam menetapkan hukum dan bukannya telah

59 Dalam al-Qur’a>n disebutkan tiga quru>’59. Kata quru>’ dalam ayat ini tidak pasti artinya. Dalam ketidakpastian ini mujtahid mencoba menggali maksudnya dengan menggunakan nalar. Dan setelah memperhatikan petunjuk dan qari>nah yang ada maka sebagian dari mereka menetapkan batas tiga kali suci. Sedangkan sebagian yang lain setelah menggunakan ra’y juga dalam penggaliannya dengan berpedoman kepada dalil dan qarina>h, menetapkan tiga kali haid.

60 Zaini Dahlan, Ushul al-Tasyri>’, 59.

127

berhasil membuat hukum baru. Demikian pula dalam hukum yang tersirat yang diperkirakan semula hukum hanya apa yang ada pada yang tersurat itu,

mujtahid juga dikatakan telah berhasil menetapkan hukum.

Ini karena hukum Islam itu adalah hukum Allah, maka apapun yang telah dicapai oleh mujtahid dengan ra’y sebenarnya adalah keberhasilan dalam penggalian dan penetapan saja dan bukannya pembuatan hukum baru.

Pada hakikatnya pencipta hukum (law giver) adalah Allah SWT. Walaupun dalam prakteknya mujtahid dengan kemampuan ra’ynya dapat menghasilkan hukum, maka apa yang dihasilkannya itu bukanlah putusan hukum mujtahid. Ia hanya sekedar menggali, menemukan dan melahirkan hukum Allah yang tersurat dibalik teks yang ada. Ia hanya sekedar menemukan dan mengeluarkan hukum tersirat dibalik yang tersurat itu.62

Dalam hukum yang tersurat, Allah sendiri secara langsung yang menetapkannya sedangkan mujtahid hanya sekadar menyampaikannya dan merumuskannya dalam formula hukum. Jadi bila pada hukum yang berdasarkan nas} (tersurat) maka Allah sendiri yang menetapkan hukumnya, lain halnya dalam hukum yang tidak berdasar pada nas} (tersirat dan tersuruk) maka hukum Allah ditetapkan melalui ra’y seorang mujtahid. Sehingga kekuatan hukum yang dimiliki produk hukum yang berdasarkan pada nas} juga tidak sama dengan produk hukum yang hanya berdasarkan pada ra’y semata.

62Yayan Sopyan, Tarikh Tasyri’; Sejarah Pembentukan Hukum Islam, (Depok: Gramata Publishing, 2010), 62.

128

Pada hukum yang berdasarkan pada nas} kekuatan hukumnya sudah pasti atau qat}’i dengan arti dan makna yang Fdikehendaki oleh Allah sebagaimana yang secara jelas telah dilafaz}kannya dalam nas} tersebut. Sedangkan pada hukum yang ditetapkan mujtahid dengan ra’y hasil penalarannya maka produk hukum yang dihasilkannya adalah semata dugaan kuat dari mujtahid tersebut, ia sendiri tidak dapat memastikan bahwa hasil dari penalarannya itu sesuai dengan hukum Allah sebagaimana yang sebenarnya, karena Allah sendiri tidak pernah menjelaskannya demikian. Oleh karena itu hukum hasil ra’y kekuatannya hanya bersifat z}anni.63 Dari sini dapat dipahami bahwa untuk menentukan apakah produk hukum itu qat}’i atau

z}anni tergantung juga pada sumber dari hukum tersebut.64

63 Zaini Dahlan, Ushul al-Tasyri>’, hal. 60

64 Nirwan Syafrin, Konstruk Epistemologi Islam: Telaah Bidang Fiqh dan Usul Fiqh, dalam Thaqa>fah Jurnal Ilmu Pengetahuan & Kebudayaan Islam, Vol. 5, Nomor 1, (Ponorogo: ISID, 1429), 8.

129

1. Penggunaan Ra’y Secara Kolektif

Dari penjelasan sebelumnya telah diketahui bahwa penetapan hukum yang berdasarkan pada ra’y adalah bersifat z}anni (tidak pasti). Ini berarti apa yang dapat dicapai oleh seorang mujtahid tentang hukum suatu kejadian hanya berdasar atas dugaannya yang kuat tentang hukum Allah.

Mujtahid itu tidak dapat memastikan bahwa itulah hukum Allah.

Ketidakpastian itu disebabkan oleh adanya kemungkinan kesalahan pada penemuannya sedangkan hukum Allah tidak mungkin salah.

Tetapi bila semua orang yang mampu menggunakan ra’y melakukan pengkajian dengan memenuhi ketentuan yang berlaku, tentang suatu peristiwa hukum dan ternyata hasil penemuan mereka adalah sama, maka kemungkinan salah dapat dihindarkan, karena tidak mungkin secara kelompok mereka mengalami kesalahan. Bila semua dari mereka menghasilkan satu pendapat berarti Allah telah membimbing mereka. Bila secara pribadi mereka berijtihad menghasilkan hukum yang z}anni, maka kesepakatan ra’y mereka yang dikarenakan hasil ijtihad yang sama akan menghasilkan hukum yang bersifat qat}’i. Kesepakatan mujtahid dalam penemuan hukum Allah (syara’) terhadap suatu kejadian itu di kalangan ulama Us}ul Fiqh disebut ijma’.65

2. Contoh Evolusi Ra’y

Ketika hukum yang dicari tidak dapat ditemukan secara harfiah di dalam al-Qur’a>n, namun hanya berupa isyarat atau petunjuk dari lafaz}

65 Thurayya Mahmu<d Abdul Fatta>h, Hujjiatul Qiya>s, (Cairo: Mat}ba’ah Ja>mi’ al-Azhar, t.t), 157.

130

al-Qur’a>n saja, atau bahkan isyarat itupun juga tidak dapat ditemukan di dalam al-Qur’a>n maka sesuai kesepakatan ulama, para mujtahid diperbolehkan menggunakan ra’y (ijtihad) untuk mengungkap dan sekaligus menetapkan hukum Allah.

Dari sini dapat dipahami bahwa menggunakan ra’y sebagai bagian dari proses ijtihad sebagai sebuah sumber hukum adalah suatu hal yang telah disepakati keabsahannya (muttafaq ‘alaih) oleh sebagian besar ulama. Namun ketika proses ra’y ini telah berevolusi, adakalanya akan menghasilkan metode yang muttafaq oleh jumhur ulama, seperti dalam Qiya>s, tapi adakalanya juga akan menghasilkan metode penetapan hukum yang masih diperselisihkan keabsahannya oleh sebagian ulama, seperti dalam istih}sa>n, mas}a>lih} al-mursalah dan sad al- dhara>i. Ini semua berkaitan erat dengan keberadaan nas} yang tersirat langsung dengan metode-metode yang terevolusi dari ra’y tersebut.66

a. Evolusi ra’y menjadi Qiya>s

Untuk mengetahui hukum Allah yang tersirat dibalik suatu lafaz} dibutuhkan suatu pengkajian dengan menggunakan ra’y. Di sini diperlukan daya nalar untuk mengetahui hakikat dan tujuan suatu lafaz} dalam al-Qur’a>n, yang memungkinkannya untuk merentangkan hukum yang berlaku dalam lafaz} tersebut kepada kejadian lain yang bermunculan di balik lafaz} itu.

131

Usaha perentangan atau pelebaran suatu lafaz} ini dapat dilakukan salah satunya dengan merentangkan lafaz} kepada maksud lain tidak semata-mata dengan pemahaman lafaz} tetapi tergantung pada pemahaman alasan atau illat. Cara perentangan lafdz dalam bentuk ini disebut menggunakan kaidah qiya>s.67 Di kalangan ulama Us}ul Fiqh, qiya>s diartikan dengan menghubungkan kejadian yang tidak ada nas} tentang hukumnya kepada kejadian lain yang ada nas}nya karena illat kedua kejadian itu adalah sama.68

Salah satu contoh qiya>s adalah dalam kasus khamar. Dalam al-Qur’a>n minuman yang diharamkan adalah yang bernama khamar yang terbuat dari perasan anggur.69 Kemudian dengan berjalannya waktu, muncul berbagai jenis dan nama minuman keras yang tidak pernah ada pada masa Rasulullah SAW yang juga mengandung sifat memabukkan seperti halnya khamar. Oleh karena nas} yang membahas tentang minuman-minuman tersebut tidak dapat ditemukan maka hukum haram yang terdapat dalam khamar direntangkan kepada minuman keras lainnya, atau dengan kata lain semua minuman yang terdapat padanya sifat memabukkan dihubungkan hukumnya kepada

khamar yang terdapat dalam al-Qur’a>n dan al-Sunnah.

Karena dalam bentuk hukum yang tersirat ini tidak jelas hukumnya secara harfiah, maka diperlukan usaha yang

67 Nasiruddin Abdullah bin Umar Al-Baidhawi, Niha>yat al-Su>l fi> Sharh}i Mana>hij

al-Us}ul, (Kairo: Da>r al-Sa’adah, 2008), 2. 68 Thurayya, Qiya>s, 15.

132

sungguh dalam penggaliannya dan kemudian memformulasikannya dalam bentuk hukum. Usaha ini disebut kegiatan ijtihad dengan menggunakan ra’y. Walaupun kelihatannya hukum itu ditetapkan oleh mujtahid yang melakukan penggalian tetapi pada hakikatanya ia adalah hukum Allah yang tersirat di balik lafaz}-lafaz} yang nyata itu.

Dan karena penemuan hukum dalam bentuk ini ada kaitannya langsung dengan nas}, maka cara penemuan di sini dapat diterima dan dibenarkan oleh mayoritas (jumhur) ulama dan ditempatkan sebagai salah satu dalil bagi hukum Islam yang disebut qiya>s70. Penggunaan dalil qiya>s ini didukung juga oleh firman Allah SWT dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang memerintahkan umat Islam untuk mengembalikan hal-hal yang dipertikaikan tentang sesuatu berarti perintah untuk menggunakan qiya>s. Pengembalian masalah itu kepada Allah dan Rasul berarti menghubungkan yang tidak terdapat padanya nas} kepada Kitab dan sunnah dalam penetapan hukumnya.71

b. Evolusi ra’y menjadi mas}alih} al-mursalah

Dalam mengetahui hukum yang tersuruk memang sangat diperlukan daya dan kemampuan nalar yang tinggi. Bila dalam

70Dari contoh di atas dapat dipahami bahwa dalam menentukan hukum yang menggunakan metodologi qiya>s, prakteknya, haruslah memenuhi rukun-rukunnya, yaitu: (1) As}l atau pokok, yaitu suatu peristiwa yang sudah ada nas}nya, yang dalam contoh di atas adalah meminum

khamar. (2) Far’u (cabang), yaitu peristiwa yang tidak ada nas}nya, yang akan ditentukan

hukumnya, yaitu meminum minuman keras. (3) Hukum As}l, yaitu hukum syara’, yang telah ditentukan oleh nas}, yaitu haram meminum khamar. (4)‘Illat, yaitu sifat yang terdapat pada as}l, yaitu memabukkan. untuk landasan teorinya bisa dilihat pada; Muhammad Khud}ari Bik, Ushu>l

fiqh (al-Maktabah al-Tija>riyah al-Kubra, 1969). 283 bandingkan dengan Abdul Wahhab Khallaf, ‘Ilmu Us}u>l al-Fiqh, (Mesir: Maktabah al-Da’wah al-Isla>miyyah, 2002), 51 bandingkan juga

pada Al-Hadiy Kirr, Us}u>l al-Tashri>’ al-Isla>miy, (Saudi: Dar al-‘Arabiyyah Al- Kutta>b, tt) Cet III, 46 .

133

mengetahui hukum yang tersirat ada pedoman yang digunakan dalam menetapkan hukumnya yaitu kaitannya dengan nas}, maka dalam mengetahui hukum yang tersuruk tidak ada yang dapat dijadikan pedoman. Untuk maksud itu sangat membutuhkan kemampuan untuk menggali hakikat dari tujuan Allah dalam menetapkan hukum atas suatu kejadian.

Bila dianalisa hukum-hukum yang ditetapkan Allah dalam al-Qur’a>n dapat dipahami bahwa pada dasarnya Allah menetapkan hukum itu adalah untuk mendatangkan kemaslahatan kepada manusia, baik dalam bentuk memberikan manfaat untuk manusia atau menghindarkan dari kerusakan dari manusia. Karena itu hakikat dari tujuan hukum itu dapat dijadikan dasar oleh mujtahid dalam menetapkan hukum.

Dengan demikian bila terdapat pada suatu kejadian maslahat yang bersifat umum dan tidak ada dalil nas} yang berbenturan dengannya maka dapat padanya mujtahid melahirkan hukum. Usaha penemuan hukum melalui cara ini dikenal di kalangan ulama dengan nama mas}a>lih} al-mursalah.72

Contohnya adalah transplantasi organ tubuh dari kafir ke muslim yang memerlukan pengobatan lebih lanjut.73 Tentu kasus ini tidak akan ada jawabannya secara harfiah dalam al-Qur’a>n, begitu pula dalam al-Sunnah karena yang demikian belum pernah terjadi pada waktu

72 Thurayya, Dira>sah Us}ul Fiqh, 31.

73 Muhammad bin Muhammad al-Mukhta>r bin Ahmad Mazi>d al-Jakniy al-Shangqi>t}iy,

134

Nabi masih hidup dan tidak mungkin pula ditemukan kaitannya dengan salah satu lafaz} yang ada dalam nas}. Manfaat dari perbuatan ini jelas besar yaitu dapatnya muslim memanfaatkan organ tubuhnya untuk beribadah pada Allah. Dengan demikian mujtahid dapat menyatakan kebolehan perbuatan tersebut.

Jadi dalam hal ini ada dua hal yang dijadikan pedoman yaitu maslahat dan tidak menyalahi nas} yang ada. Dengan berpedoman kepada dua hal ini mujtahid dapat menghadapi semua kejadian baru yang bermunculan, atau dalam memasuki adat kebiasaan dalam suatu lingkungan atau aturan-aturan syara’ dari para Nabi yang datang sebelum Nabi Muhammad SAW. Semuanya dapat dijadikan sebagai dalil hukum.74

Apresiasi Islam terhadap akal sangat aspiratif dengan memberikan porsi akal yang lebih dan memberikan tempat yang sangat mulia bagi penalaran, namun tetap memberikan batasan-batasan sesuai dengan kodrat dan kemampuan dari akal itu sendiri.

Bahwa perangkat-perangkat hukum hasil daya nalar manusia seperti qiya>s, istih}sa>n, mas}a>lih} al-mursalah, sadd al-dhari>’ah dan lain sebagainya adalah merupakan konsekwensi logis dari perkembangan Islam itu sendiri dan juga bukti dari eksistensi Islam dan perannya yang sangat vital di setiap zaman sampai detik ini. Hal

135

ini tidak lain adalah karena Islam memang benar-benar agama yang sesuai dan sejalan dengan akal yang sehat dan lurus.

BAB IV